The Vine

Fifth Sunday of Easter [April 29, 2018] John 15:1-8

I am the true vine, and my Father is the vine grower. (John 15:1)”

running to crossIf Jesus is a carpenter, why does He speak about the vine in today’s Gospel? Does He have the competency to draw wisdom from a field that is not His expertise? We recall that Jesus grows and lives in Galilee, and in this northern region of Israel, the land is relatively fertile and agricultural industry is thriving. Some archeological findings suggest that in Nazareth, despite being a small village, the community members are engaged in small time farming, grapes press, and winemaking. A young Jesus must have been involved with this farming activities and perhaps even helped in a nearby vineyard. Thus, Jesus does not hesitate to teach wisdom using the imageries coming from the agricultural settings, like parables related to the vineyard (Mat 20:1-16), planting seeds (Mat 13:1-9), wheat and weed (Mat 13:24-30), and harvest (Mat 9:35).

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples that He is the true vine and His Father is the vine grower. Like Jesus, the disciples are certainly familiar with grapes plantations and wine production. In fact, for the Jews, drinking wine is not mere merriment, but also an essential part of their ritual Passover meal in which they relive the experience of liberation from Egypt. Thus, the images of the vine, vine grower and vine branches are not only familiar to the disciples, but turn out to be potent means to deliver Jesus’ teaching.

The context of this teaching is Jesus’ Last Supper, and we imagine that as Jesus teaches this truth, the disciples are enjoying their meal and cup of wine. As they are drinking the wine, it is at the back of the disciples’ mind that the high-quality wine comes from superior-quality grapes, and these grapes are produced by the best vineyard with its healthy vine and hardworking vine growers. From the taste of the wine, one can assess not only the value of the wine but also the entire production, from the vineyard (viticulture) to the winemaking (vinification). Through this imagery, Jesus has assured His disciples that He and His Father have done their share in making the branches fruitful, and now it is the free choice of the disciples to bear the fruits. As branches, the only way to produce fruits is to remain united with the true vine.

The instruction of Jesus to remain in Him seems not difficult to follow. But, just hours after the Last Supper, Jesus will be arrested, and the disciples immediately forget everything that Jesus says. Judas betrays Him, Peter denies Him, and the rest run away and hide. Only a few disciples remain with Him, some women disciples, the Beloved Disciple, and His mother. The point is clear now. It is easy to remain with Jesus when things are easy and convenient, but when the things get tough, the disciples are facing an existential question whether to remain in Jesus or to abandon Him.

The question is now given to us. When our lives become desert-like and do not yield expected fruits, are we going to remain in Jesus? A friend told me how he was initially excited to serve the Church by joining an organization. Yet, after some time, he got frustrated by scandalizing attitudes of some members. He realized that the group was no different with other organizations that were plagued by gossips, intrigues, and factionalism. Naturally, I advised him to leave the group and look for a better group, like the Dominicans! Yet, he chose to remain and said to me that this difficult group provides him an opportunity to love Jesus more. Then, I realize that the mere fact that he stays, he has unexpectedly borne much fruits: patience, mercy, and understanding.

The same question now is addressed to us. Shall we remain in Christ in challenging times? Do we stay even when we do not feel the fruits? Do we remain faithful till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto, SJ

 

Pokok Anggur

Minggu Paskah Kelima [29 April 2018] Yohanes 15: 1-8

 Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

cross among bushJika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poto oleh Harry Setianto, SJ

The Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter [April 22, 2018] Jn 10:11-18

“I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep. (Jn. 10:11)”

good shepherd
photo by Harri Setianto, SJ

The Bible itself is filled with the good shepherd image. My personal favorite among the psalms is Psalm 23, The LORD is my shepherd; there is nothing I lack.”  Prophet Isaiah who consoles the Israelites in Babylonian Exile, speaks of God who is like a shepherd who gathers back the lost sheep and brings them back home from the land of exile (Isaiah 40:11) Some great leaders of Israel are shepherds. Moses is tending to his father-in-law flocks when he is called by God in the burning bush (Exo 3). David also is taking care of his father’s sheep when Samuel comes and anoints him king (1 Sam 16).  No wonder, Jesus takes the image of Himself and introduces Himself as the Good Shepherd.

 

 From today’s Gospel, we can learn several characters of a good shepherd. Firstly, Jesus distinguishes between the Good Shepherd and the bad shepherds. The good shepherd owns the flocks and is responsible for their lives. Meanwhile, those bad shepherds do not own the sheep, and they work primarily for the money, not for the sheep. That is why when the danger comes from the predators’ attack or the thieves’ ambush; the hired workers would run and save their own lives rather than to protect their sheep. The prophet Jeremiah criticizes the corrupt and abusive leaders of Israel during his time as he prophesies, “Woe to the shepherds who destroy and scatter the flock of my pasture (Jer 23:1).”

The second character of a good shepherd is he knows well his sheep and call them by name. I used to think that “calling sheep by name” is just exaggerated metaphorical language to show shepherd care to his sheep, but later on, I discover “calling by name” actually literally happens. The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’ Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd and will listen whenever he calls them. It reminds me of our pet-dog in our house. Our family calls it “cipluk,” and my mother and young brother take good care of it. Thus, every time my mother or brother calls its name, cipluk hastens to approach them. Yet, every time I go home and try to call its name, cipluk just won’t give any attention!

The third and more important character is the good shepherd will lay down his life for his sheep. This character seems to be an exaggeration. Why would you die for your sheep? If we recognize that the shepherd has a strong bond with his sheep and takes good care of them, he will have no second thought in defending his sheep from that attack of dangerous predators and robbers. At times, the robbers simply outnumber the shepherd and mercilessly beat the courageous shepherd to the death. The shepherd literally lays down his life for the sheep. This is not uncommon happening in the time of Jesus in Palestine, and in fact, still happening in our time in some parts of the world.

To have the Good Shepherd as our Lord means that we belong to God intimately for better and for worse. He knows each one of us personally, and He will not abandon us when our lives face serious problems and dangers. He will not only care for us as long as we produce “wool,” but He continues to love us even we have not been good sheep. In fact, Jesus lays down His life on the cross, so that we, His sheep, may have life, a life to the fullest. Have we become a good sheep? Do we recognize His voice? Do we listen to Him? Do we truly follow Him?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gembala yang Baik

Hari Minggu Paskah keempat [22 April 2018] Yohanes 10: 11-18

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11).”

jesus good shepherd
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kitab Suci itu dipenuhi dengan citra gembala yang baik. Mazmur favorit saya adalah Mazmur 23, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Nabi Yesaya yang menghibur bangsa Israel di pembuangan Babel, berbicara tentang Tuhan yang seperti gembala yang akan mengumpulkan kembali domba-domba Israel yang hilang dan membawa mereka pulang (Yes 40:11). Beberapa pemimpin besar Israel adalah gembala. Musa merawat kawanan domba ayah mertuanya ketika ia dipanggil oleh Allah (Kel 3). Daud juga sedang menjaga kawanan domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia sebagai raja (1 Sam 16). Tidak heran jika Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik.

 

 Dari Injil hari ini, kita dapat mempelajari tiga karakter gembala yang baik. Pertama, Yesus membedakan antara Gembala yang Baik dan para gembala yang buruk. Gembala yang baik adalah pemilik domba-dombanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Sementara, para gembala yang buruk  merasa tidak memiliki domba, dan bekerja terutama untuk uang, bukan untuk domba. Inilah mengapa ketika bahaya datang dari serangan hewan buas atau pencuri, mereka akan lari dan menyelamatkan nyawa mereka sendiri daripada melindungi domba mereka. Nabi Yeremia mengkritik para pemimpin Israel yang korup dan tidak adil pada masanya dan iapun bernubuat, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak (Yer 23:1)!”

Karakter kedua dari seorang gembala yang baik adalah dia mengenal dengan baik domba-dombanya dan memanggil mereka dengan nama mereka. Domba-domba di Yudea dipelihara untuk mendapatkan bulu domba atau wol dan untuk dikorbankan. Khususnya yang ditujukan untuk produksi wol, gembala akan hidup bersama dengan kawanannya selama bertahun-tahun. Tidak heran jika dia mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan ciri-ciri fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘kaki kecil’ atau ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba-domba itu begitu akrab dengan suara gembala dan akan mendengarkan setiap kali dia memanggil mereka. Ini mengingatkan saya pada anjing peliharaan kami di rumah. Kami menyebutnya “cipluk,” dan ibu dan adik saya merawatnya dengan baik. Jadi, setiap kali ibu atau adik saya memanggil namanya, cipluk segera lari mendekati mereka. Namun, setiap kali saya mencoba memanggil namanya, cipluk tidak memberi perhatian!

Karakter ketiga dan paling penting adalah gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya. Karakter ini tampaknya berlebihan, namun hal ini sungguh terjadi. Kita ingat bahwa gembala yang baik memiliki ikatan yang kuat dengan domba-dombanya dan merawat mereka dengan baik, iapun tidak akan ragu-ragu dalam menjaga domba-dombanya dari serangan predator dan perampok yang berbahaya. Tidak jarang, gerombolan perampok tanpa belas kasih memukuli gembala yang berani bahkan sampai mati. Gembala-gembala ini secara harfiah menyerahkan hidupnya untuk domba-domba itu. Ini tidak jarang terjadi pada zaman Yesus di Palestina, dan masih terjadi di zaman kita di beberapa belahan dunia.

Tuhan kita adalah Gembala yang baik dan ini berarti bahwa kita adalah domba-domba milik-Nya. Dia mengenal kita masing-masing secara mendalam, bahkan lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak akan meninggalkan kita ketika hidup kita menghadapi masalah serius dan bahaya. Dia tidak hanya akan memperhatikan kita selama kita menghasilkan “wol,” tetapi Dia terus mengasihi kita bahkan saat kita tidak menjadi domba yang baik. Yesus Sang Gembala baik meletakkan hidup-Nya di kayu salib, sehingga kita, domba-domba-Nya, dapat memiliki hidup yang berkelimpahan. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita menjadi domba yang baik? Apakah kita mengenali suara-Nya? Apakah kita mendengarkan Dia? Apakah kita benar-benar mengikuti Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

My Flesh and My Bones

Third Sunday of Easter [April 15, 2018] Luke 24:35-48

Look at my hands and my feet, that it is I myself. Touch me and see, because a ghost does not have flesh and bones as you can see I have.” (Luke 24:39)

adoration
photo by Harry Setianto, SJ

We listen to the last story of risen Christ’s appearance to the disciples in the Gospel of Luke. His presences point to the fact that Jesus still has several missions to accomplish on earth before He ascends into heaven. Particularly in this episode, Jesus is out to dispel the disciples’ doubt on His bodily resurrection. Some disciples may have an idea that Jesus’ appearances are mere illusions as the disciples are coping with a terrible pain of losing and failure. Some others may think that it was just a disembodied spirit or a ghost that appeared like Jesus.

 

Jesus comes to them and proves that He is neither an illusion coming from their disciples’ mind nor a mere story concocted to give false hope. He shows them his hands and feet and eats a baked fish just like an ordinary and living man does. Even Jesus says that he possesses “flesh and bones.” The disciples who see and touch Jesus’ body would acclaim in their hearts, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” From this point, we begin to recognize that Jesus’ bodily resurrection is closely linked to the story of creation in the Book of Genesis.

If we go back to the story of human creation in Genesis 2, we read a beautiful image of God as a potter artist who fashioned humanity from clay with various details of perfection. God also gave the human life as He breathed His life-giving spirit. However, soon after creation, God said that it was not good for the human to be alone. He then made other animals, but no one was proven suitable companion for that human. Thus, God, acting like a surgeon, made the first human sleep, took the rib, and fashioned another human being. When Adam woke up and saw for the first time another being in his likeness, he shouted in joy, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” The story of human creation which is highly symbolic reaches its perfection in the creation of man and woman, and how they are going to be suitable and loving partners for each other.

Going back to Gospel of Luke, the story of the appearance of the risen Lord to the disciples turns to be a story of re-creation. After the disciples are disbanded, scattered and cowardly ran away, they are as weak as soil. Jesus gathers them together and fashions them once again as a community. After the disciples are hurt deeply and defeated, they are like a clay pot shattered into pieces. Jesus comes to breathe His Spirit and to bring healing and true peace. After the disciples are disoriented and lost meaning, they are like the lonely and incomplete first Adam. Jesus, the second Adam, continues to love them, and thus, restores their purpose, and fills what is fundamentally lacking in them. Being re-created, the disciples now are suitable partners of Jesus in bringing the message of resurrection and the gospel of love to wounded humanity.

Each one of us is wounded and struggles with many issues. Despite our good effort to become a good Christian, we acknowledge we are as weak as clay. We have been unfaithful to the Lord and each other. The risen Christ does not lose hope in us. He gathers us once again as His people, and in the Eucharist, He shows us His true “flesh and blood.” Partaking in Jesus’ resurrected body means that despite our fragile nature and weaknesses, we have been re-created as His suitable partners to bring the message of hope and fulfill the mission of love. Only in risen Christ, we find our true fulfillment, yet in being one in Jesus means we also continue loving as He loves us to the end.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Dagingku dan Tulangku

Minggu Paskah Ketiga [15 April 2018] Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

risen lord
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.

 

Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun, Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Shalom

Second Sunday of Easter (Divine Mercy Sunday) [April 8, 2018] John 20:19-31

“Jesus came and stood in their midst and said to them, “Peace be with you.”  (Jn. 20:19)

jesus n people
photo by Harry Setianto SJ

Fear is a natural and basic human emotion. Fear plays an important role in human survival because it alerts us of impending dangers or evil, and moves us to avoidance. The science of anatomy would locate the source of this emotion inside our amygdala, a primitive part of our brain that we share with other animals. Yet, unlike animals that simply flee in the presence of a predator, with our complex brain, we also face a complex kind of fear as we perceive a complex meaning of danger. We do not only fear predators, but we fear also losing our jobs, sickness, and our terror teachers or bosses. We are afraid of height (acrophobia), of small spaces (claustrophobia), and even of banana (Bananaphobia)! Because of our superior mind, our fear is even enlarged as we can anticipate far away dangers or even that does not exist yet. This creates anxiety and worriedness.

 

In the Gospel, we discover that Jesus’ disciples are afraid. They fear the “Jews.” They may be accused of stealing the body of Jesus by the Roman soldiers and Jewish authorities who discover the empty tomb. Or, simply the disciples are anxious about their future, of what will be of them after the death and the news of Jesus’ resurrection. Shall they disband themselves, go back to their former way lives, or shall they remain together? Will Jesus come and get even with them? Overcome by fear and uncertainty, they lock themselves. They are paralyzed, their hearts shrink, and they glue themselves to safe yet fragile things. Like the disciples, fear freezes us and lock us in our comfort zone. Fear of getting hurt, we stop loving. Fear of failures, we no longer pursue our dreams. Fear of being manipulated, we refuse to help others. Fear of betrayal, we shun commitments.

However, fear does not have the last say. Despite the locked room, the Lord enters in their midst. The first word He says is Peace, in Hebrew, “Shalom.” Then, Jesus shows his wounds to them, a proof that He is truly Jesus, their teacher, who was crucified and risen. Seeing the Lord, joy explodes in their hearts, and they fear no more. Jesus’ Shalom is powerful and empowering. Jesus’ Shalom gives inner strength in the face of uncertain future. Jesus’ Shalom gives the courage to embrace sufferings and trials.

Jesus is truly risen and appears to the disciples, but this does not change the disciples’ situations. Their future remains uncertain. The hostile Jewish authorities still attempt to shut them down. The Roman soldiers may arrest them. They do not know yet how to sustain their small community. Their situations remain bleak, but one thing has changed. They are no longer afraid. With His Shalom in their hearts, Jesus breathes His Holy Spirit on them and sends them on a mission to forgive. As they have been forgiven and received mercy, they become the missionaries of peace, as they bring forgiveness to others. As the stone door of the tomb cannot stop the risen Lord, now the locked doors cannot hinder the empowered disciples.

Jesus’ Shalom is the grace of resurrection for all of us. True that our situations and problems do not change much, but fear can no longer freeze us. We are called to go out from our locked rooms and become the missionaries of peace and mercy. Despite the pain, failure, and frustration, we continue to love, serve and commit because this is who we are, the people who have received Jesus’ Shalom, God’s mercy and the Holy Spirit. We are not afraid because we are Easter People!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Shalom

Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi) [8 April 2018] Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!. ” (Yoh. 20:19)

Jesus n moon
photo by Harry Setianto, SJ

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarnya. Ilmu anatomi menunjukan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.

 

Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengkerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!

Shalom!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Resurrection and Love

Easter Sunday [April 1, 2018] John 20:1-10

… he saw and believed (Jn. 20:8)

light and child
photo by Harry Setianto, SJ

Today is the Easter morn! Today is the day the Lord has risen! Today is the day death has been defeated! Today is the day of resurrection! Yet, how do we understand Jesus’ resurrection and our resurrection? What does it mean when we say that death has been conquered?

 

We all know that we are going to die. We just do not know when, where and how, but we are sure that death will come. We remain anxious and afraid of the reality of suffering and death. It seems that death has not been defeated? It is true that sometimes death can be a liberation. A pious lady in her fifties once told a priest that she prayed that the Lord would take her when she was still beautiful. Then, the priest remarked, “How come you are still here!”

The usual occasion preachers speak of resurrection is the funeral mass! The resurrection has become a kind of pain reliever for the bereaved families and relatives. We are assured that the death of our beloved ones is not the final destiny. There is the blissful afterlife waiting, and we shall join our Lord in the resurrection. Though our preachers speak the consoling truth, the way we preach it tends to reduce the eternal life as a permanent retirement place, and the resurrection as extremely remote reality. Another priest once admitted that he was not that handsome, and thus he planned that in the day of resurrection, he would quickly snatch the body of handsome Canadian singer, Justin Bieber! The resurrection is only good for the dead, and it does not mean much for us the living. But, resurrection is really for all of us, here and now.

Going back to the first resurrection in the garden, no Gospel describes how the resurrection takes place. It simply cannot. Yet, there is an empty tomb, and Jesus’ body is missing. Peter is greatly puzzled. Mary Magdalene is weeping bitterly. Only one disciple understands. He is the disciple who loves dearly Jesus and whom Jesus loves. Despite death and emptiness, love endures. Through the eyes of love, the disciple is able to see the resurrection.

Love and its relation to the resurrection go back to the story of human creation in the book of Genesis. We are created in the image of God (Gen 1:26). If God is love (1 Jn 4:8), then we are made in the image of love. More than other creatures, we are designed with the ability to love and to receive love. Not only having the ability to love one another, our nature is even gifted with the ability to be loved by God and to love God. No other creation on earth is able to participate in this most beautiful love affair with the Lord. Unfortunately, sin destroys this love relationship with God and seriously damages our ability to love and be loved. The history of humankind turns to be the history of sins, suffering, and death. Husband and wife hurt each other, brothers kill each other, men exploit women, women sell their children, and men destroy nature. We need redemption.

Out of His immense love, God becomes man so that He may begin His work of redemption. This redemption culminates in Jesus’ resurrection. One of the greatest graces of resurrection is our ability to love God and to receive God’s love is restored. Thus, John the Beloved Disciple is able to see through the empty tomb and believe in the risen Lord. Just as the grace of resurrection heals John, so the same grace heal us and restore our ability to love God. In the midst of emptiness of life, we are empowered to see the risen Lord. Despite the absurdity of life, we are enabled to transform our sorrows and pains into the opportunity to love more and serve better. Despite pain and death, love endures.

Blessed Easter! Happy Resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Arti Kebangkitan bagi Kita yang Hidup

Minggu Paskah [1 April 2018] Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

jump of joy
Photo by Harry Setianto, SJ

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?

 

Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP