Makna Kekudusan

Hari Raya Para Kudus

1 November 2026

Matius 5:1-12

Hari ini, kita merayakan Hari Raya Semua Orang Kudus. Orang-orang kudus adalah mereka yang telah mendahului kita dan kini hidup bersama Allah di surga. Beberapa di antara mereka mungkin kita kenal dengan baik, seperti Santo Fransiskus dari Assisi, Santo Padre Pio, dan Santa Katarina dari Siena; namun, ada jutaan orang kudus lain yang tidak kita kenal, yang terus mendoakan kita. Kata “kudus” sendiri berhubungan dengan kata Ibrani “kadosh”. Namun, pertanyaannya, mengapa mereka yang berada di surga disebut kudus, dan apa sebenarnya arti menjadi kudus itu?

Sering kali, kita mengaitkan kekudusan dengan kebaikan moral, keindahan estetis, atau kesalehan religius. Meskipun kaitan-kaitan tersebut benar, hal itu belum sepenuhnya mencakup pemahaman alkitabiah mengenai konsep kekudusan. Dalam bahasa Ibrani, kata untuk kudus adalah kadosh, yang terutama berkaitan dengan Allah sendiri. Karena Allah sebagai Pencipta pada dasarnya berbeda dari seluruh ciptaan, kekudusan merujuk pada keadaan-Nya yang terpisah dari segala sesuatu yang lain. Kuasa, keagungan, dan kemuliaan-Nya berada jauh melampaui makhluk ciptaan mana pun.

Di antara berbagai sifat Allah, kekudusan tampak sangat menonjol dalam Kitab Suci. Pertama, “kudus” adalah satu-satunya sifat Allah yang diulang tiga kali secara berturut-turut dalam Kitab Suci: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam…” (Yes 6:3; Wahyu 4:8). Dalam bahasa Ibrani kuno, pengulangan sebuah kata sebanyak tiga kali merupakan bentuk penekanan tertinggi dan bahkan mutlak. Alkitab tidak pernah mengatakan “Allah adalah kasih, kasih, kasih” atau “Allah adalah kuasa, kuasa, kuasa.” Kedua, karena kadosh berarti “dipisahkan” atau “menjadi milik Allah secara khusus,” maka kekudusan menjadi sifat yang melandasi semua sifat Allah lainnya. Kasih-Nya adalah kasih yang kudus, keadilan-Nya adalah keadilan yang kudus, dan kuasa-Nya adalah kuasa yang kudus.

Meskipun kekudusan menunjukkan perbedaan mutlak antara Allah dan kita, kabar baiknya adalah Allah kita bukanlah Allah yang jauh atau terisolasi. Ia berkehendak untuk membagikan kemuliaan dan kebaikan-Nya kepada ciptaan-Nya, dan salah satu cara mendasar bagi-Nya untuk mencapai tujuan ini adalah dengan menjadikan makhluk ciptaan-Nya kudus. Proses ini disebut pengudusan (kadang juga disebut konsekrasi), di mana kita dipisahkan dari dunia untuk menjadi milik Allah sepenuhnya.

Pemahaman mengenai kekudusan ini sanggatlah penting. Para kudus berada di surga bukan karena mereka secara alami lebih baik, lebih benar secara moral, atau lebih saleh daripada orang lain. Para kudus berada di surga karena Allah yang Mahakudus memanggil mereka untuk ambil bagian dalam kekudusan dan sukacita-Nya, serta menguduskan mereka melalui rahmat-Nya. Pada saat yang sama, para kudus tidak sekadar menerima rahmat ini secara pasif lalu berdiam diri. Mereka secara aktif menyambut panggilan tersebut dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah.

Kita pun dipanggil untuk menjadi kudus. Faktanya, tujuan akhir kita hanya memiliki dua kemungkinan: menjadi orang kudus dan hidup bersama Allah, atau menolak kekudusan dan tetap terpisah dari-Nya. Karena telah dikuduskan melalui baptisan, kita tidak boleh tinggal diam, melainkan harus hidup secara aktif bagi Allah, sebagaimana telah diteladankan oleh para kudus di surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Manila

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimanakah kita secara aktif membiarkan kasih karunia Allah memisahkan kita dari dunia dan mengubah kehidupan kita sehari-hari? Dalam hal apa kita masih sering terjebak mengukur kehidupan rohani hanya berdasarkan usaha moral pribadi, alih-alih bersandar pada panggilan kudus Allah? Langkah nyata apa yang dapat kita ambil hari ini untuk berhenti berdiam diri dan lebih sungguh-sungguh menghidupi panggilan baptisan kita menjadi orang kudus?

Perintah Ketiga

Minggu Ketiga Puluh dalam Masa Biasa [A]

25 Oktober 2026

Matius 22:34-40

Yesus mengajarkan dua perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi kita, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat 22:37–39). Namun, tersirat di dalam perintah kedua tersebut sebuah kebenaran yang sangat penting, yakni supaya dapat mengasihi orang lain secara benar, kita harus terlebih dahulu mengasihi diri sendiri. Dalam pengertian inilah, kasih yang benar terhadap diri sendiri berfungsi sebagai perintah utama yang ketiga. Namun, apa sebenarnya arti mengasihi diri sendiri, dan apakah kita sudah tahu cara melakukannya dengan benar?

Santo Thomas Aquinas mendefinisikan kasih sebagai kehendak untuk mengusahakan kebaikan bagi orang lain (Summa Theologiae, I-II, q. 26, a. 4). Definisi ini berlaku juga bagi diri kita sendiri: kasih terhadap diri sendiri adalah kehendak untuk mengusahakan kebaikan sejati bagi diri kita sendiri. Keinginan mendasar untuk hidup dan menjaga kesejahteraan diri merupakan bukti nyata dari kasih untuk diri sendiri. Aquinas menekankan bahwa kasih bukan sekadar perasaan, melainkan sebuah tindakan kehendak—sebuah komitmen yang teguh untuk bertindak. Berolahraga secara teratur, mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat yang cukup merupakan bentuk nyata dari kasih terhadap diri sendiri karena semua itu meningkatkan kesejahteraan fisik kita. Bahkan ketika rasa malas muncul, kita perlu menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih tindakan-tindakan ini demi kebaikan diri sendiri.

Karena manusia lebih dari sekadar makhluk biologis, pola makan yang sehat dan olahraga baru memenuhi satu aspek dari kodrat kita. Sebagai makhluk berakal budi yang diciptakan oleh Allah, kita memiliki kapasitas untuk membangun masa depan yang bermakna. Kita menginvestasikan waktu bertahun-tahun dan sumber daya yang besar dalam pendidikan karena kita menyadari bahwa pertumbuhan intelektual memungkinkan kita untuk memperbaiki karakter dan menjalani hidup yang lebih bernilai. Oleh karena itu, mencari pengetahuan dan mengembangkan diri merupakan ekspresi otentik lainnya dari kasih terhadap diri sendiri.

Namun, pada tingkat yang paling mendasar, kita tidak hanya terdiri dari tubuh, melainkan juga jiwa yang kekal. Akibatnya, kebaikan tertinggi kita tidak terletak di dunia yang fana ini, melainkan dalam kehidupan kekal bersama Allah. Mengasihi diri sendiri berarti menghargai martabat luhur kita ini dengan menyadari bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:27) serta diciptakan untuk kekekalan. Kita juga perlu menolak apa pun yang merendahkan martabat tersebut.

Sebaliknya, terlalu terpaku pada keinginan duniawi—seperti kekayaan, ketenaran, kesenangan jasmani, atau kesombongan—hingga merugikan orang lain, merusak lingkungan, atau mengorbankan integritas moral kita merupakan penyimpangan dari kasih terhadap diri sendiri. Sungguh tidak bijaksana menukar kebaikan abadi dengan hal-hal yang bersifat sementara, atau mengorbankan hubungan kita dengan Allah demi kesenangan duniawi yang sesaat.

Oleh karena itu, memelihara dan melindungi jiwa melalui praktik-praktik rohani bukanlah hal sekunder, melainkan kebutuhan yang sangat penting. Ekaristi bukanlah sekadar tradisi keluarga yang rutin atau kewajiban yang dipaksakan, melainkan santapan rohani yang sejati bagi jiwa kita. Doa jauh lebih dari sekadar tanda salib yang tergesa-gesa sebelum makan; doa adalah persekutuan yang hidup dengan Allah yang menjadi napas bagi jiwa kita. Demikian pula, Sakramen Tobat bukanlah sekadar mencari-cari kesalahan, melainkan sarana penyembuhan bagi jiwa kita yang terluka.

Pada akhirnya, kasih yang benar terhadap diri sendiri menjadi fondasi yang penting untuk mengasihi sesama. Tanpa memahami apa yang benar-benar baik bagi kesejahteraan fisik dan rohani kita sendiri, kita tidak akan dapat mengusahakan kebaikan sejati bagi orang lain secara efektif. Kasih yang benar terhadap diri sendiri ini juga menuntun kita secara langsung kepada kasih Allah, di mana kebaikan kita yang tertinggi dan utama terpenuhi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita mempraktikkan kasih yang benar terhadap diri sendiri dengan menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan rohani kita, ataukah kita puas hanya dengan kepuasan duniawi yang sementara? Seberapa efektifkah kita memanfaatkan kebiasaan sehari-hari, doa, dan sakramen untuk menyegarkan jiwa serta mempersiapkan diri bagi kehidupan kekal? Dengan cara apa kasih yang lebih dalam dan sehat terhadap diri sendiri dapat mengubah cara kita mengasihi sesama dan Allah?

Pajak dan Kemunafikan

Hari Minggu Biasa ke-29 [A]

18 Oktober 2026

Matius 22:15-21

Pajak tetap menjadi topik yang sangat sensitif dan hangat bagi banyak orang, namun pada zaman Yesus, masalah ini bahkan jauh lebih memecah belah.

Ketika Yesus hidup di bumi, Yudea berada di bawah pendudukan Romawi yang mengharuskan orang-orang Yahudi—sebagai rakyat kaisar Romawi—membayar pajak yang sangat berat. Kehidupan saat itu sudah sulit, dan beban pajak ini membuat kelangsungan hidup sehari-hari menjadi hampir tak tertahankan. Hal yang membuat pajak ini semakin sulit diterima oleh orang Yahudi adalah kenyataan bahwa uang mereka digunakan untuk membiayai tentara Romawi, yang pada gilirannya mempertahankan pendudukan Romawi atas Yudea. Selain itu, masalah pajak bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan juga masalah keagamaan yang mendalam. Koin Romawi dihiasi dengan gambar kaisar Romawi yang dipuja sebagai dewa. Oleh karena itu, membayar pajak dengan koin-koin tersebut menimbulkan persoalan penyembahan berhala. Namun, Kekaisaran Romawi tidak pernah kekurangan pendukung lokal. Kelompok utamanya adalah kaum Herodian—sekutu dan pendukung dinasti Herodes—yang melayani Romawi sebagai penguasa lokal di Yudea.

Akibat iklim politik ini, persoalan pajak menjadi jebakan yang hampir tak terelakkan bagi Yesus. Jika Ia menolak membayar pajak, Ia akan mendapat dukungan dari mayoritas orang Yahudi, namun kaum Herodian akan memandang-Nya sebagai guru yang berbahaya dan seorang pemberontak. Di sisi lain, jika Yesus menyetujui bahwa membayar pajak itu sah, orang-orang Farisi dan banyak orang Yahudi lainnya akan menganggap-Nya sebagai pengkhianat, kolaborator Romawi, dan bahkan penyembah berhala. Kita tentu mengenal baik jawaban ikonik Yesus: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.” Namun, sebelum menyampaikan pernyataan terkenal itu, Yesus bertanya, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?” Apa sebenarnya yang munafik dari pertanyaan orang-orang Farisi tersebut?

Pertama, sebagian besar ahli Taurat dari golongan Farisi dan para pemimpin agama Yahudi sebenarnya tidak menganjurkan pemberontakan terbuka, melainkan lebih memilih kepatuhan yang pragmatis. Akibatnya, mereka tetap membayar pajak kepada Kekaisaran Romawi selama pihak Romawi tidak memaksa mereka melanggar Taurat. Dalam praktiknya, pragmatisme politik mereka bahkan lebih diutamakan daripada kekhawatiran mereka mengenai penyembahan berhala. Kedua, orang Yahudi membayar pajak tidak hanya kepada orang Romawi, tetapi juga kepada Bait Allah—sebuah kewajiban keagamaan yang diatur dalam Keluaran 30:11-16. Kaum Farisi tidak mempermasalahkan pajak Bait Allah ini, kemungkinan besar karena mereka menganggapnya sebagai kewajiban keagamaan yang sangat vital. Namun, ada masalah yang lebih mendalam di balik hal tersebut. Pada masa itu, orang Yahudi membayar pajak Bait Allah menggunakan mata uang Tirus, bukan mata uang Romawi. Sayangnya, mata uang Tirus juga memuat gambar dewa pagan. Meskipun demikian, demi pragmatisme, kaum Farisi tetap menerima penggunaan mata uang Tirus tersebut untuk menghindari konflik dengan otoritas Bait Allah.

Jika dipahami dalam konteks sejarah ini, jawaban Yesus menyingkapkan kemunafikan yang mendalam dari kaum Farisi. Jika mereka bersedia membayar pajak kepada Kaisar karena mata uang tersebut memuat gambar Kaisar, maka mereka seharusnya juga memenuhi kewajiban mereka kepada Tuhan tanpa bergantung pada mata uang yang berbau penyembahan berhala. Namun, kaum Farisi—yang mengaku sebagai penjaga ketat iman Yahudi—justru tunduk pada pragmatisme dan membiarkan mata uang bergambar pagan masuk ke dalam tempat kudus.

Kisah ini menyingkapkan bahaya kemunafikan dan pragmatisme dalam kehidupan kita saat ini. Kita mungkin pergi ke gereja setiap hari Minggu, namun membiarkan perilaku yang merusak mendominasi keluarga, tempat kerja, dan komunitas kita. Kita mungkin tampak saleh di paroki, namun bertindak seolah-olah kita tidak mengenal Allah dalam urusan bisnis kita. Kita mungkin melayani dalam Misa, namun tetap bergosip, memfitnah, dan menikam dari belakang sesama kita.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita menerapkan standar moral dan spiritual yang sama dalam kehidupan sehari-hari seperti yang kita harapkan dari orang lain? Adakah aspek dalam pekerjaan, keluarga, atau kehidupan sosial kita di mana kita mengkompromikan iman demi kenyamanan atau pragmatisme? Bagaimana kita dapat memastikan bahwa ibadah kita pada hari Minggu benar-benar mengubah cara kita berbicara dan memperlakukan sesama sepanjang minggu?

Ekaristi, Pesta Surgawi bagi Kita

Hari Minggu Biasa ke-28 [A]

11 Oktober 2026

Matius 22:1-14

Sebagai seorang Katolik, saya selalu mengaitkan perumpamaan tentang perjamuan kawin ini dengan perayaan Ekaristi. Mengapa demikian?

Dalam perumpamaan tersebut, sang raja menyiapkan perjamuan kawin bagi putranya. Kita dapat membayangkannya sebagai perayaan paling megah di dalam kerajaan tersebut. Seorang ayah yang bangga, yang juga merupakan raja, tentu ingin menjadikan putranya pria paling bahagia di kerajaannya, sekaligus menunjukkan kepada seluruh rakyatnya bahwa ini adalah peristiwa terpenting dalam keluarga kerajaan. Oleh karena itu, semua orang tentu membayangkan hidangan yang paling lezat, aneka anggur pilihan yang berlimpah, dan hiburan terbaik. Setiap tamu yang memenuhi undangan tersebut tidak hanya merasa sangat terhormat, tetapi juga mengalami sukacita yang luar biasa.

Demikian pula halnya dengan Ekaristi. Ekaristi adalah sebuah perjamuan, tetapi disiapkan bukan oleh penguasa duniawi, melainkan oleh Raja Semesta Alam. Karena disiapkan oleh Raja Surgawi, perayaan ini menjadi perayaan terbesar dan tertinggi yang dapat kita alami di bumi. Namun, hal yang benar-benar menjadikan Ekaristi sebagai perayaan puncak adalah karena Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka yang menanggapi undangan-Nya. Sesuatu itu tidak dapat ditawarkan oleh dunia, jauh lebih berharga daripada emas, dan lebih agung daripada hadiah apa pun yang dapat kita bayangkan. Allah menganugerahkan Yesus sendiri kepada kita—bukan sekadar hadir dalam pikiran atau hati kita, melainkan benar-benar menyentuh bibir dan meresap ke dalam jiwa kita. Yesus memberikan bukan hanya sebagian dari diri-Nya, melainkan semuanya. Karena Yesus bersatu secara kekal dengan Bapa dan Roh Kudus, serta dengan seluruh orang kudus di surga, maka setiap kali menyambut Ekaristi, kita sebenarnya sedang menyambut surga itu sendiri.

Sayangnya, sebagian dari kita sering kali menyerupai para tamu undangan yang menolak hadir karena lebih mengutamakan urusan sehari-hari dan pekerjaan rutin daripada perjamuan kerajaan tersebut. Saat kita tidak nilai Ekaristi sebagai sesuatu yang paling berharga, yakni undangan ilahi perayaan surgawi, kita mulai mencari alasan-alasan dangkal untuk pergi ke gereja. Mungkin kita hadir hanya untuk mencari inspirasi atau hiburan dari homili sang imam; sehingga saat homilinya membosankan, kita pun berhenti menghadiri Misa. Atau, mungkin kita pergi semata-mata karena tradisi keluarga; begitu tidak lagi tinggal bersama orang tua, kita merasa tidak berkewajiban lagi untuk hadir. Melalui sikap-sikap tersebut, kita telah merendahkan Ekaristi menjadi sekadar aktivitas duniawi biasa, sekaligus menyia-nyiakan jalan menuju surga.

Bahaya lain yang tidak kalah besarnya adalah memperlakukan Ekaristi secara tidak pantas, layaknya tamu yang memasuki perjamuan raja tanpa mengenakan pakaian pesta yang pantas. Mungkin kita menghadiri misa, bukan untuk mencari Allah, melainkan demi mengejar kepentingan diri sendiri yang egois. Namun, kondisi yang paling berbahaya adalah menyambut Ekaristi dalam keadaan dosa berat. Sebagaimana diperingatkan oleh Santo Paulus, “Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan… Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya sendiri” (1 Kor 11:27, 29). Rahmat Allah itu cuma-cuma, tapi tidak pernah murahan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk permenungan:

Apakah saya sungguh memandang kehadiran saya dalam Misa sebagai tanggapan penuh sukacita atas undangan ilahi dari Sang Raja, atau justru membiarkan kesibukan sehari-hari, dan maupun motif yang dangkal menjadi prioritas utama? Saat bersiap menyambut Ekaristi, apakah saya menerima Yesus dengan hati yang tulus, ataukah saya memperlakukan perjumpaan kudus hanya sebagai sekadar rutinitas? Adakah dosa berat yang belum diakui atau sikap egois dalam hidup saya yang menghalangi saya untuk mengenakan “busana pesta pernikahan” di hadapan altar Tuhan?

Kasih Allah yang “Tidak Masuk Akal”

Hari Minggu Biasa ke-27 [A]

4 Oktober 2026

Matius 21:33-43

Bacaan Injil kita mengisahkan seorang pemilik kebun anggur yang mempercayakan kebunnya kepada para pekerja agar mereka merawatnya dan menghasilkan panen yang baik. Awalnya, kisah ini tampak seperti peristiwa biasa dalam dunia pertanian. Namun, seiring berjalannya cerita, berbagai peristiwa aneh dan tidak terduga mulai terjadi. Apa sajakah hal itu? Apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, sang pemilik mempersiapkan hampir seluruh kebutuhan kebun sebelum ia pergi. Ia menanam pohon anggur, membangun pagar untuk melindungi kebun dari binatang liar, menggali tempat pemerasan untuk mengolah buah anggur menjadi sari buah untuk difermentasi, serta mendirikan menara jaga agar penjaga dapat memantau datangnya pencuri atau binatang pengganggu. Menara tersebut juga berfungsi sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi para pekerja. Padahal, secara hukum, sang pemilik tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menyediakan seluruh fasilitas itu. Sang pemilik sudah mengerjakan setengah bagian dari apa yang para pekerja perlu lakukan!

Kedua, hal yang lebih luar biasa terjadi ketika hamba pertamanya dipukuli oleh para penggarap yang memberontak. Normalnya, seorang pemilik tanah akan segera mengirim pasukan untuk merebut kembali haknya dan menghukum para pekerja yang tidak tahu berterima kasih tersebut. Sebaliknya, ia justru melakukan hal yang tidak terpikirkan: ia mengirim hamba-hamba lainnya meskipun tahu mereka dapat mengalami nasib kejam yang sama. Pada akhirnya, ia mengutus putra kesayangannya sendiri dengan harapan para pekerja akan menghormati putranya. Namun, para penggarap jahat itu malah membunuh putra sang pemilik (Mat 21:33–39; Mar 12:1–8; Luk 20:9–15).

Tindakan pemilik kebun tersebut tampak tidak rasional, bahkan dapat dianggap tidak bijaksana oleh pemikiran manusia. Tidak ada orang yang berpikir secara logis akan bertindak demikian. Namun, tindakan tersebut justru mencerminkan besarnya kasih Allah kepada manusia. Sebagaimana tercantum dalam Kitab Suci, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16), meskipun Allah tahu bahwa manusia akan berulang kali menolak-Nya. Kasih ilahi ini melampaui logika manusia, dan melalui kasih inilah kita menerima harapan keselamatan, bukan penghukuman.

Logika manusia yang terbatas ini sering kali tercermin dalam pertanyaan kita sehari-hari. Sebagai contoh, seorang pelajar pernah bertanya kepada seorang imam, “Romo, mengapa kita perlu mengaku dosa jika kita tahu bahwa kita akan berdosa lagi?” Imam tersebut menjawab, “Ya, kamu benar. Kita memang bisa jatuh ke dalam dosa lagi.” Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan, “Saat sakit, bukankah kita minum obat agar sembuh? Namun, kita pun tahu bahwa setelah kita sembuh, ada kemungkinan untuk sakit lagi di masa depan. Lalu, apakah kita akan berhenti minum obat tersebut?”

Ilustrasi tersebut membantu kita memahami Sakramen Rekonsiliasi sebagai wujud nyata dari kasih dan kerahiman Allah yang tak terbatas. Sebesar apa pun dosa kita dan sejauh apa pun kita telah jatuh, Allah selalu siap menerima kita kembali ketika kita datang dengan penyesalan yang tulus. Dia memahami kelemahan kita dan mengetahui kejatuhan kita di masa depan, namun Dia tidak pernah menarik kembali kasih-Nya. Meski demikian, kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah sesuatu yang murahan. Jika kita terus menganggap remeh kasih-Nya dan menyalahgunakan kerahiman-Nya, maka pada penghakiman terakhir, Tuhan akan datang bukan hanya sebagai Juruselamat, melainkan sebagai Hakim yang Adil.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Seberapa sering saya menyadari dan mensyukuri anugerah, berkat, dan rahmat yang telah Allah siapkan serta percayakan kepada saya dalam hidup ini? Saat saya berulang kali gagal atau jatuh ke dalam dosa yang sama, apakah saya dengan rendah hati memohon belas kasih Allah melalui pengakuan dosa, atau justru mencari-cari alasan dan menjauh dari-Nya? Apakah saya sungguh-sungguh berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan, atau apakah saya menganggap remeh kasih Allah dan menyalahgunakan belas kasih-Nya yang tak terbatas dalam pilihan-pilihan hidup saya sehari-hari?

Kenosis dan Kasih

Hari Minggu Biasa ke-26 [A]

27 September 2026

Filipi 2:1-11

Filipi 2:5–11 merupakan salah satu bagian yang paling indah dan mendalam dalam Kitab Suci. Banyak ahli dan teolog mengenalinya sebagai Himne Kristus kuno, yang mungkin digubah oleh Santo Paulus sendiri atau diwarisi dari tradisi komunitas Kristen perdana. Melalui himne yang mendalam ini, kita diajak untuk memetik pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kehidupan iman kita.

Pelajaran pertama terletak pada tindakan pengosongan diri, yang dalam bahasa Yunani disebut kenosis (ay. 7). Tindakan ini justru dimungkinkan karena Yesus memiliki kodrat Allah secara penuh. Sebagai Allah, Dia memiliki segala hak dan kuasa untuk tetap berada dalam kemuliaan surgawi bersama Bapa dan Roh Kudus. Dari takhta surga, Yesus sebenarnya berkuasa memperlakukan umat manusia yang berdosa sesuai kehendak-Nya, baik dengan menghukum kita secara keras maupun memusnahkan kita sepenuhnya. Bahkan jika Dia hendak mengampuni kita, Dia sanggup melakukannya hanya dengan mengucapkan sepatah kata pengampunan dari kemegahan surgawi-Nya. Namun, Dia justru memilih jalan yang jauh melampaui imajinasi manusia: Dia turun dari surga dan menjadi manusia. Keputusan ilahi ini didorong oleh kerendahan hati-Nya yang radikal. Yesus tidak terobsesi untuk mempertahankan kemuliaan, keagungan, serta semarak ilahi-Nya, dan Dia pun tidak haus akan penyembahan manusia. Sebaliknya, kasih-Nya yang begitu besar mendorong-Nya untuk menjadi sama seperti kita dalam segala kelemahan manusiawi kita.

Lebih dari itu, tindakan pengosongan diri-Nya tidak berhenti pada peristiwa Inkarnasi semata. Wujud kenosis ini melangkah lebih dalam dengan merangkul kondisi penderitaan manusia yang paling rendah, yakni kematian di kayu salib. Pada zaman Yesus, penyaliban merupakan hukuman yang amat kejam dan hina, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat seperti pembunuh dan pemberontak. Dengan demikian, Yesus tidak sekadar menanggalkan keagungan Ilahi-Nya, tetapi juga bersedia menempatkan diri-Nya di antara orang-orang yang paling dipandang hina. Yesus menempuh jalan yang penuh pengorbanan ini untuk menunjukkan satu kebenaran hakiki: Dia mengasihi kita sampai tuntas.

Pengosongan diri-Nya yang tak terbayangkan ini menyingkapkan kedalaman kasih Allah yang tidak terbatas. Santo Paulus mempertegas kebenaran tersebut dengan mengaitkan sikap mengosongkan diri Kristus pada dampak rohani yang dihasilkannya bagi kita, sebagaimana ia tuliskan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9). Melalui ungkapan ini, Santo Paulus mengajarkan bahwa kasih yang sejati senantiasa diwujudkan melalui kerendahan hati dan kesediaan untuk mengosongkan diri. Justru melalui penyangkalan diri inilah, kasih mampu mengubah dan memperkaya jiwa orang-orang yang kita kasihi.

Santo Paulus menyadari keutamaan sikap kenosis Kristus ini dan berkomitmen untuk meneladani jejak Sang Guru Ilahi. Ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan dan status hidupnya demi mewartakan Injil Yesus Kristus serta membangun jemaat-jemaat di berbagai wilayah. Dalam menjalani hidup yang sangat sederhana, Paulus bekerja keras pada siang hari sebagai pembuat kemah untuk membiayai kebutuhan hidup dan misinya, sedangkan pada malam harinya ia mencurahkan waktu untuk mengajarkan Injil kepada komunitas-komunitas beriman. Paulus menyerahkan seluruh hidupnya demi Kristus, dan karenanya, Gereja perdana memperoleh Kristus dan kelimpahan karunia rohani. Di mata dunia, Paulus mungkin tampak tidak memperoleh apa pun selain penderitaan dan kesukaran. Namun, ia justru bersukacita dalam penderitaan tersebut karena ia diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam penderitaan dan pengosongan diri Kristus demi Gereja-Nya (Kol 1:24).

Pada akhirnya, perenungan ini menegaskan bahwa kita baru mengasihi secara sungguh-sungguh ketika kita bersedia mengosongkan diri, sehingga orang-orang yang kita kasihi dapat dibangun dan diperkaya secara rohani.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam aspek kehidupan manakah saya masih mempertahankan hak, status, atau keinginan untuk diakui, dan bagaimana saya dapat mempraktikkan kerendahan hati yang radikal seperti Kristus dalam situasi-situasi tersebut? Bersediakah saya merendahkan diri atau mengesampingkan kenyamanan pribadi agar orang-orang yang saya kasihi dapat dibangun, diperkaya, dan didukung? Saat menghadapi kesulitan, pencobaan, atau pengorbanan demi orang lain, apakah saya memandangnya sebagai beban yang sia-sia, atau dapatkah saya menerimanya sebagai jalan untuk ambil bagian dalam kasih Kristus yang mengosongkan diri?

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?

Kurban Hidup

Minggu ke-22 Masa Biasa [A]

30 Agustus 2026

Roma 12:1-2

Dalam Suratnya kepada Jemaat di Roma, Santo Paulus mendesak umat beriman untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai “kurban yang hidup” (Roma 12:1). Bagi para pembaca pada zaman dahulu, pernyataan Santo Paulus ini merupakan sebuah oksimoron —sebuah kiasan yang menggabungkan dua kata bermakna berlawanan, seperti “manis pahit” atau “permasalahan yang baik.” Namun, mengapa konsep Paulus tentang “kurban yang hidup” sejak awal dianggap sebagai suatu oksimoron?

Pada masa lampau, orang-orang menyembah dewa-dewa dengan mempersembahkan kurban. Praktek ini juga berlaku bagi bangsa Israel pada zaman Paulus. Orang-orang Israel akan pergi ke Bait Allah di Yerusalem membawa hewan—paling sering domba—untuk dikorbankan. Pertama-tama, para imam memeriksa setiap hewan untuk memastikan bahwa hewan tersebut bebas dari cacat. Setelah dinyatakan memenuhi syarat, penyembah meletakkan tangannya di atas kepala hewan itu untuk secara simbolis mengidentifikasi dirinya dengan kurban tersebut. Tenggorokan hewan itu kemudian dipotong dengan gerakan cepat menggunakan pisau yang sangat tajam untuk menjamin kematian yang cepat. Seorang imam menampung darah segar hewan itu dalam baskom khusus dan mengaduknya secara terus menerus untuk mencegah pembekuan darah. Dia kemudian membawanya ke mezbah untuk dipercikkan di bagian dasarnya. Akhirnya, para imam menguliti hewan itu, memotongnya menjadi beberapa bagian, dan menempatkan bagian-bagian tersebut atau seluruh tubuh kurban di atas mezbah untuk dibakar (lihat Imamat 1–4).

Karena ritus pengorbanan di dunia kuno maupun di Israel kuno berkaitan erat dengan kematian kurban, ungkapan Santo Paulus mengenai “kurban yang hidup” terdengar seperti sebuah kontradiksi. Padahal, Paulus sedang mengacu pada tradisi Perjanjian Lama. Para nabi terdahulu sering menekankan bahwa pengorbanan hewan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya pertobatan yang tulus dan sepenuh hati. Raja Daud pernah menyatakan, “Kurban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah” (Maz 51:17). Demikian pula, Nabi Hosea menyampaikan firman Allah: “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran” (Hosea 6:6).

Menjadi “kurban yang hidup” memang masih melibatkan kematian, namun bukan kematian secara fisik. Santo Paulus menjelaskan transformasi pribadi ini saat menuliskan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20). Paulus tidak dieksekusi secara harfiah di kayu salib saat menulis kalimat itu; melainkan, ia telah mematikan ego, kepentingan pribadinya, serta ambisi duniawinya demi hidup sepenuhnya bagi Yesus Kristus. Sejak saat itu, segala hal yang ia katakan dan lakukan semata-mata diarahkan untuk menyenangkan Tuhan dan mewartakan Injil.

Sama seperti Yesus yang telah mempersembahkan Diri-Nya sebagai kurban sempurna di kayu salib, Santo Paulus juga menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada Allah dengan cara hidup selaras dengan kehendak ilahi. Melalui teladan yang sama, Santo Paulus mengajak kita untuk mempersembahkan tubuh, pekerjaan, studi, relasi, waktu istirahat, dan bahkan penderitaan kita sebagai kurban yang hidup. Dalam segala hal yang kita jalani, kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dan hidup sesuai kehendak-Nya. Bagi umat Katolik, setiap aktivitas sehari-hari ini dapat disatukan dengan pengorbanan Yesus dalam Kurban Suci Ekaristi, sehingga menjadi bagian dari persembahan sempurna yang merupakan ibadah rohani yang sejati (Roma 12:1).

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana kita dapat mematikan ego, keinginan diri, dan ambisi duniawi kita sehingga Kristus benar-benar dapat hidup melalui kita setiap hari? Dengan cara apa kita dapat mempersembahkan rutinitas harian kita—pekerjaan, studi, hubungan, dan bahkan perjuangan hidup kita—sebagai kurban yang hidup kepada Tuhan? Apakah kita telah mempersembahkan devosi batin serta kasih yang bermakna kepada Tuhan dalam tindakan sehari-hari, ataukah kita sekadar menjalankan rutinitas keagamaan lahiriah?

Siapakah Yesus Bagimu?

Minggu ke-21 Masa Biasa [A]

23 Agustus 2026

Matius 16:13-20

Hari ini, Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” (Matius 16:15). Pertanyaan ini dapat dikatakan sebagai pertanyaan terpenting yang harus kita jawab dalam hidup ini. Kita mungkin memberikan berbagai jawaban—bahwa Yesus adalah sahabat terkasih, Gembala yang Baik, Sang pemimpin, atau Juruselamat dan Penebus kita. Walaupun semua sebutan itu benar, segalanya akan berubah ketika kita menjawab Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita.

Jika kita sungguh-sungguh mengakui Yesus sebagai Allah, hidup kita harus terarah kepada-Nya dan menjadikan Dia prioritas utama. Sekadar memberikan penghormatan tertinggi kepada-Nya belumlah cukup; kita dipanggil untuk mempersembahkan penyembahan yang hanya layak bagi Allah. Memberikan sebagian waktu, sumber daya, dan talenta demi kemuliaan-Nya pun belum memadai; kita dituntut untuk mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya. Dibaptis dan menghadiri Misa setiap hari Minggu hanyalah batas minimum. Sebaliknya, kita perlu berusaha menyenangkan hati-Nya dalam setiap aspek kehidupan, baik melalui perkataan, tindakan, maupun pilihan sehari-hari setiap saat.

Banyak di antara kita mungkin merasa bahwa standar ini terlalu sulit untuk dicapai karena kita bukan imam atau biarawan-biarawati, atau karena kita memiliki berbagai prioritas lain seperti karier, hobi, dan ambisi pribadi. Bagi banyak orang, tuntutan ini tampak tidak realistis. Namun, tuntutan ini tidak muncul tanpa alasan, melainkan mengalir secara alami dari kebajikan keadilan.

Sederhananya, keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Ketika seorang pemberi kerja membayar upah yang layak kepada pekerja yang telah menyelesaikan tugasnya, hal itu bukanlah tindakan belas kasih, melainkan kewajiban yang dituntut oleh keadilan. Demikian pula sebagai warga negara, keadilan menuntut kita untuk mematuhi hukum dan berkontribusi bagi kebaikan bersama, misalnya dengan membayar pajak. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban melayani masyarakat dengan jujur dan berintegritas—seperti melindungi warga dari kriminalitas, menyediakan layanan kesehatan, serta membangun infrastruktur—karena semua pelayanan tersebut merupakan hak warga negara. Semua kewajiban ini bersumber dari tuntutan keadilan.

Jika kita harus menegakkan keadilan dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, terlebih lagi kita wajib memberikan apa yang menjadi hak Allah sebagai Pencipta kita. Kita perlu menyadari bahwa Allah tidak wajib menciptakan kita, namun Dia menghadirkan kita ke dunia, menganugerahi kita akal budi dan kehendak bebas, serta menjadikan kita istimewa di antara seluruh ciptaan. Lebih dari itu, Allah tidak berkewajiban menyelamatkan kita, namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa, Dia menebus kita melalui Putra-Nya agar kita tidak binasa (Yohanes 3:16). Akhirnya, dengan penuh kasih, Allah menawarkan persahabatan-Nya dan mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya. Walaupun kita tidak layak menerima apa pun, Allah telah memberikan segalanya bagi kita. Oleh karena itu, keadilan menuntut kita untuk menyerahkan kembali seluruh keberadaan kita kepada-Nya—waktu, talenta, dan bahkan seluruh hidup kita. Hal ini tidak berarti bahwa semua orang dipanggil menjadi imam atau biarawan-biarawati. Sebagai kaum awam dan profesional, kita dapat memprioritaskan Yesus dengan memastikan bahwa setiap keputusan yang kita ambil selaras dengan kehendak ilahi-Nya dan menyenangkan hati-Nya.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa jauh kita mengizinkan iman kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah membentuk kembali pilihan, prioritas, dan kebiasaan hidup sehari-hari? Apakah kita hanya memberikan waktu dan talenta seminimal mungkin kepada Allah, ataukah kita berusaha mempersembahkan pengabdian seutuhnya yang menjadi hak-Nya? Lewat langkah praktis apa kita dapat memuliakan Allah dan mencari kehendak-Nya dalam panggilan hidup sebagai awam, dalam keluarga, serta dalam pekerjaan sehari-hari?