Minggu Paskah ke-7 [A]
17 Mei 2026
Yohanes 17:1-11
Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan pernyataan yang mendalam bahwa “saat-Nya” telah tiba—saat kemuliaan-Nya. Namun, apa arti saat kemuliaan ini bagi Yesus?

Untuk memahami bobot pernyataan ini, kita harus terlebih dahulu menelaah apa yang dianggap dunia sebagai kemuliaan. Pada zaman kuno, sama seperti di era modern, kemuliaan identik dengan kemenangan, pencapaian, dan penaklukan. Ketika Julius Caesar menaklukkan Gaul (yang kini dikenal sebagai Prancis), ia memasuki Roma diiringi sorak-sorai kerumunan, memamerkan para pemimpin lawan yang ditangkap dan rampasan perang untuk mengukuhkan ketenarannya. Kita sering mencari kemuliaan dengan cara serupa, memamerkan trofi, ijazah, dan kredensial kita sebagai simbol kesuksesan.
Namun, ketika Yesus berbicara tentang kemuliaan-Nya, Dia merujuk pada sesuatu yang bertolak belakang dengan kemenangan duniawi: saat penderitaan, penyaliban, dan kematian-Nya. Yesus menghadapi penangkapan yang licik, pengadilan yang tidak adil, dan hukuman yang kejam. Ia disiksa dan dipaksa membawa alat eksekusi-Nya sendiri, dan akhirnya digantung di salib yang dirancang untuk penghinaan dan penderitaan yang maksimal. Namun, dalam momen penderitaan yang mendalam ini, Yesus melihat kemuliaan-Nya. Bagi-Nya, kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam ketenaran, melainkan dalam pemberian diri-Nya yang total melalui cinta kasih dan mengorbankan diri. Hanya kasih yang radikal inilah yang memiliki kuasa untuk mengubah kematian menjadi kehidupan baru.
Selama masa Paskah ini, bacaan pertama diambil dari Kisah Para Rasul yang secara khusus menyoroti perkembangan Gereja awal. Meskipun narasi sering berpusat pada perjalanan Santo Petrus dan Santo Paulus, tokoh utama sejati dalam Kisah para Rasul adalah Roh Kudus. Tidak hanya muncul pada saat Pentekosta, Roh Kudus secara terus-menerus mengarahkan setiap langkah Gereja awal. Rohlah yang menuntun Filipus kepada pejabat Afrika dalam Kis 8:26-40 dan membawa Petrus ke rumah Kornelius dalam bab 10, yang berujung pada pembaptisan orang-orang Kristen Romawi pertama. Selain itu, Rohlah yang memulai misi resmi ke wilayah-wilayah bangsa bukan Yahudi dengan memilih Paulus dan Barnabas dalam Kis 13:2.
Bimbingan ilahi ini tetap menjadi landasan penegasan Gereja. Sidang Yerusalem menyimpulkan bahwa kehendak Roh Kudus adalah tidak membebani orang-orang non-Yahudi yang percaya kepada Yesus dengan hukum Musa (Kis 15:28). Kemudian, Roh Yesus mengalihkan misi Paulus dari Asia ke Eropa (Kis 16:6-10). Di bawah bimbingan ilahi ini, Gereja yang masih muda berkembang pesat seiring orang-orang non-Yahudi menerima iman. Namun, “momen-momen kemuliaan” ini hanyalah separuh dari Kisah Para Rasul. Saat Gereja bertumbuh, Gereja juga mengalami penganiayaan dan penderitaan yang tiada henti. Petrus dan Paulus membawa banyak orang kepada Kristus, tetapi kisah mereka juga mengarah pada penolakan, pemenjaraan, dan akhirnya kemartiran.
Pada akhirnya, Roh Kudus tidak memimpin Gereja menuju kesuksesan atau kenyamanan duniawi. Sebaliknya, Roh Kudus memimpin kita ke tempat-tempat dan “saat-saat” tepat di mana kita paling dibutuhkan. Dengan mengikuti Penolong ilahi ini, kita diberdayakan untuk meneladani Tuhan kita, menemukan kemuliaan kita pada saat-saat di mana kita menyerahkan diri sepenuhnya bagi sesama.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Pertanyaan panduan:
Di bidang kehidupan mana kita mengejar “kemuliaan Kaisar” (ketenaran, gelar, atau status), dan bagaimana kita dapat beralih ke “kemuliaan Yesus” dengan memprioritaskan kasih yang rela berkorban dan pelayanan kepada sesama? Ketika kita menghadapi “saat” ujian atau penghinaan, apakah kita melihatnya hanya sebagai rintangan, atau bisakah kita mengenali cara-cara di mana Allah mungkin menggunakan momen-momen itu untuk menunjukkan kasih yang radikal? Roh Kudus memimpin Gereja mula-mula ke tempat-tempat yang membutuhkan daripada tempat-tempat yang nyaman; ke mana Roh Kudus memimpin kita saat ini yang mungkin mengharuskan kita untuk keluar dari zona nyaman kita?
