Name and Story

21st Sunday in Ordinary Time. August 27, 2017 [Matthew 16:13-20]

“You are the Christ, the Son of the living God (Mat 16:16)”

happy chilren 2Today’s Gospel is well known as the Confession of Peter. Jesus asks the disciples who He is, and Simon confesses that Jesus is the Christ, the Son of the living God. He gets it right, and Jesus Himself reveals that his answer does not come from his human weakness, but from the heavenly Father. I used to think that this revelation is an instant inception of divine idea inside Simon’s mind. Right there and then, like Archimedes who discovered the Law of Hydrostatic, Simon also shouts “Eureka! I have found it!”

However, I realize there is a different understanding of revelation. It is not an instant one, but a revelation that involves Simon’s entire life as well as his active participation. Simon is able to formulate his answer because God has led him to meet Jesus, and on his part, Simon decides to follow him and live as his disciple. The revelation comes through a long process of listening, witnessing and sometimes, misunderstanding his Master. Simon sees Jesus’ miracles. He hears Jesus’ teachings. He feels Jesus’ compassion for the poor and the afflicted. Simon gradually recognizes Jesus personally and intimately. Simon’s confession is born of this intimate knowledge and friendship. He knows Jesus’ story, and at the right moment, he is ready to share his story of Jesus with others.

This is not far from our daily experiences. When we address our loved ones and close friends, we do not just call them with ordinary names, but names imbued with our intimate stories. My mother simply calls me Bayu, but I know that it is a lot different from a stranger who calls my name. Often, we also have terms of endearment. Among close friends in the Philippines, we call each other as “Friend”, “Friendship”, “Best”, “Bessy” among other. These names are beautiful because we hold each other’s stories dearly. Indeed, our humanity is conceived because our ability to gather our common stories and to share them confidently.

Therefore, it is a serious offense to our humanity when we suppress other people’ stories, and address them with improper words. Our refusal to recognize the others’ stories is in fact, the root of many discriminations, like racism, sexism, and fundamentalism. The worst is when we erase all together the names and the stories behind them. Victor Frankl, the author of “Man’s Search for Meaning” was once a prisoner at Nazi’s camps. He narrated how prisoners were called by set of number as their identity, like prisoner 1234, and gradually they also lost their humanity, as they were treated, tortured and disposed as mere numbers.

The war on drug in the Philippines has been one of the bloodiest in the Philippine history. Thousands have been killed, the suspects, the law-enforcers, and even innocent civilians. Yet, many do not care, “Anyway, it is just number and statistics.” Till Kian, a teenager student, was mercilessly killed allegedly by the law-enforcers, and the event recorded in CCTV camera awakens the nation’s conscience. The investigation was held by the Senate and Kian’s parents faced the alleged killers of their son. During this hearing, the parents narrated Kian’s stories as an ordinary boy who aspired to become a policeman himself. Kian began to emerge to be a human person with stories, hopes and dreams, not just a faceless number. And the mother ended her statement by saying to the alleged perpetrators, “Ama ka rin (You are also a father).” It was not only a call to their conscience, but also reminder to all of us that we fail as humanity if we no longer listen to and share our stories.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Cerita

Minggu Biasa ke-21 [27 Agustus 2017] Matius 16:13-20

“Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup (Mat 16:16)”

happy chilrenYesus bertanya kepada murid-murid siapakah Dia, dan Simon menjawab bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah yang hidup. Simon Petrus menjawab dengan benar, dan Yesus sendiri mengungkapkan bahwa jawabannya tidak berasal dari kelemahan manusiawi, namun dari Bapa di surga. Dulu saya berpikir bahwa pewahyuan ini terjadi secara instan di dalam pikiran Simon. Seperti Archimedes yang menemukan Hukum Hidrostatis, Simon juga berteriak “Eureka! Aku telah menemukannya!”

Namun, ada juga bentuk pewahyuan yang berbeda. Ini bukan sekedar ide instan, tapi sebuah pewahyuan yang melibatkan seluruh hidup Simon Petrus dan juga partisipasi aktifnya. Simon mampu merumuskan jawabannya karena Tuhan telah menuntunnya untuk bertemu dengan Yesus, dan Simon sendiri memutuskan untuk mengikuti-Nya dan hidup sebagai murid-Nya. Wahyu datang melalui proses panjang untuk mendengarkan, menyaksikan dan memahami sang guru. Simon Petrus melihat mukjizat Yesus. Dia mendengar ajaran Yesus. Dia merasakan belas kasih Yesus bagi orang miskin dan orang-orang yang menderita. Simon secara bertahap mengenali Yesus secara pribadi dan mendalam. Pengakuan Simon terlahir dari pengenalan dan persahabatan yang mendalam. Dia tahu kisah Yesus, dan pada saat yang tepat, dia siap untuk membagikan kisahnya tentang Yesus kepada sesama.

Ini tidak jauh dari pengalaman sehari-hari kita. Ketika kita berbicara kepada orang yang kita cintai atau sahabat dekat, kita tidak hanya memanggil mereka dengan nama biasa, tapi juga nama-nama yang dijiwai oleh cerita kita yang mendalam. Ibu saya memanggil saya “Bayu”, tapi saya tahu ini sangat berbeda dari orang asing yang memanggil nama saya. Sering kali, kita juga memiliki panggilan khas yang hanya orang-orang terdekat kita yang tahu. Nama-nama ini indah karena terlahir dari sebuah cerita mendalam. Sungguh, kemanusiaan kita terlahir karena kemampuan kita untuk mengumpulkan cerita kita bersama dan untuk membagikannya dengan percaya diri.

Oleh karena itu, ini adalah sebuah pelanggaran serius terhadap kemanusiaan kita saat kita tidak memperdulikan kisah-kisah hidup sesama, dan menamai mereka dengan kata-kata yang tidak pantas. Penolakan kita untuk mengenali cerita sesama sebenarnya adalah akar dari banyak diskriminasi, seperti rasisme, seksisme, dan fundamentalisme. Yang terburuk adalah saat kita menghapus semua nama dan cerita di baliknya. Victor Frankl, penulis buku “Man’s Search for Meaning” pernah menjadi narapidana di kamp-kamp Nazi. Dia meriwayatkan bagaimana para napi kehilangan nama mereka dan angka menjadi identitas mereka, seperti tahanan 1234, dan lambat laun mereka juga kehilangan kemanusiaan mereka, karena mereka diperlakukan, disiksa dan dieksekusi sebagai angka belaka.

Perang melawan narkoba di Filipina telah menjadi salah satu yang paling berdarah dalam sejarah Filipina. Ribuan orang terbunuh, baik tersangka, aparat penegak hukum, dan bahkan warga sipil yang tidak berdosa. Namun, banyak yang tidak peduli, “Ini hanya angka dan statistik.” Sampai Kian, seorang siswa remaja, dibunuh tanpa belas kasihan oleh petugas penegak hukum, dan kejadian yang terekam di kamera CCTV membangunkan hati nurani bangsa ini. Investigasi pun diadakan oleh DPR Filipina, dan orang tua Kian bertemu para terduga pembunuh putra mereka. Dalam pertemuan ini, orang tua menceritakan kisah Kian sebagai anak laki-laki biasa dan bercita-cita menjadi polisi. Kian mulai muncul menjadi manusia dengan kisah, harapan dan impiannya, bukan hanya sekedar angka tak berwajah yang bisa dihapus kapan saja. Dan, sang ibu mengakhiri kisahnya dengan mengatakan kepada para tersangka dalam bahasa tagalog, “Ama ka rin (Anda juga seorang ayah).” Ini bukan hanya ketukan bagi hati nurani mereka, tapi juga mengingatkan kita bahwa setiap kali kita gagal mendengarkan kisah sesama, kita gagal sebagai manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Canaanite Woman and Mother

20th Sunday in Ordinary Time. August 20, 2017 [Matthew 15:21-28]

“Please, Lord, for even the dogs eat the scraps that fall from the table of their masters (Mat 15:27)”

canaanite woman 2Why does Jesus, the compassionate man and just God, have to “humiliate” the Canaanite woman? If we put ourselves in the context of Jesus’ time and culture, we will understand that what Jesus does is just expected of him. Jesus is dealing with a woman of gentile origin. Generally, Jews avoid contacts with the non-Jews, and a Jewish man does not engage in dialogue with a woman who is not his wife or family in public. Jesus does what every Jewish man has to do. However, in the end, Jesus praises the woman’s faith and heals her daughter. Eventually, mercy overcomes differences and love conquers all.

How big is this woman’s faith? If we carefully read the dialogue between Jesus and the Canaanite woman, there are three stages of humiliation. Firstly, the woman cries out loudly to Jesus, addressing him as Lord, Son of David, and asks for pity for her daughter. Jesus ignores her.  Secondly, the woman keeps crying out, and Jesus refuses her with a reason that he is sent only to the Jews. Thirdly, the woman touches the ground and worships Jesus, begging for the life of her daughter. Jesus associates her with a dog, perhaps because the relationship between the Jews and the Gentile in this region has become so sour that they call each other as dogs. Yet, despite these series of humiliation, the woman perseveres and wittily answers that even dogs receive mercy from their master. There is a progression of humiliation, yet there is also progression of humility and faith. From someone outside the group, she persistently makes her way inside to the point of ‘under the table’ of her master.

What inspires such great humility and faith? I believe that it is her far greater love. She is not just a woman and a Canaanite, she is also a mother. We know good parents, especially a mother, would do practically anything for their children. There is a natural bond between a mother and the child of her womb, a bond that empowers a woman to even sacrifice her life. Jesus allows this humiliation because He knows well the capacity of this mother to love. God allows things to get messy in our lives, because He knows well our capacity to love which can grow exponentially.

Let me end this little reflection with a story. on the day of graduation in one of the top universities in the Philippines, a young man, top of his batch, gave his valedictory remarks. He narrated a story of a young woman who was expecting a child. Yet, she was diagnosed with a dangerous illness that required aggressive treatments. The medication may cure her, but it will be too strong for the infant inside her womb.  So, she was left with a choice either to choose her life or her baby’s. Many encouraged her to let the baby die since she has a bright future, a promising career. Yet, to the surprise of all, she decided not to take the medication, and allowed her baby live. Trusting to her baby to her husband, she died after giving birth to a healthy little Babyboy. Then, with teary eyes, the young valedictorian revealed to all that he was that little baby. He is able to live, to grow, and achieve his dream because his mother loved him so much to the point of giving her own life for him.

We remember and thank our mothers who have loved and sacrificed a lot for us. And just like them, God calls us to have faith and love that make us bigger than our small lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perempuan Kanaan

Minggu Biasa ke-20 [20 Agustus 2017] Matius 15: 21-28

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27)”

KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA
KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA

Mengapa Yesus, yang penuh kasih, harus “mempermalukan” perempuan Kanaan? Jika kita menempatkan diri kita dalam konteks dan budaya pada zaman Yesus, kita akan mengerti bahwa apa yang Yesus lakukan adalah sesuai dengan apa yang diharapkan. Ingat Yesus sedang berhadapan dengan perempuan yang bukan Yahudi. Umumnya, orang Yahudi pada zaman itu menghindari kontak dengan orang-orang bukan Yahudi, dan seorang pria Yahudi tidak berdialog dengan perempuan yang bukan istri atau keluarganya di ruang publik. Yesus melakukan apa yang setiap orang Yahudi harus lakukan. Namun, pada akhirnya, Yesus memuji iman sang perempuan tersebut dan menyembuhkan putrinya. Akhirnya, belas kasihan mengatasi perbedaan, dan kasih menaklukkan semuanya.

Seberapa besar iman perempuan Kanaan ini? Jika kita membaca dengan saksama dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan, ada tiga tahap “penghinaan”. Tahap pertama: perempuan itu berseru dengan lantang kepada Yesus, memaggil-Nya sebagai Tuhan, Anak Daud, dan mohon belas kasihan bagi putrinya. Yesus mengabaikannya. Tahap kedua: perempuan itu terus berteriak-teriak, dan Yesus menolaknya dengan alasan bahwa Dia dikirim hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tahap ketiga: perempuan itu bersujud dekat Yesus dan menyembah-Nya, memohon untuk kehidupan putrinya. Yesus mengumpamakan ia seperti seekor anjing, mungkin karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di wilayah ini telah menjadi sangat buruk sehingga mereka saling memanggil sebagai binatang. Namun, terlepas dari serangkaian penghinaan ini, perempuan tersebut bertekun dan dengan pintar membalikkan keadaan dengan menjawab bahkan anjing pun mendapat belas kasihan dari tuannya. Benar, ada tahapan “penghinaan”, tetapi ada juga perkembangan kerendahan hati dan iman. Dari seseorang yang di luar kelompok, sang perempuan perlahan-lahan mendekati Yesus. Dari seseorang yang di luar pikiran Yesus, iapun berada di hati-Nya.

Apa yang mengilhami kerendahan hati dan imannya yang begitu besar? Saya percaya bahwa itu adalah kasih. Ingat bahwa dia bukan hanya perempuan Kanaan, dia juga seorang ibu. Kita tahu orang tua yang baik, terutama seorang ibu, akan melakukan segala hal untuk anak mereka. Ada ikatan mendalam antara sang ibu dengan anak buah rahimnya, ikatan yang memberdayakan perempuan bahkan untuk mengorbankan hidupnya. Yesus membiarkan “penghinaan” ini karena Dia mengetahui dengan baik kemampuan sang ibu untuk mencintai. Tuhan terkadang membiarkan segala sesuatunya menjadi sulit dalam hidup kita, karena Dia tahu dengan baik kemampuan kita untuk mengasihi dapat berkembang secara luar biasa.

Pada sebuah acara wisuda di salah satu universitas terkemuka di Filipina, seorang pemuda, yang adalah mahasiswa teladan, menyampaikan pidato sambutannya. Dia menceritakan sebuah kisah tentang seorang perempuan muda yang sedang hamil. Namun, beberapa bulan sebelum melahirkan, dia didiagnosa menderita penyakit berbahaya. Obat-obatan bisa menyembuhkannya, tapi akan terlalu berbahaya bagi bayi di dalam rahimnya. Jadi, dia harus memilih: hidupnya atau bayinya. Banyak yang mendorongnya untuk membiarkan bayinya meninggal karena ia memiliki masa depan yang cerah dan karir yang menjanjikan. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk menyelamatkan bayinya. Mempercayai bayinya kepada sang suami, diapun meninggal setelah melahirkan bayi laki-laki mungil yang sehat. Kemudian, mengakhiri pidotanya, dengan mata berkaca-kaca, sang pemuda mengungkapkan kepada semua yang hadir bahwa dia adalah sang bayi kecil tersebut. Dia hidup, tumbuh, dan mencapai mimpinya karena ibunya yang sangat mencintainya dan tidak takut untuk memberi hidupnya untuknya.

Mari kita mengingat dan berterima kasih ibu kita yang telah mencintai dan berkorban bagi kita. Dan sama seperti mereka, Tuhan memanggil kita untuk memiliki iman dan cinta kasih yang membuat kita jauh lebih besar dari diri kita yang kecil.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ocean

 19th Sunday in Ordinary Time. August 13, 2017 [Matthew 14:22-33]

 “O you of little faith, why did you doubt?”  (Mat 14:31)

jesus rescues peter - korea Ocean is a gift to humanity. For many of us, ocean means a great variety of seafood, a place to spend our vacation. When we imagine a vast sea with beautiful beach, we are ready to enjoy swimming, snorkeling or diving. However, for millions of fishermen and seafarers, sea simply means life as they depend their lives and their families on the generosity of the sea, the resources it offers, and the works it generates. Unfortunately, the sea is not always merciful. The sea is home to powerful storms and with its giant waves that can even engulf the biggest of ships. With the effects of global warming, massive sea pollution and destructive ways of fishing, it is getting hard to get a good catch. Novelist Ernest Hemingway in his book “The Old Man and the Sea” narrates a life of fisherman who after risking his life to catch a giant fish, brings home nothing but a fishbone as his catch was consumed by other fishes. Majority of fishermen who continue struggling with lingering debt and difficulty to get fuel for their boats, become poorer by the day. These make fishermen and seafarers a perilous profession.

The Sea of Galilee is not a sea at all, but technically a lake. Certainly, it is a lot safer than the open sea, but the Gospels constantly tell us that the lake can be deadly sometimes even to seasoned fishermen like Peter and other apostles. Like Peter and the apostles, Filipino Dominican missionaries to Babuyan group of islands at the northern tip of the Philippines know well what it means to be at the mercy of the ocean. To go to their mission stations, they have to cross a sea strait by a small boat for around 4 to 8 hours. It might be a tiny strait, but it is a wild and dangerous one because it connects to two great seas, the Pacific Ocean on the east and South China Sea or West Philippine Sea on the west. When the sea is rough and the boat is hit and tossed by the giant waves, it is the time when our missionaries and all others in the boat to pray, and perhaps it is their sincerest prayer ever. When at the mercy of the ocean, we begin to realize that what matters most in life is actually life itself, and as only this life that we hold dear, everything else seems to be trivial and passing.

However, there comes the paradox. In the midst of raging ocean, holding on to fragile life, we begin to be closest to the creator of life Himself. The mighty sea washes away those things that stand between us and God. All those things that add layers upon layers to our lives are swept away. As we achieve wealth, physical beauties, educational attainments, physical beauties, possessions and honor, we tend to be full of ourselves, and become more independent from God who grants us those blessings. Like Peter, our faith becomes little, relying too much on ourselves. Then, when the storm comes and we begin to sink, we realize that all those achievements will not save us.

What are those things in our lives that stand between us and God? Are we like Peter, a man of little faith? What are the stormy sea experiences in our lives? How do you encounter God in these stormy sea experience?

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Lautan

Minggu Biasa ke-19  [13 Agustus 2017] Matius 14: 22-33

“Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat 14:31)

jesus rescues peter 2Laut adalah anugerah bagi umat manusia. Bagi banyak dari kita, laut berarti berbagai macam seafood, dan tempat untuk menikmati liburan. Bila kita membayangkan lautan luas dengan pantai yang indah, kita siap untuk berenang, snorkeling atau menyelam. Namun, ini jauh berbeda bagi jutaan nelayan dan pelaut. Laut berarti kehidupan karena mereka menggantungkan hidup mereka dan keluarga mereka pada laut, baik sumber daya yang dimiliki dan perkerjaan yang dihasilkan. Sayangnya, laut tidak selalu berarti kehidupan. Laut adalah tempat bagi badai-badai dahsyat dan gelombang-gelombang raksasa yang bahkan bisa menelan kapal-kapal terbesar yang pernah dibangun manusia. Dengan efek pemanasan global, polusi laut yang masif dan cara-cara penangkapan ikan yang merusak alam, sekarang semakin sulit bagi nelayan sederhana untuk mendapatkan tangkapan yang baik. Penulis Ernest Hemingway dalam bukunya “The Old Man and the Sea” menceritakan tentang kehidupan nelayan tua yang setelah mempertaruhkan nyawanya untuk menangkap ikan raksasa, tidak membawa pulang apapun kecuali tulang ikan karena tangkapannya dihabisi oleh ikan-ikan lain. Mayoritas para nelayan terus berjuang dengan hutang dan sulitnya mendapatkan bahan bakar untuk perahu mereka. Merekapun menjadi semakin miskin dari hari ke hari. Hal ini membuat nelayan dan pelaut adalah profesi yang berbahaya.

Danau Galilea bukanlah lautan. Tentunya, ini jauh lebih aman daripada laut terbuka, namun Injil mengatakan bahwa danau ini bisa mematikan bahkan bagi nelayan berpengalaman seperti Petrus dan rasul lainnya. Seperti Petrus dan para rasul di tengah badai, para Dominikan Filipina yang menjadi misionaris ke kepulauan Babuyan di ujung utara Filipina tahu betul apa artinya berada pada belas kasihan lautan. Untuk menuju ke tempat misi mereka, mereka harus menyeberangi selat dengan perahu sekitar 4 sampai 8 jam perjalanan. Ini mungkin sebuah selat kecil, tapi ini adalah selat yang ganas dan berbahaya karena menghubungkan Samudra Pasifik ke timur dan Laut Cina Selatan ke barat. Saat laut di selat ini dalam kondisi yang tidak baik, maka perahu-perahu dihantam dan dipermainkan oleh ombak-ombak raksasa. Inilah saat misionaris kita dan semua yang ada perahu tersebut tidak dapat melakukan apapun kecuali berdoa, dan mungkin ini adalah doanya yang paling tulus yang pernah mereka daraskan dalam hidup mereka. Ketika berada pada belas kasihan samudera, kita mulai menyadari bahwa apa yang paling penting dalam hidup adalah hidup itu sendiri, dan karena hanya hidup ini yang paling penting, segala sesuatu yang lain sepertinya sepele dan tidak banyak artinya.

Namun, di sinilah muncul sebuah paradoks. Di tengah laut yang ganas, berpegangan pada hidup yang rapuh, kita menjadi paling dekat dengan pencipta kehidupan sendiri. Laut yang dasyat menyapu bersih segala hal yang berdiri di antara kita dan Tuhan. Semua hal yang menambahkan berbagai lapisan pada kehidupan kita tersapu bersih. Seiring semakin banyaknya pencapaian kita, kekayaan, pencapaian pendidikan, keindahan fisik, berbagai barang dan kehormatan, kita cenderung semakin penuh dengan diri kita sendiri, dan menjadi lebih mandiri dari Tuhan yang memberi berkat-berkat itu. Seperti Petrus, iman kita menjadi kecil, terlalu bergantung pada diri kita sendiri. Kemudian, saat badai datang, ketika kita mulai tenggelam, kita menyadari bahwa semua pencapaian kita ini tidak akan menyelamatkan kita.

Apakah di dalam hidup kita yang berdiri di antara kita dan Tuhan? Apakah kita seperti Petrus, orang yang iman kecil? Apa pengalaman badai laut dalam hidup kita? Bagaimana kita menjumpai Tuhan dalam pengalaman laut yang penuh badai ini?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Metamorphosis

The Feast of Transfiguration. August 6, 2017 [Matthew 17:1-9]

 “He was transfigured before them; his face shone like the sun and his clothes became white as light (Mat 17:2).”

transfiguration 2This Sunday, the Church is celebrating the feast of Transfiguration.  The word ‘transfiguration’ comes from Matthew who writes Jesus transfigures before the three disciples, Peter, James and John, his face shines like the sun and his clothes become white as light (17:2). The word “transfigure” is the direct transliteration of the Latin Vulgate Bible “transfigurare”. It is a combination of two words “trans” meaning to across, and “figura” meaning figure.  Thus, transfiguration literally means the change of figure. It is a fitting word to describe what happens to Jesus.

However, if we look at the original Greek, Matthew used the word “metamorphos” which is actually the root of the English word metamorphosis. Many of us understand metamorphosis as a biological term. It is a marked and more or less abrupt developmental change in the form or structure of an animal. The classical examples are the transformation from a leaf-eating caterpillar into a beautiful butterfly, or an aquatic tadpole into a land-dwelling frog. Metamorphosis is surely a radical change, but we do not use this term to describe what happens to Jesus in Mount Tabor perhaps because we do not want to limit Jesus’ transformation to the biological sphere only. It is something more fundamental, spiritual and even divine.

In our time, the medical technologies have advanced considerably, and this enables us also to undergo a metamorphosis. We can look young despite our age. We can reduce our excess fat in no time. We can make even our face bright and vibrant, even ‘shining like the sun’. I have to admit that often I do not pay much attention to my physical and facial improvement, but I believe that our efforts to care for our bodies and improve our beauty are part of appreciating God’s creations. The problem sets in when we become excessive and even obsessive. Spending huge amount of money just for beauty products and cosmetic surgery while our neighbors are dying of hunger is simply unchristian. Spending our fortune for the companies that cause environmental damages or sufferings to people is also our participation in this injustice.

However, we are called not simply to metamorphosize but to transfigure. While the change and improvement in our body can be good and beautiful, transfiguration is not only a matter of physical alteration. We need to change in a more fundamental, spiritual and even divine way. It is a change that pleases the Father because we become like Jesus, we become His sons and daughters. Through the sacrament of baptism, we have been made God’s children, and now it is our mission to act and behave like His worthy children. Like Jesus, we need to be more aware of the sufferings around us and be compassionate to our poor brothers and sisters. Like Jesus, we fight against the injustices and abuses that take place around us. Like Jesus, we instruct and educate our family, friends and neighbors in truth.

Finally, Matthew places the event of the Transfiguration just before Jesus goes to Jerusalem as He offers His life for our salvation. The true transfiguration enables us to become less and less self-centered and empowers us to do sacrifices for our loves ones. We are called to make the world a better place for us and all children of God. Like Jesus, we are called to be transfigured and be pleasing to the Father.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Metamorfosis

Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. 6 Agustus 2017 [Matius 17: 1-9]

“Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. (Mat 17:2)”

transfiguration 1Minggu ini, Gereja merayakan Pesta Yesus yang menampakkan kemulian-Nya yang juga dikenal sebagai Transfigurasi. Kata “transfigurasi” adalah transliterasi dari kata Latin “transfigurare” yang digunakan oleh Alkitab Latin Vulgata. Ini adalah kombinasi dua kata “trans” yang berarti melintasi, dan “figura” yang berarti bentuk atau figur. Dengan demikian, transfigurasi secara harfiah berarti bahwa perubahan bentuk atau figur. Ini adalah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung tinggi.

Namun, jika kita menyimak bahasa Yunani yang digunakan Matius, kata yang dipilih adalah “metamorphos” yang sejatinya merupakan akar kata dari metamorfosis. Banyak dari kita memahami metamorfosis sebagai istilah biologis. Ini adalah perubahan dan perkembangan drastis yang terjadi dalam bentuk atau struktur anatomi hewan. Contohnya adalah transformasi dari ulat pemakan daun menjadi kupu-kupu yang indah, atau kecebong yang hidup di air menjadi katak yang mampu hidup di daratan. Metamorfosis merupakan perubahan yang radikal, namun kita tidak menggunakan istilah ini untuk menggambarkan apa yang terjadi pada Yesus di Gunung Tabor mungkin karena kita tidak ingin membatasi transformasi Yesus pada sisi biologis saja. Ini adalah sesuatu yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi.

Di zaman modern ini, teknologi medis telah berkembang pesat, dan ini memungkinkan kita juga mengalami “metamorphosis”. Kita bisa terlihat lebih muda meski sudah berusia. Kita bisa mengurangi kelebihan lemak kita dalam waktu singkat. Kita bahkan bisa membuat wajah kita cerah dan bahkan bersinar seperti matahari. Saya harus mengakui bahwa seringkali saya tidak terlalu memperhatikan perbaikan fisik dan wajah saya, namun saya percaya bahwa usaha kita untuk merawat tubuh kita adalah bagian dari menghargai ciptaan Tuhan. Masalah terjadi saat kita menjadi berlebihan dan bahkan obsesif. Menghabiskan sejumlah besar uang hanya untuk produk kecantikan dan bedah kosmetik sementara sesama kita kelaparan karena tidak ada makanan adalah sikap yang sama sekali tidak kristiani. Menghabiskan kekayaan kita untuk perusahaan yang menyebabkan kerusakan lingkungan atau penderitaan orang banyak juga membuat kita turut berpartisipasi dalam ketidakadilan.

Namun, kita dipanggil tidak hanya untuk bermetamorfosis tapi juga ber-transfigurasi. Sementara perubahan dan perbaikan dalam tubuh kita adalah baik dan indah, transfigurasi bukan hanya soal perubahan fisik. Kita perlu berubah dengan cara yang lebih mendasar, spiritual dan bahkan ilahi. Ini adalah perubahan yang menyenangkan hati Allah Bapa karena kita menjadi seperti Yesus, kita menjadi putra dan putri-Nya. Melalui sakramen pembaptisan, kita telah dijadikan anak-anak Allah, dan sekarang misi kita adalah untuk bertindak dan berperilaku seperti anak-anak-Nya. Seperti Yesus, kita perlu lebih sadar akan penderitaan di sekitar kita dan berbelas kasihan kepada saudara dan saudari kita yang miskin. Seperti Yesus, kita berjuang melawan ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita. Seperti Yesus, kita mendidik keluarga, teman dan sesama kita dalam iman dan kebenaran.

Akhirnya, Matius menempatkan peristiwa Transfigurasi sebelum Yesus pergi ke Yerusalem dan mempersembahkan hidup-Nya bagi keselamatan kita. Transfigurasi yang sejati memungkinkan kita untuk menjadi tidak egois dan memberdayakan kita untuk berkorban bagi orang-orang yang kita cintai. Kita dipanggil untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik bagi kita dan semua anak-anak Allah. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk ber-transfigurasi dan berkenan kepada Bapa.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP