Featured

King David

Fourth Sunday of Lent [A]

March 15, 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Continuing our journey through the great figures of the Old Testament, the Fourth Sunday of Lent brings us to King David.

David is undoubtedly one of the most pivotal characters in the biblical canon. He was a shrewd warrior who defeated the bigger, stronger and more experienced Goliath with a single sling stone (1 Sam 17:45-47). As a brilliant military strategist, he was victorious in nearly every campaign (2 Sam 8:6), and as a charismatic statesman, he successfully unified the twelve tribes of Israel (2 Sam 5). Furthermore, David demonstrated profound mercy, famously refusing to harm King Saul despite having the opportunity to do so (1 Sam 24:6). Finally, we remember him as the “sweet singer of Israel,” the inspired poet whose Psalms (such as 23 and 51) we continue to recite today.

However, despite these unrivaled achievements, David’s story starts with a humble beginning. As the youngest son of Jesse from the small village of Bethlehem, David was initially overlooked by Samuel, the prophet. Samuel’s human eyes were fixed on David’s elder brothers, who possessed more impressive physical statures and military experience. Yet, God sees what man does not; He chose the inexperienced shepherd boy. Upon his anointing, the Spirit of the Lord rushed upon David (1 Sam 16:13), and from that moment forward, his success was a testament to God’s favor.

Unfortunately, David’s string of successes eventually birthed a sense of pride. He began to believe he was invincible, acting as though he were above everyone. This hubris led to his fall into lust with Bathsheba and the subsequent calculated murder of her husband, Uriah (2 Sam 11). This grave sin necessitated a stern rebuke from the prophet Nathan. Later, David erred again by conducting a census—likely to measure his own military might rather than trusting in divine protection. This act of pride forgotten that victory comes from the Lord alone, leading to divine judgment (2 Sam 24). In both instances, however, David’s deep love for God was revealed through his sincere repentance, recognizing his humble beginning. Sadly, as king, his personal failings inevitably brought consequences upon his family and the nation.

The life of David offers us a vital spiritual lesson. Like him, we all begin from a place of humility and weakness. Any “success” we achieve—be it professional advancement, physical health, or flourishing relationships—is fundamentally a gift from God. This is equally true of our spiritual lives. Our ministries and the fruits of our prayer are movements of the Spirit, not personal trophies.

Yet, pride often poisons the heart. We begin to credit our own “genius” or effort for our successes, clinging to our achievements and demanding recognition. This is the threshold of our downfall. When we focus solely on maintaining our status, we become paralyzed by the fear of failure. We lose our spirit of gratitude and replace it with complaint and resentment. We may even find ourselves manipulating others to preserve our image of success, leading to a state of spiritual misery.

Like David, we are reminded that only true repentance can restore our orientation toward the Lord, who is the sole author of our salvation. Only when we remember our humble beginning and recognize God’s role in our lives, we find true happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

How does God bring us high fro our humble beginning? When we experience a “win” in our career, family, or ministry, do we instinctively offer a prayer of gratitude, or do we begin to rely on your own “genius”? When we face failure or realize we have manipulated a situation to look better than we are, do we hide in your misery, or do we have the courage to let God rebuke and restore us?

Featured

Raja Daud

Minggu Keempat Prapaskah [A]

15 Maret 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Dalam perjalanan kita bersama tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama, Minggu Keempat Prapaskah membawa kita kepada Raja Daud.

Daud tanpa diragukan lagi merupakan salah satu tokoh paling penting dalam Alkitab. Ia adalah seorang prajurit cerdik yang mengalahkan Goliat yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman dengan sebongkah batu dari ketepel (1 Sam 17:45-47). Sebagai seorang militer yang brilian, ia menang dalam hampir setiap pertempuran (2 Sam 8:6), dan sebagai seorang negarawan karismatik, ia berhasil menyatukan dua belas suku Israel (2 Sam 5). Selain itu, Daud menunjukkan belas kasih yang mendalam, dengan menolak untuk menyakiti Raja Saul meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya (1 Sam 24:6). Akhirnya, kita mengingatnya sebagai “sang pujangga Israel,” yang mazmur-mazmurnya (seperti 23 dan 51) kita terus daraskan hingga hari ini.

Namun, meskipun memiliki prestasi yang tak tertandingi, kisah Daud dimulai dengan awal yang sederhana. Sebagai anak bungsu dari Yesse di desa kecil Bethlehem, Daud awalnya diabaikan oleh Samuel, sang nabi. Mata manusia Samuel tertuju pada saudara-saudara Daud yang lebih tua, yang memiliki postur fisik yang lebih gagah dan pengalaman militer. Namun, Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia; Dia memilih anak gembala yang belum berpengalaman. Setelah diurapi, Roh Tuhan turun atas Daud (1 Sam 16:13), dan sejak saat itu, kesuksesannya menjadi bukti penyertaan Allah.

Sayangnya, rangkaian kesuksesan Daud akhirnya melahirkan kesombongan di hatinya. Ia mulai percaya bahwa dirinya tak terkalahkan, bertindak seolah-olah ia berada di atas semua orang. Kesombongan ini membawa ia ke dalam dosa percabulan dengan Batsheba dan pembunuhan terencana terhadap suaminya, Uriah (2 Sam 11). Nabi Natan pun harus sampai datang dan menegur Daud dengan keras. Kemudian, Daud kembali berbuat salah dengan mengadakan sensus—mungkin untuk mengukur kekuatan militernya sendiri daripada mempercayai perlindungan ilahi. Tindakan kesombongan ini melupakan bahwa kemenangan datang dari Tuhan saja, yang mengakibatkan hukuman ilahi (2 Sam 24). Namun, dalam kedua kasus tersebut, kasih Daud yang mendalam kepada Tuhan terungkap melalui penyesalannya yang tulus, mengakui asal-usulnya yang bukan siapa-siapa. Sayangnya, sebagai raja, dosa pribadinya membawa konsekuensi buruk bagi keluarganya dan bangsa.

Kehidupan Daud memberikan pelajaran rohani yang penting bagi kita. Seperti dia, kita semua memulai dari tempat yang rendah dan lemah. Setiap “kesuksesan” yang kita capai—baik itu peningkatan profesional, kesehatan fisik, atau relasi yang harmonis—pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Pelayanan kita dan buah-buah doa kita adalah gerakan Roh Kudus, bukan sebuah medali pribadi.

Namun, kesombongan seringkali meracuni hati. Kita mulai mengklaim kesuksesan kita sebagai hasil dari “kejeniusan” atau usaha kita sendiri, memegang erat pencapaian kita, dan menuntut pengakuan dari orang lain. Inilah ambang kehancuran kita. Ketika kita fokus hanya untuk mempertahankan status kita, kita menjadi lumpuh karena takut akan kegagalan dan penderitaan. Kita tidak mampu lagi bersyukur dan menggantinya dengan keluhan dan kepahitan. Kita bahkan mungkin memanipulasi orang lain untuk mempertahankan citra kesuksesan kita, yang justru membawa kita pada penderitaan rohani dan kesedihan hidup.

Seperti Daud, kita diingatkan bahwa hanya pertobatan yang sejati yang dapat memulihkan orientasi kita kepada Tuhan, yang merupakan satu-satunya pencipta segala kebaikan dalam hidup kita. Hanya ketika kita mengingat awal kita yang rendah dan mengakui peran Allah dalam hidup kita, kita menemukan kebahagiaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana Allah membawa kita ke tempat yang tinggi dari awal yang rendah? Ketika kita mengalami “kesuksesan” dalam karier, keluarga, atau pelayanan, apakah kita secara naluriah mengucapkan syukur, atau apakah kita mulai mengandalkan “kejeniusan” kita sendiri? Ketika kita menghadapi kegagalan dan penderitaan, apakah kita mencoba menyembunyikannya, atau apakah kita memiliki keberanian untuk membiarkan Allah menegur dan memulihkan kita?

Featured

St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
28 Desember 2025 [A]
Matius 2:13–15, 19–23a

Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

Santo Yusuf, doakanlah kami!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

• Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
• Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
• Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
• Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
• Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Moses and the Waters of Salvation

Third Sunday of Lent [A]

March 8, 2026

Exodus 17:3–7

In previous Sundays, we encountered Adam and Eve, our first parents, and Abraham, our father in faith. This Sunday, we turn our attention to the story of Moses and the people of Israel. Rather than looking at a full biography of Moses, we will focus on the single element that ties his life, and death, together within God’s plan: water.

Drawn from the River

The theme begins at Moses’ birth. To save his life from death, his mother was forced to set him adrift on the Nile. When Pharaoh’s daughter found him and took pity on him, she adopted him and gave him the Egyptian name “Moses.” However, the Book of Exodus gives the name a deeper Hebrew significance: “I drew him out of the water.”

The Well in the Desert

After Moses killed an Egyptian and fled to Midian, water again marked a turning point in his life. At a well, he defended the daughters of Reuel from harassing shepherds and helped them draw water. This encounter led to his marriage to one of those daughters, Zipporah (Exo 2:16–25).

The Nile and the Red Sea

Years later, the Lord called Moses back to Egypt to liberate His people. When Pharaoh stubbornly refused to free the Israelites, the Lord sent ten plagues. Notably, the first plague turned the waters of the Nile into blood (Exo 7:14–25). The most magnificent miracle, however, occurred at the Red Sea. The Lord parted the waters, allowing the Israelites to pass through on dry land and escape Pharaoh’s army forever (Exo 14). Water once again becomes a defining element of this stage.

Water from the Rock

The miracles involving water continued in the desert. At Marah, the water was so bitter that the people grumbled against Moses. The Lord instructed Moses to throw a piece of wood into the water, which miraculously made it drinkable (Exo 15:22–27). Later, at Rephidim, the people again found themselves without water. In thirst and anger, they quarreled with Moses. The Lord commanded Moses to strike the rock at Mount Horeb with his staff, and water gushed forth to sustain the people (Exo 17:1–7).

Disobedience and the Promised Land

Years later, a similar incident occurred in the Desert of Zin. When the people cried out for water, the Lord ordered Moses to “speak” to the rock. However, overwhelmed by anger, Moses struck the rock twice. While water still gushed out to help the people, Moses’ disobedience displeased the Lord. As a result, he was not permitted to enter the Promised Land (Num 20:1–13). Finally, as Moses neared death on Mount Nebo, the Lord showed him a glimpse of the Promised Land, bordered by the Jordan River (Deut 34).

Typology: The Water of Baptism

The story of Moses reminds us that God uses common elements of creation, like water, as instruments of His grace. Through Christ, we receive a miracle even greater than the parting of the Red Sea: the water of Baptism. Just as Moses was drawn from the water and saved from danger, we are drawn from the waters of Baptism to become a new creation, freed from sin.

However, Moses’ story also serves as a warning. Just as he failed to enter the earthly Promised Land due to a lapse in obedience, we must remain vigilant. We are called to repent, live out our baptismal promises, and perform deeds pleasing to the Lord so that we may one day enter our true, eternal Promised Land.

Guide questions:
When we face “dry” or difficult seasons in our life, do we tend to complain, or do we look for God and His grace? Is there a specific area in our life where we find it difficult to fully obey God’s instructions? Looking back at our own life, can we identify a time when God rescued us from a difficult situation or pulled us out of a crisis?

Musa dan Air Keselamatan

Minggu Ketiga Prapaskah [A]

8 Maret 2026

Keluaran 17:3–7

Pada Minggu-minggu sebelumnya, kita telah bertemu dengan Adam dan Hawa, orang tua pertama kita, dan juga Abraham, bapa orang iman. Pada Minggu ini, kita beralih pada kisah Musa dan bangsa Israel. Kali ini, kita akan fokus pada sebuah unsur yang menghubungkan hidup dan kematian Musa dalam rencana Allah, yakni air.

Ditarik dari Sungai

Cerita hidup Musa dimulai dari “air”. Musa lahir saat bayi-bayi laki-laki Ibrani dicari dan dihabisi. Oleh karena itu, ibunya terpaksa menaruhnya di atas keranjang papirus dan meletakannya di Sungai Nil. Ketika putri Firaun menemukan bayi ini dan merasa iba, ia mengadopsinya dan memberinya nama Mesir “Musa.” Namun, Kitab Keluaran memberikan makna Ibrani yang lebih dalam pada nama tersebut: “Aku menariknya dari air.”

Sumur di Padang Midian

Setelah Musa membunuh seorang Mesir dan melarikan diri ke Midian, air kembali menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sebuah sumur, ia membela putri-putri Rehuel, seorang imam Midian, dari para gembala yang mengganggu dan membantu mereka mengambil air. Pertemuan ini mengarah pada pernikahannya dengan salah satu putri tersebut, Zipporah (Kel 2:16–25).

Sungai Nil dan Laut Merah

Bertahun-tahun kemudian, Tuhan memanggil Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan umat-Nya. Ketika Firaun dengan keras kepala menolak untuk membebaskan orang Israel, Tuhan mengirimkan sepuluh tulah. Air kembali menjadi titik awal dan akhir dari pembebasan Israel. Tulah pertama mengubah air Sungai Nil menjadi darah (Kel 7:14–25). Dan puncaknya adalah mukjizat paling agung yang terjadi di Laut Merah. Tuhan membelah air, dan memungkinkan orang Israel melewati daratan kering dan membebaskan diri dari tentara Firaun untuk selamanya (Kel 14).

Air dari Batu

Keajaiban yang melibatkan air terus berlanjut di padang gurun. Di Marah, airnya begitu pahit sehingga orang-orang mengeluh kepada Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk melemparkan sepotong kayu ke dalam air, yang secara ajaib membuatnya menjadi layak minum (Kel 15:22–27). Kemudian, di Rephidim, orang-orang kembali kehabisan air. Dalam kekeringan dan kemarahan mereka, mereka bertengkar dengan Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk memukul batu di Gunung Horeb dengan tongkatnya, dan air pun memancar untuk menopang orang-orang (Kel 17:1–7).

Ketidaktaatan dan Tanah Perjanjian

Beberapa tahun kemudian, kejadian serupa terjadi di Gurun Zin. Ketika orang-orang meminta air, Tuhan memerintahkan Musa untuk “berbicara” kepada batu karang. Namun, karena diliputi amarah, Musa memukul batu itu dua kali. Meskipun air masih memancar untuk menolong orang-orang, ketidaktaatan Musa membuat Tuhan tidak senang. Akibatnya, ia tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Terjanji (Bil 20:1–13). Akhirnya, ketika Musa mendekati kematian di Gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan kepadanya sekilas Tanah Terjanji yang dibatasi oleh Sungai Yordan (Ul 34).

Air dan Umat Beriman

Kisah Musa mengingatkan kita bahwa Allah menggunakan ciptaan-Nya yang menurut kita adalah hal biasa, seperti air, sebagai sarana rahmat-Nya. Melalui Kristus, kita menerima mukjizat yang lebih besar daripada mukjizat Laut Merah, yakni air Pembaptisan. Sama seperti Musa ditarik dari air dan diselamatkan dari bahaya, kita ditarik dari air Baptisan untuk menjadi ciptaan baru, terbebas dari dosa.

Namun, kisah Musa juga menjadi peringatan. Sama seperti ia gagal masuk ke Tanah Terjanji di bumi karena kelalaian dalam ketaatan, kita harus tetap waspada. Kita dipanggil untuk bertobat, hidup sesuai janji Baptisan kita, dan melakukan perbuatan yang berkenan kepada Tuhan agar suatu hari kita dapat masuk ke Tanah Terjanji yang sejati dan kekal.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Ketika kita menghadapi masa-masa “kering” atau sulit dalam hidup kita, apakah kita cenderung mengeluh, atau apakah kita mencari Tuhan? Apakah ada area tertentu dalam hidup kita di mana kita kesulitan untuk sepenuhnya taat pada Tuhan? Dengan melihat kembali hidup kita, apakah kita dapat mengidentifikasi momen ketika Tuhan menyelamatkan kita dari situasi sulit atau menarik kita keluar dari krisis?

Abraham, Bapa Iman

Minggu Kedua Prapaskah [A]

1 Maret 2026

Gen 12:1-4

Bacaan pertama pada Minggu Prapaskah memberikan kita gambaran kecil tentang sejarah keselamatan, terutama dalam Perjanjian Lama. Minggu lalu, kita bertemu dengan Adam dan Hawa, merenungkan kisah penciptaan mereka dan kejatuhan mereka dalam dosa. Hari ini, kita bertemu dengan Abraham, sang Bapa Bangsa pertama. Tapi mengapa Abraham?

Nama asli Abraham adalah Abram, yang berarti “bapak yang mulia.” Selama sebagian besar hidupnya, nama ini menjadi sumber ironi, bahkan mungkin ejekan, karena ia sudah tua dan tidak memiliki anak. Bagaimana ia bisa menjadi “bapak yang mulia” tanpa anak untuk memuliakannya? Saat itulah Tuhan hadir kepada Abram. Pada usia tujuh puluh lima tahun, ia menerima perintah yang mengejutkan: tinggalkan tanah airnya untuk tempat antah berantah. Bersama perintah ini datang juga janji: ia akan menjadi bapak banyak bangsa, dan melalui dia, berkat-berkat hadir.

Pada pandangan pertama, panggilan ini mungkin tampak seperti lelucon kejam dalam hidup Abram. Meskipun tidak memiliki anak, setidaknya ia hidup nyaman di antara sanak saudaranya dan akan mati di tanah airnya di bawah perlindungan “dewa-dewa” yang sangat dia kenal. Namun, Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyamannya dan ke wilayah yang tidak dikenal, di mana bahaya dan penderitaan mengintai. Kita tidak tahu persis apa yang ada di pikiran Abram, tetapi kita tahu tindakannya: ia memilih untuk mempercayai Tuhan yang hampir tidak ia kenal dan mempertaruhkan hidup dan masa depannya. Sanak kerabatnya mungkin menganggapnya gila atau sudah pikun. Namun, keputusannya ini tidak hanya akan mengubah hidupnya tetapi juga mengubah masa depan umat manusia.

Mengikuti Tuhan tidak selalu mudah. Meskipun Abram diberkati dengan kekayaan besar, ternak yang melimpah, dan ratusan pengikut, bahkan mengalahkan empat raja dengan 318 prajurit terlatihnya (Kej 14), ia masih belum memiliki keturunan yang dijanjikan. Ketika ia berusia 99 tahun, Tuhan mengubah namanya menjadi Abraham, yang berarti “bapak banyak bangsa.” Namun, ia terus menanti satu hal yang akan menjadikan gelar itu nyata. Akhirnya, ketika Abraham berusia 100 tahun, Sarah melahirkan Ishak (Kej 21:5).

Namun, cerita ini tidak berakhir dengan “happy ever after.” Tuhan akhirnya meminta sesuatu yang tak terbayangkan: agar Abraham mengorbankan putranya, Ishak (Kejadian 22). Sama seperti ia taat di awal, Abraham taat juga sekarang. Untungnya, malaikat mencegah dia menyakiti Ishak, dan Tuhan memberkati Abraham lebih lagi karena kesetiaannya.

Abraham meninggal pada usia 175 tahun. Meskipun dia memiliki anak-anak lain, satu melalui Hagar dan enam melalui Keturah, jumlah mereka tetap tidak bisa disebut sebagai “banyak bangsa.” Abraham menutup mata tanpa melihat sepenuhnya bangsa-bangsa tersebut, namun dia tidak mengeluh atau menjadi pahit. Abraham tidak sempurna. Pada suatu saat, ia berbohong kepada Firaun dan bertindak pengecut dengan menyerahkan istrinya, Sarah, kepada Raja Mesir (Kej 12:10-20). Namun, meskipun memiliki kelemahan, ia tetap percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Dari Abraham lahir bangsa Israel, dan dari bangsa Israel, kita menerima Yesus, sang Mesias dan Juruselamat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam hidup kita saat ini, apa “tanah air” atau zona nyaman yang mungkin Allah minta kita tinggalkan untuk mengikuti-Nya dengan lebih penuh? Pernahkah kita merasa bahwa janji-janji Allah untuk hidup kita bertentangan dengan kenyataan saat ini? Bagaimana kita mempertahankan harapan ketika keadaan kita menguji iman kita? Bagaimana mengetahui bahwa Allah menggunakan orang-orang yang tidak sempurna dan bercacat, mengubah cara kita memandang kesalahan dan kelemahan kita sendiri?

Abraham the Father of Faith

2nd Sunday of Lent [A]

March 1, 2026

Gen 12:1-4

The first readings of the Sundays of Lent offer us a glimpse into the history of salvation, particularly within the Old Testament. Last Sunday, we encountered Adam and Eve, reflecting on their creation and their eventual fall from grace. Today, we meet Abraham, the first patriarch. But why Abraham?

Abraham’s original name was Abram, which literally means “the exalted father.” For much of his life, this name served as a source of irony, perhaps even mockery, since he was elderly and childless. How could he be an “exalted father” with no children to exalt him? It was then that the Lord appeared to Abram. At seventy-five years old, he received a staggering command: leave his homeland for a faraway territory. With this command came a promise: he would become the father of many nations, and through him, blessings

At first glance, this calling might have seemed like another cruel joke in Abram’s life. Though childless, he lived comfortably among his kinsmen and was set to die in his homeland under the protection of familiar “gods.” Yet, the Lord called him out of his comfort zone and into unknown territories where danger and misery often lurked. We cannot know exactly what was in Abram’s mind, but we know his actions: he chose to trust a God he barely knew and put his life on the line. His kinsmen might have thought him delusional or senile. Little did he know that his decision would not only change his life but transform the future of humanity.

Following the Lord is rarely a breeze. While Abram was blessed with great wealth, vast livestock, and hundreds of retainers, even defeating four kings with his 318 trained men (Gen 14). he still lacked a promised heir. When he reached the age of ninety-nine, God changed his name to Abraham, meaning “father of many nations.” Yet, he continued to wait for the one thing that would make that title a reality. Finally, when Abraham was 100 years old, Sarah gave birth to Isaac (Gen 21:5).

However, the story did not end with a simple “happily ever after.” God eventually asked for something unthinkable: that Abraham sacrifice his only son, Isaac (Gen 22). Just as he had obeyed in the beginning, Abraham obeyed again. Fortunately, an angel prevented him from harming Isaac, and the Lord blessed Abraham even more for his faithfulness.

Abraham passed away at the age of 175. While he had other sons, one through Hagar and six through Keturah, their numbers still fell short of the literal “many nations” promised to him. Abraham closed his eyes without seeing the full extent of those nations, yet he did not complain or grow bitter. Abraham was not perfect. At one point, he was dishonest with Pharaoh and acted cowardly by giving up his wife, Sarah, to the King of Egypt (Gen 12:10-20). Yet, despite his imperfections, he fundamentally believed that God would fulfill His word. From Abraham came the Israelites, and from the Israelites, we received Jesus.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
In your life right now, what is the “homeland” or comfort zone God might be asking you to leave behind to follow Him more fully? Have you ever felt that God’s promises for your life contradict your current reality? How do you maintain hope when your circumstances seem to “joke” at your faith? How does knowing that God uses imperfect, flawed people to transform the future of humanity change the way you view your own mistakes and shortcomings?

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Clay of the Ground

1st Sunday of Lent [A]

February 22, 2026

Genesis 2:7-9, 3:1-7

Traditionally, the Gospel reading for the first Sunday of Lent is the story of Jesus in the wilderness for forty days, where He fasted and was tempted by Satan. However, in this reflection, we will look deeper into the first reading from the Book of Genesis.

The Church combines two stories in this first reading: the creation of Adam (Gen 2:7-9) and the fall of our first parents (Gen 3:1-7). In order to do this, the lectionary skips around 16 verses (Gen 2:10-25), omitting Adam’s activities in the Garden of Eden and the creation of Eve. I believe the reason is not purely practical (simply avoiding overly long reading), but rather that the Church wishes to show us a hidden truth that connects the two stories.

First, we must recognize that the story of the creation of Adam is not merely a biological lesson, but a profound theological truth. Adam was created from the dust of the ground (עפר מן־האדמהapar min ha-adama). We, as humans, are nothing but mere soil—fragile, dirty, and essentially worthless. In fact, there is a clear play on words in Hebrew to remind us of our lowly origin: the word Adam (the first man) is almost identical to the word for ground (Adama).

However, the Book of Genesis pushes further by pointing out that while we are nothing, God is everything; while we are powerless, God is omnipotent. Yet, despite the infinite gap between God and us, the author of Genesis reveals God’s immense love for humanity. Depicted as a divine artisan with His skillful hands and life-giving breath, God formed this worthless dust into one of His most refined creatures. Furthermore, God made us His co-workers in His Garden, entrusting us to care for the other creatures. We are who we are solely because of God’s love.

Moving to chapter 3, the serpent tempts Adam and Eve. His strategy is simple yet extremely effective. He claimed that God was not telling the truth and that God did not want Adam and Eve to be like Him, thus forbidding them to eat the fruit. The idea of being like God was extremely attractive, and pride began to corrupt their hearts. They desired to be like God without God, acting as His rivals rather than living as His servants. They forgot the most fundamental truth about themselves: they are nothing but dust, and everything good they have comes from God. Consequently, they fell.

By joining the stories of Adam’s creation and his fall, the Church teaches us that when pride poisons our hearts, we begin to ignore our humble origins and are doomed to fall. As St. John Chrysostom stated in a 4th-century homily: “[the story of Adam’s creation] is to teach us a lesson in humility, to suppress all pride, and to convince us of our own lowliness. For when we consider the origin of our nature, even if we should soar to the heavens in our achievements, we have a sufficient cause for humility in remembering that our first origin was from the earth.”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

In what areas of my life do I forget my humble origins (“dust”) and fail to recognize that all my gifts, talents, and successes ultimately come from God? How does pride manifest in my daily choices? Do I sometimes try to be “like God without God” by seeking total control over my life, rather than trusting Him as His servant and co-worker? When I “soar to the heavens” in my earthly achievements, what practical practices can I adopt to stay grounded and remember my fundamental reliance on God’s love?

Jesus and the Law

Sixth Sunday in Ordinary Time [C]

February 15, 2026

Matthew 5:17-37

Jesus makes it crystal clear that He came to fulfill the Law rather than abolish it. However, a deeper question remains: “Why is the Old Testament Law so vital that Jesus Himself felt bound to fulfill it?”

We often view laws and regulations as constraints that bind our freedom and limit our movement—something external imposed upon us. Yet, when we look at the bigger picture, we realize that laws are an integral part of almost all human communities. Even in the smallest contexts, such as the family, children obey their parents’ commands, even though they are often unwritten. Certainly, the larger and more complex a society becomes, the larger and more sophisticated the body of laws required.

Laws are necessary precisely because they guarantee the common good. By incentivizing those who contribute to society and punishing those who harm it, laws ensure the proper functioning and flourishing of the human community. Just as we use our minds to control our passions and govern ourselves toward genuine personal growth, we create laws to check our collective harmful behaviors and guide our society toward progress. Laws are not merely external impositions; they are the products of human reason designed to help us live better.

We can also view laws as tools to help us “domesticate” ourselves. Just as we domesticate wolves to transform them into dogs—taming their wildness to make them into helpful companions—so too do we subject our aggressive and violent natures to the rule of law to make ourselves into more mature individuals.

This brings us back to Jesus. While human minds are imperfect and therefore create imperfect laws, God’s mind is perfect and creates laws that are infallible (Ps 19:7). This is why Jesus clearly revealed His purpose: to fulfill God’s laws, not to abolish them. If human laws are designed to form us into better members of human society, then God’s laws are designed to form us into perfect men and women, ready for the Kingdom of Heaven.

However, Jesus also recognized that some regulations in the Old Testament were directed specifically at the ancient Israelites rather than at all people of all times. In fact, some laws, such as the regulation on divorce (Matt 5:31), were obviously enacted as a result of God’s concession to the hardness of human hearts.

Therefore, fulfilling the Law does not mean that Jesus simply endorsed all Old Testament regulations. Rather, He purified and re-taught them with greater clarity, specifically revealing the “heart” of the laws themselves. For instance, when Jesus reaffirmed the Ten Commandments, He pointed to the truth that killing and violence toward fellow human beings are rooted in the wrath within our own hearts. Unless we are able to control this internal anger, we are bound to harm others, leading to the destruction of life (Matt 5:21-22).

Ultimately, Jesus demonstrates that the Law is not a set of cold restrictions, but a path toward spiritual maturity and internal transformation. By fulfilling the Law, He invites us to move beyond mere outward obedience and instead embrace a heart aligned with the perfect love of God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

Do I view God’s commandments as burdens that restrict my freedom, or as a loving pathway designed for my genuine growth and happiness? Jesus teaches that violence begins internally; what hidden anger or resentment am I holding onto that prevents me from having a truly pure heart?Am I merely following the rules to appear “good” on the outside, or am I allowing God’s Law to tame my nature and transform me for His Kingdom?

Yesus dan Hukum

Minggu Biasa Keenam [A]

15 Februari 2026

Matius 5:17-37

Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Hukum, bukan untuk menghapusnya. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Mengapa Hukum di Perjanjian Lama begitu penting sehingga Yesus sendiri seperti terikat untuk menggenapinya?”

Kita sering memandang hukum dan peraturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan kita dan membatasi gerak kita, sesuatu yang dipaksakan dari luar. Namun, ketika kita melihat gambaran yang lebih besar, kita menyadari bahwa hukum merupakan bagian integral dari semua komunitas manusia. Bahkan dalam konteks yang paling kecil sekalipun, seperti keluarga, anak-anak menaati perintah orang tua mereka, meskipun seringkali tidak tertulis. Tentu saja, semakin besar dan kompleks suatu masyarakat, semakin besar dan rumit pula sistem hukum yang diperlukan.

Hukum diperlukan tepatnya karena hal ini menjamin kebaikan bersama. Dengan memberi insentif kepada mereka yang berkontribusi pada komunitas dan menghukum mereka yang merugikannya, hukum memastikan komunitas berfungsi dengan baik dan menghasilkan kemakmuran bersama. Sama seperti kita menggunakan akal budi kita untuk mengendalikan nafsu dan mengatur diri kita menuju pertumbuhan pribadi yang sejati, kita menciptakan hukum untuk mengendalikan perilaku kolektif kita yang merugikan dan mengarahkan masyarakat kita menuju kemajuan. Hukum bukanlah sekadar paksaan eksternal; namun, hal ini adalah produk dari akal budi manusia yang dirancang untuk membantu kita hidup lebih baik.

Kita juga dapat memandang hukum sebagai alat untuk membantu kita “menjinakkan” diri kita sendiri. Sama seperti kita menjinakkan serigala untuk mengubahnya menjadi anjing—menjinakkan sifat liar mereka agar menjadi teman yang berguna—demikian pula kita menundukkan sifat agresif dan kekerasan kita dengan bantuan aturan hukum untuk menjadikan diri kita individu yang lebih dewasa.

Hal ini membawa kita kembali kepada Yesus. Akal budi manusia tidak sempurna dan oleh karena itu menciptakan hukum-hukum yang bisa salah, sementara akal budi Allah sempurna dan menciptakan hukum-hukum yang tidak dapat salah (Mz 19:7). Itulah mengapa Yesus dengan jelas mengungkapkan tujuan-Nya: untuk memenuhi hukum-hukum Allah, bukan untuk menghilangkannya. Jika hukum-hukum manusia dirancang untuk membentuk kita menjadi anggota masyarakat yang lebih baik, maka hukum-hukum Allah dirancang untuk membentuk kita menjadi pria dan wanita yang sempurna, siap untuk Kerajaan Surga.

Namun, Yesus juga menyadari bahwa beberapa peraturan dalam Perjanjian Lama ditujukan secara khusus kepada orang Israel kuno, bukan kepada semua orang di semua zaman. Faktanya, beberapa hukum, seperti peraturan tentang perceraian (Mat 5:31), jelas dibuat karena “kerasnya hati manusia.”

Oleh karena itu, menaati Hukum tidak berarti Yesus sekadar menyetujui semua peraturan di Perjanjian Lama. Sebaliknya, Dia memurnikan dan mengajarkan kembali peraturan-peraturan tersebut dengan lebih jelas, khususnya mengungkapkan “hati” dari hukum-hukum itu sendiri. Misalnya, ketika Yesus mengukuhkan kembali Sepuluh Perintah Allah, Dia menunjuk pada kebenaran bahwa pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama manusia berakar pada amarah yang ada di dalam hati kita. Kecuali kita mampu mengendalikan amarah di hati, kita akan terus menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran hidup mereka (Mat 5:21-22).

Pada akhirnya, Yesus menunjukkan bahwa Hukum bukanlah sekumpulan aturan yang kaku, tetapi jalan menuju kedewasaan rohani dan transformasi batin. Dengan memenuhi Hukum Allah, Dia mengundang kita untuk melampaui ketaatan external semata dan sebaliknya membentuk hati yang selaras dengan kasih sempurna Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya memandang perintah Allah sebagai beban yang membatasi kebebasan saya, atau sebagai jalan kasih yang dirancang untuk pertumbuhan dan kebahagiaan sejati saya? Yesus mengajarkan bahwa kekerasan bermula dari dalam; amarah atau dendam tersembunyi apa yang saya simpan yang menghalangi saya memiliki hati yang benar-benar murni? Apakah saya hanya mengikuti aturan untuk terlihat “baik” di luar, atau apakah saya membiarkan Hukum Allah menaklukkan sifat saya dan mengubah saya untuk Kerajaan-Nya?