Apakah yang dimaksud dengan Pembaptisan?

Pembaptisan Tuhan [C]

12 Januari 2025

Lukas 3:15-16, 21-22

Yesus memulai misi pewartaan-Nya setelah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Demikian pula, kita memulai kehidupan baru kita sebagai anak-anak Allah dan mengikuti Yesus di jalan salib-Nya melalui sakramen baptis. Namun, apakah sebenarnya baptisan itu, dan mengapa pembaptisan dikaitkan dengan permulaan dari sesuatu yang begitu penting?

Ritual Kemurnian Yahudi

Kata Yunani “βαπτίζειν” (baptizein) pada mulanya berarti “mencelupkan ke dalam air” atau “membasuh dengan air.” Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, kata βαπτίζειν merujuk pada ritual pemurnian atau pentahiran (lih. Yudit 12:7). Apakah ritual pentahiran dalam Perjanjian Lama ini? Untuk memahaminya, kita perlu menyadari bahwa Israel kuno menganut hukum tahir-najis.

Meskipun tidak sepenuhnya bersifat moral, hukum tahir-najis merupakan bagian integral dari Taurat. Hukum ini menentukan apakah seorang Yahudi secara ritual murni/tahir atau najis. Ketika orang Yahudi dianggap “tahir”, mereka dapat memasuki tempat-tempat suci seperti Bait Allah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban. Dengan mempersembahkan kurban, mereka dapat menyembah Tuhan Allah dan menerima berkat-berkat, seperti pengampunan dosa dan persekutuan dengan Allah dan sesama.

Seorang Yahudi dapat menjadi najis melalui kontak fisik dengan berbagai hal, seperti: jenazah, cairan tubuh (misalnya, darah menstruasi, air mani pria), hewan tertentu (misalnya, babi, unta, atau serangga tertentu), dan beberapa penyakit kulit. Jika mereka menjadi najis, mereka harus melakukan ritual pentahiran, biasanya dengan membasuh dengan air (βαπτίζειν). Dengan demikian, hukum tahir-najis memastikan bahwa mereka dapat memasuki tempat kudus dengan layak.

Pembaptisan Yohanes

Yohanes Pembaptis memperkenalkan sebuah perubahan yang signifikan. Pembaptisannya (pembasuhan dengan air) bukan lagi sebuah ritual pentahiran tetapi sebuah simbol pertobatan. Bagi Yohanes, yang terpenting bukanlah menjadi bersih atau tahir secara ritual tetapi hidup bermoral benar di hadapan Tuhan. Dengan demikian, tidak ada artinya menjalani ritual pentahiran sementara terus hidup dalam dosa.

Yohanes mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia membaptis dengan air sebagai simbol pertobatan, tetapi seseorang yang lebih besar darinya akan datang untuk membaptis di dalam Roh Kudus dan api. Apa artinya dibaptis “dalam Roh Kudus dan api”? Sepanjang sejarah Gereja, frasa ini mendapatkan banyak tafsiran. St. Yohanes Krisostomus mengajarkan bahwa baptisan Yesus merujuk pada Pentakosta, di mana Roh Kudus turun seperti api dan memenuhi para murid Yesus dengan berbagai rahmat. Origen, di sisi lain, berpendapat bahwa baptisan dalam Roh Kudus adalah untuk mereka yang percaya dan bertobat, sementara baptisan dalam api adalah untuk mereka yang menolak untuk percaya dan bertobat.

Ajaran Gereja tentang Pembaptisan

Meskipun penafsirannya berbeda-beda, sangat penting untuk menerima baptisan Yesus, dan Yesus membaptis kita melalui tubuh-Nya, Gereja. Dengan demikian, sakramen baptis  yang dilakukan oleh Gereja, berasal dari Yesus dan penting untuk keselamatan (1 Pet 3:21). Baptisan ini juga memberikan rahmat pengudusan kepada jiwa (2 Pet 1:4) dan mengubah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Tidak seperti baptisan Yohanes, yang merupakan tanda pertobatan secara eksternal, baptisan Yesus – yang diberikan melalui Gereja-Nya – benar-benar mengubah jiwa kita dan memampukan kita untuk hidup layak di hadapan Allah.

Tambahan: Apakah Pembaptisan Selalu Berarti ditenggelamkan?

Kata βαπτίζειν dalam Alkitab tidak selalu berarti seluruh tubuh masuk air. Sebagai contoh, dalam Markus 7:4-8, βαπτίζειν digunakan untuk menggambarkan ritual pembasuhan bagian tubuh tertentu, seperti tangan, atau bahkan pembasuhan perkakas. Gereja Katolik mengajarkan bahwa pembaptisan adalah sah baik dilakukan dengan memasukkan seluruh tubuh ke dalam air atau dengan menuangkan air ke kepala (KGK 1239-1240).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi dan Panduan

Sudahkah kita menerima baptisan Yesus yang dilakukan melalui Gereja-Nya? Apakah kita mendorong anggota keluarga, kerabat, dan teman-teman untuk dibaptis? Apakah kita menyadari rahmat yang luar biasa yang kita terima melalui baptisan? Apakah kita menghidupi semangat baptisan kita dalam kehidupan sehari-hari?

Pilgrims of Hope

The Epiphany [C]
January 5, 2025
Matthew 2:1-12

Only Matthew recorded the story of the Magi from the East, devoting just 12 verses to it (around 1.12% of his Gospel). Yet, Christians throughout generations have found this story deeply fascinating and full of mysteries. Who were these Magi? Were there really three of them? Where exactly did they come from in the East? What was the “star” they saw? What is the meaning behind their gifts? While these questions remain the subject of debate and discussion, one thing draws us all to this story—we can all relate to the experience of the Magi. But what exactly is this shared experience?

We are captivated by the Magi’s journey because we, too, are journeying. Every day, we travel—from home to school or work, from one place to another. Every Sunday, we journey to church. Occasionally, we explore new places for vacation, discovery, or pilgrimage. At other times, we are compelled to go places we would rather avoid, like hospitals. At a deeper level, life itself is a journey. From the moment we leave our mother’s womb until we reach our final destination, we are constantly moving through time and space. Deep within, we ask ourselves, “Where are we going? Does my journey have a purpose?”

The story of the Magi offers us answers to these fundamental questions. When the Magi discovered the “star” of the newborn King, they knew they had to find Him. However, they could have misinterpreted the star’s meaning. Along the way, they faced potential dangers and unforeseen challenges. The risks were enormous. Yet, they did not give up easily. As true pilgrims, they pressed on with hope—hope to find the One they desired most.

Matthew gives us few details about their journey, leaving much to our imagination. Yet, we can sense their surprise when they failed to find the newborn King in Jerusalem. They likely expected the King to be the son of Herod, the reigning monarch. Despite this setback, they did not lose hope but continued their search. Their surprise grew even greater when they found the baby King in the humble home of Joseph and Mary. Yet again, despite unmet expectations, their hope pointed them to this little baby would become the King of Israel, and thus, they offered their homage and gifts. The Magi became the first non-Israelites to accept Jesus. Their journey reminds us of St. Paul’s words: “Hope does not disappoint” (Romans 5:5).

Like the Magi, we, too, are pilgrims in this world. At times, we feel unsure of our paths, surrounded by uncertainties. Sometimes, our journey seems meaningless, especially when we are tired or lost. Often, we are afraid to face challenges and dangers. Yet, deep inside, we know we must keep moving forward, hoping that our journey toward Jesus will bear fruit. For it is He whom our hearts desire most. Gabriel Marcel, a Catholic philosopher, beautifully expresses this in his book Homo Viator, “I almost think that hope is for the soul what breathing is for the living organism. Where hope is lacking, the soul dries up and withers…” We are pilgrims on earth—not of fear or despair, but of hope.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions

Are we aware that we are sojourners on this earth, not permanent residents? Do we recognize our true destination? What efforts do we make to stay on the right path? How do we respond to challenges and troubles in our journey? How can we keep our hope alive during this long journey?

Peziarah dengan Harapan

Epifani [C]

5 Januari 2025

Matius 2:1-12

Hanya Matius yang mencatat kisah orang Majus dari Timur, dengan hanya 12 ayat (sekitar 1,12% dari Injilnya). Namun, umat Kristiani dari generasi ke generasi selalu melihat kisah ini sangat menarik dan penuh dengan misteri. Siapakah orang-orang Majus ini? Benarkah mereka berjumlah tiga orang? Dari mana tepatnya mereka datang dari Timur? Apakah “bintang” yang mereka lihat? Apa makna di balik pemberian mereka? Sementara pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi, ada satu hal yang membuat kita tidak berbeda dengan para Majus. Apakah itu?

Kenapa kita bisa terpikat oleh kisah perjalanan orang Majus karena kita juga sejatinya sedang melakukan perjalanan. Setiap hari, kita melakukan perjalanan, dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari Minggu, kita melakukan perjalanan ke gereja. Terkadang, kita menjelajahi tempat-tempat baru untuk berlibur atau berziarah. Di lain waktu, kita terpaksa untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tidak sukai, seperti rumah sakit karena kita sakit. Sejatinya, hidup kita itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Dari saat kita meninggalkan rahim ibu kita, hingga kita mencapai tujuan akhir kita, kita terus bergerak melintasi ruang dan waktu. Kita adalah peziarah di dunia ini. Jauh di dalam hati, tidak jarang kita bertanya, “Ke mana saya pergi? Apakah perjalanan saya memiliki tujuan?”

Kisah para Majus memberikan kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ketika para Majus menemukan “bintang” sang Raja yang baru lahir, mereka tahu bahwa mereka harus menemukan-Nya. Namun, mereka bisa saja salah menafsirkan arti bintang itu. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa saja menghadapi potensi bahaya dan tantangan yang tak terduga. Risikonya sangat besar. Namun, mereka tidak menyerah. Sebagai peziarah sejati, mereka terus maju dengan satu harapan untuk menemukan Dia yang paling mereka dambakan.

Matius hanya memberikan sedikit rincian tentang perjalanan mereka, dan membiarkan imajinasi kita mengambilnya selebihnya. Namun, kita dapat merasakan betapa terkejutnya mereka ketika mereka gagal menemukan Raja yang baru lahir di Yerusalem. Mereka mungkin berharap bahwa Raja itu adalah putra Herodes, raja yang sedang berkuasa pada saat itu. Meskipun mengalami kegagalan, mereka tidak hilang harapan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Rasa terkejut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka menemukan Raja mungil di rumah Yusuf dan Maria yang sederhana. Sekali lagi, walaupun di luar bayangan mereka, mereka tidak berhenti berharap bahwa kelak, bayi ini sungguh akan menjadi raja besar, dan mereka memberikan penghormatan dan persembahan. Para Majus menjadi orang non-Israel pertama yang menerima Yesus. Perjalanan mereka mengingatkan kita akan kata-kata Santo Paulus: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Roma 5:5).

Seperti orang Majus, kita juga adalah peziarah di dunia ini. Terkadang, kita merasa tidak yakin dengan jalan kita, dikelilingi oleh ketidakpastian. Terkadang, perjalanan kita tampak tidak berarti, terutama ketika kita lelah atau tersesat. Seringkali, kita takut menghadapi tantangan dan bahaya. Namun, jauh di dalam lubuk hati kita, kita tahu bahwa kita harus terus melangkah maju, karena sebuah pengharapan bahwa perjalanan kita menuju Yesus akan menghasilkan buah sejati. Karena Dialah yang paling dirindukan oleh hati kita. Gabriel Marcel, seorang filsuf Katolik, dengan indah mengungkapkan hal ini dalam bukunya Homo Viator, “Saya berpikir bahwa harapan bagi jiwa adalah seperti bernapas bagi organisme hidup. Di mana harapan tidak ada, jiwa menjadi kering dan layu…” Kita adalah peziarah di bumi ini, dan kita berjalan bukan karena takut atau putus asa, tetapi karena pengharapan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

Apakah kita sadar bahwa kita adalah pendatang di bumi ini, bukan penghuni tetap? Apakah kita mengenali tujuan kita yang sebenarnya? Upaya apa yang kita lakukan untuk tetap berada di jalan yang benar? Bagaimana kita menanggapi tantangan dan masalah dalam perjalanan kita? Bagaimana kita dapat menjaga harapan kita tetap hidup selama perjalanan panjang ini?

Hidden Life, a Holy Life

Feast of the Holy Family [C]

December 29, 2024

Luke 2:41-52

Jesus did not appear in the world as a fully grown man out of nowhere, nor did He descend from the sky like an alien. Instead, He chose to be born as a little child into the family of Joseph and Mary. Interestingly, most of the events within this family, spanning more than 30 years, remain hidden. What did Jesus do during this time? Why did He choose to remain hidden during these years?

The little information we have comes from St. Luke, who tells us that Jesus submitted to the authority of Joseph and Mary and grew in age and wisdom, much like any other child (Luke 2:52). This implies that Jesus experienced and acted as any Israelite boy or man would in His time. As a baby, Jesus received constant nourishment from Mary. He learned to speak, walk, and play. As a young child, He likely helped Mary with household chores and played with His peers and relatives. When He became strong enough, He helped Joseph with his work and learned the family trade of carpentry. Being a descendant of David, Joseph was likely responsible for teaching Jesus to read, especially the Torah.

As a young man, Jesus continued to assist Joseph in his work. From time to time, they may have travelled to nearby major cities, such as Sepphoris, to work on various building projects. It’s reasonable to believe that Jesus not only learned to read the Torah but also to interpret and teach the Law of Moses under Joseph’s guidance. Young Jesus likely observed His foster father discussing and debating the precepts of the Law with local Pharisees and scribes. Perhaps He even listened as Joseph preached in the synagogue in Nazareth.

From this account, we see that there was nothing outwardly remarkable about the hidden lives of Jesus, Mary, and Joseph. Everything seemed ordinary. Had Jesus been born in our time, He would have grown up doing many of the things we commonly do. However, it would be a mistake to think that what Jesus did in Nazareth was insignificant. Jesus is not only fully human but also fully divine. His divinity sanctifies every aspect of His humanity, including the most ordinary moments of His life. Whatever Jesus did—whether working, eating, or even resting—was holy and salvific.

Through the mystery of the Incarnation, Jesus shared in our humanity. Because of this, we may share in His divinity through grace. Many of us live ordinary lives, punctuated by occasional exceptional moments. Yet, through Jesus and His hidden life, everything we do—even the smallest and most mundane tasks—can become a means of sanctification and salvation when done out of love for God and our neighbors. The little, unseen things we do in our families, schools, and workplaces can sanctify us if we offer them with love. The sufferings and pains we endure can also make us holy when we bear them patiently and without sin. Ultimately, the holiness of ordinary things is made possible when we unite everything we do, endure, and live with the living sacrifice of Jesus in the Eucharist.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

Do we recognize that Jesus is present even in our daily and ordinary lives? Do we realize that even simple things we do in our lives contribute to our holiness? Do we know that God see even little and hidden acts of love we do for our parents, children and even strangers?

Hidup yang Tersembunyi, Hidup yang Kudus

Pesta Keluarga Kudus [C]

29 Desember 2024

Lukas 2:41-52

Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?

Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.

Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.

Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.

Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?

Cold Yet Blessed Christmas

Nativity of Our Lord [C]
December 25, 2024
Luke 2:1–14

One privilege I had as a priest was the opportunity to study in Rome, and one unforgettable experience was celebrating Christmas in this eternal city. A striking difference from my home country was immediately apparent: Christmas in Rome is cold. Coming from a country near the equator, where the temperature remains relatively constant throughout the year, experiencing December as winter (with temperatures ranging from 8°C to -1°C) was a stark contrast. As I celebrated Christmas in this chilly season, my first thought was that it must have been a similarly cold winter in Bethlehem when Jesus was born.

Some skeptics argue that it’s unlikely Jesus was born in December, claiming it would have been too cold for shepherds to keep watch over their sheep in the open fields. While December is indeed winter in Israel, it’s not so cold as to prevent people from staying outside. A quick online search reveals that nighttime temperatures in Bethlehem-Jerusalem average around 7–8°C. After all, sheep are typically kept outdoors, and the shepherds, familiar with these conditions, would have been well-prepared to endure the chilly environment.

The shepherds may have been prepared for the cold, but what about the baby Jesus? While winters in Israel are milder than in many European countries, the fact remains that winter in Bethlehem is cold and chilling. The first sensation baby Jesus likely felt upon leaving the warmth of Mary’s womb was the cold. Certainly, Mary and Joseph would have done their utmost to protect and keep Him warm, but the low temperatures could not be completely avoided. This chill would have been even more pronounced given that Jesus was not born in a modern, comfortable maternity ward but in a humble place for animals – a cave, as tradition tells us.

Yet, this very humility is at the heart of Christmas: Emmanuel, God-with-us. Our God is not a distant deity hidden away in the heavens, occasionally sending angels to interact with us. He is intimately present, becoming one of us, human. From the moment of His conception, He felt, experienced, and endured everything we are and do. The coldness of that Christmas night was only the beginning. Jesus would come to know hunger and thirst, pain and sorrow, just as we do. He also embraced the warmth and love of Mary and Joseph. He grew and learned to live as we do. He knows who we are because He has become one of us.

It’s true that we often pray for the Lord to remove our suffering, pain, and sorrow, yet it seems these struggles persist. In His divine wisdom, God allows our suffering, though we may not always understand the reasons. However, through the mystery of Christmas, we are assured of one profound truth: Jesus knows our pain. He shares in it and bears it with us. This is our Gospel, this is our Christmas.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Merry and Blessed Christmas!

Natal yang Dingin Namun Penuh Berkah

Kelahiran Tuhan Kita [C]

25 Desember 2024

Lukas 2:1-14

Saya bersyukur memperoleh kesempatan untuk belajar di Roma, dan salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah merayakan Natal di kota yang abadi ini. Perbedaan yang mencolok dari perayaan natal di Indonesia langsung terasa: Natal di Roma terasa dingin. Berasal dari negara yang berada di garis khatulistiwa, di mana suhu udara relatif konstan sepanjang tahun, mengalami bulan Desember sebagai musim dingin (dengan suhu berkisar antara 8°C hingga -1°C) merupakan hal yang sangat baru. Ketika saya merayakan Natal di musim dingin ini, pikiran pertama saya adalah Bethlehem juga sangat dingin ketika Yesus lahir.

Beberapa orang yang tidak percaya berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember, dengan alasan bahwa cuaca terlalu dingin bagi para gembala untuk menjaga domba-domba mereka di padang rumput (Luk 2:8). Meskipun Desember memang merupakan musim dingin di Israel, namun dinginnya tidak mencegah orang untuk tetap berada di luar rumah. Penelusuran cepat di internet menunjukkan bahwa suhu malam hari di Bethlehem-Yerusalem rata-rata sekitar 7-8°C. Lagi pula, domba-domba biasanya dipelihara di luar ruangan, dan para gembala, yang terbiasa dengan kondisi seperti ini, pasti sudah siap untuk bertahan di lingkungan yang dingin.

Para gembala mungkin sudah siap menghadapi cuaca dingin, tapi bagaimana dengan bayi Yesus? Meskipun musim dingin di Israel tidak sedingin di banyak negara Eropa, faktanya musim dingin di Bethlehem tetap dingin dan menggigil. Sensasi pertama yang mungkin dirasakan oleh bayi Yesus ketika meninggalkan kehangatan rahim Maria adalah rasa dingin. Tentu saja, Maria dan Yusuf telah melakukan yang terbaik untuk melindungi dan menjaga Dia tetap hangat, tetapi suhu yang rendah tidak dapat sepenuhnya dihindari. Rasa dingin ini akan semakin terasa karena Yesus tidak dilahirkan di ruang bersalin yang modern dan nyaman, melainkan di tempat yang sederhana untuk hewan – sebuah gua, seperti yang dikatakan oleh tradisi.

Namun, kerendahan hati inilah yang menjadi inti dari Natal: Imanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh yang tersembunyi di surga, yang sesekali mengirim malaikat untuk berinteraksi dengan kita. Dia hadir secara intim, menjadi salah satu dari kita, manusia. Sejak saat pembuahan-Nya, Dia merasakan, mengalami, dan menanggung segala sesuatu yang kita alami dan lakukan. Dinginnya malam Natal itu hanyalah permulaan. Yesus akan merasakan lapar dan haus, rasa sakit dan kesedihan, sama seperti kita. Dia juga merasakan kehangatan dan kasih Maria dan Yusuf. Dia bertumbuh dan belajar untuk hidup seperti kita. Dia tahu siapa kita karena Dia telah menjadi salah satu dari kita.

Memang benar bahwa kita sering berdoa agar Tuhan menyingkirkan permasalahan, rasa sakit, dan kesedihan kita, namun tampaknya pergumulan ini terus berlanjut. Dalam kebijaksanaan ilahi-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan ini terjadi, meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti alasannya. Namun, melalui misteri Natal, kita yakin akan satu kebenaran yang mendalam: Yesus mengetahui penderitaan kita. Dia ikut merasakannya dan menanggungnya bersama kita. Inilah Injil kita, inilah Natal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Selamat Natal!

The Tale of Two Mothers

4th Sunday of Advent [C]

December 22, 2024

Luke 1:39-45

Mary and Elizabeth are two of the most powerful women in the Bible. Yet, their power does not stem from physical strength. Mary is a young and tender woman, while Elizabeth is elderly. Their immense strength lies in their unwavering commitment to follow the will of God. But what is God’s will for these remarkable women? They are called to be mothers.

Motherhood is often seen as a natural progression in a woman’s life. After marriage, it is generally expected that a woman will bear children. The female body undergoes incredible transformations to create a nurturing environment for a growing baby. These physiological changes are not only numerous but also gradual, adapting to the baby’s needs during pregnancy. The activities of the heart, lungs, kidneys, and other organs increase significantly to support both mother and child. Additionally, the body produces new hormones that affect various organs, metabolism, and psychological states. Even after giving birth, the mother’s body doesn’t immediately return to its pre-pregnancy state; instead, it continues to transform to support the newborn. For example, the body produces breast milk, carefully adjusted in quantity and nutrients to meet the baby’s needs.

Despite the marvel of these processes, the pregnancy has taken place to billions of women and this has led some to view it as merely a biological or mechanical function necessary for the survival of the species. Some people reduce the female body to a mere reproductive tool or see pregnancy as nothing more than a temporary vessel for the baby. This mechanical perspective on the body and the mother-child relationship has driven some to make extreme decisions, including terminating pregnancies. The reasons for such decisions are varied—fears of overpopulation, concerns about increasing carbon emissions, economic challenges, or simply the perceived inconvenience of having children.

This is where Mary and Elizabeth stands as our examples. Both women recognized that their pregnancies were not just biological processes. They understood the risks involved in their unique situations. Mary, though betrothed to Joseph, was pregnant without any involvement of a man. She risked being accused of adultery, a crime punishable by stoning under the law (Deuteronomy 22:22-24). Elizabeth, on the other hand, faced the physical dangers of pregnancy in old age, which could have jeopardized her life. Despite these risks, both women embraced their roles as mothers. Why? Because they believed that motherhood was God’s will for them—a holy vocation. They trusted that the God who called them to this sacred mission would also sustain and provide for them.

Holiness is the key to true happiness. This is why the meeting between Mary and Elizabeth is marked by joy rather than fear or anxiety. In today’s world, where having children is often viewed as a burden rather than a blessing, an act of faith, or a source of joy, Mary and Elizabeth serve as beacons of hope. Their courage and faith inspire us to see motherhood as a divine calling and a profound source of happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  1. How do we perceive pregnancy? Is it merely a biological process, a socio-cultural event, an economic burden, or a divine calling to holiness?
  2. For mothers: How do you view your children? How do you nurture them and guide them in their journey through life?
  3. For men: What roles do you play in supporting pregnant mothers or mothers caring for their babies?

Kisah Dua Orang Ibu

Minggu ke-4 Masa Adven [C]

22 Desember 2024

Lukas 1:39-45

Maria dan Elisabet adalah dua wanita yang paling kuat di dalam Alkitab. Namun, kekuatan mereka tidak berasal dari kekuatan fisik. Maria adalah seorang wanita muda dan lembut, sementara Elisabet sudah lanjut usia. Kekuatan mereka yang luar biasa terletak pada komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk menjadi ibu. Namun, bagaimana mereka melihat panggilan mereka sebagai ibu? Dan apa hidup mereka masih relevan bagi kita sekarang?

Menjadi seorang ibu sering kali dipandang sebagai perkembangan alamiah dalam kehidupan seorang wanita. Setelah menikah, umumnya seorang wanita akan mengandung dan melahirkan anak. Tubuh wanita mengalami transformasi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi bayi yang sedang tumbuh. Perubahan fisiologis ini tidak hanya banyak tetapi juga bertahap, beradaptasi dengan kebutuhan bayi selama kehamilan. Aktivitas jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lainnya meningkat secara signifikan untuk mendukung ibu dan anak. Selain itu, tubuh memproduksi hormon-hormon baru yang memengaruhi berbagai organ, metabolisme, dan kondisi psikologis. Bahkan setelah melahirkan, tubuh ibu tidak langsung kembali ke kondisi sebelum hamil, melainkan terus bertransformasi untuk mendukung bayi yang baru lahir. Sebagai contoh, tubuh memproduksi ASI, yang volume dan nutrisinya, terus berubah menyesuaikan kebutuhan bayi.

Terlepas dari keajaiban proses ini, karena proses kehamilan terjadi di mana-mana dan di setiap waktu, tidak sedikit orang yang memandangnya hanya sebagai fungsi biologis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Beberapa orang melihat tubuh wanita hanya sebagai alat reproduksi belaka atau melihat rahim tidak lebih dari sebuah wadah sementara untuk bayi. Perspektif yang salah terhadap tubuh dan hubungan ibu-anak ini telah mendorong beberapa orang untuk mengambil keputusan ekstrem, termasuk aborsi. Alasan untuk keputusan tersebut beragam – ketakutan akan populasi yang berlebihan, kekhawatiran akan peningkatan emisi karbon, tantangan ekonomi, atau hanya sekedar ketidaknyamanan yang dirasakan karena memiliki anak.

Di sinilah Maria dan Elisabet menjadi sangat relevan bagi kita. Mereka memahami risiko yang ada dalam situasi unik mereka. Maria, meskipun telah bertunangan dengan Yusuf, hamil tanpa keterlibatan seorang pria pun. Ia berisiko dituduh berzinah, sebuah kejahatan yang dapat dihukum rajam menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22-24). Di sisi lain, Elisabet menghadapi bahaya fisik akibat kehamilan di usia tua, yang dapat membahayakan nyawanya. Terlepas dari risiko-risiko tersebut, kedua perempuan ini tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu. Mengapa? Karena kedua wanita ini menyadari bahwa kehamilan mereka bukan hanya proses biologis, namun percaya bahwa menjadi ibu adalah kehendak Tuhan bagi mereka – sebuah panggilan suci. Mereka percaya bahwa Tuhan yang memanggil mereka ke dalam misi kudus ini juga akan menopang dan memenuhi kebutuhan mereka.

Kekudusan adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah sebabnya mengapa pertemuan antara Maria dan Elisabet ditandai dengan sukacita dan bukannya ketakutan atau kecemasan. Di dunia saat ini, di mana memiliki anak sering kali dipandang sebagai beban dan bukan sebagai berkat, tindakan iman, atau sumber sukacita, Maria dan Elisabet menjadi tanda pengharapan. Keberanian dan iman mereka mengilhami kita untuk melihat menjadi seorang ibu sebagai panggilan ilahi dan sumber kebahagiaan yang mendalam.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

  1. Bagaimana kita memandang kehamilan? Apakah kehamilan hanyalah sebuah proses biologis, peristiwa sosial-budaya, beban ekonomi, atau panggilan ilahi untuk menjadi kudus?
  2. Untuk para ibu: Bagaimana Anda memandang anak-anak Anda? Bagaimana Anda mengasuh mereka dan membimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka?
  3. Untuk laki-laki: Peran apa yang Anda mainkan dalam mendukung ibu hamil atau ibu yang merawat bayi mereka?

Rejoice, But Why?

3rd Sunday of Advent [B]

December 15, 2024

Luke 3:10-18

We are now in the third Sunday of Advent, also known as the Gaudete Sunday. “Gaudete” is a Latin word meaning “Rejoice!” This name comes from the introit or the opening antiphon of the Mass, taken from Phil 4:4-5, “Rejoice in the Lord always; again I will say, Rejoice. Let your gentleness be known to everyone. The Lord is at hand!” Yet, why should we rejoice in this season of Advent?

The coming of the Lord is, at its heart, a cause for great joy. On the first Sunday of Advent, we heard about the terrifying events surrounding the second coming of Jesus at the end of time, “the powers of heaven will be shaken (Luk 21:26).” Yet, this fear is only those who do not love Jesus, those who are afraid of His judgment. For those who love Jesus and live according to His commandments, His coming is a reason to rejoice, for we are confident that we will be with Him.

But why do we experience profound joy when we are with Jesus? Think about our relationship with those we love. When we love someone, we desire to be close and share time together. This bond brings us joy and peace. When we love our children, we desire to be together with them and spend time with them. The experience brings joy in our hearts. It is the same with Jesus. If we truly love Jesus, we long to be united with Him, and when we embrace Jesus, we receive the joy that our hearts desire. The more deeply we love Jesus, the deeper the joy we experience when He comes.

However, the opposite is also true. If we do not love Jesus as we should, or even we hate Jesus, then we will not rejoice at His coming. Instead, we fear His coming. But what does it mean to “hate” Jesus? It can be more subtle than we think.

  • Forsaking Jesus: We “hate” Jesus when we abandon Him or no longer trust in Him.
  • Loving other things more: We “hate” Jesus also when we prioritize other things like wealth, popularity, and pleasures more than Jesus.
  • Excessive self-love: Perhaps, most subtly, we “hate” Jesus when we love ourselves excessively and inordinately. The center of our lives is nothing but ourselves, in other words, being narcissistic. We need to be very careful with this inordinate love for ourselves because we may not be conscious about it. We are always going to the Church or active in many parish’s organizations, but the real motivation is that we can be seen by others as pious man or woman.

We rejoice because we love Jesus. Jesus understands how painful it is to be far from one we love dearly. Thus, He comes to us through His Word and in the Eucharist. While this is not a perfect union, it is enough for us to rejoice in the Lord.

Questions for reflection:

Do we love Jesus above all else? How do we love Jesus in our context as parents, spouses, children, professional, or students? What do we love ourselves more than Jesus? Do we teach other to love Jesus?