The True Miracle

17th Sunday in Ordinary Time

July 28, 2024

John 6:1-15

The miracle of the multiplication of bread is a special one because this miracle is different from other Jesus’ miracles. Yet, what makes it truly unique from other miracles? How does this miracle shape our faith in Jesus?

The first thing we can observe is that this miracle is emerging from Jesus’ initiative. Jesus saw the people following Him,  He recognized their need and then, He came out with a miraculous solution. From this perspective, we can draw beautiful points about our God. He is not God who is far, aloof and only waiting for the people to approach Him and beg something from Him. Our God is a loving God who unfaillingly recognizes our needs and conditions, and even provides our needs even without us asking. God anticipates our necessities and fulfills them even without our realization. This is true and divine love, that is anticipatory, consistent and often overlooked. Do we thank the Lord for every breath we inhale? Are we grateful for the water we drink? Yet, God provides these for us.

However, the second character of this miracle makes it even more remarkable and unique. Before Jesus performed the miracle, He presented the situation to His disciples, and asked them to solve it. Philip immediately reduced the situation into an economic problem, and answered his Master that it was impossible to feed the people without spending massive amounts of money. Fortunately, Andrew recognized Jesus’ intention to test His disciples. He then brought a little but generous boy who offered his bread and fish to Jesus to be shared. Then, the miracle began to unfold.

If we try to compare with other miracles of Jesus, we discover that Jesus wills His disciples and followers to participate in the miracle. In other miracles like healings and exorcism, Jesus did it by Himself. He had no need for any help or participation from His disciples. Yet, when Jesus performed one of the greatest miracles, He wanted His disciples to generously offer what they have, and let Jesus bless their offerings, and so become a blessing for many people.

This is the true beauty of the miracle of multiplication of bread. Indeed, God can easily work without us, as many times He does, but He also chooses to work and perform His miracles through us. And, as we offer what we have and allow God’s grace to operate in us, God perfects us and makes us His miracles to many people. Through this participation, our dignity as children of God is elevated and further glorified.

As a preacher, I offer to the Lord, my time, my intellectual capacity, and my study of Sacred Scriptures, and often, I feel these are not sufficient. But, I pray that every time I preach, the Lord will multiply these tiny resources I have into the spiritual fruits in those who hear. As good parents, we offer our time, energy, and other resources to the Lord as we raise our children. Often, we feel these are not enough, but God blesses us and our children miraculously grow into mature individuals. How do you participate in God’s works and miracles?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Mukjizat

Minggu ke-17 dalam Masa Biasa

28 Juli 2024

Yohanes 6:1-15

Mukjizat penggandaan roti merupakan mukjizat yang istimewa karena mukjizat ini berbeda dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain. Namun, apa yang membuatnya benar-benar unik dari mukjizat-mukjizat lainnya? Bagaimana mukjizat ini membentuk iman dan identitas kita?

Hal pertama yang dapat kita amati adalah bahwa mukjizat ini muncul dari inisiatif Yesus. Yesus melihat orang-orang yang mengikuti-Nya, Dia mengenali kebutuhan mereka dan kemudian, Dia datang membawa solusi. Dari perspektif ini, kita dapat menarik poin-poin yang indah tentang Allah kita. Dia bukanlah Tuhan yang jauh, menyendiri dan hanya menunggu orang-orang untuk datang kepada-Nya dan memohon sesuatu kepada-Nya. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih yang tidak pernah gagal mengenali kebutuhan dan kondisi kita, dan bahkan menyediakan kebutuhan kita tanpa kita minta. Tuhan mengantisipasi kebutuhan kita dan memenuhinya bahkan tanpa kita sadari. Inilah kasih yang sejati dan ilahi, yang antisipatif, konsisten, dan sering kali terabaikan. Apakah kita bersyukur kepada Tuhan untuk setiap napas yang kita hirup? Apakah kita bersyukur atas air yang kita minum? Namun, Tuhan menyediakan semua itu untuk kita tanpa kita minta.

Namun, hal kedua dari mukjizat ini membuatnya semakin luar biasa dan unik. Sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia memaparkan situasi yang mereka hadapi kepada murid-murid-Nya, dan meminta mereka untuk menyelesaikannya. Filipus segera mereduksi situasi tersebut menjadi masalah ekonomi, dan menjawab Gurunya bahwa tidak mungkin memberi makan orang banyak tanpa mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Untungnya, Andreas menyadari maksud Yesus untuk menguji murid-murid-Nya. Ini bukan masalah uang, tetapi iman kepada Yesus. Dia kemudian membawa seorang anak kecil yang murah hati yang memberikan roti dan ikannya kepada Yesus untuk dibagikan. Kemudian, mukjizat mulai terjadi.

Jika kita mencoba membandingkan dengan mukjizat-mukjizat Yesus yang lain, kita akan menemukan bahwa Yesus menghendaki para murid dan pengikut-Nya untuk berpartisipasi dalam mukjizat tersebut. Dalam mukjizat-mukjizat lain seperti penyembuhan dan pengusiran setan, Yesus melakukannya sendiri. Dia tidak membutuhkan bantuan atau partisipasi dari murid-murid-Nya. Namun, ketika Yesus melakukan salah satu mukjizat terbesar (lima ribu orang kenyang!), Dia ingin para murid-Nya dengan murah hati memberikan apa yang mereka miliki, dan membiarkan Yesus memberkati persembahan mereka, dan dengan demikian menjadi berkat bagi banyak orang.

Inilah keindahan sejati dari mukjizat pelipatgandaan roti. Memang, Tuhan dapat dengan mudah bekerja tanpa kita, seperti yang sering Dia lakukan, tetapi Dia juga memilih untuk bekerja dan melakukan mukjizat-Nya melalui kita. Dan, ketika kita mempersembahkan apa yang kita miliki dan mengizinkan rahmat Allah bekerja di dalam diri kita, Allah menyempurnakan kita dan menjadikan kita sebagai mukjizat bagi banyak orang. Melalui partisipasi ini, martabat kita sebagai anak-anak Allah diangkat, disempurnakan dan semakin dimuliakan.

Sebagai seorang pewarta, saya mempersembahkan kepada Tuhan, waktu, kapasitas intelektual, dan pembelajaran saya akan Kitab Suci, dan sering kali, saya merasa semua itu tidak cukup untuk membuat sebuah khotbah atau homili yang baik. Namun, saya berdoa agar setiap kali saya berkhotbah, Tuhan berkenan melipatgandakan sumber daya yang saya miliki menjadi buah-buah rohani bagi mereka yang mendengarnya. Sebagai orang tua yang baik, kita mempersembahkan waktu, tenaga, dan berbagai sumber daya kepada Tuhan untuk kita membesarkan anak-anak kita. Seringkali, kita merasa semua itu tidak cukup, tetapi Tuhan memberkati kita dan anak-anak kita bertumbuh bagaikan mukjizat, menjadi pribadi-pribadi yang dewasa.

Bagaimana kamu berpartisipasi dalam karya dan mukjizat Tuhan?

Manila

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Jesus, Our Peace

16th Sunday in Ordinary Time [B]

July 21, 2024

Eph 2:13-18

In his letter to the Ephesians, St. Paul called Jesus ‘He is our peace.’ Yet, why did St. Paul apply this strange title to Jesus? What does it really mean? And, how does this title affect our faith?

To understand Paul, we have to understand also the Old Testament. Afterall, Paul was a member of Pharisees, and thus, not only a zelous but also learned Jew. When St. Paul called Jesus as ‘peace’, he referred to the peace offering of the Jerusalem Temple. The peace offering (in Hebrew, Shalom) is one of sacrifices instructed by the Lord to the Israelites through Moses (see Lev 3). The peace offerings together with other with other sacrifices continued being offered in the time of Jesus and Paul. The ritual sacrifices ceased when the Romans burned down the Temple of Jerusalem in 70 AD, around two decades after Paul’s martyrdom.

As its name suggests, the purpose of this sacrifice is the reconciliation between the Lord, the God of Israel, and the Israelites who have offended the Lord. However, unlike other sacrifices that emphasize on satisfactions of sins and transgressions, like sin offering (chatat) and guilt offering (asham), the peace offering focuses on the result of God’s forgiveness, that is peace. When man offends God because of his sins, man becomes far from God, like an stranger and even enemy. There is enmity between God and man because of sin. There is no peace. However, when the man is forgiven, and his sins are removed, his friendship with God is restored, and there is peace between God and men. This peace causes joy and thanksgiving. The peace offering symbolizes the joy of forgiveness, the thanksgiving of peace achieved.

When St. Paul called Jesus as ‘our peace,’ St. Paul recognized Jesus offered Himself as the peace offering in the cross. Jesus did not only remove our sins, but also reconciled us to the Father. Jesus is the peace because He broke our enmity with God, and brought us back to God in friendship. Only in Jesus, we are at peace with God.

However, peace offering is also a special kind of sacrifice because it is not burnt totally (unlike holocaust sacrifice) but rather being shared also with the priest and the offerers. The fatty parts is burnt because it is for the Lord, some other parts of the animal are for the priests to consume and other parts are for those who offer the sacrifice. Thus, the peace sacrifice is like a meal shared by everyone. The sacrifice becomes the symbol of peace because only people who are at peace with each other can share the same table and food.

However, what is even more remarkable is the Catholic Church has this peace offering. Indeed, our peace offering is the Eucharist. In the Eucharist, Jesus is offered to the God the Father, and then, consumed not only by the priest, but also the faithful who participate in the celebration. Jesus Christ is truly our peace because in the Eucharist, we share the same meal with God.

Valentinus  Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Damai Sejahtera Kita

Minggu ke-16 dalam Masa Biasa [B]

21 Juli 2024

Efesus 2:13-18

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Santo Paulus menyebut Yesus sebagai “Damai Sejahtera Kita”. Namun, mengapa Santo Paulus memberikan gelar yang aneh ini kepada Yesus? Apakah arti sebenarnya dari gelar ini? Dan, bagaimana gelar ini mempengaruhi iman kita?

Untuk memahami Paulus, kita juga harus memahami Perjanjian Lama. Bagaimanapun, Paulus pernah menjadi anggota kelompok Farisi, dan dengan demikian, bukan hanya seorang Yahudi yang taat tetapi juga terpelajar. Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera’, ia mengacu pada kurban atau persembahan perdamaian di Bait Allah Yerusalem. Persembahan perdamaian (dalam bahasa Ibrani, Shelomin) adalah salah satu kurban binatang yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel melalui Musa (lihat Imamat 3). Ritual kurban yang dimulai dari zaman Musa ini terus berlangsung sampai bangsa Romawi menghancurkan Bait Suci Yerusalem pada tahun 70 Masehi, sekitar dua dekade setelah kemartiran Paulus. Sehingga Paulus sendiri tidak asing dengan kurban yang satu ini, dan bahkan pernah mempersembahkan kurban jenis ini.

Sesuai namanya, tujuan dari kurban ini adalah untuk perdamaian (rekonsiliasi) antara Tuhan, Allah Israel, dengan orang Israel yang telah bersalah kepada Tuhan. Namun, tidak seperti kurban jenis lain yang menekankan pada penghapusan dosa dan pelanggaran, seperti kurban penghapus dosa (Imamat 4) dan kurban penghapus salah (Imamat 5), kurban perdamaian berfokus pada hasil pengampunan Tuhan, yaitu perdamaian. Ketika manusia menyakiti hati Tuhan karena dosa-dosanya, manusia menjadi jauh dari Tuhan, bahkan seperti layaknya orang asing dan bahkan musuh. Ada permusuhan antara Tuhan dan manusia karena dosa, dan karena ada permusuhan, maka tidak ada damai. Namun, ketika orang tersebut diampuni, dan dosa-dosanya dihapuskan, persahabatannya dengan Tuhan dipulihkan, dan ada perdamaian antara Tuhan dan manusia. Kedamaian ini menyebabkan sukacita dan ucapan syukur. Persembahan perdamaian melambangkan sukacita pengampunan, ucapan syukur atas perdamaian yang telah dicapai.

Ketika Santo Paulus menyebut Yesus sebagai ‘damai sejahtera kita’, Santo Paulus mengenali bahwa Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban perdamaian di kayu salib. Yesus tidak hanya menghapus dosa-dosa kita, tetapi juga memperdamaikan kita dengan Bapa. Yesus adalah damai sejahtera karena Dia telah menghancurkan permusuhan kita dengan Allah, dan membawa kita kembali kepada Allah dalam persahabatan. Hanya di dalam Yesus, kita berdamai dengan Allah.

Namun, kurban perdamaian juga merupakan jenis kurban yang istimewa karena tidak dibakar seluruhnya (tidak seperti kurban bakaran, Imamat 1). Bagian yang berlemak dibakar karena itu untuk Tuhan, beberapa bagian lain dari hewan tersebut untuk dikonsumsi oleh para imam dan bagian lainnya untuk mereka yang mempersembahkan kurban. Dengan demikian, kurban perdamaian menjadi makanan yang dibagikan kepada semua orang. Kurban ini menjadi simbol perdamaian karena hanya orang-orang yang berdamai dengan satu sama lain yang dapat berbagi meja dan makanan yang sama.

Namun, yang lebih luar biasa lagi adalah Gereja Katolik memiliki kurban perdamaian ini. Sesungguhnya, persembahan perdamaian kita adalah Ekaristi. Dalam Ekaristi, Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa, dan kemudian, dikonsumsi tidak hanya oleh imam, tetapi juga oleh umat beriman yang berpartisipasi dalam perayaan tersebut. Yesus Kristus adalah damai sejahtera kita karena dalam Ekaristi, kita berpartisipasi dalam perjamuan yang sama dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Authority to Love

15th Sunday in Ordinary Time

July 14, 2024

Mark 6:7-13

In today’s Gospel, Jesus entrusted His disciples an authority. This authority is composed of several powers like to to cash out demons, to heal the sick, and to preach the repentance. The question to ponder is that why did Jesus hand down this kind authority to His disciples? Why did not Jesus give more useful tools like the power to control people, or power to produce money?

Firstly, from this story, we recognize that Jesus loves His disciples and as a proof of His love, He dares to entrust His authority to frail and sometimes, unreliable men. Jesus did not hoard everything to Himself, but rather share Himself with His disciples so that His disciples may grow, even through failures and weakness.

Secondly, the authority Jesus gave is not something that ends up manipulating people. Indeed, Jesus can possible give the authority to control people’s mind to His discciples, and this power can be extremely useful to draw more people to Jesus instantly. People will do everything for Jesus or for the disciples, but this is not real authority since it will objectify people and nothing but pure manipulation. Yes, Jesus can create an authority to control economy for His disciples, and this can generate enermous wealth for Jesus and His group. However, in the end, wealth control through manipulation is just corruption and greed.

Thirdly, if we look carefully the authority Jesus entrusted to His disciples is the authority to serve and to love. To heal the sick people without asking rewards, to cash out demons that tormented men and women, and to preach repetance for the salvation of souls are powers to bring holiness to people, to draw them closer to God. However, what even remarkable is that this authority to love requires even more love, a love that is miticulous, persistant, anticipatory but hidden. For example,  to preach the repetance, the disciples must walk miles, endure hunger and the sun’s scorge, and prepare what to say. They also had to face the fear of rejection, and eventually be at peace with unsatisfatory results. These are the small and hidden steps to reach the preaching of repetance, and these steps are also acts of love.

We, the disciples of Christ, are given the authority to love. As husbands, we have the authority to love our spouses. As parents, we posses the authority to educate our children. As priests, we are entrusted the authority to serve the people of God. Yet, these authority is even built on the small, hidden yet persistent acts of love. To love their young child, a couple have to endure lack of sleep, prepare and provide baby’s food on proper times, purchase and change the baby’s diapers, and many other small things. And, when the baby grows up, she will probably not appreciate what the parents did for her. What she is aware of is that she is now healthy, secure girl with bright future.

Love is not always grand and sensational, but oftentimes, little, constant and unappreciated. Yet, this kind of love that empowers us to fulfill our missions of life. This is our authority to love.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuasa untuk Mengasihi 

Hari Minggu ke-15 dalam Masa Biasa

14 Juli 2024 

Markus 6:7-13

Dalam Injil hari ini, Yesus mempercayakan kuasa kepada para murid-Nya. Kuasa ini terdiri dari beberapa kuasa seperti mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, dan mewartakan pertobatan. Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah mengapa Yesus memberikan otoritas seperti ini kepada murid-murid-Nya? Mengapa Yesus tidak memberikan kuasa yang lebih berguna seperti kuasa untuk mengendalikan orang, atau kuasa untuk menghasilkan uang?

Pertama, dari kisah ini, kita melihat bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya dan sebagai bukti kasih-Nya, Ia berani mempercayakan otoritas-Nya kepada murid-murid yang lemah dan terkadang tidak dapat diandalkan. Yesus tidak menimbun segala sesuatu untuk diri-Nya sendiri, melainkan membagikan diri-Nya kepada murid-murid-Nya agar murid-murid-Nya dapat bertumbuh, bahkan melalui kegagalan dan kelemahan.

Kedua, otoritas yang Yesus berikan bukanlah sesuatu yang bertujuan untuk memanipulasi orang. Memang, Yesus bisa saja memberikan kuasa untuk mengendalikan pikiran orang kepada murid-murid-Nya, dan kuasa ini bisa sangat berguna untuk menarik lebih banyak orang kepada Yesus secara instan. Orang-orang akan melakukan segalanya untuk Yesus atau untuk murid-murid-Nya, tetapi ini bukanlah kuasa yang sesungguhnya karena hal ini hanya akan mengobjektifikasi (menjadikan benda mati) orang-orang dan ini tidak lebih dari sekadar manipulasi. Ya, Yesus dapat menciptakan otoritas untuk mengendalikan ekonomi bagi murid-murid-Nya, dan hal ini dapat menghasilkan kekayaan yang luar biasa bagi Yesus dan kelompok-Nya. Namun, pada akhirnya, pengendalian kekayaan melalui manipulasi hanyalah korupsi dan keserakahan.

Ketiga, jika kita perhatikan dengan saksama, kuasa yang dipercayakan Yesus kepada murid-murid-Nya adalah kuasa untuk melayani dan mengasihi. Menyembuhkan orang sakit tanpa meminta imbalan, mengusir setan yang menyiksa manusia, dan memberitakan pertobatan demi keselamatan jiwa-jiwa adalah kuasa yang membawa kekudusan bagi manusia, untuk membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan. Namun, yang luar biasa adalah bahwa otoritas untuk mengasihi ini melahirkan lebih banyak lagi kasih, kasih yang penuh kesabaran, gigih, antisipatif tetapi tersembunyi. Sebagai contoh, untuk mewartakan pertobatan, para murid harus berjalan bermil-mil jauhnya, menahan rasa lapar dan teriknya matahari, serta mempersiapkan apa yang harus mereka katakan. Mereka juga harus menghadapi rasa takut akan penolakan, dan pada akhirnya berdamai dengan hasil yang tidak memuaskan. Ini adalah langkah-langkah kecil dan tersembunyi untuk mencapai pemberitaan tentang pertobatan, dan langkah-langkah ini juga merupakan tindakan-tindakan kasih.

Kita, murid-murid Kristus, diberi otoritas untuk mengasihi. Sebagai suami, kita memiliki otoritas untuk mengasihi pasangan kita. Sebagai orang tua, kita memiliki otoritas untuk mendidik anak-anak kita. Sebagai imam, kita dipercayakan otoritas untuk melayani umat Allah. Namun, otoritas ini bahkan dibangun di atas tindakan-tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi namun gigih. Untuk mengasihi anak mereka yang masih kecil, pasangan suami istri harus rela kurang tidur, menyiapkan dan menyediakan makanan bayi pada waktu yang tepat, membeli dan mengganti popok bayi, dan masih banyak lagi hal-hal kecil lainnya. Dan, ketika anak kita tumbuh besar, dia mungkin tidak akan menyadari apa yang telah dilakukan oleh orangtuanya. Apa yang dia sadari adalah bahwa dia sekarang adalah seorang gadis yang sehat dan percaya diri dengan masa depan yang cerah. 

Kasih tidak selalu megah dan sensasional, tetapi sering kali, kecil, konstan dan tidak dihargai. Namun, kasih seperti inilah yang memberdayakan kita untuk memenuhi misi kehidupan kita. Ini adalah otoritas kita untuk mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Thorn in the Flesh

14th Sunday in Ordinary Time

July 7, 2024

2 Cor 12:7-10

St. Paul in his letter to the Corinthians reveals to us that he is struggling with ‘a thorn in the flesh’ caused by the devil. Yet, what does it mean for St. Paul to have ‘a thorn’ in his flesh? And, how does St. Paul deal with this situation?

There are at least three possible answers to this thorn in the flesh. The first posibility is that the thorn refers to the spiritual assaults coming from the evil spirits. Either in the forms of physical harassment or constant inner temptations. The second possible answer may refer to his health condition, especially his eye problem. One time St. Paul complained about his difficulty to read. In his letter to the Galatians, he writes, “you know that it was because of a physical illness that I originally preached the gospel to you, and you did not show disdain or contempt because of the trial caused you by my physical condition…Indeed, I can testify to you that, if it had been possible, you would have torn out your eyes and given them to me.” (Gal 4:13-15). The third possibility is that the thorn may point to his struggles and hardship he endures as he deals with different communities. He often narrates how he was slandered, backstabbed and unfaithfullness.

Which among the three possibilites is the most probable? St. Paul may in fact deal with these three conditions in the course of his ministries, but in my personal opinion, this ‘thorn’ speaks of Paul’s struggle with Christian communities he serves. Ultimately, we are not really sure, but what is important is how Paul deals with this thorn. Firstly, Paul recognizes that God allows satan to cause this thorn. It is a good theology. A perfect God does not directly cause evil since only goodness comes from Him, but God may allow evil to take place as long as He has a sufficient reason, that is to bring out the even greater goodness. Secondly, Paul asks the thorns to be removed. Yet, his prayer is not granted because God wants that thorn to stay and He will use that for His glory.

St. Paul admits that the thorn is to keep St. Paul away from being arrogant. Paul receives a lot of spiritual gifts from the Lord, and these gifts may lead to spiritual pride as he may compare himself with less mature Christians. Thus, the thorn serves as a constant reminder that he is also struggling just like other Jesus’ disciples.

Furthermore, St. Paul realizes that God allows Paul to suffer the thorn because He supplies Paul with nececssary grace. The Lord says to Paul, “My grace is sufficient for you.” It is precisely God’s grace that sustains Paul in coping with the troublesome sitaution. St. Paul discerns that he is able to survive and even flourish through sufferings and weakness because of God’s grace. Paul cannot boast of himself, of his power, his intellegence, and his eloquence because all these things crumble before the weight of sufferings. Paul only can boast of weakness, his sufferings, his hardships, his thorn because precisely in his weakness, people can see how God’s grace works and sustains Paul.

What are our thorns in our lives? Are we angry because God does not take away our thorns? Do we relly solely on our strenght? Do we ask suffient grace to endure and flourish through sufferings?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Duri dalam Daging

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

7 Juli 2024

2 Korintus 12:7-10

Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengungkapkan kepada kita bahwa ia bergumul dengan ‘duri dalam daging’ yang disebabkan oleh mailakat Setan. Namun, apa yang dimaksud dengan ‘duri dalam daging’ bagi Santo Paulus? Bagaimana Paulus menghadapi situasi ini?

Setidaknya ada tiga kemungkinan jawaban untuk duri dalam daging ini. Kemungkinan pertama adalah bahwa duri tersebut mengacu pada serangan rohani yang berasal dari roh-roh jahat. Entah dalam bentuk serangan fisik atau godaan batin yang terus menerus. Kemungkinan jawaban kedua merujuk pada kondisi kesehatannya, terutama masalah matanya. Suatu kali Santo Paulus mengeluh tentang kondisi kesehatan matanya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis, “Kamu tahu, bahwa oleh karena penyakit fisiklah aku mula-mula memberitakan Injil kepadamu, dan kamu tidak menunjukkan sikap meremehkan atau menghina karena pencobaan yang ditimbulkan oleh keadaan badanku… Sungguh, aku dapat memberi kesaksian tentang kamu, bahwa sekiranya boleh, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepada-Ku.” (Gal. 4:13-15). Kemungkinan ketiga, duri tersebut mungkin menunjuk pada pergumulan dan kesulitan yang dialaminya ketika St. Paulus berurusan dengan komunitas-komunitas Gereja lokal. Dia sering menceritakan bagaimana dia difitnah, ditikam dari belakang, dan dikhianati.

Manakah di antara ketiga kemungkinan tersebut yang paling mungkin terjadi? Paulus mungkin saja menghadapi ketiga kondisi tersebut dalam perjalanan pelayanannya, tetapi menurut saya pribadi, ‘duri’ ini berbicara mengenai pergumulan Paulus dengan komunitas Kristen yang dilayaninya. Pada akhirnya, kita tidak tahu pasti, tetapi yang penting adalah bagaimana Paulus menghadapi duri ini.

Pertama, Paulus mengakui bahwa Tuhan mengizinkan setan untuk menyebabkan duri ini. Ini sejatinya adalah teologi yang baik. Allah yang sempurna tidak secara langsung menyebabkan hal buruk karena hanya kebaikan yang berasal dari-Nya, tetapi Allah dapat mengizinkan hal buruk terjadi selama Dia memiliki alasan yang cukup, yaitu untuk memunculkan kebaikan yang lebih besar dari hal buruk ini. Kedua, Paulus meminta agar duri tersebut disingkirkan. Namun, doanya tidak dikabulkan karena Allah ingin duri itu tetap ada dan Dia akan menggunakannya untuk kemuliaan-Nya.

Paulus mengakui bahwa duri tersebut adalah untuk menjauhkan Paulus dari kesombongan. Paulus menerima banyak karunia rohani dari Tuhan, dan karunia-karunia ini dapat menimbulkan kesombongan rohani karena ia dapat membandingkan dirinya dengan orang-orang Kristen yang kurang dewasa. Dengan demikian, duri tersebut berfungsi sebagai pengingat bahwa ia juga bergumul seperti murid-murid Yesus yang lain.

Lebih jauh lagi, Santo Paulus menyadari bahwa Tuhan mengijinkan Paulus untuk menderita duri karena Dia menyediakan rahmat yang dibutuhkan oleh Paulus. Tuhan berkata kepada Paulus, “Cukuplah rahmat-Ku bagimu.” Rahmat Tuhanlah yang menopang Paulus dalam menghadapi penderitaan yang menyulitkan itu. Paulus menyadari bahwa ia dapat bertahan dan bahkan berkembang melalui penderitaan dan kelemahan karena rahmat Allah. Paulus tidak dapat memegahkan diri, kekuatannya, kepandaiannya, dan kefasihannya karena semua itu akan runtuh di hadapan beban penderitaan. Paulus hanya dapat membanggakan kelemahannya, penderitaannya, kesulitannya, duri yang dialaminya karena justru di dalam kelemahannya itulah, orang-orang dapat melihat bagaimana rahmat Allah bekerja dan menopang Paulus.

Apakah duri dalam hidup kita? Apakah kita marah karena Tuhan tidak mengambil duri-duri kita? Apakah kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri? Apakah kita memohon kasih karunia yang cukup untuk bertahan dan bertumbuh melalui penderitaan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP