Featured

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?

Featured

Beatitude: The Counter-Intuitive Path to Happiness

4th Sunday in Ordinary Time [A]

February 1, 2026

Matthew 5:1-12a

Jesus’ Sermon on the Mount begins with the Eight Beatitudes. Pope St. John Paul II calls the Beatitudes the “Magna Charta of Christianity,” comparing them to the Ten Commandments of the Old Testament. He notes, “They are not a list of prohibitions, but an invitation to a new and fascinating life.” They are indeed an exciting invitation because they address the one fundamental desire we all share: happiness. However, as we read the Beatitudes, we realize that Jesus’ path to happiness is counter intuitive. Why is this?

We tend to believe that possessing wealth is a sign of God’s blessing and the means to our happiness. Yet, Jesus teaches, “Blessed are the poor in spirit, for theirs is the Kingdom of Heaven.” While Jesus speaks specifically of “poverty of spirit,” our eagerness to achieve major successes, accumulate wealth, and stay at the top often leads to health problems, mental exhaustion, and difficult relationships with our loved ones. Eventually, these pursuits wear down our spirits, and we find we are not truly happy.

We often think that laughter and “good vibes” are the surest signs of happiness, but Jesus says that the one who mourns will be comforted. Sometimes, we forget how to mourn when we lose something precious, such as a loved one. Instead, we try to run from grief by indulging in instant pleasures or endless scrolling, distracting ourselves with busy activities and overworking, or even blaming God. Yet, mourning helps us confront the truth of our fragile nature, rely more on God’s mercy, and ultimately find healing and comfort.

We normally perceive that through strength, aggression, and dominance, we can acquire whatever we desire. Jesus teaches exactly the opposite: the meek will inherit the land, the merciful will receive mercy, and the peacemakers will be called children of God. While this sounds counter-intuitive, when we look around, we realize that so many problems in our families, societies, and environments are caused by human greed, violent aggression, and vengeance. Only when we learn to be gentle, merciful, and peace-loving do we create peace not only within ourselves but also for the people around us.

Often, we unconsciously fill our hearts with ambitions to be the greatest, most powerful, and influential. We allow desires for pleasure and instant gratification to control us, but Jesus reminds us that only the pure in heart can see God. Hence, it is critical to be aware of what contaminates our hearts, to acknowledge these impurities, and to ask for God’s grace to purify them. In the Catholic tradition, this process is the examination of conscience and the confession of sins, through which God’s grace cleanses our hearts and reunites us with Him, the source of our happiness.

Finally, Jesus concludes the Beatitudes by positioning Himself as the endpoint of our happiness. Jesus is not just a wandering wise teacher promoting self-help principles for successful living, but the source of happiness itself. Unless we cling to Him and offer up our hearts to Him, our lives remain fruitless, and eternal happiness remains beyond our reach.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

Which worldly ambition/s is currently draining my energy, and how might letting go of it bring me more peace? When I feel hurt or overwhelmed, do I tend to numb the pain with distractions (like screens, busy work, or pleasure), or do I bring that grief honestly to God? Is there a conflict in my life where I am trying to “win” through dominance or aggression, rather than resolving it through gentleness and mercy? If I look at my daily habits, do they show that I am seeking happiness primarily in worldly achievements, or in a relationship with Jesus?

Featured

St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
28 Desember 2025 [A]
Matius 2:13–15, 19–23a

Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

Santo Yusuf, doakanlah kami!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

• Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
• Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
• Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
• Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
• Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Petrus dan Matius

Minggu Bisa Ketiga [A]

25 Januari 2026

Matius 4:12-23

Saat ini kita menjalani Tahun Liturgi A, dipandu oleh Injil Matius. Salah satu ciri khas Injil ini adalah penghargaannya yang tinggi terhadap Simon Petrus. Namun, mengapa demikian?

Contohnya adalah kisah pengakuan Petrus (Mat 16:13-20; Par: Mar 8:27-30; Luk 9:18-20). Meskipun Injil-injil lain menceritakan bahwa Simon dengan benar mengidentifikasi Yesus sebagai Mesias, hanya Matius yang menyertakan berkat unik yang diberikan Yesus kepadanya: nama baru “Kephas” (Batu) dan wewenang kunci Kerajaan Allah. Contoh lain adalah kisah Yesus berjalan di atas air (Mat 14:22-33). Meskipun peristiwa ini juga dicatat oleh Markus (6:45-52) dan Yohanes (6:15-21), hanya Matius yang mengungkapkan cerita Petrus yang secara ajaib berjalan di atas air, meskipun hanya beberapa langkah sebelum tenggelam dan diselamatkan oleh Yesus.

Mengapa Matius menggambarkan Petrus dalam pribadi yang luar biasa? Jika saya boleh berspekulasi, sejatinya Simon dan Matius sudah saling mengenal jauh sebelum Yesus memanggil mereka, karena keduanya berasal dari Kapernaum. Danau Galilea merupakan milik Kekaisaran Romawi, dan para nelayan diwajibkan membayar pajak yang berat untuk menangkap ikan di sana. Kita dapat membayangkan: selama bertahun-tahun, Simon si Nelayan berdiri di hadapan Matius si Pemungut Cukai. Simon, yang berbau ikan dan keringat, dengan marah menyerahkan uang hasil jerih payahnya kepada Matius, sang kolaborator Romawi, dan pengkhianat rakyatnya. Ada kebencian dan permusuhan di antara mereka.

Matius mungkin kaya raya, mungkin memiliki properti besar, namun dia dibenci oleh banyak orang, dan beberapa mungkin bahkan ingin dia mati. Dalam hatinya, Matius kemungkinan besar tidak menemukan kedamaian, dan hidup dalam ketakutan dan isolasi. Jadi, ketika Matius akhirnya berdiri untuk mengikuti Yesus, dia sejatinya memasuki kandang singa. Dia tidak hanya meninggalkan meja pajaknya, tetapi juga dia bergabung dengan sekelompok pria yang membencinya, terutama para nelayan Galilea.

Namun, bagaimana dia bisa bertahan dalam kelompok itu? Mengapa Matius akhirnya menulis dengan begitu hormat tentang Simon? Saya percaya ini karena Simon Petrus, sang pemimpin para rasul, memilih untuk memaafkannya, meneladani apa dilakukan Yesus. Petrus mau menerima Matius sebagai saudara dan rekan kerjanya. Mungkin Simon bahkan mendorong para rasul lainnya untuk menerima Matius karena Yesus telah memanggilnya. Dalam mengikuti Kristus, Matius menemukan bukan hanya damai dan pengampunan dosa, tetapi juga persahabatan sejati dan keluarga baru. Oleh karena itu, penghormatan mendalam yang ditunjukkan Matius dalam Injilnya tidak hanya berasal dari peran Petrus sebagai pemimpin yang ditunjuk Yesus, tetapi juga dari persahabatan pribadi mereka.

Teori ini mungkin hanya dapat dibuktikan ketika kita bertemu mereka di surga, tetapi pelajaran ini penting bagi kita semua. Yesus memanggil kita secara pribadi, tetapi bukan terisolasi. Dia memanggil kita ke dalam sebuah keluarga. Mudah untuk mencintai Yesus yang kita temui dalam doa; jauh lebih sulit untuk mencintai “Matius” atau “Petrus” yang duduk di samping kita di bangku gereja. Tidak jarang kita gagal mencintai sesama kita, menolak untuk mengampuni atau menyambut mereka. Mungkin tanpa sadar, kita memegang dendam, yang berkontribusi pada keputusan mereka untuk meninggalkan Gereja. Namun, jika Petrus dapat memeluk pria yang pernah berbuat jahat padanya, tentu kita dapat menerima mereka yang sulit kita cintai. Jangan sampai kita menjadi alasan seseorang merasa tidak diterima di rumah Bapa kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:

Siapakah “pemungut cukai” dalam hidupku, orang yang paling sulit aku maafkan atau sambut dalam keluargaku, komunitas, dan Gereja? Apakah aku menggunakan aktivitas keagamaan dan devosiku sebagai tameng untuk menghindari tugas mencintai saudara-saudariku? Bagaimana caraku membawa orang-orang lebih dekat kepada Yesus?

Peter and Matthew

3rd Sunday in Ordinary Time [A]

January 25, 2026

Matthew 4:12-23

We are currently journeying through Liturgical Year A, guided by the Gospel of Matthew. A striking feature of this Gospel is the high regard it holds for Simon Peter. But why is this so?

The fresco of St. Matthew the Evangelist in church Chiesa di Santa Maria in Aquiro

A good example is the account of Peter’s confession (Mt 16:13-20; Par: Mar 8:27-30; Luk 9:18-20). While the other Gospels mention Peter correctly identifying Jesus as the Messiah, only Matthew includes the unique blessing Jesus bestows upon him: the new name “Cephas” (Rock) and the authority of the keys to the Kingdom. Another instance is the story of Jesus walking on the water (Mt 14:22-33). While this event is also recorded by Mark (6.45-52) and John (6.15-21), only Matthew reveals Peter’s miraculous walk on the waves—even if he did take only a few steps before sinking and needing Jesus to save him (Mat 14:22-33).

Why does Matthew paint Peter in such a heroic light? If I may speculate, it is possible that Simon and Matthew were acquainted long before Jesus called them, as both were both from Capernaum. Since the Sea of Galilee was the property of the Roman Empire, fishermen were forced to pay heavy taxes to fish there. We can easily imagine: for years, Simon the Fisherman stood before Matthew the Tax Collector. Simon, smelling of fish and sweat, angrily handing over his hard-earned coins to Matthew, the collaborator, the traitor to his people. There was bad blood between them.

Matthew may have been wealthy, perhaps owning a large estate, but he was likely despised by many—some may have even wanted him dead. Deep down, Matthew likely found no peace, living in constant fear and isolation. So, when Matthew finally stood up to follow Jesus, he was walking into a lion’s den. He wasn’t just leaving his tax booth; he was joining a band of men who had every reason to despise him—especially the fishermen of Galilee.

How did he survive in that group? Why even did Matthew eventually write so highly of Simon? I believe it was because Simon Peter, the leader, chose to forgive him, like Jesus had. Peter must have looked past the history of taxes and extortion and embraced Matthew as a brother. Matthew found not just forgiveness of sins in Jesus, but a genuine friend in Peter. Perhaps Simon even encouraged the other apostles to accept Matthew because Jesus had called him.

In following Christ, Matthew found not only peace and the forgiveness of sins but also genuine friendship and a new family. Thus, the deep respect Matthew shows in his Gospel flows not only from Peter’s role as the leader Jesus appointed but also from their personal friendship.

This theory may only be proven when we meet them in heaven, but the lesson is urgent for us today. Jesus calls us personally, but never to isolation. He calls us into a family.

It is easy to love the Jesus we meet in prayer; it is much harder to love the “Matthew” or the “Peter” sitting next to us in the pew. It is not uncommon for us to fail to love our neighbors, refusing to forgive or welcome them. Perhaps unconsciously, we hold onto resentment, contributing to their decision to leave the Church. Yet, if Peter could embrace the man who once taxed him, surely, we can welcome those we find difficult. Let us not be the reason someone feels unwelcome in the Father’s house.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Who is the ‘tax collector’ in my life, the one person in my family, community and Church I find hardest to forgive or welcome? Am I using my religious activities and devotion as a shield to avoid the messy work of loving the people sitting next to me? How do I bring people closer to Jesus?

Jesus the Lamb of God

Second Sunday in Ordinary Time [C]

January 18, 2026

John 1:29-34

Today, John the Baptist identifies Jesus as “the Lamb of God who takes away the sin of the world.” For us as Catholics, this title is one of the most familiar, for we proclaim it at every Mass moment before receiving Holy Communion. But do we understand what it means? Why must we make this specific acclaim before approaching the altar?

To grasp the weight of this title, we must look back to the Old Testament. The lamb was the quintessential sacrificial animal of Israel. It was a lamb that served as the sacrifice of the Passover, the instrument through which God saved Israel from death and liberated them from the slavery of Egypt. The lamb was also central to the worship of the Sanctuary: in the “Tamid,” the daily offering (Ex 29:39); the “Olah,” the burnt offering (Lev 1:10); the “Shelamim,” the peace offering (Lev 3:7); and the “Hattat,” the sin offering (Lev 4:32).

We might ask, “Why the lamb?” The reason is partly practical. Sheep were abundant in the ancient world, but unlike other livestock, the lamb offers the least resistance when faced with death. It does not fight; it does not scream. This silence inspired the prophet Isaiah to describe the Suffering Servant: “Like a lamb that is led to the slaughter, and like a sheep that before its shearers is silent, so he opened not his mouth.”

Yet, Jesus is no ordinary lamb. He is the Lamb of God. The Greek phrase ho amnos tou Theou implies not only a lamb belonging to God but a lamb provided by God. Jesus is the perfect victim, prepared not by human hands, but by the Father. He is the fulfillment of Abraham’s prophecy to Isaac: “God himself will provide the lamb.” Because He is of God, He is the only offering truly acceptable to God.

Jesus, therefore, is the Lamb of God because He is the total fulfilment of every ancient sacrifice.

  • Like the Passover Lamb, He is slain and consumed so that we might be spared from eternal death.
  • Like the Tamid, He is offered daily in the Eucharist.
  • Like the Olah, He is given totally in obedience to the Father.
  • Like the Shelamim, He is our peace (Eph 2:14).
  • Like the Hattat, He becomes the offering that cleanses us of sin (2 Cor 5:21).

This is why we cry out, “Lamb of God… have mercy on us.” We are acknowledging that without His perfect sacrifice, we could not be saved from our sins. And finally, when we pray, “Grant us peace,” we confess that without Jesus—our true Peace Offering—there can be no reconciliation between us and the Father.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

“How do we prepare ourselves to worthily receive the sacrifice of Jesus in the Eucharist? How do we participate in the Mass? Do our actions during the liturgy bring us closer to Jesus, or do they distract us? Finally, how do we offer our lives to God through our daily activities?”

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Why Jesus Baptized?

Baptism of The Lord [A]

January 11, 2026

Mat 3:13-17

One question that often baffles some of us is: why did Jesus need be baptized by John the Baptist? John himself proclaims that his baptism is a sign of repentance. Those who come to him must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, making the baptism of water a visible sign of turning away from sins. Yet, we know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. How do we understand Jesus’ baptism?

The same question has also puzzled many great Christian thinkers through the ages. While it is impossible to list every interpretation here, St. Proclus, a 5th-century Patriarch of Constantinople, offers a profound insight. In his homily in “Holy Theophany,” he invites us to witness a paradox, “Come then and see new and astounding miracles: The Sun of righteousness washing in the Jordan, fire immersed in water, God sanctified by the ministry of man.” In essence, St. Proclus saw the baptism of Jesus not as a necessity for forgiveness, but as a “miracle of humility.”

When an Israelite came to John to be baptized, it was certainly an act of humility, an acknowledgment before God of their sinfulness and a willingness to repent. However, when the divine Jesus is baptized by the human John, it goes beyond ordinary humility; it is an extraordinary humility, miraculous in nature. St. Proclus teaches that while this astonishing humility was present at Jesus’ birth, the Baptism differs from Christmas. The Nativity was a hidden miracle, but the Baptism was a public event, witnessed by the multitudes, where God the Father openly declared He was pleased with His Son’s act of self-emptying.

This offers a vital lesson for all of us: it is through divine humility that we receive salvation and are sanctified. In His humility, the Son became man and placed Himself under the care of Joseph and Mary. In His humility, Jesus was baptized by John, becoming one with the people He came to save. In His humility, Christ patiently endured the cross, accepting death as the perfect sacrifice for our redemption. Jesus perfectly loves the Father; from this profound love, humility is born; from this extraordinary humility, obedience is engendered; and through Jesus’ obedience throughout His life, we are saved.

We see the necessity of this virtue in the life of St. Philip Neri, a well-loved saint of Rome. The Pope once asked him to investigate a nun who allegedly received visions from the Lord and performed miracles. On his way to her convent, rain poured down heavily, turning the streets to mud. The holy man continued his journey, though his clothes were drenched and his boots caked in mud. Upon his arrival, the nun greeted him, excited to share her visions with such a famous priest. However, the first thing St. Philip asked was for her to help him remove his soiled boots. She was infuriated, scolding him and declaring that such a request was too demeaning for a spiritual woman like her.

St. Philip immediately returned to the Vatican. He reported to the Pontiff, “Holy Father, she is not a saint.” When the Pope asked how he could reach such a conclusion so quickly, Philip replied, “She has no humility. And where there is no humility, there can be no sanctity.”

As Jesus teaches us this lesson today, let us ask the Lord for this same gift, that we may follow His example and truly grow in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do I tend to separate myself from others I consider “lesser” or “sinful”? Do I view humility as a weakness that damages my reputation, or do I view it as a divine strength that I should actively seek? If I find it hard to be obedient to God or lawful authority, is it actually because I am lacking the humility and love that must come first?

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    The Magi and Herod

    Epiphany [A]

    January 4, 2026

    Matthew 2:1-12

    The story of the Magi is a powerful one because they do not come from the Jewish people, and yet they sincerely seek the newborn King of Israel. The identity of the Magi remains a mystery. The Greek word magos—from which the English word magic is derived—refers to a person learned in the ancient sciences. These ancient sciences were very different from modern ones: experiment and myth, natural observation and ritual, were often intertwined. This was a period when astronomy was closely linked with astrology, and chemistry with alchemy.

    Although not stated explicitly in Scripture, many traditions identify the Magi as the three kings from the East. Tertullian (d. AD 225), interpreting the Epiphany account in light of Psalm 72 and Isaiah 60, refers to the Magi as kings. While the Magi were not necessarily kings, they were likely men of high status, since Herod, the king of Jerusalem, received them and treated them with respect. The number three is commonly derived from the three gifts offered to Christ: gold, frankincense, and myrrh. The earliest clear evidence for three Magi appears in a sixth-century mosaic in the Church of Sant’Apollinare Nuovo in Ravenna, Italy. The names Melchior, Gaspar, and Balthasar emerge in Latin tradition around the same period.

    The story of the Magi becomes even more striking when they are contrasted with their Jewish counterparts: Herod, the king of Jerusalem, and the Jewish scholars. When Herod heard the news, he immediately consulted the learned men of his court. After carefully examining the Scriptures, they confirmed the Magi’s discovery and identified Bethlehem as the birthplace of the newborn king. Yet, unlike the Magi—who used their wisdom and knowledge to honor the child—Herod and his learned advisors used their understanding of Scripture to plot the destruction of the promised Messiah.

    The contrast between the Magi and Herod becomes a paradigm for what would later happen to Jesus. At the beginning of His life, Jesus was honored by Gentile Magi but sought for destruction by Herod and his advisors. Likewise, at the end of His earthly life, Jesus was condemned by the chief priests and religious leaders, accused of being a false Messiah, while He was recognized by a Roman centurion as the Son of God.

    Finally, after the Magi found Jesus and paid Him homage, they returned home by a different way. This detail carries profound symbolism: encountering Jesus leads to true repentance and transformation. We may be busy studying Scripture, engaging in charitable works, or serving in Church ministries, but if we do not truly find Jesus in them, there is no genuine conversion. Without finding Jesus, we may end up finding only ourselves. The danger is that this leads either to frustration when we fail or to pride when we succeed. In either case, we do not find true happiness. Like Herod and his advisors, we may even misuse our knowledge of faith in ways that harm our spiritual life and weaken our faith in Christ.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide Questions:
    Am I more like the Magi or like Herod and his advisors in the way I seek Jesus? How do I use the knowledge and gifts God has given me? Do my religious activities truly bring me into an encounter with Jesus? Or have Scripture, ministry, and service become ends in themselves? In what ways has encountering Christ changed my direction in life? What prevents me from recognizing Christ when He comes quietly and vulnerably?