Minggu ke-4 dalam Masa Biasa [C]
29 Januari 2023
Matius 5:1-12
Yesus memulai pengajaran-Nya di Injil Matius dengan Sabda Bahagia. Gereja telah mengakui bahwa Sabda Bahagia bukanlah sembarang ajaran Yesus, tetapi ‘inti dari khotbah Yesus’ (lihat KGK 1716). Sabda Bahagia menjadi dasar karena menjawab kerinduan yang paling mendasar dari setiap manusia: kerinduan akan kebahagiaan. Jika kita ingin benar-benar bahagia, maka kita perlu menghidupi Sabda bahagia ini.

Namun, jika kita membacanya dengan cermat, kita mungkin menyadari bahwa instruksi dalam Sabda Bahagia bertolak belakang dengan hasrat kita akan kebahagiaan. Selama ini, kita percaya bahwa memiliki lebih banyak harta akan membuat kita bahagia, tetapi Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang miskin di hadapan Allah. Kita ingin tertawa dan merasa ‘senang’, tetapi kemudian, Yesus mengatakan bahwa kebahagiaan adalah untuk mereka yang berduka. Kita tahu bahwa menjadi berkuasa dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan orang lain membuat kita merasa puas dan sebuah kenikmatan, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang lemah lembut, murah hati dan pembawa damai. Kita ingin dibebaskan dari segala kesulitan dalam hidup kita, tetapi Yesus berkata bahwa kebahagiaan adalah bagi mereka yang dianiaya demi kebenaran. Sabda Bahagia Yesus bertentangan dengan logika manusia!
Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa jika bangsa Israel setia menaati Hukum Taurat, mereka akan diberkati dengan tanah, hasil panen dan ternak yang melimpah, anak-anak yang banyak, dan perlindungan dari para musuh. Begitu juga sebaliknya, jika orang Israel melanggar hukum Taurat, mereka akan dikutuk dan dengan demikian, kehilangan semua berkat ini (lihat Ulangan 28). Jadi, Sabda Bahagia Yesus bahkan tidak sejalan dengan berkat-berkat Perjanjian Lama ini!
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Yesus kehilangan akal sehat-Nya? Untungnya, Gereja memberikan kita jawabannya, “[Sabda Bahagia] mengangkat janji-janji yang telah diberikan kepada umat pilihan sejak Abraham. Sabda bahagia menyempurnakan janji-janji itu, karena tidak hanya diarahkan kepada pemilikan satu tanah saja, tetapi kepada Kerajaan surga… Sabda Bahagia mengekspresikan panggilan umat beriman yang terkait dengan kemuliaan Sengsara dan Kebangkitan-Nya (KGK 1716-7).”
Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati tidak berhenti di dunia ini, tetapi harus mencapai tujuan akhirnya di dalam Tuhan. Sebagai pengikut Kristus, terkadang kita menerima berkat duniawi, tetapi terkadang, kita mengalami ‘kutukan’ duniawi. Namun, semua itu hanya bersifat sementara, dan bukan ukuran kebahagian sejati. Bahkan, berkat-berkat materi dapat menjadi kutukan jika kita kecanduan dan melakukan banyak hal jahat untuk mendapatkannya. Dan, kemalangan dan penderitaan kita di dunia ini dapat berubah menjadi berkat rohani, jika kita menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan Sengsara Kristus dalam doa-doa kita.
Apakah itu berarti kita tidak boleh bekerja untuk menjadi kaya dan sukses? Kita harus bekerja dan menjadi sukses dalam hidup, tetapi dengan cara-cara yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita tidak mencuri atau menipu, maka pekerjaan dan harta benda kita akan menjadi berkat yang sejati.
Apakah ini berarti kita harus menerima penderitaan dan ketidakadilan secara pasrah dan pasif? Sama sekali tidak! Kita harus melakukan yang terbaik juga untuk melawan ketidakadilan di antara kita dan meringankan penderitaan sesama. Bahkan, diam saja dihadapan kejahatan bukan hanya bodoh, tetapi juga membuat kita menjadi peserta dalam kejahatan itu. Namun, kita juga tahu bahwa terkadang, ada kesulitan-kesulitan dalam hidup yang entah apa yang kita lakukan, kesulitan-kesulitan itu akan tetap ada. Inilah salib kita, dan kita harus membawanya kepada Yesus.
Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengingatkan kita bahwa hasrat kita akan kebahagiaan berasal dari Allah, dan dengan demikian, hanya Allah yang dapat memenuhinya.
Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP








