Featured

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Featured

Why Jesus Baptized?

Baptism of The Lord [A]

January 11, 2026

Mat 3:13-17

One question that often baffles some of us is: why did Jesus need be baptized by John the Baptist? John himself proclaims that his baptism is a sign of repentance. Those who come to him must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, making the baptism of water a visible sign of turning away from sins. Yet, we know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. How do we understand Jesus’ baptism?

The same question has also puzzled many great Christian thinkers through the ages. While it is impossible to list every interpretation here, St. Proclus, a 5th-century Patriarch of Constantinople, offers a profound insight. In his homily in “Holy Theophany,” he invites us to witness a paradox, “Come then and see new and astounding miracles: The Sun of righteousness washing in the Jordan, fire immersed in water, God sanctified by the ministry of man.” In essence, St. Proclus saw the baptism of Jesus not as a necessity for forgiveness, but as a “miracle of humility.”

When an Israelite came to John to be baptized, it was certainly an act of humility, an acknowledgment before God of their sinfulness and a willingness to repent. However, when the divine Jesus is baptized by the human John, it goes beyond ordinary humility; it is an extraordinary humility, miraculous in nature. St. Proclus teaches that while this astonishing humility was present at Jesus’ birth, the Baptism differs from Christmas. The Nativity was a hidden miracle, but the Baptism was a public event, witnessed by the multitudes, where God the Father openly declared He was pleased with His Son’s act of self-emptying.

This offers a vital lesson for all of us: it is through divine humility that we receive salvation and are sanctified. In His humility, the Son became man and placed Himself under the care of Joseph and Mary. In His humility, Jesus was baptized by John, becoming one with the people He came to save. In His humility, Christ patiently endured the cross, accepting death as the perfect sacrifice for our redemption. Jesus perfectly loves the Father; from this profound love, humility is born; from this extraordinary humility, obedience is engendered; and through Jesus’ obedience throughout His life, we are saved.

We see the necessity of this virtue in the life of St. Philip Neri, a well-loved saint of Rome. The Pope once asked him to investigate a nun who allegedly received visions from the Lord and performed miracles. On his way to her convent, rain poured down heavily, turning the streets to mud. The holy man continued his journey, though his clothes were drenched and his boots caked in mud. Upon his arrival, the nun greeted him, excited to share her visions with such a famous priest. However, the first thing St. Philip asked was for her to help him remove his soiled boots. She was infuriated, scolding him and declaring that such a request was too demeaning for a spiritual woman like her.

St. Philip immediately returned to the Vatican. He reported to the Pontiff, “Holy Father, she is not a saint.” When the Pope asked how he could reach such a conclusion so quickly, Philip replied, “She has no humility. And where there is no humility, there can be no sanctity.”

As Jesus teaches us this lesson today, let us ask the Lord for this same gift, that we may follow His example and truly grow in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do I tend to separate myself from others I consider “lesser” or “sinful”? Do I view humility as a weakness that damages my reputation, or do I view it as a divine strength that I should actively seek? If I find it hard to be obedient to God or lawful authority, is it actually because I am lacking the humility and love that must come first?

Featured

St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
28 Desember 2025 [A]
Matius 2:13–15, 19–23a

Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

Santo Yusuf, doakanlah kami!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

• Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
• Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
• Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
• Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
• Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    The Magi and Herod

    Epiphany [A]

    January 4, 2026

    Matthew 2:1-12

    The story of the Magi is a powerful one because they do not come from the Jewish people, and yet they sincerely seek the newborn King of Israel. The identity of the Magi remains a mystery. The Greek word magos—from which the English word magic is derived—refers to a person learned in the ancient sciences. These ancient sciences were very different from modern ones: experiment and myth, natural observation and ritual, were often intertwined. This was a period when astronomy was closely linked with astrology, and chemistry with alchemy.

    Although not stated explicitly in Scripture, many traditions identify the Magi as the three kings from the East. Tertullian (d. AD 225), interpreting the Epiphany account in light of Psalm 72 and Isaiah 60, refers to the Magi as kings. While the Magi were not necessarily kings, they were likely men of high status, since Herod, the king of Jerusalem, received them and treated them with respect. The number three is commonly derived from the three gifts offered to Christ: gold, frankincense, and myrrh. The earliest clear evidence for three Magi appears in a sixth-century mosaic in the Church of Sant’Apollinare Nuovo in Ravenna, Italy. The names Melchior, Gaspar, and Balthasar emerge in Latin tradition around the same period.

    The story of the Magi becomes even more striking when they are contrasted with their Jewish counterparts: Herod, the king of Jerusalem, and the Jewish scholars. When Herod heard the news, he immediately consulted the learned men of his court. After carefully examining the Scriptures, they confirmed the Magi’s discovery and identified Bethlehem as the birthplace of the newborn king. Yet, unlike the Magi—who used their wisdom and knowledge to honor the child—Herod and his learned advisors used their understanding of Scripture to plot the destruction of the promised Messiah.

    The contrast between the Magi and Herod becomes a paradigm for what would later happen to Jesus. At the beginning of His life, Jesus was honored by Gentile Magi but sought for destruction by Herod and his advisors. Likewise, at the end of His earthly life, Jesus was condemned by the chief priests and religious leaders, accused of being a false Messiah, while He was recognized by a Roman centurion as the Son of God.

    Finally, after the Magi found Jesus and paid Him homage, they returned home by a different way. This detail carries profound symbolism: encountering Jesus leads to true repentance and transformation. We may be busy studying Scripture, engaging in charitable works, or serving in Church ministries, but if we do not truly find Jesus in them, there is no genuine conversion. Without finding Jesus, we may end up finding only ourselves. The danger is that this leads either to frustration when we fail or to pride when we succeed. In either case, we do not find true happiness. Like Herod and his advisors, we may even misuse our knowledge of faith in ways that harm our spiritual life and weaken our faith in Christ.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide Questions:
    Am I more like the Magi or like Herod and his advisors in the way I seek Jesus? How do I use the knowledge and gifts God has given me? Do my religious activities truly bring me into an encounter with Jesus? Or have Scripture, ministry, and service become ends in themselves? In what ways has encountering Christ changed my direction in life? What prevents me from recognizing Christ when He comes quietly and vulnerably?

    Joseph the Just Man

    4th Sunday of Advent [C]

    December 21, 2025

    Matthew 1:18-24

    As we approach Christmas, the Gospel introduces us to the key figures surrounding the Messiah’s birth. Among them is Joseph, the foster father of Jesus. Matthew the Evangelist gives him a profound title: a “just man.” What does it mean to be like Joseph? What does it mean to be just?

    Matthew uses the Greek word “δίκαιος” (dikaios), typically translated as “just” or “righteous.” In the Biblical context, being just means living in faithful obedience to God’s Law, particularly the Torah given through Moses at Sinai. This adjective is highly significant for an Israelite. Scripture consistently links the “just” person—one who lives by God’s Law—with true happiness and blessing. Psalm 1 declares, “Happy are those who… delight in the law of the Lord, and meditate on his law day and night.” Proverbs similarly praise, “The memory of the just is blessed” (10:7). Why is this life of justice so praiseworthy and fulfilling?

    The answer lies in how the Israelites understood God’s Law. They did not view it primarily as a restriction on freedom, but as a gift of love and identity. God gave the Law at Sinai after choosing Israel as His holy nation. Therefore, living the Law was not merely an obligation; it was a sign of their covenant fidelity and their very identity as God’s people. Fundamentally, they saw the Law as God’s gracious guidance—the pathway to avoid the pitfalls of misery and to draw closer to Him, the source of all blessing.

    Consequently, Joseph is called “just” because he is the true Israelite who meditates on, loves, and lives by God’s Law. During His formative years, Jesus would have received from Joseph not only a knowledge of the Law’s letters but also Joseph’s own love for God and His commandments. In Joseph, Jesus and Mary saw a happy and righteous man.

    From St. Joseph, we learn to love God through faithful obedience. However, we must also avoid the trap of rigidity and legalism, which absolutizes the letter of the law over its spirit. Had Joseph chosen a rigid legalism, he might have applied the strictest penalty to Mary upon discovering her pregnancy, that is stoning. Yet, his justice was perfected by mercy. He recognized that the Law’s ultimate purpose is to love God and neighbor, leading him to protect Mary’s life. Joseph was a happy man because, through the Law, he loved God profoundly.

    Finally, Jesus Himself holds the “just” in high esteem. He teaches, “Blessed are those who hunger and thirst for righteousness” (Matthew 5:6), and promises, “Then the just will shine like the sun in the kingdom of their Father” (13:43). While Joseph is not named explicitly in these verses, it is fitting to see in these verses a reflection of his own virtue—virtue that shaped the Holy Family.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Questions for Meditation:

    Do I strive to know God’s Law as revealed in Scripture and taught by the Church?

    Do I meditate on God’s commandments, seeking the wisest way to live them out in love for God and my neighbor?

    Do I follow rules blindly, or do I seek to understand the spirit and purpose behind them? How do I treat those who struggle to live by them?

    Yusuf, Orang yang Benar

    Minggu Keempat Advent [C]

    21 Desember 2025

    Matius 1:18-24

    Seiring mendekati Natal, Injil memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh kunci yang mengelilingi kelahiran Sang Mesias. Di antara mereka adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Matius, sang Injil, memberinya gelar yang mendalam: seorang “yang benar” (kata “tulus hati” sebenarnya kurang tepat). Apa artinya menjadi seperti Yusuf? Apa artinya menjadi benar?

    Matius menggunakan kata Yunani “δίκαιος” (dikaios), yang biasanya diterjemahkan sebagai “adil” atau “benar.” Dalam Alkitab, menjadi benar berarti hidup dalam ketaatan yang setia terhadap Hukum Allah, khususnya Taurat yang diberikan melalui Musa di Sinai. Kata sifat ini sangat penting bagi seorang Israel. Kitab Suci secara konsisten mengaitkan orang yang “benar”—yang hidup menurut Hukum Allah—dengan kebahagiaan dan berkat yang sejati. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang… bersukacita dalam hukum Tuhan, dan merenungkan hukum-Nya siang dan malam.” Amsal juga memuji, “Ingatan akan orang yang benar diberkati” (10:7). Mengapa hidup yang benar begitu layak dipuji dan memberikan berkat?

    Jawaban terletak pada cara orang Israel memahami Hukum Allah. Mereka tidak memandangnya sebagai pembatasan kebebasan, tetapi sebagai anugerah kasih dan identitas. Allah memberikan Hukum di Sinai setelah memilih Israel sebagai bangsa-Nya yang kudus. Oleh karena itu, hidup menurut Hukum bukanlah sekadar kewajiban; itu adalah tanda kesetiaan perjanjian mereka dan identitas mereka sebagai umat Allah. Pada dasarnya, mereka melihat Hukum sebagai bimbingan kasih Allah—jalan untuk menghindari jurang kesengsaraan dan rambu untuk mendekati-Nya, Sang Sumber segala berkat.

    Oleh karena itu, Yusuf disebut “benar” karena ia adalah orang Israel sejati yang merenungkan, mencintai, dan hidup menurut Hukum Allah. Selama masa pembentukannya, Yesus pasti menerima dari Yusuf tidak hanya pengetahuan tentang huruf-huruf Hukum, tetapi juga cinta Yusuf terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Dalam Yusuf, Yesus dan Maria melihat seorang pria yang bahagia dan benar.

    Dari Santo Yusuf, kita belajar mencintai Allah melalui ketaatan yang setia. Namun, kita juga harus menghindari jebakan kekakuan dan legalisme, yang mengabsolutkan huruf-huruf hukum. Jika Yusuf memilih legalisme yang kaku, ia mungkin akan menerapkan hukuman terberat pada Maria saat mengetahui kehamilannya, yaitu rajam. Namun, keadilannya disempurnakan oleh kerahiman. Ia menyadari bahwa tujuan akhir Hukum adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ini mendorongnya untuk melindungi hidup Maria. Yusuf adalah pria yang bahagia karena, melalui Hukum, ia mengasihi Allah dengan mendalam.

    Akhirnya, Yesus sendiri menghargai orang-orang yang “benar” dengan tinggi. Ia mengajarkan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), dan berjanji, “Maka orang-orang yang benar akan bersinar seperti matahari di kerajaan Bapa mereka” (13:43). Meskipun Yusuf tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat ini, pantaslah kita melihat dalam ayat-ayat ini cerminan kebajikan-Nya—kebajikan yang membentuk Keluarga Kudus Nazaret.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Renungan:

    Apakah saya berusaha mengenal Hukum Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja?

    Apakah saya merenungkan perintah-perintah Allah, mencari cara terbaik untuk hidup sesuai dengan cinta kepada Allah dan sesama?

    Apakah saya mengikuti aturan secara buta, atau apakah saya berusaha memahami roh dan tujuan di baliknya? Bagaimana saya memperlakukan mereka yang kesulitan hidup sesuai dengan aturan tersebut?

    Harapan Kita

    Minggu Ketiga Advent [A]

    14 Desember 2025

    Matius 11:2-11

    Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, “Apakah Engkau yang akan datang, atau haruskah kami mencari yang lain?” Momen ini mengungkapkan ketidakpastian yang mendalam dalam diri Yohanes—seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias. Lalu, mengapa ia ragu?

    Bagi kita umat Kristiani, identitas Yesus jelas. Namun, apa yang jelas bagi kita tidak selalu jelas bagi orang lain, bahkan bagi seseorang yang besar seperti Yohanes. Alasan mendasar mengapa banyak orang kesulitan mengenali Yesus sebagai Yang Dijanjikan adalah karena Ia seringkali tidak memenuhi ekspektasi manusia kita.

    Situasi Yohanes menggambarkan hal ini. Ia telah mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada misi Allah—untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Namun, setelah menantang Herodes untuk bertobat, ia malah dipenjara dan menghadapi bahaya maut. Di saat gelap itu, ia bertanya-tanya: Apakah ia telah memenuhi kehendak Allah, ataukah ia telah bekerja sia-sia? Sejatinya, Allah telah mengungkapkan identitas Yesus kepada Yohanes di Sungai Yordan (Mrk 1:9; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22; Yoh 1:29-34), namun keraguan tetap ada. Yesus tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi Yohanes.

    Apa ekspektasi- ekspektasi itu? Seperti banyak orang Israel, Yohanes mungkin menantikan seorang Mesias seperti Daud—seorang pembebas politik yang akan mempersatukan Israel, menggulingkan kekuasaan Romawi, dan memulihkan kemuliaan nasional. Atau mungkin Yohanes mengharapkan seseorang yang mencerminkan gaya hidup asketisnya sendiri: seorang yang hidup dengan kesederhanaan yang ketat, puasa, dan mati raga. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan nasionalis, dan Ia juga tidak hidup seperti Yohanes. Sebaliknya, Ia menunjuk pada mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan…” (Luk 7:22). Ini adalah karya-karya ilahi, tanda-tanda yang mengesahkan identitas dan misi-Nya, meskipun Ia tidak sesuai dengan ekspektasi manusia.

    Dari kisah Yohanes, kita belajar pelajaran yang sangat penting: Allah tetap Allah, entah Dia memenuhi ekspektasi kita atau tidak. Memang, Allah seringkali tidak sesuai dengan gambaran terbatas kita tentang-Nya. Hal ini mendorong kita untuk terus-menerus memeriksa ekspektasi kita sendiri dan menyesuaikannya sesuai dengan wahyu-Nya. Menyadari ekspektasi kita dan merubahnya tidaklah mudah, bahkan Yohanes Pembaptis—nabi terbesar—mengalami ketidakpastian dan memiliki ekspektasi yang perlu disempurnakan.

    Seiring pertumbuhan rohani kita, kita dipanggil untuk mencari Allah lebih dari mencari keinginan kita sendiri. Hal ini membutuhkan refleksi jujur: Apa harapan kita terhadap Allah? Apakah harapan-harapan itu mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan kita? Kita percaya Allah adalah baik, tetapi bagaimana kita mengharapkan kebaikan-Nya itu terwujud? Apakah itu berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Apakah doa-doa kita dijawab persis seperti yang kita harapkan? Apakah kita akan terhindar dari penderitaan? Dan ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi kita, bagaimana kita merespons? Jika kita menjadi sedih, frustrasi, marah, atau bahkan dipenuhi kepahitan, masalahnya mungkin tidak terletak pada Allah, tetapi pada ekspektasi kita. Masa Advent ini sekali lagi mengajak kita untuk membersihkan ekspektasi kita dan mengizinkan Allah sungguh menjadi Allah kita.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk refleksi:

    Apa ekspektasi- ekspektasi yang saya miliki tentang Allah? Bagaimana saya membayangkan Allah bekerja dalam hidup saya? Bagaimana saya merespons ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi saya? Apakah ekspektasi saya mendekatkan saya kepada Allah, atau justru menciptakan jarak?

    Our Expectations

    Third Sunday of Advent [A]

    December 14, 2025

    Matthew 11:2-11

    John the Baptist sends his disciples to ask Jesus a pivotal question: “Are you the one who is to come, or should we look for another?” This moment reveals a profound uncertainty in John—a man who had dedicated his life to preparing the way for the Messiah. Why, then, does he doubt?

    For Christians today, Jesus’ identity is clear. Yet what is evident to us was not always obvious to others, even to someone as faithful as John. A fundamental reason many struggles to recognize Jesus as the One is that He often does not meet human expectations.

    John’s situation illustrates this. He had devoted himself entirely to God’s mission—to herald the coming of the Messiah. But after challenging Herod to repent, he finds himself imprisoned and in mortal danger. In that dark hour, he wonders: Had he fulfilled God’s will, or had he labored in vain? God had already revealed Jesus’ identity to John at the Jordan (Mk 1:9; Mt 3:13–17; Lk 3:21–22; Jn 1:29–34) yet doubt lingered. Jesus did not fully align with John’s expectations.

    What were those expectations? Like many Israelites, John may have awaited a Davidic Messiah—a political liberator who would unite Israel, overthrow Roman rule, and restore national glory. Or perhaps John expected someone who mirrored his own ascetic lifestyle: a figure of severe simplicity, fasting, and prophetic austerity. Yet Jesus did not come as a nationalist rebel, nor did He live like John. Instead, He pointed to the works He performed: “The blind regain their sight, the lame walk, lepers are cleansed, the deaf hear, the dead are raised…” (Lk 7:22). These were divine acts, signs that authenticated His mission, even if He did not fit human preconceptions.

    From John’s story, we learn a powerful lesson: God remains God, whether He meets our expectations or not. Indeed, God often does not conform to our limited images of Him. This invites us to continually examine our own expectations and adjust them in light of His revelation. It is humbling to realize that even John the Baptist—the greatest of prophets—experienced uncertainty and held expectations that needed refining.

    As we grow spiritually, we are called to seek God more than we seek our own desires. This requires honest reflection: What are our expectations of God? Are they drawing us closer to Him or pushing us away? We believe God is good, but how do we expect that goodness to manifest? Does it mean we always get what we want? That our prayers are answered exactly as we wish? That we will be spared from suffering? And when God does not meet our expectations, how do we respond? If we become unhappy, frustrated, angry, or even embittered, the problem may lie not with God, but with our expectations. This season of Advent invites us once again to purify our expectations and allow God to be our God.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Questions for reflection:

    What expectations do I hold about God? How do I envision God working in my life? How do I respond when God does not meet my expectations? Are my expectations drawing me nearer to God, or are they creating distance?

    Yohanes Pembaptis dan Integritas

    Minggu Kedua Advent [A]

    7 Desember 2025

    Matius 3:1-12

    Teguran Yohanes Pembaptis terhadap orang-orang Farisi dan Saduki sebagai “keturunan ular beludak” merupakan salah satu momen paling mengejutkan dalam Injil. Bagi telinga kita, hal itu terdengar seperti hinaan yang sangat keras. Mengapa Yohanes menggunakan bahasa yang begitu keras?

    Untuk memahami kata-katanya, kita harus terlebih dahulu melihat siapa Yohanes itu. Dia diakui secara luas sebagai nabi Allah, seorang pria dengan integritas yang tak tergoyahkan, hidupnya mencerminkan pesan yang dia sampaikan. Memanggil orang untuk bertobat dan kembali kepada Allah, dia sendiri hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem—berpakaian bulu unta, makan belalang dan madu liar—mencerminkan penyesalan yang dia ajarkan. Konsistensi antara kata dan perbuatan ini membangun kredibilitasnya, menarik banyak orang ke Sungai Yordan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka.

    Di antara mereka yang datang ada orang-orang Farisi dan Saduki. Meskipun kedua kelompok ini memiliki perbedaan teologis yang signifikan—seperti keyakinan orang Farisi tentang kebangkitan badan dan kanon Kitab Suci yang lebih luas, berbeda dengan orang Saduki—mereka memiliki sikap yang sama: keduanya mengklaim kesalehan yang superior dari orang-orang Israel yang lain berdasarkan pengetahuan mereka tentang Hukum Musa. Pengetahuan ini menjadi landasan untuk mendapatkan keistimewaan, menempatkan mereka dalam posisi kehormatan dan otoritas (lihat Lukas 14:7-11).

    Namun, permasalahan mendasar dari orang-orang Farisi dan Saduki adalah kemunafikan. Banyak di antara mereka mencari kehormatan tanpa mempraktikkan integritas yang menghasilkan penghormatan sejati. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah secara mencolok, melakukan tindakan-tindakan keagamaan sebagai pertunjukan publik dan bukan sebagai transformasi batin. Iman tanpa integritas, pada dasarnya, adalah kemunafikan.

    Yohanes menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” karena, seperti ular di Kitab Kejadian yang menipu Hawa, tipu daya mereka juga menjauhkan orang dari Allah. Mereka datang ke Sungai Yordan bukan dengan penyesalan yang tulus, melainkan untuk memanfaatkan popularitas Yohanes dan mempertahankan citra kesalehan mereka. Bukan pertobatan tetapi pencitraan. Melihat niat mereka, Yohanes menegur mereka dengan tajam: “Berilah buah yang sesuai dengan penyesalan” (Matius 3:8).

    Bahaya kemunafikan tidak berakhir dengan para pemimpin agama pada abad pertama. Hal ini tetap menjadi godaan bagi siapa pun yang secara mendalam terlibat dalam kehidupan agama—termasuk kita semua. Menghadiri Misa, berpartisipasi dalam pelayanan, dan melakukan tindakan devosi, tanpa integritas dan pertobatan, dapat menjadi rutinitas yang menipu dan merusak. Kemunafikan tidak hanya merugikan si munafik, tetapi juga komunitasnya. Hal ini dapat melemahkan orang-orang yang beriman, melukai mereka yang tulus, dan memberikan amunisi bagi mereka membenci iman untuk mengejek kita. Tidak jarang karena sudah muak dengan kemunafikan, beberapa orang meninggalkan Gereja sama sekali.

    Advent berfungsi sebagai panggilan bangun yang profetik, menggema seruan Yohanes Pembaptis melintasi abad-abad. Praktik-praktik keagamaan kita—baik Ekaristi, pengakuan dosa, devosi, atau pelayanan—harus erat terhubung dengan tobat yang autentik dan pertumbuhan kekudusan yang tulus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Refleksi:

    • Apa yang memotivasi aktivitas keagamaan saya—keinginan untuk dilihat dan dipuji, atau cinta sejati kepada Allah?

    • Apakah pilihan harian saya mencerminkan iman yang saya nyatakan? Apakah saya tetap dalam kebiasaan yang bertentangan dengan Injil sambil mempertahankan pengamalan eksternal?

    • Apakah saya menghakimi orang lain sementara gagal memenuhi standar yang saya tuntut dari diri sendiri?