Behind the Holy Family

Feast of the Holy Family [December 31, 2017] Luke 2:22-40

“They took him up to Jerusalem to present him to the Lord (Luk 2:22 NAB)”

holy family 1Today, the Church is celebrating the feast of the Holy Family. Saint Joseph and the Blessed Virgin Mary are man and woman regarded as the holiest among mortals. And the center of their family is Jesus, the Son of God. They are not only one holy family among others, but they are the perfection of the Holy Family. Looking at our own families, we realize we are nothing to compare to this Holy Family. We are called to be holy like them, but we continue to struggle and fail. Nobody among us is immaculately conceived like the Virgin Mary. No woman among us gives birth to the Son of God through the power of the Holy Spirit. Many of us surely love to sleep, but who among us like St. Joseph, receive genuine appearance of the Angel in our dream? Despite our best efforts, we keep hurting each other, failing each other, and are far from the ideal example of the Holy Family.

However, the point of the Holy Family is not so much on the goodness of individual members. It is not about the greatness of Mary who is blessed among women. It is not about the righteousness of Joseph who faithfully follows the Law of Moses. Yet, it is about the grace and mercy of God, and how they open themselves to these gifts of God. If we examine carefully the Bible and the socio-historical context of the first century Palestine, we discover that Joseph and Mary are hardly capable and prepared parents for Jesus. Despite coming from David’s clan, Joseph is a poor carpenter from Nazareth. Mary is a very young woman, and just barely ready for pregnancy, let alone for childbearing and child-raising. God makes a very risky choice to entrust His only Son to this couple.

Joseph is indeed a righteous man because he knows and lives by the Law of Moses, yet when he learns that Mary is with a child that is not his, he must have felt betrayal and deep pain. To satisfy his anger, he could have openly accused Mary of adultery and let the public stone her, but his mercy prevails, he decides to secretly divorce Mary as to save her life and the baby. However, adding salt to the wound, the Angel orders Joseph to take Mary as his wife. This means Joseph will have to acknowledge the child as his own, and he will live with a dishonor as one who violates a virgin before the marriage. The same thing with Mary. Despite her inability to understand the virginal conception of Jesus, she is aware that having a child outside marriage means shame and even death. Thus, this means their lives become easier. Hardly! Simeon warns Mary that a sword will pierce her soul. Mary will see her own son treated like an animal and crucified. Joseph has to work harder to provide for Jesus and Mary, and continue to bear the stigma. Holy spouses do not have a convenient life even with Jesus in their midst. Yet, both Mary and Joseph agree to the plan of God, and let the grace of God fill their lives, and this makes them holy.

We realize that building a holy family is a tough vocation. Like Joseph and Mary, we are going to face difficult problems, from financial instability to personal disagreements, and relying on our own strength, we will surely fall. Yet, like Mary and Joseph, we open ourselves to the grace of God, because when God calls us to holiness in the family, He surely will bring us all to the perfection.

Dasar dari Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus [31 Desember 2017] Lukas 2: 22-40

“Mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan (Luk 2:22).”

holy familyHari ini, Gereja merayakan Pesta Keluarga Kudus. Santo Yusuf dan Perawan Maria adalah pria dan wanita adalah paling kudus di antara manusia, dan pusat keluarga mereka adalah Yesus, Putra Allah. Sungguh tidak ada keluarga lain yang dapat menyamai keluarga kudus yang satu ini. Melihat keluarga kita sendiri, kita sadar bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Keluarga Kudus ini. Benar bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi kudus seperti mereka, tapi kita terus bergulat dan gagal. Tidak ada di antara kita yang dikandung tanpa noda seperti Perawan Maria. Tidak ada wanita di antara kita yang melahirkan Putra Allah melalui kuasa Roh Kudus. Banyak dari kita pasti suka tidur, tapi siapa di antara kita seperti St. Yusuf, yang menerima kabar dari Malaikat Allah dalam mimpi kita? Terlepas dari upaya terbaik kita, kita terus saling menyakiti, gagal, jatuh, dan jauh dari contoh ideal Keluarga Kudus.

Namun, kekuatan yang sesungguhnya dari Keluarga Kudus tidaklah terletak pada kebaikan Yusuf atau Maria. Ini bukan tentang kehebatan Maria yang diberkati di antara wanita. Ini bukan tentang ketaatan Yusuf yang dengan setia mengikuti Hukum Musa. Namun, ini adalah karena rahmat dan belas kasih Allah, dan bagaimana mereka membuka diri mereka terhadap rahmat Allah ini. Jika kita meneliti dengan saksama Alkitab dan konteks sosio-historis Palestina pada abad pertama, kita menemukan bahwa Yusuf dan Maria adalah orang tua yang sesungguhnya tidak mampu untuk Yesus. Meskipun datang dari klan Daud, Yusuf adalah seorang tukang kayu miskin dari Nazaret. Maria adalah wanita yang sangat muda, dan hampir tidak siap untuk hamil, apalagi untuk melahirkan dan mengasuh anak.

Yusuf memang orang yang taat karena dia tahu dan hidup menurut hukum Musa, namun ketika dia mengetahui bahwa Maria mengandung anak yang bukan miliknya, pastilah dia merasa dikhianati dan sangat terluka. Untuk memuaskan kemarahannya, dia bisa secara terbuka menuduh Maria melakukan perzinahan dan membiarkan masyarakat merajam dia, namun akhirnya, dia memutuskan untuk secara diam-diam menceraikan Maria dan menyelamatkan nyawanya dan bayinya. Namun, tidak hanya itu, Malaikat memerintahkan Yusuf untuk mengambil Maria sebagai istrinya. Ini berarti Yusuf harus mengakui anak itu sebagai miliknya sendiri, dan dia akan hidup dengan penghinaan sebagai orang yang bersetubuh dengan perawan sebelum menikah. Hal yang sama dengan Maria. Meskipun dia tidak dapat memahami tentang bayinya yang ada di rahim, dia sadar bahwa memiliki anak di luar nikah berarti aib dan bahkan kematian. Dengan kehadiran Yesus bukan berarti hidup mereka menjadi lebih mudah. Simeon memperingatkan Maria bahwa pedang akan menembus jiwanya. Maria akan melihat anaknya sendiri diperlakukan seperti binatang dan disalibkan. Yusuf harus bekerja lebih keras untuk menyediakan bagi Yesus dan Maria, dan terus menanggung aib di tengah masyarakat. Pasangan kudus sesungguhnya tidak memiliki kehidupan yang nyaman bahkan dengan Yesus di tengah-tengah mereka. Namun, baik Maria maupun Yusuf menerima rencana Allah, dan membuka diri terhadap kasih karunia Allah yang memenuhi hidup mereka, dan inilah yang membuat mereka sungguh kudus.

Kita menyadari bahwa membangun keluarga kudus adalah panggilan yang sulit. Seperti Yusuf dan Maria, kita akan menghadapi masalah yang sulit, mulai dari ketidakstabilan finansial sampai kepribadian yang berbeda, dan bergantung pada kekuatan kita sendiri, kita pasti jatuh. Namun, seperti Maria dan Yusuf, kita membuka diri terhadap anugerah Tuhan, karena ketika Tuhan memanggil kita dalam kekudusan dalam keluarga, Dia pasti akan membawa kita kepada kesempurnaan dan buah berlimpah.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Christmas and the Love of God

The Nativity of the Lord [December 25, 2017] John 1:1-18

 “And the Word became flesh and made his dwelling among us, and we saw his glory, the glory as of the Father’s only Son, full of grace and truth. (Joh 1:14)”

John-Word-made-fleshChristmas is one of the most joyous events in the Church and the world. But, what makes us happy this Christmas? Is it only about partying? Is it all about buying gifts? Is it about family gathering? Is it about fulfilling our obligation of going to the Church? Is there something more than these? Immersed in many celebrations, merriment, spending, and holidays, we often forget the main reason behind Christmas. We all know Christmas is the birthday of Jesus Christ, but what is the meaning and significance of this birth for us? Let us stop for a while and reflect on the Gospel of John.

John describes the birth of Jesus in just one line, “and the Word was made flesh and dwell among us.” It is a short yet powerful line, but demands an explanation. “…was made flesh” means that the Word becomes a totally human being. He breathes the air we breathe, feels what we feel, and works for a living just many of us. He is human like us in all respect except sin (see Heb 4:15).

Yet, this man is also fundamentally different from us, because he is the Word. Who is this Word?  At the beginning of his Gospel, John the evangelist gives us an extremely brief but potent description of the Word. He was with God since the beginning, and the Word was God. With boldness, John the evangelist proclaims that this Word is God the Son, the second divine person of the Holy Trinity. He has existed with the God the Father in eternity, and only through Him, all creations come to existence. In the Annunciation, this all-powerful Word became man, and in Christmas day, He was born in Bethlehem.

It is true that Christmas accounts of Luke and Matthew are more vivid and details as compare to John. Matthew has the three Magi, and Luke has the angels and shepherds. Yet, despite its brevity, only John connects Christmas to the divine Word. Christmas reaches its deepest meaning when we are able to appreciate the Word, the God the Son, decides to be born as man. Then why does God choose to be a man, fragile, prone to pain and suffering, and mortal like us?

The only answer is love. God is love (1 Jn 4:8) and God so loves us, that He gives only Son for us. God is madly in love with us, to the point that He becomes one of us, and by becoming a man, we may feel His love in a most radical manner. We can discuss various theories of love at length, but unless we put into actions, love is meaningless. So thus, the love of God is manifested in the most concrete manner as He becomes man. We might do not understand why this kind of love, but God is like a mother who is so in love with her newly born baby, will do anything to ensure his wellbeing even to the point of sacrificing her own life. Christmas is indeed one of the happiest events because here we are able to feel and appreciate the love of God in a most radical way. It is the gift of love, and only true love that can make us truly happy.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Natal dan Kasih Tuhan

Hari Raya Natal [25 Desember 2017] Yohanes 1: 1-18

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (Yoh 1:14)”

nativity_he-qiNatal adalah salah satu hari yang paling menggembirakan di dalam Gereja. Tapi, apa yang membuat kita gembira Natal ini? Apakah karena banyak pesta? Apakah karena kita menerima banyak hadiah? Apakah karena kita bisa berkumpul dengan keluarga? Terlarut dalam banyak perayaan, kegembiraan, belanja, dan liburan, kita sering melupakan alasan utama di balik Natal. Tentunya, kita semua tahu Natal adalah hari kelahiran Yesus Kristus, tapi apa arti sesungguhnya kelahiran ini bagi kita? Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan Injil Yohanes.

Yohanes Penginjil menggambarkan kelahiran Yesus hanya dalam satu kalimat, “dan Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Ini adalah kalimat yang sangat pendek namun penuh daya. Firman menjadi manusia sejati. Dia menghirup udara yang kita hirup, merasakan apa yang kita rasakan, dan bekerja untuk mencari nafkah seperti halnya banyak dari kita. Dia adalah manusia seperti kita dalam segala hal kecuali dosa (lihat Ibr 4:15).

Namun, manusia ini juga sangat berbeda dengan kita, karena dia adalah Firman. Siapakah Firman ini? Pada awal Injilnya, Yohanes penginjil memberi kita deskripsi Firman yang sangat singkat tetapi penuh kekuatan. Firman bersama Tuhan sejak awal, dan Firman itu adalah Tuhan. Dengan keberanian, Yohanes penginjil menyatakan bahwa Firman ini adalah Allah Putra, pribadi ilahi yang kedua dari Tritunggal Mahakudus. Dia telah ada bersama dengan Allah Bapa dalam kekekalan, dan hanya melalui Dia, semua ciptaan ada. Saat Maria menerima Kabar Sukacita, Firman yang Maha Kuasa ini menjadi manusia, dan pada hari Natal, Dia lahir di Betlehem.

Memang benar bahwa kisah kelahiran Yesus di Lukas dan Matius lebih hidup dan panjang dibandingkan dengan Yohanes. Matius memiliki tiga orang Majus, dan Lukas memiliki malaikat dan gembala. Namun, meski singkat, hanya Yohanes yang menghubungkan Natal dengan sang Firman. Natal mencapai makna terdalamnya saat kita dapat menemukan sang Firman, Putra Allah, yang memutuskan untuk dilahirkan sebagai manusia. Lalu mengapa Tuhan memilih untuk menjadi seorang manusia, rapuh, rentan terhadap rasa sakit dan penderitaan, dan fana seperti kita?

Satu-satunya jawabannya adalah cinta kasih. Tuhan adalah kasih (1 Yoh 4: 8) dan Tuhan sangat mengasihi kita, sehingga Dia memberi Putra-Nya bagi kita. Tuhan sangat mencintai kita, sampai-sampai Ia menjadi salah satu dari kita, dan dengan menjadi seorang manusia, kita dimungkinkan merasakan kasih-Nya dengan cara yang paling radikal. Kita bisa membahas berbagai teori cinta dengan panjang lebar, tapi tanpa tindakan nyata, cinta kasih itu tidak ada artinya. Jadi, cinta kasih Tuhan diwujud nyatakan dengan cara yang paling konkret saat Ia menjadi manusia. Kita mungkin tidak mengerti mengapa Ia mencintai kita seperti ini, tapi Tuhan seperti seorang ibu yang sangat mencintai bayi yang baru lahir, akan melakukan apapun untuk memastikan kesejahteraan sang bayi, bahkan sampai mengorbankan nyawanya sendiri. Natal memang merupakan salah satu peristiwa terindah karena disini kita bisa merasakan dan menghargai kasih Tuhan dengan cara yang paling radikal. Itu adalah karunia cinta kasih, dan hanya cinta sejati yang bisa membuat kita benar-benar bahagia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Annunciations

4th Sunday of Advent [December 24, 2017] Luke 1:26-38

“…my spirit rejoices in God my savior. For he has looked upon his handmaid’s lowliness… (Luk 1:47-48).”

annunciation chinaLuke has a poignant and unique way in narrating the story of the Annunciation. He deliberately places the story of Zachariah and of Mary side by side, and lets his readers see both stories in comparison. The first story speaks of a holy man who serves in the Temple. Zachariah is a symbol of the ideal Israelite who stands at the center of the holy ground. The second story speaks of an ordinary woman who lives in Nazareth, a small town far from the center. In a patriarchal society, Mary is a symbol of the poor and marginalized Israelite who is pushed to the peripheries. Angel Gabriel appears to both, and God does marvelous deeds for both. Yet, the Annunciation to Mary turns to be far more excellent. The Angel greets Mary with the title of honor, the highly favored one, while the angel does not even greet Zachariah. The Angel makes Zachariah mute because of his doubt, but he assures Mary when she is confused. The conception of John the Baptist is done through natural means, while the conception of Jesus in the womb of Mary takes place through the supernatural way. Zachariah and Elizabeth represent the outstanding God’s marvel in the Old Testament like when God opened the womb of Sarah, the wife of Abraham, and Hannah, the mother of Samuel, despite their old age and barrenness. Yet, what happens to Mary surpasses and outshines these Old Testament miracles.

Reading through the Old Testament books and comparing to the story of Zachariah, we discover that the Annunciation to Mary stands at the summit. Never before, an angel will give honor to a mere mortal. Never before, God will highly favor an ordinary human. Yet, what makes it even marvelous is God’s choice of Mary who is a poor, young woman coming from the insignificant town. God chooses practically a “nobody” to become the mother of His Son. Therefore, Mary’s canticle or the “Magnificat” is not a cute little song, but turns to be the poignant testimony of God’s power on His lowly servant, “…my spirit rejoices in God my savior. For he has looked upon his handmaid’s lowliness… (Luk 1:47-48).”

The story of Annunciation becomes a powerful sign for all of us. We, like Mary, often feel that we are weak and hopeless with so many problems in life. We are bullied by our classmates, officemates, or even society because of our uniqueness and talent. We feel that we are insignificant because we produce so little and achieve nothing. Yet, God never abandons us. In fact, He works His wonders in time when we feel that we are nothing.

A newly ordained Dominican priest confesses that he did a lot of foolish things, he did not finish his college and squandered his life. His life was truly a mess and he was a failure. Nowhere to go, he decided to enter the seminary. Yet, things slowly began to fall into place, and he took that second chance seriously. He excelled in his studies, and became a good seminarian. Finally, he was deemed to be worthy of the priesthood. In his thanksgiving mass, he thanks the Lord for undoing his failure, and he professes that in his greatest weakness, God has shone brightly. Like Mary, we are called to discover God’s mighty deeds in our lives, and to proclaim it to the world.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kabar Sukacita

Minggu Adven ke-4 [24 Desember 2017] Lukas 1: 26-38

“… hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

annunciation koreaLukas memiliki cara yang tajam dan unik dalam menulis kisah tentang Penerimaan Kabar Sukacita. Dia dengan sengaja menempatkan kisah Zakharia dan Maria secara berdampingan, dan membiarkan pembacanya melihat kedua cerita itu dalam perbandingan. Kisah pertama berbicara tentang seorang imam yang suci yang melayani di Bait Allah. Zakharia adalah simbol dari orang Israel ideal yang berdiri di pusat peribadatan bangsa Israel. Kisah kedua berbicara tentang seorang wanita sederhana yang tinggal di Nazaret, sebuah desa kecil yang jauh dari pusat pemerintahan dan keagamaan. Dalam masyarakat patriarki, Maria adalah simbol dari bangsa Israel yang miskin dan terpinggirkan dan terdorong ke pinggiran. Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada keduanya, dan Tuhan melakukan perbuatan yang luar biasa bagi keduanya. Namun, Kabar Sukacita bagi Maria ternyata jauh lebih baik. Pertama, sang Malaikat menyapa Maria dengan gelar kehormatan, “Engkau yang dikaruniai, sementara sang malaikat tidak menyapa Zakharia sama sekali. Kedua, sang malaikat membuat Zakharia bisu karena keraguannya, tapi dia meyakinkan Maria saat Maria bertanya-tanya. Ketiga, pembuahan Yohanes Pembaptis terjadi secara alamiah, sementara Yesus di dalam rahim Maria terjadi melalui cara yang supernatural. Zakharia dan Elizabeth mewakili karya besar Tuhan dalam Perjanjian Lama seperti ketika Tuhan membuka rahim Sarah, istri Abraham, dan Hannah, ibu Samuel, meskipun sudah tua dan mandul. Namun, apa yang terjadi pada Maria melampaui segala mukjizat Perjanjian Lama ini.

Membaca buku-buku Perjanjian Lama dan membandingkan kisah Zakharia, kita menemukan bahwa Kabar Sukacita Maria berada di puncak. Belum pernah terjadi sebelumnya, malaikat akan memberi kehormatan kepada seorang manusia biasa. Belum pernah sebelumnya, Tuhan memberi karunia-Nya yang dahsyat kepada manusia biasa. Namun, yang membuat kisah ini bahkan luar biasa adalah pilihan Tuhan bagi Maria yang adalah seorang wanita muda miskin yang berasal dari desa yang tidak penting. Tuhan memilih seorang yang bukan siapa-siapa untuk menjadi ibu Putra-Nya. Oleh karena itu, kidung Maria atau “Magnificat” bukanlah sebuah lagu yang imut, namun ternyata merupakan kesaksian yang menyata tentang kekuatan Tuhan terhadap Maria, hamba-Nya, “…hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya… (Luk 1: 47-48).”

Kita, seperti Maria, sering merasa bahwa kita lemah dan putus asa dengan begitu banyak permasalah dalam hidup. Kita diintimidasi oleh teman sekelas, kerja, pelayanan, dan bahkan masyarakat karena keunikan dan bakat kita. Kita merasa bahwa kita tidak penting karena kita memiliki pencapaian apa-apa. Namun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia mengerjakan karya besar-Nya pada saat kita merasa bahwa kita bukanlah apa-apa.

Seorang imam Dominikan yang baru saja ditahbiskan mengaku bahwa dia melakukan banyak hal bodoh waktu dia muda, dia tidak menyelesaikan kuliahnya dan menyia-nyiakan hidupnya. Hidupnya benar-benar berantakan dan dia adalah sebuah kegagalan. Merasa hilang, dia memutuskan untuk masuk seminari. Namun, hidupnya perlahan-lahan semakin membaik, dan dia mengambil kesempatan kedua itu dengan serius. Dia belajar dengan tekun, dan menjadi seorang frater yang baik. Akhirnya, dia dianggap layak menjadi imam. Dalam misa perdananya, dia mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena Dia telah memilihnya, hamba-Nya yang hina dan gagal, dan bahwa dalam kelemahan terbesarnya, Tuhan telah bersinar terang. Seperti Maria, kita dipanggil untuk menemukan perbuatan-perbuatan besar Allah dalam hidup kita, bahkan di dalam kegagalan hidup, dan menyatakannya kepada dunia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

John the Witness

3rd Sunday of Advent [December 17, 2017] John 1:6-8, 19-28

“John came as a witness to testify to the light , so that all might believe through him. (Joh 1:7)”

john africanIn the Fourth Gospel, John the Baptist has an important role. It is not only to baptize, but to become a witness. He is to witness to the light, to the true Messiah, to Jesus Christ. When the priests, Levites, and Pharisees from Jerusalem, come to him , and interrogate him to clarify his identity, he makes it clear that he is not the Messiah, not even the prophet, but rather enigmatically saying “a voice that cries in the desert.” It seems it is an easy thing to do for John. Questions are thrown at him, and he simply gives straight and confident answers. Yet, looking deeper into the reality, it is actually the opposite.

John the Baptist is a highly popular and influential man. He is able to draw many people from all corners of Palestine. People listen to him and ask to be baptized. He is a charismatic preacher that changes many Jews’ lives. When afforded with so much success and praise, it is easier for John to see himself as the best and main actor. He could have said to the priests, “I am the light, the Messiah. See how many people follow and gather around me!”  He has become the epitome of successful preacher and minister. Yet, he does not claim the praise to himself , but points to the true light and Messiah.

Our modern society may be scandalized by John the Baptist’s attitude. Our societies are driven by success and achievement. We are taught to think positive, to feel good about ourselves, to shun failures. We are trained to reach our dreams, to compete to become the best , and to believe in our abilities. Books, articles, and videos about self-help, success-coaching, positive thinking, effective leadership and efficient management are flooding in our book stores , televisions, and internet. I need to admit also that I am using a time-management method “Pomodoro” to help me finish this reflection. We are living in the world that is confident of itself and believe that we can achieve anything. The sky is the limit!

No wonder if the value of our contemporary society is in conflict with John’s. We might say John should not think himself too low, he should have more self-esteem, or he should not be too pessimistic. Yet, this is not about John having low self-esteem or being too shy. John’s humble act is prophetic, not only for his own time , but also to our days. His testimony points to a radical recognition that God is the source of all our goodness and to God alone, all these perfections shall go back. I am not saying that many motivational materials produced by our generation are not good. They are in fact helpful to bring out the best of us. Yet, the danger is when we begin to think that we can do things on our own. With so many achievements, the present world begins to believe that God is not necessary, and we start playing God. We destroy the environment, manipulate human lives, and abuse ourselves. At the bottom of all of these is pride.

John’s life becomes a witness to the true light, to the true source of all goodness. His prophetic action reminds us of what matters most in our lives. The invitation for us now is not only to become humble by recognizing God’s presence in all our achievements , and give thanks to Him. Yet, like John, we and our lives are to become a sign that points to God himself. It is no longer about us, but God who works in me.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

Yohanes Sang Saksi

Minggu Adven ke-3 [17 Desember 2017] Yohanes 1:6-8, 19-28

“Yohanes datang sebagai saksi untuk bersaksi tentang terang, supaya semua orang percaya melalui Dia. (Yoh 1: 7)”

john n jesusDalam Injil Keempat, Yohanes Pembaptis memiliki peran penting: bukan hanya untuk membaptis, tapi untuk menjadi saksi. Dia bersaksi tentang sang Terang, sang  Mesias sejati, Yesus Kristus. Ketika para imam dan orang-orang Farisi dari Yerusalem datang kepadanya dan menginterogasinya untuk mengklarifikasi identitasnya, dia menjelaskan bahwa dia bukanlah Mesias, bahkan bukan seorang nabi, namun dia berseru, “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan!  (Yoh 1:23)” Sepertinya hal ini adalah hal mudah untuk Yohanes lakukan. Pertanyaan diajukan kepadanya, dan dia memberikan jawaban secara lugas dan percaya diri. Namun, melihat lebih dalam pada realitas zamannya, hal yang dilakukannya tidaklah semudah yang kita bayangkan.

Yohanes Pembaptis adalah orang yang sangat populer dan berpengaruh. Dia mampu menarik banyak orang dari segala penjuru Palestina. Orang-orang mendengarkannya dan meminta untuk dibaptis. Dia adalah seorang pengkhotbah karismatik yang mengubah banyak kehidupan orang-orang Yahudi. Dengan begitu banyak kesuksesan dan pujian, Yohanes lebih mudah melihat dirinya sebagai pemeran utama. Dia bisa saja berkata kepada para imam, “Akulah sang terang, sang Mesias. Lihatlah betapa banyak orang yang mengikuti dan berkumpul di sekitarku!” Dia telah menjadi lambang pewarta yang sukses. Namun, di saat yang paling krusial, dia tidak mengklaim pujian bagi dirinya sendiri, namun menunjuk pada sang Terang dan Mesias yang sebenarnya.

Dunia modern kita mungkin tidak sepaham dengan sikap Yohanes Pembaptis ini. Masyarakat kita sekarang termotivasi oleh kesuksesan dan prestasi. Kita diajarkan untuk berpikir positif, merasa nyaman dengan diri sendiri, dan menghindari kegagalan. Kita dilatih untuk mencapai impian kita, berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, dan percaya pada kemampuan kita. Banyak buku, artikel, dan video tentang ‘self-help’, kesuksesan, pemikiran positif, kepemimpinan yang efektif dan manajemen yang efisien membanjiri toko buku, televisi, dan internet. Perlu saya akui juga bahwa saya menggunakan metode manajemen waktu “Pomodoro” untuk membantu saya menyelesaikan refleksi ini. Kita hidup di dunia yang sangat percaya diri dan percaya bahwa kita dapat mencapai apapun. Dunia tanpa batas!

Tak heran bila nilai dunia kontemporer kita bertentangan dengan Yohanes. Kita mungkin mengatakan bahwa Yohanes seharusnya tidak menganggap dirinya terlalu rendah, ia seharusnya memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, atau seharusnya ia tidak terlalu pesimis. Namun, ini bukan tentang Yohanes yang memiliki kepercayaan diri rendah atau pemalu. Tindakan rendah hati Yohanes pada dasarnya adalah sebuah nubuat dan kesaksian, yang bahkan relevan sampai saat ini. Kesaksiannya menunjuk pada pengakuan radikal bahwa Allah adalah sumber dari semua kebaikan yang kita miliki dan kepada-Nya saja, semua kesempurnaan yang kita capai akan kembali. Saya tidak mengatakan bahwa berbagai bahan motivasi yang diproduksi oleh generasi kita tidak baik. Mereka sebenarnya membantu kita untuk menghasilkan yang terbaik. Namun, bahayanya adalah ketika kita mulai berpikir bahwa kita bisa melakukan semua dengan cara kita sendiri. Dengan begitu banyak prestasi, dunia saat ini mulai percaya bahwa Tuhan tidak diperlukan lagi, dan kita mulai berperan sebagai tuhan-tuhan kecil. Kita menghancurkan lingkungan hidup, memanipulasi kehidupan manusia, dan menyalahkan gunakan tubuh dan pikiran kita. Semua ini berakar pada keangkuhan manusia kita.

Kehidupan Yohanes menjadi saksi Terang sejati, sumber sejati dari semua kebaikan. Tindakan kenabiannya mengingatkan kita pada apa yang paling penting dalam hidup kita. Sekarang kita diajak tidak hanya untuk menjadi rendah hati dengan mengenali kehadiran Tuhan dalam semua pencapaian kita, dan bersyukur kepada-Nya. Namun, seperti Yohanes, kita dipanggil supaya hidup kita secara total menjadi tanda yang menunjuk pada Tuhan, dan bukan pada diri kita sendiri. Ini bukan lagi tentang kita, tapi Tuhan yang bekerja di dalam diri kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gospel and Salvation

Second Sunday of Advent [December 10, 2017] Mark 1:1-8

“The beginning of the Gospel of Jesus Christ. (Mar 1:1)”

francis kissToday, we read the beginning of the Gospel according to Mark. Among the evangelists, only Mark explicitly introduces his work as the “Gospel”. The English word “Gospel” simply means the Good News, or in original Greek, “Evangelion.” Commonly, we understand a gospel as a written account of the life and words of Jesus Christ. The Church has recognized four accounts as canonical or true Gospel. We have Gospel according to Matthew, Mark, Luke, and John.

But, what does the Gospel truly mean? Going back to the time of Jesus, Evangelion is actually a technical term for an oral proclamation of the imperial decree that will significantly affect the life of the many people. The messenger will stand in the middle of the public square and announce that the battle has been won decisively, and the city has been saved. It is a good news, indeed a great and joyful news. St. Paul is the first who adopts the term into the Christian world and it signifies the oral proclamation of the saving effects of Jesus’ death and resurrection (see 1 Cor 15:1-4). Thus, when we read that St. Paul proclaims the Gospel, it does not mean he reads the parts of the Gospel according to Mark or John, but rather orally proclaims that we have been saved. The Gospel has to be proclaimed because only by believing and living through the Gospel, we are saved (See Rom 10:13-15).

Since we are all baptized, we all have the duty to proclaim the Gospel and work for salvation. Yet, we may ask, “How we are going to preach and save souls if we cannot administer sacraments?” While it is true that sacramental works and preaching in the pulpit are reserved to the deacons, priests, and bishops, all of us are called to preach the Gospel. But how? We remember that we preach the Gospel for the sake of salvation, and the salvation is not limited in a spiritual sense, but in a more holistic one. It is the salvation not only from sins that separate us from God, but the salvation of all aspects of humanity. Jesus does not only forgive sins, He heals the sick, teaches the people, empowers the poor and fights against oppressive systems.

Following His Lord and Master, the Church works for salvation that is holistic. We run a great number of hospitals throughout the world to bring healing to the sick. We manage numerous schools around the globe to educate people and form their characters. Numerous Catholic scientists are involved in many breakthrough types of research. Fr. Georges Lemaitre, a Belgian priest, is the astronomer behind the Big Bang theory. Louis Pasteur, the inventor of pasteurization process, is a lay Catholic who has a strong devotion to the rosary. We build and fight also for the just and peaceful societies. Antonio de Montessinos, a Dominican Spanish friar, was one of the first priests who openly preached against the slavery in America. To show its commitment to justice and peace, Dominican Order has placed its permanent delegate at the United Nations in Geneva and is actively engaged in just and peaceful resolutions on various global issues.

 This Advent season is the high time for us to reflect on the meaning of the Gospel, and on how we preach the Gospel in our own particular ways. What are the means we use to preach the Gospel? Do we make preaching the Gospel as our priority? Are we working diligently on our salvation and that of others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

 

Injil dan Keselamatan

Minggu Kedua Adven [10 Desember 2017] Markus 1: 1-8

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus (Mar 1:1).”

antonio de montesinosHari ini, kita membaca permulaan dari Injil menurut Markus. Di antara para penginjil, hanya Markus yang secara eksplisit memperkenalkan karyanya sebagai “Injil”. Kata “Injil” berarti “Kabar Baik”, atau dalam bahasa Yunani, “Evangelion”. Biasanya, kita memahami sebuah Injil sebagai karya tertulis tentang hidup dan sabda Yesus Kristus. Gereja telah menetapkan empat karya sebagai Injil kanonik. Kita memiliki Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Tapi, apa arti sebenarnya sebuah Injil? Kembali ke zaman Yesus, “Evangelion” sebenarnya adalah istilah teknis bagi proklamasi lisan dari keputusan kerajaan yang secara signifikan akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Seorang utusan akan berdiri di tengah alun-alun dan mengumumkan bahwa perang telah dimenangkan, dan kota tersebut telah diselamatkan. Ini adalah kabar baik, sungguh kabar yang besar dan menggembirakan. St. Paulus adalah orang pertama yang mengadopsi istilah Injil ke dalam Gereja, dan ini menandakan sebuah proklamasi lisan tentang buah-buah karya penyelamatan yang dimenangkan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (lih. 1 Kor 15:1-4). Jadi, ketika kita membaca bahwa St .Paulus mewartakan Injil, ini bukan berarti dia membaca bagian dari Injil menurut Markus atau Yohanes, namun ia mewartakan secara lisan bahwa telah kita selamatkan oleh Yesus. Injil harus diproklamasikan karena hanya dengan percaya dan hidup melalui Injil, kita akan diselamatkan (lih. Rom 10:13-15).

Karena kita semua telah dibaptis, kita semua memiliki kewajiban untuk mewartakan Injil dan bekerja untuk keselamatan. Namun, kita mungkin bertanya, “Bagaimana kita akan memberitakan dan menyelamatkan jiwa-jiwa jika kita tidak dapat memberikan sakramen?” Benar bahwa memberikan sakramen dan homili hanya bagi kaum tertahbis, yakni diakon, imam, dan uskup, tetapi kita semua dipanggil untuk mewartakan Injil. Tapi bagaimana caranya? Kita ingat bahwa kita mewartakan Injil demi keselamatan, dan keselamatan yang Yesus berikan tidak terbatas dalam pengertian spiritual, tapi bersifat holistik. Ini adalah keselamatan bukan hanya dari dosa, tapi yang menyentuh semua aspek kemanusiaan kita. Yesus tidak hanya mengampuni dosa, tapi Ia menyembuhkan orang sakit, mengajar orang-orang, memberdayakan orang miskin, dan menentang struktur yang tidak adil dan membuat orang-orang tertindas.

Mengikuti teladan Tuhan dan Gurunya, Gereja bekerja untuk keselamatan yang holistik. Kita mengelola banyak rumah sakit di seluruh dunia untuk menyembuhkan orang sakit. Kita mengelola banyak sekolah di seluruh dunia untuk mendidik manusia dan membangun karakter. Banyak ilmuwan Katolik terlibat dalam banyak jenis penelitian terobosan. Rm. Georges Lemaitre, seorang imam dari Belgia, adalah astronom di balik teori Big Bang. Louis Pasteur, penemu proses pasteurisasi, adalah seorang awam yang rajin berdoa rosario. Kita membangun dan memperjuangkan juga masyarakat yang adil dan damai. Antonio de Montessinos, seorang Dominikan dari Spanyol, adalah salah satu imam pertama yang secara terbuka berkhotbah menentang perbudakan di Amerika. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan perdamaian, Ordo Dominikan telah menempatkan delegasi permanennya di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa dan secara aktif terlibat dalam resolusi adil dan damai mengenai berbagai isu-isu global.

 Musim Adven ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan makna Injil, dan bagaimana kita mewartakan Injil. Apa sarana yang kita gunakan untuk memberitakan Injil? Apakah kita menjadikan pewartaan Injil sebagai prioritas kita? Apakah kita bekerja dengan tekun untuk keselamatan kita sendiri dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP