Paskah dan Kerahiman Ilahi

Minggu Kedua Paskah [A]

12 April 2026

Yohanes 20:19-31

Pada Minggu Kedua Paskah, kita merayakan Minggu Kerahiman Ilahi. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kerahiman? Mengapa Gereja memilih Minggu Kedua Paskah untuk perayaan ini? Dan bagaimana bacaan-bacaan kita mengajarkan kita tentang kerahiman?

Untuk memahami kerahiman, kita perlu terlebih dahulu memahami makna dari keadilan. Keadilan berarti memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Sedangkan, kerahiman berarti memberikan kepada seseorang melebihi apa yang menjadi haknya. Jika kita menjawab 5 dari 10 soal dengan benar dalam ujian, kita pantas mendapat nilai 5. Itu adil! Namun, jika guru kita memutuskan untuk menambahkan dua poin ekstra pada nilai kita, itu melampaui apa yang seharusnya kita terima; itulah belas kasih. Dari sudut pandang ilahi, Allah tidak berhutang apa pun kepada kita. Kita tidak dapat menuntut apa pun dari-Nya. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah yang lahir dari kerahiman-Nya: hidup kita, talenta kita, keluarga kita, teman-teman kita, dan kekayaan kita, dan masih banyak lagi.

Mengapa memilih Minggu Kedua Paskah? Perayaan ini sebenarnya relatif baru karena ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada 30 April 2000, tepat saat kanonisasi Santa Faustina Kowalska. Keputusannya didasarkan pada wahyu pribadi yang diberikan kepada Santa Faustina, di mana Yesus mengungkapkan keinginannya agar Minggu Kedua Paskah dirayakan sebagai Hari Kerahiman Ilahi. Namun, mengapa Yesus secara khusus menginginkan Minggu Kedua?

Jawabannya terdapat dalam Injil hari ini. Seminggu setelah kebangkitan, Yesus sekali lagi menampakkan diri kepada para murid-Nya. Khususnya kepada Tomas, yang meragukan kebangkitan, Yesus memperlihatkan diri-Nya dan juga luka-luka-Nya. Tomas menjadi penerima kerahiman ilahi yang luar biasa. Sejatinya, ia tidak berhak menuntut bukti; bahkan, ia sebenarnya pantas mendapat hukuman, karena ia telah meninggalkan Yesus pada saat yang kritis. Namun, Yesus mengampuninya dan bahkan mengabulkan tuntutannya yang tidak masuk akal, dengan menunjukkan kepadanya bukti kasih-Nya yang tak terbatas: “Aku mati untukmu agar engkau hidup.”

Kita sering kali seperti Tomas dan para murid lainnya. Allah telah memberikan segala hal baik, namun kita tetap mengkhianati-Nya, menjual-Nya dengan hal-hal duniawi seperti uang atau ketenaran, bahkan lari dari-Nya saat hidup menjadi sulit. Selain itu, alih-alih meminta pengampunan, kita sering kali menuntut lebih dari Tuhan. Namun, meskipun kita tidak bersyukur, Yesus tetap menunjukkan bukti kasih-Nya dan tetap sangat berbelas kasih kepada kita.

Sebagai orang-orang yang telah menerima kerahiman yang begitu mendalam, kita dipanggil untuk berbelas kasihan juga. Namun, bagaimana caranya? Kita dapat belajar dari kehidupan para Jemaat pertama di Yerusalem. Mereka menjual harta benda mereka agar dapat saling membantu. Membantu saudara-saudari kita yang membutuhkan adalah tindakan belas kasihan yang mendalam. Namun, tindakan berbagi ini harus didasarkan pada ajaran para Rasul, berakar pada kehidupan bersama, dan mengambil kekuatannya dari pemecahan roti dan doa. Dalam Ekaristi, kita menemukan alasan utama mengapa kita harus berbelas kasih: Allah telah menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita dengan memberikan Putra-Nya, Yesus, untuk keselamatan kita. Yesus, pada gilirannya, telah berbelas kasih kepada kita dengan menyerahkan tubuh dan darah-Nya untuk pengudusan kita. Tanpa menyatukan diri kita dengan belas kasih Yesus, tindakan belas kasih kita sendiri menjadi sia-sia dan tidak berarti karena hanya mementingkan diri sendiri. Hanya dalam Yesuslah tindakan belas kasih kita menemukan pemenuhan dan kesempurnaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Kapan kita pernah mengalami belas kasihan Allah dalam hidup, menerima berkat atau pengampunan yang jauh melampaui apa yang kita rasa pantas terima? Dalam hal apa kita kadang-kadang bertindak seperti Tomas—meragukan kehadiran Allah atau menuntut bukti ketika hidup menjadi sulit? Apa satu cara nyata dan konkret yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan belas kasihan kepada seseorang yang membutuhkan? Bagaimana kita dapat lebih menyatukan tindakan sehari-hari kita dengan pengorbanan Yesus?

Easter and God’s Mercy

Second Sunday of Easter [A]

April 12, 2026

John 20:19-31

On the Second Sunday of Easter, we celebrate the Sunday of Divine Mercy. But what exactly is mercy? Why did the Church choose the Second Sunday of Easter for this feast? And how do our readings teach us about acts of mercy?

To understand mercy, we first need to know the meaning of the virtue of justice. Justice means giving someone what is due to them. To be merciful, however, means giving someone far beyond what they are due. If we correctly answer 5 out of 10 questions on a test, we deserve a 5 as our mark—that is justice. Yet, if our teacher decides to add two extra points to our grade, that goes beyond what is due to us; that is mercy. From a divine perspective, God does not owe us anything. We cannot demand anything from Him. Therefore, everything we have is a free gift born of His mercy: our lives, our talents, our families, our friends, and our wealth, to name just a few.

Why choose the Second Sunday of Easter? This feast was established relatively recently by Pope John Paul II on April 30, 2000, during the canonization of St. Faustina Kowalska. His decision was based on private revelations given to St. Faustina, in which Jesus expressed His desire for the Second Sunday of Easter to be celebrated as Divine Mercy Sunday. But why did Jesus specifically want the Second Sunday?

The answer lies in today’s Gospel. A week after the resurrection, Jesus once again appeared to His disciples. Specifically to Thomas, who doubted the resurrection, Jesus showed Himself and His wounds. Thomas became the recipient of God’s mercy. He did not have the right to demand proof; in fact, he deserved to be reprimanded, as he had abandoned Jesus at a critical moment. Yet, Jesus forgave his cowardice and unreasonable demands, showing him the proof of His limitless love: “I die for you that you may live.”

We are often like Thomas and the other disciples. God has given us everything we have, yet we still betray Him, trade Him for worldly things like money or fame, and run from Him when life gets tough. Furthermore, instead of asking for forgiveness, we frequently demand more from the Lord. We are incredibly blessed that, despite our ungratefulness, Jesus still shows us the proof of His love and remains deeply merciful to us.

As people who have received such profound mercy, we are called to be merciful in turn. But how? We can learn from the lives of the first believers in Jerusalem. They sold their properties so they could help one another. Helping our brothers and sisters in need is a profound act of mercy. Yet, this act of sharing must be based upon the teachings of the Apostles, rooted in communal life, and draw its strength from the breaking of the bread and prayer. In the Eucharist, we find the core reason why we must be merciful: God has shown us mercy by giving us His Son, Jesus, for our salvation. Jesus, in turn, has been merciful to us by giving up His body and blood for our sanctification. Without uniting ourselves to Jesus’ mercy, our own acts of mercy are empty and self-seeking. Only in Jesus do our acts of mercy find true fulfillment and perfection.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

When have I experienced God’s mercy in my own life, receiving blessings or forgiveness that went far beyond what I felt I deserved? In what ways do I sometimes act like Thomas—doubting God’s presence or demanding proof when life gets difficult? What is one tangible, concrete way I can show mercy to someone in need this week? How can I better unite my daily actions with Jesus’s sacrifice?

Kisah Yesus dan Kita

Minggu Paskah [A]

5 April 2026

Matius 28:1-10

Kita menyukai cerita, terutama yang penuh dengan drama dan alur cerita yang tak terduga. Oleh karena itu, Allah mengutus Putra-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan masuk ke dalam sejarah manusia. Kemudian, di bawah pengaruh Roh Kudus, para murid-Nya menceritakan dan menuliskan kisah hidup Yesus menjadi sebuah cerita, yakni Injil. Kisah-Nya telah menjadi cerita terhebat yang pernah dikisahkan. Namun, mengapa kita suka mendengarkan cerita, dan mengapa cerita tentang Yesus adalah yang terbaik?

Kita adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk berbahasa. Melalui kata-kata, kita tidak hanya berkomunikasi satu sama lain, tetapi juga menemukan makna dan tujuan dalam hidup kita. Pada zaman kuno, orang-orang menceritakan kisah-kisah mitos untuk memahami berbagai fenomena alam seperti hujan, guntur, dan bintang-bintang. Di zaman modern, kita memiliki ilmu pengetahuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena ini, tetapi jika teori-teori ilmiah ini tidak dijelaskan seperti sebuah cerita yang menarik, kita tidak akan mudah memahaminya dan tidak tertarik untuk mendalaminya.

Kita tidak hanya menggunakan cerita untuk memahami lingkungan sekitar kita, tetapi juga untuk memahami siapa diri kita. Kita secara alami tertarik pada cerita yang baik, entah dalam novel yang ditulis dengan baik, pertunjukan teater yang dikemas dengan apik, atau film atau drama Korea yang diproduksi dengan matang. Kenapa? Karena kita dapat dengan mudah menjadi satu dengan cerita-cerita ini. Cerita yang baik membuat kita tertawa, menangis, bahkan marah, meskipun kita tahu kita sebenarnya bukan bagian dari cerita tersebut. Namun, cerita yang lebih besar adalah yang menjawab makna hidup kita. Kita belajar dari nilai-nilai yang dipegang setiap karakter, kata-kata yang mereka ucapkan, serta tindakan yang mereka lakukan.

Suatu kali, saya memutuskan untuk membaca novel klasik “The Brothers Karamazov” karya Fyodor Dostoyevsky. Awalnya, saya merasa malas saat melihat tebalnya buku itu, lebih dari 800 halaman. Namun, begitu mulai membacanya, saya terhanyut ke dalamnya, bukan hanya karena alur ceritanya yang tak terduga, tetapi juga karena setiap karakter tampak begitu hidup. Saya tertarik pada karakter Alyosha Karamazov, seorang pemuda yang berjuang mencari Tuhan setelah mentor tercintanya, Romo Zosima, meninggal dunia. Dalam pencariannya, dia menemukan kembali romo Zosima di dalam orang-orang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.

Kembali ke kisah Yesus, alasan mengapa kisah-Nya adalah kisah paling berpengaruh adalah karena kehidupan Yesus dipenuhi dengan alur cerita yang tak terduga: Ia disalibkan, namun bangkit dari kematian; dikhianati, namun kembali dengan kekuatan yang lebih besar; dan dijatuhkan ke tempat terendah, namun kembali dengan kemuliaan. Selain itu, kehidupan dan kata-kata-Nya mengajarkan kita makna terdalam dan tujuan akhir hidup kita. Ajaran-ajaran-Nya seperti berbagai perumpamaan, khotbah di Bukit, dan Hukum Kasih tetap menjadi prinsip-prinsip abadi yang membimbing kita menuju kebahagiaan sejati.

Akhirnya, kisah Yesus adalah kisah terhebat dari semua kisah karena bagi kita yang memiliki iman, kita menjadi bagian dari kisah Yesus, dan kisah-Nya menjadi kenyataan dalam hidup kita. Hidup di dunia ini, kita pasti menanggung rasa sakit dan penderitaan, dan pada akhirnya, kita akan mati. Namun, bagi kita yang setia kepada Yesus, bahkan hal-hal terburuk yang menimpa kita, bahkan kematian sekalipun, tidak akan menjadi akhir dari kita. Yesus yang bangkit telah mengalahkan maut. Oleh karena itu, seperti yang dikatakan St. Paulus, “Jika kita telah mati bersama Kristus, kita percaya bahwa kita juga akan hidup bersama-Nya (Rom 6:8).”

Selamat Paskah!

Leuven
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Jesus

Easter Sunday [A]

April 5, 2026

Matthew 28:1-10

We naturally like stories, especially those filled with drama and unpredictable plot twists. Knowing this, God sent His only begotten Son to become man and enter into our human history. Then, under the influence of the Holy Spirit, His disciples narrated and wrote Jesus’ life into a story. It has become the greatest story ever told. Yet, why do we like to hear stories, and why the story of Jesus is best of all?

We are creatures of language. Through words, we not only communicate with each other, but also find meanings in our lives. In ancient time, people narrated mythical stories to make sense of various natural phenomena like rain, thunder, and stars. In modern time, we have science to explain these, but unless these scientific theories are elaborated like a story, they will not be easily understood, let alone attractive.

We are not only using stories to make sense our surroundings, but also to understand who we are. This is why we are naturally attracted to a good story in well-written novels, well-executed theatrical performances or films, because we can easily participate in them. Good stories make us laugh, cry and even angry, despite knowing that we are not really part of the story. Yet, the greatest stories are those who answer the meanings of our lives. We learn from the values each character holds, words they say and actions they do or fail to do.

One time, I decided to read a classic novel “The Brothers Karamasov” by Fyodor Dostoyevsky. Initially, I was discouraged by its size, more than 800 pages. Yet, when I began to read, I was drawn into it, not only because unexpected plot, but also each character seems to be truly alive. I was particularly attracted to Alyosha Karamazov, young man who struggles to find God when his beloved mentor, father Zosima passed away.

Going back to the story of Jesus, the reason His story is the most powerful story of all time is that Jesus’ life is filled with the most amazing plot twists: He was crucified, yet rose from the death, was betrayed, yet came back ever stronger, and was pushed to the lowest place, yet returned in glory. Furthermore, his life and words teach us the deepest meanings and ultimate destiny of our lives. His teachings like the parables, the sermons on the Mount, the Law of Love remain the eternal principles that guide us into the true happiness.

Finally, the story of Jesus is the greatest story of all because for those who have faith, the story of Jesus becomes a reality in our lives. Living in this world, we cannot but endure pains and sufferings, and ultimately, we are going to die. However, when we are faithful to Jesus, even the worst things that befall us will never have the final say in our lives. Even the darkest hours in our lives, we will make sense as we participate in His cross. As St. Paul said, “Now if we died with Christ, we believe that we will be also live with Him (Rom 6:8).”

Blessed Easter!

Leuven

Valentinus Bayu, OP