Tempat Kita di Surga

Minggu Kelima Paskah [A]

3 Mei 2026

Yohanes 14:1-12

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata kepada para murid-Nya agar jangan gelisah. Ia mengajak mereka untuk percaya kepada Allah dan kepada-Nya, sambil menjelaskan bahwa Ia akan pergi ke rumah Bapa untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Apa arti dari perkataan Yesus ini?

Untuk memahami perkataan Yesus dengan lebih baik, kita perlu melihat bab sebelumnya, yakni Yohanes 13. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus menubuatkan dua hal: pertama, bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, dan kedua, bahwa Simon Petrus—pemimpin di antara para rasul—akan menyangkal-Nya bukan sekali, melainkan tiga kali. Ini tentu bukanlah prediksi yang menggembirakan. Mengetahui bahwa Guru yang mereka kasihi akan dikhianati dan disangkal mengguncang hati para murid. Nubuat-nubuat ini juga menimbulkan keraguan tentang kelanjutan komunitas Yesus dan, yang lebih buruk lagi, hilangnya harapan mereka pada-Nya sebagai Mesias yang dinantikan.

Mengetahui kekhawatiran mereka, Yesus meyakinkan mereka bahwa hal-hal mengerikan yang akan menimpa mereka bukanlah akhir dari segalanya. Memang, nubuat-nubuat ini harus terjadi, dan Yesus akan menanggung penderitaan dan penyaliban-Nya, tetapi semua itu merupakan bagian dari rencana Allah untuk menunjukkan kasih-Nya kepada manusia. Selain itu, Yesus memandang penderitaan dan kematian-Nya sebagai “kembali ke rumah Bapa.” Akhir dari kehidupan-Nya di dunia, seberapa pun menyakitkan, bukanlah sebuah kekalahan. Hal itu seperti seorang raja yang kembali ke kerajaannya dengan penuh kemenangan setelah perjalanan yang sulit. Inilah kabar baik pertama kita: meskipun kita mengalami kesulitan dan penderitaan dalam hidup, tetap Tuhanlah yang berkuasa. Bahkan, Tuhan mengizinkan hal-hal ini terjadi demi kebaikan kita yang sejati. Seperti yang dikatakan St. Paulus, “Kita tahu bahwa dalam segala hal, Allah bekerja untuk kebaikan mereka yang mengasihi-Nya…” (Rom 8:28).

Selain itu, Yesus meyakinkan para murid bahwa Ia tidak sekedar kembali ke rumah Bapa-Nya, tetapi juga pergi untuk mempersiapkan tempat bagi mereka. Kerajaan Bapa tidak lagi tertutup, melainkan terbuka bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Gereja mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Yesus, tidak ada satu jiwa pun yang dapat masuk surga karena dosa Adam. Bahkan jiwa-jiwa yang benar, seperti Musa dan Elia, harus menunggu di gerbang surga hingga Yesus datang, membukanya, dan mempersiapkan tempat bagi mereka.

Namun, ada sesuatu yang lebih penting daripada tempat kita di surga. Yesus berkata bahwa Ia akan kembali kepada murid-murid-Nya dan membawa mereka bersama-Nya, sehingga di mana Yesus berada, murid-murid-Nya pun berada. Surga bukan sekadar tempat tinggal; pada akhirnya, itu adalah hidup bersama Yesus. Surga yang sejati bukan hanya soal lokasi, tetapi hubungan dengan Yesus.

Inilah kabar baik kedua kita. Surga bukan hanya realitas kehidupan setelah mati, tetapi sesuatu yang dapat kita alami dalam kehidupan duniawi ini. Jika kita terus bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus—melalui doa dan sakramen, mengikuti perintah-Nya, dan menghindari hidup dosa—kita sudah hidup di surga. Yang lebih menakjubkan lagi adalah bahwa meskipun kita menghadapi banyak masalah di dunia ini, kita tetap dapat bertumbuh dalam persahabatan dengan Yesus. Bahkan ketika kita sakit dan menderita, kita tetap dapat berdoa dan mempersatukan penderitaan kita dengan-Nya. Bahkan ketika kita berjuang dengan hubungan kita, dan orang lain meninggalkan kita sendirian, kita dapat yakin bahwa Yesus ada bersama kita. Tempat sejati kita di surga adalah di hati Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Kekhawatiran atau kegelisahan apa yang perlu saya serahkan kepada Yesus hari ini? Bagaimana saya secara aktif mengembangkan persahabatan saya dengan Yesus dalam kehidupan sehari-hari? Dapatkah saya percaya bahwa Allah bekerja untuk kebaikan saya, bahkan dalam perjuangan atau kesulitan yang sedang saya hadapi saat ini?

Our Place in Heaven

Fifth Sunday of Easter [A]

May 3, 2026

John 14:1-12

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples not to be troubled. He urges them to have faith in God and in Him, explaining that He is going to the Father’s house to prepare a place for them. What does this mean?

To get a better context, we can look at the previous chapter, John 13. After washing His disciples’ feet, Jesus made two prophecies: first, that one of His disciples would betray Him, and second, that Simon Peter—the leader among the apostles—would deny Him not once, but three times. These were certainly not happy predictions. Knowing their beloved teacher would be betrayed and disowned shook the hearts of the disciples. These predictions also cast doubt on the continuation of Jesus’ movement and, even worse, threatened to put an end to their hope in Him as their expected Messiah.

Knowing their anxieties, Jesus assures them that the terrible things about to befall them are not the end. Indeed, these prophecies must take place, and He will endure His passion and crucifixion, but it is all part of God’s plan to show His love for us. Furthermore, Jesus sees His suffering and death as “going back to the Father’s house.” The end of His earthly life, however painful and humiliating, is never a defeat. It is like a king gloriously returning to his kingdom after a difficult journey. This is our first piece of good news: even though we experience difficulties and suffering in life, God is in control. In fact, God allows these things to happen for our ultimate good. As St. Paul says, “We know that in all things God works for the good of those who love him…” (Rom 8:28).

Moreover, Jesus assures the disciples that He does not simply return to His Father’s house, but also goes to prepare a place for them. The Father’s kingdom is no longer shut, but open to those who believe in Jesus. The Church teaches that before Jesus’ coming, no single soul was able to enter heaven because of the sin of Adam. Even the just souls, like Moses and Elijah, had to wait at the gates of heaven until Jesus came, opened them, and prepared a place for them.

However, there is something even more important than our place in heaven. Jesus says that He will return to His disciples and take them with Him, so that where Jesus is, His disciples may also be. Heaven is not just a place to stay; ultimately, it is living with Jesus. True heaven is not merely about a location, but a relationship with Jesus.

This is our second piece of good news. Heaven is not only an afterlife reality, but something we can experience in this earthly life. If we continue to grow in our friendship with Jesus—through prayer and the sacraments, following His commandments, and avoiding a sinful life—we are already living in heaven. What is even more amazing is that even if we are enduring a lot of problems in this world, we can continue growing in our friendship with Jesus. Even when we are sick and in pain, we can continue to pray and unite our suffering to His. Even when we are struggling with our relationships, and others leave us alone, we can be sure Jesus is with us. Our true place in heaven is at the heart of Jesus.

Rome

Guide questions:
What anxieties or worries do I need to hand over to Jesus today? How am I actively growing my friendship with Jesus in my everyday life? Can I trust that God is working for my good, even in a current struggle or difficulty I am facing?