Featured

The Wheat and Tares in Our Hearts

16th Sunday in Ordinary Time [A]
July 19, 2026
Matthew 13:24-43

Today we hear the Parable of the Wheat and the Tares. An interesting point arises when the landowner realizes that the tares are growing alongside the good crops, yet he chooses to let them live together. Why does he make this decision?

When the servants suggest that the tares be removed immediately, the landowner refuses for purely practical reasons. In their early stages of growth, the tares look almost identical to healthy wheat. If the servants insist on pulling the tares prematurely, they will mistakenly uproot the good wheat. While this action makes perfect sense in an agricultural context, Jesus does not explicitly explain in His theological discourse why God does not immediately punish those who carry evil in their hearts. This fact raises an important question: what is the deeper spiritual reason that God allows the wicked and the righteous to coexist in this world for a time?

The answer is closely related to the Parable of the Sower, told earlier in Matthew 13:1-23 (the previous Sunday). In this parable, Jesus describes four types of soil that represent the disposition or condition of the human heart when hearing God’s Word: the path, the rocky ground, the thorny ground, and the fertile soil. Unlike the static nature of real-world soil, the spiritual disposition of the human heart is dynamic and can change over time. This dynamic nature is key to understanding why God delays the destruction of the spiritual “tares.” Within the human heart, both the Word of God and worldly influences constantly struggle to dominate the soil of our lives. When faced with the influence of evil forces, humans have varying responses; some ignore evil, some fight against it, and still others welcome it until it develops into sinful actions.

The human capacity for internal change explains why Jesus chose to allow the “tares” to continue growing among the wheat rather than passing instant judgment. God allows this spiritual struggle because He knows that even though a heart is currently being controlled by evil influences, that person’s life story is not over. Through His gracious free will, a person currently living as a “weed” has the opportunity to repent, change, and ultimately transform into “wheat.” This principle is tremendous good news for all of us. Even when the whispers of evil spirits try to conquer our hearts, God patiently continues to provide His help so that we have the opportunity to heal and bear good fruit.

God helps us fight the seeds of evil in our hearts in several practical ways. First, He works through His Word, planted within us through the Scriptures, which not only inspires us to do good but also trains us to recognize and resist evil. Second, He pours out His grace sacramentally, especially through the soul-nourishing Eucharist and the Sacrament of Reconciliation, which restores our relationship with Him. Third, God provides the Christian community as a vital refuge where we can find spiritual support and encouragement from fellow believers. Finally, He even uses life’s suffering and trials as a spiritual “pruning” process to remove harmful traits that cling to us, so that we can grow into stronger individuals.

Surabaya
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guiding questions:
How deeply do we delve into Scripture so that we can clearly distinguish between the good seeds of God and the subtle weeds of the enemy in our daily lives? When we recognize bad tendencies or habits taking root in our hearts, do we actively seek help through the sacraments and community, or do we try to face the struggle alone? Finally, how can we shift our perspective on life so that we see current suffering and trials not as God’s abandonment, but as His patient and loving way of pruning us to become more fruitful?

Featured

Gandum dan Lalang di Hati Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [A]

19 Juli 2026

Matius 13:24-43

Hari ini kita mendengarkan Perumpamaan tentang Gandum dan Lalang. Sebuah hal yang menarik muncul ketika pemilik tanah menyadari bahwa lalang tumbuh berdampingan dengan tanaman yang baik, namun ia justru memilih untuk membiarkan keduanya hidup bersama. Mengapa ia mengambil keputusan demikian?

Ketika para pelayan menyarankan agar lalang segera disingkirkan, pemilik tanah menolaknya karena alasan yang sepenuhnya praktis. Pada tahap awal pertumbuhan, lalang memiliki rupa yang hampir identik dengan gandum yang sehat. Jika para pelayan memaksa untuk mencabuti lalang sebelum waktunya, mereka justru akan keliru mencabut gandum yang baik. Meskipun tindakan ini sangat masuk akal dalam konteks pertanian, Yesus tidak secara eksplisit menjelaskan dalam uraian teologis-Nya mengapa Tuhan tidak langsung menghukum orang-orang yang membawa kejahatan di dalam hati mereka. Kenyataan ini memicu sebuah pertanyaan yang penting: apa alasan spiritual yang lebih dalam sehingga Tuhan mengizinkan orang jahat dan orang benar untuk hidup berdampingan di dunia ini untuk sementara waktu?

Jawabannya berkaitan erat dengan Perumpamaan Penabur yang dikisahkan sebelumnya dalam Matius 13:1-23 (Minggu sebelumnya). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menguraikan empat jenis tanah yang mewakili disposisi atau kondisi hati manusia saat mendengar Firman Tuhan, yaitu jalan setapak, tanah berbatu, tanah berduri, dan tanah subur. Berbeda dengan tanah di dunia nyata yang sifatnya statis, disposisi spiritual hati manusia bersifat dinamis dan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sifat dinamis inilah yang menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan menunda kehancuran “lalang” rohani. Di dalam hati manusia, baik Sabda Allah dan pengaruh dunia terus-menerus berjuang untuk menguasai tanah kehidupan kita. Ketika menghadapi pengaruh kuasa jahat, manusia memiliki respons yang beragam; sebagian orang mengabaikan kejahatan, sebagian berjuang melawannya, dan sebagian lagi justru menyambutnya hingga berkembang menjadi tindakan berdosa.

Kemampuan manusia untuk berubah secara internal menjelaskan mengapa Yesus memilih untuk membiarkan “lalang” tetap tumbuh di antara gandum daripada menjatuhkan penghakiman instan. Tuhan mengizinkan perjuangan spiritual ini terjadi karena Dia tahu bahwa meskipun sebuah hati sedang dikuasai oleh pengaruh jahat saat ini, kisah hidup manusia tersebut belum berakhir. Melalui kehendak bebas yang rahmat-Nya, seseorang yang saat ini hidup bagaikan “lalang” memiliki kesempatan untuk bertobat, berubah, dan akhirnya bertransformasi menjadi “gandum.” Prinsip ini menjadi kabar baik yang luar biasa bagi kita semua. Sekalipun bisikan roh jahat mencoba menaklukkan hati kita, Allah dengan penuh kesabaran terus memberikan pertolongan-Nya agar kita memiliki kesempatan untuk sembuh dan menghasilkan buah yang baik.

Allah membantu kita melawan benih-benih jahat di dalam hati melalui beberapa cara praktis. Pertama, Dia bekerja melalui Firman-Nya yang telah ditanam di dalam diri kita melalui Kitab Suci, yang tidak hanya menginspirasi kita untuk berbuat baik tetapi juga melatih kita untuk mengenali dan melawan kejahatan. Kedua, Ia mencurahkan rahmat-Nya secara sakramental, terutama melalui Ekaristi yang menyehatkan jiwa dan Sakramen Tobat yang memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Ketiga, Allah menyediakan komunitas Kristiani sebagai tempat perlindungan yang vital agar kita dapat menemukan dukungan dan dorongan rohani dari sesama orang percaya. Terakhir, Ia bahkan menggunakan penderitaan dan cobaan hidup sebagai proses “pemangkasan” spiritual untuk membuang hal-hal berbahaya yang melekat pada diri kita, sehingga kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa dalam kita menyelami Kitab Suci sehingga kita dapat dengan jelas membedakan antara benih baik dari Allah dan lalang halus dari musuh dalam kehidupan sehari-hari? Ketika kita mengenali adanya kecenderungan atau kebiasaan buruk yang mulai berakar di dalam hati, apakah kita secara aktif mencari pertolongan melalui sakramen dan komunitas, ataukah kita justru mencoba menghadapi perjuangan tersebut sendirian? Terakhir, bagaimana kita dapat mengubah perspektif hidup agar mampu melihat penderitaan dan cobaan yang terjadi saat ini bukan sebagai bentuk pengabaian dari Allah, melainkan sebagai cara-Nya yang sabar dan penuh kasih untuk memangkas kita agar menjadi pribadi yang lebih berbuah?

Why Parables

5th Sunday in Ordinary Time [A]

July 12, 2026

Matthew 13:1-23

Today, we listen to Jesus’ iconic Parable of the Sower. Of course, this is not the only parable Jesus tells. He also teaches the Parables of the Hidden Treasure and the Costly Pearl (Mat 13:44-46), the Parable of the Ten Virgins (Mat 25:1-13), and the Parable of the Prodigal Son (Luk 15:11-32), to name just a few. From this frequency, we can conclude that Jesus favors teaching through parables. Yet, what exactly is a parable, and why does Jesus choose this specific method in the first place?

The English word “parable” comes from the Greek παραβολή (parabolē), which literally means “to throw alongside,” and signifies a comparison. In the Parable of the Sower, we see two distinct realities—daily human life and spiritual, divine truth—being placed side-by-side and compared. Jesus directly links the seeds scattered by the sower to the word of the Kingdom. Meanwhile, the four types of soil that receive the seed represent the four different dispositions of the human heart when encountering that word. But this raises another question: why does Jesus use a symbolic parable to teach rather than simply speaking in a straightforward, direct manner?

For many of us who regularly listen to Jesus’ parables during the Mass and hear priests explain them, the meaning of each story seems obvious and easy to comprehend. However, the experience was entirely different for Jesus’ disciples and the Jewish crowds who heard these parables for the very first time. In the Gospel, after Jesus delivers the Parable of the Sower, the disciples are confused and at a loss regarding its meaning. Consequently, they approach Jesus in private and ask, “Why do you speak to the people in parables?” (Mat 13:10).

Jesus then gives them the true reason behind this method: “Because the knowledge of the secrets of the kingdom of heaven has been given to you, but not to them” (Mat 13:11). This reveals that the purpose of a parable is dual: it is meant both to reveal and to hide. The ultimate key to unlocking a parable is faith in Jesus. For those who have faith, the secret behind the story is opened and properly understood; for those who lack faith, the meaning remains hidden. This is why the deeper explanation of the Parable of the Sower is given strictly to the disciples during a private moment with Jesus.

Understanding the truth behind Jesus’ parables is a beautiful sign that we possess faith in Him. Yet, true faith is never a static, passive acceptance of Jesus as our Lord; it is a life-transforming force. This is precisely the lesson embedded in the Parable of the Sower. The Lord has sown His word into our hearts, but we must do our part to allow that word to transform our lives. As Jesus clearly explains, unless the Word penetrates deeply and takes root in our hearts, we will fall away when difficult times arise. Likewise, unless we clear away the thorns of worldly anxieties and ambitions, the Word will be choked and fail to bear fruit. Ultimately, a parable is not just an invitation to understand Christ through faith, but a direct challenge to transform our daily lives and become truly fruitful in Him.

Bandung

Guide questions:
How deeply have we allowed the word of God to penetrate our hearts, and are we nurturing its roots so that our faith can withstand difficult times? What are the specific “thorns” of worldly anxieties and personal ambitions in our daily lives that are currently choking the word and preventing us from bearing fruit? Do we treat our faith as a passive, static acceptance of Jesus, or are we actively collaborating with Him to let His teaching transform our actions and choices?

Mengapa Perumpamaan?

Minggu Biasa XV [Tahun A]

12 Juli 2026

Matius 13:1-23

Hari ini, kita mendengarkan Perumpamaan tentang Penabur dari Yesus. Tentu saja, ini bukan satu-satunya perumpamaan yang Ia sampaikan. Yesus juga mengajarkan Perumpamaan Harta Tersembunyi dan Mutiara yang Berharga (Mat 13:44-46), Perumpamaan Sepuluh Perawan (Mat 25:1-13), serta Perumpamaan Anak yang Hilang (Luk 15:11-32), dan masih banyak yang lainnya. Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus suka mengajar melalui perumpamaan. Namun, apa sebenarnya perumpamaan itu, dan mengapa Yesus memilih metode khusus ini dalam mengajar?

Dalam bahasa teks asli Yunani, kata yang digunakan adalah παραβολή (parabolē), yang secara harfiah berarti “melempar ke samping” atau menandakan suatu perbandingan. Dalam Perumpamaan Penabur, kita melihat dua realitas yang berbeda—kehidupan manusia sehari-hari dan kebenaran ilahi yang rohani—ditempatkan berdampingan untuk dibandingkan. Yesus secara langsung menghubungkan benih yang ditaburkan oleh penabur dengan firman Kerajaan Allah. Sementara itu, empat jenis tanah yang menerima benih tersebut mewakili empat disposisi (sikap) hati manusia yang berbeda saat menerima firman itu. Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan lain: mengapa Yesus menggunakan perumpamaan simbolis untuk mengajar, alih-alih berbicara secara langsung dan lugas?

Bagi banyak dari kita yang rutin mendengarkan perumpamaan Yesus dalam Misa dan mendengar khotbah romo, makna setiap cerita tampak jelas dan mudah dipahami. Namun, pengalamannya sama sekali berbeda bagi para murid dan orang banyak yang mendengar perumpamaan ini untuk pertama kalinya. Dalam Injil, setelah Yesus menyampaikan Perumpamaan Penabur, para murid justru bingung dan tidak mengerti maknanya. Akibatnya, mereka mendekati Yesus secara pribadi dan bertanya, “Mengapa Engkau berbicara kepada mereka dalam perumpamaan?” (Mat 13:10).

Yesus kemudian memberikan alasan yang sebenarnya di balik metode ini: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (Mat 13:11). Hal ini mengungkapkan bahwa tujuan sebuah perumpamaan bersifat ganda: untuk mengungkapkan sekaligus menyembunyikan. Kunci utama untuk memahami sebuah perumpamaan adalah iman kepada Yesus. Bagi mereka yang memiliki iman, rahasia di balik cerita itu akan terungkap dan dipahami dengan benar; namun bagi mereka yang kurang iman, maknanya tetap tersembunyi. Inilah mengapa penjelasan yang lebih mendalam tentang Perumpamaan Penabur diberikan secara khusus kepada para murid saat mereka sedang bersama dengan Yesus saja.

Memahami kebenaran di balik perumpamaan Yesus adalah tanda indah bahwa kita memiliki iman kepada-Nya. Namun, iman sejati bukanlah sekadar pengakuan yang statis dan pasif bahwa Yesus adalah Tuhan; iman adalah kekuatan yang mengubah hidup. Inilah pelajaran inti dari Perumpamaan Penabur. Tuhan telah menaburkan firman-Nya ke dalam hati kita, tetapi kita harus mengambil bagian untuk membiarkan firman itu mengubah hidup kita. Seperti yang Yesus jelaskan, jika firman itu tidak meresap dalam-dalam dan berakar di hati, kita akan mudah lari saat masa-masa sulit datang. Demikian pula, jika kita tidak menyingkirkan semak duri berupa kecemasan dan ambisi duniawi, firman itu akan tercekik dan gagal berbuah. Pada akhirnya, sebuah perumpamaan bukan hanya undangan untuk memahami Kristus lewat iman, melainkan tantangan nyata untuk mengubah hidup sehari-hari agar kita benar-benar menghasilkan buah di dalam Dia.

Bandung

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Pertanyaan Refleksi:

  1. Seberapa dalam kita telah membiarkan firman Allah meresap ke dalam hati? Apakah kita merawat akarnya agar iman kita mampu bertahan di masa-masa sulit?
  2. Apa saja “semak duri” spesifik berupa kecemasan duniawi dan ambisi pribadi dalam hidup sehari-hari yang saat ini mencekik firman Tuhan dan menghalangi kita untuk berbuah?
  3. Apakah kita memperlakukan iman hanya sebagai penerimaan yang pasif dan statis terhadap Yesus, ataukah kita secara aktif bekerja sama dengan-Nya agar ajaran-Nya mampu mengubah tindakan serta pilihan hidup kita?

Prophet Elisha, the Holy Man of God

13th Sunday in Ordinary Time [A]

June 28, 2026

2 Kings 4:8-11, 14-16a

In today’s first reading, the Church presents us with the story of the prophet Elisha and a woman from Shunem who recognized him as a “holy man of God.” This invites us to reflect on who Elisha was, and what it truly means to be called a holy man of God.

Elisha was the successor of another great prophet, Elijah. Coming from a farming family, Elisha was plowing a field with twelve yoke of oxen when Elijah called him—a detail that indicates his family’s wealth and affluence. Yet, he chose to leave everything behind to follow Elijah and become his disciple (1 Kings 19:19-21). Before Elijah ended his earthly mission and was taken into heaven by a chariot of fire, he asked Elisha what parting gift he desired. Elisha requested “a double portion of your spirit.” This wish was granted, and Elisha eventually performed even more miracles than his teacher (2 Kings 2:11-12).

Like Elijah, Elisha was a fearless prophet who spoke truth to power, criticizing kings for their evil deeds and idol worship. However, Elisha became especially famous for his numerous miracles. He purified the contaminated waters of Jericho (2 Kings 2:19-22), multiplied loaves of bread to feed hungry people (2 Kings 4:42-44), and healed Naaman, a commander of the army of Aram, from his leprosy (2 Kings 5:1-14). Even after Elisha’s death, his miraculous power continued; a dead man was restored to life the moment his body touched Elisha’s bones (2 Kings 13:20-21).

Elisha’s relationship with the Shunammite woman highlights not only his miraculous power, but also the beauty of warm hospitality and friendship. Whenever Elisha visited Shunem, this woman offered him a place to rest and eat. She recognized that he was a “holy man of God.” In return for her faith and outstanding generosity, her deepest prayers were answered: despite her husband’s old age, she conceived and bore a son just as Elisha promised.

To be a holy man of God means to be consecrated to the Lord and set apart for His unique mission. Elisha shared a profound friendship with God, and the Lord used him as an instrument of divine goodness, mercy, and judgment for Israel and the surrounding nations. The Shunammite woman recognized this spiritual reality. When she approached Elisha, she was seeking his powerful intercession before God. Crucially, she did not merely ask for a favor; she also did her part to love and please God by showing great kindness to His prophet.

This beautiful friendship between Elisha and the woman of Shunem mirrors our own relationship today with the saints—the holy men and women of God. In our daily lives, we look to the cloud of witnesses in heaven. We ask the Virgin Mary, the most blessed of all women, to pray for us and assist us in our many needs. We turn to St. Michael the Archangel for protection against evil, and we approach St. Joseph, the patron of a happy death, to comfort those who are dying. Like the Shunammite woman, we do not just beg for favors; we also offer the saints our love, our prayers of thanksgiving, and our sincere friendship.

I experienced this spiritual friendship firsthand when I was struggling to complete my doctoral dissertation. Every door seemed closed, and I felt completely stuck. In that moment of distress, I turned to Our Lady for help. At the same time, I made a personal promise to her that I would visit her shrines, preach about her intercession, and promote devotion to her. Without waiting long, the obstacles vanished, the way forward opened, and I was able to complete my studies on time. Our friendship with the holy men and women of God is a powerful gift, because it ultimately brings us closer to the heart of God Himself.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

How willingly do we leave behind our own comforts and security, like Elisha did, when we feel God calling us to follow Him more closely? Do we show active hospitality and kindness to the people God sends into our lives, or do we only approach God and His saints when we need a favor? In what ways can we cultivate a deeper, more intentional friendship with the Virgin Mary and the saints so that our devotion brings us closer to the heart of Jesus?

Nabi Elisa, Orang Kudus Allah

Minggu ke-13 Masa Biasa [A]

28 Juni 2026

2 Raja-raja 4:8-11, 14-16a

Dalam bacaan pertama hari ini, Gereja memberikan kita kisah Nabi Elisa dan seorang perempuan dari Sunem yang mengenalnya sebagai “orang kudus Allah.” Kisah ini mengajak kita merenungkan siapa sebenarnya Elisa dan apa arti sesungguhnya dari sebutan tersebut.

Elisa adalah penerus nabi besar Elia. Berasal dari keluarga petani, Elisa sedang membajak ladang dengan dua belas pasang lembu ketika Elia memanggilnya. Detail ini menunjukkan bahwa keluarganya cukup kaya dan makmur. Namun, ia memilih meninggalkan segalanya untuk mengikuti Elia dan menjadi muridnya (1 Raja 19:19-21). Sebelum Elia mengakhiri misinya di dunia dan diangkat ke surga dengan kereta berapi, ia bertanya tentang apa yang diinginkan Elisa. Elisa meminta “dua bagian dari rohmu.” Permintaan ini dikabulkan, dan Elisa akhirnya melakukan mukjizat yang bahkan lebih banyak daripada gurunya (2 Raja 2:11-12).

Seperti Elia, Elisa adalah nabi pemberani yang menyampaikan kebenaran kepada para penguasa, serta mengkritik raja-raja atas perbuatan jahat dan penyembahan berhala mereka. Namun, Elisa lebih dikenal karena mukjizat-mukjizatnya yang tak terhitung jumlahnya. Ia memurnikan air yang tercemar di Yerikho (2 Raja 2:19-22), melipatgandakan roti untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan (2 Raja 4:42-44), dan menyembuhkan Naaman, seorang panglima tentara Aram, dari penyakit kusta (2 Raja 5:1-14). Bahkan setelah kematiannya, kuasa mukjizat Elisa tetap nyata; seorang jenazah yang tidak sengaja menyentuh tulang-tulang Elisa langsung hidup kembali (2 Raja 13:20-21).

Hubungan Elisa dengan wanita dari Sunem tidak hanya menonjolkan kuasa mukjizatnya, tetapi juga keindahan dari keramahan dan persahabatan yang tulus. Setiap kali Elisa mengunjungi Sunem, wanita ini selalu menyediakan tempat baginya untuk beristirahat dan makan karena ia menyadari bahwa Elisa adalah “orang kudus Allah.” Sebagai balasan atas iman dan kedermawanannya, doa terdalam wanita itu dikabulkan. Meski suaminya sudah lanjut usia, ia mengandung dan melahirkan seorang putra tepat seperti yang dijanjikan Elisa.

Menjadi hamba Allah yang kudus berarti dikuduskan bagi Tuhan dan dikhususkan untuk misi-Nya yang unik. Elisa menjalin kedekatan yang mendalam dengan Allah, sehingga Tuhan memakainya sebagai alat kebaikan, belas kasih, dan keadilan bagi Israel serta bangsa-bangsa di sekitarnya. Wanita dari Sunem itu memahami realitas rohani ini. Ketika mendatangi Elisa, ia mencari perantaraan doa yang kuat di hadapan Allah. Namun, ia tidak sekadar meminta bantuan, tetapi juga menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan memperlakukan nabi-Nya dengan sangat baik.

Persahabatan yang indah antara Elisa dan wanita dari Sunem ini mencerminkan hubungan kita dengan para kudus saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memandang mereka sebagai teladan iman di surga. Kita memohon perantaraan Perawan Maria, yang paling terpuji di antara semua wanita, untuk menolong kita. Kita berpaling kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk perlindungan dari kejahatan, dan mendekati Santo Yusuf, sang pelindung kematian yang bahagia, untuk memohon penghiburan bagi mereka yang sedang menghadapi ajal. Seperti wanita dari Sunem, kita tidak hanya datang untuk meminta bantuan, tetapi juga mempersembahkan kasih, rasa syukur, dan persahabatan yang tulus kepada para orang kudus.

Saya mengalami sendiri keindahan persahabatan rohani ini saat berjuang menyelesaikan disertasi doktoral. Waktu itu, setiap pintu seolah tertutup dan saya merasa benar-benar buntu. Dalam kesusahan tersebut, saya memohon pertolongan Bunda Maria sambil berjanji pribadi bahwa saya akan mengunjungi tempat-tempat ziarah-Nya, mewartakan kebaikan-Nya, dan menghidupkan devosi kepada-Nya. Tidak lama kemudian, hambatan-hambatan itu lenyap, jalan keluar terbuka, dan saya dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Persahabatan dengan orang-orang kudus Allah adalah anugerah yang luar biasa, karena pada akhirnya hubungan ini membawa kita semakin dekat ke Hati Kudus Yesus sendiri.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa rela kita meninggalkan kenyamanan dan keamanan pribadi, seperti yang dilakukan Elisa, ketika merasakan panggilan Tuhan untuk mengikuti-Nya lebih dekat? Apakah kita sudah menunjukkan keramahan dan kebaikan yang nyata kepada orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita, atau kita hanya mendekati Tuhan dan para kudus-Nya saat sedang butuh bantuan? Dengan cara apa kita bisa menumbuhkan persahabatan yang lebih erat dengan Bunda Maria dan para kudus agar devosi kita membimbing kita semakin dekat kepada hati Yesus yang Makakudus?

Menghadapi Rasa Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

21 Juni 2026

Matius 10:26-33

Rasa takut adalah salah satu emosi paling mendasar yang kita miliki. Rasa takut memiliki fungsi yang sangat penting. Rasa ini tertanam secara alami dalam diri kita untuk memastikan kelangsungan hidup kita dengan memperingatkan kita akan bahaya yang datang. Tanpa naluri ini, nenek moyang kita tidak akan pernah bereaksi terhadap predator, dan spesies kita pasti sudah punah sejak lama. Namun, dalam Injil hari ini, Yesus secara tegas memerintahkan para murid-Nya, “Janganlah takut.” Apa artinya ini? Apakah Kristus meminta kita untuk mengabaikan kehati-hatian dan juga bahaya nyata di dunia ini?

Untuk memahami kata-kata-Nya, kita harus melihat konteks Injil kali ini. Yesus baru saja memanggil para murid-Nya dan mengutus mereka dalam sebuah misi. Yesus dengan tegas memperingatkan mereka bahwa jalan di depan penuh bahaya, dipenuhi penolakan dan permusuhan yang bisa mengancam nyawa. Sebagai manusia, reaksi alami para murid adalah rasa takut. Namun, Yesus tahu bahwa kita lebih dari sekadar makhluk yang digerakkan oleh naluri dasar. Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, kita diberkati dengan akal budi, dan kepada akal budi inilah Yesus berbicara.

Akal budi memungkinkan manusia untuk melihat melampaui kesulitan sesaat menuju kebaikan yang lebih besar dan tak terlihat. Setiap kali kita percaya bahwa imbalan yang diharapkan lebih besar daripada penderitaan sementara, kita dapat membuat pilihan sadar untuk menanggung ujian tersebut. Kita melihat hal ini setiap hari: seorang siswa rela mengorbankan tidurnya untuk belajar menghadapi ujian karena ia tahu pendidikan itu akan bermanfaat bagi masa depannya. Seorang ayah menanggung pekerjaan yang melelahkan karena ia menyadari bahwa kerja kerasnya menafkahi dan melindungi keluarganya. Dalam kedua kasus tersebut, janji masa depan mengalahkan ketidaknyamanan saat ini.

Yesus menggunakan logika yang sama untuk mengungkapkan imbalan tertinggi dari pemberitaan Injil: keselamatan jiwa—bukan hanya jiwa para murid sendiri, tetapi juga jiwa mereka yang akan mendengarkan dan percaya pesan mereka. Yesus mengingatkan mereka agar tidak takut kepada hal-hal yang dapat menyakiti tubuh jasmani tetapi tidak memiliki kuasa atas jiwa. Sebaliknya, kekhawatiran sejati kita seharusnya adalah kehilangan keselamatan kekal kita. Taruhannya dalam pewartaan Injil adalah kekekalan, sehingga bahaya-bahaya sementara di dunia ini sejatinya tak berarti.

Namun, pernyataan abstrak tidak cukup untuk menggerakkan hati manusia yang rapuh; kita membutuhkan teladan yang hidup. Inilah mengapa Yesus tidak hanya mengucapkan kebenaran—Dia menjelma menjadi kebenaran itu sendiri. Dalam memberitakan pertobatan, Dia menghadapi penolakan yang pahit dan dihukum mati. Namun, maut tidak dapat menahan-Nya. Melalui Kebangkitan-Nya yang penuh kemenangan, Kristus membuktikan bahwa bahaya terbesar telah dikalahkan. Dia kemudian mencurahkan Roh Kudus-Nya bagi Gereja, menganugerahkan kepada kita kebijaksanaan adikodrati untuk melihat nilai keselamatan kekal dan juga keteguhan hati untuk menghadapi ketakutan yang melanda.

Bahkan dengan rahmat ini, naluri alami kita untuk menyelamatkan nyawa sendiri tetap kuat, dan perjuangan untuk bersaksi tentang Injil sangat nyata. Kita melihat hal ini dengan jelas pada Santo Petrus, yang merupakan rasul paling berani, namun runtuh dan menyangkal sang Guru ketika bahaya mendekat. Para murid lainnya pun meninggalkan Yesus pada saat-saat tergelap-Nya. Namun, rahmat Allah tidak meninggalkan mereka. Rahmat itu terus bekerja secara diam-diam di dalam hati mereka, secara bertahap mengubah ketakutan mereka menjadi keberanian apostolik. Seiring waktu, mereka mengikuti jejak sang Guru mereka, membawa misi-Nya hingga ke ujung bumi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Ketakutan duniawi apa yang saat ini menghalangi kita untuk sepenuhnya mempercayai rencana Allah bagi hidup kita? Ketika kita menghadapi kesulitan atau pengorbanan dalam mewartakan Injil kepada orang-orang di sekitar kita, apakah kita memusatkan pandangan pada kenyamanan sementara, ataukah kita termotivasi oleh pahala kekal dari keselamatan kita? Pada saat-saat ketika iman kita goyah—seperti yang dialami Santo Petrus—bagaimana kita dapat lebih membuka hati kita kepada Roh Kudus untuk menerima keberanian dan keteguhan yang kita butuhkan agar tetap teguh?

How to Overcome Fear

12th Sunday in Ordinary Time [A]

June 21, 2026

Matthew 10:26-33

Fear is one of the most basic emotions we possess. It serves a vital purpose, hardwired into us to ensure our survival by alerting us to immediate dangers. Without this instinct, our ancestors would never have reacted to predators, and our species would have long been extinct. Yet, in today’s Gospel, Jesus explicitly commands His disciples, “Do not be afraid.” What does this mean? Is Christ asking us to throw caution to the wind and ignore the very real dangers of this world?

To understand His words, we must look at the context. Jesus has just called His disciples and is sending them out on a mission. He candidly warns them that the path ahead is perilous, filled with rejection and life-threatening hostility. Being human, their natural reaction is fear. But Jesus knows we are more than just creatures driven by basic instincts. Unlike the rest of the animal kingdom, we are blessed with reason, and it is precisely to our rationality that Jesus appeals.

Reason allows humans to look beyond immediate hardships toward a greater, unseen good. Whenever we believe an expected reward outweighs temporary suffering, we can make a deliberate choice to endure a trial. We see this every day: a student willingly sacrifices sleep to study for exams because he knows the education will benefit his future. A father endures grueling, exhausting labor because he recognizes that his hard work provides for and protects his family. In both cases, a future promise conquers present discomfort.

Jesus uses this same logic to reveal the ultimate reward of preaching the Gospel: the salvation of souls—not only the disciples’ own, but also the souls of those who will hear their message. He reminds them not to fear those who can harm the mortal body but have no power over eternity. Instead, our true concern should be the loss of our eternal salvation. The stakes of the Gospel are eternal, making the fleeting dangers of this world pale in comparison.

Yet, abstract promises are rarely enough to move our fragile human hearts; we need a living example. This is why Jesus does not just speak the truth—He embodies it. In preaching repentance, He faced bitter rejection and was condemned to death. But death could not hold Him. By His victorious Resurrection, Christ proved that the ultimate danger has already been defeated. He then poured out His Holy Spirit upon the Church, granting us the supernatural wisdom to see the value of salvation and the fortitude to withstand overwhelming fear.

Even with this grace, our natural instinct to preserve our own lives remains strong, and the struggle to witness to the Gospel is very real. We see this vividly in Saint Peter, who was the boldest of the apostles, yet crumbled and denied his Master when danger closed in. The other disciples likewise abandoned Jesus in His darkest hour. Yet, God’s grace did not abandon them. It continued to work quietly within their hearts, gradually transforming their fear into apostolic courage. In time, they followed in the footsteps of their Master, carrying His mission to the ends of the earth.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:
What immediate, earthly fears are currently holding us back from fully trusting in God’s plan for our lives? When we face hardships or sacrifices, do we fix our eyes on temporary comfort, or are we motivated by the eternal reward of our salvation? In moments when our faith wavers—much like Saint Peter’s did—how can we better open our hearts to the Holy Spirit to receive the courage and fortitude we need to stand firm?

Bangsa Kudus yang Baru

Minggu ke-11 Masa Biasa [A]

14 Juni 2026

Matius 9:36 – 10:8

Yesus memanggil kedua belas rasul-Nya dan mengutus mereka untuk menjalankan misi. Pemilihan angka dua belas bukanlah kebetulan semata atau sekadar pertimbangan praktis; melainkan, angka tersebut mengandung kebenaran yang mendalam, yakni mewakili dua belas suku Israel. Dengan memilih dua belas murid, Yesus bermaksud mendirikan Israel yang Baru, dengan diri-Nya sebagai pusat dan para rasul-Nya sebagai tiang penyangganya. Namun, untuk memahami mengapa Israel Baru diperlukan, kita harus menengok kembali identitas dan tujuan bangsa Israel dibentuk di Perjanjian Lama.

Dalam Kitab Keluaran, tak lama setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan menyeberangi Laut Merah, mereka tiba di Gunung Sinai. Di sana, Tuhan menawarkan perjanjian kepada mereka, di mana Ia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Di bawah perjanjian ini, mereka dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus dan kerajaan imam (Kel 19:6).

Menjadi bangsa yang kudus berarti menjadi milik Tuhan secara eksklusif, menyingkirkan semua dewa lain. Kekudusan ini juga didefinisikan oleh kedekatan dengan Tuhan. Selama orang Israel berjalan di padang gurun, Kemah Suci, tempat kediaman dan kehadiran Tuhan, berada tepat di tengah perkemahan bangsa Israel. Karena mereka berjalan bersama dengan Tuhan, mereka diwajibkan untuk menaati hukum-hukum yang telah diberikan di Sinai dan berperilaku sebagai umat pilihan Tuhan. Selain itu, mereka dipanggil untuk menjadi kerajaan imam. Mereka tidak dimaksudkan untuk menjadi kerajaan prajurit yang fokus pada perang, juga bukan masyarakat pedagang yang terutama mengumpulkan kekayaan. Sebaliknya, sebagai kerajaan imam, fungsi utama mereka adalah mempersembahkan korban, membawa berkat, dan menguduskan umat. Inilah cara Israel dimaksudkan untuk hidup dan bertumbuh.

Sama seperti Israel kuno, Israel Baru yang didirikan oleh Yesus dipanggil untuk menjadi bangsa yang kudus dan kerajaan imam. Sementara Israel kuno dibentuk melalui perjanjian di Sinai, Israel Baru didirikan melalui Perjanjian Baru pada Perjamuan Terakhir (Mat 26:28) dan dikukuhkan oleh darah Yesus sendiri di salib. Dan sama seperti Israel kuno yang dipimpin oleh Musa dengan bantuan para pemimpin dari dua belas suku, kepemimpinan Israel Baru dipercayakan kepada para rasul dan penerus mereka, para uskup.

Namun, Israel Baru tidak lagi terikat oleh hubungan darah, melainkan oleh iman kepada Yesus. Kita adalah bangsa yang kudus karena kita milik Yesus, Yang Kudus dari Allah (Markus 1:24), dan sebagai umat-Nya, kita hidup dalam ketaatan terhadap perintah-perintah-Nya. Sebagai kerajaan imam yang baru, kita dipanggil untuk menaklukkan dunia bukan melalui kekuatan militer atau kekuasaan ekonomi, melainkan dengan memberkati dan menguduskannya. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita tidak hanya menguduskan diri kita sendiri tetapi juga membawa berkat bagi dunia. Setiap kali kita memberitakan Injil, kita tidak hanya memperkuat iman kita sendiri tetapi juga mendekatkan orang lain kepada Allah. Setiap kali kita melakukan perbuatan kasih, kita tidak hanya memenuhi perintah-perintah Yesus tetapi juga memperluas Kerajaan Allah di bumi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa baik kita menjadikan Yesus sebagai pusat kehidupan sehari-hari kita, dan dalam hal apa perilaku kita mencerminkan bahwa kita sepenuhnya milik-Nya? Karena kita dipanggil untuk menjadi kerajaan imam, apakah kita secara aktif berusaha memberkati dan menguduskan orang-orang di sekitar kita, ataukah kita terlalu fokus mengejar kekayaan dan kekuasaan duniawi? Ketika kita berpartisipasi dalam Ekaristi, mendengarkan Injil, atau melakukan perbuatan kasih, apakah kita memandangnya sebagai ritual rutin, ataukah kita benar-benar menyadari misi kita untuk memperluas Kerajaan Allah di bumi?

The New Holy Nation

11th Sunday in Ordinary Time [A]

June 14, 2026

Matthew 9:36 – 10:8

Jesus called His twelve apostles and sent them out on a mission. The choice of the number twelve was not merely a coincidence or a practical consideration; rather, it holds a profound truth, representing the twelve tribes of Israel. By choosing twelve disciples, Jesus intended to establish the New Israel, with Himself as the center and His apostles as its pillars. However, to understand why the New Israel is necessary, we must look back at the identity and purpose of the original Israel.

In the Book of Exodus, shortly after the Israelites escaped slavery in Egypt and crossed the Red Sea, they arrived at Mount Sinai. There, God offered them a covenant, in which He would be their God and they would be His people. Under this covenant, they were called to be a holy nation and a kingdom of priests (Ex 19:6).

Being a holy nation meant belonging exclusively to God, setting aside all other gods. This holiness was also defined by closeness to God. While the Israelites journeyed through the wilderness, the Tabernacle—the dwelling place of God’s presence—was situated right in the center of their camp. Because they walked so closely with God, they were expected to obey the laws given at Sinai and to behave as God’s chosen people. Furthermore, they were called to be a kingdom of priests. They were not meant to be a kingdom of warriors focused on war and the conquest of nations, nor a society of merchants primarily concerned with accumulating wealth. Instead, as a kingdom of priests, their primary function was to offer sacrifices, bring blessings, and sanctify the people. This is how Israel was meant to live and grow.

Just like ancient Israel, the New Israel established by Jesus is called to be a holy nation and a kingdom of priests. While ancient Israel was formed through the covenant at Sinai, the New Israel was established through the New Covenant at the Last Supper (Matt 26:28) and confirmed by the blood of Jesus on the cross. And just as ancient Israel was led by Moses with the help of leaders from the twelve tribes, the leadership of the New Israel is entrusted to the apostles and their successors, the bishops.

However, the New Israel is no longer bound by blood ties, but by faith in Jesus. We are a holy nation because we belong to Jesus, the Holy One of God (Mark 1:24), and as His people, we live in obedience to His commandments. As a new kingdom of priests, we are called to conquer the world not through military might or economic power, but by blessing and sanctifying it. Every time we celebrate the Eucharist, we not only sanctify ourselves but also bring blessings to the world. Every time we proclaim the Gospel, we not only strengthen our own faith but also draw others closer to God. Every time we perform acts of charity, we not only fulfill Jesus’ commandments but also expand the Kingdom of God on earth.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guiding Questions:

How well do we keep Jesus at the center of our daily lives, and in what ways does our behavior reflect that we belong entirely to Him? Since we are called to be a royal priesthood, are we actively striving to bless and sanctify those around us, or are we too focused on pursuing worldly wealth and power? When we participate in the Eucharist, listen to the Gospel, or perform acts of charity, do we view these as routine rituals, or do we truly realize our mission to expand the Kingdom of God on earth?