Featured

Misteri

Hari Raya Tritunggal Mahakudus

31 Mei 2026

Yohanes 3:16-18

Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, Paus Leo XIV menegaskan bahwa kita diciptakan menurut citra Tritunggal Mahakudus. Namun, apa sebenarnya makna dari kebenaran ini?

Diciptakan menurut citra Allah memiliki beberapa implikasi yang mendalam. Hal ini berarti kita memiliki kemiripan dengan Tuhan sendiri, meskipun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Contohnya, karena Allah memiliki akal budi dan kehendak yang sempurna, kita pun dianugerahi akal budi dan kehendak bebas, walaupun sangat terbatas. Karena Allah adalah kekal, jiwa kita pun bisa bertahan bahkan setelah kematian. Dan karena Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan kasih yang tak terbatas, kita secara alami adalah makhluk sosial yang menemukan kebahagiaan sejati kita saat kita mengasihi sesama.

Namun, ada aspek lain yang lebih dalam tentang identitas kita sebagai citra Allah: sama seperti Tritunggal Mahakudus yang adalah sebuah misteri, kita pun diciptakan sebagai sebuah misteri. Namun, apa yang dimaksud dengan “misteri”? Dalam pola pikir kontemporer kita, kata ini seringkali diasosiasikan dengan sebuah rahasia yang menakutkan, sebuah kejahatan yang disembunyikan, teori konspirasi atau sesuatu yang horor dan mistis. Namun, dalam Kitab Suci dan teologi, sebuah misteri (dari bahasa Yunani mysterion) adalah kebenaran dan realitas yang mendalam tentang Allah sendiri. Karena itu, misteri ilahi sejati melampaui kemampuan manusiawi kita untuk memahaminya, sampai Tuhan sendiri memilih untuk mengungkapkannya. Inilah mengapa kita menyebut Tritunggal Mahakudus sebagai sebuah misteri, karena ini adalah sebuah kebenaran yang hanya dapat diketahui jika Allah sendiri berkenan mewahyukannya kepada kita.

Kita pun adalah misteri, karena kebenaran sejati tentang siapa kita tetap tersembunyi di dalam Allah. Tanpa pewahyuan-Nya, jati diri kita yang terdalam tidak bisa diketahui secara penuh. Memang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan kita untuk menemukan dan mempelajari berbagai aspek biologi dan psikologi kita, dan hal ini membantu kita berkembang sebagai spesies. Namun, tanpa pewahyuan ilahi, identitas sejati kita, martabat kita, asal-usul kita, dan tujuan akhir kita akan selalu berada di luar jangkauan otak kita.

Karena kita adalah misteri, kebenaran tentang pribadi manusia tidak dapat dikerdilkan menjadi sekadar konsep yang dapat dianalisa oleh pikiran kita, dan realitas kita tidak dapat sepenuhnya dikuasai oleh kehendak bebas kita. Sama seperti pikiran kita tidak dapat sepenuhnya memahami Allah dan kehendak kita tidak dapat menaklukkan-Nya. Sejatinya, misteri hadir bukan untuk ditaklukkan, tetapi dirangkul, dialami, dan dikasihi. Kebenaran ini juga berlaku bagi kita. Sebagai misteri yang hidup, kita tidak dimaksudkan untuk tunduk pada dominasi pikiran dan kehendak kita; kita dimaksudkan untuk dipeluk, dialami, dan dicintai.

Kita bukanlah sekadar statistik atau data yang kemudian diolah oleh AI. Kita bukanlah sekadar hewan yang akan bisa dibedah, juga bukan tubuh yang dapat dimanipulasi demi “kemajuan.” Kita bukanlah mesin ekonomi yang dibuang ketika tidak lagi produktif, juga bukan konsumen yang tak berakal. Pribadi manusia adalah misteri yang harus dihormati, bukan masalah yang harus diselesaikan. Maka, Filsuf Katolik Gabriel Marcel mengatakannya dengan indah: “Pergi ke Mars adalah masalah. Jatuh cinta adalah misteri.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Kapan saya memperlakukan diri sendiri atau orang lain sebagai “masalah yang harus diselesaikan” daripada “misteri yang harus dicintai”? Jika Tritunggal Mahakudus adalah persekutuan kasih yang tak terbatas, bagaimana kenyataan ini mengubah cara saya mendekati orang-orang di sekitar saya? Ketika kehidupan modern menggoda saya untuk memandang orang sebagai sekadar statistik, pekerja, atau konsumen, langkah spesifik apa yang dapat saya ambil untuk mengenali martabat ilahi yang tersembunyi dalam diri mereka?

Pentekosta, Menara Babel, dan Bahasa

Minggu Pentekosta [A]

Kisah Para Rasul 2:1-11

24 Mei 2026

Pentekosta sering dipandang sebagai kebalikan dari kisah Menara Babel (Kej 11). Namun, mengapa tradisi Gereja mengaitkan kedua kisah yang berbeda ini? Jawabannya adalah bahasa.

Dalam Kejadian 11, kita melihat fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kej 11 mengisahkan manusia yang memiliki satu bahasa dan juga kata-kata yang sama. Kesatuan bahasa ini memungkinkan mereka berbagi ide dengan lancar dan bekerja sama dengan mudah, sehingga mendorong kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Bahasa memungkinkan mereka mengembangkan teknologi seperti pembuatan batu bata, membangun kota yang membutuhkan sistem politik dan ekonomi yang kompleks, serta membangun menara raksasa yang menuntut teknik yang rumit.

Sejatinya, bahasa membedakan kita dari semua makhluk lain. Meskipun hewan berkomunikasi, hanya manusia yang berbagi ide-ide kompleks. Hewan dapat bertukar informasi dasar tentang makanan dan predator, tetapi manusia menyampaikan idealisme, impian masa depan, imajinasi, kebijaksanaan masa lalu, dan juga pengetahuan. Meskipun hewan berkomunikasi melalui suara dan bau, hanya manusia yang dapat mencatat kata-kata mereka dalam tulisan, meneruskan pemikiran mereka kepada generasi mendatang. Melalui bahasa tertulis, kita mengubah kata-kata kita menjadi seni, puisi, musik, dan ilmu pengetahuan.

Jika melihat perkembangan bayi manusia dan membandingkannya dengan bayi binatang lain, kita menyadari bahwa bayi manusia sangat rentan dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk bertahan hidup selama beberapa tahun pertama. Namun, meskipun memiliki kelemahan fisik ini, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki hewan lain: kemampuan bawaan untuk berbahasa. Pada dua hingga tiga bulan pertama, bayi mulai mengeluarkan suara-suara vokal seperti “ooh” dan “ah.” Mereka menangis, tersenyum, dan tertawa sebagai respons terhadap orang tua mereka. Pada usia empat hingga enam bulan, mereka mulai menggabungkan konsonan dan vokal menjadi bunyi berulang seperti “ba-ba” atau “ma-ma,” berlatih dengan pita suara mereka. Antara enam dan dua belas bulan, mereka mulai menghubungkan bunyi dengan makna—mengatakan “mama” untuk secara khusus memanggil ibu mereka. Mereka juga mulai menggunakan isyarat, menunjuk pada apa yang mereka inginkan atau melambaikan tangan untuk berpamitan, serta mulai memahami kata-kata sederhana seperti “ya.” Bayi manusia sungguh terlahir untuk menggunakan bahasa.

Sayangnya, orang-orang dalam Kejadian 11 melupakan satu kebenaran mendasar: bahasa manusia pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan dunia melalui firman-Nya, yang berarti bahwa kata-kata dan bahasa pada hakikatnya adalah milik-Nya. Ketika Ia menciptakan pria dan wanita menurut citra-Nya, Ia memberdayakan kita dengan kapasitas intelektual, termasuk kemampuan untuk membentuk dan menggunakan bahasa. Para pembangun menara Babel percaya bahwa kecerdasan, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, dan talenta besar lainnya sepenuhnya merupakan pencapaian mereka sendiri. Mereka pun dengan sombong berusaha mencapai langit dan membuat nama bagi diri mereka sendiri (Kej 11:4).

Pentekosta membalikkan peristiwa di Babel dengan mengungkapkan bahwa bahasa adalah karunia Roh Kudus. Tujuan utama karunia ini adalah untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, bukan karya-karya manusia. Pentekosta mengingatkan kita bahwa bahasa kita tidak hanya mempersatukan kita satu sama lain, tetapi juga menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebelum para murid menerima karunia Roh Kudus, mereka menghabiskan waktu berdoa—dan doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Sebelum mereka berbicara tentang Allah, mereka terlebih dahulu berbicara kepada Allah. Kita tidak perlu membangun menara dengan tangan kita untuk mencapai langit; kita hanya perlu menggunakan bahasa yang diberikan Allah kepada kita untuk mencapai-Nya dengan kerendahan hati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

pertanyaan panduan:

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita menggunakan kata-kata kita untuk membangun nama bagi diri kita sendiri (seperti di Babel), atau untuk mempersatukan dan mengangkat orang-orang di sekitar kita? Para murid berbicara kepada Tuhan sebelum mereka berbicara tentang-Nya—seberapa banyak bahasa sehari-hari kita yang didedikasikan untuk berbicara dengan Tuhan dalam kerendahan hati? Karena kata-kata kita adalah karunia yang dimaksudkan untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, pesan apa yang disampaikan oleh ucapan kita kepada dunia saat ini?

Roh Kudus dan Kemuliaan

Minggu Paskah ke-7 [A]

17 Mei 2026

Yohanes 17:1-11

Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan pernyataan yang mendalam bahwa “saat-Nya” telah tiba—saat kemuliaan-Nya. Namun, apa arti saat kemuliaan ini bagi Yesus?

Untuk memahami bobot pernyataan ini, kita harus terlebih dahulu menelaah apa yang dianggap dunia sebagai kemuliaan. Pada zaman kuno, sama seperti di era modern, kemuliaan identik dengan kemenangan, pencapaian, dan penaklukan. Ketika Julius Caesar menaklukkan Gaul (yang kini dikenal sebagai Prancis), ia memasuki Roma diiringi sorak-sorai kerumunan, memamerkan para pemimpin lawan yang ditangkap dan rampasan perang untuk mengukuhkan ketenarannya. Kita sering mencari kemuliaan dengan cara serupa, memamerkan trofi, ijazah, dan kredensial kita sebagai simbol kesuksesan.

Namun, ketika Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya, Dia merujuk pada sesuatu yang bertolak belakang dengan kemenangan duniawi: saat penderitaan, penyaliban, dan kematian-Nya. Yesus menghadapi penangkapan yang licik, pengadilan yang tidak adil, dan hukuman yang kejam. Ia disiksa dan dipaksa membawa alat eksekusi-Nya sendiri, dan akhirnya digantung di salib yang dirancang untuk penghinaan dan penderitaan yang maksimal. Namun, dalam momen penderitaan yang mendalam ini, Yesus melihat kemuliaan-Nya. Bagi-Nya, kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam ketenaran, melainkan dalam pemberian diri-Nya yang total melalui cinta kasih dan mengorbankan diri. Hanya kasih yang radikal inilah yang memiliki kuasa untuk mengubah kematian menjadi kehidupan baru.

Selama masa Paskah ini, bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul yang secara khusus menyoroti perkembangan Gereja awal. Meskipun narasi sering berpusat pada perjalanan Santo Petrus dan Santo Paulus, tokoh utama sejati dalam Kisah para Rasul adalah Roh Kudus. Tidak hanya muncul pada saat Pentekosta, Roh Kudus secara terus-menerus mengarahkan setiap langkah Gereja awal. Rohlah yang menuntun Filipus kepada pejabat Afrika dalam Kis 8:26-40 dan membawa Petrus ke rumah Kornelius dalam bab 10, yang berujung pada pembaptisan orang-orang Kristen Romawi pertama. Selain itu, Rohlah yang memulai misi resmi ke wilayah-wilayah bangsa bukan Yahudi dengan memilih Paulus dan Barnabas dalam Kis 13:2.

Bimbingan ilahi ini tetap menjadi landasan penegasan Gereja. Sidang Yerusalem menyimpulkan bahwa kehendak Roh Kudus adalah tidak membebani orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus dengan hukum Musa (Kis 15:28). Kemudian, Roh Yesus mengalihkan misi Paulus dari Asia ke Eropa (Kis 16:6-10). Di bawah bimbingan ilahi ini, Gereja yang masih muda berkembang pesat seiring orang-orang non-Yahudi menerima iman. Namun, “momen-momen kemuliaan” ini hanyalah separuh dari Kisah Para Rasul. Saat Gereja bertumbuh, Gereja juga mengalami penganiayaan dan penderitaan yang tiada henti. Petrus dan Paulus membawa banyak orang kepada Kristus, tetapi kisah mereka juga mengarah pada penolakan, pemenjaraan, dan akhirnya kemartiran.

Pada akhirnya, Roh Kudus tidak memimpin Gereja menuju kesuksesan atau kenyamanan duniawi. Sebaliknya, Roh Kudus memimpin kita ke tempat-tempat dan “saat-saat” tepat di mana kita paling dibutuhkan. Dengan mengikuti Penolong ilahi ini, kita diberdayakan untuk meneladani Tuhan kita, menemukan kemuliaan kita pada saat-saat di mana kita menyerahkan diri sepenuhnya bagi sesama.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang kehidupan mana kita mengejar “kemuliaan Kaisar” (ketenaran, gelar, atau status), dan bagaimana kita dapat beralih ke “kemuliaan Yesus” dengan memprioritaskan kasih yang rela berkorban dan pelayanan kepada sesama? Ketika kita menghadapi “saat” ujian atau penghinaan, apakah kita melihatnya hanya sebagai rintangan, atau bisakah kita mengenali cara-cara di mana Allah mungkin menggunakan momen-momen itu untuk menunjukkan kasih yang radikal? Roh Kudus memimpin Gereja mula-mula ke tempat-tempat yang membutuhkan daripada tempat-tempat yang nyaman; ke mana Roh Kudus memimpin kita saat ini yang mungkin mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman kita?

Roh Kudus dan Sakramen Penguatan

Minggu Paskah Keenam [A]

Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17

10 Mei 2026

Sakramen Penguatan atau Krisma bisa dibilang yang paling kurang mendapatkan perhatian dan juga seringkali disalahpahami di antara ketujuh Sakramen di Gereja Katolik. Namun, mengapa kita gagal menghargai sakramen ini? Apakah sakramen ada dalam Alkitab? Dan, bagaimana sakramen ini mengungkapkan rahasia-rahasia tentang Roh Kudus?

Kita sering kali kesulitan untuk menghargainya karena sakramen ini tidak memiliki dampak langsung dan terlihat dalam hidup kita, padahal dasarnya sangat alkitabiah. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, khususnya bab 8, kita melihat Filipus sang Diakon berkhotbah dan membaptis di Samaria. Ketika para Rasul Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa agar mereka yang sudah dibaptis menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun atas mereka. Narasi biblis ini menegaskan bahwa sejak zaman para Rasul, telah ada sakramen yang khusus untuk menyampaikan kehadiran dan karunia Roh Kudus, suatu pelayanan yang secara unik terikat pada otoritas para Rasul.

Melanjutkan tradisi ini, Gereja mengajarkan bahwa para Uskup sebagai penerus para Rasul menjadi pelaksana utama sakramen penguatan ini. Nama “Penguatan” digunakan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang diterima memperkuat dan mengokohkan rahmat awal Baptisan. Sementara Baptisan dipandang sebagai sarana kelahiran rohani, Penguatan berfungsi sebagai sarana peralihan menuju kedewasaan rohani. Sakramen ini dirancang untuk membekali orang beriman dalam menjalankan misi mereka di dunia dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk peperangan rohani melawan kuasa kegelapan.

Namun, sakramen ini sering kali kurang populer dibandingkan sakramen-sakramen lain karena tidak secara dramatis mengubah gaya hidup atau status eksternal seseorang. Sakramen ini tidak seperti Sakramen Perkawinan atau Tahbisan yang mengubah seseorang menjadi suami-istri atau imam. Selain itu, karena hanya diterima sekali, sakramen ini tidak memiliki katekese berkala seperti yang kita temukan dalam Ekaristi atau Sakramen Pengakuan Dosa. Banyak orang Kristen modern juga keliru mengidentikkan pertumbuhan rohani dengan sensasi emosional. Ketika kita tidak merasa “tersentuh,” tidak mendengar suara Tuhan, atau tidak mengalami karunia yang spektakuler selama doa, kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki Roh Kudus. Karena sakramen ini tidak memberikan sensasi yang diharapkan, kita menganggap bahwa sakramen ini membosankan atau stagnan.

Namun, jika kita baca dengan teliti Kisah Para Rasul, bab 8 menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui pertunjukan yang spektakuler. Setelah Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka pada orang-orang Samaria, tidak ada penyebutan tentang mukjizat, nubuat, bahasa roh atau pertunjukan rohani yang luar biasa lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sering bekerja dengan tenang dan bertahap. Melalui Sakramen Penguatan, kita menerima peningkatan dalam tujuh karunia Roh Kudus: Kebijaksanaan, Pemahaman, Nasihat, Keteguhan Hati, Pengetahuan, Kesalehan, dan Takut akan Tuhan. Karunia-karunia ini memungkinkan kita menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bahkan di tengah cobaan. Bukti sejati karya Roh Kudus terdapat pada tindakan-tindakan kecil yang setia—memilih untuk menghadiri Misa meski terasa membosankan, tetap penuh kasih di tengah kesulitan pernikahan, atau melayani orang lain tanpa mencari pujian. Inilah tanda-tanda hening bahwa Roh Kudus melalui sakramen benar-benar mengubah jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa sering saya menyamakan pertumbuhan iman dengan seberapa “emosional” atau “bersemangat” saat berdoa? Bagaimana saya dapat kembali fokus pada pertumbuhan yang tenang dan bertahap yang diberikan Roh Kudus? Jika Baptisan adalah kelahiran rohani dan Penguatan adalah masuknya saya ke dalam kedewasaan rohani, di bidang-bidang kehidupan mana saya dipanggil untuk lepas dari iman “yang kekanak-kanakan” dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang Kristen yang dewasa?

Tempat Kita di Surga

Minggu Kelima Paskah [A]

3 Mei 2026

Yohanes 14:1-12

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya agar jangan gelisah. Ia mengajak mereka untuk percaya kepada Allah dan kepada-Nya, sambil menjelaskan bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Apa arti dari perkataan Yesus ini?

Untuk memahami perkataan Yesus dengan lebih baik, kita perlu melihat bab sebelumnya, yakni Yohanes 13. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus menubuatkan dua hal: pertama, bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, dan kedua, bahwa Simon Petrus—pemimpin di antara para rasul—akan menyangkal-Nya bukan sekali, melainkan tiga kali. Ini tentu bukanlah prediksi yang menggembirakan. Mengetahui bahwa Guru yang mereka kasihi akan dikhianati dan disangkal mengguncang hati para murid. Nubuat-nubuat ini juga menimbulkan keraguan tentang kelanjutan komunitas Yesus dan, yang lebih buruk lagi, hilangnya harapan mereka pada-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

Mengetahui kekhawatiran mereka, Yesus meyakinkan mereka bahwa hal-hal mengerikan yang akan menimpa mereka bukanlah akhir dari segalanya. Memang, nubuat-nubuat ini harus terjadi, dan Yesus akan menanggung penderitaan dan penyaliban-Nya, tetapi semua itu merupakan bagian dari rencana Allah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Selain itu, Yesus memandang penderitaan dan kematian-Nya sebagai “kembali ke rumah Bapa.” Akhir dari kehidupan-Nya di dunia, seberapa pun menyakitkan, bukanlah sebuah kekalahan. Hal itu seperti seorang raja yang kembali ke kerajaannya dengan penuh kemenangan setelah perjalanan yang sulit. Inilah kabar baik pertama kita: meskipun kita mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup, tetap Tuhanlah yang berkuasa. Bahkan, Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi demi kebaikan kita yang sejati. Seperti yang dikatakan St. Paulus, “Kita tahu bahwa dalam segala hal, Allah bekerja untuk kebaikan mereka yang mengasihi-Nya…” (Rom 8:28).

Selain itu, Yesus meyakinkan para murid bahwa Ia tidak sekedar kembali ke rumah Bapa-Nya, tetapi juga pergi untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Kerajaan Bapa tidak lagi tertutup, melainkan terbuka bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Gereja mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Yesus, tidak ada satu jiwa pun yang dapat masuk surga karena dosa Adam. Bahkan jiwa-jiwa yang benar, seperti Musa dan Elia, harus menunggu di gerbang surga hingga Yesus datang, membukanya, dan mempersiapkan tempat bagi mereka.

Namun, ada sesuatu yang lebih penting daripada tempat kita di surga. Yesus berkata bahwa Ia akan kembali kepada murid-murid-Nya dan membawa mereka bersama-Nya, sehingga di mana Yesus berada, murid-murid-Nya pun berada. Surga bukan sekadar tempat tinggal; pada akhirnya, itu adalah hidup bersama Yesus. Surga yang sejati bukan hanya soal lokasi, tetapi hubungan dengan Yesus.

Inilah kabar baik kedua kita. Surga bukan hanya realitas kehidupan setelah mati, tetapi sesuatu yang dapat kita alami dalam kehidupan duniawi ini. Jika kita terus bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus—melalui doa dan sakramen, mengikuti perintah-Nya, dan menghindari hidup dosa—kita sudah hidup di surga. Yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa meskipun kita menghadapi banyak masalah di dunia ini, kita tetap dapat bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus. Bahkan ketika kita sakit dan menderita, kita tetap dapat berdoa dan mempersatukan penderitaan kita dengan-Nya. Bahkan ketika kita berjuang dengan hubungan kita, dan orang lain meninggalkan kita sendirian, kita dapat yakin bahwa Yesus ada bersama kita. Tempat sejati kita di surga adalah di hati Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Kekhawatiran atau kegelisahan apa yang perlu saya serahkan kepada Yesus hari ini? Bagaimana saya secara aktif mengembangkan persahabatan saya dengan Yesus dalam kehidupan sehari-hari? Dapatkah saya percaya bahwa Allah bekerja untuk kebaikan saya, bahkan dalam perjuangan atau kesulitan yang sedang saya hadapi saat ini?

Domba yang Mengembalakan Domba Lainnya

Minggu Keempat Paskah [A]

26 April 2026

Yohanes 10:1-10

Hidup di dunia modern, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita—anak-anak, kerabat, dan teman-teman—tidak lagi percaya bahwa agama atau kegiatan keagamaan itu penting. Bagaimana kita menanggapi hal ini dengan penuh kasih, dan bagaimana Yesus, Gembala yang Baik kita, memberikan jawaban atas situasi sulit ini?

Pertama, kita harus mengenali sumber pergulatan kita. Kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, dan tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada kehidupan kekal. Mengetahui bahwa mereka hidup jauh dari Yesus membahayakan jiwa mereka, dan hal ini sangat menyakitkan bagi kita. Kesadaran ini penting; hal ini menunjukkan bahwa kepedulian kita lahir dari cinta yang tulus, bukan keinginan untuk mengendalikan mereka.

Karena kasih menginspirasi kita, kita harus mendekati mereka dengan kasih. Langkah pertama adalah memahami bahwa penolakan mereka terhadap kehidupan religius berasal dari alasan-alasan unik, yang seringkali tersembunyi. Beberapa orang menolak agama karena mereka percaya bahwa iman bertentangan dengan akal budi, sehingga membuatnya tidak relevan di dunia modern. Yang lain tidak lagi pergi ke gereja karena pengalaman menyakitkan di masa lalu dengan para pemimpin Gereja. Beberapa hanya ingin mempertahankan gaya hidup “bebas” yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, sementara yang lain dipengaruhi oleh lingkungan atau teman-teman yang membawa mereka ke dalam kesalahpahaman tentang iman.

Selanjutnya, kita dapat belajar dari cara Gembala yang Baik menjaga domba-domba-Nya. Gembala yang Baik memberi petunjuk dengan suara yang tegas, tetapi tidak pernah melalui paksaan atau kekerasan. Ia berjalan di depan kawanan-Nya, memimpin dengan teladan. Ia merawat setiap domba-Nya, mengenal mereka dengan nama dan mengenali karakteristik unik mereka. Ketika bahaya mendekat, Ia membuktikan kasih-Nya bukan dengan mengorbankan domba-domba, melainkan dengan mengorbankan hidup-Nya sendiri.

Seperti Gembala yang Baik, kita perlu menunjukkan kasih kita dengan mendengarkan kisah dan pergulatan mereka. Kita tidak datang untuk menghakimi, melainkan menjadi mitra dialog yang bisa dipercaya. Pada saat yang sama, kita perlu tetap teguh pada pendirian kita, yakin akan kebenaran iman kita, dan sadar akan bahaya-bahaya duniawi. Yang paling penting, kita harus memimpin dengan teladan. Kita menjadi saksi hidup iman kita ketika kita mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Pada akhirnya, kita menunjukkan bahwa iman kita adalah sangat mendasar karena iman yang sama menginspirasi kita untuk mendampingi mereka saat hidup menjadi sulit, siap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa kita untuk mereka.

Beberapa orang mungkin membutuhkan jawaban logis tentang iman kita, yang berarti kita harus terus belajar lebih banyak tentang iman. Yang lain membutuhkan penyembuhan dari luka masa lalu, dan kita perlu menjadi teman sejati dalam perjalanan mereka pulang. Semua ini membutuhkan pengorbanan waktu, energi, dan bahkan hidup kita. Namun, kita melakukannya dengan sukacita karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka dan menginginkan keselamatan kekal mereka.

Terakhir, kita harus ingat bahwa kita bukanlah Gembala yang Baik; kita adalah domba-Nya yang berusaha menggembalakan domba lain. Pada akhirnya, kita mungkin menghadapi kegagalan, dan mungkin terasa seolah-olah pengorbanan kita sia-sia. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita harus menyerahkan segalanya kepada Gembala yang Baik yang sejati. Kita telah mendengar suara-Nya, dan dengan mengikuti-Nya dengan setia, kita akan menemukan istirahat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya benar-benar mendengarkan untuk memahami pergulatan mereka yang jauh dari Tuhan, ataukah saya dengan cepat menghakimi dan ingin mengendalikan? Apakah tindakan harian saya mencerminkan kasih sayang Gembala yang Baik? Apakah kesabaran, empati, dan kesediaan saya untuk berkorban menunjukkan kepada orang-orang yang saya cintai dampak positif dan hidup dari iman saya? Ketika upaya saya untuk membantu seseorang sepertinya gagal dan saya merasa putus asa, apakah saya membiarkan diri saya terjatuh ke dalam keputusasaan, ataukah saya secara aktif memilih untuk menyerahkan mereka kepada Gembala yang Baik yang sejati?

Paskah dan Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

12 April 2026

Yohanes 20:19-31

Pada Minggu Kedua Paskah, kita merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kerahiman? Mengapa Gereja memilih Minggu Kedua Paskah untuk perayaan ini? Dan bagaimana bacaan-bacaan kita mengajarkan kita tentang kerahiman?

Untuk memahami kerahiman, kita perlu terlebih dahulu memahami makna dari keadilan. Keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Sedangkan, kerahiman berarti memberikan kepada seseorang melebihi apa yang menjadi haknya. Jika kita menjawab 5 dari 10 soal dengan benar dalam ujian, kita pantas mendapat nilai 5. Itu adil! Namun, jika guru kita memutuskan untuk menambahkan dua poin ekstra pada nilai kita, itu melampaui apa yang seharusnya kita terima; itulah belas kasih. Dari sudut pandang ilahi, Allah tidak berhutang apa pun kepada kita. Kita tidak dapat menuntut apa pun dari-Nya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah yang lahir dari kerahiman-Nya: hidup kita, talenta kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan kekayaan kita, dan masih banyak lagi.

Mengapa memilih Minggu Kedua Paskah? Perayaan ini sebenarnya relatif baru karena ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 30 April 2000, tepat saat kanonisasi Santa Faustina Kowalska. Keputusannya didasarkan pada wahyu pribadi yang diberikan kepada Santa Faustina, di mana Yesus mengungkapkan keinginannya agar Minggu Kedua Paskah dirayakan sebagai Hari Kerahiman Ilahi. Namun, mengapa Yesus secara khusus menginginkan Minggu Kedua?

Jawabannya terdapat dalam Injil hari ini. Seminggu setelah kebangkitan, Yesus sekali lagi menampakkan diri kepada para murid-Nya. Khususnya kepada Tomas, yang meragukan kebangkitan, Yesus memperlihatkan diri-Nya dan juga luka-luka-Nya. Tomas menjadi penerima kerahiman ilahi yang luar biasa. Sejatinya, ia tidak berhak menuntut bukti; bahkan, ia sebenarnya pantas mendapat hukuman, karena ia telah meninggalkan Yesus pada saat yang kritis. Namun, Yesus mengampuninya dan bahkan mengabulkan tuntutannya yang tidak masuk akal, dengan menunjukkan kepadanya bukti kasih-Nya yang tak terbatas: “Aku mati untukmu agar engkau hidup.”

Kita sering kali seperti Tomas dan para murid lainnya. Allah telah memberikan segala hal baik, namun kita tetap mengkhianati-Nya, menjual-Nya dengan hal-hal duniawi seperti uang atau ketenaran, bahkan lari dari-Nya saat hidup menjadi sulit. Selain itu, alih-alih meminta pengampunan, kita sering kali menuntut lebih dari Tuhan. Namun, meskipun kita tidak bersyukur, Yesus tetap menunjukkan bukti kasih-Nya dan tetap sangat berbelas kasih kepada kita.

Sebagai orang-orang yang telah menerima kerahiman yang begitu mendalam, kita dipanggil untuk berbelas kasihan juga. Namun, bagaimana caranya? Kita dapat belajar dari kehidupan para Jemaat pertama di Yerusalem. Mereka menjual harta benda mereka agar dapat saling membantu. Membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan adalah tindakan belas kasihan yang mendalam. Namun, tindakan berbagi ini harus didasarkan pada ajaran para Rasul, berakar pada kehidupan bersama, dan mengambil kekuatannya dari pemecahan roti dan doa. Dalam Ekaristi, kita menemukan alasan utama mengapa kita harus berbelas kasih: Allah telah menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita dengan memberikan Putra-Nya, Yesus, untuk keselamatan kita. Yesus, pada gilirannya, telah berbelas kasih kepada kita dengan menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk pengudusan kita. Tanpa menyatukan diri kita dengan belas kasih Yesus, tindakan belas kasih kita sendiri menjadi sia-sia dan tidak berarti karena hanya mementingkan diri sendiri. Hanya dalam Yesuslah tindakan belas kasih kita menemukan pemenuhan dan kesempurnaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Kapan kita pernah mengalami belas kasihan Allah dalam hidup, menerima berkat atau pengampunan yang jauh melampaui apa yang kita rasa pantas terima? Dalam hal apa kita kadang-kadang bertindak seperti Tomas—meragukan kehadiran Allah atau menuntut bukti ketika hidup menjadi sulit? Apa satu cara nyata dan konkret yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang membutuhkan? Bagaimana kita dapat lebih menyatukan tindakan sehari-hari kita dengan pengorbanan Yesus?

Kisah Yesus dan Kita

Minggu Paskah [A]

5 April 2026

Matius 28:1-10

Kita menyukai cerita, terutama yang penuh dengan drama dan alur cerita yang tak terduga. Oleh karena itu, Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia. Kemudian, di bawah pengaruh Roh Kudus, para murid-Nya menceritakan dan menuliskan kisah hidup Yesus menjadi sebuah cerita, yakni Injil. Kisah-Nya telah menjadi cerita terhebat yang pernah dikisahkan. Namun, mengapa kita suka mendengarkan cerita, dan mengapa cerita tentang Yesus adalah yang terbaik?

Kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berbahasa. Melalui kata-kata, kita tidak hanya berkomunikasi satu sama lain, tetapi juga menemukan makna dan tujuan dalam hidup kita. Pada zaman kuno, orang-orang menceritakan kisah-kisah mitos untuk memahami berbagai fenomena alam seperti hujan, guntur, dan bintang-bintang. Di zaman modern, kita memiliki ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena ini, tetapi jika teori-teori ilmiah ini tidak dijelaskan seperti sebuah cerita yang menarik, kita tidak akan mudah memahaminya dan tidak tertarik untuk mendalaminya.

Kita tidak hanya menggunakan cerita untuk memahami lingkungan sekitar kita, tetapi juga untuk memahami siapa diri kita. Kita secara alami tertarik pada cerita yang baik, entah dalam novel yang ditulis dengan baik, pertunjukan teater yang dikemas dengan apik, atau film atau drama Korea yang diproduksi dengan matang. Kenapa? Karena kita dapat dengan mudah menjadi satu dengan cerita-cerita ini. Cerita yang baik membuat kita tertawa, menangis, bahkan marah, meskipun kita tahu kita sebenarnya bukan bagian dari cerita tersebut. Namun, cerita yang lebih besar adalah yang menjawab makna hidup kita. Kita belajar dari nilai-nilai yang dipegang setiap karakter, kata-kata yang mereka ucapkan, serta tindakan yang mereka lakukan.

Suatu kali, saya memutuskan untuk membaca novel klasik “The Brothers Karamazov” karya Fyodor Dostoyevsky. Awalnya, saya merasa malas saat melihat tebalnya buku itu, lebih dari 800 halaman. Namun, begitu mulai membacanya, saya terhanyut ke dalamnya, bukan hanya karena alur ceritanya yang tak terduga, tetapi juga karena setiap karakter tampak begitu hidup. Saya tertarik pada karakter Alyosha Karamazov, seorang pemuda yang berjuang mencari Tuhan setelah mentor tercintanya, Romo Zosima, meninggal dunia. Dalam pencariannya, dia menemukan kembali romo Zosima di dalam orang-orang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Kembali ke kisah Yesus, alasan mengapa kisah-Nya adalah kisah paling berpengaruh adalah karena kehidupan Yesus dipenuhi dengan alur cerita yang tak terduga: Ia disalibkan, namun bangkit dari kematian; dikhianati, namun kembali dengan kekuatan yang lebih besar; dan dijatuhkan ke tempat terendah, namun kembali dengan kemuliaan. Selain itu, kehidupan dan kata-kata-Nya mengajarkan kita makna terdalam dan tujuan akhir hidup kita. Ajaran-ajaran-Nya seperti berbagai perumpamaan, khotbah di Bukit, dan Hukum Kasih tetap menjadi prinsip-prinsip abadi yang membimbing kita menuju kebahagiaan sejati.

Akhirnya, kisah Yesus adalah kisah terhebat dari semua kisah karena bagi kita yang memiliki iman, kita menjadi bagian dari kisah Yesus, dan kisah-Nya menjadi kenyataan dalam hidup kita. Hidup di dunia ini, kita pasti menanggung rasa sakit dan penderitaan, dan pada akhirnya, kita akan mati. Namun, bagi kita yang setia kepada Yesus, bahkan hal-hal terburuk yang menimpa kita, bahkan kematian sekalipun, tidak akan menjadi akhir dari kita. Yesus yang bangkit telah mengalahkan maut. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan St. Paulus, “Jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa kita juga akan hidup bersama-Nya (Rom 6:8).”

Selamat Paskah!

Leuven
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Air Mata Yesus

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

22 Maret 2026

Yohanes 11:1-45

Minggu Kelima Prapaskah mengungkapkan salah satu momen paling emosional bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Biasanya, Yohanes menggambarkan Yesus sebagai sosok yang khusyuk dan memiliki ketenangan yang agung, jarang mengungkapkan keadaan psikologis batin-Nya. Namun, dalam Bab 11, kita diberi kesempatan untuk melihat sekilas kedalaman kemanusiaan Yesus.

Ketika Yesus tiba di Betania untuk mengunjungi sahabat-Nya, Lazarus, yang baru saja meninggal, saudara perempuan Lazarus, Marta, menyambut-Nya terlebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya tidak akan meninggal. Yesus meyakinkan Marta bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Marta mengakui imannya kepada-Nya, dan sejenak, segalanya tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, Maria datang, dan mengulang kata-kata saudarinya. Namun, ia jatuh di kaki-Nya, menangis bersama mereka yang menyertainya. Yohanes sang Penginjil mencatat bahwa Yesus “sangat terharu” dan “tergerak hati-Nya.” Saat mereka membawa Yesus ke kuburan Lazarus, Ia tak lagi dapat menahan kesedihannya, dan Ia mulai menangis.

Mengapa Yesus menunjukkan emosi yang begitu kuat? Orang-orang Yahudi yang menyaksikan-Nya berkata, “Lihatlah betapa Ia mengasihi Lazarus.” Yesus mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria dengan sangat dalam; saat kehilangan sahabat-Nya, Ia berduka dan menangis. Yesus menunjukkan reaksi manusiawi yang banyak dari kita alami ketika kehilangan seseorang yang kita sayangi. Pertanyaannya adalah: jika Yesus tahu dengan sempurna bahwa Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipenuhi oleh kesedihan?

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam. Secara manusiawi, merasakan kesedihan yang mendalam dan berduka adalah cara alami kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan dari orang yang kita cintai. Tanpa kesedihan ini, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa artinya mencintai dan dicintai—menjaga seseorang yang berharga dan menjadi berharga bagi mereka. Allah, sebagai Pencipta hidup kita, mengetahui dengan baik proses alami ini dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Ia memilih tidak menghilangkan rasa sakit ini, melainkan menguduskannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Meskipun Tuhan tidak akan membangkitkan orang dari kubur setiap hari, Ia meyakinkan kita bahwa Ia berduka dan menangis bersama kita. Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia bukanlah untuk segera menghapus air mata dan penderitaan kita, melainkan untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya, sehingga menjadikannya kudus.

Salah satu momen tersulit dalam hidup saya sebagai imam adalah ketika harus berkhotbah dalam Misa pemakaman. Terkadang, seorang kerabat yang berduka akan bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan mengambilnya sekarang?” Jujur saja, saya tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Saya sering berharap memiliki jawaban yang sempurna, atau bahkan karunia untuk membangkitkan orang mati. Namun, saya perlahan menyadari bahwa kehadiran saya di sana bukanlah untuk menyelesaikan masalah mereka atau menghapus kehilangan mendalam mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk berduka bersama mereka, dan, melalui Ekaristi, untuk membawa Yesus ke dalam dukacita mereka. Ketika kita memiliki Yesus bersama kita, bahkan dalam momen-momen paling menyakitkan dalam hidup kita, kita dapat mempersembahkan dukacita kita kepada Allah sebagai persembahan yang berkenan dan suci.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana mengetahui bahwa Yesus menangis untuk sahabat-Nya mengubah cara kita memandang momen-momen duka dan kerentanan kita sendiri? Jika duka yang mendalam adalah cerminan alami dari cinta yang mendalam, bagaimana kita dapat mengundang Tuhan untuk hadir dalam—dan menguduskan—kehilangan yang menyakitkan dalam hidup kita sendiri? Bagaimana kita dapat menawarkan kehadiran yang menghibur dan menyerupai Kristus kepada kerabat atau teman yang sedang berduka?