Minggu ke-17 dalam Masa Biasa [A]
26 Juli 2026
Matius 13:44-52
Pada akhir bab 13 Injil Matius, Yesus berbicara mengenai “ahli Taurat Kerajaan Surga.” Namun, siapakah sebenarnya para ahli Taurat tersebut?

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat—yang diterjemahkan dari bahasa Yunani grammateis—merupakan penyalin profesional kitab Taurat. Kemampuan membaca dan menulis di tengah masyarakat yang mayoritas masih buta huruf menjadi hak istimewa yang menempatkan mereka pada posisi yang sangat terhormat. Karena menghabiskan sebagian besar hidup untuk membaca dan menyalin manuskrip, mereka menjadi sangat mahir dalam Hukum Musa. Berkat keunggulan ini, mereka dituntut untuk membagikan pengetahuan tersebut kepada orang-orang yang tidak memiliki akses ke teks tertulis. Sebagai pengajar Hukum, mereka bertugas menafsirkan Kitab Suci sekaligus menjelaskan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, Injil menggambarkan para ahli Taurat dalam dua cahaya berbeda. Di satu sisi, mereka kerap tampil sebagai lawan Yesus, seperti yang terlihat dalam Matius 9:1–8, Matius 12:38–42, dan Matius 15:1–20. Namun di sisi lain, beberapa kesempatan menampilkan mereka secara positif, seperti dalam Markus 12:28–34 dan Matius 8:19.
Kembali ke bab 13, Yesus secara khusus menyoroti ahli-ahli Taurat Kerajaan. Untuk memahami sosok yang dimaksud, kita perlu mencermati konteks bab tersebut. Sepanjang Matius 13, Yesus mengajar para rasul-Nya melalui perumpamaan dan menjelaskan cara menafsirkannya. Pada akhir pengajaran, Yesus bertanya kepada para murid apakah mereka telah memahami seluruh penjelasan tersebut. Ketika mereka menjawab ya, Yesus berkata, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima petunjuk tentang Kerajaan Surga itu seumpama kepala rumah tangga yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Matius 13:52). Dalam konteks ini, istilah “ahli Taurat Kerajaan” terutama merujuk kepada para rasul, yang menerima pembinaan langsung dari Yesus mengenai ajaran-Nya serta cara penafsiran yang tepat.
Di sisi lain, banyak di antara rasul tersebut tidak berpendidikan dan tidak memiliki kemampuan membaca serta menulis secara formal sebagaimana ahli Taurat pada umumnya. Kendati demikian, Yesus memilih untuk menyebut mereka sebagai “ahli Taurat” karena mereka kelak menjalankan fungsi utama seorang ahli Taurat, yaitu mengajar dan menafsirkan Kitab Suci—khususnya dengan menerangi Perjanjian Lama melalui lensa kehidupan dan pengajaran Yesus. Lebih jauh lagi, para rasul akan “menuliskan” iman mereka bukan sekadar lewat pena, melainkan melalui seluruh perbuatan, hidup dan bahkan darah mereka sebagai saksi Kristus.
Meskipun istilah “ahli Taurat Kerajaan” pada awalnya merujuk kepada para rasul, maknanya meluas melampaui masa itu. Ketika para penatua dan uskup Gereja perdana melanjutkan kepemimpinan para rasul, mereka turut mewarisi peran sebagai ahli Taurat ini. Saat ini, para uskup bertindak sebagai “kepala rumah tangga” yang memegang tanggung jawab utama dalam mengajarkan Firman Tuhan di keuskupan masing-masing. Lebih dari itu, setiap orang beriman juga dipanggil untuk menjadi ahli Taurat Kerajaan di dalam keluarga dan komunitas mereka. Seorang suami dipanggil untuk membagikan hikmat Allah kepada istrinya, sementara orang tua ditugaskan untuk mewariskan iman yang benar kepada anak-anak mereka. Agar mampu terus-menerus mengeluarkan hal yang baru maupun yang lama dari “perbendaharaan” hidup kita, kita semua harus tetap menjadi murid yang setia dari sang Guru Sejati.
Jakarta
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Seberapa tekun kita belajar dari sang Guru Sejati sehingga kita memiliki perbendaharaan hikmat, baik yang lama maupun yang baru, untuk dibagikan kepada sesama? Dengan cara konkret apa kita dapat berperan sebagai “ahli Taurat Kerajaan” di tengah keluarga, tempat kerja, dan masyarakat kita? Serta, apakah kita bersedia “menuliskan” iman kita melalui pilihan hidup dan pengorbanan sehari-hari, sebagaimana para rasul telah mempersembahkan seluruh hidup mereka?
