Featured

Kisah Yesus dan Kita

Minggu Paskah [A]

5 April 2026

Matius 28:1-10

Kita menyukai cerita, terutama yang penuh dengan drama dan alur cerita yang tak terduga. Oleh karena itu, Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia. Kemudian, di bawah pengaruh Roh Kudus, para murid-Nya menceritakan dan menuliskan kisah hidup Yesus menjadi sebuah cerita, yakni Injil. Kisah-Nya telah menjadi cerita terhebat yang pernah dikisahkan. Namun, mengapa kita suka mendengarkan cerita, dan mengapa cerita tentang Yesus adalah yang terbaik?

Kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berbahasa. Melalui kata-kata, kita tidak hanya berkomunikasi satu sama lain, tetapi juga menemukan makna dan tujuan dalam hidup kita. Pada zaman kuno, orang-orang menceritakan kisah-kisah mitos untuk memahami berbagai fenomena alam seperti hujan, guntur, dan bintang-bintang. Di zaman modern, kita memiliki ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena ini, tetapi jika teori-teori ilmiah ini tidak dijelaskan seperti sebuah cerita yang menarik, kita tidak akan mudah memahaminya dan tidak tertarik untuk mendalaminya.

Kita tidak hanya menggunakan cerita untuk memahami lingkungan sekitar kita, tetapi juga untuk memahami siapa diri kita. Kita secara alami tertarik pada cerita yang baik, entah dalam novel yang ditulis dengan baik, pertunjukan teater yang dikemas dengan apik, atau film atau drama Korea yang diproduksi dengan matang. Kenapa? Karena kita dapat dengan mudah menjadi satu dengan cerita-cerita ini. Cerita yang baik membuat kita tertawa, menangis, bahkan marah, meskipun kita tahu kita sebenarnya bukan bagian dari cerita tersebut. Namun, cerita yang lebih besar adalah yang menjawab makna hidup kita. Kita belajar dari nilai-nilai yang dipegang setiap karakter, kata-kata yang mereka ucapkan, serta tindakan yang mereka lakukan.

Suatu kali, saya memutuskan untuk membaca novel klasik “The Brothers Karamazov” karya Fyodor Dostoyevsky. Awalnya, saya merasa malas saat melihat tebalnya buku itu, lebih dari 800 halaman. Namun, begitu mulai membacanya, saya terhanyut ke dalamnya, bukan hanya karena alur ceritanya yang tak terduga, tetapi juga karena setiap karakter tampak begitu hidup. Saya tertarik pada karakter Alyosha Karamazov, seorang pemuda yang berjuang mencari Tuhan setelah mentor tercintanya, Romo Zosima, meninggal dunia. Dalam pencariannya, dia menemukan kembali romo Zosima di dalam orang-orang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Kembali ke kisah Yesus, alasan mengapa kisah-Nya adalah kisah paling berpengaruh adalah karena kehidupan Yesus dipenuhi dengan alur cerita yang tak terduga: Ia disalibkan, namun bangkit dari kematian; dikhianati, namun kembali dengan kekuatan yang lebih besar; dan dijatuhkan ke tempat terendah, namun kembali dengan kemuliaan. Selain itu, kehidupan dan kata-kata-Nya mengajarkan kita makna terdalam dan tujuan akhir hidup kita. Ajaran-ajaran-Nya seperti berbagai perumpamaan, khotbah di Bukit, dan Hukum Kasih tetap menjadi prinsip-prinsip abadi yang membimbing kita menuju kebahagiaan sejati.

Akhirnya, kisah Yesus adalah kisah terhebat dari semua kisah karena bagi kita yang memiliki iman, kita menjadi bagian dari kisah Yesus, dan kisah-Nya menjadi kenyataan dalam hidup kita. Hidup di dunia ini, kita pasti menanggung rasa sakit dan penderitaan, dan pada akhirnya, kita akan mati. Namun, bagi kita yang setia kepada Yesus, bahkan hal-hal terburuk yang menimpa kita, bahkan kematian sekalipun, tidak akan menjadi akhir dari kita. Yesus yang bangkit telah mengalahkan maut. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan St. Paulus, “Jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa kita juga akan hidup bersama-Nya (Rom 6:8).”

Selamat Paskah!

Leuven
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Air Mata Yesus

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

22 Maret 2026

Yohanes 11:1-45

Minggu Kelima Prapaskah mengungkapkan salah satu momen paling emosional bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Biasanya, Yohanes menggambarkan Yesus sebagai sosok yang khusyuk dan memiliki ketenangan yang agung, jarang mengungkapkan keadaan psikologis batin-Nya. Namun, dalam Bab 11, kita diberi kesempatan untuk melihat sekilas kedalaman kemanusiaan Yesus.

Ketika Yesus tiba di Betania untuk mengunjungi sahabat-Nya, Lazarus, yang baru saja meninggal, saudara perempuan Lazarus, Marta, menyambut-Nya terlebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya tidak akan meninggal. Yesus meyakinkan Marta bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Marta mengakui imannya kepada-Nya, dan sejenak, segalanya tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, Maria datang, dan mengulang kata-kata saudarinya. Namun, ia jatuh di kaki-Nya, menangis bersama mereka yang menyertainya. Yohanes sang Penginjil mencatat bahwa Yesus “sangat terharu” dan “tergerak hati-Nya.” Saat mereka membawa Yesus ke kuburan Lazarus, Ia tak lagi dapat menahan kesedihannya, dan Ia mulai menangis.

Mengapa Yesus menunjukkan emosi yang begitu kuat? Orang-orang Yahudi yang menyaksikan-Nya berkata, “Lihatlah betapa Ia mengasihi Lazarus.” Yesus mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria dengan sangat dalam; saat kehilangan sahabat-Nya, Ia berduka dan menangis. Yesus menunjukkan reaksi manusiawi yang banyak dari kita alami ketika kehilangan seseorang yang kita sayangi. Pertanyaannya adalah: jika Yesus tahu dengan sempurna bahwa Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipenuhi oleh kesedihan?

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam. Secara manusiawi, merasakan kesedihan yang mendalam dan berduka adalah cara alami kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan dari orang yang kita cintai. Tanpa kesedihan ini, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa artinya mencintai dan dicintai—menjaga seseorang yang berharga dan menjadi berharga bagi mereka. Allah, sebagai Pencipta hidup kita, mengetahui dengan baik proses alami ini dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Ia memilih tidak menghilangkan rasa sakit ini, melainkan menguduskannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Meskipun Tuhan tidak akan membangkitkan orang dari kubur setiap hari, Ia meyakinkan kita bahwa Ia berduka dan menangis bersama kita. Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia bukanlah untuk segera menghapus air mata dan penderitaan kita, melainkan untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya, sehingga menjadikannya kudus.

Salah satu momen tersulit dalam hidup saya sebagai imam adalah ketika harus berkhotbah dalam Misa pemakaman. Terkadang, seorang kerabat yang berduka akan bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan mengambilnya sekarang?” Jujur saja, saya tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Saya sering berharap memiliki jawaban yang sempurna, atau bahkan karunia untuk membangkitkan orang mati. Namun, saya perlahan menyadari bahwa kehadiran saya di sana bukanlah untuk menyelesaikan masalah mereka atau menghapus kehilangan mendalam mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk berduka bersama mereka, dan, melalui Ekaristi, untuk membawa Yesus ke dalam dukacita mereka. Ketika kita memiliki Yesus bersama kita, bahkan dalam momen-momen paling menyakitkan dalam hidup kita, kita dapat mempersembahkan dukacita kita kepada Allah sebagai persembahan yang berkenan dan suci.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana mengetahui bahwa Yesus menangis untuk sahabat-Nya mengubah cara kita memandang momen-momen duka dan kerentanan kita sendiri? Jika duka yang mendalam adalah cerminan alami dari cinta yang mendalam, bagaimana kita dapat mengundang Tuhan untuk hadir dalam—dan menguduskan—kehilangan yang menyakitkan dalam hidup kita sendiri? Bagaimana kita dapat menawarkan kehadiran yang menghibur dan menyerupai Kristus kepada kerabat atau teman yang sedang berduka?

Raja Daud

Minggu Keempat Prapaskah [A]

15 Maret 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Dalam perjalanan kita bersama tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama, Minggu Keempat Prapaskah membawa kita kepada Raja Daud.

Daud tanpa diragukan lagi merupakan salah satu tokoh paling penting dalam Alkitab. Ia adalah seorang prajurit cerdik yang mengalahkan Goliat yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman dengan sebongkah batu dari ketepel (1 Sam 17:45-47). Sebagai seorang militer yang brilian, ia menang dalam hampir setiap pertempuran (2 Sam 8:6), dan sebagai seorang negarawan karismatik, ia berhasil menyatukan dua belas suku Israel (2 Sam 5). Selain itu, Daud menunjukkan belas kasih yang mendalam, dengan menolak untuk menyakiti Raja Saul meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya (1 Sam 24:6). Akhirnya, kita mengingatnya sebagai “sang pujangga Israel,” yang mazmur-mazmurnya (seperti 23 dan 51) kita terus daraskan hingga hari ini.

Namun, meskipun memiliki prestasi yang tak tertandingi, kisah Daud dimulai dengan awal yang sederhana. Sebagai anak bungsu dari Yesse di desa kecil Bethlehem, Daud awalnya diabaikan oleh Samuel, sang nabi. Mata manusia Samuel tertuju pada saudara-saudara Daud yang lebih tua, yang memiliki postur fisik yang lebih gagah dan pengalaman militer. Namun, Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia; Dia memilih anak gembala yang belum berpengalaman. Setelah diurapi, Roh Tuhan turun atas Daud (1 Sam 16:13), dan sejak saat itu, kesuksesannya menjadi bukti penyertaan Allah.

Sayangnya, rangkaian kesuksesan Daud akhirnya melahirkan kesombongan di hatinya. Ia mulai percaya bahwa dirinya tak terkalahkan, bertindak seolah-olah ia berada di atas semua orang. Kesombongan ini membawa ia ke dalam dosa percabulan dengan Batsheba dan pembunuhan terencana terhadap suaminya, Uriah (2 Sam 11). Nabi Natan pun harus sampai datang dan menegur Daud dengan keras. Kemudian, Daud kembali berbuat salah dengan mengadakan sensus—mungkin untuk mengukur kekuatan militernya sendiri daripada mempercayai perlindungan ilahi. Tindakan kesombongan ini melupakan bahwa kemenangan datang dari Tuhan saja, yang mengakibatkan hukuman ilahi (2 Sam 24). Namun, dalam kedua kasus tersebut, kasih Daud yang mendalam kepada Tuhan terungkap melalui penyesalannya yang tulus, mengakui asal-usulnya yang bukan siapa-siapa. Sayangnya, sebagai raja, dosa pribadinya membawa konsekuensi buruk bagi keluarganya dan bangsa.

Kehidupan Daud memberikan pelajaran rohani yang penting bagi kita. Seperti dia, kita semua memulai dari tempat yang rendah dan lemah. Setiap “kesuksesan” yang kita capai—baik itu peningkatan profesional, kesehatan fisik, atau relasi yang harmonis—pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Pelayanan kita dan buah-buah doa kita adalah gerakan Roh Kudus, bukan sebuah medali pribadi.

Namun, kesombongan seringkali meracuni hati. Kita mulai mengklaim kesuksesan kita sebagai hasil dari “kejeniusan” atau usaha kita sendiri, memegang erat pencapaian kita, dan menuntut pengakuan dari orang lain. Inilah ambang kehancuran kita. Ketika kita fokus hanya untuk mempertahankan status kita, kita menjadi lumpuh karena takut akan kegagalan dan penderitaan. Kita tidak mampu lagi bersyukur dan menggantinya dengan keluhan dan kepahitan. Kita bahkan mungkin memanipulasi orang lain untuk mempertahankan citra kesuksesan kita, yang justru membawa kita pada penderitaan rohani dan kesedihan hidup.

Seperti Daud, kita diingatkan bahwa hanya pertobatan yang sejati yang dapat memulihkan orientasi kita kepada Tuhan, yang merupakan satu-satunya pencipta segala kebaikan dalam hidup kita. Hanya ketika kita mengingat awal kita yang rendah dan mengakui peran Allah dalam hidup kita, kita menemukan kebahagiaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana Allah membawa kita ke tempat yang tinggi dari awal yang rendah? Ketika kita mengalami “kesuksesan” dalam karier, keluarga, atau pelayanan, apakah kita secara naluriah mengucapkan syukur, atau apakah kita mulai mengandalkan “kejeniusan” kita sendiri? Ketika kita menghadapi kegagalan dan penderitaan, apakah kita mencoba menyembunyikannya, atau apakah kita memiliki keberanian untuk membiarkan Allah menegur dan memulihkan kita?

Musa dan Air Keselamatan

Minggu Ketiga Prapaskah [A]

8 Maret 2026

Keluaran 17:3–7

Pada Minggu-minggu sebelumnya, kita telah bertemu dengan Adam dan Hawa, orang tua pertama kita, dan juga Abraham, bapa orang iman. Pada Minggu ini, kita beralih pada kisah Musa dan bangsa Israel. Kali ini, kita akan fokus pada sebuah unsur yang menghubungkan hidup dan kematian Musa dalam rencana Allah, yakni air.

Ditarik dari Sungai

Cerita hidup Musa dimulai dari “air”. Musa lahir saat bayi-bayi laki-laki Ibrani dicari dan dihabisi. Oleh karena itu, ibunya terpaksa menaruhnya di atas keranjang papirus dan meletakannya di Sungai Nil. Ketika putri Firaun menemukan bayi ini dan merasa iba, ia mengadopsinya dan memberinya nama Mesir “Musa.” Namun, Kitab Keluaran memberikan makna Ibrani yang lebih dalam pada nama tersebut: “Aku menariknya dari air.”

Sumur di Padang Midian

Setelah Musa membunuh seorang Mesir dan melarikan diri ke Midian, air kembali menjadi titik balik dalam hidupnya. Di sebuah sumur, ia membela putri-putri Rehuel, seorang imam Midian, dari para gembala yang mengganggu dan membantu mereka mengambil air. Pertemuan ini mengarah pada pernikahannya dengan salah satu putri tersebut, Zipporah (Kel 2:16–25).

Sungai Nil dan Laut Merah

Bertahun-tahun kemudian, Tuhan memanggil Musa kembali ke Mesir untuk membebaskan umat-Nya. Ketika Firaun dengan keras kepala menolak untuk membebaskan orang Israel, Tuhan mengirimkan sepuluh tulah. Air kembali menjadi titik awal dan akhir dari pembebasan Israel. Tulah pertama mengubah air Sungai Nil menjadi darah (Kel 7:14–25). Dan puncaknya adalah mukjizat paling agung yang terjadi di Laut Merah. Tuhan membelah air, dan memungkinkan orang Israel melewati daratan kering dan membebaskan diri dari tentara Firaun untuk selamanya (Kel 14).

Air dari Batu

Keajaiban yang melibatkan air terus berlanjut di padang gurun. Di Marah, airnya begitu pahit sehingga orang-orang mengeluh kepada Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk melemparkan sepotong kayu ke dalam air, yang secara ajaib membuatnya menjadi layak minum (Kel 15:22–27). Kemudian, di Rephidim, orang-orang kembali kehabisan air. Dalam kekeringan dan kemarahan mereka, mereka bertengkar dengan Musa. Tuhan memerintahkan Musa untuk memukul batu di Gunung Horeb dengan tongkatnya, dan air pun memancar untuk menopang orang-orang (Kel 17:1–7).

Ketidaktaatan dan Tanah Perjanjian

Beberapa tahun kemudian, kejadian serupa terjadi di Gurun Zin. Ketika orang-orang meminta air, Tuhan memerintahkan Musa untuk “berbicara” kepada batu karang. Namun, karena diliputi amarah, Musa memukul batu itu dua kali. Meskipun air masih memancar untuk menolong orang-orang, ketidaktaatan Musa membuat Tuhan tidak senang. Akibatnya, ia tidak diperbolehkan masuk ke Tanah Terjanji (Bil 20:1–13). Akhirnya, ketika Musa mendekati kematian di Gunung Nebo, Tuhan memperlihatkan kepadanya sekilas Tanah Terjanji yang dibatasi oleh Sungai Yordan (Ul 34).

Air dan Umat Beriman

Kisah Musa mengingatkan kita bahwa Allah menggunakan ciptaan-Nya yang menurut kita adalah hal biasa, seperti air, sebagai sarana rahmat-Nya. Melalui Kristus, kita menerima mukjizat yang lebih besar daripada mukjizat Laut Merah, yakni air Pembaptisan. Sama seperti Musa ditarik dari air dan diselamatkan dari bahaya, kita ditarik dari air Baptisan untuk menjadi ciptaan baru, terbebas dari dosa.

Namun, kisah Musa juga menjadi peringatan. Sama seperti ia gagal masuk ke Tanah Terjanji di bumi karena kelalaian dalam ketaatan, kita harus tetap waspada. Kita dipanggil untuk bertobat, hidup sesuai janji Baptisan kita, dan melakukan perbuatan yang berkenan kepada Tuhan agar suatu hari kita dapat masuk ke Tanah Terjanji yang sejati dan kekal.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Ketika kita menghadapi masa-masa “kering” atau sulit dalam hidup kita, apakah kita cenderung mengeluh, atau apakah kita mencari Tuhan? Apakah ada area tertentu dalam hidup kita di mana kita kesulitan untuk sepenuhnya taat pada Tuhan? Dengan melihat kembali hidup kita, apakah kita dapat mengidentifikasi momen ketika Tuhan menyelamatkan kita dari situasi sulit atau menarik kita keluar dari krisis?

Abraham, Bapa Iman

Minggu Kedua Prapaskah [A]

1 Maret 2026

Gen 12:1-4

Bacaan pertama pada Minggu Prapaskah memberikan kita gambaran kecil tentang sejarah keselamatan, terutama dalam Perjanjian Lama. Minggu lalu, kita bertemu dengan Adam dan Hawa, merenungkan kisah penciptaan mereka dan kejatuhan mereka dalam dosa. Hari ini, kita bertemu dengan Abraham, sang Bapa Bangsa pertama. Tapi mengapa Abraham?

Nama asli Abraham adalah Abram, yang berarti “bapak yang mulia.” Selama sebagian besar hidupnya, nama ini menjadi sumber ironi, bahkan mungkin ejekan, karena ia sudah tua dan tidak memiliki anak. Bagaimana ia bisa menjadi “bapak yang mulia” tanpa anak untuk memuliakannya? Saat itulah Tuhan hadir kepada Abram. Pada usia tujuh puluh lima tahun, ia menerima perintah yang mengejutkan: tinggalkan tanah airnya untuk tempat antah berantah. Bersama perintah ini datang juga janji: ia akan menjadi bapak banyak bangsa, dan melalui dia, berkat-berkat hadir.

Pada pandangan pertama, panggilan ini mungkin tampak seperti lelucon kejam dalam hidup Abram. Meskipun tidak memiliki anak, setidaknya ia hidup nyaman di antara sanak saudaranya dan akan mati di tanah airnya di bawah perlindungan “dewa-dewa” yang sangat dia kenal. Namun, Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyamannya dan ke wilayah yang tidak dikenal, di mana bahaya dan penderitaan mengintai. Kita tidak tahu persis apa yang ada di pikiran Abram, tetapi kita tahu tindakannya: ia memilih untuk mempercayai Tuhan yang hampir tidak ia kenal dan mempertaruhkan hidup dan masa depannya. Sanak kerabatnya mungkin menganggapnya gila atau sudah pikun. Namun, keputusannya ini tidak hanya akan mengubah hidupnya tetapi juga mengubah masa depan umat manusia.

Mengikuti Tuhan tidak selalu mudah. Meskipun Abram diberkati dengan kekayaan besar, ternak yang melimpah, dan ratusan pengikut, bahkan mengalahkan empat raja dengan 318 prajurit terlatihnya (Kej 14), ia masih belum memiliki keturunan yang dijanjikan. Ketika ia berusia 99 tahun, Tuhan mengubah namanya menjadi Abraham, yang berarti “bapak banyak bangsa.” Namun, ia terus menanti satu hal yang akan menjadikan gelar itu nyata. Akhirnya, ketika Abraham berusia 100 tahun, Sarah melahirkan Ishak (Kej 21:5).

Namun, cerita ini tidak berakhir dengan “happy ever after.” Tuhan akhirnya meminta sesuatu yang tak terbayangkan: agar Abraham mengorbankan putranya, Ishak (Kejadian 22). Sama seperti ia taat di awal, Abraham taat juga sekarang. Untungnya, malaikat mencegah dia menyakiti Ishak, dan Tuhan memberkati Abraham lebih lagi karena kesetiaannya.

Abraham meninggal pada usia 175 tahun. Meskipun dia memiliki anak-anak lain, satu melalui Hagar dan enam melalui Keturah, jumlah mereka tetap tidak bisa disebut sebagai “banyak bangsa.” Abraham menutup mata tanpa melihat sepenuhnya bangsa-bangsa tersebut, namun dia tidak mengeluh atau menjadi pahit. Abraham tidak sempurna. Pada suatu saat, ia berbohong kepada Firaun dan bertindak pengecut dengan menyerahkan istrinya, Sarah, kepada Raja Mesir (Kej 12:10-20). Namun, meskipun memiliki kelemahan, ia tetap percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Dari Abraham lahir bangsa Israel, dan dari bangsa Israel, kita menerima Yesus, sang Mesias dan Juruselamat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam hidup kita saat ini, apa “tanah air” atau zona nyaman yang mungkin Allah minta kita tinggalkan untuk mengikuti-Nya dengan lebih penuh? Pernahkah kita merasa bahwa janji-janji Allah untuk hidup kita bertentangan dengan kenyataan saat ini? Bagaimana kita mempertahankan harapan ketika keadaan kita menguji iman kita? Bagaimana mengetahui bahwa Allah menggunakan orang-orang yang tidak sempurna dan bercacat, mengubah cara kita memandang kesalahan dan kelemahan kita sendiri?

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Yesus dan Hukum

Minggu Biasa Keenam [A]

15 Februari 2026

Matius 5:17-37

Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Hukum, bukan untuk menghapusnya. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Mengapa Hukum di Perjanjian Lama begitu penting sehingga Yesus sendiri seperti terikat untuk menggenapinya?”

Kita sering memandang hukum dan peraturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan kita dan membatasi gerak kita, sesuatu yang dipaksakan dari luar. Namun, ketika kita melihat gambaran yang lebih besar, kita menyadari bahwa hukum merupakan bagian integral dari semua komunitas manusia. Bahkan dalam konteks yang paling kecil sekalipun, seperti keluarga, anak-anak menaati perintah orang tua mereka, meskipun seringkali tidak tertulis. Tentu saja, semakin besar dan kompleks suatu masyarakat, semakin besar dan rumit pula sistem hukum yang diperlukan.

Hukum diperlukan tepatnya karena hal ini menjamin kebaikan bersama. Dengan memberi insentif kepada mereka yang berkontribusi pada komunitas dan menghukum mereka yang merugikannya, hukum memastikan komunitas berfungsi dengan baik dan menghasilkan kemakmuran bersama. Sama seperti kita menggunakan akal budi kita untuk mengendalikan nafsu dan mengatur diri kita menuju pertumbuhan pribadi yang sejati, kita menciptakan hukum untuk mengendalikan perilaku kolektif kita yang merugikan dan mengarahkan masyarakat kita menuju kemajuan. Hukum bukanlah sekadar paksaan eksternal; namun, hal ini adalah produk dari akal budi manusia yang dirancang untuk membantu kita hidup lebih baik.

Kita juga dapat memandang hukum sebagai alat untuk membantu kita “menjinakkan” diri kita sendiri. Sama seperti kita menjinakkan serigala untuk mengubahnya menjadi anjing—menjinakkan sifat liar mereka agar menjadi teman yang berguna—demikian pula kita menundukkan sifat agresif dan kekerasan kita dengan bantuan aturan hukum untuk menjadikan diri kita individu yang lebih dewasa.

Hal ini membawa kita kembali kepada Yesus. Akal budi manusia tidak sempurna dan oleh karena itu menciptakan hukum-hukum yang bisa salah, sementara akal budi Allah sempurna dan menciptakan hukum-hukum yang tidak dapat salah (Mz 19:7). Itulah mengapa Yesus dengan jelas mengungkapkan tujuan-Nya: untuk memenuhi hukum-hukum Allah, bukan untuk menghilangkannya. Jika hukum-hukum manusia dirancang untuk membentuk kita menjadi anggota masyarakat yang lebih baik, maka hukum-hukum Allah dirancang untuk membentuk kita menjadi pria dan wanita yang sempurna, siap untuk Kerajaan Surga.

Namun, Yesus juga menyadari bahwa beberapa peraturan dalam Perjanjian Lama ditujukan secara khusus kepada orang Israel kuno, bukan kepada semua orang di semua zaman. Faktanya, beberapa hukum, seperti peraturan tentang perceraian (Mat 5:31), jelas dibuat karena “kerasnya hati manusia.”

Oleh karena itu, menaati Hukum tidak berarti Yesus sekadar menyetujui semua peraturan di Perjanjian Lama. Sebaliknya, Dia memurnikan dan mengajarkan kembali peraturan-peraturan tersebut dengan lebih jelas, khususnya mengungkapkan “hati” dari hukum-hukum itu sendiri. Misalnya, ketika Yesus mengukuhkan kembali Sepuluh Perintah Allah, Dia menunjuk pada kebenaran bahwa pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama manusia berakar pada amarah yang ada di dalam hati kita. Kecuali kita mampu mengendalikan amarah di hati, kita akan terus menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran hidup mereka (Mat 5:21-22).

Pada akhirnya, Yesus menunjukkan bahwa Hukum bukanlah sekumpulan aturan yang kaku, tetapi jalan menuju kedewasaan rohani dan transformasi batin. Dengan memenuhi Hukum Allah, Dia mengundang kita untuk melampaui ketaatan external semata dan sebaliknya membentuk hati yang selaras dengan kasih sempurna Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya memandang perintah Allah sebagai beban yang membatasi kebebasan saya, atau sebagai jalan kasih yang dirancang untuk pertumbuhan dan kebahagiaan sejati saya? Yesus mengajarkan bahwa kekerasan bermula dari dalam; amarah atau dendam tersembunyi apa yang saya simpan yang menghalangi saya memiliki hati yang benar-benar murni? Apakah saya hanya mengikuti aturan untuk terlihat “baik” di luar, atau apakah saya membiarkan Hukum Allah menaklukkan sifat saya dan mengubah saya untuk Kerajaan-Nya?

Pemurnian Hati

Minggu Biasa Kelima [A]

8 Februari 2026

Matius 5:13-16

Dalam kelanjutan Khotbah di Bukit, Yesus mengungkapkan identitas kita sebagai “terang dunia.” Sebagai terang, kita harus bersinar dan terlihat oleh orang lain. Menariknya, hanya satu bab setelah pengajaran ini, Yesus memberi perintah kepada pendengarnya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Sepertinya Yesus mengajarkan dua hal yang saling bertentangan. Bagaimana kita memahami hal ini?

Meskipun perintah-perintah ini tampak bertentangan, pada dasarnya mereka saling melengkapi. Jembatan antara kedua pernyataan ini adalah “niat” kita. Apakah tindakan baik atau keagamaan yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan atau sekadar mencari kemuliaan pribadi? Jika kita melakukan perbuatan yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, tindakan-tindakan ini kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Namun, jika kita dengan tulus ingin membawa orang kepada Allah, usaha kita benar-benar akan berkenan bagi Allah.

Mengenali niat atau intensi di balik tindakan-tindakan kita sejati bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan dan memikirkan secara mendalam tentang tindakan kita serta motivasi di baliknya. Dalam tradisi Katolik, proses spiritual ini disebut “discernment” (pembedaan roh); dalam tradisi Dominikan, hal ini merupakan bagian penting dari kontemplasi. Dalam istilah ilmiah modern, ini disebut meta-kognisi atau proses “berpikir tentang berpikir.”

Untuk mempraktikkan “discernment” ini, kita dapat mengikuti tiga langkah sederhana:

  1. Memohon keutamaan Kerendahan Hati. Kemampuan untuk mengenali niat terdalam kita dimulai dengan rahmat Allah yang melembutkan hati kita. Tanpa kerendahan hati, kita mungkin tidak pernah mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dengan tindakan-tindakan kita. Kerendahan hati memberdayakan kita untuk menghadapi bagian-bagian yang belum sempurna dari kemanusiaan kita dengan penyesalan, yang mengarahkan kita pada pertobatan. Kerendahan hati bertindak sebagai “sensor,” mendeteksi motif tersembunyi yang berasal dari kesombongan atau kepentingan diri sendiri.
  2. Bertanya pertanyaan sulit dan memperhatikan reaksi emosional kita. Saat discernment, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya?” Jika jawabannya ya, niat kita mungkin masih bersifat egois. Pertanyaan penting lainnya adalah: “Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya merasa sangat sakit hati atau dendam?” Reaksi semacam ini sering kali menunjukkan keterikatan yang tidak sehat, dan kita cenderung memandang karya baik tersebut sebagai “milik kita” daripada “milik Tuhan.”
  3. Meminta permurnian niat. Setelah kita menyadari motivasi batin kita, kita tidak boleh putus asa atau berhenti berbuat baik. Ini juga godaan dari sang jahat untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Meskipun niat kita tercampur dengan keinginan egois, rahmat Allah terus bekerja untuk menyucikan kita. Untuk memurnikan hati kita, ada beberapa hal praktis yang bisa kita lakukan:
  • Belajar bersyukur. Bersyukurlah atas setiap kesempatan untuk berbuat baik, baik karya besar maupun kecil, sukses maupun gagal.
  • Alihkan pujian: Ketika orang lain menghargai perbuatan Anda, ajaklah mereka untuk bersyukur kepada Tuhan bersama Anda.
  • Terima kritik: Bersyukurlah kepada mereka yang mengkritik Anda, karena mereka dapat menjadi alat permurnian rohani Anda.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa saja perbuatan baik yang saya lakukan untuk keluarga, komunitas, dan Gereja? Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya? Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya akan merasa sangat sakit hati atau dendam? Apakah saya memprioritaskan pelayanan ini lebih dari keluarga saya?

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?