Minggu Keempat Paskah [A]
26 April 2026
Yohanes 10:1-10
Hidup di dunia modern, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita—anak-anak, kerabat, dan teman-teman—tidak lagi percaya bahwa agama atau kegiatan keagamaan itu penting. Bagaimana kita menanggapi hal ini dengan penuh kasih, dan bagaimana Yesus, Gembala yang Baik kita, memberikan jawaban atas situasi sulit ini?

Pertama, kita harus mengenali sumber pergulatan kita. Kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, dan tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada kehidupan kekal. Mengetahui bahwa mereka hidup jauh dari Yesus membahayakan jiwa mereka, dan hal ini sangat menyakitkan bagi kita. Kesadaran ini penting; hal ini menunjukkan bahwa kepedulian kita lahir dari cinta yang tulus, bukan keinginan untuk mengendalikan mereka.
Karena kasih menginspirasi kita, kita harus mendekati mereka dengan kasih. Langkah pertama adalah memahami bahwa penolakan mereka terhadap kehidupan religius berasal dari alasan-alasan unik, yang seringkali tersembunyi. Beberapa orang menolak agama karena mereka percaya bahwa iman bertentangan dengan akal budi, sehingga membuatnya tidak relevan di dunia modern. Yang lain tidak lagi pergi ke gereja karena pengalaman menyakitkan di masa lalu dengan para pemimpin Gereja. Beberapa hanya ingin mempertahankan gaya hidup “bebas” yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, sementara yang lain dipengaruhi oleh lingkungan atau teman-teman yang membawa mereka ke dalam kesalahpahaman tentang iman.
Selanjutnya, kita dapat belajar dari cara Gembala yang Baik menjaga domba-domba-Nya. Gembala yang Baik memberi petunjuk dengan suara yang tegas, tetapi tidak pernah melalui paksaan atau kekerasan. Ia berjalan di depan kawanan-Nya, memimpin dengan teladan. Ia merawat setiap domba-Nya, mengenal mereka dengan nama dan mengenali karakteristik unik mereka. Ketika bahaya mendekat, Ia membuktikan kasih-Nya bukan dengan mengorbankan domba-domba, melainkan dengan mengorbankan hidup-Nya sendiri.
Seperti Gembala yang Baik, kita perlu menunjukkan kasih kita dengan mendengarkan kisah dan pergulatan mereka. Kita tidak datang untuk menghakimi, melainkan menjadi mitra dialog yang bisa dipercaya. Pada saat yang sama, kita perlu tetap teguh pada pendirian kita, yakin akan kebenaran iman kita, dan sadar akan bahaya-bahaya duniawi. Yang paling penting, kita harus memimpin dengan teladan. Kita menjadi saksi hidup iman kita ketika kita mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Pada akhirnya, kita menunjukkan bahwa iman kita adalah sangat mendasar karena iman yang sama menginspirasi kita untuk mendampingi mereka saat hidup menjadi sulit, siap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa kita untuk mereka.
Beberapa orang mungkin membutuhkan jawaban logis tentang iman kita, yang berarti kita harus terus belajar lebih banyak tentang iman. Yang lain membutuhkan penyembuhan dari luka masa lalu, dan kita perlu menjadi teman sejati dalam perjalanan mereka pulang. Semua ini membutuhkan pengorbanan waktu, energi, dan bahkan hidup kita. Namun, kita melakukannya dengan sukacita karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka dan menginginkan keselamatan kekal mereka.
Terakhir, kita harus ingat bahwa kita bukanlah Gembala yang Baik; kita adalah domba-Nya yang berusaha menggembalakan domba lain. Pada akhirnya, kita mungkin menghadapi kegagalan, dan mungkin terasa seolah-olah pengorbanan kita sia-sia. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita harus menyerahkan segalanya kepada Gembala yang Baik yang sejati. Kita telah mendengar suara-Nya, dan dengan mengikuti-Nya dengan setia, kita akan menemukan istirahat kita.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan panduan:
Apakah saya benar-benar mendengarkan untuk memahami pergulatan mereka yang jauh dari Tuhan, ataukah saya dengan cepat menghakimi dan ingin mengendalikan? Apakah tindakan harian saya mencerminkan kasih sayang Gembala yang Baik? Apakah kesabaran, empati, dan kesediaan saya untuk berkorban menunjukkan kepada orang-orang yang saya cintai dampak positif dan hidup dari iman saya? Ketika upaya saya untuk membantu seseorang sepertinya gagal dan saya merasa putus asa, apakah saya membiarkan diri saya terjatuh ke dalam keputusasaan, ataukah saya secara aktif memilih untuk menyerahkan mereka kepada Gembala yang Baik yang sejati?
