Featured

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Featured

Clay of the Ground

1st Sunday of Lent [A]

February 22, 2026

Genesis 2:7-9, 3:1-7

Traditionally, the Gospel reading for the first Sunday of Lent is the story of Jesus in the wilderness for forty days, where He fasted and was tempted by Satan. However, in this reflection, we will look deeper into the first reading from the Book of Genesis.

The Church combines two stories in this first reading: the creation of Adam (Gen 2:7-9) and the fall of our first parents (Gen 3:1-7). In order to do this, the lectionary skips around 16 verses (Gen 2:10-25), omitting Adam’s activities in the Garden of Eden and the creation of Eve. I believe the reason is not purely practical (simply avoiding overly long reading), but rather that the Church wishes to show us a hidden truth that connects the two stories.

First, we must recognize that the story of the creation of Adam is not merely a biological lesson, but a profound theological truth. Adam was created from the dust of the ground (עפר מן־האדמהapar min ha-adama). We, as humans, are nothing but mere soil—fragile, dirty, and essentially worthless. In fact, there is a clear play on words in Hebrew to remind us of our lowly origin: the word Adam (the first man) is almost identical to the word for ground (Adama).

However, the Book of Genesis pushes further by pointing out that while we are nothing, God is everything; while we are powerless, God is omnipotent. Yet, despite the infinite gap between God and us, the author of Genesis reveals God’s immense love for humanity. Depicted as a divine artisan with His skillful hands and life-giving breath, God formed this worthless dust into one of His most refined creatures. Furthermore, God made us His co-workers in His Garden, entrusting us to care for the other creatures. We are who we are solely because of God’s love.

Moving to chapter 3, the serpent tempts Adam and Eve. His strategy is simple yet extremely effective. He claimed that God was not telling the truth and that God did not want Adam and Eve to be like Him, thus forbidding them to eat the fruit. The idea of being like God was extremely attractive, and pride began to corrupt their hearts. They desired to be like God without God, acting as His rivals rather than living as His servants. They forgot the most fundamental truth about themselves: they are nothing but dust, and everything good they have comes from God. Consequently, they fell.

By joining the stories of Adam’s creation and his fall, the Church teaches us that when pride poisons our hearts, we begin to ignore our humble origins and are doomed to fall. As St. John Chrysostom stated in a 4th-century homily: “[the story of Adam’s creation] is to teach us a lesson in humility, to suppress all pride, and to convince us of our own lowliness. For when we consider the origin of our nature, even if we should soar to the heavens in our achievements, we have a sufficient cause for humility in remembering that our first origin was from the earth.”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

In what areas of my life do I forget my humble origins (“dust”) and fail to recognize that all my gifts, talents, and successes ultimately come from God? How does pride manifest in my daily choices? Do I sometimes try to be “like God without God” by seeking total control over my life, rather than trusting Him as His servant and co-worker? When I “soar to the heavens” in my earthly achievements, what practical practices can I adopt to stay grounded and remember my fundamental reliance on God’s love?

Jesus and the Law

Sixth Sunday in Ordinary Time [C]

February 15, 2026

Matthew 5:17-37

Jesus makes it crystal clear that He came to fulfill the Law rather than abolish it. However, a deeper question remains: “Why is the Old Testament Law so vital that Jesus Himself felt bound to fulfill it?”

We often view laws and regulations as constraints that bind our freedom and limit our movement—something external imposed upon us. Yet, when we look at the bigger picture, we realize that laws are an integral part of almost all human communities. Even in the smallest contexts, such as the family, children obey their parents’ commands, even though they are often unwritten. Certainly, the larger and more complex a society becomes, the larger and more sophisticated the body of laws required.

Laws are necessary precisely because they guarantee the common good. By incentivizing those who contribute to society and punishing those who harm it, laws ensure the proper functioning and flourishing of the human community. Just as we use our minds to control our passions and govern ourselves toward genuine personal growth, we create laws to check our collective harmful behaviors and guide our society toward progress. Laws are not merely external impositions; they are the products of human reason designed to help us live better.

We can also view laws as tools to help us “domesticate” ourselves. Just as we domesticate wolves to transform them into dogs—taming their wildness to make them into helpful companions—so too do we subject our aggressive and violent natures to the rule of law to make ourselves into more mature individuals.

This brings us back to Jesus. While human minds are imperfect and therefore create imperfect laws, God’s mind is perfect and creates laws that are infallible (Ps 19:7). This is why Jesus clearly revealed His purpose: to fulfill God’s laws, not to abolish them. If human laws are designed to form us into better members of human society, then God’s laws are designed to form us into perfect men and women, ready for the Kingdom of Heaven.

However, Jesus also recognized that some regulations in the Old Testament were directed specifically at the ancient Israelites rather than at all people of all times. In fact, some laws, such as the regulation on divorce (Matt 5:31), were obviously enacted as a result of God’s concession to the hardness of human hearts.

Therefore, fulfilling the Law does not mean that Jesus simply endorsed all Old Testament regulations. Rather, He purified and re-taught them with greater clarity, specifically revealing the “heart” of the laws themselves. For instance, when Jesus reaffirmed the Ten Commandments, He pointed to the truth that killing and violence toward fellow human beings are rooted in the wrath within our own hearts. Unless we are able to control this internal anger, we are bound to harm others, leading to the destruction of life (Matt 5:21-22).

Ultimately, Jesus demonstrates that the Law is not a set of cold restrictions, but a path toward spiritual maturity and internal transformation. By fulfilling the Law, He invites us to move beyond mere outward obedience and instead embrace a heart aligned with the perfect love of God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

Do I view God’s commandments as burdens that restrict my freedom, or as a loving pathway designed for my genuine growth and happiness? Jesus teaches that violence begins internally; what hidden anger or resentment am I holding onto that prevents me from having a truly pure heart?Am I merely following the rules to appear “good” on the outside, or am I allowing God’s Law to tame my nature and transform me for His Kingdom?

Yesus dan Hukum

Minggu Biasa Keenam [A]

15 Februari 2026

Matius 5:17-37

Yesus dengan jelas menyatakan bahwa Ia datang untuk menggenapi Hukum, bukan untuk menghapusnya. Namun, pertanyaan yang lebih mendalam adalah: “Mengapa Hukum di Perjanjian Lama begitu penting sehingga Yesus sendiri seperti terikat untuk menggenapinya?”

Kita sering memandang hukum dan peraturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan kita dan membatasi gerak kita, sesuatu yang dipaksakan dari luar. Namun, ketika kita melihat gambaran yang lebih besar, kita menyadari bahwa hukum merupakan bagian integral dari semua komunitas manusia. Bahkan dalam konteks yang paling kecil sekalipun, seperti keluarga, anak-anak menaati perintah orang tua mereka, meskipun seringkali tidak tertulis. Tentu saja, semakin besar dan kompleks suatu masyarakat, semakin besar dan rumit pula sistem hukum yang diperlukan.

Hukum diperlukan tepatnya karena hal ini menjamin kebaikan bersama. Dengan memberi insentif kepada mereka yang berkontribusi pada komunitas dan menghukum mereka yang merugikannya, hukum memastikan komunitas berfungsi dengan baik dan menghasilkan kemakmuran bersama. Sama seperti kita menggunakan akal budi kita untuk mengendalikan nafsu dan mengatur diri kita menuju pertumbuhan pribadi yang sejati, kita menciptakan hukum untuk mengendalikan perilaku kolektif kita yang merugikan dan mengarahkan masyarakat kita menuju kemajuan. Hukum bukanlah sekadar paksaan eksternal; namun, hal ini adalah produk dari akal budi manusia yang dirancang untuk membantu kita hidup lebih baik.

Kita juga dapat memandang hukum sebagai alat untuk membantu kita “menjinakkan” diri kita sendiri. Sama seperti kita menjinakkan serigala untuk mengubahnya menjadi anjing—menjinakkan sifat liar mereka agar menjadi teman yang berguna—demikian pula kita menundukkan sifat agresif dan kekerasan kita dengan bantuan aturan hukum untuk menjadikan diri kita individu yang lebih dewasa.

Hal ini membawa kita kembali kepada Yesus. Akal budi manusia tidak sempurna dan oleh karena itu menciptakan hukum-hukum yang bisa salah, sementara akal budi Allah sempurna dan menciptakan hukum-hukum yang tidak dapat salah (Mz 19:7). Itulah mengapa Yesus dengan jelas mengungkapkan tujuan-Nya: untuk memenuhi hukum-hukum Allah, bukan untuk menghilangkannya. Jika hukum-hukum manusia dirancang untuk membentuk kita menjadi anggota masyarakat yang lebih baik, maka hukum-hukum Allah dirancang untuk membentuk kita menjadi pria dan wanita yang sempurna, siap untuk Kerajaan Surga.

Namun, Yesus juga menyadari bahwa beberapa peraturan dalam Perjanjian Lama ditujukan secara khusus kepada orang Israel kuno, bukan kepada semua orang di semua zaman. Faktanya, beberapa hukum, seperti peraturan tentang perceraian (Mat 5:31), jelas dibuat karena “kerasnya hati manusia.”

Oleh karena itu, menaati Hukum tidak berarti Yesus sekadar menyetujui semua peraturan di Perjanjian Lama. Sebaliknya, Dia memurnikan dan mengajarkan kembali peraturan-peraturan tersebut dengan lebih jelas, khususnya mengungkapkan “hati” dari hukum-hukum itu sendiri. Misalnya, ketika Yesus mengukuhkan kembali Sepuluh Perintah Allah, Dia menunjuk pada kebenaran bahwa pembunuhan dan kekerasan terhadap sesama manusia berakar pada amarah yang ada di dalam hati kita. Kecuali kita mampu mengendalikan amarah di hati, kita akan terus menyakiti orang lain, yang pada akhirnya akan menyebabkan kehancuran hidup mereka (Mat 5:21-22).

Pada akhirnya, Yesus menunjukkan bahwa Hukum bukanlah sekumpulan aturan yang kaku, tetapi jalan menuju kedewasaan rohani dan transformasi batin. Dengan memenuhi Hukum Allah, Dia mengundang kita untuk melampaui ketaatan external semata dan sebaliknya membentuk hati yang selaras dengan kasih sempurna Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah saya memandang perintah Allah sebagai beban yang membatasi kebebasan saya, atau sebagai jalan kasih yang dirancang untuk pertumbuhan dan kebahagiaan sejati saya? Yesus mengajarkan bahwa kekerasan bermula dari dalam; amarah atau dendam tersembunyi apa yang saya simpan yang menghalangi saya memiliki hati yang benar-benar murni? Apakah saya hanya mengikuti aturan untuk terlihat “baik” di luar, atau apakah saya membiarkan Hukum Allah menaklukkan sifat saya dan mengubah saya untuk Kerajaan-Nya?

Purifying One’s Heart

5th Sunday in Ordinary Time [A]

February 8, 2026

Matthew 5:13-16

Continuing His Sermon on the Mount, Jesus reveals our identity as the “light of the world.” As such, our light must shine and be seen by others. Interestingly, only one chapter after this teaching, Jesus instructs His listeners: “Be careful not to practice your righteousness in front of others to be seen by them” (Mt 6:1). At first glance, it may seem that Jesus is contradicting Himself. How are we to understand this?

While these instructions appear opposing, they are, in essence, complementary. The bridge between these two statements is intention: is the action meant to glorify the Lord or simply to seek personal glory? As Matthew 5:16 suggests, the motivation behind our good works is decisive. If we perform noble deeds to receive personal recognition, they lose their merit before the Lord. However, if we sincerely desire to lead people to God, our efforts truly please Him rather than men.

The Art of Discernment

Recognizing our true intentions is never a child’s play. It requires us to dwell in silence and reflect deeply on our actions and the motivations behind them. In the Catholic tradition, we call this spiritual process discernment; in our Dominican tradition, it is a vital part of contemplation. In modern scientific terms, this is meta-cognition—the act of “thinking about thinking.”

To practice this discernment, we can follow three simple steps:

  1. Seek the Virtue of Humility The ability to recognize our deepest intentions begins with God’s grace softening our hearts. Without humility, we may never consider that something might be “off” with our actions. Humility empowers us to face the unpolished parts of our humanity with contrition, leading to repentance. It acts as a sensor, detecting hidden motives driven by pride or self-interest.
  2. Ask Difficult Questions We must be attentive to our emotional reactions. Ask yourself: “When others ignore or fail to appreciate my good deeds, do I feel sad, angry, or disappointed? Do I lose the motivation to continue?” If the answer is yes, the motivation may be self-centered. Another vital question is: “If these good works were taken away from me, would I feel deeply pained or resentful?” Such a reaction often indicates an unhealthy attachment, suggesting we view the work as “ours” rather than “the Lord’s.”
  3. Request the Purification of Intentions Once we become aware of our interior motivations, we should not be discouraged or stop doing good. Even if our intentions are mingled with selfish desires, God’s grace is constantly working to sanctify us. To purify your heart:
    • Be grateful for every opportunity to do good, whether the task is big or small, a success or a failure.
    • Redirect praise: When people appreciate your deeds, invite them to thank the Lord with you.
    • Embrace criticism: Be thankful for those who criticize you, as they can be instruments of your spiritual purification.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
What are our good works we do for our families, our community and the Church? When others ignore or fail to appreciate my good deeds, do I feel sad, angry, or disappointed? Do I lose the motivation to continue? If these good works were taken away from me, would I feel deeply pained or resentful? Do I prioritize our ministries more than my family?

Pemurnian Hati

Minggu Biasa Kelima [A]

8 Februari 2026

Matius 5:13-16

Dalam kelanjutan Khotbah di Bukit, Yesus mengungkapkan identitas kita sebagai “terang dunia.” Sebagai terang, kita harus bersinar dan terlihat oleh orang lain. Menariknya, hanya satu bab setelah pengajaran ini, Yesus memberi perintah kepada pendengarnya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Sepertinya Yesus mengajarkan dua hal yang saling bertentangan. Bagaimana kita memahami hal ini?

Meskipun perintah-perintah ini tampak bertentangan, pada dasarnya mereka saling melengkapi. Jembatan antara kedua pernyataan ini adalah “niat” kita. Apakah tindakan baik atau keagamaan yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan atau sekadar mencari kemuliaan pribadi? Jika kita melakukan perbuatan yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, tindakan-tindakan ini kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Namun, jika kita dengan tulus ingin membawa orang kepada Allah, usaha kita benar-benar akan berkenan bagi Allah.

Mengenali niat atau intensi di balik tindakan-tindakan kita sejati bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan dan memikirkan secara mendalam tentang tindakan kita serta motivasi di baliknya. Dalam tradisi Katolik, proses spiritual ini disebut “discernment” (pembedaan roh); dalam tradisi Dominikan, hal ini merupakan bagian penting dari kontemplasi. Dalam istilah ilmiah modern, ini disebut meta-kognisi atau proses “berpikir tentang berpikir.”

Untuk mempraktikkan “discernment” ini, kita dapat mengikuti tiga langkah sederhana:

  1. Memohon keutamaan Kerendahan Hati. Kemampuan untuk mengenali niat terdalam kita dimulai dengan rahmat Allah yang melembutkan hati kita. Tanpa kerendahan hati, kita mungkin tidak pernah mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dengan tindakan-tindakan kita. Kerendahan hati memberdayakan kita untuk menghadapi bagian-bagian yang belum sempurna dari kemanusiaan kita dengan penyesalan, yang mengarahkan kita pada pertobatan. Kerendahan hati bertindak sebagai “sensor,” mendeteksi motif tersembunyi yang berasal dari kesombongan atau kepentingan diri sendiri.
  2. Bertanya pertanyaan sulit dan memperhatikan reaksi emosional kita. Saat discernment, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya?” Jika jawabannya ya, niat kita mungkin masih bersifat egois. Pertanyaan penting lainnya adalah: “Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya merasa sangat sakit hati atau dendam?” Reaksi semacam ini sering kali menunjukkan keterikatan yang tidak sehat, dan kita cenderung memandang karya baik tersebut sebagai “milik kita” daripada “milik Tuhan.”
  3. Meminta permurnian niat. Setelah kita menyadari motivasi batin kita, kita tidak boleh putus asa atau berhenti berbuat baik. Ini juga godaan dari sang jahat untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Meskipun niat kita tercampur dengan keinginan egois, rahmat Allah terus bekerja untuk menyucikan kita. Untuk memurnikan hati kita, ada beberapa hal praktis yang bisa kita lakukan:
  • Belajar bersyukur. Bersyukurlah atas setiap kesempatan untuk berbuat baik, baik karya besar maupun kecil, sukses maupun gagal.
  • Alihkan pujian: Ketika orang lain menghargai perbuatan Anda, ajaklah mereka untuk bersyukur kepada Tuhan bersama Anda.
  • Terima kritik: Bersyukurlah kepada mereka yang mengkritik Anda, karena mereka dapat menjadi alat permurnian rohani Anda.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa saja perbuatan baik yang saya lakukan untuk keluarga, komunitas, dan Gereja? Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya? Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya akan merasa sangat sakit hati atau dendam? Apakah saya memprioritaskan pelayanan ini lebih dari keluarga saya?