Minggu Pentekosta [A]
Kisah Para Rasul 2:1-11
24 Mei 2026
Pentekosta sering dipandang sebagai kebalikan dari kisah Menara Babel (Kej 11). Namun, mengapa tradisi Gereja mengaitkan kedua kisah yang berbeda ini? Jawabannya adalah bahasa.

Dalam Kejadian 11, kita melihat fungsi bahasa dalam kehidupan manusia. Kej 11 mengisahkan manusia yang memiliki satu bahasa dan juga kata-kata yang sama. Kesatuan bahasa ini memungkinkan mereka berbagi ide dengan lancar dan bekerja sama dengan mudah, sehingga mendorong kemajuan dalam hidup bermasyarakat. Bahasa memungkinkan mereka mengembangkan teknologi seperti pembuatan batu bata, membangun kota yang membutuhkan sistem politik dan ekonomi yang kompleks, serta membangun menara raksasa yang menuntut teknik yang rumit.
Sejatinya, bahasa membedakan kita dari semua makhluk lain. Meskipun hewan berkomunikasi, hanya manusia yang berbagi ide-ide kompleks. Hewan dapat bertukar informasi dasar tentang makanan dan predator, tetapi manusia menyampaikan idealisme, impian masa depan, imajinasi, kebijaksanaan masa lalu, dan juga pengetahuan. Meskipun hewan berkomunikasi melalui suara dan bau, hanya manusia yang dapat mencatat kata-kata mereka dalam tulisan, meneruskan pemikiran mereka kepada generasi mendatang. Melalui bahasa tertulis, kita mengubah kata-kata kita menjadi seni, puisi, musik, dan ilmu pengetahuan.
Jika melihat perkembangan bayi manusia dan membandingkannya dengan bayi binatang lain, kita menyadari bahwa bayi manusia sangat rentan dan bergantung sepenuhnya pada orang tua untuk bertahan hidup selama beberapa tahun pertama. Namun, meskipun memiliki kelemahan fisik ini, mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki hewan lain: kemampuan bawaan untuk berbahasa. Pada dua hingga tiga bulan pertama, bayi mulai mengeluarkan suara-suara vokal seperti “ooh” dan “ah.” Mereka menangis, tersenyum, dan tertawa sebagai respons terhadap orang tua mereka. Pada usia empat hingga enam bulan, mereka mulai menggabungkan konsonan dan vokal menjadi bunyi berulang seperti “ba-ba” atau “ma-ma,” berlatih dengan pita suara mereka. Antara enam dan dua belas bulan, mereka mulai menghubungkan bunyi dengan makna—mengatakan “mama” untuk secara khusus memanggil ibu mereka. Mereka juga mulai menggunakan isyarat, menunjuk pada apa yang mereka inginkan atau melambaikan tangan untuk berpamitan, serta mulai memahami kata-kata sederhana seperti “ya.” Bayi manusia sungguh terlahir untuk menggunakan bahasa.
Sayangnya, orang-orang dalam Kejadian 11 melupakan satu kebenaran mendasar: bahasa manusia pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Dalam Kejadian 1, Allah menciptakan dunia melalui firman-Nya, yang berarti bahwa kata-kata dan bahasa pada hakikatnya adalah milik-Nya. Ketika Ia menciptakan pria dan wanita menurut citra-Nya, Ia memberdayakan kita dengan kapasitas intelektual, termasuk kemampuan untuk membentuk dan menggunakan bahasa. Para pembangun menara Babel percaya bahwa kecerdasan, bahasa, ilmu pengetahuan, seni, dan talenta besar lainnya sepenuhnya merupakan pencapaian mereka sendiri. Mereka pun dengan sombong berusaha mencapai langit dan membuat nama bagi diri mereka sendiri (Kej 11:4).
Pentekosta membalikkan peristiwa di Babel dengan mengungkapkan bahwa bahasa adalah karunia Roh Kudus. Tujuan utama karunia ini adalah untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, bukan karya-karya manusia. Pentekosta mengingatkan kita bahwa bahasa kita tidak hanya mempersatukan kita satu sama lain, tetapi juga menghubungkan kita dengan Tuhan. Sebelum para murid menerima karunia Roh Kudus, mereka menghabiskan waktu berdoa—dan doa merupakan komunikasi dengan Tuhan. Sebelum mereka berbicara tentang Allah, mereka terlebih dahulu berbicara kepada Allah. Kita tidak perlu membangun menara dengan tangan kita untuk mencapai langit; kita hanya perlu menggunakan bahasa yang diberikan Allah kepada kita untuk mencapai-Nya dengan kerendahan hati.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
pertanyaan panduan:
Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita menggunakan kata-kata kita untuk membangun nama bagi diri kita sendiri (seperti di Babel), atau untuk mempersatukan dan mengangkat orang-orang di sekitar kita? Para murid berbicara kepada Tuhan sebelum mereka berbicara tentang-Nya—seberapa banyak bahasa sehari-hari kita yang didedikasikan untuk berbicara dengan Tuhan dalam kerendahan hati? Karena kata-kata kita adalah karunia yang dimaksudkan untuk memberitakan karya-karya besar Tuhan, pesan apa yang disampaikan oleh ucapan kita kepada dunia saat ini?
