Featured

St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
28 Desember 2025 [A]
Matius 2:13–15, 19–23a

Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

Santo Yusuf, doakanlah kami!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

• Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
• Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
• Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
• Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
• Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Pentekosta, Menara Babel, dan Bahasa

Minggu Pentekosta [A]

Kisah Para Rasul 2:1-11

24 Mei 2026

Pentekosta sering dipandang sebagai kebalikan dari kisah Menara Babel (Kej 11). Namun, mengapa tradisi Gereja mengaitkan kedua kisah yang berbeda ini? Jawabannya adalah bahasa.

Dalam Kejadian 11, kita melihat fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kej 11 mengisahkan manusia yang memiliki satu bahasa dan juga kata-kata yang sama. Kesatuan bahasa ini memungkinkan mereka berbagi ide dengan lancar dan bekerja sama dengan mudah, sehingga mendorong kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Bahasa memungkinkan mereka mengembangkan teknologi seperti pembuatan batu bata, membangun kota yang membutuhkan sistem politik dan ekonomi yang kompleks, serta membangun menara raksasa yang menuntut teknik yang rumit.

Sejatinya, bahasa membedakan kita dari semua makhluk lain. Meskipun hewan berkomunikasi, hanya manusia yang berbagi ide-ide kompleks. Hewan dapat bertukar informasi dasar tentang makanan dan predator, tetapi manusia menyampaikan idealisme, impian masa depan, imajinasi, kebijaksanaan masa lalu, dan juga pengetahuan. Meskipun hewan berkomunikasi melalui suara dan bau, hanya manusia yang dapat mencatat kata-kata mereka dalam tulisan, meneruskan pemikiran mereka kepada generasi mendatang. Melalui bahasa tertulis, kita mengubah kata-kata kita menjadi seni, puisi, musik, dan ilmu pengetahuan.

Jika melihat perkembangan bayi manusia dan membandingkannya dengan bayi binatang lain, kita menyadari bahwa bayi manusia sangat rentan dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk bertahan hidup selama beberapa tahun pertama. Namun, meskipun memiliki kelemahan fisik ini, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki hewan lain: kemampuan bawaan untuk berbahasa. Pada dua hingga tiga bulan pertama, bayi mulai mengeluarkan suara-suara vokal seperti “ooh” dan “ah.” Mereka menangis, tersenyum, dan tertawa sebagai respons terhadap orang tua mereka. Pada usia empat hingga enam bulan, mereka mulai menggabungkan konsonan dan vokal menjadi bunyi berulang seperti “ba-ba” atau “ma-ma,” berlatih dengan pita suara mereka. Antara enam dan dua belas bulan, mereka mulai menghubungkan bunyi dengan makna—mengatakan “mama” untuk secara khusus memanggil ibu mereka. Mereka juga mulai menggunakan isyarat, menunjuk pada apa yang mereka inginkan atau melambaikan tangan untuk berpamitan, serta mulai memahami kata-kata sederhana seperti “ya.” Bayi manusia sungguh terlahir untuk menggunakan bahasa.

Sayangnya, orang-orang dalam Kejadian 11 melupakan satu kebenaran mendasar: bahasa manusia pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan dunia melalui firman-Nya, yang berarti bahwa kata-kata dan bahasa pada hakikatnya adalah milik-Nya. Ketika Ia menciptakan pria dan wanita menurut citra-Nya, Ia memberdayakan kita dengan kapasitas intelektual, termasuk kemampuan untuk membentuk dan menggunakan bahasa. Para pembangun menara Babel percaya bahwa kecerdasan, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, dan talenta besar lainnya sepenuhnya merupakan pencapaian mereka sendiri. Mereka pun dengan sombong berusaha mencapai langit dan membuat nama bagi diri mereka sendiri (Kej 11:4).

Pentekosta membalikkan peristiwa di Babel dengan mengungkapkan bahwa bahasa adalah karunia Roh Kudus. Tujuan utama karunia ini adalah untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, bukan karya-karya manusia. Pentekosta mengingatkan kita bahwa bahasa kita tidak hanya mempersatukan kita satu sama lain, tetapi juga menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebelum para murid menerima karunia Roh Kudus, mereka menghabiskan waktu berdoa—dan doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Sebelum mereka berbicara tentang Allah, mereka terlebih dahulu berbicara kepada Allah. Kita tidak perlu membangun menara dengan tangan kita untuk mencapai langit; kita hanya perlu menggunakan bahasa yang diberikan Allah kepada kita untuk mencapai-Nya dengan kerendahan hati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

pertanyaan panduan:

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita menggunakan kata-kata kita untuk membangun nama bagi diri kita sendiri (seperti di Babel), atau untuk mempersatukan dan mengangkat orang-orang di sekitar kita? Para murid berbicara kepada Tuhan sebelum mereka berbicara tentang-Nya—seberapa banyak bahasa sehari-hari kita yang didedikasikan untuk berbicara dengan Tuhan dalam kerendahan hati? Karena kata-kata kita adalah karunia yang dimaksudkan untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, pesan apa yang disampaikan oleh ucapan kita kepada dunia saat ini?

Pentecost, Babel and Language

Pentecost Sunday [A]

Acts 2:1-11

May 24, 2026

Pentecost is often seen as the reverse of the Tower of Babel. Yet, why does the Church draw a connection between these two distinct stories? The answer is language.

In Genesis 11, we see the function of language in action. The text tells us that early humans shared one language and the same words. This unity allowed them to share ideas seamlessly and cooperate easily, driving their progress as a society. Language enabled them to develop technologies like brick-making, build a city that required complex political and economic systems, and construct a massive tower demanding advanced engineering.

Language sets us apart from all other creatures. While animals communicate, only humans share complex ideas. Animals can exchange basic information about food and predators, but humans convey ideals, future dreams, imagination, past wisdom, and learning. While animals communicate through sounds and scents, only humans can put their words into writing, passing their thoughts down to future generations. Through written language, we transform our words into art, poetry, music, and science.

Consider the fascinating development of human babies. Compared to other animals, human infants are incredibly vulnerable, relying entirely on their parents for survival for several years. Yet, despite this physical weakness, they possess something no other animal has: an innate capacity for language. In their first two to three months, babies begin making musical, vowel-like sounds like “ooh” and “ah.” They cry, smile, and laugh in response to their parents. By four to six months, they start combining consonants and vowels into repetitive sounds like “ba-ba” or “ma-ma,” practicing with their vocal cords. Between six and twelve months, they begin connecting sounds to meaning—saying “mama” to specifically call for their mother. They also start using gestures, pointing at what they want or waving goodbye, and begin to understand simple words like “no.” It is clear that babies are born to use language.

Unfortunately, the people of Genesis 11 forgot one fundamental truth: human language is essentially a gift from God. In Genesis 1, God created the world through His words, meaning that words and language belong properly to Him. When He created man and woman in His image, He empowered us with intellectual capacity, including the ability to form and use language. The builders of Babel, however, believed that their intellect, language, science, art, and other great gifts were entirely their own achievements. Armed with these tools, they pridefully sought to reach the heavens and make a name for themselves (Gen 11:4).

Pentecost reverses the incident at Babel by revealing that language is a gift of the Holy Spirit. The primary purpose of this gift is to proclaim the great works of the Lord, not the works of humans. Pentecost reminds us that our language not only unites us with one another, but also connects us to God. Before the disciples received the gifts of the Spirit, they spent their time praying—and prayer is simply communication with the Lord. Before they spoke about God, they first spoke to God. We do not need to build towers with our hands to reach the heavens; we only need to use our God-given language to reach Him in humility.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

guide questions:

In our daily lives, do we use our words to build a name for ourselves (like at Babel), or to unite and uplift those around me?The disciples spoke to God before they spoke about Him—how much of our daily language is dedicated to speaking with God in humility?Since our words are a gift meant to proclaim the Lord’s great works, what message is our speech broadcasting to the world right now?

Roh Kudus dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [A]

17 Mei 2026

Yohanes 17:1-11

Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan pernyataan yang mendalam bahwa “saat-Nya” telah tiba—saat kemuliaan-Nya. Namun, apa arti saat kemuliaan ini bagi Yesus?

Untuk memahami bobot pernyataan ini, kita harus terlebih dahulu menelaah apa yang dianggap dunia sebagai kemuliaan. Pada zaman kuno, sama seperti di era modern, kemuliaan identik dengan kemenangan, pencapaian, dan penaklukan. Ketika Julius Caesar menaklukkan Gaul (yang kini dikenal sebagai Prancis), ia memasuki Roma diiringi sorak-sorai kerumunan, memamerkan para pemimpin lawan yang ditangkap dan rampasan perang untuk mengukuhkan ketenarannya. Kita sering mencari kemuliaan dengan cara serupa, memamerkan trofi, ijazah, dan kredensial kita sebagai simbol kesuksesan.

Namun, ketika Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya, Dia merujuk pada sesuatu yang bertolak belakang dengan kemenangan duniawi: saat penderitaan, penyaliban, dan kematian-Nya. Yesus menghadapi penangkapan yang licik, pengadilan yang tidak adil, dan hukuman yang kejam. Ia disiksa dan dipaksa membawa alat eksekusi-Nya sendiri, dan akhirnya digantung di salib yang dirancang untuk penghinaan dan penderitaan yang maksimal. Namun, dalam momen penderitaan yang mendalam ini, Yesus melihat kemuliaan-Nya. Bagi-Nya, kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam ketenaran, melainkan dalam pemberian diri-Nya yang total melalui cinta kasih dan mengorbankan diri. Hanya kasih yang radikal inilah yang memiliki kuasa untuk mengubah kematian menjadi kehidupan baru.

Selama masa Paskah ini, bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul yang secara khusus menyoroti perkembangan Gereja awal. Meskipun narasi sering berpusat pada perjalanan Santo Petrus dan Santo Paulus, tokoh utama sejati dalam Kisah para Rasul adalah Roh Kudus. Tidak hanya muncul pada saat Pentekosta, Roh Kudus secara terus-menerus mengarahkan setiap langkah Gereja awal. Rohlah yang menuntun Filipus kepada pejabat Afrika dalam Kis 8:26-40 dan membawa Petrus ke rumah Kornelius dalam bab 10, yang berujung pada pembaptisan orang-orang Kristen Romawi pertama. Selain itu, Rohlah yang memulai misi resmi ke wilayah-wilayah bangsa bukan Yahudi dengan memilih Paulus dan Barnabas dalam Kis 13:2.

Bimbingan ilahi ini tetap menjadi landasan penegasan Gereja. Sidang Yerusalem menyimpulkan bahwa kehendak Roh Kudus adalah tidak membebani orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus dengan hukum Musa (Kis 15:28). Kemudian, Roh Yesus mengalihkan misi Paulus dari Asia ke Eropa (Kis 16:6-10). Di bawah bimbingan ilahi ini, Gereja yang masih muda berkembang pesat seiring orang-orang non-Yahudi menerima iman. Namun, “momen-momen kemuliaan” ini hanyalah separuh dari Kisah Para Rasul. Saat Gereja bertumbuh, Gereja juga mengalami penganiayaan dan penderitaan yang tiada henti. Petrus dan Paulus membawa banyak orang kepada Kristus, tetapi kisah mereka juga mengarah pada penolakan, pemenjaraan, dan akhirnya kemartiran.

Pada akhirnya, Roh Kudus tidak memimpin Gereja menuju kesuksesan atau kenyamanan duniawi. Sebaliknya, Roh Kudus memimpin kita ke tempat-tempat dan “saat-saat” tepat di mana kita paling dibutuhkan. Dengan mengikuti Penolong ilahi ini, kita diberdayakan untuk meneladani Tuhan kita, menemukan kemuliaan kita pada saat-saat di mana kita menyerahkan diri sepenuhnya bagi sesama.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang kehidupan mana kita mengejar “kemuliaan Kaisar” (ketenaran, gelar, atau status), dan bagaimana kita dapat beralih ke “kemuliaan Yesus” dengan memprioritaskan kasih yang rela berkorban dan pelayanan kepada sesama? Ketika kita menghadapi “saat” ujian atau penghinaan, apakah kita melihatnya hanya sebagai rintangan, atau bisakah kita mengenali cara-cara di mana Allah mungkin menggunakan momen-momen itu untuk menunjukkan kasih yang radikal? Roh Kudus memimpin Gereja mula-mula ke tempat-tempat yang membutuhkan daripada tempat-tempat yang nyaman; ke mana Roh Kudus memimpin kita saat ini yang mungkin mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman kita?

The Holy Spirit and the Hour of Glory

7th Sunday of Easter [A]

May 17, 2026

John 17:1-11

In today’s Gospel, Jesus addresses His Father with the profound declaration that His “hour” has arrived—the hour of His glory. Yet, what does this hour of glory mean for Jesus?

To understand the weight of this statement, we must first examine what the world considers glorious. In antiquity, much as in the modern era, glory was synonymous with victory, achievement, and conquest. When Julius Caesar conquered Gaul (the modern-day of France), he marched into Rome to the roar of cheering crowds, parading captured leaders and spoils of war to secure his fame. We often seek glory in a similar fashion, displaying our trophies, diplomas, and credentials as symbols of our success.

However, when Jesus speaks of His glory, He refers to something diametrically opposed to worldly triumph: the hour of His Passion, crucifixion, and death. Jesus faced a false arrest, an unjust trial, and a brutal sentence. He was tortured and forced to carry the very instrument of His execution, ultimately hanging on a cross designed for maximum humiliation and agony. Yet, in this moment of profound suffering, Jesus sees glory. For Him, true glory is not found in fame, but in the total gift of Himself through sacrificial love. It is this radical love alone that possesses the power to transform death into life.

Throughout this Easter season, our first readings from the Acts of the Apostles highlight the expansion of the early Church. While the narrative often centers on the journeys of St. Peter and St. Paul, the true protagonist of the story is the Holy Spirit. Far from appearing only at Pentecost, the Spirit continuously directed the infant Church’s every move. It was the Spirit who guided Philip to the African official in Acts 8:26-40 and led Peter to the household of Cornelius in Acts 10, resulting in the baptism of the first Roman Christians. Furthermore, the Spirit initiated the formal mission to Gentile territories by selecting Paul and Barnabas in Acts 13:2.

This divine guidance remained the bedrock of the Church’s discernment. The Council of Jerusalem concluded that it was the Holy Spirit’s will not to burden Gentile converts with the Mosaic law (Acts 15:28), and later, the Spirit of Jesus redirected Paul’s mission from Asia toward Europe (Acts 16:6-10). Under this guidance, the young Church flourished as the Gentiles embraced the faith. Yet, these “glorious moments” were only half the story. While the Church grew, she also endured relentless persecution and hardship. Peter and Paul brought many to Christ, but their path also led to rejection, imprisonment, and eventually martyrdom.

Ultimately, the Holy Spirit does not lead the Church toward worldly success or comfort. Instead, the Spirit leads us to the specific places and “hours” where we are needed most. By following this divine advocate, we are empowered to imitate our Lord, finding our own glory in the moments where we give ourselves up totally for others.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

In what areas of our life are we chasing “Caesar’s glory” (fame, credentials, or status), and how might we pivot toward “Jesus’ glory” by prioritizing sacrificial love and service to others? When we face “the hour” of our own personal trials or humiliations, do we see them only as obstacles, or can we identify ways that God might be using those moments to demonstrate radical love? The Holy Spirit led the early Church to places of need rather than places of comfort; where is the Spirit leading us to go right now that might require us to step out of our comfort zone?

Roh Kudus dan Sakramen Penguatan

Minggu Paskah Keenam [A]

Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17

10 Mei 2026

Sakramen Penguatan atau Krisma bisa dibilang yang paling kurang mendapatkan perhatian dan juga seringkali disalahpahami di antara ketujuh Sakramen di Gereja Katolik. Namun, mengapa kita gagal menghargai sakramen ini? Apakah sakramen ada dalam Alkitab? Dan, bagaimana sakramen ini mengungkapkan rahasia-rahasia tentang Roh Kudus?

Kita sering kali kesulitan untuk menghargainya karena sakramen ini tidak memiliki dampak langsung dan terlihat dalam hidup kita, padahal dasarnya sangat alkitabiah. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, khususnya bab 8, kita melihat Filipus sang Diakon berkhotbah dan membaptis di Samaria. Ketika para Rasul Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa agar mereka yang sudah dibaptis menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun atas mereka. Narasi biblis ini menegaskan bahwa sejak zaman para Rasul, telah ada sakramen yang khusus untuk menyampaikan kehadiran dan karunia Roh Kudus, suatu pelayanan yang secara unik terikat pada otoritas para Rasul.

Melanjutkan tradisi ini, Gereja mengajarkan bahwa para Uskup sebagai penerus para Rasul menjadi pelaksana utama sakramen penguatan ini. Nama “Penguatan” digunakan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang diterima memperkuat dan mengokohkan rahmat awal Baptisan. Sementara Baptisan dipandang sebagai sarana kelahiran rohani, Penguatan berfungsi sebagai sarana peralihan menuju kedewasaan rohani. Sakramen ini dirancang untuk membekali orang beriman dalam menjalankan misi mereka di dunia dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk peperangan rohani melawan kuasa kegelapan.

Namun, sakramen ini sering kali kurang populer dibandingkan sakramen-sakramen lain karena tidak secara dramatis mengubah gaya hidup atau status eksternal seseorang. Sakramen ini tidak seperti Sakramen Perkawinan atau Tahbisan yang mengubah seseorang menjadi suami-istri atau imam. Selain itu, karena hanya diterima sekali, sakramen ini tidak memiliki katekese berkala seperti yang kita temukan dalam Ekaristi atau Sakramen Pengakuan Dosa. Banyak orang Kristen modern juga keliru mengidentikkan pertumbuhan rohani dengan sensasi emosional. Ketika kita tidak merasa “tersentuh,” tidak mendengar suara Tuhan, atau tidak mengalami karunia yang spektakuler selama doa, kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki Roh Kudus. Karena sakramen ini tidak memberikan sensasi yang diharapkan, kita menganggap bahwa sakramen ini membosankan atau stagnan.

Namun, jika kita baca dengan teliti Kisah Para Rasul, bab 8 menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui pertunjukan yang spektakuler. Setelah Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka pada orang-orang Samaria, tidak ada penyebutan tentang mukjizat, nubuat, bahasa roh atau pertunjukan rohani yang luar biasa lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sering bekerja dengan tenang dan bertahap. Melalui Sakramen Penguatan, kita menerima peningkatan dalam tujuh karunia Roh Kudus: Kebijaksanaan, Pemahaman, Nasihat, Keteguhan Hati, Pengetahuan, Kesalehan, dan Takut akan Tuhan. Karunia-karunia ini memungkinkan kita menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bahkan di tengah cobaan. Bukti sejati karya Roh Kudus terdapat pada tindakan-tindakan kecil yang setia—memilih untuk menghadiri Misa meski terasa membosankan, tetap penuh kasih di tengah kesulitan pernikahan, atau melayani orang lain tanpa mencari pujian. Inilah tanda-tanda hening bahwa Roh Kudus melalui sakramen benar-benar mengubah jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa sering saya menyamakan pertumbuhan iman dengan seberapa “emosional” atau “bersemangat” saat berdoa? Bagaimana saya dapat kembali fokus pada pertumbuhan yang tenang dan bertahap yang diberikan Roh Kudus? Jika Baptisan adalah kelahiran rohani dan Penguatan adalah masuknya saya ke dalam kedewasaan rohani, di bidang-bidang kehidupan mana saya dipanggil untuk lepas dari iman “yang kekanak-kanakan” dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang Kristen yang dewasa?

The Holy Spirit and the Sacrament of Confirmation

The Sixth Sunday of Easter [A]

Acts 8:5-8, 14-17

May 10, 2026

The Sacrament of Confirmation is arguably the most underappreciated and misunderstood of the seven Sacraments. Yet, why do we fail to appreciate this sacrament? Does it even mention in the Bible? And, how does the sacrament reveal the secrets about the Holy Spirit?

We often struggle to value it because it lacks the immediate, visible impacts in our lives, yet its foundations are deeply biblical. In the Acts of the Apostles, specifically chapter 8, we see Philip the Deacon preaching and baptizing in Samaria. When the Apostles Peter and John arrived, they prayed for the converts to receive the Holy Spirit, as the Spirit had not yet fallen upon them. This ancient narrative confirms that since the time of the Apostles, a distinct sacrament existed specifically to impart the presence and gifts of the Holy Spirit, a ministry uniquely tied to the authority of the Apostles.

Continuing this tradition, the Church recognizes Bishops as the successors of the Apostles and the ordinary ministers of the sacrament. The name “Confirmation” is used because the Catholic Church teaches that the graces received here strengthen and solidify the initial grace of Baptism. While Baptism is viewed as a spiritual birth, Confirmation serves as a passage into spiritual adulthood. It is designed to equip the believer for their mission in the world and provide the necessary strength for spiritual warfare against the forces of darkness.

Despite its importance, Confirmation is often less popular than other sacraments because it doesn’t dramatically change a person’s external lifestyle or status, unlike Matrimony or Holy Orders. Furthermore, because it is only received once, it lacks the frequent reinforcement we find in the Eucharist or Penance. Many modern Christians also mistakenly equate spiritual growth with emotional sensations. When people do not feel “emotionally touched,” hear God’s voices, or experience spectacular gifts during the prayers, we are often tempted to perceive the sacrament as unexciting or stagnant.

However, St. Luke’s account in the Bible suggests that the Holy Spirit does not always work through spectacular displays. After Peter and John laid hands on the Samaritans, there was no mention of extraordinary fireworks, reminding us that the Spirit often works quietly and gradually. Through Confirmation, we receive an increase in the seven gifts: Wisdom, Understanding, Counsel, Fortitude, Knowledge, Piety, and Fear of the Lord. These gifts allow us to align our lives with God’s will even during trials. The true evidence of the Holy Spirit’s work is found in small, faithful acts—choosing to attend Mass when it feels boring, remaining loving during marital difficulties, or serving others without seeking praise. These are the quiet signs that the Holy Spirit through the sacrament is truly transforming the souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

How often do I equate the strength of my faith with how “emotional” or “excited” I feel during prayer? How might I refocus on the quiet, steady growth the Holy Spirit provides? If Baptism is my spiritual birth and Confirmation is my entry into spiritual adulthood, in what specific areas of my life am I being called to move away from “infant” faith and take on the responsibilities of a mature Christian?

Tempat Kita di Surga

Minggu Kelima Paskah [A]

3 Mei 2026

Yohanes 14:1-12

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya agar jangan gelisah. Ia mengajak mereka untuk percaya kepada Allah dan kepada-Nya, sambil menjelaskan bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Apa arti dari perkataan Yesus ini?

Untuk memahami perkataan Yesus dengan lebih baik, kita perlu melihat bab sebelumnya, yakni Yohanes 13. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus menubuatkan dua hal: pertama, bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, dan kedua, bahwa Simon Petrus—pemimpin di antara para rasul—akan menyangkal-Nya bukan sekali, melainkan tiga kali. Ini tentu bukanlah prediksi yang menggembirakan. Mengetahui bahwa Guru yang mereka kasihi akan dikhianati dan disangkal mengguncang hati para murid. Nubuat-nubuat ini juga menimbulkan keraguan tentang kelanjutan komunitas Yesus dan, yang lebih buruk lagi, hilangnya harapan mereka pada-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

Mengetahui kekhawatiran mereka, Yesus meyakinkan mereka bahwa hal-hal mengerikan yang akan menimpa mereka bukanlah akhir dari segalanya. Memang, nubuat-nubuat ini harus terjadi, dan Yesus akan menanggung penderitaan dan penyaliban-Nya, tetapi semua itu merupakan bagian dari rencana Allah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Selain itu, Yesus memandang penderitaan dan kematian-Nya sebagai “kembali ke rumah Bapa.” Akhir dari kehidupan-Nya di dunia, seberapa pun menyakitkan, bukanlah sebuah kekalahan. Hal itu seperti seorang raja yang kembali ke kerajaannya dengan penuh kemenangan setelah perjalanan yang sulit. Inilah kabar baik pertama kita: meskipun kita mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup, tetap Tuhanlah yang berkuasa. Bahkan, Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi demi kebaikan kita yang sejati. Seperti yang dikatakan St. Paulus, “Kita tahu bahwa dalam segala hal, Allah bekerja untuk kebaikan mereka yang mengasihi-Nya…” (Rom 8:28).

Selain itu, Yesus meyakinkan para murid bahwa Ia tidak sekedar kembali ke rumah Bapa-Nya, tetapi juga pergi untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Kerajaan Bapa tidak lagi tertutup, melainkan terbuka bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Gereja mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Yesus, tidak ada satu jiwa pun yang dapat masuk surga karena dosa Adam. Bahkan jiwa-jiwa yang benar, seperti Musa dan Elia, harus menunggu di gerbang surga hingga Yesus datang, membukanya, dan mempersiapkan tempat bagi mereka.

Namun, ada sesuatu yang lebih penting daripada tempat kita di surga. Yesus berkata bahwa Ia akan kembali kepada murid-murid-Nya dan membawa mereka bersama-Nya, sehingga di mana Yesus berada, murid-murid-Nya pun berada. Surga bukan sekadar tempat tinggal; pada akhirnya, itu adalah hidup bersama Yesus. Surga yang sejati bukan hanya soal lokasi, tetapi hubungan dengan Yesus.

Inilah kabar baik kedua kita. Surga bukan hanya realitas kehidupan setelah mati, tetapi sesuatu yang dapat kita alami dalam kehidupan duniawi ini. Jika kita terus bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus—melalui doa dan sakramen, mengikuti perintah-Nya, dan menghindari hidup dosa—kita sudah hidup di surga. Yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa meskipun kita menghadapi banyak masalah di dunia ini, kita tetap dapat bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus. Bahkan ketika kita sakit dan menderita, kita tetap dapat berdoa dan mempersatukan penderitaan kita dengan-Nya. Bahkan ketika kita berjuang dengan hubungan kita, dan orang lain meninggalkan kita sendirian, kita dapat yakin bahwa Yesus ada bersama kita. Tempat sejati kita di surga adalah di hati Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Kekhawatiran atau kegelisahan apa yang perlu saya serahkan kepada Yesus hari ini? Bagaimana saya secara aktif mengembangkan persahabatan saya dengan Yesus dalam kehidupan sehari-hari? Dapatkah saya percaya bahwa Allah bekerja untuk kebaikan saya, bahkan dalam perjuangan atau kesulitan yang sedang saya hadapi saat ini?

Our Place in Heaven

Fifth Sunday of Easter [A]

May 3, 2026

John 14:1-12

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples not to be troubled. He urges them to have faith in God and in Him, explaining that He is going to the Father’s house to prepare a place for them. What does this mean?

To get a better context, we can look at the previous chapter, John 13. After washing His disciples’ feet, Jesus made two prophecies: first, that one of His disciples would betray Him, and second, that Simon Peter—the leader among the apostles—would deny Him not once, but three times. These were certainly not happy predictions. Knowing their beloved teacher would be betrayed and disowned shook the hearts of the disciples. These predictions also cast doubt on the continuation of Jesus’ movement and, even worse, threatened to put an end to their hope in Him as their expected Messiah.

Knowing their anxieties, Jesus assures them that the terrible things about to befall them are not the end. Indeed, these prophecies must take place, and He will endure His passion and crucifixion, but it is all part of God’s plan to show His love for us. Furthermore, Jesus sees His suffering and death as “going back to the Father’s house.” The end of His earthly life, however painful and humiliating, is never a defeat. It is like a king gloriously returning to his kingdom after a difficult journey. This is our first piece of good news: even though we experience difficulties and suffering in life, God is in control. In fact, God allows these things to happen for our ultimate good. As St. Paul says, “We know that in all things God works for the good of those who love him…” (Rom 8:28).

Moreover, Jesus assures the disciples that He does not simply return to His Father’s house, but also goes to prepare a place for them. The Father’s kingdom is no longer shut, but open to those who believe in Jesus. The Church teaches that before Jesus’ coming, no single soul was able to enter heaven because of the sin of Adam. Even the just souls, like Moses and Elijah, had to wait at the gates of heaven until Jesus came, opened them, and prepared a place for them.

However, there is something even more important than our place in heaven. Jesus says that He will return to His disciples and take them with Him, so that where Jesus is, His disciples may also be. Heaven is not just a place to stay; ultimately, it is living with Jesus. True heaven is not merely about a location, but a relationship with Jesus.

This is our second piece of good news. Heaven is not only an afterlife reality, but something we can experience in this earthly life. If we continue to grow in our friendship with Jesus—through prayer and the sacraments, following His commandments, and avoiding a sinful life—we are already living in heaven. What is even more amazing is that even if we are enduring a lot of problems in this world, we can continue growing in our friendship with Jesus. Even when we are sick and in pain, we can continue to pray and unite our suffering to His. Even when we are struggling with our relationships, and others leave us alone, we can be sure Jesus is with us. Our true place in heaven is at the heart of Jesus.

Rome

Guide questions:
What anxieties or worries do I need to hand over to Jesus today? How am I actively growing my friendship with Jesus in my everyday life? Can I trust that God is working for my good, even in a current struggle or difficulty I am facing?

Domba yang Mengembalakan Domba Lainnya

Minggu Keempat Paskah [A]

26 April 2026

Yohanes 10:1-10

Hidup di dunia modern, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita—anak-anak, kerabat, dan teman-teman—tidak lagi percaya bahwa agama atau kegiatan keagamaan itu penting. Bagaimana kita menanggapi hal ini dengan penuh kasih, dan bagaimana Yesus, Gembala yang Baik kita, memberikan jawaban atas situasi sulit ini?

Pertama, kita harus mengenali sumber pergulatan kita. Kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, dan tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada kehidupan kekal. Mengetahui bahwa mereka hidup jauh dari Yesus membahayakan jiwa mereka, dan hal ini sangat menyakitkan bagi kita. Kesadaran ini penting; hal ini menunjukkan bahwa kepedulian kita lahir dari cinta yang tulus, bukan keinginan untuk mengendalikan mereka.

Karena kasih menginspirasi kita, kita harus mendekati mereka dengan kasih. Langkah pertama adalah memahami bahwa penolakan mereka terhadap kehidupan religius berasal dari alasan-alasan unik, yang seringkali tersembunyi. Beberapa orang menolak agama karena mereka percaya bahwa iman bertentangan dengan akal budi, sehingga membuatnya tidak relevan di dunia modern. Yang lain tidak lagi pergi ke gereja karena pengalaman menyakitkan di masa lalu dengan para pemimpin Gereja. Beberapa hanya ingin mempertahankan gaya hidup “bebas” yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, sementara yang lain dipengaruhi oleh lingkungan atau teman-teman yang membawa mereka ke dalam kesalahpahaman tentang iman.

Selanjutnya, kita dapat belajar dari cara Gembala yang Baik menjaga domba-domba-Nya. Gembala yang Baik memberi petunjuk dengan suara yang tegas, tetapi tidak pernah melalui paksaan atau kekerasan. Ia berjalan di depan kawanan-Nya, memimpin dengan teladan. Ia merawat setiap domba-Nya, mengenal mereka dengan nama dan mengenali karakteristik unik mereka. Ketika bahaya mendekat, Ia membuktikan kasih-Nya bukan dengan mengorbankan domba-domba, melainkan dengan mengorbankan hidup-Nya sendiri.

Seperti Gembala yang Baik, kita perlu menunjukkan kasih kita dengan mendengarkan kisah dan pergulatan mereka. Kita tidak datang untuk menghakimi, melainkan menjadi mitra dialog yang bisa dipercaya. Pada saat yang sama, kita perlu tetap teguh pada pendirian kita, yakin akan kebenaran iman kita, dan sadar akan bahaya-bahaya duniawi. Yang paling penting, kita harus memimpin dengan teladan. Kita menjadi saksi hidup iman kita ketika kita mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Pada akhirnya, kita menunjukkan bahwa iman kita adalah sangat mendasar karena iman yang sama menginspirasi kita untuk mendampingi mereka saat hidup menjadi sulit, siap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa kita untuk mereka.

Beberapa orang mungkin membutuhkan jawaban logis tentang iman kita, yang berarti kita harus terus belajar lebih banyak tentang iman. Yang lain membutuhkan penyembuhan dari luka masa lalu, dan kita perlu menjadi teman sejati dalam perjalanan mereka pulang. Semua ini membutuhkan pengorbanan waktu, energi, dan bahkan hidup kita. Namun, kita melakukannya dengan sukacita karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka dan menginginkan keselamatan kekal mereka.

Terakhir, kita harus ingat bahwa kita bukanlah Gembala yang Baik; kita adalah domba-Nya yang berusaha menggembalakan domba lain. Pada akhirnya, kita mungkin menghadapi kegagalan, dan mungkin terasa seolah-olah pengorbanan kita sia-sia. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita harus menyerahkan segalanya kepada Gembala yang Baik yang sejati. Kita telah mendengar suara-Nya, dan dengan mengikuti-Nya dengan setia, kita akan menemukan istirahat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya benar-benar mendengarkan untuk memahami pergulatan mereka yang jauh dari Tuhan, ataukah saya dengan cepat menghakimi dan ingin mengendalikan? Apakah tindakan harian saya mencerminkan kasih sayang Gembala yang Baik? Apakah kesabaran, empati, dan kesediaan saya untuk berkorban menunjukkan kepada orang-orang yang saya cintai dampak positif dan hidup dari iman saya? Ketika upaya saya untuk membantu seseorang sepertinya gagal dan saya merasa putus asa, apakah saya membiarkan diri saya terjatuh ke dalam keputusasaan, ataukah saya secara aktif memilih untuk menyerahkan mereka kepada Gembala yang Baik yang sejati?

Sheep Shepherding another Sheep

Fourth Sunday of Easter [A]

April 26, 2026

John 10:1-10

Living in a modern and secular world, we are often confronted with the reality that those closest to us—our children, relatives, and friends—no longer believe that religion and religious activities are important. How do we respond to this with love, and how does Jesus, our Good Shepherd, provide an answer to this difficult situation?

First, we must recognize the source of our suffering. We want the best for those we love, and nothing is better for them than eternal life. Knowing that they live far from Jesus endangers their souls, and this is deeply painful for us. This awareness is crucial; it shows that our concern stems from genuine love, not a desire to control.

Since love inspires us, we must approach them with love. The first step is to understand that their rejection of religious life stems from unique reasons, which are often hidden. Some people reject religion because they believe that faith contradicts common sense, making it irrelevant in the modern world. Others no longer go to church because of painful past experiences with church leaders. Some simply want to maintain a “free” lifestyle that does not align with biblical teachings, while others are influenced by their environment or friends who have led them into misunderstandings about faith.

Furthermore, we can learn from the way the Good Shepherd cares for His sheep. The Good Shepherd guides with a firm voice, but never through coercion or violence. He walks ahead of His flock, leading by example. He cares for each of His sheep, knowing them by name and recognizing their unique characteristics. When danger approaches, He proves His love not by sacrificing the sheep, but by sacrificing His own life.

Like the Good Shepherd, we need to show care by listening to their stories and struggles. We must not come to judge, but to be respectful and trusted partners in dialogue. At the same time, we need to remain firm in our convictions, confident in the truth of our faith, and aware of the dangers of worldly desires. Most importantly, we must lead by example. We become living witnesses of our faith when we practice what we preach. Ultimately, we demonstrate that our faith is meaningful because it inspires us to stand by them when life becomes difficult, ready to sacrifice our time, energy, and even our lives for them.

Some may need logical answers about our faith, which means we must continue to learn more about it ourselves. Others need healing from past wounds, and we must be true companions on their journey home. All of this requires us to sacrifice our time, energy, and even our lives. Yet, we do so willingly because we truly love them and desire their eternal salvation.

Finally, we must remember that we are not the Good Shepherd; we are His sheep trying to shepherd other sheep. In the end, we may face failure, and it may feel as though our sacrifices are in vain. However, this must not cause us to lose hope. Instead, we must surrender everything to the true Good Shepherd. We have heard His voice, and by faithfully following Him, we will find our rest.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guiding Questions:

Am I truly listening to understand their unique struggles, or am I quick to judge and want to control? Do my daily actions reflect the compassion of the Good Shepherd? Do my patience, empathy, and willingness to sacrifice show those I love the positive and life-giving impact of my faith? When my efforts to help someone seem to fail and I feel discouraged, do I allow myself to fall into despair, or do I actively choose to entrust them to the true Good Shepherd?