Roh Kudus dan Sakramen Penguatan

Minggu Paskah Keenam [A]

Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17

10 Mei 2026

Sakramen Penguatan atau Krisma bisa dibilang yang paling kurang mendapatkan perhatian dan juga seringkali disalahpahami di antara ketujuh Sakramen di Gereja Katolik. Namun, mengapa kita gagal menghargai sakramen ini? Apakah sakramen ada dalam Alkitab? Dan, bagaimana sakramen ini mengungkapkan rahasia-rahasia tentang Roh Kudus?

Kita sering kali kesulitan untuk menghargainya karena sakramen ini tidak memiliki dampak langsung dan terlihat dalam hidup kita, padahal dasarnya sangat alkitabiah. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, khususnya bab 8, kita melihat Filipus sang Diakon berkhotbah dan membaptis di Samaria. Ketika para Rasul Petrus dan Yohanes tiba di Samaria, mereka berdoa agar mereka yang sudah dibaptis menerima Roh Kudus, karena Roh Kudus belum turun atas mereka. Narasi biblis ini menegaskan bahwa sejak zaman para Rasul, telah ada sakramen yang khusus untuk menyampaikan kehadiran dan karunia Roh Kudus, suatu pelayanan yang secara unik terikat pada otoritas para Rasul.

Melanjutkan tradisi ini, Gereja mengajarkan bahwa para Uskup sebagai penerus para Rasul menjadi pelaksana utama sakramen penguatan ini. Nama “Penguatan” digunakan karena Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang diterima memperkuat dan mengokohkan rahmat awal Baptisan. Sementara Baptisan dipandang sebagai sarana kelahiran rohani, Penguatan berfungsi sebagai sarana peralihan menuju kedewasaan rohani. Sakramen ini dirancang untuk membekali orang beriman dalam menjalankan misi mereka di dunia dan memberikan kekuatan yang diperlukan untuk peperangan rohani melawan kuasa kegelapan.

Namun, sakramen ini sering kali kurang populer dibandingkan sakramen-sakramen lain karena tidak secara dramatis mengubah gaya hidup atau status eksternal seseorang. Sakramen ini tidak seperti Sakramen Perkawinan atau Tahbisan yang mengubah seseorang menjadi suami-istri atau imam. Selain itu, karena hanya diterima sekali, sakramen ini tidak memiliki katekese berkala seperti yang kita temukan dalam Ekaristi atau Sakramen Pengakuan Dosa. Banyak orang Kristen modern juga keliru mengidentikkan pertumbuhan rohani dengan sensasi emosional. Ketika kita tidak merasa “tersentuh,” tidak mendengar suara Tuhan, atau tidak mengalami karunia yang spektakuler selama doa, kita sering tergoda untuk berpikir bahwa kita tidak memiliki Roh Kudus. Karena sakramen ini tidak memberikan sensasi yang diharapkan, kita menganggap bahwa sakramen ini membosankan atau stagnan.

Namun, jika kita baca dengan teliti Kisah Para Rasul, bab 8 menunjukkan bahwa Roh Kudus tidak selalu bekerja melalui pertunjukan yang spektakuler. Setelah Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka pada orang-orang Samaria, tidak ada penyebutan tentang mukjizat, nubuat, bahasa roh atau pertunjukan rohani yang luar biasa lainnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Roh Kudus sering bekerja dengan tenang dan bertahap. Melalui Sakramen Penguatan, kita menerima peningkatan dalam tujuh karunia Roh Kudus: Kebijaksanaan, Pemahaman, Nasihat, Keteguhan Hati, Pengetahuan, Kesalehan, dan Takut akan Tuhan. Karunia-karunia ini memungkinkan kita menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah bahkan di tengah cobaan. Bukti sejati karya Roh Kudus terdapat pada tindakan-tindakan kecil yang setia—memilih untuk menghadiri Misa meski terasa membosankan, tetap penuh kasih di tengah kesulitan pernikahan, atau melayani orang lain tanpa mencari pujian. Inilah tanda-tanda hening bahwa Roh Kudus melalui sakramen benar-benar mengubah jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa sering saya menyamakan pertumbuhan iman dengan seberapa “emosional” atau “bersemangat” saat berdoa? Bagaimana saya dapat kembali fokus pada pertumbuhan yang tenang dan bertahap yang diberikan Roh Kudus? Jika Baptisan adalah kelahiran rohani dan Penguatan adalah masuknya saya ke dalam kedewasaan rohani, di bidang-bidang kehidupan mana saya dipanggil untuk lepas dari iman “yang kekanak-kanakan” dan mengambil tanggung jawab sebagai seorang Kristen yang dewasa?

Domba yang Mengembalakan Domba Lainnya

Minggu Keempat Paskah [A]

26 April 2026

Yohanes 10:1-10

Hidup di dunia modern, kita sering dihadapkan pada kenyataan bahwa orang-orang terdekat kita—anak-anak, kerabat, dan teman-teman—tidak lagi percaya bahwa agama atau kegiatan keagamaan itu penting. Bagaimana kita menanggapi hal ini dengan penuh kasih, dan bagaimana Yesus, Gembala yang Baik kita, memberikan jawaban atas situasi sulit ini?

Pertama, kita harus mengenali sumber pergulatan kita. Kita menginginkan yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, dan tidak ada yang lebih baik bagi mereka daripada kehidupan kekal. Mengetahui bahwa mereka hidup jauh dari Yesus membahayakan jiwa mereka, dan hal ini sangat menyakitkan bagi kita. Kesadaran ini penting; hal ini menunjukkan bahwa kepedulian kita lahir dari cinta yang tulus, bukan keinginan untuk mengendalikan mereka.

Karena kasih menginspirasi kita, kita harus mendekati mereka dengan kasih. Langkah pertama adalah memahami bahwa penolakan mereka terhadap kehidupan religius berasal dari alasan-alasan unik, yang seringkali tersembunyi. Beberapa orang menolak agama karena mereka percaya bahwa iman bertentangan dengan akal budi, sehingga membuatnya tidak relevan di dunia modern. Yang lain tidak lagi pergi ke gereja karena pengalaman menyakitkan di masa lalu dengan para pemimpin Gereja. Beberapa hanya ingin mempertahankan gaya hidup “bebas” yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, sementara yang lain dipengaruhi oleh lingkungan atau teman-teman yang membawa mereka ke dalam kesalahpahaman tentang iman.

Selanjutnya, kita dapat belajar dari cara Gembala yang Baik menjaga domba-domba-Nya. Gembala yang Baik memberi petunjuk dengan suara yang tegas, tetapi tidak pernah melalui paksaan atau kekerasan. Ia berjalan di depan kawanan-Nya, memimpin dengan teladan. Ia merawat setiap domba-Nya, mengenal mereka dengan nama dan mengenali karakteristik unik mereka. Ketika bahaya mendekat, Ia membuktikan kasih-Nya bukan dengan mengorbankan domba-domba, melainkan dengan mengorbankan hidup-Nya sendiri.

Seperti Gembala yang Baik, kita perlu menunjukkan kasih kita dengan mendengarkan kisah dan pergulatan mereka. Kita tidak datang untuk menghakimi, melainkan menjadi mitra dialog yang bisa dipercaya. Pada saat yang sama, kita perlu tetap teguh pada pendirian kita, yakin akan kebenaran iman kita, dan sadar akan bahaya-bahaya duniawi. Yang paling penting, kita harus memimpin dengan teladan. Kita menjadi saksi hidup iman kita ketika kita mempraktikkan apa yang kita ajarkan. Pada akhirnya, kita menunjukkan bahwa iman kita adalah sangat mendasar karena iman yang sama menginspirasi kita untuk mendampingi mereka saat hidup menjadi sulit, siap mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa kita untuk mereka.

Beberapa orang mungkin membutuhkan jawaban logis tentang iman kita, yang berarti kita harus terus belajar lebih banyak tentang iman. Yang lain membutuhkan penyembuhan dari luka masa lalu, dan kita perlu menjadi teman sejati dalam perjalanan mereka pulang. Semua ini membutuhkan pengorbanan waktu, energi, dan bahkan hidup kita. Namun, kita melakukannya dengan sukacita karena kita sungguh-sungguh mencintai mereka dan menginginkan keselamatan kekal mereka.

Terakhir, kita harus ingat bahwa kita bukanlah Gembala yang Baik; kita adalah domba-Nya yang berusaha menggembalakan domba lain. Pada akhirnya, kita mungkin menghadapi kegagalan, dan mungkin terasa seolah-olah pengorbanan kita sia-sia. Namun, hal ini tidak boleh membuat kita putus asa. Sebaliknya, kita harus menyerahkan segalanya kepada Gembala yang Baik yang sejati. Kita telah mendengar suara-Nya, dan dengan mengikuti-Nya dengan setia, kita akan menemukan istirahat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya benar-benar mendengarkan untuk memahami pergulatan mereka yang jauh dari Tuhan, ataukah saya dengan cepat menghakimi dan ingin mengendalikan? Apakah tindakan harian saya mencerminkan kasih sayang Gembala yang Baik? Apakah kesabaran, empati, dan kesediaan saya untuk berkorban menunjukkan kepada orang-orang yang saya cintai dampak positif dan hidup dari iman saya? Ketika upaya saya untuk membantu seseorang sepertinya gagal dan saya merasa putus asa, apakah saya membiarkan diri saya terjatuh ke dalam keputusasaan, ataukah saya secara aktif memilih untuk menyerahkan mereka kepada Gembala yang Baik yang sejati?

Yesus dan Kita

Minggu Palma dalam Kisah Sengsara Tuhan (A)

29 Maret 2026

Matius 21:1-11 dan Matius 26:14 – 27:66

Minggu Palma merupakan momen istimewa dalam liturgi Katolik di mana kita mendengarkan dua bacaan Injil. Yang pertama adalah kisah masuknya Yesus ke kota Yerusalem, dan yang kedua adalah Kisah Sengsara-Nya. Kedua kisah tersebut berasal dari Matius. Kita sering mendengar bahwa kedua kisah ini terhubung oleh “orang-orang”. Seringkali diasumsikan bahwa orang-orang yang pada awalnya menyambut dan bersorak-sorai bagi Yesus sebagai raja adalah orang-orang yang sama yang kemudian berteriak, “Salibkan Dia!” Namun, apakah ini benar? Atau apakah ini hanya drama imaginatif untuk memperkaya kisah Yesus?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menengok kembali ke masa Yesus dan memahami apa yang terjadi di Yerusalem. Di Israel abad pertama, orang-orang Yahudi hidup di bawah penjajahan Romawi, dan kehidupan sangat sulit bagi banyak orang. Keinginan untuk terbebas dari kekuasaan Romawi sangat kuat, dan terinspirasi dari Perjanjian Lama mereka menanti kehadiran seorang Mesias (yang diurapi) yang dijanjikan Allah untuk memimpin mereka menuju kebebasan.

Ketika Yesus muncul, Dia datang sebagai sosok yang memiliki kuasa ilahi. Ia mengajarkan kebenaran dengan otoritas dan melakukan mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tentu saja, hal ini memicu kegembiraan banyak orang Israel, dan orang-orang mulai mengikuti-Nya, berharap Ia adalah Mesias yang telah lama dinantikan. Saat Yesus berjalan menuju Yerusalem untuk salib-Nya, perayaan Paskah Yahudi juga semakin dekat. Perayaan ini memperingati pembebasan Israel dari Mesir (Keluaran 12), dan pada masa itu, orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru bangsa berziarah ke Yerusalem.

Kita dapat membayangkan bahwa seiring Yesus yang semakin dekat dengan Yerusalem, semakin banyak peziarah yang mengenali-Nya dan bergabung dengan para pengikut-Nya. Harapan orang-orang semakin membara saat mereka menyaksikan mukjizat tak tertandingi Yesus yang memulihkan penglihatan dua orang buta di Yerikho, tak jauh dari Yerusalem (Mat 20:29-34) . Saat Yesus memasuki kota dengan menunggang seekor keledai, kerumunan orang yang telah mengikuti-Nya mulai berseru, “Hosana bagi putra Daud.” Begitu juga orang-orang yang ada di Yerusalem, terbawa oleh suasana emosional, menyambut Yesus dengan sukacita.

Jadi, apakah orang-orang yang menyambut Yesus adalah orang yang sama dengan mereka yang menuntut kematian-Nya? Saya percaya bahwa ini adalah dua kelompok yang berbeda. Mereka yang mendukung Yesus adalah para peziarah, kebanyakan berasal dari luar Yerusalem. Sebaliknya, mereka yang menuntut eksekusi Yesus kemungkinan adalah para elit kota Yerusalem dan beberapa penduduk lokal yang usahanya terganggu oleh Yesus dan para pengikut-Nya. Faktanya, persidangan dilakukan dengan terburu-buru pada pagi hari, menunjukkan bahwa hal itu telah direncanakan dengan matang. Matius juga mencatat bahwa imam-imam kepala dan para penatua meyakinkan kerumunan untuk meminta pembebasan Barabbas (Matius 27:20), menunjukkan bahwa kerumunan ini telah dimanipulasi untuk mengikuti rencana para pemimpin Yahudi.

Namun, meskipun ada dua kelompok yang berbeda, kemungkinan individu berpindah pihak tetap ada. Beberapa yang awalnya mendukung Yesus mungkin akhirnya terhasut dan ikut menghukum-Nya. Namun, beberapa yang menyetujui penyaliban Yesus mungkin pada akhirnya kembali kepada-Nya. Contoh yang paling menonjol adalah Petrus, murid terdekat Yesus, yang menyangkal-Nya saat ditangkap tetapi kembali kepada-Nya setelah kebangkitan.

Saat kita memasuki Pekan Suci, sejatinya kita seperti “orang-orang” yang mengikuti Yesus. Kita bisa bertanya: Kapan kita seperti orang-orang yang berteriak, “Hosanna”? Kapan saja kita dengan penuh semangat mengikuti Yesus? Kapan kita seperti mereka yang berteriak, “Salibkan Dia”? Kapan kita mengecewakan-Nya bahkan memberontak terhadap-Nya? Kapan kita seperti Petrus yang lemah, lari dari Tuhan atau bersembunyi? Dan kapan kita seperti Petrus yang diperbarui? Kapan kita membiarkan Tuhan memulihkan kita kembali?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Air Mata Yesus

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]

22 Maret 2026

Yohanes 11:1-45

Minggu Kelima Prapaskah mengungkapkan salah satu momen paling emosional bagi Yesus dalam Injil Yohanes. Biasanya, Yohanes menggambarkan Yesus sebagai sosok yang khusyuk dan memiliki ketenangan yang agung, jarang mengungkapkan keadaan psikologis batin-Nya. Namun, dalam Bab 11, kita diberi kesempatan untuk melihat sekilas kedalaman kemanusiaan Yesus.

Ketika Yesus tiba di Betania untuk mengunjungi sahabat-Nya, Lazarus, yang baru saja meninggal, saudara perempuan Lazarus, Marta, menyambut-Nya terlebih dahulu. Ia mengungkapkan bahwa seandainya Yesus datang lebih awal, saudaranya tidak akan meninggal. Yesus meyakinkan Marta bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Marta mengakui imannya kepada-Nya, dan sejenak, segalanya tampak damai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, Maria datang, dan mengulang kata-kata saudarinya. Namun, ia jatuh di kaki-Nya, menangis bersama mereka yang menyertainya. Yohanes sang Penginjil mencatat bahwa Yesus “sangat terharu” dan “tergerak hati-Nya.” Saat mereka membawa Yesus ke kuburan Lazarus, Ia tak lagi dapat menahan kesedihannya, dan Ia mulai menangis.

Mengapa Yesus menunjukkan emosi yang begitu kuat? Orang-orang Yahudi yang menyaksikan-Nya berkata, “Lihatlah betapa Ia mengasihi Lazarus.” Yesus mengasihi Lazarus, Marta, dan Maria dengan sangat dalam; saat kehilangan sahabat-Nya, Ia berduka dan menangis. Yesus menunjukkan reaksi manusiawi yang banyak dari kita alami ketika kehilangan seseorang yang kita sayangi. Pertanyaannya adalah: jika Yesus tahu dengan sempurna bahwa Ia memiliki kuasa untuk membangkitkan Lazarus dari kematian, mengapa Ia membiarkan diri-Nya dipenuhi oleh kesedihan?

Melalui kisah ini, Yesus mengajarkan sebuah kebenaran yang mendalam. Secara manusiawi, merasakan kesedihan yang mendalam dan berduka adalah cara alami kita menghadapi kehilangan yang menyakitkan dari orang yang kita cintai. Tanpa kesedihan ini, kita tidak akan pernah benar-benar memahami apa artinya mencintai dan dicintai—menjaga seseorang yang berharga dan menjadi berharga bagi mereka. Allah, sebagai Pencipta hidup kita, mengetahui dengan baik proses alami ini dalam kemanusiaan kita. Oleh karena itu, dalam kebijaksanaan-Nya yang tak terbatas, Ia memilih tidak menghilangkan rasa sakit ini, melainkan menguduskannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Meskipun Tuhan tidak akan membangkitkan orang dari kubur setiap hari, Ia meyakinkan kita bahwa Ia berduka dan menangis bersama kita. Kedatangan Yesus yang pertama ke dunia bukanlah untuk segera menghapus air mata dan penderitaan kita, melainkan untuk mengisinya dengan kehadiran-Nya, sehingga menjadikannya kudus.

Salah satu momen tersulit dalam hidup saya sebagai imam adalah ketika harus berkhotbah dalam Misa pemakaman. Terkadang, seorang kerabat yang berduka akan bertanya kepada saya, “Mengapa Tuhan mengambilnya sekarang?” Jujur saja, saya tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan. Saya sering berharap memiliki jawaban yang sempurna, atau bahkan karunia untuk membangkitkan orang mati. Namun, saya perlahan menyadari bahwa kehadiran saya di sana bukanlah untuk menyelesaikan masalah mereka atau menghapus kehilangan mendalam mereka. Saya ada di sana untuk bersama mereka, untuk berduka bersama mereka, dan, melalui Ekaristi, untuk membawa Yesus ke dalam dukacita mereka. Ketika kita memiliki Yesus bersama kita, bahkan dalam momen-momen paling menyakitkan dalam hidup kita, kita dapat mempersembahkan dukacita kita kepada Allah sebagai persembahan yang berkenan dan suci.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Bagaimana mengetahui bahwa Yesus menangis untuk sahabat-Nya mengubah cara kita memandang momen-momen duka dan kerentanan kita sendiri? Jika duka yang mendalam adalah cerminan alami dari cinta yang mendalam, bagaimana kita dapat mengundang Tuhan untuk hadir dalam—dan menguduskan—kehilangan yang menyakitkan dalam hidup kita sendiri? Bagaimana kita dapat menawarkan kehadiran yang menghibur dan menyerupai Kristus kepada kerabat atau teman yang sedang berduka?

Raja Daud

Minggu Keempat Prapaskah [A]

15 Maret 2026

1 Samuel 16:1b, 6-7, 10-13a

Dalam perjalanan kita bersama tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama, Minggu Keempat Prapaskah membawa kita kepada Raja Daud.

Daud tanpa diragukan lagi merupakan salah satu tokoh paling penting dalam Alkitab. Ia adalah seorang prajurit cerdik yang mengalahkan Goliat yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih berpengalaman dengan sebongkah batu dari ketepel (1 Sam 17:45-47). Sebagai seorang militer yang brilian, ia menang dalam hampir setiap pertempuran (2 Sam 8:6), dan sebagai seorang negarawan karismatik, ia berhasil menyatukan dua belas suku Israel (2 Sam 5). Selain itu, Daud menunjukkan belas kasih yang mendalam, dengan menolak untuk menyakiti Raja Saul meskipun memiliki kesempatan untuk melakukannya (1 Sam 24:6). Akhirnya, kita mengingatnya sebagai “sang pujangga Israel,” yang mazmur-mazmurnya (seperti 23 dan 51) kita terus daraskan hingga hari ini.

Namun, meskipun memiliki prestasi yang tak tertandingi, kisah Daud dimulai dengan awal yang sederhana. Sebagai anak bungsu dari Yesse di desa kecil Bethlehem, Daud awalnya diabaikan oleh Samuel, sang nabi. Mata manusia Samuel tertuju pada saudara-saudara Daud yang lebih tua, yang memiliki postur fisik yang lebih gagah dan pengalaman militer. Namun, Allah melihat apa yang tidak dilihat manusia; Dia memilih anak gembala yang belum berpengalaman. Setelah diurapi, Roh Tuhan turun atas Daud (1 Sam 16:13), dan sejak saat itu, kesuksesannya menjadi bukti penyertaan Allah.

Sayangnya, rangkaian kesuksesan Daud akhirnya melahirkan kesombongan di hatinya. Ia mulai percaya bahwa dirinya tak terkalahkan, bertindak seolah-olah ia berada di atas semua orang. Kesombongan ini membawa ia ke dalam dosa percabulan dengan Batsheba dan pembunuhan terencana terhadap suaminya, Uriah (2 Sam 11). Nabi Natan pun harus sampai datang dan menegur Daud dengan keras. Kemudian, Daud kembali berbuat salah dengan mengadakan sensus—mungkin untuk mengukur kekuatan militernya sendiri daripada mempercayai perlindungan ilahi. Tindakan kesombongan ini melupakan bahwa kemenangan datang dari Tuhan saja, yang mengakibatkan hukuman ilahi (2 Sam 24). Namun, dalam kedua kasus tersebut, kasih Daud yang mendalam kepada Tuhan terungkap melalui penyesalannya yang tulus, mengakui asal-usulnya yang bukan siapa-siapa. Sayangnya, sebagai raja, dosa pribadinya membawa konsekuensi buruk bagi keluarganya dan bangsa.

Kehidupan Daud memberikan pelajaran rohani yang penting bagi kita. Seperti dia, kita semua memulai dari tempat yang rendah dan lemah. Setiap “kesuksesan” yang kita capai—baik itu peningkatan profesional, kesehatan fisik, atau relasi yang harmonis—pada dasarnya adalah anugerah dari Allah. Hal ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Pelayanan kita dan buah-buah doa kita adalah gerakan Roh Kudus, bukan sebuah medali pribadi.

Namun, kesombongan seringkali meracuni hati. Kita mulai mengklaim kesuksesan kita sebagai hasil dari “kejeniusan” atau usaha kita sendiri, memegang erat pencapaian kita, dan menuntut pengakuan dari orang lain. Inilah ambang kehancuran kita. Ketika kita fokus hanya untuk mempertahankan status kita, kita menjadi lumpuh karena takut akan kegagalan dan penderitaan. Kita tidak mampu lagi bersyukur dan menggantinya dengan keluhan dan kepahitan. Kita bahkan mungkin memanipulasi orang lain untuk mempertahankan citra kesuksesan kita, yang justru membawa kita pada penderitaan rohani dan kesedihan hidup.

Seperti Daud, kita diingatkan bahwa hanya pertobatan yang sejati yang dapat memulihkan orientasi kita kepada Tuhan, yang merupakan satu-satunya pencipta segala kebaikan dalam hidup kita. Hanya ketika kita mengingat awal kita yang rendah dan mengakui peran Allah dalam hidup kita, kita menemukan kebahagiaan yang sejati.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Bagaimana Allah membawa kita ke tempat yang tinggi dari awal yang rendah? Ketika kita mengalami “kesuksesan” dalam karier, keluarga, atau pelayanan, apakah kita secara naluriah mengucapkan syukur, atau apakah kita mulai mengandalkan “kejeniusan” kita sendiri? Ketika kita menghadapi kegagalan dan penderitaan, apakah kita mencoba menyembunyikannya, atau apakah kita memiliki keberanian untuk membiarkan Allah menegur dan memulihkan kita?

Abraham, Bapa Iman

Minggu Kedua Prapaskah [A]

1 Maret 2026

Gen 12:1-4

Bacaan pertama pada Minggu Prapaskah memberikan kita gambaran kecil tentang sejarah keselamatan, terutama dalam Perjanjian Lama. Minggu lalu, kita bertemu dengan Adam dan Hawa, merenungkan kisah penciptaan mereka dan kejatuhan mereka dalam dosa. Hari ini, kita bertemu dengan Abraham, sang Bapa Bangsa pertama. Tapi mengapa Abraham?

Nama asli Abraham adalah Abram, yang berarti “bapak yang mulia.” Selama sebagian besar hidupnya, nama ini menjadi sumber ironi, bahkan mungkin ejekan, karena ia sudah tua dan tidak memiliki anak. Bagaimana ia bisa menjadi “bapak yang mulia” tanpa anak untuk memuliakannya? Saat itulah Tuhan hadir kepada Abram. Pada usia tujuh puluh lima tahun, ia menerima perintah yang mengejutkan: tinggalkan tanah airnya untuk tempat antah berantah. Bersama perintah ini datang juga janji: ia akan menjadi bapak banyak bangsa, dan melalui dia, berkat-berkat hadir.

Pada pandangan pertama, panggilan ini mungkin tampak seperti lelucon kejam dalam hidup Abram. Meskipun tidak memiliki anak, setidaknya ia hidup nyaman di antara sanak saudaranya dan akan mati di tanah airnya di bawah perlindungan “dewa-dewa” yang sangat dia kenal. Namun, Tuhan memanggilnya keluar dari zona nyamannya dan ke wilayah yang tidak dikenal, di mana bahaya dan penderitaan mengintai. Kita tidak tahu persis apa yang ada di pikiran Abram, tetapi kita tahu tindakannya: ia memilih untuk mempercayai Tuhan yang hampir tidak ia kenal dan mempertaruhkan hidup dan masa depannya. Sanak kerabatnya mungkin menganggapnya gila atau sudah pikun. Namun, keputusannya ini tidak hanya akan mengubah hidupnya tetapi juga mengubah masa depan umat manusia.

Mengikuti Tuhan tidak selalu mudah. Meskipun Abram diberkati dengan kekayaan besar, ternak yang melimpah, dan ratusan pengikut, bahkan mengalahkan empat raja dengan 318 prajurit terlatihnya (Kej 14), ia masih belum memiliki keturunan yang dijanjikan. Ketika ia berusia 99 tahun, Tuhan mengubah namanya menjadi Abraham, yang berarti “bapak banyak bangsa.” Namun, ia terus menanti satu hal yang akan menjadikan gelar itu nyata. Akhirnya, ketika Abraham berusia 100 tahun, Sarah melahirkan Ishak (Kej 21:5).

Namun, cerita ini tidak berakhir dengan “happy ever after.” Tuhan akhirnya meminta sesuatu yang tak terbayangkan: agar Abraham mengorbankan putranya, Ishak (Kejadian 22). Sama seperti ia taat di awal, Abraham taat juga sekarang. Untungnya, malaikat mencegah dia menyakiti Ishak, dan Tuhan memberkati Abraham lebih lagi karena kesetiaannya.

Abraham meninggal pada usia 175 tahun. Meskipun dia memiliki anak-anak lain, satu melalui Hagar dan enam melalui Keturah, jumlah mereka tetap tidak bisa disebut sebagai “banyak bangsa.” Abraham menutup mata tanpa melihat sepenuhnya bangsa-bangsa tersebut, namun dia tidak mengeluh atau menjadi pahit. Abraham tidak sempurna. Pada suatu saat, ia berbohong kepada Firaun dan bertindak pengecut dengan menyerahkan istrinya, Sarah, kepada Raja Mesir (Kej 12:10-20). Namun, meskipun memiliki kelemahan, ia tetap percaya bahwa Allah akan menepati janji-Nya. Dari Abraham lahir bangsa Israel, dan dari bangsa Israel, kita menerima Yesus, sang Mesias dan Juruselamat kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam hidup kita saat ini, apa “tanah air” atau zona nyaman yang mungkin Allah minta kita tinggalkan untuk mengikuti-Nya dengan lebih penuh? Pernahkah kita merasa bahwa janji-janji Allah untuk hidup kita bertentangan dengan kenyataan saat ini? Bagaimana kita mempertahankan harapan ketika keadaan kita menguji iman kita? Bagaimana mengetahui bahwa Allah menggunakan orang-orang yang tidak sempurna dan bercacat, mengubah cara kita memandang kesalahan dan kelemahan kita sendiri?

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Pemurnian Hati

Minggu Biasa Kelima [A]

8 Februari 2026

Matius 5:13-16

Dalam kelanjutan Khotbah di Bukit, Yesus mengungkapkan identitas kita sebagai “terang dunia.” Sebagai terang, kita harus bersinar dan terlihat oleh orang lain. Menariknya, hanya satu bab setelah pengajaran ini, Yesus memberi perintah kepada pendengarnya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Sepertinya Yesus mengajarkan dua hal yang saling bertentangan. Bagaimana kita memahami hal ini?

Meskipun perintah-perintah ini tampak bertentangan, pada dasarnya mereka saling melengkapi. Jembatan antara kedua pernyataan ini adalah “niat” kita. Apakah tindakan baik atau keagamaan yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan atau sekadar mencari kemuliaan pribadi? Jika kita melakukan perbuatan yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, tindakan-tindakan ini kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Namun, jika kita dengan tulus ingin membawa orang kepada Allah, usaha kita benar-benar akan berkenan bagi Allah.

Mengenali niat atau intensi di balik tindakan-tindakan kita sejati bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan dan memikirkan secara mendalam tentang tindakan kita serta motivasi di baliknya. Dalam tradisi Katolik, proses spiritual ini disebut “discernment” (pembedaan roh); dalam tradisi Dominikan, hal ini merupakan bagian penting dari kontemplasi. Dalam istilah ilmiah modern, ini disebut meta-kognisi atau proses “berpikir tentang berpikir.”

Untuk mempraktikkan “discernment” ini, kita dapat mengikuti tiga langkah sederhana:

  1. Memohon keutamaan Kerendahan Hati. Kemampuan untuk mengenali niat terdalam kita dimulai dengan rahmat Allah yang melembutkan hati kita. Tanpa kerendahan hati, kita mungkin tidak pernah mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dengan tindakan-tindakan kita. Kerendahan hati memberdayakan kita untuk menghadapi bagian-bagian yang belum sempurna dari kemanusiaan kita dengan penyesalan, yang mengarahkan kita pada pertobatan. Kerendahan hati bertindak sebagai “sensor,” mendeteksi motif tersembunyi yang berasal dari kesombongan atau kepentingan diri sendiri.
  2. Bertanya pertanyaan sulit dan memperhatikan reaksi emosional kita. Saat discernment, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya?” Jika jawabannya ya, niat kita mungkin masih bersifat egois. Pertanyaan penting lainnya adalah: “Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya merasa sangat sakit hati atau dendam?” Reaksi semacam ini sering kali menunjukkan keterikatan yang tidak sehat, dan kita cenderung memandang karya baik tersebut sebagai “milik kita” daripada “milik Tuhan.”
  3. Meminta permurnian niat. Setelah kita menyadari motivasi batin kita, kita tidak boleh putus asa atau berhenti berbuat baik. Ini juga godaan dari sang jahat untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Meskipun niat kita tercampur dengan keinginan egois, rahmat Allah terus bekerja untuk menyucikan kita. Untuk memurnikan hati kita, ada beberapa hal praktis yang bisa kita lakukan:
  • Belajar bersyukur. Bersyukurlah atas setiap kesempatan untuk berbuat baik, baik karya besar maupun kecil, sukses maupun gagal.
  • Alihkan pujian: Ketika orang lain menghargai perbuatan Anda, ajaklah mereka untuk bersyukur kepada Tuhan bersama Anda.
  • Terima kritik: Bersyukurlah kepada mereka yang mengkritik Anda, karena mereka dapat menjadi alat permurnian rohani Anda.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa saja perbuatan baik yang saya lakukan untuk keluarga, komunitas, dan Gereja? Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya? Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya akan merasa sangat sakit hati atau dendam? Apakah saya memprioritaskan pelayanan ini lebih dari keluarga saya?

Sabda Bahagia: Jalan Kebahagiaan yang Tidak Biasa

Minggu Biasa Keempat [A]

1 Februari 2026

Matius 5:1-12a

Khotbah Yesus di Bukit dimulai dengan Delapan Sabda Bahagia. Saat Paus Santo Yohanes Paulus II mengunjungi Bukit ini di tahun 2000, ia menyebut bahwa Sabda Bahagia adalah “Magna Charta Kristiani,” membandingkannya dengan Sepuluh Perintah Allah dalam Perjanjian Lama. Ia menyatakan bahwa, “Sabda Bahagia bukan daftar larangan, tetapi undangan untuk hidup baru yang menarik.” Undangan ini memang menarik karena menyentuh cita-cita fundamental yang kita semua miliki: menjadi bahagia. Namun, saat kita membaca Sabda Bahagia ini, kita menyadari bahwa jalan Yesus menuju kebahagiaan bukanlah jalan biasa. Mengapa demikian?

Kita cenderung percaya bahwa memiliki kekayaan adalah tanda berkat Allah dan sarana menuju kebahagiaan kita. Namun, Yesus mengajarkan, “Berbahagialah orang-orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah empunya Kerajaan Surga.” Meskipun pada dasarnya harta duniawi adalah baik adanya, keinginan kita untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar, mengumpulkan kekayaan yang lebih banyak, dan tetap di puncak seringkali menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kelelahan mental, dan juga masalah dalam relasi dengan orang-orang kita kasihi. Pada akhirnya, pengejaran ini melemahkan jiwa kita, menjauhkan kita dari Tuhan, dan kita menyadari bahwa kita sebenarnya tidak bahagia.

Kita sering berpikir bahwa tawa dan “good vibes” adalah tanda-tanda paling pasti dari kebahagiaan, tetapi Yesus berkata bahwa orang yang berdukacita akan dihibur. Terkadang, kita lupa cara bersedih dan berduka, secara khusus saat ketika kehilangan sesuatu yang berharga, seperti orang yang kita cintai. Alih-alih, kita mencoba melarikan diri dari kesedihan dengan menikmati kesenangan instan seperti bermain HP berjam-jam, menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas atau bahkan menjadi “workaholic”, atau bahkan menyalahkan Tuhan. Namun, kemampuan berduka membantu kita menghadapi kenyataan hidup dan berdamai dengan keterbatasan manusiawi kita. Kitapun lebih bergantung pada kerahiman Tuhan, dan pada akhirnya menemukan penyembuhan dan penghiburan.

Kita biasanya menganggap bahwa melalui kekuatan, agresi, dan dominasi, kita dapat memperoleh apa pun yang kita inginkan. Namun, Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya: orang yang lemah lembut akan mewarisi bumi, orang yang berbelas kasih akan menerima belas kasihan, dan orang yang membawa damai akan disebut anak-anak Tuhan. Meskipun ini terdengar bertentangan dengan asumsi kita, ketika kita melihat sekitar kita, kita menyadari bahwa begitu banyak masalah dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan disebabkan oleh keserakahan manusia, agresi dan kekerasan, dan juga balas dendam. Hanya ketika kita belajar untuk menjadi lembut, mampu memaafkan, dan menbawa damai, kita menciptakan damai tidak hanya dalam diri kita sendiri tetapi juga bagi orang-orang di sekitar kita.

Seringkali, kita tanpa sadar mengisi hati kita dengan ambisi untuk menjadi yang terbesar, paling berkuasa, dan paling berpengaruh. Kita membiarkan hasrat akan kesenangan dan kepuasan instan mengendalikan kita. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa hanya orang yang hatinya suci yang dapat melihat Allah. Oleh karena itu, sangat penting untuk menyadari apa yang mencemari hati kita, mengakui noda-noda tersebut, dan memohon rahmat Allah untuk membersihkannya. Dalam tradisi Katolik, proses ini disebut pemeriksaan batin dan pengakuan dosa, di mana rahmat Allah hadir, membersihkan hati kita dan mempersatukan kita kembali dengan-Nya, sumber kebahagiaan kita.

Akhirnya, Yesus menutup Sabda Bahagia dengan menempatkan diri-Nya sebagai tujuan akhir kebahagiaan kita. Yesus bukan sekadar guru bijak atau “coach” yang mempromosikan prinsip-prinsip “self-help” untuk kesuksesan, tetapi Dia adalah sumber kebahagiaan itu sendiri. Hanya saat kita berpegang pada-Nya dan menyerahkan hati kita kepada-Nya, hidup kita menemukan makna, dan kebahagiaan abadi menjadi tujuan akhir kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno,

Pertanyaan Refleksi:

Ambisi duniawi apa yang saat ini menguras energiku, dan bagaimana melepaskan ambisi tersebut dapat membawa kedamaian bagiku? Apakah ada konflik dalam hidup saya di mana saya mencoba “menang” melalui dominasi atau agresi, daripada menyelesaikannya melalui kelembutan dan belas kasihan? Jika saya melihat kebiasaan harian saya, apakah mereka menunjukkan bahwa saya mencari kebahagiaan terutama dalam pencapaian duniawi, atau dalam hubungan dengan Yesus?

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”