Featured

God’s “Illogical” Love

27th Sunday in Ordinary Time [A]

October 4, 2026

Matthew 21:33-43

Our Gospel tells us the story of a vineyard owner who entrusted his vineyard to workers so that they might take care of it and produce a good harvest. At first, this seems like a normal occurrence in the agrarian industry. Yet, as the story unfolds, we see strange, unexpected events begin to happen. What are those unexpected events?

First, the owner prepared almost everything before leaving: he planted the vines, built a hedge to protect the vineyard from wild animals such as boars and foxes, dug a wine press where the grapes could be crushed to produce juice for fermentation, and built a watchtower where a guard could be stationed to watch for incoming animals or thieves. The tower could also serve as a shelter for the workers to rest. It is important to note that the vineyard owner was under no legal obligation to provide all these facilities.

Second, and even more remarkable, is what happened after his first servant was beaten by the rebellious tenants. The expected response would have been for the owner to immediately send an army to take back his land and punish the ungrateful laborers. Instead, he chose to do something unthinkable: he sent more servants, knowing they might meet the same cruel fate. Finally, he chose to send his own beloved son, believing the workers would respect him. However, the wicked men did not hesitate to kill the owner’s son (Matthew 21:33–39, Mark 12:1–8, Luke 20:9–15).

Looking at the landowner’’ actions, we recognize that they appear completely irrational, even foolish. No logical person would act this way. Yet, what the landowner did is precisely what the Lord does for us. As Sacred Scripture reminds us, “For God so loved the world that he gave his only Son” (John 3:16), fully knowing that humanity would repeatedly reject Him. This divine love defies human logic and comprehension, yet it is through this very love that we hold the hope of ultimate salvation rather than condemnation.

On one occasion, a student asked a priest, “Father, why do we need to confess our sins when we know we are going to sin again anyway?” It was a logical and challenging question. The priest answered, “Yes, you are right. We will fall into temptation again.” After a thoughtful pause, he continued, “When we get sick, we take medicine to get well. Even though we know we might get sick again in the future, we do not stop taking medicine.”

The Sacrament of Reconciliation is the greatest proof of God’s unimaginable love and mercy toward us. No matter how sinful we are, how flawed we feel, or how far we have fallen, God is always ready to receive us when we approach Him with true contrition. He knows our weaknesses and foresees our future falls, yet He never withdraws His love. However, while God’s grace is freely given, it is never cheap. If we continue to take His love for granted and abuse His mercy, then at the final judgment, the Lord will return not as our Savior, but as our Just Judge.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
How often do I recognize and appreciate the gifts, blessings, and grace that God has already prepared and entrusted to me in my life? When I repeatedly fail or fall into the same sins, do I humbly seek God’s mercy in confession, or do I make excuses and stay away from Him? Am I truly striving to grow in holiness, or am I taking God’s love for granted and abusing His infinite mercy in my daily choices?

Featured

Kasih Allah yang “Tidak Masuk Akal”

Hari Minggu Biasa ke-27 [A]

4 Oktober 2026

Matius 21:33-43

Bacaan Injil kita mengisahkan seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para pekerja agar mereka merawatnya dan menghasilkan panen yang baik. Awalnya, kisah ini tampak seperti peristiwa biasa dalam dunia pertanian. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai peristiwa aneh dan tidak terduga mulai terjadi. Apa sajakah hal itu? Apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, sang pemilik mempersiapkan hampir seluruh kebutuhan kebun sebelum ia pergi. Ia menanam pohon anggur, membangun pagar untuk melindungi kebun dari binatang liar, menggali tempat pemerasan untuk mengolah buah anggur menjadi sari buah untuk difermentasi, serta mendirikan menara jaga agar penjaga dapat memantau datangnya pencuri atau binatang pengganggu. Menara tersebut juga berfungsi sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi para pekerja. Padahal, secara hukum, sang pemilik tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menyediakan seluruh fasilitas itu. Sang pemilik sudah mengerjakan setengah bagian dari apa yang para pekerja perlu lakukan!

Kedua, hal yang lebih luar biasa terjadi ketika hamba pertamanya dipukuli oleh para penggarap yang memberontak. Normalnya, seorang pemilik tanah akan segera mengirim pasukan untuk merebut kembali haknya dan menghukum para pekerja yang tidak tahu berterima kasih tersebut. Sebaliknya, ia justru melakukan hal yang tidak terpikirkan: ia mengirim hamba-hamba lainnya meskipun tahu mereka dapat mengalami nasib kejam yang sama. Pada akhirnya, ia mengutus putra kesayangannya sendiri dengan harapan para pekerja akan menghormati putranya. Namun, para penggarap jahat itu malah membunuh putra sang pemilik (Mat 21:33–39; Mar 12:1–8; Luk 20:9–15).

Tindakan pemilik kebun tersebut tampak tidak rasional, bahkan dapat dianggap tidak bijaksana oleh pemikiran manusia. Tidak ada orang yang berpikir secara logis akan bertindak demikian. Namun, tindakan tersebut justru mencerminkan besarnya kasih Allah kepada manusia. Sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16), meskipun Allah tahu bahwa manusia akan berulang kali menolak-Nya. Kasih ilahi ini melampaui logika manusia, dan melalui kasih inilah kita menerima harapan keselamatan, bukan penghukuman.

Logika manusia yang terbatas ini sering kali tercermin dalam pertanyaan kita sehari-hari. Sebagai contoh, seorang pelajar pernah bertanya kepada seorang imam, “Romo, mengapa kita perlu mengaku dosa jika kita tahu bahwa kita akan berdosa lagi?” Imam tersebut menjawab, “Ya, kamu benar. Kita memang bisa jatuh ke dalam dosa lagi.” Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, “Saat sakit, bukankah kita minum obat agar sembuh? Namun, kita pun tahu bahwa setelah kita sembuh, ada kemungkinan untuk sakit lagi di masa depan. Lalu, apakah kita akan berhenti minum obat tersebut?”

Ilustrasi tersebut membantu kita memahami Sakramen Rekonsiliasi sebagai wujud nyata dari kasih dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Sebesar apa pun dosa kita dan sejauh apa pun kita telah jatuh, Allah selalu siap menerima kita kembali ketika kita datang dengan penyesalan yang tulus. Dia memahami kelemahan kita dan mengetahui kejatuhan kita di masa depan, namun Dia tidak pernah menarik kembali kasih-Nya. Meski demikian, kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah sesuatu yang murahan. Jika kita terus menganggap remeh kasih-Nya dan menyalahgunakan kerahiman-Nya, maka pada penghakiman terakhir, Tuhan akan datang bukan hanya sebagai Juruselamat, melainkan sebagai Hakim yang Adil.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Seberapa sering saya menyadari dan mensyukuri anugerah, berkat, dan rahmat yang telah Allah siapkan serta percayakan kepada saya dalam hidup ini? Saat saya berulang kali gagal atau jatuh ke dalam dosa yang sama, apakah saya dengan rendah hati memohon belas kasih Allah melalui pengakuan dosa, atau justru mencari-cari alasan dan menjauh dari-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan, atau apakah saya menganggap remeh kasih Allah dan menyalahgunakan belas kasih-Nya yang tak terbatas dalam pilihan-pilihan hidup saya sehari-hari?

Featured

Mukjizat Ekaristi

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Yohanes 6:51-58

7 Juni 2026

Pada jantung iman Katolik terdapat sebuah misteri yang mendalam: misteri Ekaristi. Saat Misa, roti dan anggur yang dikonsekrasi berubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang sesungguhnya. Biasanya, meskipun substansi dasarnya berubah, penampakan fisik roti dan anggur tetap sama. Namun, sepanjang sejarah Gereja, telah terjadi momen-momen luar biasa ketika bahkan penampakan fisik ini juga berubah menjadi daging dan darah yang sesungguhnya. Gereja mengakui peristiwa-peristiwa yang mengagumkan ini sebagai mukjizat Ekaristi.

Di antara yang paling kuno dan terkenal adalah mukjizat Lanciano di Italia. Menurut tradisi yang secara resmi didokumentasikan pada tahun 1574, seorang imam abad ke-8 sedang merayakan Misa Kudus sambil bergulat dengan keraguan mendalam tentang kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Sesaat setelah kata-kata konsekrasi, roti berubah menjadi daging yang hidup, dan anggur menjadi darah, yang segera menggumpal menjadi lima butiran terpisah dengan ukuran yang bervariasi. Yang luar biasa, relik-relik suci ini tidak rusak dan dapat ditemui di gereja Lanciano hingga saat ini.

Mukjizat kuno ini telah melalui pemeriksaan ilmiah yang ketat pada tahun 1970 dan 1971, yang dipimpin oleh Dr. Odoardo Linoli, seorang profesor anatomi dan histologi. Temuannya sungguh mengejutkan. Ia menyimpulkan bahwa daging tersebut berasal dari jaringan miokardium manusia (daging dari bagian jantung) dan darah tersebut adalah darah manusia yang asli. Baik daging maupun darah tersebut termasuk dalam golongan darah AB. Selain itu, Dr. Linoli tidak menemukan jejak bahan atau zat pengawet sehingga pelestarian jaringan biologis ini tanpa kerusakan selama berabad-abad tidak dapat dijelaskan secara ilmiah.

Namun, Lanciano bukanlah peristiwa yang terisolasi. Dalam bukunya, A Cardiologist Examines Jesus, dokter Italia Dr. Franco Serafini mengumpulkan data ilmiah dari empat mukjizat Ekaristi terbaru—Buenos Aires pada 1996, Tixtla, Mexico pada 2006, Sokółka, Polandia pada 2008, dan Legnica, Polandia pada 2013—dan membandingkannya dengan temuan Lanciano. Sebuah pola yang sama muncul: semua relik tersebut terdiri dari jaringan jantung manusia dengan golongan darah AB. Lebih mendalam lagi, semua mukjizat tersebut (kecuali Lanciano) menunjukkan tanda-tanda aktif dari stres fisiologis, trauma, dan kekurangan oksigen, yang mengindikasikan jantung yang sedang mengalami penderitaan panjang. Menariknya, meskipun para ilmuwan telah berhasil mengisolasi DNA manusia dari sampel-sampel ini, mereka mendapati bahwa sangat sulit untuk mengurutkan DNA tersebut secara lengkap. Seolah-olah DNA itu sendiri menolak untuk mengungkapkan kode genetiknya secara utuh, meskipun fragmen-fragmennya secara konsisten menunjukkan profil seorang laki-laki.

Mukjizat – mukjizat ini melampaui penjelasan manusia, dan memberikan penegasan yang luar biasa akan Ekaristi. Namun, pada akhirnya kita harus memandangnya sebagai sarana dari Tuhan yang dimaksudkan untuk memperkuat iman kita, bukan sesuatu yang harus kita tuntut harus ada. Saya pernah berkesempatan merayakan Misa Kudus di Lanciano, dan seorang peziarah tiba-tiba mengatakan kepada saya bahwa dia berharap menyaksikan mukjizat Ekaristi terjadi lagi. Saya menjawab bahwa saya justru tidak ingin hal itu terjadi. Alasannya sederhana: kita percaya. Mukjizat yang paling sejati dan agung terjadi secara tak terlihat di dalam hati kita sendiri ketika kita diberi iman untuk mengenali dan mengakui bahwa apa yang tampak sebagai roti dan anggur biasa sebenarnya adalah Tuhan Yesus sendiri. Iman yang mendalam dan tenang itulah yang mampu menggerakkan gunung-gunung keraguan dan ketakutan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Ketika saya menghadapi keraguan dalam hidup saya, apakah saya membawanya kepada Tuhan, ataukah saya membiarkannya secara diam-diam menjauhkan diri dari-Nya? Bagaimana kasih pengorbanan Kristus dalam Ekaristi mengubah cara saya merespons cobaan dan penderitaan hidup saya? Apakah saya terus-menerus mencari tanda-tanda luar biasa untuk membenarkan keyakinan saya, ataukah saya menumbuhkan iman untuk mengenali kehadiran Tuhan dalam momen-momen biasa dalam hidup saya?

Featured

The Eucharistic Miracles

The Solemnity of the Most Holy Body and Blood of Christ

John 6:51-58

June 7, 2026

At the heart of the Catholic faith lies a profound mystery: during the Eucharist, the consecrated bread and wine become the true Body and Blood of Jesus Christ. Ordinarily, while the underlying substance changes, the physical appearances of bread and wine remain. Yet, throughout history, there have been extraordinary moments when even these physical appearances have transformed into actual flesh and blood. The Church recognizes these awe-inspiring events as Eucharistic miracles.

Among the most ancient and renowned of these is the miracle of Lanciano, Italy. According to a tradition formally documented in 1574, an eighth-century priest was celebrating Holy Mass while struggling with profound doubts about the real presence of Christ in the Eucharist. Right after the words of consecration, the unleavened bread visibly transformed into living flesh, and the wine into blood, which soon coagulated into five distinct globules of varying sizes. Remarkably, these miraculous relics are still preserved and can be venerated in the Shrine of Lanciano today.

This ancient miracle underwent rigorous scientific scrutiny between 1970 and 1971, led by Dr. Odoardo Linoli, a professor of anatomy and histology. His findings were astonishing. He concluded that the flesh is authentic human myocardial tissue (flesh from a heart) and the blood is genuine human blood containing normal proteins and minerals. Both the flesh and the blood belong to the AB blood group. Furthermore, Dr. Linoli found no traces of mummification chemicals, salts, or preservatives, making the uncorrupted preservation of this biological tissue over so many centuries scientifically inexplicable.

Lanciano, however, is not an isolated event. In his book, A Cardiologist Examines Jesus, Italian physician Dr. Franco Serafini gathered scientific data from four modern Eucharistic miracles—Buenos Aires in 1996, Tixtla in 2006, Sokółka in 2008, and Legnica in 2013—and compared them with the Lanciano findings. A striking pattern emerged: all the relics consist of human heart tissue of the AB blood type. Even more profoundly, the modern miracles all display active signs of severe physiological stress, trauma, and a lack of oxygen, indicative of a heart in its final agony. Interestingly, while scientists have been able to isolate human DNA from these samples, they have found it remarkably elusive to fully sequence. It is almost as if the DNA itself resists yielding its complete genetic code, though the fragments consistently indicate a male profile.

These miracles defy human explanation, offering extraordinary physical affirmations of the Eucharist. Yet, we must ultimately view them as gentle instruments of God meant to strengthen our faith, rather than something we should actively demand. I remember celebrating Holy Mass in Lanciano when a pilgrim confided in me, hoping to witness a Eucharistic miracle right there at the altar. I replied that I would not want that to happen, simply because I already believe. The truest and greatest miracle happens invisibly within our own hearts when we are granted the faith to recognize that what appears to be simple bread and wine is truly the Lord. That profound, quiet faith is the kind that can move mountains of doubt and fear.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

When I encounter doubt in my own life, do I bring it to God, or do I allow it to silently distance me from Him? How does recognizing the profound depth of Christ’s sacrificial love in the Eucharist change the way I respond to my own personal trials and sufferings? Am I constantly seeking extraordinary signs to validate my beliefs, or am I cultivating the faith to recognize God’s presence in the ordinary, everyday moments of my life?

Featured

St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
28 Desember 2025 [A]
Matius 2:13–15, 19–23a

Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

Santo Yusuf, doakanlah kami!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

• Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
• Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
• Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
• Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
• Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Kenosis and Love

26th Sunday in Ordinary Time [A]

September 27, 2026

Philippians 2:1-11

Philippians 2:5–11 is one of the most beautiful and profound passages in Scripture. Many scholars and theologians have recognized it as an ancient Hymn of Christ, either composed by St. Paul himself or inherited from the earliest Christian communities. What can we learn from this profound hymn?

The first lesson lies in the act of self-emptying, known in Greek as kenosis (v. 7). This act of self-emptying was possible precisely because Jesus possesses the full nature of God. As God, He had every right and power to remain in heavenly glory with the Father and the Holy Spirit. From heaven, Jesus could have dealt with sinful humanity in any way He pleased, whether by punishing us severely or eradicating us completely. Even if He had wished to pardon us, He could have done so simply by speaking a single word of forgiveness from the comfort of His heavenly throne. Instead, He chose something far beyond human imagination: He descended from heaven and became man. This decision was driven by His radical humility. Jesus was not obsessed with holding onto His divine glory, majesty, and splendor, nor was He hungry for worship or adoration. Instead, He loved us so immensely that He chose to become like us in our human weakness.

Furthermore, His act of self-emptying did not end with the Incarnation; it went even deeper to embrace the lowest state of human suffering: death as a crucified man. In the time of Jesus, crucifixion was a penalty so brutal that it was reserved only for the worst criminals, such as murderers and rebels. Jesus did not merely set aside His divine majesty; He was willing to be counted among the most degraded of human beings. Jesus walked this path to demonstrate one ultimate truth: He loves us to the very end. His unimaginable self-emptying, motivated by radical humility, reveals the depth of God’s infinite love.

St. Paul further amplifies this truth by linking Christ’s self-emptying to its spiritual effect when he writes, “For you know the grace of our Lord Jesus Christ, that though he was rich, yet for your sake he became poor, so that you by his poverty might become rich” (2 Cor 8:9). Through this hymn, St. Paul teaches us the precious lesson that true love is realized through humility and self-emptying. It is through this very self-emptying that love transforms and enriches the ones we love.

St. Paul recognized Christ’s self-emptying and strove to follow in the footsteps of his divine Master. He left everything behind to proclaim Jesus Christ and establish churches in many lands. Living a very simple life, he worked by day as a tentmaker to support himself and his mission, while spending his nights teaching the Gospel to the faith communities. Though he surrendered everything for Christ, the early Christians gained Christ and an abundance of spiritual gifts. Paul gained nothing in the eyes of the world except hardship and trials, yet he rejoiced in his sufferings because he was able to participate in the afflictions and self-emptying of Christ (Col 1:24).

Ultimately, we love truly when we are willing to empty ourselves so that those we love may be made rich.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
In what areas of my life am I holding on to my rights, status, or desire for recognition, and how can I practice radical humility like Christ in those situations? Am I willing to lower myself or set aside my own comfort so that the people I love can be built up, enriched, and supported? When I face hardships, trials, or sacrifices for the sake of others, do I see them as empty burdens, or can I embrace them as a way to participate in Christ’s self-emptying love?

Kenosis dan Kasih

Hari Minggu Biasa ke-26 [A]

27 September 2026

Filipi 2:1-11

Filipi 2:5–11 merupakan salah satu bagian yang paling indah dan mendalam dalam Kitab Suci. Banyak ahli dan teolog mengenalinya sebagai Himne Kristus kuno, yang mungkin digubah oleh Santo Paulus sendiri atau diwarisi dari tradisi komunitas Kristen perdana. Melalui himne yang mendalam ini, kita diajak untuk memetik pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kehidupan iman kita.

Pelajaran pertama terletak pada tindakan pengosongan diri, yang dalam bahasa Yunani disebut kenosis (ay. 7). Tindakan ini justru dimungkinkan karena Yesus memiliki kodrat Allah secara penuh. Sebagai Allah, Dia memiliki segala hak dan kuasa untuk tetap berada dalam kemuliaan surgawi bersama Bapa dan Roh Kudus. Dari takhta surga, Yesus sebenarnya berkuasa memperlakukan umat manusia yang berdosa sesuai kehendak-Nya, baik dengan menghukum kita secara keras maupun memusnahkan kita sepenuhnya. Bahkan jika Dia hendak mengampuni kita, Dia sanggup melakukannya hanya dengan mengucapkan sepatah kata pengampunan dari kemegahan surgawi-Nya. Namun, Dia justru memilih jalan yang jauh melampaui imajinasi manusia: Dia turun dari surga dan menjadi manusia. Keputusan ilahi ini didorong oleh kerendahan hati-Nya yang radikal. Yesus tidak terobsesi untuk mempertahankan kemuliaan, keagungan, serta semarak ilahi-Nya, dan Dia pun tidak haus akan penyembahan manusia. Sebaliknya, kasih-Nya yang begitu besar mendorong-Nya untuk menjadi sama seperti kita dalam segala kelemahan manusiawi kita.

Lebih dari itu, tindakan pengosongan diri-Nya tidak berhenti pada peristiwa Inkarnasi semata. Wujud kenosis ini melangkah lebih dalam dengan merangkul kondisi penderitaan manusia yang paling rendah, yakni kematian di kayu salib. Pada zaman Yesus, penyaliban merupakan hukuman yang amat kejam dan hina, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat seperti pembunuh dan pemberontak. Dengan demikian, Yesus tidak sekadar menanggalkan keagungan Ilahi-Nya, tetapi juga bersedia menempatkan diri-Nya di antara orang-orang yang paling dipandang hina. Yesus menempuh jalan yang penuh pengorbanan ini untuk menunjukkan satu kebenaran hakiki: Dia mengasihi kita sampai tuntas.

Pengosongan diri-Nya yang tak terbayangkan ini menyingkapkan kedalaman kasih Allah yang tidak terbatas. Santo Paulus mempertegas kebenaran tersebut dengan mengaitkan sikap mengosongkan diri Kristus pada dampak rohani yang dihasilkannya bagi kita, sebagaimana ia tuliskan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9). Melalui ungkapan ini, Santo Paulus mengajarkan bahwa kasih yang sejati senantiasa diwujudkan melalui kerendahan hati dan kesediaan untuk mengosongkan diri. Justru melalui penyangkalan diri inilah, kasih mampu mengubah dan memperkaya jiwa orang-orang yang kita kasihi.

Santo Paulus menyadari keutamaan sikap kenosis Kristus ini dan berkomitmen untuk meneladani jejak Sang Guru Ilahi. Ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan dan status hidupnya demi mewartakan Injil Yesus Kristus serta membangun jemaat-jemaat di berbagai wilayah. Dalam menjalani hidup yang sangat sederhana, Paulus bekerja keras pada siang hari sebagai pembuat kemah untuk membiayai kebutuhan hidup dan misinya, sedangkan pada malam harinya ia mencurahkan waktu untuk mengajarkan Injil kepada komunitas-komunitas beriman. Paulus menyerahkan seluruh hidupnya demi Kristus, dan karenanya, Gereja perdana memperoleh Kristus dan kelimpahan karunia rohani. Di mata dunia, Paulus mungkin tampak tidak memperoleh apa pun selain penderitaan dan kesukaran. Namun, ia justru bersukacita dalam penderitaan tersebut karena ia diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam penderitaan dan pengosongan diri Kristus demi Gereja-Nya (Kol 1:24).

Pada akhirnya, perenungan ini menegaskan bahwa kita baru mengasihi secara sungguh-sungguh ketika kita bersedia mengosongkan diri, sehingga orang-orang yang kita kasihi dapat dibangun dan diperkaya secara rohani.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam aspek kehidupan manakah saya masih mempertahankan hak, status, atau keinginan untuk diakui, dan bagaimana saya dapat mempraktikkan kerendahan hati yang radikal seperti Kristus dalam situasi-situasi tersebut? Bersediakah saya merendahkan diri atau mengesampingkan kenyamanan pribadi agar orang-orang yang saya kasihi dapat dibangun, diperkaya, dan didukung? Saat menghadapi kesulitan, pencobaan, atau pengorbanan demi orang lain, apakah saya memandangnya sebagai beban yang sia-sia, atau dapatkah saya menerimanya sebagai jalan untuk ambil bagian dalam kasih Kristus yang mengosongkan diri?

Anger

24th Sunday in Ordinary Time [A]

September 13, 2026

Sirach 27:30 – 28:7

We get angry, yet what is anger? Is getting angry inherently sinful? What do the Bible and the Church teach about this emotion?

Anger is part of the broader spectrum of human emotions, much like happiness, sadness, or fear. Like any other emotion, anger belongs to our biological system and helps us react to our surroundings. Consequently, it is morally neutral—neither sinful nor praiseworthy in itself. However, anger differs from other feelings because it triggers intense physical responses: muscles tense, the heart rate increases, breathing quickens, and adrenaline surges. These physiological reactions prepare us to act and to confront perceived evils. In ancient times, our ancestors relied on anger to fight for survival and safeguard resources, as the loss of life or basic necessities posed the greatest threat to their existence.

Today, modern humans experience anger for a wide variety of reasons, ranging from losing a Wi-Fi signal or sitting in traffic for hours, to grieving a loss or facing injustice. Because anger is subject to human reason, it becomes truly beneficial only when managed wisely. Conversely, when we allow anger to master our reason, it can harm not only us but also those around us, including the people we love. This is the point at which anger becomes sinful.

Anger becomes sinful in two primary ways. First, we might direct anger toward the wrong object—meaning we become upset over something that is not genuinely unjust. For instance, a student who never studies might grow angry with a teacher for assigning a low grade. Second, we might hold anger for the wrong motivation, such as a desire for vengeance. When hurt or upset, we can become driven by a vindictive urge to see others suffer as we have suffered. This impulse is dangerous because it leads to hurtful words or violent actions that harm both ourselves and others. True Christian anger must always be grounded in justice rather than revenge. As Sirach says, “vengeance belongs to the Lord.”

How, then, should Christians manage anger? First, when experiencing a surge of emotion, we can take a deep breath and count to ten, doing our best to calm down. Second, we ought to reflect on the root cause by asking, “What triggered my anger?” The issue might stem from our own actions, or, if caused by someone else, it may have been completely unintentional. Third, we should consider the right reasons and methods for expressing our feelings. Is it necessary to shout or curse? Must we post on social media to generate attention, or can we address the matter through direct, peaceful conversation? We do well to remember the advice of Saint Paul, “Do not let the sun go down on your anger” (Eph 4:26). Fourth, we must learn to forgive, especially when the other person seeks one. Forgiveness does not mean ignoring the offense or pretending it never happened; rather, it is an act of charity that restores peace and fosters unity.

Finally, what should we do if anger leads us into sin? First, we can seek the Sacrament of Reconciliation and ask for the Lord’s forgiveness. We must prevent harmful emotional outbursts from developing into habit, and acknowledging our anger as sinful is the first step toward overcoming it. Second, whenever possible, we should ask for forgiveness from those we have wronged. Seeking reconciliation is never a sign of weakness; it is a display of spiritual strength that builds lasting peace.

How often do we allow minor everyday frustrations to cloud our reason and hurt the people we love? When we feel wronged, are we seeking true justice and peace, or are we driven by a desire for vengeance? Do we actively practice forgiveness and address our anger daily, or do we let it linger and settle in our hearts?

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

The Reason Behind Fraterna Correctio

23rd Sunday in Ordinary Time [A]

September 6, 2026

Matthew 18:15-20

Our Gospel passage addresses the act of offering correction to our brothers and sisters when they commit a sin against us. This pericope is traditionally known in Latin as Fraterna Correctio. Why is this teaching on fraternal correction considered so important that our Lord Himself laid out a clear procedure for it?

First, we must clarify that we are not dealing with mere human lapses or simple mistakes, such as choosing the wrong outfit or forgetting to comb our hair, but with sin. Sin is a direct violation of God’s law. Although the Gospel states, “when a brother sins against you,” sin is ultimately committed against the Lord. When we steal from a brother, we do not merely harm him; we offend the Lord by committing an act that displeases Him. While harming our neighbor can strain or destroy earthly relationships, violating God’s law brings far graver consequences, as it imperils our eternal life with Him.

Second, the Gospel emphasizes that the person who sins against us is our brother. Throughout this pericope, the word “brother” refers not only to biological siblings or relatives, but Jesus’ disciples, meaning the fellow members of the Church—our Christian brothers and sisters united by baptism and faith in Jesus Christ. While we certainly ought to correct family members and relatives when they sin, the Lord also requires us to care for our broader spiritual family. The Lord places this responsibility upon us for a reason revealed in the first reading, Ezekiel 33:7–9. Speaking through the prophet Ezekiel, the Lord warns that if we fail to call our brothers to repentance, we share in their guilt. Our silence signals either approval of their actions or indifference toward their souls, both of which displease the Lord.

Third, correcting our brothers is fundamentally a saving act of love. When we love people, we desire the highest good for them, which is ultimately eternal life in heaven. Loving them means helping them reach that goal while urging them to avoid anything that threatens their salvation. By reminding them to repent from their sins, we fulfill the greatest commandments: to love the Lord and to love our neighbor. We love the Lord by fulfilling His desire to guide our brothers away from a sinful life, and we love our brothers by drawing them closer to God.

However, we must also remember that the choice to repent ultimately belongs to them. After doing our best to correct them, if they persist in their sin, we should not grow overly frustrated or consumed by sorrow. Instead, we entrust them to the Lord in prayer, recognizing that only He can transform a human heart. Furthermore, as those who offer correction, we must maintain a humble spirit, acting as servants of the Lord rather than assuming a position of superiority over our brothers. As we care for others through fraterna correctio, we must continually guard our own hearts against pride and hypocrisy.

Manila

Valentinus bayuhadi ruseno, OP

Guide questions:
How often do we remain silent when a brother or sister in Christ strays, and are we holding back out of indifference or a genuine lack of love? Do we approach fraterna correctio with true humility as fellow servants, or do we secretly feel superior to those we are trying to correct? When someone refuses to listen to our gentle corrections, can we peacefully entrust them to God in prayer without giving in to anger, frustration, or pride?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?

Living Sacrifice

22nd Sunday in Ordinary Time [A]

August 29, 2026

Rome 12:1-2

In his Letter to the Romans, St. Paul urges the faithful to offer their bodies as a “living sacrifice” (Romans 12:1). For ancient readers, St. Paul’s statement was a striking oxymoron—a figure of speech that combines two words of opposing meaning, such as “bittersweet” or “controlled chaos.” But why was Paul’s concept of a “living sacrifice” an oxymoron in the first place?

In ancient times, people worshiped their gods by offering sacrifices. This was especially true for the Israelites in Paul’s era. Worshippers would travel to the Temple in Jerusalem bringing animals—most commonly lambs—for sacrifice. First, the priests would inspect each animal to ensure it was free of defects. After certification, the worshipper would lay his hands on the animal’s head to symbolically identify himself with it. The animal’s throat was then cut with a swift, continuous motion of a razor-sharp knife to ensure a rapid death. A priest would catch the fresh blood in a sacred basin, stirring it continuously to prevent coagulation, before carrying it to the Altar to splash or sprinkle against its base. Finally, the priests flayed the animal, cut it into portions, and placed either parts of it or the whole victim onto the Altar to be burned (see Leviticus 1–4).

Because sacrifice in both the pagan world and ancient Israel was inextricably linked with the death of the victim, St. Paul’s phrase “living sacrifice” sounded like a direct contradiction. However, Paul was drawing upon a rich Old Testament tradition. The prophets frequently emphasized that animal sacrifices were meaningless without true, heart-felt repentance. King David proclaimed, “The sacrifices of God are a broken spirit; a broken and contrite heart, O God, you will not despise” (Psalm 51:17). Similarly, the prophet Hosea declared God’s message: “For I desire mercy, not sacrifice, and acknowledgment of God rather than burnt offerings” (Hosea 6:6).

To become a “living sacrifice” still involves death, but not a physical one. St. Paul explained this personal transformation when he wrote, “I have been crucified with Christ; it is no longer I who live, but Christ lives in me” (Galatians 2:20). Paul was not literally executed on a wooden cross; rather, he put to death his ego, selfish interests, and worldly desires to live entirely for Jesus Christ. From that point on, everything he said and did was oriented toward pleasing the Lord and advancing the Gospel.

Just as Jesus offered Himself as a complete sacrifice on the cross, St. Paul surrendered his own body and life to God by living in total conformity with the divine will. In the same way, St. Paul invites us to offer our bodies, work, studies, relationships, rest, and even our sufferings as a living sacrifice. In everything we do, we strive to please God and live according to His will. For Catholics, every daily activity can be united with the self-offering of Jesus in the Holy Sacrifice of the Mass, becoming part of that perfect offering that constitutes true, spiritual worship (Romans 12:1).

Guide questions:
How can we put to death our own egos, selfish desires, and worldly ambitions so that Christ can truly live through us each day? In what ways can we offer our daily routines—our work, studies, relationships, and even our struggles—as a living sacrifice to God? Are we offering God meaningful inner devotion and mercy in our daily actions, or are we simply going through the motions of outward religious habits?

Kurban Hidup

Minggu ke-22 Masa Biasa [A]

30 Agustus 2026

Roma 12:1-2

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, Santo Paulus mendesak umat beriman untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “kurban yang hidup” (Roma 12:1). Bagi para pembaca pada zaman dahulu, pernyataan Santo Paulus ini merupakan sebuah oksimoron —sebuah kiasan yang menggabungkan dua kata bermakna berlawanan, seperti “manis pahit” atau “permasalahan yang baik.” Namun, mengapa konsep Paulus tentang “kurban yang hidup” sejak awal dianggap sebagai suatu oksimoron?

Pada masa lampau, orang-orang menyembah dewa-dewa dengan mempersembahkan kurban. Praktek ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada zaman Paulus. Orang-orang Israel akan pergi ke Bait Allah di Yerusalem membawa hewan—paling sering domba—untuk dikorbankan. Pertama-tama, para imam memeriksa setiap hewan untuk memastikan bahwa hewan tersebut bebas dari cacat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, penyembah meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu untuk secara simbolis mengidentifikasi dirinya dengan kurban tersebut. Tenggorokan hewan itu kemudian dipotong dengan gerakan cepat menggunakan pisau yang sangat tajam untuk menjamin kematian yang cepat. Seorang imam menampung darah segar hewan itu dalam baskom khusus dan mengaduknya secara terus menerus untuk mencegah pembekuan darah. Dia kemudian membawanya ke mezbah untuk dipercikkan di bagian dasarnya. Akhirnya, para imam menguliti hewan itu, memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkan bagian-bagian tersebut atau seluruh tubuh kurban di atas mezbah untuk dibakar (lihat Imamat 1–4).

Karena ritus pengorbanan di dunia kuno maupun di Israel kuno berkaitan erat dengan kematian kurban, ungkapan Santo Paulus mengenai “kurban yang hidup” terdengar seperti sebuah kontradiksi. Padahal, Paulus sedang mengacu pada tradisi Perjanjian Lama. Para nabi terdahulu sering menekankan bahwa pengorbanan hewan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pertobatan yang tulus dan sepenuh hati. Raja Daud pernah menyatakan, “Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Maz 51:17). Demikian pula, Nabi Hosea menyampaikan firman Allah: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

Menjadi “kurban yang hidup” memang masih melibatkan kematian, namun bukan kematian secara fisik. Santo Paulus menjelaskan transformasi pribadi ini saat menuliskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Paulus tidak dieksekusi secara harfiah di kayu salib saat menulis kalimat itu; melainkan, ia telah mematikan ego, kepentingan pribadinya, serta ambisi duniawinya demi hidup sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Sejak saat itu, segala hal yang ia katakan dan lakukan semata-mata diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan mewartakan Injil.

Sama seperti Yesus yang telah mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban sempurna di kayu salib, Santo Paulus juga menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada Allah dengan cara hidup selaras dengan kehendak ilahi. Melalui teladan yang sama, Santo Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh, pekerjaan, studi, relasi, waktu istirahat, dan bahkan penderitaan kita sebagai kurban yang hidup. Dalam segala hal yang kita jalani, kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Bagi umat Katolik, setiap aktivitas sehari-hari ini dapat disatukan dengan pengorbanan Yesus dalam Kurban Suci Ekaristi, sehingga menjadi bagian dari persembahan sempurna yang merupakan ibadah rohani yang sejati (Roma 12:1).

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana kita dapat mematikan ego, keinginan diri, dan ambisi duniawi kita sehingga Kristus benar-benar dapat hidup melalui kita setiap hari? Dengan cara apa kita dapat mempersembahkan rutinitas harian kita—pekerjaan, studi, hubungan, dan bahkan perjuangan hidup kita—sebagai kurban yang hidup kepada Tuhan? Apakah kita telah mempersembahkan devosi batin serta kasih yang bermakna kepada Tuhan dalam tindakan sehari-hari, ataukah kita sekadar menjalankan rutinitas keagamaan lahiriah?