Nabi Elisa, Orang Kudus Allah

Minggu ke-13 Masa Biasa [A]

28 Juni 2026

2 Raja-raja 4:8-11, 14-16a

Dalam bacaan pertama hari ini, Gereja memberikan kita kisah Nabi Elisa dan seorang perempuan dari Sunem yang mengenalnya sebagai “orang kudus Allah.” Kisah ini mengajak kita merenungkan siapa sebenarnya Elisa dan apa arti sesungguhnya dari sebutan tersebut.

Elisa adalah penerus nabi besar Elia. Berasal dari keluarga petani, Elisa sedang membajak ladang dengan dua belas pasang lembu ketika Elia memanggilnya. Detail ini menunjukkan bahwa keluarganya cukup kaya dan makmur. Namun, ia memilih meninggalkan segalanya untuk mengikuti Elia dan menjadi muridnya (1 Raja 19:19-21). Sebelum Elia mengakhiri misinya di dunia dan diangkat ke surga dengan kereta berapi, ia bertanya tentang apa yang diinginkan Elisa. Elisa meminta “dua bagian dari rohmu.” Permintaan ini dikabulkan, dan Elisa akhirnya melakukan mukjizat yang bahkan lebih banyak daripada gurunya (2 Raja 2:11-12).

Seperti Elia, Elisa adalah nabi pemberani yang menyampaikan kebenaran kepada para penguasa, serta mengkritik raja-raja atas perbuatan jahat dan penyembahan berhala mereka. Namun, Elisa lebih dikenal karena mukjizat-mukjizatnya yang tak terhitung jumlahnya. Ia memurnikan air yang tercemar di Yerikho (2 Raja 2:19-22), melipatgandakan roti untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan (2 Raja 4:42-44), dan menyembuhkan Naaman, seorang panglima tentara Aram, dari penyakit kusta (2 Raja 5:1-14). Bahkan setelah kematiannya, kuasa mukjizat Elisa tetap nyata; seorang jenazah yang tidak sengaja menyentuh tulang-tulang Elisa langsung hidup kembali (2 Raja 13:20-21).

Hubungan Elisa dengan wanita dari Sunem tidak hanya menonjolkan kuasa mukjizatnya, tetapi juga keindahan dari keramahan dan persahabatan yang tulus. Setiap kali Elisa mengunjungi Sunem, wanita ini selalu menyediakan tempat baginya untuk beristirahat dan makan karena ia menyadari bahwa Elisa adalah “orang kudus Allah.” Sebagai balasan atas iman dan kedermawanannya, doa terdalam wanita itu dikabulkan. Meski suaminya sudah lanjut usia, ia mengandung dan melahirkan seorang putra tepat seperti yang dijanjikan Elisa.

Menjadi hamba Allah yang kudus berarti dikuduskan bagi Tuhan dan dikhususkan untuk misi-Nya yang unik. Elisa menjalin kedekatan yang mendalam dengan Allah, sehingga Tuhan memakainya sebagai alat kebaikan, belas kasih, dan keadilan bagi Israel serta bangsa-bangsa di sekitarnya. Wanita dari Sunem itu memahami realitas rohani ini. Ketika mendatangi Elisa, ia mencari perantaraan doa yang kuat di hadapan Allah. Namun, ia tidak sekadar meminta bantuan, tetapi juga menunjukkan kasihnya kepada Allah dengan memperlakukan nabi-Nya dengan sangat baik.

Persahabatan yang indah antara Elisa dan wanita dari Sunem ini mencerminkan hubungan kita dengan para kudus saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita memandang mereka sebagai teladan iman di surga. Kita memohon perantaraan Perawan Maria, yang paling terpuji di antara semua wanita, untuk menolong kita. Kita berpaling kepada Santo Mikael Malaikat Agung untuk perlindungan dari kejahatan, dan mendekati Santo Yusuf, sang pelindung kematian yang bahagia, untuk memohon penghiburan bagi mereka yang sedang menghadapi ajal. Seperti wanita dari Sunem, kita tidak hanya datang untuk meminta bantuan, tetapi juga mempersembahkan kasih, rasa syukur, dan persahabatan yang tulus kepada para orang kudus.

Saya mengalami sendiri keindahan persahabatan rohani ini saat berjuang menyelesaikan disertasi doktoral. Waktu itu, setiap pintu seolah tertutup dan saya merasa benar-benar buntu. Dalam kesusahan tersebut, saya memohon pertolongan Bunda Maria sambil berjanji pribadi bahwa saya akan mengunjungi tempat-tempat ziarah-Nya, mewartakan kebaikan-Nya, dan menghidupkan devosi kepada-Nya. Tidak lama kemudian, hambatan-hambatan itu lenyap, jalan keluar terbuka, dan saya dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Persahabatan dengan orang-orang kudus Allah adalah anugerah yang luar biasa, karena pada akhirnya hubungan ini membawa kita semakin dekat ke Hati Kudus Yesus sendiri.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Seberapa rela kita meninggalkan kenyamanan dan keamanan pribadi, seperti yang dilakukan Elisa, ketika merasakan panggilan Tuhan untuk mengikuti-Nya lebih dekat? Apakah kita sudah menunjukkan keramahan dan kebaikan yang nyata kepada orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup kita, atau kita hanya mendekati Tuhan dan para kudus-Nya saat sedang butuh bantuan? Dengan cara apa kita bisa menumbuhkan persahabatan yang lebih erat dengan Bunda Maria dan para kudus agar devosi kita membimbing kita semakin dekat kepada hati Yesus yang Makakudus?

Leave a comment