What Jesus Learned from Joseph?

4th Sunday of Advent. December 18, 2016. Matthew 1:18-24

“Joseph her husband, since he was a righteous man, yet unwilling to expose her to shame, decided to divorce her quietly. (Mat 1:19)”

 jesus-n-joseph-2If there is one important person in the life of Jesus, but gets very little attention, this person is no other than Joseph, Jesus’ foster father. He was absent in the Gospel of Mark. In John, he was mentioned only by name. In Luke, his presence was felt, but he was overshadowed by Mary and her unique mission. Only in Matthew, Joseph had a more active role in the beginning of Jesus’ life. Yet, again, he remained a voiceless character, and simply disappeared as Jesus began his mission. Still, Joseph had significantly influenced the life of Jesus.

One of the recognizable influences was that Jesus inherited the profession of Joseph. His father was a carpenter, then Jesus was also called as the carpenter (see Mark 6:3). However, the influence of Joseph is not limited in terms of profession. There was something more. In today’s Gospel, Joseph was called as the ‘righteous man’. In Jewish society, the title ‘righteous man’ means a respectable man who faithfully follows the Law of God or Torah. He was not only well educated in the Law, but Joseph also cherished the Law dearly. Now, if we put ourselves in the shoes of Joseph when he received the news of Mary’s pregnancy, what was probably Joseph’s feeling? As an ordinary man, he must be deeply hurt, felt betrayed, by his soon-to-be wife. As a respectable person in town, he had to endure shame.

As a person who was well versed in the Law, he knew Mary had committed adultery and this sin deserved death (see Lev 20:10). Consumed by his pain and anger, Joseph could have made a public accusation and thrown the first stone on Mary. He had all the right to stone Mary and satisfy his vengeance. But, Joseph chose a different path. Instead using the Law for retaliation, Joseph decided to use the Law to save the life of Mary, and consequently, the life of Jesus. His decision is even more significant because he opted to save Mary even before the Angel Gabriel appeared to him and explained the cause of pregnancy. Despite pain of betrayal and shame, he chose to apply the Law in merciful and loving manner. And this was what Joseph taught Jesus to do.

Jesus argued a lot with the Pharisees and the Scribes on the interpretation of the Law, and for Jesus, mercy and love need to take primacy over vengeance and hatred. Thus, Jesus healed people on Sabbath (see Mat 12:10), allowed His hungry disciples to pick the grain during Sabbath (see Mat 12:1) and spared the life of woman caught in adultery (see John 8:1-11). Finally, Jesus declared that the most important Law of all is the Law of love. Now, we can trace the hands of Joseph and his merciful way in dealing with the Law.

As we prepare ourselves for Christmas, it is good to reflect on Joseph and learn from him. Do we use and create laws and regulations in our society to simply to punish and even kill people, or to heal them? When we are wronged, what is our first reaction? Seeking vengeance or working for reconciliation? What is our understanding of justice? Retaliation or restoration of goodness? We pray that St. Joseph will lead us into just society based on mercy and love.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa yang Yesus Dapatkan dari Yusuf?

Minggu Advent ke-4. [18 Desember 2016] Matius 1: 18-24.

Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam (Mat 1:19).”

jm_200_NT1.pd-P7.tiffJika ada satu orang penting dalam hidup Yesus, tetapi hanya mendapat sedikit perhatian, orang ini tidak lain adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Ia tidak disebut dalam Injil Markus. Dalam Injil Yohanes, hanya namanya yang muncul. Dalam Injil Lukas, kehadirannya mulai terasa, tapi Maria lebih mendapat perhatian. Hanya dalam Injil Matius, Yusuf memiliki peran yang lebih aktif pada awal hidup Yesus. Sayangnya, ia tetap karakter tak bersuara, dan akhirnya menghilang saat Yesus memulai karya-Nya. Namun, bukan berarti Yusuf tidak penting dalam membentuk karakter Yesus.

Sebagai contoh, Yesus mewarisi profesi Yusuf. Ayah-Nya adalah seorang tukang kayu, maka Yesus juga disebut sebagai tukang kayu (lih. Mar 6:3). Namun, pengaruh Yusuf tidak terbatas dalam hal profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih penting. Dalam Injil hari ini, Yusuf disebut sebagai ‘orang tulus’. Dalam masyarakat Yahudi, ‘orang yang tulus’ adalah gelar bagi seorang terhormat karena ia setia mengikuti Hukum Allah atau Hukum Taurat. Dia tidak hanya paham Hukum Taurat, namun Yusuf juga mengamalkannya. Sekarang, jika kita menempatkan diri pada posisi Yusuf ketika ia menerima kabar kehamilan Maria, apa perasaan Yusuf? Sebagai manusia biasa, ia tentunya sangat terluka, merasa dikhianati oleh tunangannya sendiri. Sebagai orang baik Nazareth, iapun harus menanggung malu.

Sebagai orang paham hukum, dia tahu Maria yang hamil diluar pernikahan, telah melakukan perzinahan, dan dosa ini patut dihukum mati (lih. Im 20:10). Penuh denga rasa sakit hati dan amarahnya, Yusuf bisa saja membuat tuduhan secara publik dan melempar batu pertama pada Maria. Dia memiliki semua hak untuk marajam Maria dan memuaskan dendam. Tapi, Yusuf memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menggunakan Hukum untuk pembalasan, Yusuf memutuskan untuk menggunakan Hukum yang sama untuk menyelamatkan hidup Maria, dan juga hidup Yesus dikandungan. Keputusannya bahkan menjadi lebih berarti karena ia memilih untuk menyelamatkan Maria sebelum Malaikat Gabriel menampakkan diri kepadanya dan menjelaskan penyebab kehamilan Maria. Meskipun sakit hati, Yusuf memilih untuk menerapkan Hukum secara penuh belas kasihan. Dan ini adalah apa yang Yusuf ajarkan kepada Yesus.

Yesus sering berargumentasi dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang interpretasi Hukum Allah, dan bagi Yesus, belaskasih dan kerahiman perlu menjadi keutamaan daripada dendam dan kebencian. Tidak heran jika Yesus berani menyembuhkan orang pada hari Sabat (lih. Mat 12:10), mengizinkan murid-murid yang lapar untuk memetik gandum juga pada hari Sabat (lih. Mat 12: ) dan menolak untuk merajam wanita yang tertangkap dalam perzinahan (lih. Yoh 8:1-11). Akhirnya, Yesus menyatakan bahwa hukum yang paling penting dari semua hukum adalah Hukum cinta kasih. Ini semua Yesus pelajari dari Yusuf, bapak angkat-Nya.

Saat kita mempersiapkan diri untuk Natal, baik jika merenungkan Yusuf dan belajar dari dia. Apakah kita menggunakan dan membuat hukum-hukum dan peraturan dalam keluarga, kelompok dan masyarakat kita hanya untuk menghukum dan bahkan menghabisi sesama, atau untuk menyembuhkan mereka? Ketika kita disakiti, apa reaksi pertama kita? Membalas dendam atau bekerja untuk rekonsiliasi? Apa pemahaman kita tentang keadilan? Sebuah pembalasan atau restorasi kebaikan? Kita berdoa St. Yusuf akan membawa kita ke dalam masyarakat adil dan damai yang didasarkan pada rahmat dan kasih.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialogue of Truth

Sunday of Advent. December 11, 2016 [Matthew 11:2-11]

 “Are you the one who is to come, or should we look for another? (Mat 11:3)”

dialogue The truth is born out of a conversation. Genuine conversation is coming from our ability to listen. And listening to one another is not easy because it presupposes great humility. The turning point of St. Dominic de Guzman, the founder of the Order of Preachers, was inside the pub. He had an overnight conversation with the innkeeper, an Albigensian whose religion denied the goodness of creation. This long yet open dialogue did not only bring the innkeeper back to the Catholic faith, but also led Dominic to discover his mission in life. This encounter revealed the truth both for the innkeeper and Dominic.

Unfortunately, not everyone is trained to listen. Not everybody is humble enough to open their minds and heart to vast possibilities the truth offers. Not many have the endurance and perseverance to involve in long and tedious dialogue. We rather shut out ears and minds. We prefer to stay in our comfortable yet small world. Then, we are suspicious of those who are different from us. We even become violent towards those who initiate the conversation of truth with us.

Last week, we listened to John who preached the truth and invited people to conversion. Today, we discover that John was already in jail. He was imprisoned apparently because some people did not like to listen to what John said. These people did not want to be disturbed by the truth, and thus, they decided to silence John. I guess that situation is just not much different nowadays. Those who are able to listen and converse, simply come up with instant yet deadly solutions. Those who try to begin a dialogue of truth in social media immediately fall victims into online buzzing and bullying. In more serious situations, people involved in crimes and corruptions try to bribe, threaten or even kill those who begin to speak the truth. Pierre Claverie, OP, bishop of Oran in Algeria, dedicated his life in dialogue with his Muslim brothers and sisters, yet eventually he was murdered by the terrorists who hated his effort in building peace and harmony in Algeria.

In a dialogue of truth, we need to learn from John. In the prison, he was in doubt because Jesus was not behaving like the expected Messiah. Perhaps like other Jews, John also expected a Messiah who was a military and political leader, or perhaps he wanted a Messiah that dealt severely with sinners and outlaws. Jesus simply did not meet his standards. Yet, instead shutting down the possibilities and dealing with his own problems, he opened the conversation with Jesus through his disciples. Jesus graciously answered him by giving some concrete evident of His identity as the Messiah. Jesus also unlocked the new paradigm that helped John unearthed a more profound truth. The truth that set John free from his self-imprisonment.

The season of Advent invites us to this dialogue of truth. We are invited to be more listening to our family members even to the youngest member. We are challenged not to immediately condemn those people who have a different opinion with us but to find the truth in them. St. Thomas Aquinas always included the arguments of those who had opposing views because he believed that there were grains of truth in them as well as they sharpened his own position. It is time for us go out from our small and solitary world and to seek the vast and spacious truth. The Truth that liberates us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dialog Kebenaran

Minggu Advent ketiga. 11 Desember 2016 [Matius 11: 2-11]

 “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? (Mat 11:3)

dialogue

Kebenaran terlahir dari sebuah percakapan, dan percakapan sejati berasal dari kemampuan kita untuk mendengarkan. Dan mendengarkan satu sama lain bukanlah hal mudah karena membutuhkan kerendahan hati. Titik balik dari St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah, adalah ketika ia berada di dalam penginapan dan kedai. Dia berdialog semalam suntuk dengan pemilik penginapan, yang adalah seorang Albigensian, sebuah agama yang menolak kebaikan ciptaan. Dialog panjang, melelahkan namun terbuka ini tidak hanya membawa pemilik penginapan itu kembali ke iman Katolik, tetapi juga membawa Dominikus untuk menemukan misi hidupnya. Pertemuan ini mengungkapkan kebenaran baik bagi pemilik penginapan maupun Dominikus.

Sayangnya, tidak semua orang dididik untuk mendengarkan. Tidak semua orang cukup rendah hati untuk membuka pikiran dan hati mereka untuk sebuah kemungkinan baru yang kebenaran tawarkan. Tidak banyak yang memiliki daya tahan dan ketekunan untuk terlibat dalam dialog panjang dan membosankan. Kita terkadang menutup telinga dan pikiran. Kita lebih memilih untuk tinggal di dunia kita yang nyaman tetapi kecil. Kemudian, kita menaruh curiga kepada orang-orang yang berbeda dari kita, yang mencoba membawa kita ke dunia yang lebih besar. Kita bahkan menggunakan kekerasan terhadap mereka yang memulai dialog kebenaran dengan kita.

Minggu lalu, kita mendengarkan Yohanes yang memberitakan kebenaran dan mengajak orang-orang untuk bertobat. Hari ini, kita mendengar bahwa Yohanes sudah berada di penjara. Ia dipenjarakan mungkin karena beberapa orang tidak suka mendengarkan apa yang ia katakan. Orang-orang ini tidak ingin diganggu oleh kebenaran, dan dengan demikian, mereka memutuskan untuk membungkam Yohanes. Saya kira situasi yang tidak jauh berbeda terjadi juga saat ini. Mereka yang mencoba untuk memulai dialog kebenaran di media sosial langsung menjadi korban intimidasi dan ‘bullying’ secara online. Dalam situasi yang lebih serius, orang yang terlibat dalam kejahatan dan korupsi mencoba untuk menyuap, mengancam atau bahkan membunuh mereka yang mulai berbicara kebenaran. Pierre Claverie, OP, uskup Oran di Algeria, mendedikasikan dirinya dalam dialog persahabatan dengan kaum Muslim, namun akhirnya ia dibunuh oleh para teroris yang membenci usaha-usahanya dalam membangun perdamaian dan harmoni.

Dalam dialog kebenaran, kita perlu belajar dari Yohanes. Di dalam penjara, dia ragu-ragu karena Yesus tidak berperilaku seperti Mesias yang diharapkan. Mungkin seperti orang Yahudi lainnya, Yohanes juga berharap Mesias yang adalah seorang jendral militer dan pemimpin politik, atau mungkin ia ingin Mesias dapat menghadapi orang-orang berdosa dengan tegas seperti dirinya. Yesus tidak memenuhi standar Yohanes. Namun, bukannya menutup kemungkinan dan terus berpegang teguh pada pendiriannya, Yohanes membuka percakapan dengan Yesus melalui murid-muridnya. Yesus menyambut dialog ini dengan baik dan Yesus pun menjawab dia dengan memberikan beberapa bukti konkret identitas-Nya sebagai Mesias. Yesus juga membuka paradigma baru yang membantu Yohanes menggali kebenaran lebih mendalam. Kebenaran yang membebaskan Yohanes dari penjara yang sempitnya.

Masa Adven membawa kita pada dialog kebenaran ini. Kita diajak untuk lebih mendengarkan anggota-anggota keluarga kita bahkan terhadap anggota keluarga yang termuda. Kita ditantang untuk tidak segera mengadili orang-orang yang memiliki pendapat yang berbeda dengan kita, tetapi untuk menemukan kebenaran di dalamnya. St. Thomas Aquinas selalu memasukan argumen dari mereka yang memiliki pandangan yang berlawanan dengannya karena ia percaya bahwa ada benih-benih kebenaran di dalamnya dan juga mereka memperdalam pandangan St. Thomas sendiri. Sudah saatnya bagi kita keluar dari dunia kecil dan soliter dan untuk mencari kebenaran yang lebih luas dan membebaskan.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

John and Our Longing for Truth

 Second Sunday of Advent. December 4, 2016. Matthew 3:1-12

In those days John the Baptist appeared, preaching in the desert of Judea and saying, ‘Repent, for the kingdom of heaven is at hand!”

john-the-baptist-2Why did many people come to John the Baptist and listen to him? I believe that the Jewish people hungered for the truth. It might be an inconvenient and hurtful truth, but they longed to hear it.   They were tired of listening to their leaders, like the Pharisees and the Sadducees, who were not honest but were living in hypocrisy. They were exhausted by numerous religious obligations but did not find any inspiration and a good example from their leaders. John came and preached to them the truth with simplicity and integrity, and the Israelites knew that they had to hear him.

Despite the various advancements in our lives, our society is experiencing also the same hunger for truth. We spend years in schools and we learn a different kind of knowledge and various skills needed to survive the demands of our society, but we fail to discover the truth in our midst. After the presidential election in the US, many experts lamented how social media, especially the internet, has opened the floodgate of lies, hoaxes, and fake, perverted news. In Indonesia, especially Jakarta, the situation is not much different. The election of Jakarta’s governor as well as the case of a Basuki Tjahaja Purnama, an out-going governor involved in blasphemy row, have thrown the nation into deeper fragmentations. In the Philippines, various issues from the war on drug that kills thousands, to former president Ferdinand Marcos’ burial, have divided the nation. Various groups have disseminated myriads of news and reports to support their cause and destroy other opposing groups. People have become more and more confused and distracted, not knowing what the truth is.

In this chaos of overloaded information, Hossein Derakhshan, a researcher from MIT, has predicted that our society will become deeply fragmented, driven by emotions, and radicalized by a lack of contact and challenge from the outside. In short, we will make our decisions based on feelings instead of truth. This will create even more confusion despite instant pleasures here and there. All these will lead eventually to despair and profound unhappiness. Yet, deep inside we long for the truth because we are created for truth and have an innate capacity to seek for the truth.

In the midst of this deluge of information, we are called to be John the Baptist, the preacher of truth. Yet, before we proclaim the truth and go against the tide of news, we have to be rooted in prayer and study. John was spending his time in the desert, and in this deserted place, he could train his mind and heart to discern the truth. Some days ago, I delivered a talk on the death penalty in the Bible. Some fundamentalist Bible interpreters can easily lift some verses and justify the capital punishment. This is an easy and instant answer, but it is simplistic. I need to spend hours in research and study just to understand the truth that in the Scriptures, God does not wish the death of sinners in the first place.

Advent becomes a proper time for us to follow the footsteps of St. John the Baptist. We are called to train ourselves to listen to the truth, and preach it with confidence.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yohanes dan Kerinduan Kita akan Kebenaran

Minggu kedua Adven. 4 Desember 2016. Matius 3: 1-12

 Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

john-the-baptistMengapa banyak orang datang menemui Yohanes Pembaptis dan mendengarkan dia? Saya percaya bahwa orang-orang Yahudi ini lapar akan kebenaran. Mungkin kebenaran ini tidak nyaman dan menyakitkan untuk didengar, tetapi mereka ingin dan perlu mendengarkannya. Mereka bosan mendengarkan pemimpin mereka, seperti orang-orang Farisi dan Saduki, yang tidak jujur dan hidup dalam kemunafikan. Mereka kelelahan oleh banyak kewajiban agama, namun tidak menemukan inspirasi dan contoh yang baik dari pemimpin mereka. Yohanes datang dan mewartakan kebenaran dengan kesederhanaan dan integritas, dan orang Israel tahu bahwa mereka harus mendengarnya.

Dengan segala kemajuan dalam hidup kita, masyarakat kita hampir sama dengan Israel di jaman Yohanes. Kita sedang mengalami rasa lapar untuk kebenaran. Kita menghabiskan bertahun-tahun di sekolah dan kita belajar berbagai jenis pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk bertahan hidup dan memenuhi tuntutan masyarakat, tetapi kita gagal untuk menemukan kebenaran yang sejati. Setelah pemilihan presiden di AS, banyak ahli menyesalkan bagaimana media sosial, khususnya internet, telah membuka gerbang besar kebohongan, hoax, dan berita palsu menyesatkan. Di Indonesia, terutama Jakarta, situasinya tidak jauh berbeda. Pemilihan Gubernur Jakarta serta kasus Basuki Tjahaja Purnama, gubernur pentahana yang terlibat dalam penistaan agama, telah melemparkan bangsa ini ke dalam fragmentasi lebih mendalam. Di Filipina, berbagai isu dari perang terhadap narkoba yang telah merenggut ribuan jiwa, sampai isu pemakaman mantan presiden Ferdinand Marcos di taman makam pahlawan, telah membelah bangsa Filipina. Berbagai kelompok telah menyebarluaskan segudang berita dan laporan, dan entah berita itu benar atau tidak, mereka tidak peduli asalkan agenda mereka tercapai. Kita menjadi lebih bingung dan tidak tahu apa yang sebenarnya.

Dalam kekacauan informasi ini, Hossein Derakhshan, seorang peneliti dari MIT, telah meramalkan bahwa masyarakat kita akan menjadi sangat terfragmentasi, didorong oleh emosi, dan terkurung dalam dunia kita yang sempit. Singkatnya, karena kita tidak tahu kebenaran, kita membuat keputusan besar dengan menggunakan perasaan bukan lagi kebenaran. Hal ini mudah dilakukan namun sejatinya menciptakan lebih banyak kebingungan. Namun, jauh di dalam diri kita, kita merindukan kebenaran karena kita diciptakan untuk kebenaran dan memiliki kapasitas untuk mencari kebenaran. Akhirnya, semua ini akan menyebabkan frustasi dan ketidakbahagiaan yang mendalam.

Di tengah ini banjir informasi ini, kita dipanggil untuk menjadi Yohanes Pembaptis, pewarta kebenaran. Namun, sebelum kita memberitakan kebenaran dan melawan gelombang kebohongan, kita harus berakar dalam doa dan pembelajaran. Yohanes menghabiskan waktunya di padang gurun, dan di tempat yang sunyi ini, ia bisa melatih pikiran dan hatinya untuk menemukan kebenaran. Beberapa hari yang lalu, saya menyampaikan ceramah tentang hukuman mati di dalam Alkitab. Beberapa penafsir Alkitab fundamentalis dapat dengan mudah mengangkat beberapa ayat dan membenarkan hukuman mati. Ini adalah jawaban instan, tetapi bukanlah kebenaran. Saya sendiri perlu menghabiskan berjam-jam dalam penelitian dan studi hanya untuk memahami kebenaran bahwa di dalam Kitab Suci, Allah tidak ingin kematian orang-orang berdosa, namun pertobatan mereka.

Adven menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk mengikuti jejak St. Yohanes Pembaptis. Kita dipanggil untuk melatih diri kita untuk mendengarkan kebenaran, dan memberitakan hal itu dengan keyakinan karena kita berakar pada doa dan pembelajaran.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advent: Season of Finding God

First Sunday of Advent. November 27, 2016. Matthew 24:37-44

“So too, you also must be prepared, for at an hour you do not expect, the Son of Man will come (Mat 24:44).”

advent-deeperWe are entering the Season of Advent. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. Advent is from the Latin word ‘Adventus’ meaning ‘arrival’, and thus, this season prepares us for the coming of Christ.

Our faith speaks of two Advents of Jesus. Historically, Jesus’ first coming was in the little town Bethlehem more than two millennia ago, as a little baby, meek and gentle. We fondly call this day as the first Christmas. Theologians  name this sacred moment in history as the Incarnation. This means the Second Person of the Trinity became flesh and dwelt among us (see John 1:14). on the other hand the Second Coming calls our attention to His final coming as the King and Judge of the living and dead. This Second Coming is integral to our belief system as it was explicitly written in both Apostles’ and Nicea-Constantinople’ Creeds.

In the first coming, nobody expected the Messiah would be born in an extremely simple condition and from the poor family of Joseph and Mary. In time of Jesus, Jews naturally expected a Messiah coming from the royal, influential and well-off families. Though we all believe in the Second Coming, nobody knows also when exactly it will knock on our door. There were a lot of self-proclaimed prophets announcing the end of the world, but none were proven true. As the first coming caught the Jews unprepared, so too the second coming will bring great surprise to all of us.

Thus, to avoid the false expectations as well as complacency, the Church invites us to celebrate the season of Advent. This season trains us to expect His Coming and to expect rightly. But, how does the Season of Advent really make us truly prepare? The answer lies on a third coming. St. Bernard of Clairvaux reminded us that there is also the third coming of Christ. This is taking place between the first and the second Advent of Jesus. Jesus is present in our daily lives and knocks in our hearts. If we possess the virtue to discover God in our daily lives, we will not be caught unguarded with His Final Coming.

The Season of Advent reminds us that the presence of God is actually real and manifold. We need to exert effort to open our eyes and heart. Firstly, His presence is the sacraments, especially in the Eucharist. Every time we partake of the Eucharist, we receive the Real Body of Christ in the form of the sacred host. Secondly, His presence is also manifested in the Sacred Scriptures as the Word of God. Saint Augustine reminds us not only to read and study the Bible but also pray with it, as he writes, “When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God.” Thirdly, we are also trained to seek His invisible presence around us. On the door of his room, our formator in the seminary placed a large inscription. It writes, “Train your mind to see the good in everything.” Yes, we cannot see God directly, but we can always unearth His good works around us. He is present when we choose to forgive rather than take revenge. He is just around when suddenly our children give us much-needed warm hugs. He is not far when a little-impoverished boy decides to share his small piece of bread for his sickly mother.

Be prepared and find God in your midst!

Adven: Masa untuk Menemukan Allah

Minggu pertama Adven. 27 November 2016. Matius 24: 37-44

 “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga (Mat 24:44).”

adventKita memasuki masa Adven. Masa ini menandai awal tahun liturgi Gereja yang baru dan juga empat Minggu persiapan Natal. Adven berasal dari kata Latin ‘adventus’ yang berarti ‘kedatangan’, dengan demikian, masa ini mempersiapkan kita untuk kedatangan Kristus.

Iman kita berbicara tentang dua Kedatangan Yesus. Secara historis, kedatangan Yesus yang pertama adalah di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu, sebagai seorang bayi kecil yang lemah lembut. Kita menyebut hari ini sebagai Natal pertama, sementara para teolog namakan momen sakral dalam sejarah ini sebagai Inkarnasi. Ini berarti Sang Sabda, pribadi kedua dari Trinitas, menjadi daging, dan tinggal di antara kita (lihat Yoh 1:14). Sementara Kedatangan Kedua menarik perhatian kita pada kedatangan-Nya sebagai Raja dan Hakim yang mengadili orang yang hidup dan mati. Kedatangan Kedua ini merupakan bagian integral dari sistem kepercayaan kita dan secara eksplisit tertulis di kedua syahadat Gereja: Syahadat para Rasul dan Syahadat Nikea-Konstantinopel.

Pada kedatangan pertama, tak seorang pun menyangka Mesias akan lahir dalam kondisi yang sangat sederhana dan dari keluarga miskin Yusuf dan Maria. Pasa jaman Yesus, orang-orang Yahudi secara alami mengharapkan Mesias akan datang dari keluarga bangsawan yang berpengaruh dan kaya. Tetapi, ini bukan kehendak Allah. Meskipun kita semua percaya pada Kedatangan Kedua, tidak ada yang tahu kapan tepatnya ia akan datang. Ada banyak nabi-nabi mengumumkan akhir dunia, tapi tidak ada yang terbukti benar. Sebagaimana kedatangan pertama yang mengejutkan bangsa Yahudi, demikian juga kedatangan kedua akan membawa kejutan besar bagi kita semua.

Dengan demikian, untuk menghindari ekspektasi yang salah dan juga kelalaian, Gereja mengajak kita untuk merayakan masa Adven. Masa ini melatih kita untuk mengharapkan Kedatangan-Nya, dan untuk mengharapkannya dengan benar. Tapi, bagaimana Masa Adven membuat kita mempersiapkan diri dengan benar? Jawabannya terletak pada kedatangan Yesus yang ketiga. St. Bernard dari Clairvaux mengingatkan kita bahwa ada juga kedatangan ketiga Kristus. Hal ini terjadi antara kedatangan pertama dan kedatangan kedua Kristus. Yesus hadir dalam kehidupan kita sehari-hari dan mengetuk hati kita. Jika kita memiliki keutamaan untuk menemukan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, kitapun akan siap dengan kedatangan akhir-Nya.

Masa Adven mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah sebenarnya nyata dan beragam, kita hanya perlu mengerahkan usaha untuk membuka mata dan hati kita. Pertama, kehadiran-Nya ada pada sakramen, terutama Ekaristi. Setiap kali kita mengambil bagian Ekaristi, kita menerima Tubuh Kristus yang nyata dalam bentuk hosti suci. Kedua, kehadiran-Nya juga diwujudkan dalam Kitab Suci sebagai Firman Allah. St. Agustinus mengingatkan kita untuk tidak hanya membaca dan mempelajari Alkitab, tetapi juga berdoa dengan buku suci ini. Ia menulis, “Ketika kamu membaca Alkitab, Allah berbicara kepadamu; ketika kamu berdoa, kamu berbicara kepada Allah.” Ketiga, kita juga dilatih untuk mencari keberadaan-Nya yang tak terlihat di sekitar kita. Di pintu kamarnya, formator kami di seminari menggantung sebuah tulisan besar: Latihlah pikiranmu untuk melihat yang baik dalam segala hal.” Ya, kita tidak bisa melihat Allah secara kasad mata, tetapi kita selalu dapat menemukan pekerjaan baik-Nya di sekitar kita. Ia hadir ketika kita memilih untuk memaafkan daripada membalas dendam. Dia ada ketika tiba-tiba anak-anak kita memberi kita pelukan hangat yang sangat kita dibutuhkan. Dia tidak jauh ketika seorang anak miskin kecil memutuskan untuk berbagi sepotong rotinya yang kecil untuk ibu yang sakit.

Bersiaplah dan temukan Tuhan di tengah-tengah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Raja di kayu Salib

Hari Raya Kristus Raja [November 20, 2016] Lukas 23: 35-43

 Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. (Luk 23:43)”

king-on-the-crossPerayaan liturgi Kristus Raja merupakan perkembangan baru dalam Gereja. Paus Pius XI menetapkan hari raya ini pada tahun 1925 di bulan Oktober. Paus Paulus VI pada tahun 1969 kemudian mendedikasikan hari Minggu terakhir dari Masa Biasa dalam kalender liturgi Gereja bagi Kristus Raja Semesta Alam. Meskipun perayaan ini tergolong baru di Gereja, kebenaran ini sungguh berakar di dalam Kitab Suci.

Yesus memulai karya-Nya dengan mewartakan Kerajaan Allah. Jika Allah adalah Raja dan Yesus adalah Anak Tunggal Allah, Yesus adalah pewaris sah tahta Kerajaan ini. Namun, Yesus Kristus sebagai raja lebih jelas terlihat dalam kisah sengsara dan wafat-Nya. Para pemimpin agama Yahudi menuduh Yesus menistaan agama Yahudi karena Yesus mengaku sebagai Mesias, Anak Allah, bahkan Allah sendiri (lih. Yoh 8:58). Namun, para pemimpin ini tidak ingin sekedar merajam Yesus. Mereka menginginkan kematian lebih menyakitkan dan memalukan bagi Yesus. Mereka memutuskan untuk membawa-Nya ke Pontius Pilatus, pemimpin Romawi, agar Yesus disalib. Karena Pilatus tidak mau mengurusi permasalahan agama, para pemimpin Yahudi menuduh Yesus memproklamirkan diri-Nya Raja orang-orang Yahudi. Untuk menjadi seorang raja dan memimpin pemberontakan melawan Kaisar Romawi adalah pengkhianatan dan makar, dan pantas dihukum mati. Yesus pun akhirnya dijatuhi  hukuman mati di kayu salib. Alasan Yesus disalib inipun dipaku di kayu yang sama: Yesus dari Nazaret, Raja orang Yahudi, dalam bahasa Latin, Iesus Nazarenus Rex Iudaeorum atau INRI.

Dalam Injil hari ini, kita membaca dari St. Lukas yang menulis dengan indah. Bagi para musuh Yesus, penyaliban adalah kekalahan telak bagi Yesus sang raja dan Mesias. Salah satu tugas utama seorang raja dan Mesias adalah untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi Yesus dipaku di kayu salib, dan bahkan tidak mampu menyelamatkan diri-Nya sendiri. Orang-orang Yahudi yang membenci-Nya mengejek dia sebagai Mesias tidak berguna, sementara tentara Romawi mencemooh dia sebagai raja yang lemah. Bahkan salah satu penjahat yang tersalib ikut menghujat Yesus. Sungguh, Yesus tidak berdaya, sangat lemah dan menahan rasa sakit yang luar biasa dan berkepanjangan. Teman dan murid-murid-Nya meninggalkan dia. Pengikutnya lari dari-Nya. Kematian menunggu-Nya. Salib adalah momen kegagalan total bagi Yesus.

Namun, di saat kegelapan ini, ketika semua orang berpikir bahwa salib adalah akhir dari Kerajaan Yesus, Ia melakukan tindakan terbesar sebagai seorang raja. Dia mengampuni dan menyelamatkan sang penjahat yang bertobat di kayu salib. Daripada mengeluh atau mengutuk, dia mengucapkan berkat. Alih-alih membalas dendam, Dia menyembuhkan. Bukannya jatuh dalam keputusasaan, Dia justru memberi harapan. Kerajaan-Nya tidak berdasarkan kekerasan dan paksaan, tetapi pada keadilan dan belas kasih. Ini adalah Raja yang sejati, Yesus adalah Raja kita.

Jika kita menyambut Yesus sebagai Raja kita dan kita berbagi kerajaan-Nya dalam pembaptisan, sudah selayaknya bagi kita untuk menjalankan hidup kita seperti Yesus. Pada saat kita menghadapi banyak kesulitan, ketika kita terluka, dan ketika kita merasa begitu lemah, kita diberdayakan untuk bertindak seperti Kristus Raja: untuk memberkati, menyembuhkan, dan memberikan harapan. Ya, tentunya sangat sulit, tetapi jika kita memiliki seorang raja yang mampu mengasihi dihadapan semua keburukan, kita juga bisa mengasihi di tengah-tengah permasalahan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP