Featured

Ekaristi, Pesta Surgawi bagi Kita

Hari Minggu Biasa ke-28 [A]

11 Oktober 2026

Matius 22:1-14

Sebagai seorang Katolik, saya selalu mengaitkan perumpamaan tentang perjamuan kawin ini dengan perayaan Ekaristi. Mengapa demikian?

Dalam perumpamaan tersebut, sang raja menyiapkan perjamuan kawin bagi putranya. Kita dapat membayangkannya sebagai perayaan paling megah di dalam kerajaan tersebut. Seorang ayah yang bangga, yang juga merupakan raja, tentu ingin menjadikan putranya pria paling bahagia di kerajaannya, sekaligus menunjukkan kepada seluruh rakyatnya bahwa ini adalah peristiwa terpenting dalam keluarga kerajaan. Oleh karena itu, semua orang tentu membayangkan hidangan yang paling lezat, aneka anggur pilihan yang berlimpah, dan hiburan terbaik. Setiap tamu yang memenuhi undangan tersebut tidak hanya merasa sangat terhormat, tetapi juga mengalami sukacita yang luar biasa.

Demikian pula halnya dengan Ekaristi. Ekaristi adalah sebuah perjamuan, tetapi disiapkan bukan oleh penguasa duniawi, melainkan oleh Raja Semesta Alam. Karena disiapkan oleh Raja Surgawi, perayaan ini menjadi perayaan terbesar dan tertinggi yang dapat kita alami di bumi. Namun, hal yang benar-benar menjadikan Ekaristi sebagai perayaan puncak adalah karena Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menanggapi undangan-Nya. Sesuatu itu tidak dapat ditawarkan oleh dunia, jauh lebih berharga daripada emas, dan lebih agung daripada hadiah apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah menganugerahkan Yesus sendiri kepada kita—bukan sekadar hadir dalam pikiran atau hati kita, melainkan benar-benar menyentuh bibir dan meresap ke dalam jiwa kita. Yesus memberikan bukan hanya sebagian dari diri-Nya, melainkan semuanya. Karena Yesus bersatu secara kekal dengan Bapa dan Roh Kudus, serta dengan seluruh orang kudus di surga, maka setiap kali menyambut Ekaristi, kita sebenarnya sedang menyambut surga itu sendiri.

Sayangnya, sebagian dari kita sering kali menyerupai para tamu undangan yang menolak hadir karena lebih mengutamakan urusan sehari-hari dan pekerjaan rutin daripada perjamuan kerajaan tersebut. Saat kita tidak nilai Ekaristi sebagai sesuatu yang paling berharga, yakni undangan ilahi perayaan surgawi, kita mulai mencari alasan-alasan dangkal untuk pergi ke gereja. Mungkin kita hadir hanya untuk mencari inspirasi atau hiburan dari homili sang imam; sehingga saat homilinya membosankan, kita pun berhenti menghadiri Misa. Atau, mungkin kita pergi semata-mata karena tradisi keluarga; begitu tidak lagi tinggal bersama orang tua, kita merasa tidak berkewajiban lagi untuk hadir. Melalui sikap-sikap tersebut, kita telah merendahkan Ekaristi menjadi sekadar aktivitas duniawi biasa, sekaligus menyia-nyiakan jalan menuju surga.

Bahaya lain yang tidak kalah besarnya adalah memperlakukan Ekaristi secara tidak pantas, layaknya tamu yang memasuki perjamuan raja tanpa mengenakan pakaian pesta yang pantas. Mungkin kita menghadiri misa, bukan untuk mencari Allah, melainkan demi mengejar kepentingan diri sendiri yang egois. Namun, kondisi yang paling berbahaya adalah menyambut Ekaristi dalam keadaan dosa berat. Sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1 Kor 11:27, 29). Rahmat Allah itu cuma-cuma, tapi tidak pernah murahan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk permenungan:

Apakah saya sungguh memandang kehadiran saya dalam Misa sebagai tanggapan penuh sukacita atas undangan ilahi dari Sang Raja, atau justru membiarkan kesibukan sehari-hari, dan maupun motif yang dangkal menjadi prioritas utama? Saat bersiap menyambut Ekaristi, apakah saya menerima Yesus dengan hati yang tulus, ataukah saya memperlakukan perjumpaan kudus hanya sebagai sekadar rutinitas? Adakah dosa berat yang belum diakui atau sikap egois dalam hidup saya yang menghalangi saya untuk mengenakan “busana pesta pernikahan” di hadapan altar Tuhan?

Kasih Allah yang “Tidak Masuk Akal”

Hari Minggu Biasa ke-27 [A]

4 Oktober 2026

Matius 21:33-43

Bacaan Injil kita mengisahkan seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para pekerja agar mereka merawatnya dan menghasilkan panen yang baik. Awalnya, kisah ini tampak seperti peristiwa biasa dalam dunia pertanian. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai peristiwa aneh dan tidak terduga mulai terjadi. Apa sajakah hal itu? Apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, sang pemilik mempersiapkan hampir seluruh kebutuhan kebun sebelum ia pergi. Ia menanam pohon anggur, membangun pagar untuk melindungi kebun dari binatang liar, menggali tempat pemerasan untuk mengolah buah anggur menjadi sari buah untuk difermentasi, serta mendirikan menara jaga agar penjaga dapat memantau datangnya pencuri atau binatang pengganggu. Menara tersebut juga berfungsi sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi para pekerja. Padahal, secara hukum, sang pemilik tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menyediakan seluruh fasilitas itu. Sang pemilik sudah mengerjakan setengah bagian dari apa yang para pekerja perlu lakukan!

Kedua, hal yang lebih luar biasa terjadi ketika hamba pertamanya dipukuli oleh para penggarap yang memberontak. Normalnya, seorang pemilik tanah akan segera mengirim pasukan untuk merebut kembali haknya dan menghukum para pekerja yang tidak tahu berterima kasih tersebut. Sebaliknya, ia justru melakukan hal yang tidak terpikirkan: ia mengirim hamba-hamba lainnya meskipun tahu mereka dapat mengalami nasib kejam yang sama. Pada akhirnya, ia mengutus putra kesayangannya sendiri dengan harapan para pekerja akan menghormati putranya. Namun, para penggarap jahat itu malah membunuh putra sang pemilik (Mat 21:33–39; Mar 12:1–8; Luk 20:9–15).

Tindakan pemilik kebun tersebut tampak tidak rasional, bahkan dapat dianggap tidak bijaksana oleh pemikiran manusia. Tidak ada orang yang berpikir secara logis akan bertindak demikian. Namun, tindakan tersebut justru mencerminkan besarnya kasih Allah kepada manusia. Sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16), meskipun Allah tahu bahwa manusia akan berulang kali menolak-Nya. Kasih ilahi ini melampaui logika manusia, dan melalui kasih inilah kita menerima harapan keselamatan, bukan penghukuman.

Logika manusia yang terbatas ini sering kali tercermin dalam pertanyaan kita sehari-hari. Sebagai contoh, seorang pelajar pernah bertanya kepada seorang imam, “Romo, mengapa kita perlu mengaku dosa jika kita tahu bahwa kita akan berdosa lagi?” Imam tersebut menjawab, “Ya, kamu benar. Kita memang bisa jatuh ke dalam dosa lagi.” Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, “Saat sakit, bukankah kita minum obat agar sembuh? Namun, kita pun tahu bahwa setelah kita sembuh, ada kemungkinan untuk sakit lagi di masa depan. Lalu, apakah kita akan berhenti minum obat tersebut?”

Ilustrasi tersebut membantu kita memahami Sakramen Rekonsiliasi sebagai wujud nyata dari kasih dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Sebesar apa pun dosa kita dan sejauh apa pun kita telah jatuh, Allah selalu siap menerima kita kembali ketika kita datang dengan penyesalan yang tulus. Dia memahami kelemahan kita dan mengetahui kejatuhan kita di masa depan, namun Dia tidak pernah menarik kembali kasih-Nya. Meski demikian, kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah sesuatu yang murahan. Jika kita terus menganggap remeh kasih-Nya dan menyalahgunakan kerahiman-Nya, maka pada penghakiman terakhir, Tuhan akan datang bukan hanya sebagai Juruselamat, melainkan sebagai Hakim yang Adil.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Seberapa sering saya menyadari dan mensyukuri anugerah, berkat, dan rahmat yang telah Allah siapkan serta percayakan kepada saya dalam hidup ini? Saat saya berulang kali gagal atau jatuh ke dalam dosa yang sama, apakah saya dengan rendah hati memohon belas kasih Allah melalui pengakuan dosa, atau justru mencari-cari alasan dan menjauh dari-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan, atau apakah saya menganggap remeh kasih Allah dan menyalahgunakan belas kasih-Nya yang tak terbatas dalam pilihan-pilihan hidup saya sehari-hari?

Kenosis dan Kasih

Hari Minggu Biasa ke-26 [A]

27 September 2026

Filipi 2:1-11

Filipi 2:5–11 merupakan salah satu bagian yang paling indah dan mendalam dalam Kitab Suci. Banyak ahli dan teolog mengenalinya sebagai Himne Kristus kuno, yang mungkin digubah oleh Santo Paulus sendiri atau diwarisi dari tradisi komunitas Kristen perdana. Melalui himne yang mendalam ini, kita diajak untuk memetik pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kehidupan iman kita.

Pelajaran pertama terletak pada tindakan pengosongan diri, yang dalam bahasa Yunani disebut kenosis (ay. 7). Tindakan ini justru dimungkinkan karena Yesus memiliki kodrat Allah secara penuh. Sebagai Allah, Dia memiliki segala hak dan kuasa untuk tetap berada dalam kemuliaan surgawi bersama Bapa dan Roh Kudus. Dari takhta surga, Yesus sebenarnya berkuasa memperlakukan umat manusia yang berdosa sesuai kehendak-Nya, baik dengan menghukum kita secara keras maupun memusnahkan kita sepenuhnya. Bahkan jika Dia hendak mengampuni kita, Dia sanggup melakukannya hanya dengan mengucapkan sepatah kata pengampunan dari kemegahan surgawi-Nya. Namun, Dia justru memilih jalan yang jauh melampaui imajinasi manusia: Dia turun dari surga dan menjadi manusia. Keputusan ilahi ini didorong oleh kerendahan hati-Nya yang radikal. Yesus tidak terobsesi untuk mempertahankan kemuliaan, keagungan, serta semarak ilahi-Nya, dan Dia pun tidak haus akan penyembahan manusia. Sebaliknya, kasih-Nya yang begitu besar mendorong-Nya untuk menjadi sama seperti kita dalam segala kelemahan manusiawi kita.

Lebih dari itu, tindakan pengosongan diri-Nya tidak berhenti pada peristiwa Inkarnasi semata. Wujud kenosis ini melangkah lebih dalam dengan merangkul kondisi penderitaan manusia yang paling rendah, yakni kematian di kayu salib. Pada zaman Yesus, penyaliban merupakan hukuman yang amat kejam dan hina, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat seperti pembunuh dan pemberontak. Dengan demikian, Yesus tidak sekadar menanggalkan keagungan Ilahi-Nya, tetapi juga bersedia menempatkan diri-Nya di antara orang-orang yang paling dipandang hina. Yesus menempuh jalan yang penuh pengorbanan ini untuk menunjukkan satu kebenaran hakiki: Dia mengasihi kita sampai tuntas.

Pengosongan diri-Nya yang tak terbayangkan ini menyingkapkan kedalaman kasih Allah yang tidak terbatas. Santo Paulus mempertegas kebenaran tersebut dengan mengaitkan sikap mengosongkan diri Kristus pada dampak rohani yang dihasilkannya bagi kita, sebagaimana ia tuliskan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9). Melalui ungkapan ini, Santo Paulus mengajarkan bahwa kasih yang sejati senantiasa diwujudkan melalui kerendahan hati dan kesediaan untuk mengosongkan diri. Justru melalui penyangkalan diri inilah, kasih mampu mengubah dan memperkaya jiwa orang-orang yang kita kasihi.

Santo Paulus menyadari keutamaan sikap kenosis Kristus ini dan berkomitmen untuk meneladani jejak Sang Guru Ilahi. Ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan dan status hidupnya demi mewartakan Injil Yesus Kristus serta membangun jemaat-jemaat di berbagai wilayah. Dalam menjalani hidup yang sangat sederhana, Paulus bekerja keras pada siang hari sebagai pembuat kemah untuk membiayai kebutuhan hidup dan misinya, sedangkan pada malam harinya ia mencurahkan waktu untuk mengajarkan Injil kepada komunitas-komunitas beriman. Paulus menyerahkan seluruh hidupnya demi Kristus, dan karenanya, Gereja perdana memperoleh Kristus dan kelimpahan karunia rohani. Di mata dunia, Paulus mungkin tampak tidak memperoleh apa pun selain penderitaan dan kesukaran. Namun, ia justru bersukacita dalam penderitaan tersebut karena ia diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam penderitaan dan pengosongan diri Kristus demi Gereja-Nya (Kol 1:24).

Pada akhirnya, perenungan ini menegaskan bahwa kita baru mengasihi secara sungguh-sungguh ketika kita bersedia mengosongkan diri, sehingga orang-orang yang kita kasihi dapat dibangun dan diperkaya secara rohani.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam aspek kehidupan manakah saya masih mempertahankan hak, status, atau keinginan untuk diakui, dan bagaimana saya dapat mempraktikkan kerendahan hati yang radikal seperti Kristus dalam situasi-situasi tersebut? Bersediakah saya merendahkan diri atau mengesampingkan kenyamanan pribadi agar orang-orang yang saya kasihi dapat dibangun, diperkaya, dan didukung? Saat menghadapi kesulitan, pencobaan, atau pengorbanan demi orang lain, apakah saya memandangnya sebagai beban yang sia-sia, atau dapatkah saya menerimanya sebagai jalan untuk ambil bagian dalam kasih Kristus yang mengosongkan diri?

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?

Kurban Hidup

Minggu ke-22 Masa Biasa [A]

30 Agustus 2026

Roma 12:1-2

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, Santo Paulus mendesak umat beriman untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “kurban yang hidup” (Roma 12:1). Bagi para pembaca pada zaman dahulu, pernyataan Santo Paulus ini merupakan sebuah oksimoron —sebuah kiasan yang menggabungkan dua kata bermakna berlawanan, seperti “manis pahit” atau “permasalahan yang baik.” Namun, mengapa konsep Paulus tentang “kurban yang hidup” sejak awal dianggap sebagai suatu oksimoron?

Pada masa lampau, orang-orang menyembah dewa-dewa dengan mempersembahkan kurban. Praktek ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada zaman Paulus. Orang-orang Israel akan pergi ke Bait Allah di Yerusalem membawa hewan—paling sering domba—untuk dikorbankan. Pertama-tama, para imam memeriksa setiap hewan untuk memastikan bahwa hewan tersebut bebas dari cacat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, penyembah meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu untuk secara simbolis mengidentifikasi dirinya dengan kurban tersebut. Tenggorokan hewan itu kemudian dipotong dengan gerakan cepat menggunakan pisau yang sangat tajam untuk menjamin kematian yang cepat. Seorang imam menampung darah segar hewan itu dalam baskom khusus dan mengaduknya secara terus menerus untuk mencegah pembekuan darah. Dia kemudian membawanya ke mezbah untuk dipercikkan di bagian dasarnya. Akhirnya, para imam menguliti hewan itu, memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkan bagian-bagian tersebut atau seluruh tubuh kurban di atas mezbah untuk dibakar (lihat Imamat 1–4).

Karena ritus pengorbanan di dunia kuno maupun di Israel kuno berkaitan erat dengan kematian kurban, ungkapan Santo Paulus mengenai “kurban yang hidup” terdengar seperti sebuah kontradiksi. Padahal, Paulus sedang mengacu pada tradisi Perjanjian Lama. Para nabi terdahulu sering menekankan bahwa pengorbanan hewan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pertobatan yang tulus dan sepenuh hati. Raja Daud pernah menyatakan, “Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Maz 51:17). Demikian pula, Nabi Hosea menyampaikan firman Allah: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

Menjadi “kurban yang hidup” memang masih melibatkan kematian, namun bukan kematian secara fisik. Santo Paulus menjelaskan transformasi pribadi ini saat menuliskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Paulus tidak dieksekusi secara harfiah di kayu salib saat menulis kalimat itu; melainkan, ia telah mematikan ego, kepentingan pribadinya, serta ambisi duniawinya demi hidup sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Sejak saat itu, segala hal yang ia katakan dan lakukan semata-mata diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan mewartakan Injil.

Sama seperti Yesus yang telah mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban sempurna di kayu salib, Santo Paulus juga menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada Allah dengan cara hidup selaras dengan kehendak ilahi. Melalui teladan yang sama, Santo Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh, pekerjaan, studi, relasi, waktu istirahat, dan bahkan penderitaan kita sebagai kurban yang hidup. Dalam segala hal yang kita jalani, kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Bagi umat Katolik, setiap aktivitas sehari-hari ini dapat disatukan dengan pengorbanan Yesus dalam Kurban Suci Ekaristi, sehingga menjadi bagian dari persembahan sempurna yang merupakan ibadah rohani yang sejati (Roma 12:1).

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana kita dapat mematikan ego, keinginan diri, dan ambisi duniawi kita sehingga Kristus benar-benar dapat hidup melalui kita setiap hari? Dengan cara apa kita dapat mempersembahkan rutinitas harian kita—pekerjaan, studi, hubungan, dan bahkan perjuangan hidup kita—sebagai kurban yang hidup kepada Tuhan? Apakah kita telah mempersembahkan devosi batin serta kasih yang bermakna kepada Tuhan dalam tindakan sehari-hari, ataukah kita sekadar menjalankan rutinitas keagamaan lahiriah?

Siapakah Yesus Bagimu?

Minggu ke-21 Masa Biasa [A]

23 Agustus 2026

Matius 16:13-20

Hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Pertanyaan ini dapat dikatakan sebagai pertanyaan terpenting yang harus kita jawab dalam hidup ini. Kita mungkin memberikan berbagai jawaban—bahwa Yesus adalah sahabat terkasih, Gembala yang Baik, Sang pemimpin, atau Juruselamat dan Penebus kita. Walaupun semua sebutan itu benar, segalanya akan berubah ketika kita menjawab Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita.

Jika kita sungguh-sungguh mengakui Yesus sebagai Allah, hidup kita harus terarah kepada-Nya dan menjadikan Dia prioritas utama. Sekadar memberikan penghormatan tertinggi kepada-Nya belumlah cukup; kita dipanggil untuk mempersembahkan penyembahan yang hanya layak bagi Allah. Memberikan sebagian waktu, sumber daya, dan talenta demi kemuliaan-Nya pun belum memadai; kita dituntut untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Dibaptis dan menghadiri Misa setiap hari Minggu hanyalah batas minimum. Sebaliknya, kita perlu berusaha menyenangkan hati-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pilihan sehari-hari setiap saat.

Banyak di antara kita mungkin merasa bahwa standar ini terlalu sulit untuk dicapai karena kita bukan imam atau biarawan-biarawati, atau karena kita memiliki berbagai prioritas lain seperti karier, hobi, dan ambisi pribadi. Bagi banyak orang, tuntutan ini tampak tidak realistis. Namun, tuntutan ini tidak muncul tanpa alasan, melainkan mengalir secara alami dari kebajikan keadilan.

Sederhananya, keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Ketika seorang pemberi kerja membayar upah yang layak kepada pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya, hal itu bukanlah tindakan belas kasih, melainkan kewajiban yang dituntut oleh keadilan. Demikian pula sebagai warga negara, keadilan menuntut kita untuk mematuhi hukum dan berkontribusi bagi kebaikan bersama, misalnya dengan membayar pajak. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban melayani masyarakat dengan jujur dan berintegritas—seperti melindungi warga dari kriminalitas, menyediakan layanan kesehatan, serta membangun infrastruktur—karena semua pelayanan tersebut merupakan hak warga negara. Semua kewajiban ini bersumber dari tuntutan keadilan.

Jika kita harus menegakkan keadilan dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, terlebih lagi kita wajib memberikan apa yang menjadi hak Allah sebagai Pencipta kita. Kita perlu menyadari bahwa Allah tidak wajib menciptakan kita, namun Dia menghadirkan kita ke dunia, menganugerahi kita akal budi dan kehendak bebas, serta menjadikan kita istimewa di antara seluruh ciptaan. Lebih dari itu, Allah tidak berkewajiban menyelamatkan kita, namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Dia menebus kita melalui Putra-Nya agar kita tidak binasa (Yohanes 3:16). Akhirnya, dengan penuh kasih, Allah menawarkan persahabatan-Nya dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Walaupun kita tidak layak menerima apa pun, Allah telah memberikan segalanya bagi kita. Oleh karena itu, keadilan menuntut kita untuk menyerahkan kembali seluruh keberadaan kita kepada-Nya—waktu, talenta, dan bahkan seluruh hidup kita. Hal ini tidak berarti bahwa semua orang dipanggil menjadi imam atau biarawan-biarawati. Sebagai kaum awam dan profesional, kita dapat memprioritaskan Yesus dengan memastikan bahwa setiap keputusan yang kita ambil selaras dengan kehendak ilahi-Nya dan menyenangkan hati-Nya.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa jauh kita mengizinkan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah membentuk kembali pilihan, prioritas, dan kebiasaan hidup sehari-hari? Apakah kita hanya memberikan waktu dan talenta seminimal mungkin kepada Allah, ataukah kita berusaha mempersembahkan pengabdian seutuhnya yang menjadi hak-Nya? Lewat langkah praktis apa kita dapat memuliakan Allah dan mencari kehendak-Nya dalam panggilan hidup sebagai awam, dalam keluarga, serta dalam pekerjaan sehari-hari?

Perempuan Kanaan

Minggu Biasa ke-20 [A]

16 Agustus 2026

Matius 15:21-28

Pertemuan antara Yesus dan perempuan Kanaan merupakan salah satu kisah yang paling kontroversial dalam Injil. Sekilas, Yesus tampak kurang berempati terhadap seorang ibu yang anaknya sedang menderita, bahkan seolah menghinanya dengan menyamakannya dengan binatang. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik peristiwa ini?

Untuk memahami cerita ini secara utuh, kita perlu melihat peristiwa yang terjadi tepat sebelum Yesus dan murid-murid-Nya mengasingkan diri ke wilayah Tirus dan Sidon, dua kota kuno di sebelah utara perbatasan Israel. Sebelum perjalanan tersebut, Yesus berdebat dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, lalu menegaskan, “Dengar dan pahamilah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang” (Mat. 15:10-11). Meskipun kalimat ini awalnya tampak tidak berkaitan dengan perjumpaan-Nya dengan perempuan Kanaan, ajaran ini sebenarnya menjadi kunci utama untuk memahami keseluruhan kisah tersebut.

Di bawah Hukum Musa, orang Yahudi hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan yang tahir (kosher). Praktik ini memisahkan mereka secara tegas dari bangsa-bangsa non-Yahudi yang mengonsumsi berbagai jenis makanan (bdk. Im. 11). Hukum kemurnian akan makanan ini membuat orang Yahudi enggan duduk dan makan bersama orang non-Yahudi untuk menghindari kenajisan. Namun, ketika Yesus menyatakan bahwa apa yang masuk ke dalam mulut tidak menajiskan seseorang, Ia tidak sekadar memberi kebebasan memilih makanan. Lebih dari itu, Ia merobohkan tembok spiritual dan budaya yang selama ini memisahkan orang non-Yahudi dari persekutuan dengan umat Israel. Oleh karena itu, melintasi batas menuju wilayah non-Yahudi secara sengaja merupakan langkah awal Yesus untuk menjangkau bangsa-bangsa lain. Meski demikian, uluran tangan ini tetap membutuhkan tanggapan iman dari mereka, dan di sinilah peran penting perempuan Kanaan tersebut dimulai.

Injil Matius secara spesifik mengidentifikasinya sebagai orang Kanaan. Dalam Perjanjian Lama, istilah Kanaan merujuk pada penduduk asli tanah Kanaan yang secara historis berkonflik dengan bangsa Israel (bdk. Ul. 7:1-2). Matius menggunakan sebutan ini untuk menyoroti bahwa perempuan tersebut tidak hanya terhalang secara budaya untuk makan bersama Yesus dan para murid, tetapi juga terpisah oleh prasangka dan permusuhan antarbangsa yang telah berlangsung selama berabad-abad. Dengan demikian, ketika perempuan ini mendekati Yesus, perjumpaan tersebut bukan sekadar pertemuan dua individu beda kebangsaan, melainkan perjumpaan dua identitas yang membawa sejarah ketegangan bergenerasi-generasi. Walaupun perempuan itu menyadari potensi penolakan, kasih kepada anaknya jauh lebih besar daripada sekat-sekat sejarah, dan imannya kepada Yesus melebihi keraguan apa pun.

Dalam percakapan mereka, Yesus menggunakan kata Yunani “kynarion,” yang merujuk pada “anak anjing peliharaan di dalam rumah,” bukan kata “kyōn” yang biasa digunakan sebagai hinaan kasar untuk anjing liar di jalanan. Melalui pilihan kata ini, Yesus menyampaikan sebuah kebenaran tersirat: orang-orang non-Yahudi sesungguhnya berada di dalam ruang lingkup pemeliharaan Sang Tuan, namun keberadaan mereka belum diakui secara penuh sebagai anggota keluarga. Masih ada satu langkah penting yang harus dipenuhi. Perempuan itu menangkap kedalaman makna dari kata-kata Yesus. Dengan kerendahan hati dan iman yang teguh, ia tidak tersinggung, melainkan memohon belas kasih dengan mengambil posisi sebagai pihak yang bersyukur bahkan atas remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.

Yesus memuji tanggapan perempuan tersebut karena ia memahami momen keselamatan yang sedang dinyatakan—bahwa pintu bagi bangsa-bangsa non-Yahudi telah dibuka, dan mereka diundang untuk masuk melalui jalan iman. Sebagai bentuk pengakuan atas kedalaman pemahaman spiritualnya, Yesus menyapanya dengan sebutan “Perempuan”, sebuah ungkapan penghormatan yang menandai penerimaan penuh atas dirinya ke dalam keluarga Allah.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita masih menyimpan prasangka budaya, sosial, atau pribadi yang menghalangi kita untuk membagikan kasih dan anugerah kepada sesama? Ketika Tuhan terasa diam atau sulit dipahami, apakah iman mendorong kita untuk tetap tekun berdoa seperti perempuan Kanaan tersebut? Maukah kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati yang mendalam, percaya bahwa secercah saja dari anugerah-Nya sudah lebih dari cukup bagi hidup kita?

Yesus dan Kematian Yohanes Pembaptis

Minggu ke-18 Masa Biasa [A]

2 Agustus 2026

Matius 14:13–21

Meskipun mukjizat penggandaan roti dicatat dalam keempat Injil, Injil Matius menyajikannya dengan penekanan kontekstual yang khas. Matius menempatkan peristiwa tersebut tepat setelah kabar eksekusi Yohanes Pembaptis. Hal ini tentu bukan sekadar kebetulan, melainkan menyimpan makna teologis yang mendalam.

Melalui Injil Lukas, kita tahu bahwa Yohanes Pembaptis adalah kerabat Yesus (Lukas 1:36). Namun, di luar ikatan kekeluargaan tersebut, Yohanes adalah seorang nabi besar yang mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan memberitakan pertobatan. Yohanes mengakui Yesus sebagai “Yang Lebih Berkuasa” (Lukas 3:16) dan sebagai “Anak Domba Allah” (Yohanes 1:29). Sebaliknya, Yesus menegaskan bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan, tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis (Matius 11:11). Hubungan mereka jelas bukan sekadar hubungan darah, melainkan ikatan spiritual yang sangat kuat. Oleh karena itu, ketika Yesus menerima kabar duka tentang eksekusi Yohanes yang tidak adil, Ia merasakan kesedihan yang mendalam—bukan hanya karena kehilangan seorang kerabat, melainkan juga seorang nabi Allah yang setia.

Mendengar kabar buruk itu, Yesus segera mengasingkan diri ke tempat yang sunyi untuk menyendiri dan berduka. Tindakan ini memperlihatkan kemanusiaan-Nya yang sejati sekaligus mengajarkan kita nilai penting dari sebuah proses berduka. Kesedihan bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau ditekan, melainkan diakui dan dihayati. Berduka merupakan proses manusiawi yang alami untuk mengolah rasa kehilangan yang mendalam.

Namun, kisah Injil tidak berhenti pada ruang duka itu saja. Ketika mendengar keberadaan Yesus, orang banyak segera berbondong-bondong mengikuti-Nya. Saat melihat kerumunan itu, Yesus menyaksikan berbagai penderitaan dan penyakit yang mereka tanggung. Tergerak oleh belas kasihan, Ia pun menyembuhkan orang-orang sakit di antara mereka. Hari mulai malam, dan para murid meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak itu pergi agar mereka dapat membeli makanan. Namun, Yesus memiliki rencana lain. Ia justru memerintahkan para murid untuk memberi makan orang banyak itu. Merasa kewalahan dengan jumlah massa yang sangat besar, para murid menganggap tugas tersebut mustahil, terlebih persediaan yang mereka miliki hanya berupa lima roti dan dua ikan. Meski demikian, kesediaan mereka untuk menyerahkan persembahan yang sangat kecil itu sudah cukup bagi Yesus untuk mengerjakan sebuah mukjizat yang bersejarah.

Pilihan Yesus untuk melayani dan memberi makan orang banyak bukanlah bentuk pelarian dari rasa duka, melainkan wujud nyata dari kesedihan-Nya itu sendiri. Belas kasih-Nya terhadap penderitaan orang banyak mengalir langsung dari rasa duka yang sedang Ia rasakan. Mengasihi Yohanes dengan segenap hati berarti siap mengalami kepedihan emosional saat kehilangan dirinya, dan keberanian Yesus untuk merangkul rasa sakit itu justru memperluas kapasitas hati-Nya untuk berempati. Secara etimologis, kata belas kasih (compassion) berasal dari akar kata Latin cum (“bersama”) dan passio (“penderitaan”), yang secara harfiah berarti “menderita bersama.” Yesus mampu hadir dan masuk ke dalam penderitaan orang banyak justru karena Ia telah merangkul penderitaan-Nya sendiri. Dengan mengarahkan para murid untuk memberi makan orang banyak, Yesus memperlihatkan potensi transformatif dari sebuah kesedihan: penderitaan tidak seharusnya membuat kita tertutup dan menarik diri, melainkan mendorong kita menuju tindakan kasih dan pelayanan yang nyata.

Setiap dari kita tentu pernah mengalami penderitaan dalam bentuk yang berbeda-beda. Allah mengizinkan kita melewati masa-masa sulit bukan karena Ia senang melihat kita menderita, melainkan karena penderitaan dapat memperbesar kapasitas hati kita untuk mengasihi—terutama kepada mereka yang menanggung beban lebih berat. Di dalam Kristus, setiap bagian hidup yang menyakitkan tidak pernah terbuang sia-sia; semua itu diubah menjadi sarana kasih, pelayanan, dan proses pembentukan kekudusan kita.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bagaimana kita dapat membiarkan kesedihan atau penderitaan pribadi membuka hati kita terhadap penderitaan orang lain, bukannya membuat kita menarik diri? Sumber daya kecil atau “roti dan ikan” apa yang saat ini kita miliki yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan untuk melayani sesama di sekitar kita? Bagaimana kita dapat mengubah pengalaman sulit atau menyakitkan dalam hidup menjadi wujud aktif dari kasih dan belas kasihan kepada orang lain?

Gandum dan Lalang di Hati Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [A]

19 Juli 2026

Matius 13:24-43

Hari ini kita mendengarkan Perumpamaan tentang Gandum dan Lalang. Sebuah hal yang menarik muncul ketika pemilik tanah menyadari bahwa lalang tumbuh berdampingan dengan tanaman yang baik, namun ia justru memilih untuk membiarkan keduanya hidup bersama. Mengapa ia mengambil keputusan demikian?

Ketika para pelayan menyarankan agar lalang segera disingkirkan, pemilik tanah menolaknya karena alasan yang sepenuhnya praktis. Pada tahap awal pertumbuhan, lalang memiliki rupa yang hampir identik dengan gandum yang sehat. Jika para pelayan memaksa untuk mencabuti lalang sebelum waktunya, mereka justru akan keliru mencabut gandum yang baik. Meskipun tindakan ini sangat masuk akal dalam konteks pertanian, Yesus tidak secara eksplisit menjelaskan dalam uraian teologis-Nya mengapa Tuhan tidak langsung menghukum orang-orang yang membawa kejahatan di dalam hati mereka. Kenyataan ini memicu sebuah pertanyaan yang penting: apa alasan spiritual yang lebih dalam sehingga Tuhan mengizinkan orang jahat dan orang benar untuk hidup berdampingan di dunia ini untuk sementara waktu?

Jawabannya berkaitan erat dengan Perumpamaan Penabur yang dikisahkan sebelumnya dalam Matius 13:1-23 (Minggu sebelumnya). Dalam perumpamaan tersebut, Yesus menguraikan empat jenis tanah yang mewakili disposisi atau kondisi hati manusia saat mendengar Firman Tuhan, yaitu jalan setapak, tanah berbatu, tanah berduri, dan tanah subur. Berbeda dengan tanah di dunia nyata yang sifatnya statis, disposisi spiritual hati manusia bersifat dinamis dan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sifat dinamis inilah yang menjadi kunci untuk memahami mengapa Tuhan menunda kehancuran “lalang” rohani. Di dalam hati manusia, baik Sabda Allah dan pengaruh dunia terus-menerus berjuang untuk menguasai tanah kehidupan kita. Ketika menghadapi pengaruh kuasa jahat, manusia memiliki respons yang beragam; sebagian orang mengabaikan kejahatan, sebagian berjuang melawannya, dan sebagian lagi justru menyambutnya hingga berkembang menjadi tindakan berdosa.

Kemampuan manusia untuk berubah secara internal menjelaskan mengapa Yesus memilih untuk membiarkan “lalang” tetap tumbuh di antara gandum daripada menjatuhkan penghakiman instan. Tuhan mengizinkan perjuangan spiritual ini terjadi karena Dia tahu bahwa meskipun sebuah hati sedang dikuasai oleh pengaruh jahat saat ini, kisah hidup manusia tersebut belum berakhir. Melalui kehendak bebas yang rahmat-Nya, seseorang yang saat ini hidup bagaikan “lalang” memiliki kesempatan untuk bertobat, berubah, dan akhirnya bertransformasi menjadi “gandum.” Prinsip ini menjadi kabar baik yang luar biasa bagi kita semua. Sekalipun bisikan roh jahat mencoba menaklukkan hati kita, Allah dengan penuh kesabaran terus memberikan pertolongan-Nya agar kita memiliki kesempatan untuk sembuh dan menghasilkan buah yang baik.

Allah membantu kita melawan benih-benih jahat di dalam hati melalui beberapa cara praktis. Pertama, Dia bekerja melalui Firman-Nya yang telah ditanam di dalam diri kita melalui Kitab Suci, yang tidak hanya menginspirasi kita untuk berbuat baik tetapi juga melatih kita untuk mengenali dan melawan kejahatan. Kedua, Ia mencurahkan rahmat-Nya secara sakramental, terutama melalui Ekaristi yang menyehatkan jiwa dan Sakramen Tobat yang memulihkan hubungan kita dengan-Nya. Ketiga, Allah menyediakan komunitas Kristiani sebagai tempat perlindungan yang vital agar kita dapat menemukan dukungan dan dorongan rohani dari sesama orang percaya. Terakhir, Ia bahkan menggunakan penderitaan dan cobaan hidup sebagai proses “pemangkasan” spiritual untuk membuang hal-hal berbahaya yang melekat pada diri kita, sehingga kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa dalam kita menyelami Kitab Suci sehingga kita dapat dengan jelas membedakan antara benih baik dari Allah dan lalang halus dari musuh dalam kehidupan sehari-hari? Ketika kita mengenali adanya kecenderungan atau kebiasaan buruk yang mulai berakar di dalam hati, apakah kita secara aktif mencari pertolongan melalui sakramen dan komunitas, ataukah kita justru mencoba menghadapi perjuangan tersebut sendirian? Terakhir, bagaimana kita dapat mengubah perspektif hidup agar mampu melihat penderitaan dan cobaan yang terjadi saat ini bukan sebagai bentuk pengabaian dari Allah, melainkan sebagai cara-Nya yang sabar dan penuh kasih untuk memangkas kita agar menjadi pribadi yang lebih berbuah?