Love at the Heart

Seventh Sunday in Ordinary Time [A]

February 23, 2020

Matthew 5:38-48

praying n persecutionAt the heart of Jesus’ teaching in the Mount is the formation of the heart. However, the heart in the Bible is not limited to our affective side or emotions. It also stands for the center of intellectual capacity and freedom. The heart is the seat of life itself, and thus, represents who the man or woman is.

Last week, Jesus told us to purify our hearts from evil thoughts and wicked desires [Mat 5:17-37]. It is not enough not to do violence to others, but it is necessary to cleanse our hearts from anger and vengeance. It is not sufficient not to commit adultery, but we are required to remove from our hearts the lustful desires. Forming the hearts is more fundamental rather than simply and blindly following the written laws and regulations. The formation of the heart is about building up good habits, and virtuous character. A virtuous person is avoiding evil, not because of fear of the external laws, but strong motivation from within.

However, in today’s Gospel, Jesus demands even something higher. The purifying of the heart is just the first step, and we need to go to another and more difficult step: to love. It is precisely tougher because love is not merely about removing impure desires in our hearts or preventing us from doing evil, but it is about actively doing good. Moreover, this love [agape] is only real and meaningful if we are doing good, not in the conditions that are favorable to us, but rather in the face of evil and sufferings.

Since its foundation around two millennia ago, Christians remain the most persecuted people. Opendoorusa.org reported that numbers of persecutions and violence against Christians are on the rise. In 2019, more than 260 million Christians [one out of nine Christians in the world] are living in the places where they experience a high level of persecution. Almost 3 thousand Christians were killed because of their faith. More than 9 thousand churches and Christian buildings like schools were attacked. In Nigeria, priests and seminarians were abducted and tortured. Some were lucky to return alive, but many were found lifeless. In China, the government made national crackdown against Christians and shut down the churches. In Indonesia, things are better for the Christians because our rights are enshrined in the constitutions. Yet, in the grassroots, we continue to feel discriminated against and fear of being targeted by the extremists and terrorists.

Our destiny as Christians are not better than our brothers and sisters who belonged to the early Church. However, as our brothers and sisters in the past, our mission remains the same: to love our enemies, to respond evil with utter generosity, and be ready to fight for justice with gentleness. Christians are accused as weak people, but this is plain wrong. The world that is built by violence and bitterness is self-destruct, and unless we dare to be true followers of Christ, we cannot stop the downward mobility towards total ruin. We thank our predecessors who refused to be controlled by violent anger despite so much evil they had to endure. The world is a much better place with whose hearts are pure. St. Tertullian believed that the blood of martyrs is the seed of Christianity, and we believe also that the love of Christians are the seed of a better world.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih di Hati

Minggu Ketujuh dalam Masa Biasa [A]

23 Februari 2020

Matius 5: 38-48

persecutionDi hati pengajaran Yesus di atas gunung adalah pembentukan hati. Namun, hati dalam Alkitab tidak terbatas pada sisi afektif atau emosi kita. Ini juga berarti pusat kapasitas intelektual dan kebebasan. Hati adalah pusat kehidupan itu sendiri, dan dengan demikian, mewakili totalitas seorang manusia.

Minggu lalu, Yesus mengatakan kepada kita untuk menyucikan hati kita dari pikiran jahat dan keinginan jahat [Mat 5: 17-37]. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan kekerasan kepada orang lain, tetapi perlu untuk membersihkan hati kita dari kemarahan dan pembalasan. Tidaklah cukup untuk tidak melakukan perzinahan, tetapi kita diharuskan untuk menghapus dari hati kita nafsu birahi. Membentuk hati lebih mendasar daripada sekadar dan secara buta mengikuti hukum dan peraturan tertulis. Pembentukan hati adalah tentang membangun kebiasaan yang baik, dan karakter yang luhur. Orang yang berbudi luhur menghindari kejahatan, bukan karena takut akan hukum eksternal, tetapi motivasi yang kuat dari dalam.

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus menuntut sesuatu yang lebih tinggi. Pemurnian hati hanyalah langkah pertama, dan kita perlu menuju ke langkah lain yang lebih sulit: untuk mengasihi. Hal ini justru lebih sulit karena kasih bukan hanya tentang menghilangkan hasrat yang tidak murni di hati kita atau mencegah kita dari melakukan kejahatan, tetapi hal ini tentang melakukan kebaikan secara aktif. Terlebih lagi, kasih [agape] ini hanya nyata dan bermakna jika kita berbuat baik, bukan dalam kondisi yang menguntungkan bagi kita, tetapi saat kita berhadapan dengan kejahatan dan penderitaan.

Sejak didirikan sekitar dua ribu tahun yang lalu, umat Kristiani tetap menjadi golongan yang paling teraniaya. Situs opendoorusa.org melaporkan bahwa sejumlah penganiayaan dan kekerasan terhadap umat Kristiani terus meningkat. Pada tahun 2019, lebih dari 260 juta umat Kristiani [satu dari sembilan umat Kristiani di dunia] tinggal di tempat-tempat di mana mereka mengalami penganiayaan tingkat tinggi. Hampir 3 ribu umat Kristiani terbunuh karena iman mereka. Lebih dari 9 ribu gereja dan bangunan milik umat Kristiani seperti sekolah diserang. Di Nigeria, para imam dan seminaris diculik dan disiksa. Beberapa beruntung kembali hidup, tetapi banyak yang ditemukan mati. Di Cina, pemerintah melakukan penumpasan nasional terhadap umat Kristiani dan menutup gereja-gereja. Di Indonesia, segalanya lebih baik bagi umat Kristiani karena hak-hak kami dilindungi dalam undang-undang dasar. Namun, di akar rumput, kami terus merasa didiskriminasi dan takut menjadi sasaran para ekstremis dan teroris.

Nasib kita sebagai umat Kristiani tidak lebih baik daripada saudara-saudari kita yang menjadi anggota Gereja perdana. Namun, sebagai saudara dan saudari kita di masa lalu, misi kita tetap sama: untuk mengasihi musuh kita, untuk menanggapi kejahatan dengan kemurahan hati yang besar, dan bersiap untuk memperjuangkan keadilan dengan kelembutan. Umat Kristiani dituduh sebagai orang lemah, tetapi ini jelas salah. Dunia yang dibangun oleh kekerasan dan kepahitan akan hancur dengan sendirinya, dan kecuali kita berani menjadi pengikut Kristus yang sejati, kita tidak dapat menghentikan arus menuju kehancuran total. Kita bersyukur kepada para pendahulu kita yang menolak untuk dikendalikan oleh kemarahan meskipun begitu banyak kejahatan yang harus mereka tanggung. Dunia adalah tempat yang jauh lebih baik dengan orang-orang berhati murni. St Tertullianus percaya bahwa darah para martir adalah benih Gereja, dan kita percaya juga bahwa kasih umat Kristiani adalah benih dunia yang lebih baik.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Return to Our Hearts

Sixth Sunday in Ordinary Time [A]

February 16, 2020

Mat 5:17-37

heart 2Jesus is accused of unfaithful to the Law of Moses and the traditions of the elders. He no longer requires His disciples to performs ceremonial washings and many traditions of the elders [Mat 15:2]. Jesus heals people even during the Sabbath [Mark 3:1-6]. Jesus declares that all food is clean [Mark 7:19]. The worst part is when Jesus commands His disciples to drink His blood [see Lev 17:14; Mat 26:27-28]. Is Jesus breaking and changing the Law of Moses?

Today, Jesus makes a bold statement against His accusers, “Do not think that I come to abolish the Law, but to fulfill it.” The real and tough question is how Jesus completes the Law? Jesus’ answer is simple: by returning to original plans of God, or simply put, by going back to the essential. However, to go back to the essential, Jesus has to unload centuries-old unnecessary addition to the fundamental Law. Jesus has to remove tons of unessential.

Yet, the basic logic is: before we set aside the unessential, we need to know first what the essential is. For Jesus, what is essential and the original plan of God? Simply put, God wants us to share His divine life and happiness. To share this life, men and women have to give their hearts totally to God. And, Jesus understands that to give our hearts for the Lord, we need to purify our hearts. “… because from the heart comes to all evil things…[Mar 7:21]” and “Blessed are the pure in heart because they will see God [Mat 5:8].” No wonder, in today’s Gospel, to fulfill the Law, we need to purify our hearts from all negative emotions and thoughts. We must cleanse our hearts from prolonged anger, hatred, and vengeance because these things will breed violence and worse evil. We shall clean our hearts from lust because it simply leads to sexual immorality. Even Jesus hates divorce because it is the product of the hardness of our hearts.

One time, when I was still a brother, I listened to the sharing of some people who have become the victims of a child abused. Here I meet Rio [not his real name]. He told me that he was sexually abused by his father when he was around ten years. The incidents left him deeply traumatized, he grew up with some problems, and the situations brought him into despair. He event attempted to commit suicide, but fortunately, his friends came to his rescue. However, years later, when he heard that his father got a stroke, and it left him paralyzed, he decided to go home and take care of his father. I asked him what made him return and forgive his father? He said that it was challenging because of anger and hatred, but he realized that he had to forgive his father not because his father asks for it, but because he deserved peace of mind. Now, he returned to purify his broken heart with a sacrificial love towards his father.

Are we willing to remove non-essentials from our hearts? Are we willing to offer our hearts to the Lord? Are our hearts pure enough to be offered to the Lord?

Kembali ke Hati

Minggu Biasa ke-6 [A]

16 Februari 2020

Matius 5: 17-37

heart 1Yesus dituduh tidak setia dengan Hukum Musa dan tradisi. Dia tidak lagi meminta murid-murid-Nya untuk melakukan ritual pembasuhan, dan banyak tradisi lain [Mat 15: 2]. Yesus menyembuhkan orang bahkan pada hari Sabat [Markus 3: 1-6]. Yesus menyatakan bahwa semua makanan halal [Markus 7:19]. Dan yang paling parah adalah ketika Yesus memerintahkan para murid-Nya untuk minum darah-Nya [lihat Im 17:14; Mat 26: 27-28]. Apakah Yesus melanggar dan mengubah Hukum Musa?

Hari ini, Yesus membuat pernyataan tegas terhadap para penuduh-Nya, “Jangan mengira bahwa aku datang untuk menghapuskan Taurat, tetapi untuk menggenapinya.” Pertanyaan sekarang adalah bagaimana Yesus menggenapi Hukum Taurat? Jawaban Yesus sederhana: dengan kembali ke rencana Allah yang paling awal, atau dengan kembali ke essensi. Namun, untuk kembali ke esensi, Yesus harus membongkar banyak tambahan-tambahan yang tidak perlu yang melekat pada Hukum Allah yang paling dasar. Yesus harus menghilangkan banyak hal yang tidak penting. Namun, di sisi lain, Dia juga meletakan hal-hal essensi ini pada standar yang lebih tinggi.

Logika dasarnya adalah: sebelum kita mengesampingkan hal yang tidak penting, kita perlu tahu dulu apa yang esensial itu. Bagi Yesus, apa yang penting dan rencana awal Allah? Membaca Kitab Suci dengan cermat, kita bisa menyimpulkan bahwa Tuhan ingin kita berbagi kehidupan dan kebahagiaan ilahi-Nya. Untuk berbagi hidup ini, pria dan wanita harus memberikan hati mereka sepenuhnya kepada Tuhan. Dan, Yesus mengerti bahwa untuk memberikan hati kita bagi Tuhan, kita perlu memurnikan hati kita ini. “… karena dari hati datang segala yang jahat … [Mar 7:21]” dan “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah [Mat 5: 8].” Tidak heran, dalam Injil hari ini, untuk memenuhi Hukum Taurat, kita perlu memurnikan hati kita dari semua emosi dan pikiran negatif. Kita harus membersihkan hati kita dari kemarahan, kebencian, dan pembalasan yang berkepanjangan, karena hal-hal ini akan melahirkan kekerasan dan kejahatan yang lebih buruk. Kita akan membersihkan hati kita dari nafsu karena itu hanya mengarah pada amoralitas seksual. Bahkan Yesus membenci perceraian karena itu adalah hasil dari kekerasan hati kita.

Suatu ketika, ketika saya masih seorang frater di Manila, saya berkesempatan mendengarkan sharing dari beberapa orang yang telah menjadi korban pelecehan sexual. Di sana saya bertemu Rio [bukan nama sebenarnya]. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia mengalami pelecehan seksual oleh ayahnya sendiri ketika dia berusia sekitar 10 tahun. Insiden itu membuatnya sangat trauma, ia tumbuh dengan berbagai masalah, dan situasinya membuatnya putus asa. Dia pernah berusaha bunuh diri, tetapi untungnya, teman-temannya datang untuk menyelamatkannya. Namun, bertahun-tahun kemudian, ketika dia mendengar ayahnya terserang stroke dan membuatnya lumpuh, dia memutuskan untuk pulang dan merawat ayahnya. Saya bertanya kepadanya apa yang membuatnya kembali dan memaafkan ayahnya? Dia mengatakan bahwa itu benar-benar sulit karena kemarahan dan kebencian, tetapi dia menyadari bahwa dia harus memaafkan ayahnya bukan karena ayahnya memintanya, tetapi karena dia ingin mendapatkan kedamaian hati. Sekarang, dia kembali untuk memurnikan hatinya dengan kasih pengorbanan terhadap ayahnya.

Apakah kita mau menyingkirkan hal-hal yang tidak essensi di hati kita? Apakah kita bersedia mempersembahkan hati kita kepada Tuhan? Apakah hati kita sungguh murni untuk dipersembahkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Salt of Christ

Fifth Sunday in Ordinary Time [A]

February 9, 2020

Matthew 5:13-16

salt makingReading carefully, we may wonder, “Is it possible if the salt loses it, saltiness?” In everyday experience, we never experience tasteless salt. However, when we go back to the time of Jesus, we will be surprised that a salt losing its taste is a daily reality. In ancient Israel, the people would go to the Dead Sea, the saltiest body of water on earth, and gathered the “pillar of salt” formed surrounding the lake. Then, they would put inside a small bag, like a teabag”, and when it was needed for seasoning, the bag would be dipped into the water or soup. After some repeated use, the salt would lose its saltiness due to the chemical impurities. It turned to be nothing but an ordinary pebble, and shall be thrown away and trampled underfoot.

Salt is potent seasoning, but because of its small quantity, we hardly notice it. When I was still in the minor seminary, one of our Lenten observances was to eat our meals cooked without salt. The taste was totally awful. I forced myself to swallow the food, but it just made me feel terrible and feel like vomiting. I never thought that food without salt could hardly be edible.

For many of us, salt is just nothing but seasoning that we can add if lacking, or we only complain to the cooks if the menu is too salty. Yet, for some people, salt literally means life and death. From time to time, we have experienced diarrhea or a loose bowel movement. The sickness itself is easily treatable, but if left untreated, it can be deadly as it causes people to severe dehydration. One of the traditional ways to treat it is “oralit” or oral rehydration solution. It involves drinking the right quantity of water with added sugar and salt. How tiny salt saves people’s lives!

Yet, salt is seasoning and not the real menu. One cannot survive just salt alone. Too much salt in our body will lead to higher blood pressure, and high blood pressure can be fatal to many human organs. Jesus calls us “salt” because we are called to give an excellent flavor to the Bread of Life. When I was still studying in Manila, I was introduced to one of the favorite breakfasts of the Filipinos, “pan de sal.” It is Spanish for the bread of salt because a small amount of salt was added into the final phase of making the dough. The shape of the bread is simple, yet tasty, and make people crave more.

Like salt in Pan de Sal, our mission as Christians is to bring Jesus to others and to make people to long for Jesus more. It is a tough job because our lives and actions shall be right, not too salty, and not to bland. The more we draw attention to ourselves, the more people will just feel “too salty.” Yet, without making our effort, Christ will appear as rather “bland.”

Every time we go to the Mass, we receive the Body of Christ in the form of white, small, and tasteless bread, a host. Why is it flavorless? Because as we go home, we need to become the taste of this Bread of life. So, it is no longer we, but Christ who lives in us (see Gal 2:20).

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

 

Garam Kristus

Minggu Kelima dalam Waktu Biasa [A]

9 Februari 2020

Matius 5: 13-16

salt making 2Membaca dengan teliti, kita mungkin bertanya-tanya, “Apakah mungkin jika garam kehilangan rasa asinnya?” Dalam pengalaman sehari-hari, kita tidak pernah menemukan garam yang hambar. Namun, ketika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan terkejut bahwa garam yang kehilangan rasanya adalah kenyataan sehari-hari. Di Israel kuno, orang-orang akan pergi ke Laut Mati, laut yang memiliki kadar garam paling tinggi di bumi, dan mengambil bongkahan-bongkahan garam yang terbentuk di sekitar danau. Kemudian, mereka akan dimasukkan ke dalam kantong kecil, seperti kantong teh, dan ketika dibutuhkan untuk bumbu, kantong itu akan dicelupkan ke dalam air atau sup. Setelah digunakan berulang-ulang, garam akan kehilangan rasa asinnya karena kandungan kimia yang tidak sempurna. Bongkahan garam pun berubah menjadi batu biasa, dan akan dibuang dan diinjak-injak.

Garam adalah bumbu yang sangat penting, tetapi karena jumlahnya sedikit, kita tidak menghiraukannya. Ketika saya masih di seminari menengah, salah satu pantang Prapaskah di seminari adalah makan makanan yang dimasak tanpa garam. Rasanya benar-benar ngak enak. Saya memaksakan diri untuk menelan makanan, tetapi itu hanya membuat saya merasa ingin muntah. Saya tidak pernah berpikir bahwa makanan tanpa garam hampir tidak bisa dimakan.

Bagi banyak dari kita, garam hanyalah bumbu yang biasa saja. Namun, bagi sebagian orang, garam berarti hidup dan mati. Dari waktu ke waktu, kita mengalami diare. Penyakit itu sendiri sebenarnya mudah diobati, tetapi jika tidak cepat ditangani, hal ini bisa mematikan karena menyebabkan orang mengalami dehidrasi parah. Salah satu cara tradisional untuk mengobatinya adalah “oralit” atau larutan rehidrasi oral. Ini adalah minum air dalam jumlah yang tepat dengan tambahan gula dan garam. Bagaimana garam kecil menyelamatkan nyawa orang!

Namun, kita perlu mengingat bahwa garam adalah bumbu dan bukan menu utama. Seseorang tidak dapat bertahan hidup hanya dengan garam saja. Terlalu banyak garam dalam tubuh kita akan menyebabkan tekanan darah tinggi, dan tekanan darah tinggi bisa berakibat fatal bagi banyak organ tubuh kita. Yesus menyebut kita “garam” karena kita dipanggil untuk memberikan citarasa yang pas pada sang Roti Kehidupan. Ketika saya masih belajar di Manila, saya diperkenalkan dengan salah satu sarapan favorit orang Filipina, “pan de sal.” Ini adalah bahasa Spanyol untuk “roti garam” karena sedikit garam ditambahkan ke tahap akhir pembuatan adonan roti ini. Bentuk rotinya sederhana, namun enak dan gurih, dan membuat orang ketagihan.

Seperti garam di Pan de Sal, misi kita sebagai umat Kristiani adalah membawa Yesus kepada orang lain dan menjadikan orang lebih merindukan Yesus. Ini adalah pekerjaan yang sulit karena hidup dan tindakan kita harus pas, tidak terlalu asin, dan tidak hambar. Semakin kita menarik perhatian pada diri kita sendiri, semakin banyak orang akan merasa “terlalu asin.” Namun, tanpa melakukan upaya kita, Kristus akan tampak “hambar.”

Setiap kali kita pergi ke Misa, kita menerima Tubuh Kristus dalam bentuk roti putih, kecil, dan tanpa rasa, sebuah hosti. Mengapa tidak berasa? Karena saat kita pulang, kita perlu menjadi rasa bagi Roti hidup ini. Jadi, bukan lagi kita, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (lihat Gal 2:20).

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Jesus’ Ideal Parents

The feast of Presentation

February 2, 2020

Luke 2:22-40

presentation 2If we are given a chance to choose our parents, what kind of parents will be our choice? Perhaps, some will prefer billionaire parents so that we can sing like Bruno Mars, “I wanna be a billionaire… Buy all of the things I never had… I wanna be on the cover of Forbes magazine, and Smiling next to Oprah and the Queen.” Perhaps some of us want to become the children of a king. So, royal blood is flowing through our vein, and people call us as a prince, princess, or royal highness. Perhaps, we want to be born from Korean megastars, because we want to become the prettiest or the most handsome.

Yet, if we ask the same question to the Lord, what would be His choice? The choice is obvious, Joseph and Mary. But, why?  Joseph and Mary are not wealthy, and even poor. They can only afford turtle dove, the offering of the poor. Indeed, Joseph is the descendant of King David, but in reality, he is a humble carpenter from the unknown village, Nazareth. I do believe that Joseph is handsome and Mary is beautiful! From here, we can deduce that richness, fame, and physical beauty as God’s criteria for His parents. So, what is it?

If we look closer into today’s Gospel and some other verses, we may discover the best character of Joseph and Mary as a couple and parents are their love and fidelity to God. Mary and Joseph know well the Law of God, and they are faithfully observing His Law.

Today’s feast is traditionally called the Presentation. Jesus is presented and consecrated to God in the Temple. Why do Joseph and Mary offer Jesus in the Temple? Because they are aware of the Jewish Law that any firstborn shall be consecrated to the Lord because they belong to the Lord [see Exo 13:2]. The feast of Presentation is also called the feast of the Purification of Mary. She is purified not because she is sinful, but because, according to the Mosaic Law, any woman who gives birth will be ritually unclean or unfit for the worship. She has to undergo 40 days of purification period, and at the end of the period, she offers a sacrifice to the priest [Lev 12:1-8]. From the Gospel of Matthew, Joseph is described as “the righteous man.” This means that Joseph is not only well-versed in Mosaic Law, but he is faithfully observing them.

Jesus does not concern Himself with His parents’ economic condition, social status, or physical appearance. Jesus is looking for whether His parents love God, whether His parents know and observe God’s law, and whether His parents have faith in God. Why are these characteristics crucial for Jesus’ parents? Because Jesus understands the best inheritance parents can give to their children is faith, because money can only provide you with security in this life, but faith will bring us to heaven.

The primary duty of parents is not merely to provide food, shelter, and clothing, not only send their children to schools and not only bring them to the doctors when they are sick but primarily to walk with them to heaven. Like Mary and Joseph present Jesus to God, we are also offering our children to God.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Tua Ideal Yesus 

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

2 Februari 2020

Lukas 2: 22-40

presentation 1Jika kita diberi kesempatan untuk memilih orang tua kita sendiri, orang tua ideal seperti apa yang akan menjadi pilihan kita? Mungkin, beberapa akan lebih suka orang tua miliarder, supaya hidup terjamin, mendapatkan Pendidikan terbaik, dan masa depan cerah. Mungkin sebagian dari kita ingin menjadi anak-anak raja. Jadi, memiliki darah ningrat, dan orang-orang memanggil kita sebagai pangeran, puteri atau bangsawan. Mungkin kita ingin dilahirkan dari megabintang Korea, karena kita ingin menjadi yang tercantik atau paling tampan.

Namun, jika kita mengajukan pertanyaan yang sama kepada Tuhan, apa yang akan menjadi pilihan-Nya? Pilihannya jelas, Yusuf dan Maria. Tapi kenapa? Yusuf dan Maria tidak kaya, dan bahkan miskin. Mereka hanya mampu membeli burung merpati, persembahan orang miskin. Memang, Yusuf adalah keturunan raja Daud, tetapi dalam kenyataannya, ia adalah seorang tukang kayu sederhana dari desa yang tidak dikenal, Nazareth. Saya tetap percaya bahwa Yusuf itu tampan dan Maria cantik! Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa kekayaan, ketenaran, dan kecantikan fisik sebagai kriteria Allah bagi orang tua-Nya. Jadi, apa?

Jika kita melihat lebih dekat Injil hari ini dan beberapa ayat lainnya, kita dapat menemukan karakter terbaik dari Yusuf dan Maria sebagai pasangan dan orang tua adalah cinta dan iman mereka kepada Tuhan. Maria dan Yusuf mengetahui dengan baik Hukum Allah dan mereka dengan setia mematuhi Hukum-Nya.

Pesta hari ini secara tradisional disebut sebagai Yesus dipersembahkan di Bait Allah [Presentation]. Yesus dipersembahkan kepada Allah di Bait Suci. Mengapa Yusuf dan Maria mempersembahkan Yesus di Bait Suci? Karena mereka sadar akan Hukum Taurat bahwa setiap anak sulung akan dikuduskan bagi Tuhan karena mereka adalah milik Tuhan [lihat Kel 13: 2]. Hari ini juga disebut pesta Pemurnian Maria [Purification of Mary]. Dia dimurnikan bukan karena dia berdosa, tetapi karena menurut Hukum Musa, setiap wanita yang melahirkan akan menjadi “tidak bersih” secara ritual atau tidak layak untuk penyembahan, dan dia harus menjalani 40 hari periode pemurnian, dan pada hari ke-40, dia mempersembahkan korban kepada imam [Im 12: 1-8].

Yesus tidak peduli dengan kondisi ekonomi, status sosial, atau penampilan fisik orang tua-Nya. Yesus mencari apakah orang tua-Nya benar-benar mencintai Allah, apakah orang tua-Nya tahu dan mematuhi hukum Allah, dan apakah orang tua-Nya memiliki iman kepada Allah. Mengapa karakteristik ini penting bagi orang tua Yesus? Karena Yesus memahami warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anak mereka adalah iman, karena uang hanya dapat memberi Anda keamanan dalam kehidupan ini, tetapi iman akan membawa kita ke surga.

Tugas utama orang tua bukan hanya menyediakan makanan, tempat tinggal, dan pakaian, tidak hanya mengirim anak-anak mereka ke sekolah, dan tidak hanya membawa mereka ke dokter ketika mereka sakit, tetapi terutama berjalan bersama mereka ke surga. Seperti Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus kepada Allah, maka kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Allah.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP