Jesus the Lamb of God

Second Sunday in Ordinary Time [C]

January 18, 2026

John 1:29-34

Today, John the Baptist identifies Jesus as “the Lamb of God who takes away the sin of the world.” For us as Catholics, this title is one of the most familiar, for we proclaim it at every Mass moment before receiving Holy Communion. But do we understand what it means? Why must we make this specific acclaim before approaching the altar?

To grasp the weight of this title, we must look back to the Old Testament. The lamb was the quintessential sacrificial animal of Israel. It was a lamb that served as the sacrifice of the Passover, the instrument through which God saved Israel from death and liberated them from the slavery of Egypt. The lamb was also central to the worship of the Sanctuary: in the “Tamid,” the daily offering (Ex 29:39); the “Olah,” the burnt offering (Lev 1:10); the “Shelamim,” the peace offering (Lev 3:7); and the “Hattat,” the sin offering (Lev 4:32).

We might ask, “Why the lamb?” The reason is partly practical. Sheep were abundant in the ancient world, but unlike other livestock, the lamb offers the least resistance when faced with death. It does not fight; it does not scream. This silence inspired the prophet Isaiah to describe the Suffering Servant: “Like a lamb that is led to the slaughter, and like a sheep that before its shearers is silent, so he opened not his mouth.”

Yet, Jesus is no ordinary lamb. He is the Lamb of God. The Greek phrase ho amnos tou Theou implies not only a lamb belonging to God but a lamb provided by God. Jesus is the perfect victim, prepared not by human hands, but by the Father. He is the fulfillment of Abraham’s prophecy to Isaac: “God himself will provide the lamb.” Because He is of God, He is the only offering truly acceptable to God.

Jesus, therefore, is the Lamb of God because He is the total fulfilment of every ancient sacrifice.

  • Like the Passover Lamb, He is slain and consumed so that we might be spared from eternal death.
  • Like the Tamid, He is offered daily in the Eucharist.
  • Like the Olah, He is given totally in obedience to the Father.
  • Like the Shelamim, He is our peace (Eph 2:14).
  • Like the Hattat, He becomes the offering that cleanses us of sin (2 Cor 5:21).

This is why we cry out, “Lamb of God… have mercy on us.” We are acknowledging that without His perfect sacrifice, we could not be saved from our sins. And finally, when we pray, “Grant us peace,” we confess that without Jesus—our true Peace Offering—there can be no reconciliation between us and the Father.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

“How do we prepare ourselves to worthily receive the sacrifice of Jesus in the Eucharist? How do we participate in the Mass? Do our actions during the liturgy bring us closer to Jesus, or do they distract us? Finally, how do we offer our lives to God through our daily activities?”

Yesus, Anak Domba Allah

Minggu Biasa Kedua [A]

18 Januari 2026

Yohanes 1:29-34

Hari ini, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Yesus  sebagai “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.” Bagi kita umat Katolik, gelar ini adalah salah satu yang paling familiar, karena kita mengucapkannya setiap Misa sebelum menerima Komuni Kudus. Namun, apakah kita memahami artinya? Mengapa kita harus mengucapkan pengakuan ini sebelum menerima komuni?

Untuk memahami makna gelar ini, kita harus kembali ke Perjanjian Lama. Domba adalah hewan kurban yang paling khas di Israel. Domba digunakan sebagai kurban Paskah, yang melalui kurban ini, Allah menyelamatkan Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Domba juga menjadi pusat ibadah di Bait Allah: sebagai “Tamid,” persembahan harian (Kel 29:39); “Olah,” persembahan bakaran (Im 1:10); “Shelamim,” persembahan damai (Im 3:7); dan “Hattat,” persembahan dosa (Im 4:32).

Kita mungkin bertanya, “Mengapa domba?” Alasannya sebagian praktis. Domba melimpah di zaman kuno, tetapi berbeda dengan ternak lain, domba memberikan perlawanan paling sedikit saat menghadapi kematian. Domba tidak melawan; tidak juga berteriak. Kesunyian ini menginspirasi Nabi Yesaya untuk menggambarkan figur “Hamba yang Menderita,” … “Seperti domba yang dibawa ke pembantaian, dan seperti domba yang diam di hadapan pemotong bulu, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya (Yes 53:7).”

Namun, Yesus bukanlah domba biasa. Dia adalah Domba Allah. Frasa Yunani “ho amnos tou Theou (ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ)” tidak hanya berarti domba milik Allah, tetapi juga domba yang berasal dari Allah. Yesus adalah korban yang sempurna, disiapkan bukan oleh tangan manusia, tetapi oleh Bapa sendiri. Dia menjadi penggenapan nubuat Abraham kepada Ishak, saat Ishak bertanya dimanakah hewan untuk kurban, “Allah sendiri akan menyediakan domba (Kej 22:8).” Karena Dia adalah dari Allah, Dia adalah satu-satunya persembahan yang benar-benar berkenan bagi Allah.

Yesus, oleh karena itu, adalah Anak Domba Allah karena Dia adalah pemenuhan sempurna dari setiap korban Perjanjian Lama.

  • Seperti Anak Domba Paskah, Dia disembelih, darahnya dicurahkan dan dagingnya dimakan agar kita terhindar dari kematian kekal dan perbudakan dosa.
  • Seperti “Tamid”, Dia dipersembahkan setiap hari dalam Ekaristi.
  • Seperti “Olah”, Dia memberikan diri sepenuhnya dalam ketaatan kepada Bapa.
  • Seperti “Shelamim”, Dia adalah sarana pendamaian kita dengan Bapa (Ef 2:14).
  • Seperti “Hattat”, Dia menjadi persembahan yang membersihkan kita dari dosa-dosa (2 Kor 5:21).

Itulah mengapa kita berseru, “Domba Allah… kasihanilah kami.” Kita mengakui bahwa tanpa kurban-Nya yang sempurna, kita tidak dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Dan akhirnya, ketika kita berseru, “Berikanlah kami damai,” kita mengaku bahwa tanpa Yesus—kurban damai sejati kita—tidak ada rekonsiliasi antara kita dan Bapa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

“Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menerima kurban Yesus dalam Ekaristi dengan layak? Bagaimana kita berpartisipasi dalam Misa? Apakah tindakan kita selama liturgi mendekatkan kita pada Yesus, ataukah justru mengalihkan perhatian kita? Akhirnya, bagaimana kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari kita?”

Mengapa Yesus Dibaptis?

Pembaptisan Tuhan [A]

11 Januari 2026

Mat 3:13-17

Salah satu pertanyaan yang sering membingungkan kita adalah: mengapa Yesus perlu dibaptis oleh Yohanes Pembaptis? Yohanes sendiri menyatakan bahwa baptisannya adalah tanda pertobatan. Mereka yang datang kepadanya harus terlebih dahulu mengakui dosa-dosa, sehingga baptisan air menjadi tanda dari penolakan terhadap dosa dan perubahan hidup. Namun, kita tahu bahwa Yesus itu tanpa dosa [Ibr 4:15; 1 Pet 2:22]. Lalu, bagaimana kita memahami baptisan Yesus?

Domenico Ghirlandaio, The Baptism of Christ, 1486-90

Pertanyaan yang sama juga telah membingungkan banyak teolog besar sepanjang sejarah. Meskipun tidak mungkin mencantumkan setiap tafsiran di sini, Santo Proklus, Patriark Konstantinopel abad ke-5, memberikan wawasan yang mendalam. Dalam khotbahnya berjudul, “Holy Theophany,” ia mengajak kita untuk menyaksikan sebuah paradoks, “Mari datang dan lihatlah mukjizat baru dan mengagumkan: Matahari Keadilan membasuh diri di Sungai Yordan, api terendam dalam air, Allah dikuduskan melalui pelayanan manusia.” Pada dasarnya, Santo Proklus melihat baptisan Yesus bukan sebagai kebutuhan untuk pengampunan, tetapi sebagai “mukjizat kerendahan hati.”

Ketika orang Israel datang kepada Yohanes untuk dibaptis, itu tentu merupakan tindakan kerendahan hati, mengakui di hadapan Allah akan dosa-dosa mereka dan kesediaan untuk bertobat. Namun, ketika Yesus yang ilahi dibaptis oleh Yohanes yang manusia, hal ini melampaui kerendahan hati biasa; itu adalah kerendahan hati yang luar biasa, bahkan bersifat adikodrati. Santo Proclus mengajarkan bahwa meskipun kerendahan hati yang mengagumkan ini sudah ada sejak kelahiran Yesus, pembaptisan berbeda dari Natal. Kelahiran adalah mukjizat yang tersembunyi, tetapi Pembaptisan adalah peristiwa publik yang disaksikan oleh banyak orang, di mana Allah Bapa secara terbuka menyatakan bahwa Ia berkenan dengan tindakan pengosongan diri Putra-Nya.

Hal ini memberikan pelajaran penting bagi kita semua: melalui kerendahan hati ilahi, kita menerima keselamatan dan dikuduskan. Dalam kerendahan hati-Nya, Putra Allah menjadi manusia dan menempatkan diri-Nya di bawah Yusuf dan Maria. Dalam kerendahan hati-Nya, Yesus dibaptis oleh Yohanes, menjadi satu dengan orang-orang yang Dia akan selamatkan. Dalam kerendahan hati-Nya, Kristus dengan sabar menanggung salib, menerima kematian sebagai korban yang sempurna untuk penebusan kita. Yesus mencintai Bapa dengan sempurna; dari kasih yang mendalam ini, kerendahan hati lahir; dari kerendahan hati yang luar biasa ini, ketaatan terlahir; dan melalui ketaatan Yesus sepanjang hidup-Nya, kita diselamatkan.

Santo Filipus Neri dikenal sebagai rasul orang-orang Roma. Sekali peristiwa, Paus pernah meminta dia untuk menyelidiki seorang biarawati yang dikabarkan menerima penglihatan dari Tuhan dan melakukan mukjizat. Dalam perjalanan ke biara tersebut, hujan turun dengan deras, dan jalan-jalan menjadi berlumpur. St. Filipus itu terus melanjutkan perjalanannya, meskipun pakaiannya basah kuyup dan sepatunya berlumpur. Setibanya di sana, biarawati itu menyambutnya dengan gembira, ingin berbagi penglihatannya dengan seorang imam yang dikagumi di kota Roma. Namun, hal pertama yang diminta Santo Filipus adalah agar biarawati itu membantunya melepas sepatunya yang kotor penuh lumpur. Biarawati itu marah, menegurnya, dan menyatakan bahwa permintaan seperti itu terlalu menghina bagi seorang wanita rohani seperti dirinya.

Santo Filipus segera kembali ke Vatikan. Ia melaporkan kepada Paus, “Bapa Suci, dia bukan seorang yang kudus.” Ketika Paus bertanya bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu begitu cepat, Filipus menjawab, “Ia tidak memiliki kerendahan hati. Dan di mana tidak ada kerendahan hati, tidak ada kekudusan.”

Seperti yang Yesus ajarkan kepada kita hari ini, mari kita memohon kepada Tuhan untuk keutamaan yang sama, agar kita dapat mengikuti kerendahan hati-Nya dan benar-benar tumbuh dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apakah saya cenderung memisahkan diri dari orang-orang yang saya anggap “lebih rendah”? Apakah saya memandang kerendahan hati sebagai kelemahan yang merusak reputasi saya, atau apakah saya melihatnya sebagai kekuatan ilahi yang harus saya praktikan? Jika saya kesulitan untuk taat kepada Tuhan atau otoritas Gereja, apakah sebenarnya karena saya tidak memiliki kerendahan hati dan kasih?

Why Jesus Baptized?

Baptism of The Lord [A]

January 11, 2026

Mat 3:13-17

One question that often baffles some of us is: why did Jesus need be baptized by John the Baptist? John himself proclaims that his baptism is a sign of repentance. Those who come to him must first acknowledge their sinfulness and unworthiness, making the baptism of water a visible sign of turning away from sins. Yet, we know that Jesus is sinless [Heb 4:15; 1 Pet 2:22]. How do we understand Jesus’ baptism?

The same question has also puzzled many great Christian thinkers through the ages. While it is impossible to list every interpretation here, St. Proclus, a 5th-century Patriarch of Constantinople, offers a profound insight. In his homily in “Holy Theophany,” he invites us to witness a paradox, “Come then and see new and astounding miracles: The Sun of righteousness washing in the Jordan, fire immersed in water, God sanctified by the ministry of man.” In essence, St. Proclus saw the baptism of Jesus not as a necessity for forgiveness, but as a “miracle of humility.”

When an Israelite came to John to be baptized, it was certainly an act of humility, an acknowledgment before God of their sinfulness and a willingness to repent. However, when the divine Jesus is baptized by the human John, it goes beyond ordinary humility; it is an extraordinary humility, miraculous in nature. St. Proclus teaches that while this astonishing humility was present at Jesus’ birth, the Baptism differs from Christmas. The Nativity was a hidden miracle, but the Baptism was a public event, witnessed by the multitudes, where God the Father openly declared He was pleased with His Son’s act of self-emptying.

This offers a vital lesson for all of us: it is through divine humility that we receive salvation and are sanctified. In His humility, the Son became man and placed Himself under the care of Joseph and Mary. In His humility, Jesus was baptized by John, becoming one with the people He came to save. In His humility, Christ patiently endured the cross, accepting death as the perfect sacrifice for our redemption. Jesus perfectly loves the Father; from this profound love, humility is born; from this extraordinary humility, obedience is engendered; and through Jesus’ obedience throughout His life, we are saved.

We see the necessity of this virtue in the life of St. Philip Neri, a well-loved saint of Rome. The Pope once asked him to investigate a nun who allegedly received visions from the Lord and performed miracles. On his way to her convent, rain poured down heavily, turning the streets to mud. The holy man continued his journey, though his clothes were drenched and his boots caked in mud. Upon his arrival, the nun greeted him, excited to share her visions with such a famous priest. However, the first thing St. Philip asked was for her to help him remove his soiled boots. She was infuriated, scolding him and declaring that such a request was too demeaning for a spiritual woman like her.

St. Philip immediately returned to the Vatican. He reported to the Pontiff, “Holy Father, she is not a saint.” When the Pope asked how he could reach such a conclusion so quickly, Philip replied, “She has no humility. And where there is no humility, there can be no sanctity.”

As Jesus teaches us this lesson today, let us ask the Lord for this same gift, that we may follow His example and truly grow in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Do I tend to separate myself from others I consider “lesser” or “sinful”? Do I view humility as a weakness that damages my reputation, or do I view it as a divine strength that I should actively seek? If I find it hard to be obedient to God or lawful authority, is it actually because I am lacking the humility and love that must come first?

Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    The Magi and Herod

    Epiphany [A]

    January 4, 2026

    Matthew 2:1-12

    The story of the Magi is a powerful one because they do not come from the Jewish people, and yet they sincerely seek the newborn King of Israel. The identity of the Magi remains a mystery. The Greek word magos—from which the English word magic is derived—refers to a person learned in the ancient sciences. These ancient sciences were very different from modern ones: experiment and myth, natural observation and ritual, were often intertwined. This was a period when astronomy was closely linked with astrology, and chemistry with alchemy.

    Although not stated explicitly in Scripture, many traditions identify the Magi as the three kings from the East. Tertullian (d. AD 225), interpreting the Epiphany account in light of Psalm 72 and Isaiah 60, refers to the Magi as kings. While the Magi were not necessarily kings, they were likely men of high status, since Herod, the king of Jerusalem, received them and treated them with respect. The number three is commonly derived from the three gifts offered to Christ: gold, frankincense, and myrrh. The earliest clear evidence for three Magi appears in a sixth-century mosaic in the Church of Sant’Apollinare Nuovo in Ravenna, Italy. The names Melchior, Gaspar, and Balthasar emerge in Latin tradition around the same period.

    The story of the Magi becomes even more striking when they are contrasted with their Jewish counterparts: Herod, the king of Jerusalem, and the Jewish scholars. When Herod heard the news, he immediately consulted the learned men of his court. After carefully examining the Scriptures, they confirmed the Magi’s discovery and identified Bethlehem as the birthplace of the newborn king. Yet, unlike the Magi—who used their wisdom and knowledge to honor the child—Herod and his learned advisors used their understanding of Scripture to plot the destruction of the promised Messiah.

    The contrast between the Magi and Herod becomes a paradigm for what would later happen to Jesus. At the beginning of His life, Jesus was honored by Gentile Magi but sought for destruction by Herod and his advisors. Likewise, at the end of His earthly life, Jesus was condemned by the chief priests and religious leaders, accused of being a false Messiah, while He was recognized by a Roman centurion as the Son of God.

    Finally, after the Magi found Jesus and paid Him homage, they returned home by a different way. This detail carries profound symbolism: encountering Jesus leads to true repentance and transformation. We may be busy studying Scripture, engaging in charitable works, or serving in Church ministries, but if we do not truly find Jesus in them, there is no genuine conversion. Without finding Jesus, we may end up finding only ourselves. The danger is that this leads either to frustration when we fail or to pride when we succeed. In either case, we do not find true happiness. Like Herod and his advisors, we may even misuse our knowledge of faith in ways that harm our spiritual life and weaken our faith in Christ.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide Questions:
    Am I more like the Magi or like Herod and his advisors in the way I seek Jesus? How do I use the knowledge and gifts God has given me? Do my religious activities truly bring me into an encounter with Jesus? Or have Scripture, ministry, and service become ends in themselves? In what ways has encountering Christ changed my direction in life? What prevents me from recognizing Christ when He comes quietly and vulnerably?

    Featured

    St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

    Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
    28 Desember 2025 [A]
    Matius 2:13–15, 19–23a

    Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

    Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

    Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

    Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

    Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

    Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

    Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

    Santo Yusuf, doakanlah kami!

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:

    • Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
    • Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
    • Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
    • Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
    • Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

    Joseph the Just Man

    4th Sunday of Advent [C]

    December 21, 2025

    Matthew 1:18-24

    As we approach Christmas, the Gospel introduces us to the key figures surrounding the Messiah’s birth. Among them is Joseph, the foster father of Jesus. Matthew the Evangelist gives him a profound title: a “just man.” What does it mean to be like Joseph? What does it mean to be just?

    Matthew uses the Greek word “δίκαιος” (dikaios), typically translated as “just” or “righteous.” In the Biblical context, being just means living in faithful obedience to God’s Law, particularly the Torah given through Moses at Sinai. This adjective is highly significant for an Israelite. Scripture consistently links the “just” person—one who lives by God’s Law—with true happiness and blessing. Psalm 1 declares, “Happy are those who… delight in the law of the Lord, and meditate on his law day and night.” Proverbs similarly praise, “The memory of the just is blessed” (10:7). Why is this life of justice so praiseworthy and fulfilling?

    The answer lies in how the Israelites understood God’s Law. They did not view it primarily as a restriction on freedom, but as a gift of love and identity. God gave the Law at Sinai after choosing Israel as His holy nation. Therefore, living the Law was not merely an obligation; it was a sign of their covenant fidelity and their very identity as God’s people. Fundamentally, they saw the Law as God’s gracious guidance—the pathway to avoid the pitfalls of misery and to draw closer to Him, the source of all blessing.

    Consequently, Joseph is called “just” because he is the true Israelite who meditates on, loves, and lives by God’s Law. During His formative years, Jesus would have received from Joseph not only a knowledge of the Law’s letters but also Joseph’s own love for God and His commandments. In Joseph, Jesus and Mary saw a happy and righteous man.

    From St. Joseph, we learn to love God through faithful obedience. However, we must also avoid the trap of rigidity and legalism, which absolutizes the letter of the law over its spirit. Had Joseph chosen a rigid legalism, he might have applied the strictest penalty to Mary upon discovering her pregnancy, that is stoning. Yet, his justice was perfected by mercy. He recognized that the Law’s ultimate purpose is to love God and neighbor, leading him to protect Mary’s life. Joseph was a happy man because, through the Law, he loved God profoundly.

    Finally, Jesus Himself holds the “just” in high esteem. He teaches, “Blessed are those who hunger and thirst for righteousness” (Matthew 5:6), and promises, “Then the just will shine like the sun in the kingdom of their Father” (13:43). While Joseph is not named explicitly in these verses, it is fitting to see in these verses a reflection of his own virtue—virtue that shaped the Holy Family.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Questions for Meditation:

    Do I strive to know God’s Law as revealed in Scripture and taught by the Church?

    Do I meditate on God’s commandments, seeking the wisest way to live them out in love for God and my neighbor?

    Do I follow rules blindly, or do I seek to understand the spirit and purpose behind them? How do I treat those who struggle to live by them?

    Yusuf, Orang yang Benar

    Minggu Keempat Advent [C]

    21 Desember 2025

    Matius 1:18-24

    Seiring mendekati Natal, Injil memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh kunci yang mengelilingi kelahiran Sang Mesias. Di antara mereka adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Matius, sang Injil, memberinya gelar yang mendalam: seorang “yang benar” (kata “tulus hati” sebenarnya kurang tepat). Apa artinya menjadi seperti Yusuf? Apa artinya menjadi benar?

    Matius menggunakan kata Yunani “δίκαιος” (dikaios), yang biasanya diterjemahkan sebagai “adil” atau “benar.” Dalam Alkitab, menjadi benar berarti hidup dalam ketaatan yang setia terhadap Hukum Allah, khususnya Taurat yang diberikan melalui Musa di Sinai. Kata sifat ini sangat penting bagi seorang Israel. Kitab Suci secara konsisten mengaitkan orang yang “benar”—yang hidup menurut Hukum Allah—dengan kebahagiaan dan berkat yang sejati. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang… bersukacita dalam hukum Tuhan, dan merenungkan hukum-Nya siang dan malam.” Amsal juga memuji, “Ingatan akan orang yang benar diberkati” (10:7). Mengapa hidup yang benar begitu layak dipuji dan memberikan berkat?

    Jawaban terletak pada cara orang Israel memahami Hukum Allah. Mereka tidak memandangnya sebagai pembatasan kebebasan, tetapi sebagai anugerah kasih dan identitas. Allah memberikan Hukum di Sinai setelah memilih Israel sebagai bangsa-Nya yang kudus. Oleh karena itu, hidup menurut Hukum bukanlah sekadar kewajiban; itu adalah tanda kesetiaan perjanjian mereka dan identitas mereka sebagai umat Allah. Pada dasarnya, mereka melihat Hukum sebagai bimbingan kasih Allah—jalan untuk menghindari jurang kesengsaraan dan rambu untuk mendekati-Nya, Sang Sumber segala berkat.

    Oleh karena itu, Yusuf disebut “benar” karena ia adalah orang Israel sejati yang merenungkan, mencintai, dan hidup menurut Hukum Allah. Selama masa pembentukannya, Yesus pasti menerima dari Yusuf tidak hanya pengetahuan tentang huruf-huruf Hukum, tetapi juga cinta Yusuf terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Dalam Yusuf, Yesus dan Maria melihat seorang pria yang bahagia dan benar.

    Dari Santo Yusuf, kita belajar mencintai Allah melalui ketaatan yang setia. Namun, kita juga harus menghindari jebakan kekakuan dan legalisme, yang mengabsolutkan huruf-huruf hukum. Jika Yusuf memilih legalisme yang kaku, ia mungkin akan menerapkan hukuman terberat pada Maria saat mengetahui kehamilannya, yaitu rajam. Namun, keadilannya disempurnakan oleh kerahiman. Ia menyadari bahwa tujuan akhir Hukum adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ini mendorongnya untuk melindungi hidup Maria. Yusuf adalah pria yang bahagia karena, melalui Hukum, ia mengasihi Allah dengan mendalam.

    Akhirnya, Yesus sendiri menghargai orang-orang yang “benar” dengan tinggi. Ia mengajarkan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), dan berjanji, “Maka orang-orang yang benar akan bersinar seperti matahari di kerajaan Bapa mereka” (13:43). Meskipun Yusuf tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat ini, pantaslah kita melihat dalam ayat-ayat ini cerminan kebajikan-Nya—kebajikan yang membentuk Keluarga Kudus Nazaret.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk Renungan:

    Apakah saya berusaha mengenal Hukum Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja?

    Apakah saya merenungkan perintah-perintah Allah, mencari cara terbaik untuk hidup sesuai dengan cinta kepada Allah dan sesama?

    Apakah saya mengikuti aturan secara buta, atau apakah saya berusaha memahami roh dan tujuan di baliknya? Bagaimana saya memperlakukan mereka yang kesulitan hidup sesuai dengan aturan tersebut?

    Harapan Kita

    Minggu Ketiga Advent [A]

    14 Desember 2025

    Matius 11:2-11

    Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, “Apakah Engkau yang akan datang, atau haruskah kami mencari yang lain?” Momen ini mengungkapkan ketidakpastian yang mendalam dalam diri Yohanes—seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias. Lalu, mengapa ia ragu?

    Bagi kita umat Kristiani, identitas Yesus jelas. Namun, apa yang jelas bagi kita tidak selalu jelas bagi orang lain, bahkan bagi seseorang yang besar seperti Yohanes. Alasan mendasar mengapa banyak orang kesulitan mengenali Yesus sebagai Yang Dijanjikan adalah karena Ia seringkali tidak memenuhi ekspektasi manusia kita.

    Situasi Yohanes menggambarkan hal ini. Ia telah mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada misi Allah—untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Namun, setelah menantang Herodes untuk bertobat, ia malah dipenjara dan menghadapi bahaya maut. Di saat gelap itu, ia bertanya-tanya: Apakah ia telah memenuhi kehendak Allah, ataukah ia telah bekerja sia-sia? Sejatinya, Allah telah mengungkapkan identitas Yesus kepada Yohanes di Sungai Yordan (Mrk 1:9; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22; Yoh 1:29-34), namun keraguan tetap ada. Yesus tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi Yohanes.

    Apa ekspektasi- ekspektasi itu? Seperti banyak orang Israel, Yohanes mungkin menantikan seorang Mesias seperti Daud—seorang pembebas politik yang akan mempersatukan Israel, menggulingkan kekuasaan Romawi, dan memulihkan kemuliaan nasional. Atau mungkin Yohanes mengharapkan seseorang yang mencerminkan gaya hidup asketisnya sendiri: seorang yang hidup dengan kesederhanaan yang ketat, puasa, dan mati raga. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan nasionalis, dan Ia juga tidak hidup seperti Yohanes. Sebaliknya, Ia menunjuk pada mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan…” (Luk 7:22). Ini adalah karya-karya ilahi, tanda-tanda yang mengesahkan identitas dan misi-Nya, meskipun Ia tidak sesuai dengan ekspektasi manusia.

    Dari kisah Yohanes, kita belajar pelajaran yang sangat penting: Allah tetap Allah, entah Dia memenuhi ekspektasi kita atau tidak. Memang, Allah seringkali tidak sesuai dengan gambaran terbatas kita tentang-Nya. Hal ini mendorong kita untuk terus-menerus memeriksa ekspektasi kita sendiri dan menyesuaikannya sesuai dengan wahyu-Nya. Menyadari ekspektasi kita dan merubahnya tidaklah mudah, bahkan Yohanes Pembaptis—nabi terbesar—mengalami ketidakpastian dan memiliki ekspektasi yang perlu disempurnakan.

    Seiring pertumbuhan rohani kita, kita dipanggil untuk mencari Allah lebih dari mencari keinginan kita sendiri. Hal ini membutuhkan refleksi jujur: Apa harapan kita terhadap Allah? Apakah harapan-harapan itu mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan kita? Kita percaya Allah adalah baik, tetapi bagaimana kita mengharapkan kebaikan-Nya itu terwujud? Apakah itu berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Apakah doa-doa kita dijawab persis seperti yang kita harapkan? Apakah kita akan terhindar dari penderitaan? Dan ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi kita, bagaimana kita merespons? Jika kita menjadi sedih, frustrasi, marah, atau bahkan dipenuhi kepahitan, masalahnya mungkin tidak terletak pada Allah, tetapi pada ekspektasi kita. Masa Advent ini sekali lagi mengajak kita untuk membersihkan ekspektasi kita dan mengizinkan Allah sungguh menjadi Allah kita.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan untuk refleksi:

    Apa ekspektasi- ekspektasi yang saya miliki tentang Allah? Bagaimana saya membayangkan Allah bekerja dalam hidup saya? Bagaimana saya merespons ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi saya? Apakah ekspektasi saya mendekatkan saya kepada Allah, atau justru menciptakan jarak?