Domba yang Mengembalakan Domba Lainnya

Minggu Keempat Paskah [A]

26 April 2026

Yohanes 10:1-10

Hidup di dunia modern, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita—anak-anak, kerabat, dan teman-teman—tidak lagi percaya bahwa agama atau kegiatan keagamaan itu penting. Bagaimana kita menanggapi hal ini dengan penuh kasih, dan bagaimana Yesus, Gembala yang Baik kita, memberikan jawaban atas situasi sulit ini?

Pertama, kita harus mengenali sumber pergulatan kita. Kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, dan tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada kehidupan kekal. Mengetahui bahwa mereka hidup jauh dari Yesus membahayakan jiwa mereka, dan hal ini sangat menyakitkan bagi kita. Kesadaran ini penting; hal ini menunjukkan bahwa kepedulian kita lahir dari cinta yang tulus, bukan keinginan untuk mengendalikan mereka.

Karena kasih menginspirasi kita, kita harus mendekati mereka dengan kasih. Langkah pertama adalah memahami bahwa penolakan mereka terhadap kehidupan religius berasal dari alasan-alasan unik, yang seringkali tersembunyi. Beberapa orang menolak agama karena mereka percaya bahwa iman bertentangan dengan akal budi, sehingga membuatnya tidak relevan di dunia modern. Yang lain tidak lagi pergi ke gereja karena pengalaman menyakitkan di masa lalu dengan para pemimpin Gereja. Beberapa hanya ingin mempertahankan gaya hidup “bebas” yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, sementara yang lain dipengaruhi oleh lingkungan atau teman-teman yang membawa mereka ke dalam kesalahpahaman tentang iman.

Selanjutnya, kita dapat belajar dari cara Gembala yang Baik menjaga domba-domba-Nya. Gembala yang Baik memberi petunjuk dengan suara yang tegas, tetapi tidak pernah melalui paksaan atau kekerasan. Ia berjalan di depan kawanan-Nya, memimpin dengan teladan. Ia merawat setiap domba-Nya, mengenal mereka dengan nama dan mengenali karakteristik unik mereka. Ketika bahaya mendekat, Ia membuktikan kasih-Nya bukan dengan mengorbankan domba-domba, melainkan dengan mengorbankan hidup-Nya sendiri.

Seperti Gembala yang Baik, kita perlu menunjukkan kasih kita dengan mendengarkan kisah dan pergulatan mereka. Kita tidak datang untuk menghakimi, melainkan menjadi mitra dialog yang bisa dipercaya. Pada saat yang sama, kita perlu tetap teguh pada pendirian kita, yakin akan kebenaran iman kita, dan sadar akan bahaya-bahaya duniawi. Yang paling penting, kita harus memimpin dengan teladan. Kita menjadi saksi hidup iman kita ketika kita mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Pada akhirnya, kita menunjukkan bahwa iman kita adalah sangat mendasar karena iman yang sama menginspirasi kita untuk mendampingi mereka saat hidup menjadi sulit, siap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa kita untuk mereka.

Beberapa orang mungkin membutuhkan jawaban logis tentang iman kita, yang berarti kita harus terus belajar lebih banyak tentang iman. Yang lain membutuhkan penyembuhan dari luka masa lalu, dan kita perlu menjadi teman sejati dalam perjalanan mereka pulang. Semua ini membutuhkan pengorbanan waktu, energi, dan bahkan hidup kita. Namun, kita melakukannya dengan sukacita karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka dan menginginkan keselamatan kekal mereka.

Terakhir, kita harus ingat bahwa kita bukanlah Gembala yang Baik; kita adalah domba-Nya yang berusaha menggembalakan domba lain. Pada akhirnya, kita mungkin menghadapi kegagalan, dan mungkin terasa seolah-olah pengorbanan kita sia-sia. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita harus menyerahkan segalanya kepada Gembala yang Baik yang sejati. Kita telah mendengar suara-Nya, dan dengan mengikuti-Nya dengan setia, kita akan menemukan istirahat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya benar-benar mendengarkan untuk memahami pergulatan mereka yang jauh dari Tuhan, ataukah saya dengan cepat menghakimi dan ingin mengendalikan? Apakah tindakan harian saya mencerminkan kasih sayang Gembala yang Baik? Apakah kesabaran, empati, dan kesediaan saya untuk berkorban menunjukkan kepada orang-orang yang saya cintai dampak positif dan hidup dari iman saya? Ketika upaya saya untuk membantu seseorang sepertinya gagal dan saya merasa putus asa, apakah saya membiarkan diri saya terjatuh ke dalam keputusasaan, ataukah saya secara aktif memilih untuk menyerahkan mereka kepada Gembala yang Baik yang sejati?

Sheep Shepherding another Sheep

Fourth Sunday of Easter [A]

April 26, 2026

John 10:1-10

Living in a modern and secular world, we are often confronted with the reality that those closest to us—our children, relatives, and friends—no longer believe that religion and religious activities are important. How do we respond to this with love, and how does Jesus, our Good Shepherd, provide an answer to this difficult situation?

First, we must recognize the source of our suffering. We want the best for those we love, and nothing is better for them than eternal life. Knowing that they live far from Jesus endangers their souls, and this is deeply painful for us. This awareness is crucial; it shows that our concern stems from genuine love, not a desire to control.

Since love inspires us, we must approach them with love. The first step is to understand that their rejection of religious life stems from unique reasons, which are often hidden. Some people reject religion because they believe that faith contradicts common sense, making it irrelevant in the modern world. Others no longer go to church because of painful past experiences with church leaders. Some simply want to maintain a “free” lifestyle that does not align with biblical teachings, while others are influenced by their environment or friends who have led them into misunderstandings about faith.

Furthermore, we can learn from the way the Good Shepherd cares for His sheep. The Good Shepherd guides with a firm voice, but never through coercion or violence. He walks ahead of His flock, leading by example. He cares for each of His sheep, knowing them by name and recognizing their unique characteristics. When danger approaches, He proves His love not by sacrificing the sheep, but by sacrificing His own life.

Like the Good Shepherd, we need to show care by listening to their stories and struggles. We must not come to judge, but to be respectful and trusted partners in dialogue. At the same time, we need to remain firm in our convictions, confident in the truth of our faith, and aware of the dangers of worldly desires. Most importantly, we must lead by example. We become living witnesses of our faith when we practice what we preach. Ultimately, we demonstrate that our faith is meaningful because it inspires us to stand by them when life becomes difficult, ready to sacrifice our time, energy, and even our lives for them.

Some may need logical answers about our faith, which means we must continue to learn more about it ourselves. Others need healing from past wounds, and we must be true companions on their journey home. All of this requires us to sacrifice our time, energy, and even our lives. Yet, we do so willingly because we truly love them and desire their eternal salvation.

Finally, we must remember that we are not the Good Shepherd; we are His sheep trying to shepherd other sheep. In the end, we may face failure, and it may feel as though our sacrifices are in vain. However, this must not cause us to lose hope. Instead, we must surrender everything to the true Good Shepherd. We have heard His voice, and by faithfully following Him, we will find our rest.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guiding Questions:

Am I truly listening to understand their unique struggles, or am I quick to judge and want to control? Do my daily actions reflect the compassion of the Good Shepherd? Do my patience, empathy, and willingness to sacrifice show those I love the positive and life-giving impact of my faith? When my efforts to help someone seem to fail and I feel discouraged, do I allow myself to fall into despair, or do I actively choose to entrust them to the true Good Shepherd?

Paskah dan Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

12 April 2026

Yohanes 20:19-31

Pada Minggu Kedua Paskah, kita merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kerahiman? Mengapa Gereja memilih Minggu Kedua Paskah untuk perayaan ini? Dan bagaimana bacaan-bacaan kita mengajarkan kita tentang kerahiman?

Untuk memahami kerahiman, kita perlu terlebih dahulu memahami makna dari keadilan. Keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Sedangkan, kerahiman berarti memberikan kepada seseorang melebihi apa yang menjadi haknya. Jika kita menjawab 5 dari 10 soal dengan benar dalam ujian, kita pantas mendapat nilai 5. Itu adil! Namun, jika guru kita memutuskan untuk menambahkan dua poin ekstra pada nilai kita, itu melampaui apa yang seharusnya kita terima; itulah belas kasih. Dari sudut pandang ilahi, Allah tidak berhutang apa pun kepada kita. Kita tidak dapat menuntut apa pun dari-Nya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah yang lahir dari kerahiman-Nya: hidup kita, talenta kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan kekayaan kita, dan masih banyak lagi.

Mengapa memilih Minggu Kedua Paskah? Perayaan ini sebenarnya relatif baru karena ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 30 April 2000, tepat saat kanonisasi Santa Faustina Kowalska. Keputusannya didasarkan pada wahyu pribadi yang diberikan kepada Santa Faustina, di mana Yesus mengungkapkan keinginannya agar Minggu Kedua Paskah dirayakan sebagai Hari Kerahiman Ilahi. Namun, mengapa Yesus secara khusus menginginkan Minggu Kedua?

Jawabannya terdapat dalam Injil hari ini. Seminggu setelah kebangkitan, Yesus sekali lagi menampakkan diri kepada para murid-Nya. Khususnya kepada Tomas, yang meragukan kebangkitan, Yesus memperlihatkan diri-Nya dan juga luka-luka-Nya. Tomas menjadi penerima kerahiman ilahi yang luar biasa. Sejatinya, ia tidak berhak menuntut bukti; bahkan, ia sebenarnya pantas mendapat hukuman, karena ia telah meninggalkan Yesus pada saat yang kritis. Namun, Yesus mengampuninya dan bahkan mengabulkan tuntutannya yang tidak masuk akal, dengan menunjukkan kepadanya bukti kasih-Nya yang tak terbatas: “Aku mati untukmu agar engkau hidup.”

Kita sering kali seperti Tomas dan para murid lainnya. Allah telah memberikan segala hal baik, namun kita tetap mengkhianati-Nya, menjual-Nya dengan hal-hal duniawi seperti uang atau ketenaran, bahkan lari dari-Nya saat hidup menjadi sulit. Selain itu, alih-alih meminta pengampunan, kita sering kali menuntut lebih dari Tuhan. Namun, meskipun kita tidak bersyukur, Yesus tetap menunjukkan bukti kasih-Nya dan tetap sangat berbelas kasih kepada kita.

Sebagai orang-orang yang telah menerima kerahiman yang begitu mendalam, kita dipanggil untuk berbelas kasihan juga. Namun, bagaimana caranya? Kita dapat belajar dari kehidupan para Jemaat pertama di Yerusalem. Mereka menjual harta benda mereka agar dapat saling membantu. Membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan adalah tindakan belas kasihan yang mendalam. Namun, tindakan berbagi ini harus didasarkan pada ajaran para Rasul, berakar pada kehidupan bersama, dan mengambil kekuatannya dari pemecahan roti dan doa. Dalam Ekaristi, kita menemukan alasan utama mengapa kita harus berbelas kasih: Allah telah menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita dengan memberikan Putra-Nya, Yesus, untuk keselamatan kita. Yesus, pada gilirannya, telah berbelas kasih kepada kita dengan menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk pengudusan kita. Tanpa menyatukan diri kita dengan belas kasih Yesus, tindakan belas kasih kita sendiri menjadi sia-sia dan tidak berarti karena hanya mementingkan diri sendiri. Hanya dalam Yesuslah tindakan belas kasih kita menemukan pemenuhan dan kesempurnaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Kapan kita pernah mengalami belas kasihan Allah dalam hidup, menerima berkat atau pengampunan yang jauh melampaui apa yang kita rasa pantas terima? Dalam hal apa kita kadang-kadang bertindak seperti Tomas—meragukan kehadiran Allah atau menuntut bukti ketika hidup menjadi sulit? Apa satu cara nyata dan konkret yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang membutuhkan? Bagaimana kita dapat lebih menyatukan tindakan sehari-hari kita dengan pengorbanan Yesus?

Easter and God’s Mercy

Second Sunday of Easter [A]

April 12, 2026

John 20:19-31

On the Second Sunday of Easter, we celebrate the Sunday of Divine Mercy. But what exactly is mercy? Why did the Church choose the Second Sunday of Easter for this feast? And how do our readings teach us about acts of mercy?

To understand mercy, we first need to know the meaning of the virtue of justice. Justice means giving someone what is due to them. To be merciful, however, means giving someone far beyond what they are due. If we correctly answer 5 out of 10 questions on a test, we deserve a 5 as our mark—that is justice. Yet, if our teacher decides to add two extra points to our grade, that goes beyond what is due to us; that is mercy. From a divine perspective, God does not owe us anything. We cannot demand anything from Him. Therefore, everything we have is a free gift born of His mercy: our lives, our talents, our families, our friends, and our wealth, to name just a few.

Why choose the Second Sunday of Easter? This feast was established relatively recently by Pope John Paul II on April 30, 2000, during the canonization of St. Faustina Kowalska. His decision was based on private revelations given to St. Faustina, in which Jesus expressed His desire for the Second Sunday of Easter to be celebrated as Divine Mercy Sunday. But why did Jesus specifically want the Second Sunday?

The answer lies in today’s Gospel. A week after the resurrection, Jesus once again appeared to His disciples. Specifically to Thomas, who doubted the resurrection, Jesus showed Himself and His wounds. Thomas became the recipient of God’s mercy. He did not have the right to demand proof; in fact, he deserved to be reprimanded, as he had abandoned Jesus at a critical moment. Yet, Jesus forgave his cowardice and unreasonable demands, showing him the proof of His limitless love: “I die for you that you may live.”

We are often like Thomas and the other disciples. God has given us everything we have, yet we still betray Him, trade Him for worldly things like money or fame, and run from Him when life gets tough. Furthermore, instead of asking for forgiveness, we frequently demand more from the Lord. We are incredibly blessed that, despite our ungratefulness, Jesus still shows us the proof of His love and remains deeply merciful to us.

As people who have received such profound mercy, we are called to be merciful in turn. But how? We can learn from the lives of the first believers in Jerusalem. They sold their properties so they could help one another. Helping our brothers and sisters in need is a profound act of mercy. Yet, this act of sharing must be based upon the teachings of the Apostles, rooted in communal life, and draw its strength from the breaking of the bread and prayer. In the Eucharist, we find the core reason why we must be merciful: God has shown us mercy by giving us His Son, Jesus, for our salvation. Jesus, in turn, has been merciful to us by giving up His body and blood for our sanctification. Without uniting ourselves to Jesus’ mercy, our own acts of mercy are empty and self-seeking. Only in Jesus do our acts of mercy find true fulfillment and perfection.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

When have I experienced God’s mercy in my own life, receiving blessings or forgiveness that went far beyond what I felt I deserved? In what ways do I sometimes act like Thomas—doubting God’s presence or demanding proof when life gets difficult? What is one tangible, concrete way I can show mercy to someone in need this week? How can I better unite my daily actions with Jesus’s sacrifice?

Kisah Yesus dan Kita

Minggu Paskah [A]

5 April 2026

Matius 28:1-10

Kita menyukai cerita, terutama yang penuh dengan drama dan alur cerita yang tak terduga. Oleh karena itu, Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia. Kemudian, di bawah pengaruh Roh Kudus, para murid-Nya menceritakan dan menuliskan kisah hidup Yesus menjadi sebuah cerita, yakni Injil. Kisah-Nya telah menjadi cerita terhebat yang pernah dikisahkan. Namun, mengapa kita suka mendengarkan cerita, dan mengapa cerita tentang Yesus adalah yang terbaik?

Kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berbahasa. Melalui kata-kata, kita tidak hanya berkomunikasi satu sama lain, tetapi juga menemukan makna dan tujuan dalam hidup kita. Pada zaman kuno, orang-orang menceritakan kisah-kisah mitos untuk memahami berbagai fenomena alam seperti hujan, guntur, dan bintang-bintang. Di zaman modern, kita memiliki ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena ini, tetapi jika teori-teori ilmiah ini tidak dijelaskan seperti sebuah cerita yang menarik, kita tidak akan mudah memahaminya dan tidak tertarik untuk mendalaminya.

Kita tidak hanya menggunakan cerita untuk memahami lingkungan sekitar kita, tetapi juga untuk memahami siapa diri kita. Kita secara alami tertarik pada cerita yang baik, entah dalam novel yang ditulis dengan baik, pertunjukan teater yang dikemas dengan apik, atau film atau drama Korea yang diproduksi dengan matang. Kenapa? Karena kita dapat dengan mudah menjadi satu dengan cerita-cerita ini. Cerita yang baik membuat kita tertawa, menangis, bahkan marah, meskipun kita tahu kita sebenarnya bukan bagian dari cerita tersebut. Namun, cerita yang lebih besar adalah yang menjawab makna hidup kita. Kita belajar dari nilai-nilai yang dipegang setiap karakter, kata-kata yang mereka ucapkan, serta tindakan yang mereka lakukan.

Suatu kali, saya memutuskan untuk membaca novel klasik “The Brothers Karamazov” karya Fyodor Dostoyevsky. Awalnya, saya merasa malas saat melihat tebalnya buku itu, lebih dari 800 halaman. Namun, begitu mulai membacanya, saya terhanyut ke dalamnya, bukan hanya karena alur ceritanya yang tak terduga, tetapi juga karena setiap karakter tampak begitu hidup. Saya tertarik pada karakter Alyosha Karamazov, seorang pemuda yang berjuang mencari Tuhan setelah mentor tercintanya, Romo Zosima, meninggal dunia. Dalam pencariannya, dia menemukan kembali romo Zosima di dalam orang-orang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Kembali ke kisah Yesus, alasan mengapa kisah-Nya adalah kisah paling berpengaruh adalah karena kehidupan Yesus dipenuhi dengan alur cerita yang tak terduga: Ia disalibkan, namun bangkit dari kematian; dikhianati, namun kembali dengan kekuatan yang lebih besar; dan dijatuhkan ke tempat terendah, namun kembali dengan kemuliaan. Selain itu, kehidupan dan kata-kata-Nya mengajarkan kita makna terdalam dan tujuan akhir hidup kita. Ajaran-ajaran-Nya seperti berbagai perumpamaan, khotbah di Bukit, dan Hukum Kasih tetap menjadi prinsip-prinsip abadi yang membimbing kita menuju kebahagiaan sejati.

Akhirnya, kisah Yesus adalah kisah terhebat dari semua kisah karena bagi kita yang memiliki iman, kita menjadi bagian dari kisah Yesus, dan kisah-Nya menjadi kenyataan dalam hidup kita. Hidup di dunia ini, kita pasti menanggung rasa sakit dan penderitaan, dan pada akhirnya, kita akan mati. Namun, bagi kita yang setia kepada Yesus, bahkan hal-hal terburuk yang menimpa kita, bahkan kematian sekalipun, tidak akan menjadi akhir dari kita. Yesus yang bangkit telah mengalahkan maut. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan St. Paulus, “Jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa kita juga akan hidup bersama-Nya (Rom 6:8).”

Selamat Paskah!

Leuven
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Jesus

Easter Sunday [A]

April 5, 2026

Matthew 28:1-10

We naturally like stories, especially those filled with drama and unpredictable plot twists. Knowing this, God sent His only begotten Son to become man and enter into our human history. Then, under the influence of the Holy Spirit, His disciples narrated and wrote Jesus’ life into a story. It has become the greatest story ever told. Yet, why do we like to hear stories, and why the story of Jesus is best of all?

We are creatures of language. Through words, we not only communicate with each other, but also find meanings in our lives. In ancient time, people narrated mythical stories to make sense of various natural phenomena like rain, thunder, and stars. In modern time, we have science to explain these, but unless these scientific theories are elaborated like a story, they will not be easily understood, let alone attractive.

We are not only using stories to make sense our surroundings, but also to understand who we are. This is why we are naturally attracted to a good story in well-written novels, well-executed theatrical performances or films, because we can easily participate in them. Good stories make us laugh, cry and even angry, despite knowing that we are not really part of the story. Yet, the greatest stories are those who answer the meanings of our lives. We learn from the values each character holds, words they say and actions they do or fail to do.

One time, I decided to read a classic novel “The Brothers Karamasov” by Fyodor Dostoyevsky. Initially, I was discouraged by its size, more than 800 pages. Yet, when I began to read, I was drawn into it, not only because unexpected plot, but also each character seems to be truly alive. I was particularly attracted to Alyosha Karamazov, young man who struggles to find God when his beloved mentor, father Zosima passed away.

Going back to the story of Jesus, the reason His story is the most powerful story of all time is that Jesus’ life is filled with the most amazing plot twists: He was crucified, yet rose from the death, was betrayed, yet came back ever stronger, and was pushed to the lowest place, yet returned in glory. Furthermore, his life and words teach us the deepest meanings and ultimate destiny of our lives. His teachings like the parables, the sermons on the Mount, the Law of Love remain the eternal principles that guide us into the true happiness.

Finally, the story of Jesus is the greatest story of all because for those who have faith, the story of Jesus becomes a reality in our lives. Living in this world, we cannot but endure pains and sufferings, and ultimately, we are going to die. However, when we are faithful to Jesus, even the worst things that befall us will never have the final say in our lives. Even the darkest hours in our lives, we will make sense as we participate in His cross. As St. Paul said, “Now if we died with Christ, we believe that we will be also live with Him (Rom 6:8).”

Blessed Easter!

Leuven

Valentinus Bayu, OP

Jesus and the Crowd

Palm Sunday of the Lord’s Passion (A)

March 29, 2026

Matthew 21:1-11 and Matthew 26:14 – 27:66

Palm Sunday is a unique moment in the Catholic liturgy where we hear two readings from the Gospel. The first is the story of Jesus’ triumphant entrance into the city of Jerusalem, and the second is the Passion Narrative. Both accounts come from Matthew. We often hear that these two stories are connected by the “crowd.” It is frequently assumed that the people who initially welcome and cheer Jesus as king are the very same people who later shout, “Crucify Him!” Yet, is this true? Or is it just an unrealistic drama to spice up Jesus’ story?

To answer this question, we need to look back at the time of Jesus and understand what was happening in Jerusalem. In first-century Israel, the Jewish people were living under Roman occupation, and life was very difficult for ordinary citizens. The desire for liberation from Roman rule was incredibly strong, drawing inspiration from the Old Testament where God promised a Messiah (the anointed one) to lead them to freedom.

When Jesus appeared, He came as one possessing divine power. He taught the truth with authority and performed unprecedented miracles. Naturally, this raised the excitement of many Israelites, and people started to follow Him, hoping He was the long-awaited Messiah. As Jesus marched toward Jerusalem for His Passion, the Jewish festival of Passover was also approaching. This feast commemorates Israel’s liberation from Egypt (Exodus 12), and during this time, Jews from all over traveled to Jerusalem on pilgrimage.

We can imagine that as Jesus drew closer, more and more pilgrims recognized Him and joined His followers. The people’s expectations were further fueled by Jesus’ unmatched miracle of restoring sight to two blind men in Jericho, not far from Jerusalem (Matthew 20:29-34). As Jesus entered the city riding a donkey, the throng of people who had been following Him began to shout, “Hosanna to the Son of David.”

So, were the people who welcomed Jesus the same ones who demanded His death? I believe these were two different groups. Those who supported Jesus were fellow pilgrims, mostly from outside Jerusalem. In contrast, those who demanded Jesus’ execution were likely Jerusalem elites and some locals whose businesses had been disrupted by Jesus and His followers. In fact, the trial was conducted hastily in the early morning, suggesting it was well-orchestrated. Matthew also notes that the chief priests and elders persuaded the crowd to ask for Barabbas’s release (Matthew 27:20), indicating that this specific crowd was manipulated to follow the Jewish leaders’ plan.

However, despite the existence of two distinct groups, the possibility of individuals switching sides remains. Some of those who initially supported Jesus may have eventually caved and condemned Him. Yet, some of those who approved of Jesus’ crucifixion may have ultimately returned to His side. A good example is Peter, Jesus’ core disciple, who denied Him when He was arrested but returned to Him after the resurrection.

As we enter Holy Week, we follow Jesus in our own lives. When are we like the people who shouted, “Hosanna”? What are those moments when we ardently follow Jesus? When are we like those who shouted, “Crucify Him”? When are the times we fail Him and even rebel against Him? When are we like the weak Peter, running from God or hiding? And when are we like the renewed Peter? What are those moments when we allow God to restore us again?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Air Mata Yesus

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

22 Maret 2026

Yohanes 11:1-45

Minggu Kelima Prapaskah mengungkapkan salah satu momen paling emosional bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Biasanya, Yohanes menggambarkan Yesus sebagai sosok yang khusyuk dan memiliki ketenangan yang agung, jarang mengungkapkan keadaan psikologis batin-Nya. Namun, dalam Bab 11, kita diberi kesempatan untuk melihat sekilas kedalaman kemanusiaan Yesus.

Ketika Yesus tiba di Betania untuk mengunjungi sahabat-Nya, Lazarus, yang baru saja meninggal, saudara perempuan Lazarus, Marta, menyambut-Nya terlebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya tidak akan meninggal. Yesus meyakinkan Marta bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Marta mengakui imannya kepada-Nya, dan sejenak, segalanya tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, Maria datang, dan mengulang kata-kata saudarinya. Namun, ia jatuh di kaki-Nya, menangis bersama mereka yang menyertainya. Yohanes sang Penginjil mencatat bahwa Yesus “sangat terharu” dan “tergerak hati-Nya.” Saat mereka membawa Yesus ke kuburan Lazarus, Ia tak lagi dapat menahan kesedihannya, dan Ia mulai menangis.

Mengapa Yesus menunjukkan emosi yang begitu kuat? Orang-orang Yahudi yang menyaksikan-Nya berkata, “Lihatlah betapa Ia mengasihi Lazarus.” Yesus mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria dengan sangat dalam; saat kehilangan sahabat-Nya, Ia berduka dan menangis. Yesus menunjukkan reaksi manusiawi yang banyak dari kita alami ketika kehilangan seseorang yang kita sayangi. Pertanyaannya adalah: jika Yesus tahu dengan sempurna bahwa Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipenuhi oleh kesedihan?

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam. Secara manusiawi, merasakan kesedihan yang mendalam dan berduka adalah cara alami kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan dari orang yang kita cintai. Tanpa kesedihan ini, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa artinya mencintai dan dicintai—menjaga seseorang yang berharga dan menjadi berharga bagi mereka. Allah, sebagai Pencipta hidup kita, mengetahui dengan baik proses alami ini dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Ia memilih tidak menghilangkan rasa sakit ini, melainkan menguduskannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Meskipun Tuhan tidak akan membangkitkan orang dari kubur setiap hari, Ia meyakinkan kita bahwa Ia berduka dan menangis bersama kita. Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia bukanlah untuk segera menghapus air mata dan penderitaan kita, melainkan untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya, sehingga menjadikannya kudus.

Salah satu momen tersulit dalam hidup saya sebagai imam adalah ketika harus berkhotbah dalam Misa pemakaman. Terkadang, seorang kerabat yang berduka akan bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan mengambilnya sekarang?” Jujur saja, saya tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Saya sering berharap memiliki jawaban yang sempurna, atau bahkan karunia untuk membangkitkan orang mati. Namun, saya perlahan menyadari bahwa kehadiran saya di sana bukanlah untuk menyelesaikan masalah mereka atau menghapus kehilangan mendalam mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk berduka bersama mereka, dan, melalui Ekaristi, untuk membawa Yesus ke dalam dukacita mereka. Ketika kita memiliki Yesus bersama kita, bahkan dalam momen-momen paling menyakitkan dalam hidup kita, kita dapat mempersembahkan dukacita kita kepada Allah sebagai persembahan yang berkenan dan suci.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana mengetahui bahwa Yesus menangis untuk sahabat-Nya mengubah cara kita memandang momen-momen duka dan kerentanan kita sendiri? Jika duka yang mendalam adalah cerminan alami dari cinta yang mendalam, bagaimana kita dapat mengundang Tuhan untuk hadir dalam—dan menguduskan—kehilangan yang menyakitkan dalam hidup kita sendiri? Bagaimana kita dapat menawarkan kehadiran yang menghibur dan menyerupai Kristus kepada kerabat atau teman yang sedang berduka?

Jesus’ Tears

5th Sunday of Lent [A]

March 22, 2026

John 11:1-45

The Fifth Sunday of Lent reveals one of the most profoundly emotional moments for Jesus in the Gospel of John. Typically, John depicts Jesus as solemn and possessing a majestic composure, rarely revealing His inner psychological state. Yet, in Chapter 11, we are granted a glimpse into the depths of Jesus’ humanity.

When Jesus arrived in Bethany to visit his friend Lazarus, who had just passed away, Lazarus’s sister Martha greeted Him first. She expressed that had Jesus come earlier, her brother would not have died. Jesus assured Martha that He is the resurrection and the life. Martha professed her faith in Him, and for a moment, everything seemed peaceful. This tranquility, however, did not last. Shortly after, Mary came to Jesus, echoing her sister’s words. But she fell at His feet, weeping alongside those who had accompanied her. John the Evangelist notes that Jesus was “deeply moved in spirit” and “troubled.” As they led Jesus to Lazarus’s tomb, He could no longer contain His sorrow, and He began to weep.

Why did Jesus express such strong emotion? The Jews who witnessed it noted, “See how He loved him.” Jesus loved Lazarus, Martha, and Mary deeply; in losing His friend, He mourns and weeps. Jesus exhibits the very human reaction many of us experience when we lose someone we hold dear. The question, then, is this: if Jesus knew perfectly well that He had the power to raise Lazarus from the dead, why did He allow Himself to be so overwhelmed by grief?

Through this touching narrative, Jesus teaches us a profound truth. Humanly speaking, feeling deep sorrow and mourning is our natural way of coping with the painful loss of a loved one. Without this grief, we would never truly understand what it means to love and be loved—to hold someone precious and to be precious to them. God, as the author of our lives, recognizes this natural process in our humanity. Thus, in His infinite wisdom, He chooses not to remove this pain, but rather to sanctify it. But how? While the Lord will not raise someone from the grave every day, He assures us that He mourns and weeps with us. Jesus’ first coming into the world was not meant to immediately erase our tears and agonies, but to fill them with His presence, thereby making them holy.

One of the most difficult moments in my life as a priest is preaching at a funeral Mass. Sometimes, a grieving loved one will ask me, “Why did the Lord take him now?” Honestly, I do not always know what to say. I often wish I had the perfect answer, or even the miraculous gift to raise the dead. Yet, I have gradually come to realize that my presence there is not to solve their problems or erase their profound loss. I am there to be with them, to mourn with them, and, through the Eucharist, to bring Jesus into their mourning. When they have Jesus with them, even in the most painful moments of their lives, they can offer their grief to God as a pleasing and holy sacrifice.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

How does knowing that Jesus openly wept for His friend change the way we view our own moments of grief and vulnerability? If deep mourning is a natural reflection of profound love, how might we invite the Lord to be present in—and make holy—a painful loss in our own life? How can we offer our mourning relatives or friends a comforting, Christ-like presence?