Mengapa Perlu Menunggu?

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [C]

19 Oktober 2025

Lukas 18:1-8

Dalam perumpamaan tentang janda yang gigih dan hakim yang tidak adil, Yesus memberi kita perintah yang jelas: “Berdoalah selalu!” Ia mengajak kita untuk tetap teguh, terutama ketika Allah meminta kita untuk menunggu jawaban-Nya. Namun, mengapa Bapa yang penuh kasih, yang mengetahui kebutuhan kita, mengizinkan penantian ini?

Periode penantian ini bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, melainkan kasih-Nya yang mendalam. Berikut tiga alasan mengapa Allah mungkin mengizinkan kita menanti.

1. Waktu Menyembuhkan dan Memurnikan Doa-doa Kita

Seringkali, doa-doa kita lahir dari emosi yang intens—kesedihan, penderitaan, atau bahkan amarah. Dalam kegelisahan kita, kita bisa membingungkan antara kebutuhan sejati kita dengan keinginan egois. Kita tidak selalu tahu apa yang benar-benar baik untuk kita.

Allah menggunakan waktu untuk membantu kita menenangkan hati dan menyucikan niat kita. Waktu membantu kita untuk membentuk ulang doa-doa kita, mengubahnya dari tuntutan menjadi dialog, dari permohonan untuk keuntungan pribadi menjadi kata-kata penyerahan dan pengharapan, dari “Jadilah sesuai kehendakku” menjadi “Jadilah kepadaku sesuai kehendak-Mu.”

2. Waktu Membangun Keutamaan

Kita hidup di dunia yang mengutamakan hasil instan, dan kita dapat membawa ketidaksabaran ini ke dalam hubungan kita dengan Allah. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan secara instan, kita dapat menjadi gelisah dan frustrasi, dan bahkan marah.

Menunggu mengajarkan kita kesabaran—yang bukan hanya kemampuan untuk menunggu, tetapi kemampuan untuk mempertahankan sikap baik saat menunggu. Seperti yang diingatkan oleh St. Fransiskus de Sales, “Setiap dari kita membutuhkan setengah jam doa setiap hari, kecuali ketika kita sibuk, maka kita membutuhkan satu jam.” Semakin kita berdoa dengan sabar, semakin kita menyadari bahwa banyak hal di luar kendali kita. Namun, meskipun kita lemah, kita tidak putus asa atau kehilangan harapan karena kita kini bergantung pada Allah Pencipta langit dan bumi.

3. Waktu Mendalamkan Kedekatan Kita dengan Allah

Mudah bagi kita untuk memperlakukan Allah seperti mesin penjual otomatis surgawi. Masa penantian mengalihkan perhatian kita dari pemberian yang kita cari ke Sang Pemberi.

Semakin banyak waktu yang kita habiskan dalam doa yang penuh kesabaran, semakin kita mencari untuk mengenal Allah sebagaimana Dia adanya—bukan hanya sebagai pemberi keinginan, tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih. Kita tidak berfokus lagi pada daftar kebutuhan kita tetapi pada hubungan kita dengan-Nya. Inilah inti doa, yang didefinisikan oleh Santa Teresa dari Ávila sebagai “tidak lain daripada menjalin persahabatan dengan Allah.”

Seorang biarawati senior pernah berbagi kisah tentang bagaimana, saat masih menjadi novis muda, ia ingin meninggalkan biara untuk bekerja dan mendukung ibunya secara finansial. Doanya dipenuhi dengan berbagai rencana apa yang akan dia lakukan di luar. Pembimbing rohaninya dengan lembut bertanya, “Apakah meninggalkan biara benar-benar yang terbaik? Apakah Allah terbatas pada satu cara saja untuk menolong?”

Ia mulai mengubah doanya. Ia berhenti memberi tahu Allah apa yang harus dilakukan dan mulai menyerahkan ibunya sepenuhnya kepada penyelenggaraan-Nya. Seiring waktu, kerabat dan teman-temannya datang untuk mendukung ibunya, dan ia menemukan kedamaian untuk tetap setia pada panggilannya. Kisah sederhana ini menunjukkan bagaimana Allah menggunakan waktu untuk menyucikan doa-doa kita dan mendekatkan kita kepada-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan untuk Refleksi Pribadi:

  • Apakah saya berdoa? Apakah ada ruang yang konsisten dan harian untuk Tuhan dalam hidup saya?
  • Bagaimana cara saya berdoa? Apakah doa saya sekadar daftar permintaan, ataukah itu percakapan yang termasuk mendengarkan?
  • Seberapa lama saya berdoa? Apakah saya menyerah ketika jawaban tidak segera datang?
  • Apa yang saya minta dari Allah? Apakah doa-doa saya berfokus pada kehendak saya, atau pada upaya untuk memahami kehendak-Nya?
  • Bagaimana reaksi saya ketika tidak mendapatkan apa yang saya doakan? Apakah hal itu menimbulkan keraguan, atau justru memperdalam kepercayaan pada kebijaksanaan-Nya?
  • Apakah saya meminta anugerah? Apakah saya berdoa tidak hanya untuk hasil tertentu, tetapi juga untuk kekuatan, kedamaian, dan kepercayaan untuk menanggung penantian?

Time and Prayer

29th Sunday in Ordinary Time [C]

October 19, 2025

Luke 18:1-8

In the parable of the persistent widow and the unjust judge, Jesus gives us a clear command: “pray always without becoming weary.” He invites us to persevere, especially when God asks us to wait for an answer. But why does a loving Father, who knows our needs, allow this waiting?

This period of waiting is not a sign of God’s absence, but His profound love. Here are three reasons God may allow us to wait.

1. Time Heals and Purifies Our Prayers

Often, our initial prayers are born from intense emotion—grief, distress, or even anger. In our urgency, we can confuse our genuine needs with our selfish wants. We do not always know what is truly good for us.

God uses the gift of time to help us settle our hearts and purify our intentions. He reforms our prayers, transforming them from demands into dialogues, from pleas for personal gain into words of trusting surrender, from “Be it done according to my will.” to “Be it done to me according to Your will.”

2. Time Builds Essential Virtues

We live in a world of instant results, and we can carry this impatience into our relationship with God. When we don’t get what we want immediately, we can become restless and frustrated.

Waiting teaches us the true meaning of patience—which is not just the ability to wait, but the ability to keep a good attitude while waiting. As St. Francis de Sales reminds us, “Every one of us needs half an hour of prayer each day, except when we are busy… then we need an hour.” The more we patiently pray, the more recognize that many things are beyond our control. The more we patiently ask, the more we realize how powerless we are. Yet, though we are powerless, we are not helpless or hopeless since we are now relying ourselves on someone beyond us, God the creator of heavens and earth.

3. Time Deepens Our Intimacy with God

It is easy to treat God like a heavenly vending machine, focused solely on the gifts we seek. Waiting refocuses our attention from the gifts to the Giver.

The more time we spend in prayerful waiting, the more we seek to know God for who He is—not just as a wish-fulfiller, but as a loving Father. We begin to focus less on our list of needs and more on our relationship with Him. This is the heart of prayer, which St. Teresa of Ávila defined as “nothing else than being on terms of friendship with God.”

A Story of Purified Prayer:
A senior nun once shared how, as a young novice, she wanted to leave the convent to get a job and support her mother financially. Her prayers were consumed with this plan. Her spiritual director gently asked her: “Would leaving truly be the best help? Is God limited to only one way of providing?”

She began to change her prayers. She stopped telling God what to do and started entrusting her mother entirely to His care. In time, relatives and friends came forward to support her mother, and she found the peace to persevere in her vocation. This simple story shows how God uses time to purify our prayers and draw us closer to Himself.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions for Personal Reflection:

  • Do I pray? Is there a consistent, daily space for God in my life?
  • How do I pray? Is my prayer a list of requests, or is it a conversation that includes listening?
  • How long do I pray? Do I give up when an answer isn’t immediate?
  • What do I ask from God? Are my prayers focused on my will, or on seeking to understand His?
  • How do I react when I don’t get what I prayed for? Does it lead to doubt, or to a deeper trust in His wisdom?
  • Do I ask for grace? Do I pray not just for specific outcomes, but for the strength, peace, and trust to endure the wait?

Beyond Grateful

28th Sunday in Ordinary Time [C]

October 12, 2025

Luke 17:11-19

On the surface, the story of the ten lepers presents a clear contrast between gratitude and ingratitude. Ten lepers are healed, yet only one—a Samaritan, a traditional enemy of the Jews—returns to thank Jesus. The nine others, presumably Jews, appear simply ungrateful. But to leave the lesson there risks missing the profound, multi-layered drama unfolding within this encounter.

To truly understand the story, we must first grasp the gravity of the men’s condition. The Greek word “lépra” used in the Gospel translates the Hebrew “tzara’at.” This was not merely a medical ailment causing spreading sores and discoloured skin; it was a state of severe religious impurity and thus, the persons were barred to approach the sacred grounds (Lev 13-14). Due to its religious nature, a person with this condition was declared permanently unclean by a Levitical priest, not a doctor. Due to its contagious nature, they were forced to live in isolation, wear torn clothes, and call out “Unclean, unclean!” to warn anyone who approached. Therefore, “tzara’at” was one of the most dreaded fates for an Israelite, as it cut a person off from family, community, and, most importantly, from God.

With this context, Jesus’ instruction for the ten lepers to show themselves to the priests is deeply significant. They would have recognized this as the standard procedure for being officially declared clean and restored to society. We can assume the nine Jews set off for their Israelite priests, while the Samaritan headed for his own. The critical moment comes when the Samaritan, en route and still technically unclean, is so overwhelmed that he turns back. He falls at Jesus’ feet in a gesture that is more than emotional thanks; it is a profound act of faith that breaks ritual law, as an unclean person was not to approach a clean one.

This act reveals the story’s deeper meaning. The question is not merely whether the nine were ungrateful. Perhaps they were, forgetting their healer as soon as they were cleansed. Or perhaps they were simply obeying Jesus’ command to the letter, fully intending to return after their priest’s approval. The Samaritan, however, realizes something more profound. He understands that Jesus is not just a healer of disease, but the very source of purification itself. By returning to Jesus, he acknowledges that Christ has the authority to cleanse him not only of his physical ailment but of his grave impurity. In this moment, Jesus is revealed as the true divine High Priest.

The healing, therefore, was never just about restoring health. It was an invitation to be drawn back to God, to choose holiness, and to recognize the giver over the gift. The Samaritan received not just clean skin, but salvation. His gratitude was the sign of a faith that saw beyond his immediate need to the one who could fulfil his ultimate need for God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

Do we approach God primarily with a list of our needs and necessities? When we feel God has answered our prayers, what is our reaction? How do we express our gratitude? Does it draw us closer to the Giver? Do the gifts we receive from God ultimately lead us back to Him, or do we become preoccupied with the gifts themselves?

Melampaui Rasa Syukur

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [C]

12 Oktober 2025

Lukas 17:11-19

Di permukaan, kisah sepuluh orang kusta ini menampilkan kontras yang jelas antara rasa syukur dan sikap tidak tahu berterima kasih. Sepuluh orang kusta disembuhkan, namun hanya satu—seorang Samaria, musuh orang Yahudi—yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Sembilan orang lainnya, kemungkinan orang Yahudi, tampak tidak bersyukur. Namun, jika kita berhenti pada pelajaran itu saja, kita akan melewatkan drama yang mendalam dalam pertemuan ini. Apakah itu?

Luke 5:12-16. A man covered with leprosy entreated Jesus to clean him falling with his face down. Jesus cleaned him immediately by touching him.

Untuk benar-benar memahami kisah ini, pertama-tama kita harus memahami betapa parahnya kondisi orang-orang itu. Kata Yunani “lépra” yang digunakan dalam Injil untuk kata “kusta” merupakan terjemahan untuk kata Ibrani “tzara’at.” Ini bukan sekadar penyakit medis yang menyebabkan borok yang menyebar dan kulit yang berubah warna; ini adalah keadaan najis yang parah, sebuah kondisi yang membuat orang-orang tersebut tidak bisa mendekati tempat suci (Imamat 13-14). Karena sifat religius kondisinya, imam Lewi bertindak sebagai penentu apakah seseorang dengan kondisi tersebut najis atau tidak. Karena kenajisan “tzara’at”  yang menular, mereka dipaksa hidup dalam isolasi, mengenakan pakaian robek, dan berteriak “Najis, najis!” untuk memperingatkan siapa pun yang mendekat. Oleh karena itu, “tzara’at” merupakan salah satu nasib paling ditakuti bagi seorang Israel, karena memisahkan seseorang dari keluarga, komunitas, dan yang paling penting, dari Allah.

Dalam konteks ini, perintah Yesus kepada sepuluh orang kusta untuk menunjukkan diri mereka kepada imam-imam memiliki makna yang mendalam. Mereka akan mengenali ini sebagai prosedur standar untuk secara resmi dinyatakan suci dan dipulihkan ke dalam masyarakat. Kita dapat mengasumsikan bahwa sembilan orang Yahudi berangkat menuju imam-imam Israel mereka, sementara orang Samaria menuju imamnya sendiri. Momen penting terjadi ketika orang Samaria, yang masih dalam perjalanan dan secara teknis masih najis, memutuskan untuk berbalik. Ia jatuh di kaki Yesus dan ini adalah sebuah sikap yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih emosional; ini adalah tindakan iman yang mendalam yang melanggar hukum ritual, karena orang najis tidak boleh mendekati orang tahir, dalam hal ini Yesus.

Tindakan ini mengungkapkan makna yang lebih dalam dari cerita ini. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sembilan orang itu tidak bersyukur. Mungkin mereka memang tidak bersyukur, melupakan penyembuh mereka begitu mereka disembuhkan. Atau mungkin mereka hanya mengikuti perintah Yesus, berencana untuk kembali setelah mendapat persetujuan imam. Kita perlu ingat bahwa orang-orang ini memiliki iman pada Yesus sehingga mereka mau pergi kepada para imam bahkan sebelum mereka sembuh. Namun, orang Samaria itu menyadari sesuatu yang lebih dalam. Ia memahami bahwa Yesus bukan hanya sang penyembuh penyakit, tetapi sumber pemurnian itu sendiri. Dengan kembali kepada Yesus, ia mengakui bahwa Kristus memiliki wewenang untuk menyucikan dirinya tidak hanya dari penyakit fisiknya, tetapi juga dari kenajisan yang serius. Pada saat itu, Yesus terungkap sebagai Imam Besar Ilahi yang sejati.

Penyembuhan itu, oleh karena itu, bukanlah sekadar tentang memulihkan kesehatan. Itu adalah undangan untuk kembali kepada Allah, memilih kekudusan, dan mengenali Pemberi di atas pemberian. Orang Samaria itu menerima bukan hanya kulit yang sembuh, tetapi keselamatan. Rasa syukurnya adalah tanda iman yang melihat melampaui kebutuhannya yang segera kepada Dia yang dapat memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar akan Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mendekati Allah terutama dengan kebutuhan dan keperluan kita? Ketika kita merasa Allah telah menjawab doa-doa kita, apa reaksi kita? Bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur kita? Apakah hal itu mendekatkan kita kepada Pemberi? Apakah karunia yang kita terima dari Allah pada akhirnya membawa kita kembali kepada-Nya, ataukah kita menjadi terobsesi dengan karunia itu sendiri?

Iman Sejati

Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [C]

5 Oktober 2025

Lukas 17:5-10

Iman adalah sebuah tindakan luar biasa. Tuhan kita mengajarkan bahwa dengan iman sekecil biji sesawi, kita dapat memerintahkan pohon besar untuk dicabut dan ditanam di laut. Namun, Ia juga mengingatkan kita bahwa iman saja tidak cukup. Iman harus disertai dengan keutamaan lain yang esensial. Apa itu?

Secara sederhana, iman adalah tindakan untuk percaya kepada Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Sepanjang sejarah, orang-orang percaya telah mengalami kuasa yang luar biasa dan ajaib melalui iman. Melalui iman kepada Yesus, banyak orang menemukan kesembuhan, baik fisik maupun psikologis, bahkan dari penyakit yang tak tersembuhkan sekalipun. Melalui iman, banyak sekali orang mengalami pengalaman yang mengubah hidup, menemukan makna yang mendalam dan kebahagiaan. Melalui iman, banyak orang menerima karunia-karunia rohani, termasuk yang luar biasa seperti kesembuhan dan bernubuat.

Meskipun memiliki kuasa yang mengguncang bumi, Tuhan mengingatkan kita bahwa kita pada akhirnya adalah “hamba-hamba” Allah. Iman tidak menjadikan kita tuan. Iman sejatinya membuka mata kita pada kebenaran identitas kita. Jika kita percaya pada Pencipta yang Mahakuasa, maka kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Ada jurang yang tak terjembatani di antara kita: Allah adalah segalanya, dan kita tidak ada apa-apanya. Namun, Allah mengasihi kita begitu besar sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dan membawa kita ke dalam persatuan dengan diri-Nya. Kebenaran ini, yang didorong oleh iman, membawa kita langsung kepada kerendahan hati.

Kata “kerendahan hati” dalam bahasa Inggris adalah “humility” dan ini berasal dari bahasa Latin humus, yang berarti “tanah” atau “bumi.” Itu adalah kesadaran bahwa kita tidak berarti apa-apa dan tidak layak. Kita, dalam arti tertentu, “tanah kotor.” Namun, Allah mengasihi kita tanpa syarat. Kerendahan hati menempatkan iman dalam konteks yang tepat, mengingatkan kita bahwa bahkan iman kita juga adalah anugerah dari Allah.

Sebenarnya, iman tanpa kerendahan hati itu berbahaya. Setan dan roh-roh jahat memiliki semacam “iman”—mereka tahu dengan pasti bahwa Allah ada dan bahwa mereka memperoleh keberadaan dan kekuatan mereka dari-Nya. Namun, tanpa kerendahan hati, mereka menolak untuk taat dan melayani. Pada akhirnya, mereka jatuh.

Tanpa kerendahan hati, kita berisiko tertipu oleh diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa “iman besar” kita membuat kita lebih unggul dari orang lain. Meskipun karunia dan pengalaman iman itu nyata, mereka dapat menjebak kita dalam kesombongan. Tanpa kerendahan hati, kita juga dapat memperlakukan iman sebagai alat tawar-menawar, percaya bahwa jika kita memiliki cukup, kita dapat mengendalikan Allah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Dengan kerendahan hati, iman benar-benar menyelamatkan. Kita menerima baptisan dari Gereja, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui keselamatan sebagai anugerah Allah yang cuma-cuma. Kita menerima Komuni Kudus dari tangan imam, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui bahwa kita membutuhkan Allah untuk memberi makan jiwa-jiwa kita yang lapar dan lemah. Kita mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan tindakan kerendahan hati ini berarti menerima bahwa seberapa pun kita rusak dan hancur, Allah tetap mencintai kita dan ingin menyembuhkan kita. Kerendahan hati memungkinkan iman kita untuk mendorong kita mengasihi Allah dengan mendalam, karena kita sepenuhnya menyadari kelimpahan kasih-Nya bagi kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

  1. Bagaimana kita memahami iman? Apakah itu sekedar keyakinan akan kebenaran tentang Allah? Sebuah ikatan emosional? Atau komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
  2. Bagaimana kita memahami kerendahan hati? Apakah itu sekadar rasa “minder”? Atau apakah itu kesadaran mendalam akan kasih Allah yang tak terhingga bagi kita, bahkan dalam kelemahan kita?

True Faith

27th Sunday in Ordinary Time [C]

October 5, 2025

Luke 17:5-10

Faith is a powerful act. Our Lord teaches that with faith even as small as a mustard seed, we could command a mulberry tree to be uprooted and planted in the sea. Yet, He also reminds us that faith alone is not enough. It must be accompanied by another essential virtue. What is that?

In simple terms, faith is an act of trust in God and in His Son, Jesus Christ. Throughout history, believers have experienced its tremendous, miraculous power. Through faith in Jesus, many find healing—both physical and psychological—even from incurable diseases. Through faith, countless people have life-transforming experiences, discovering profound meaning and joy. Through faith, many receive spiritual gifts, including extraordinary ones like healing and prophecy.

Despite this earth-shaking power, our Lord reminds us that we are ultimately God’s “servants.” Faith does not make us masters; it opens our eyes to the truth of our identity. If we believe in an almighty Creator, then we are His creatures. An unbridgeable gap exists between us: God is everything, and we are nothing. And yet, He loves us so immensely that He gave His only Son to save us and bring us into communion with Himself. This realization, driven by faith, leads us directly to humility.

The word “humility” comes from the Latin humus, meaning “soil” or “ground.” It is the realization that we are nothing and undeserving—we are, in a sense, “dirt.” Yet, God loves us unconditionally. Humility places faith in its proper context, reminding us that even our faith is a gift from God.

In fact, faith without humility is dangerous. Satan and the evil spirits have a kind of “faith”—they know with certainty that God exists and that they owe their power to Him. But without humility, they refuse to obey and serve. Ultimately, they fall.

Without humility, we risk self-deception. We might think our “great faith” makes us superior to others. While the gifts of faith are real, they can trap us into pride. Without humility, we may also treat faith as a bargaining chip, believing that if we have enough, we can control God to get what we want.

With humility, however, faith truly saves. We receive baptism from the Church and this act of humility means recognizing salvation as a gratuitous, unmerited God’s gift. We receive Holy Communion from the priest’s hand, and this act of humility means acknowledging that we need God to feed our hungry, weak souls. We Confess to God’s representative, and this act of humility means accepting that however broken we are, God still loves us and wants to heal us. Humility allows our faith to move us to love God deeply, as we fully recognize the abundance of His love for us.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Guide Questions

  1. How do we understand faith? Is it a belief in the truth about God? An emotional attachment? Or a commitment to live according to His will?
  2. How do we understand humility? Is it simply a lack of self-confidence? Or is it the profound realization of God’s immense love for us, even in our smallness?