Purifying One’s Heart

5th Sunday in Ordinary Time [A]

February 8, 2026

Matthew 5:13-16

Continuing His Sermon on the Mount, Jesus reveals our identity as the “light of the world.” As such, our light must shine and be seen by others. Interestingly, only one chapter after this teaching, Jesus instructs His listeners: “Be careful not to practice your righteousness in front of others to be seen by them” (Mt 6:1). At first glance, it may seem that Jesus is contradicting Himself. How are we to understand this?

While these instructions appear opposing, they are, in essence, complementary. The bridge between these two statements is intention: is the action meant to glorify the Lord or simply to seek personal glory? As Matthew 5:16 suggests, the motivation behind our good works is decisive. If we perform noble deeds to receive personal recognition, they lose their merit before the Lord. However, if we sincerely desire to lead people to God, our efforts truly please Him rather than men.

The Art of Discernment

Recognizing our true intentions is never a child’s play. It requires us to dwell in silence and reflect deeply on our actions and the motivations behind them. In the Catholic tradition, we call this spiritual process discernment; in our Dominican tradition, it is a vital part of contemplation. In modern scientific terms, this is meta-cognition—the act of “thinking about thinking.”

To practice this discernment, we can follow three simple steps:

  1. Seek the Virtue of Humility The ability to recognize our deepest intentions begins with God’s grace softening our hearts. Without humility, we may never consider that something might be “off” with our actions. Humility empowers us to face the unpolished parts of our humanity with contrition, leading to repentance. It acts as a sensor, detecting hidden motives driven by pride or self-interest.
  2. Ask Difficult Questions We must be attentive to our emotional reactions. Ask yourself: “When others ignore or fail to appreciate my good deeds, do I feel sad, angry, or disappointed? Do I lose the motivation to continue?” If the answer is yes, the motivation may be self-centered. Another vital question is: “If these good works were taken away from me, would I feel deeply pained or resentful?” Such a reaction often indicates an unhealthy attachment, suggesting we view the work as “ours” rather than “the Lord’s.”
  3. Request the Purification of Intentions Once we become aware of our interior motivations, we should not be discouraged or stop doing good. Even if our intentions are mingled with selfish desires, God’s grace is constantly working to sanctify us. To purify your heart:
    • Be grateful for every opportunity to do good, whether the task is big or small, a success or a failure.
    • Redirect praise: When people appreciate your deeds, invite them to thank the Lord with you.
    • Embrace criticism: Be thankful for those who criticize you, as they can be instruments of your spiritual purification.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:
What are our good works we do for our families, our community and the Church? When others ignore or fail to appreciate my good deeds, do I feel sad, angry, or disappointed? Do I lose the motivation to continue? If these good works were taken away from me, would I feel deeply pained or resentful? Do I prioritize our ministries more than my family?

Pemurnian Hati

Minggu Biasa Kelima [A]

8 Februari 2026

Matius 5:13-16

Dalam kelanjutan Khotbah di Bukit, Yesus mengungkapkan identitas kita sebagai “terang dunia.” Sebagai terang, kita harus bersinar dan terlihat oleh orang lain. Menariknya, hanya satu bab setelah pengajaran ini, Yesus memberi perintah kepada pendengarnya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Sepertinya Yesus mengajarkan dua hal yang saling bertentangan. Bagaimana kita memahami hal ini?

Meskipun perintah-perintah ini tampak bertentangan, pada dasarnya mereka saling melengkapi. Jembatan antara kedua pernyataan ini adalah “niat” kita. Apakah tindakan baik atau keagamaan yang kita lakukan untuk memuliakan Tuhan atau sekadar mencari kemuliaan pribadi? Jika kita melakukan perbuatan yang baik untuk mendapatkan pengakuan dan pujian dari orang lain, tindakan-tindakan ini kehilangan nilainya di hadapan Tuhan. Namun, jika kita dengan tulus ingin membawa orang kepada Allah, usaha kita benar-benar akan berkenan bagi Allah.

Mengenali niat atau intensi di balik tindakan-tindakan kita sejati bukanlah hal yang mudah. Hal ini menuntut kita untuk meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan dan memikirkan secara mendalam tentang tindakan kita serta motivasi di baliknya. Dalam tradisi Katolik, proses spiritual ini disebut “discernment” (pembedaan roh); dalam tradisi Dominikan, hal ini merupakan bagian penting dari kontemplasi. Dalam istilah ilmiah modern, ini disebut meta-kognisi atau proses “berpikir tentang berpikir.”

Untuk mempraktikkan “discernment” ini, kita dapat mengikuti tiga langkah sederhana:

  1. Memohon keutamaan Kerendahan Hati. Kemampuan untuk mengenali niat terdalam kita dimulai dengan rahmat Allah yang melembutkan hati kita. Tanpa kerendahan hati, kita mungkin tidak pernah mempertimbangkan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” dengan tindakan-tindakan kita. Kerendahan hati memberdayakan kita untuk menghadapi bagian-bagian yang belum sempurna dari kemanusiaan kita dengan penyesalan, yang mengarahkan kita pada pertobatan. Kerendahan hati bertindak sebagai “sensor,” mendeteksi motif tersembunyi yang berasal dari kesombongan atau kepentingan diri sendiri.
  2. Bertanya pertanyaan sulit dan memperhatikan reaksi emosional kita. Saat discernment, kita perlu bertanya pada diri sendiri: “Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya?” Jika jawabannya ya, niat kita mungkin masih bersifat egois. Pertanyaan penting lainnya adalah: “Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya merasa sangat sakit hati atau dendam?” Reaksi semacam ini sering kali menunjukkan keterikatan yang tidak sehat, dan kita cenderung memandang karya baik tersebut sebagai “milik kita” daripada “milik Tuhan.”
  3. Meminta permurnian niat. Setelah kita menyadari motivasi batin kita, kita tidak boleh putus asa atau berhenti berbuat baik. Ini juga godaan dari sang jahat untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Meskipun niat kita tercampur dengan keinginan egois, rahmat Allah terus bekerja untuk menyucikan kita. Untuk memurnikan hati kita, ada beberapa hal praktis yang bisa kita lakukan:
  • Belajar bersyukur. Bersyukurlah atas setiap kesempatan untuk berbuat baik, baik karya besar maupun kecil, sukses maupun gagal.
  • Alihkan pujian: Ketika orang lain menghargai perbuatan Anda, ajaklah mereka untuk bersyukur kepada Tuhan bersama Anda.
  • Terima kritik: Bersyukurlah kepada mereka yang mengkritik Anda, karena mereka dapat menjadi alat permurnian rohani Anda.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apa saja perbuatan baik yang saya lakukan untuk keluarga, komunitas, dan Gereja? Ketika orang lain mengabaikan atau tidak menghargai perbuatan baik saya, apakah saya merasa sedih, marah, atau kecewa? Apakah saya kehilangan motivasi untuk terus melakukannya? Jika perbuatan baik ini diambil dari saya, apakah saya akan merasa sangat sakit hati atau dendam? Apakah saya memprioritaskan pelayanan ini lebih dari keluarga saya?