Featured

Kenosis and Love

26th Sunday in Ordinary Time [A]

September 27, 2026

Philippians 2:1-11

Philippians 2:5–11 is one of the most beautiful and profound passages in Scripture. Many scholars and theologians have recognized it as an ancient Hymn of Christ, either composed by St. Paul himself or inherited from the earliest Christian communities. What can we learn from this profound hymn?

The first lesson lies in the act of self-emptying, known in Greek as kenosis (v. 7). This act of self-emptying was possible precisely because Jesus possesses the full nature of God. As God, He had every right and power to remain in heavenly glory with the Father and the Holy Spirit. From heaven, Jesus could have dealt with sinful humanity in any way He pleased, whether by punishing us severely or eradicating us completely. Even if He had wished to pardon us, He could have done so simply by speaking a single word of forgiveness from the comfort of His heavenly throne. Instead, He chose something far beyond human imagination: He descended from heaven and became man. This decision was driven by His radical humility. Jesus was not obsessed with holding onto His divine glory, majesty, and splendor, nor was He hungry for worship or adoration. Instead, He loved us so immensely that He chose to become like us in our human weakness.

Furthermore, His act of self-emptying did not end with the Incarnation; it went even deeper to embrace the lowest state of human suffering: death as a crucified man. In the time of Jesus, crucifixion was a penalty so brutal that it was reserved only for the worst criminals, such as murderers and rebels. Jesus did not merely set aside His divine majesty; He was willing to be counted among the most degraded of human beings. Jesus walked this path to demonstrate one ultimate truth: He loves us to the very end. His unimaginable self-emptying, motivated by radical humility, reveals the depth of God’s infinite love.

St. Paul further amplifies this truth by linking Christ’s self-emptying to its spiritual effect when he writes, “For you know the grace of our Lord Jesus Christ, that though he was rich, yet for your sake he became poor, so that you by his poverty might become rich” (2 Cor 8:9). Through this hymn, St. Paul teaches us the precious lesson that true love is realized through humility and self-emptying. It is through this very self-emptying that love transforms and enriches the ones we love.

St. Paul recognized Christ’s self-emptying and strove to follow in the footsteps of his divine Master. He left everything behind to proclaim Jesus Christ and establish churches in many lands. Living a very simple life, he worked by day as a tentmaker to support himself and his mission, while spending his nights teaching the Gospel to the faith communities. Though he surrendered everything for Christ, the early Christians gained Christ and an abundance of spiritual gifts. Paul gained nothing in the eyes of the world except hardship and trials, yet he rejoiced in his sufferings because he was able to participate in the afflictions and self-emptying of Christ (Col 1:24).

Ultimately, we love truly when we are willing to empty ourselves so that those we love may be made rich.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
In what areas of my life am I holding on to my rights, status, or desire for recognition, and how can I practice radical humility like Christ in those situations? Am I willing to lower myself or set aside my own comfort so that the people I love can be built up, enriched, and supported? When I face hardships, trials, or sacrifices for the sake of others, do I see them as empty burdens, or can I embrace them as a way to participate in Christ’s self-emptying love?

Featured

Kenosis dan Kasih

Hari Minggu Biasa ke-26 [A]

27 September 2026

Filipi 2:1-11

Filipi 2:5–11 merupakan salah satu bagian yang paling indah dan mendalam dalam Kitab Suci. Banyak ahli dan teolog mengenalinya sebagai Himne Kristus kuno, yang mungkin digubah oleh Santo Paulus sendiri atau diwarisi dari tradisi komunitas Kristen perdana. Melalui himne yang mendalam ini, kita diajak untuk memetik pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kehidupan iman kita.

Pelajaran pertama terletak pada tindakan pengosongan diri, yang dalam bahasa Yunani disebut kenosis (ay. 7). Tindakan ini justru dimungkinkan karena Yesus memiliki kodrat Allah secara penuh. Sebagai Allah, Dia memiliki segala hak dan kuasa untuk tetap berada dalam kemuliaan surgawi bersama Bapa dan Roh Kudus. Dari takhta surga, Yesus sebenarnya berkuasa memperlakukan umat manusia yang berdosa sesuai kehendak-Nya, baik dengan menghukum kita secara keras maupun memusnahkan kita sepenuhnya. Bahkan jika Dia hendak mengampuni kita, Dia sanggup melakukannya hanya dengan mengucapkan sepatah kata pengampunan dari kemegahan surgawi-Nya. Namun, Dia justru memilih jalan yang jauh melampaui imajinasi manusia: Dia turun dari surga dan menjadi manusia. Keputusan ilahi ini didorong oleh kerendahan hati-Nya yang radikal. Yesus tidak terobsesi untuk mempertahankan kemuliaan, keagungan, serta semarak ilahi-Nya, dan Dia pun tidak haus akan penyembahan manusia. Sebaliknya, kasih-Nya yang begitu besar mendorong-Nya untuk menjadi sama seperti kita dalam segala kelemahan manusiawi kita.

Lebih dari itu, tindakan pengosongan diri-Nya tidak berhenti pada peristiwa Inkarnasi semata. Wujud kenosis ini melangkah lebih dalam dengan merangkul kondisi penderitaan manusia yang paling rendah, yakni kematian di kayu salib. Pada zaman Yesus, penyaliban merupakan hukuman yang amat kejam dan hina, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat seperti pembunuh dan pemberontak. Dengan demikian, Yesus tidak sekadar menanggalkan keagungan Ilahi-Nya, tetapi juga bersedia menempatkan diri-Nya di antara orang-orang yang paling dipandang hina. Yesus menempuh jalan yang penuh pengorbanan ini untuk menunjukkan satu kebenaran hakiki: Dia mengasihi kita sampai tuntas.

Pengosongan diri-Nya yang tak terbayangkan ini menyingkapkan kedalaman kasih Allah yang tidak terbatas. Santo Paulus mempertegas kebenaran tersebut dengan mengaitkan sikap mengosongkan diri Kristus pada dampak rohani yang dihasilkannya bagi kita, sebagaimana ia tuliskan: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Kor 8:9). Melalui ungkapan ini, Santo Paulus mengajarkan bahwa kasih yang sejati senantiasa diwujudkan melalui kerendahan hati dan kesediaan untuk mengosongkan diri. Justru melalui penyangkalan diri inilah, kasih mampu mengubah dan memperkaya jiwa orang-orang yang kita kasihi.

Santo Paulus menyadari keutamaan sikap kenosis Kristus ini dan berkomitmen untuk meneladani jejak Sang Guru Ilahi. Ia rela meninggalkan seluruh kenyamanan dan status hidupnya demi mewartakan Injil Yesus Kristus serta membangun jemaat-jemaat di berbagai wilayah. Dalam menjalani hidup yang sangat sederhana, Paulus bekerja keras pada siang hari sebagai pembuat kemah untuk membiayai kebutuhan hidup dan misinya, sedangkan pada malam harinya ia mencurahkan waktu untuk mengajarkan Injil kepada komunitas-komunitas beriman. Paulus menyerahkan seluruh hidupnya demi Kristus, dan karenanya, Gereja perdana memperoleh Kristus dan kelimpahan karunia rohani. Di mata dunia, Paulus mungkin tampak tidak memperoleh apa pun selain penderitaan dan kesukaran. Namun, ia justru bersukacita dalam penderitaan tersebut karena ia diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam penderitaan dan pengosongan diri Kristus demi Gereja-Nya (Kol 1:24).

Pada akhirnya, perenungan ini menegaskan bahwa kita baru mengasihi secara sungguh-sungguh ketika kita bersedia mengosongkan diri, sehingga orang-orang yang kita kasihi dapat dibangun dan diperkaya secara rohani.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Dalam aspek kehidupan manakah saya masih mempertahankan hak, status, atau keinginan untuk diakui, dan bagaimana saya dapat mempraktikkan kerendahan hati yang radikal seperti Kristus dalam situasi-situasi tersebut? Bersediakah saya merendahkan diri atau mengesampingkan kenyamanan pribadi agar orang-orang yang saya kasihi dapat dibangun, diperkaya, dan didukung? Saat menghadapi kesulitan, pencobaan, atau pengorbanan demi orang lain, apakah saya memandangnya sebagai beban yang sia-sia, atau dapatkah saya menerimanya sebagai jalan untuk ambil bagian dalam kasih Kristus yang mengosongkan diri?

Anger

24th Sunday in Ordinary Time [A]

September 13, 2026

Sirach 27:30 – 28:7

We get angry, yet what is anger? Is getting angry inherently sinful? What do the Bible and the Church teach about this emotion?

Anger is part of the broader spectrum of human emotions, much like happiness, sadness, or fear. Like any other emotion, anger belongs to our biological system and helps us react to our surroundings. Consequently, it is morally neutral—neither sinful nor praiseworthy in itself. However, anger differs from other feelings because it triggers intense physical responses: muscles tense, the heart rate increases, breathing quickens, and adrenaline surges. These physiological reactions prepare us to act and to confront perceived evils. In ancient times, our ancestors relied on anger to fight for survival and safeguard resources, as the loss of life or basic necessities posed the greatest threat to their existence.

Today, modern humans experience anger for a wide variety of reasons, ranging from losing a Wi-Fi signal or sitting in traffic for hours, to grieving a loss or facing injustice. Because anger is subject to human reason, it becomes truly beneficial only when managed wisely. Conversely, when we allow anger to master our reason, it can harm not only us but also those around us, including the people we love. This is the point at which anger becomes sinful.

Anger becomes sinful in two primary ways. First, we might direct anger toward the wrong object—meaning we become upset over something that is not genuinely unjust. For instance, a student who never studies might grow angry with a teacher for assigning a low grade. Second, we might hold anger for the wrong motivation, such as a desire for vengeance. When hurt or upset, we can become driven by a vindictive urge to see others suffer as we have suffered. This impulse is dangerous because it leads to hurtful words or violent actions that harm both ourselves and others. True Christian anger must always be grounded in justice rather than revenge. As Sirach says, “vengeance belongs to the Lord.”

How, then, should Christians manage anger? First, when experiencing a surge of emotion, we can take a deep breath and count to ten, doing our best to calm down. Second, we ought to reflect on the root cause by asking, “What triggered my anger?” The issue might stem from our own actions, or, if caused by someone else, it may have been completely unintentional. Third, we should consider the right reasons and methods for expressing our feelings. Is it necessary to shout or curse? Must we post on social media to generate attention, or can we address the matter through direct, peaceful conversation? We do well to remember the advice of Saint Paul, “Do not let the sun go down on your anger” (Eph 4:26). Fourth, we must learn to forgive, especially when the other person seeks one. Forgiveness does not mean ignoring the offense or pretending it never happened; rather, it is an act of charity that restores peace and fosters unity.

Finally, what should we do if anger leads us into sin? First, we can seek the Sacrament of Reconciliation and ask for the Lord’s forgiveness. We must prevent harmful emotional outbursts from developing into habit, and acknowledging our anger as sinful is the first step toward overcoming it. Second, whenever possible, we should ask for forgiveness from those we have wronged. Seeking reconciliation is never a sign of weakness; it is a display of spiritual strength that builds lasting peace.

How often do we allow minor everyday frustrations to cloud our reason and hurt the people we love? When we feel wronged, are we seeking true justice and peace, or are we driven by a desire for vengeance? Do we actively practice forgiveness and address our anger daily, or do we let it linger and settle in our hearts?

Kemarahan

Hari Minggu Biasa ke-24 [A] 1

13 September 2026

Sirakh 27:30 – 28:7

Kita sering merasa marah, tetapi apakah sebenarnya kemarahan itu? Apakah marah itu sendiri merupakan suatu dosa, dan apa yang diajarkan oleh Alkitab serta Gereja mengenai emosi ini?

Kemarahan merupakan bagian dari spektrum emosi manusia, sama seperti kebahagiaan, kesedihan, atau ketakutan. Sebagai bagian dari sistem biologis manusia, kemarahan membantu kita merespons lingkungan sekitar. Oleh karena itu, kemarahan pada dasarnya bersifat netral secara moral—tidak berdosa dan juga tidak terpuji dengan sendirinya. Namun, kemarahan berbeda dari perasaan lain karena memicu respons fisik yang sangat intens, seperti otot yang menegang, detak jantung yang meningkat, napas yang memburu, dan lonjakan adrenalin. Reaksi fisiologis ini mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi hal-hal yang dianggap sebagai kejahatan atau ancaman. Sejak masa lampau, manusia mengandalkan respons ini untuk bertahan hidup dan melindungi sumber daya mereka dari ancaman yang membahayakan jiwa.

Pada zaman modern, manusia mengalami kemarahan karena berbagai alasan, mulai dari hal sederhana seperti hilangnya sinyal Wi-Fi atau kemacetan lalu lintas, hingga hal mendalam seperti rasa duka dan ketidakadilan. Karena emosi ini dapat dipengaruhi oleh akal budi, kemarahan hanya akan bermanfaat jika dikelola dengan bijak. Sebaliknya, ketika kita membiarkan emosi menguasai akal budi, kemarahan dapat merugikan diri sendiri serta orang-orang di sekitar kita, termasuk orang-orang yang kita kasihi. Pada titik inilah kemarahan berubah menjadi suatu dosa.

Kemarahan menjadi dosa melalui dua cara utama. Pertama, ketika melampiaskannya kepada sasaran yang keliru, yaitu saat kita marah atas sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan ketidakadilan, seperti seorang siswa yang marah kepada guru karena mendapat nilai rendah akibat tidak belajar. Kedua, ketika memendam kemarahan dengan motivasi yang salah, seperti keinginan untuk membalas dendam. Saat terluka, seseorang sering kali didorong oleh hasrat untuk melihat orang lain menderita. Dorongan ini sangat berbahaya karena berpotensi melahirkan kata-kata yang menyakitkan atau tindakan kekerasan. Kemarahan seorang Kristen yang sejati harus selalu didasarkan pada keadilan, bukan balas dendam, sebab Kitab Sirakh mengingatkan bahwa orang yang membalas dendam akan mengalami pembalasan dari Tuhan.

Untuk mengelola kemarahan secara Kristiani, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan. Saat dilanda luapan emosi, langkah pertama adalah menarik napas dalam-dalam dan menghitung sampai sepuluh demi menenangkan diri. Selanjutnya, penting untuk merenungkan akar penyebabnya dengan bertanya pada diri sendiri tentang pemicu kemarahan tersebut, apakah timbul dari tindakan sendiri atau terjadi akibat ketidaksengajaan orang lain. Langkah berikutnya adalah mempertimbangkan cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaan tersebut, apakah perlu berteriak dan memaki di media sosial, atau lebih baik menyelesaikannya melalui percakapan langsung yang damai. Dalam hal ini, nasihat Santo Paulus dalam Efesus 4:26 menjadi sangat relevan: “Janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” Akhirnya, hal yang paling mendasar adalah belajar mengampuni, terutama ketika pihak lain memohon maaf. Mengampuni bukan berarti mengabaikan kesalahan, melainkan sebuah tindakan kasih yang memulihkan kedamaian dan memupuk persatuan.

Jika kemarahan terlanjur menjerumuskan seseorang ke dalam dosa, langkah utama yang perlu diambil adalah menerima Sakramen Rekonsiliasi untuk memohon pengampunan Tuhan, sebab mengakui kemarahan sebagai dosa merupakan awal dari pemulihan agar tidak menjadi kebiasaan yang merusak. Selain itu, sebisa mungkin permohonan maaf juga disampaikan kepada orang-orang yang telah disakiti. Mengupayakan rekonsiliasi bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kekuatan rohani yang membangun kedamaian sejati dan abadi.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Seberapa sering kita membiarkan kekesalan kecil sehari-hari mengaburkan akal sehat dan melukai orang-orang yang kita kasihi? Saat merasa diperlakukan tidak adil, apakah kita mencari keadilan dan kedamaian sejati, atau justru didorong oleh hasrat untuk membalas dendam? Apakah kita secara aktif mempraktikkan pengampunan setiap hari, ataukah kita membiarkan amarah berlarut-larut dan mengendap di dalam hati?

The Reason Behind Fraterna Correctio

23rd Sunday in Ordinary Time [A]

September 6, 2026

Matthew 18:15-20

Our Gospel passage addresses the act of offering correction to our brothers and sisters when they commit a sin against us. This pericope is traditionally known in Latin as Fraterna Correctio. Why is this teaching on fraternal correction considered so important that our Lord Himself laid out a clear procedure for it?

First, we must clarify that we are not dealing with mere human lapses or simple mistakes, such as choosing the wrong outfit or forgetting to comb our hair, but with sin. Sin is a direct violation of God’s law. Although the Gospel states, “when a brother sins against you,” sin is ultimately committed against the Lord. When we steal from a brother, we do not merely harm him; we offend the Lord by committing an act that displeases Him. While harming our neighbor can strain or destroy earthly relationships, violating God’s law brings far graver consequences, as it imperils our eternal life with Him.

Second, the Gospel emphasizes that the person who sins against us is our brother. Throughout this pericope, the word “brother” refers not only to biological siblings or relatives, but Jesus’ disciples, meaning the fellow members of the Church—our Christian brothers and sisters united by baptism and faith in Jesus Christ. While we certainly ought to correct family members and relatives when they sin, the Lord also requires us to care for our broader spiritual family. The Lord places this responsibility upon us for a reason revealed in the first reading, Ezekiel 33:7–9. Speaking through the prophet Ezekiel, the Lord warns that if we fail to call our brothers to repentance, we share in their guilt. Our silence signals either approval of their actions or indifference toward their souls, both of which displease the Lord.

Third, correcting our brothers is fundamentally a saving act of love. When we love people, we desire the highest good for them, which is ultimately eternal life in heaven. Loving them means helping them reach that goal while urging them to avoid anything that threatens their salvation. By reminding them to repent from their sins, we fulfill the greatest commandments: to love the Lord and to love our neighbor. We love the Lord by fulfilling His desire to guide our brothers away from a sinful life, and we love our brothers by drawing them closer to God.

However, we must also remember that the choice to repent ultimately belongs to them. After doing our best to correct them, if they persist in their sin, we should not grow overly frustrated or consumed by sorrow. Instead, we entrust them to the Lord in prayer, recognizing that only He can transform a human heart. Furthermore, as those who offer correction, we must maintain a humble spirit, acting as servants of the Lord rather than assuming a position of superiority over our brothers. As we care for others through fraterna correctio, we must continually guard our own hearts against pride and hypocrisy.

Manila

Valentinus bayuhadi ruseno, OP

Guide questions:
How often do we remain silent when a brother or sister in Christ strays, and are we holding back out of indifference or a genuine lack of love? Do we approach fraterna correctio with true humility as fellow servants, or do we secretly feel superior to those we are trying to correct? When someone refuses to listen to our gentle corrections, can we peacefully entrust them to God in prayer without giving in to anger, frustration, or pride?

Alasan di balik Fraterna Correctio

Minggu Biasa ke-23

6 September 2026

Matius 18:15-20

Injil Minggu ini membahas tindakan memberikan teguran persaudaraan ketika saudara kita berbuat dosa terhadap kita. Ajaran ini secara tradisional dikenal dalam bahasa Latin sebagai “fraterna correctio.” Tuhan menetapkan prosedur yang jelas untuk melakukan teguran persaudaraan ini karena hal tersebut sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Namun, bagaimana kita bisa memahami fraterna correctio ini lebih dalam?

Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan yang dimaksud bukanlah sekadar kesalahan manusiawi yang sederhana, seperti salah memilih pakaian atau lupa menyisir rambut, melainkan dosa yang merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum Allah. Meskipun Injil menyebutkan kondisi ketika seorang saudara berbuat dosa terhadap kita, setiap dosa pada dasarnya adalah tindakan melawan Tuhan. Saat seseorang mencuri dari saudaranya, ia tidak hanya menyakiti sesamanya, tetapi juga melukai relasinya dengan Tuhan karena melakukan tindakan yang tidak menyenangkan hati-Nya. Jika tindakan menyakiti sesama dapat merusak atau menghancurkan hubungan persahabatan di dunia, melanggar hukum Allah membawa konsekuensi yang jauh lebih berat karena membahayakan keselamatan hidup kekal kita bersama-Nya.

Selain itu, Injil menekankan bahwa orang yang berbuat dosa terhadap kita adalah saudara kita sendiri. Istilah saudara dalam seluruh perikop ini tidak hanya merujuk pada saudara kandung atau kerabat biologis, tetapi juga mencakup para murid Yesus – sesama anggota Gereja, yaitu saudara-saudari seiman yang dipersatukan oleh pembaptisan serta iman kepada Kristus. Meskipun menegur keluarga biologis adalah sebuah kewajiban, Tuhan juga menuntut kita untuk peduli terhadap keluarga rohani yang lebih luas. Tanggung jawab ini ditegaskan kembali dalam bacaan Kitab Yehezkiel 33:7-9. Melalui nabi Yehezkiel, Tuhan memperingatkan bahwa jika kita tidak memperingatkan saudara kita untuk bertobat, kita ikut menanggung kesalahan atas dosa mereka. Sikap berdiam diri ini dapat diartikan sebagai bentuk persetujuan atas tindakan dosa tersebut atau wujud ketidakpedulian terhadap keselamatan jiwa mereka, dan keduanya sangat tidak menyenangkan hati Tuhan.

Oleh karena itu, menegur saudara yang berdosa pada dasarnya merupakan tindakan kasih yang bertujuan menyelamatkan. Ketika kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang, kita akan menginginkan kebaikan tertinggi baginya, yaitu memperoleh hidup kekal di surga. Mengasihi sesama berarti membantu mereka mencapai tujuan tersebut sekaligus mendesak mereka untuk menjauhi segala hal yang membahayakan keselamatan jiwa mereka. Dengan mengingatkan mereka untuk bertobat, kita sedang memenuhi perintah yang terbesar, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Kita menunjukkan kasih kepada Allah dengan menjalankan kehendak-Nya untuk membimbing sesama keluar dari dosa, dan kita menunjukkan kasih kepada saudara kita dengan membimbing mereka kembali mendekat kepada Allah.

Meski demikian, kita harus menyadari bahwa keputusan untuk bertobat pada akhirnya berada di tangan orang itu sendiri. Setelah kita berusaha sebaik mungkin untuk menegurnya, jika ia tetap menolak untuk bertobat, kita tidak boleh menjadi terlalu frustrasi atau larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kita perlu menyerahkan mereka kepada Tuhan di dalam doa, sebab hanya Tuhan yang berkuasa mengubah hati manusia. Sebagai pihak yang memberikan teguran, kita juga wajib menjaga kerendahan hati dengan menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, bukan merasa lebih tinggi atau lebih benar daripada saudara yang ditegur. Sambil menjalankan fraterna correctio bagi orang lain, kita harus terus menjaga hati kita agar terhindar dari kesombongan dan kemunafikan.

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk direnungkan”

Seberapa sering kita memilih untuk berdiam diri ketika melihat seorang saudara dalam Kristus tersesat, dan apakah kita menahan diri karena rasa tidak peduli atau karena kurangnya kasih yang tulus? Apakah kita melakukan fraterna correctio dengan kerendahan hati yang sejati sebagai sesama hamba, atau justru diam-diam merasa lebih unggul daripada orang yang sedang kita tegur? Ketika seseorang menolak koreksi yang telah kita sampaikan dengan lembut, mampukah kita menyerahkan mereka kepada Tuhan dalam doa dengan tenang tanpa terjebak dalam kemarahan, frustrasi, atau kesombongan?