Pesta St. Dominikus de Guzman – Pendiri Ordo Pewarta
8 Agustus 2019
Hari ini, kita merayakan pesta St. Dominikus de Guzman. St. Dominikus dilahirkan sekitar tahun 1170 di Caleruega, Kastilia, Spanyol. Sebagai seorang kudus, ia tidak setenar rekannya, Santo Fransiskus dari Assisi, mungkin karena ia tidak menulis buku atau meninggalkan tulisan apa pun yang akan menggemakan spiritualitasnya. Mungkin inilah alasan mengapa kita tidak memiliki pemahaman yang solid dan sistematis tentang Spiritualitas Dominikan.
Menurut tradisi, St. Dominikus disebut sebagai cahaya Gereja. Dan mengapa? St. Dominikus hidup di zaman ketika Gereja menghadapi musuh dari luar dan konflik dari dalam. Kaum Bidaah, khususnya kaum Albigentian, menyerang Gereja tanpa henti, dan Gereja dilemahkan oleh para imam tidak siap secara intelektual maupun secara mental. Banyak orang Katolik yang bingung, dan tidak ada yang menerangkan iman yang benar kepada mereka. Itu adalah masa yang gelap bagi Gereja.
Dominikus, yang sangat mencintai Gereja-Nya, menanggapi panggilan zamannya dan memberikan hidupnya bagi pencerahan jiwa-jiwa yang hidup dalam kegelapan dan untuk membawa kembali kepada domba-domba yang hilang ke kandang Gereja. Namun, untuk mencapai tujuan itu, ia harus berada dalam hubungan yang mendalam dengan Yesus, Sang Terang Dunia yang sejati. Karena itu, kehidupan doanya dan mati raganya sangat luar biasa. Alih-alih beristirahat, ia menghabiskan malam dalam vigili, menolak untuk makan makanan enak, dan tidur di lantai. Dominikus juga mengerti bahwa untuk menjelaskan iman, ia harus belajar dengan tekun dan menghidupi Injil. Ia menjadi miskin, sama seperti Yesus miskin demi Kerajaan Allah. Dominikus menjadi pengkhotbah, sama seperti Yesus adalah pengkhotbah sejati. Dominikus mempersembahkan dirinya sebagai “lentera,” sebuah instrumen yang lemah namun membawa cahaya yang bersinar terang dan menerangi dengan jelas dalam gelap. Dia adalah cahaya bagi Gereja karena dia membawa dalam dirinya Sang Terang Dunia.
Para putra-putri St. Dominikus selalu memiliki ikatan mendalam dengan Maria, Bunda Allah. Salah satu alasan mengapa kita dekat dengannya adalah karena kita berpartisipasi dalam misinya yang juga membawa Terang Kebenaran dan merefleksikan Cahaya yang sejati. Nyanyian Maria yang ditulis dalam Injil Lukas secara tradisional disebut sebagai Magnificat [Luk 1:46]. Judul ini berasal dari kata Latin pertama yang muncul di kidung tersebut, “Magnificat anima mea Dominum.” Bahasa Yunani aslinya adalah “μεγαλύνω” [megaluno], secara harafiah berarti membuat menjadi besar. Idenya seperti kaca pembesar yang mengintensifkan cahaya dan panas matahari, dan dengan demikian, memancarkan energi yang kuat dan dapat membakar. Maria bukanlah sumber cahaya, tetapi sang penerima. Namun, Maria tidak secara pasif merefleksikan cahaya, tetapi dia secara aktif mengumpulkannya dan menjadikan lebih terfokus. Melalui Maria, terang Kristus menjadi lebih kuat, bertenaga dan berdaya guna.
Mengikuti jejak Dominikus dan Bunda Maria, kita juga dipanggil untuk membawa Terang Kristus dan membagikan-Nya di dalam bentuk yang lebih dahsyat dan penuh daya. Dalam kata-kata St Thomas Aquinas, “Lebih baik untuk menerangi daripada hanya untuk bersinar … [S.T. II. II. 188]. “
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
