Joseph the Just Man

4th Sunday of Advent [C]

December 21, 2025

Matthew 1:18-24

As we approach Christmas, the Gospel introduces us to the key figures surrounding the Messiah’s birth. Among them is Joseph, the foster father of Jesus. Matthew the Evangelist gives him a profound title: a “just man.” What does it mean to be like Joseph? What does it mean to be just?

Matthew uses the Greek word “δίκαιος” (dikaios), typically translated as “just” or “righteous.” In the Biblical context, being just means living in faithful obedience to God’s Law, particularly the Torah given through Moses at Sinai. This adjective is highly significant for an Israelite. Scripture consistently links the “just” person—one who lives by God’s Law—with true happiness and blessing. Psalm 1 declares, “Happy are those who… delight in the law of the Lord, and meditate on his law day and night.” Proverbs similarly praise, “The memory of the just is blessed” (10:7). Why is this life of justice so praiseworthy and fulfilling?

The answer lies in how the Israelites understood God’s Law. They did not view it primarily as a restriction on freedom, but as a gift of love and identity. God gave the Law at Sinai after choosing Israel as His holy nation. Therefore, living the Law was not merely an obligation; it was a sign of their covenant fidelity and their very identity as God’s people. Fundamentally, they saw the Law as God’s gracious guidance—the pathway to avoid the pitfalls of misery and to draw closer to Him, the source of all blessing.

Consequently, Joseph is called “just” because he is the true Israelite who meditates on, loves, and lives by God’s Law. During His formative years, Jesus would have received from Joseph not only a knowledge of the Law’s letters but also Joseph’s own love for God and His commandments. In Joseph, Jesus and Mary saw a happy and righteous man.

From St. Joseph, we learn to love God through faithful obedience. However, we must also avoid the trap of rigidity and legalism, which absolutizes the letter of the law over its spirit. Had Joseph chosen a rigid legalism, he might have applied the strictest penalty to Mary upon discovering her pregnancy, that is stoning. Yet, his justice was perfected by mercy. He recognized that the Law’s ultimate purpose is to love God and neighbor, leading him to protect Mary’s life. Joseph was a happy man because, through the Law, he loved God profoundly.

Finally, Jesus Himself holds the “just” in high esteem. He teaches, “Blessed are those who hunger and thirst for righteousness” (Matthew 5:6), and promises, “Then the just will shine like the sun in the kingdom of their Father” (13:43). While Joseph is not named explicitly in these verses, it is fitting to see in these verses a reflection of his own virtue—virtue that shaped the Holy Family.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Meditation:

Do I strive to know God’s Law as revealed in Scripture and taught by the Church?

Do I meditate on God’s commandments, seeking the wisest way to live them out in love for God and my neighbor?

Do I follow rules blindly, or do I seek to understand the spirit and purpose behind them? How do I treat those who struggle to live by them?

Yusuf, Orang yang Benar

Minggu Keempat Advent [C]

21 Desember 2025

Matius 1:18-24

Seiring mendekati Natal, Injil memperkenalkan kita pada tokoh-tokoh kunci yang mengelilingi kelahiran Sang Mesias. Di antara mereka adalah Yusuf, ayah angkat Yesus. Matius, sang Injil, memberinya gelar yang mendalam: seorang “yang benar” (kata “tulus hati” sebenarnya kurang tepat). Apa artinya menjadi seperti Yusuf? Apa artinya menjadi benar?

Matius menggunakan kata Yunani “δίκαιος” (dikaios), yang biasanya diterjemahkan sebagai “adil” atau “benar.” Dalam Alkitab, menjadi benar berarti hidup dalam ketaatan yang setia terhadap Hukum Allah, khususnya Taurat yang diberikan melalui Musa di Sinai. Kata sifat ini sangat penting bagi seorang Israel. Kitab Suci secara konsisten mengaitkan orang yang “benar”—yang hidup menurut Hukum Allah—dengan kebahagiaan dan berkat yang sejati. Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang yang… bersukacita dalam hukum Tuhan, dan merenungkan hukum-Nya siang dan malam.” Amsal juga memuji, “Ingatan akan orang yang benar diberkati” (10:7). Mengapa hidup yang benar begitu layak dipuji dan memberikan berkat?

Jawaban terletak pada cara orang Israel memahami Hukum Allah. Mereka tidak memandangnya sebagai pembatasan kebebasan, tetapi sebagai anugerah kasih dan identitas. Allah memberikan Hukum di Sinai setelah memilih Israel sebagai bangsa-Nya yang kudus. Oleh karena itu, hidup menurut Hukum bukanlah sekadar kewajiban; itu adalah tanda kesetiaan perjanjian mereka dan identitas mereka sebagai umat Allah. Pada dasarnya, mereka melihat Hukum sebagai bimbingan kasih Allah—jalan untuk menghindari jurang kesengsaraan dan rambu untuk mendekati-Nya, Sang Sumber segala berkat.

Oleh karena itu, Yusuf disebut “benar” karena ia adalah orang Israel sejati yang merenungkan, mencintai, dan hidup menurut Hukum Allah. Selama masa pembentukannya, Yesus pasti menerima dari Yusuf tidak hanya pengetahuan tentang huruf-huruf Hukum, tetapi juga cinta Yusuf terhadap Allah dan perintah-perintah-Nya. Dalam Yusuf, Yesus dan Maria melihat seorang pria yang bahagia dan benar.

Dari Santo Yusuf, kita belajar mencintai Allah melalui ketaatan yang setia. Namun, kita juga harus menghindari jebakan kekakuan dan legalisme, yang mengabsolutkan huruf-huruf hukum. Jika Yusuf memilih legalisme yang kaku, ia mungkin akan menerapkan hukuman terberat pada Maria saat mengetahui kehamilannya, yaitu rajam. Namun, keadilannya disempurnakan oleh kerahiman. Ia menyadari bahwa tujuan akhir Hukum adalah mengasihi Allah dan sesama, dan ini mendorongnya untuk melindungi hidup Maria. Yusuf adalah pria yang bahagia karena, melalui Hukum, ia mengasihi Allah dengan mendalam.

Akhirnya, Yesus sendiri menghargai orang-orang yang “benar” dengan tinggi. Ia mengajarkan, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (Mat 5:6), dan berjanji, “Maka orang-orang yang benar akan bersinar seperti matahari di kerajaan Bapa mereka” (13:43). Meskipun Yusuf tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat-ayat ini, pantaslah kita melihat dalam ayat-ayat ini cerminan kebajikan-Nya—kebajikan yang membentuk Keluarga Kudus Nazaret.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk Renungan:

Apakah saya berusaha mengenal Hukum Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci dan diajarkan oleh Gereja?

Apakah saya merenungkan perintah-perintah Allah, mencari cara terbaik untuk hidup sesuai dengan cinta kepada Allah dan sesama?

Apakah saya mengikuti aturan secara buta, atau apakah saya berusaha memahami roh dan tujuan di baliknya? Bagaimana saya memperlakukan mereka yang kesulitan hidup sesuai dengan aturan tersebut?

Harapan Kita

Minggu Ketiga Advent [A]

14 Desember 2025

Matius 11:2-11

Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya untuk menanyakan kepada Yesus, “Apakah Engkau yang akan datang, atau haruskah kami mencari yang lain?” Momen ini mengungkapkan ketidakpastian yang mendalam dalam diri Yohanes—seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias. Lalu, mengapa ia ragu?

Bagi kita umat Kristiani, identitas Yesus jelas. Namun, apa yang jelas bagi kita tidak selalu jelas bagi orang lain, bahkan bagi seseorang yang besar seperti Yohanes. Alasan mendasar mengapa banyak orang kesulitan mengenali Yesus sebagai Yang Dijanjikan adalah karena Ia seringkali tidak memenuhi ekspektasi manusia kita.

Situasi Yohanes menggambarkan hal ini. Ia telah mendedikasikan dirinya sepenuhnya pada misi Allah—untuk mempersiapkan kedatangan Mesias. Namun, setelah menantang Herodes untuk bertobat, ia malah dipenjara dan menghadapi bahaya maut. Di saat gelap itu, ia bertanya-tanya: Apakah ia telah memenuhi kehendak Allah, ataukah ia telah bekerja sia-sia? Sejatinya, Allah telah mengungkapkan identitas Yesus kepada Yohanes di Sungai Yordan (Mrk 1:9; Mat 3:13-17; Luk 3:21-22; Yoh 1:29-34), namun keraguan tetap ada. Yesus tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi Yohanes.

Apa ekspektasi- ekspektasi itu? Seperti banyak orang Israel, Yohanes mungkin menantikan seorang Mesias seperti Daud—seorang pembebas politik yang akan mempersatukan Israel, menggulingkan kekuasaan Romawi, dan memulihkan kemuliaan nasional. Atau mungkin Yohanes mengharapkan seseorang yang mencerminkan gaya hidup asketisnya sendiri: seorang yang hidup dengan kesederhanaan yang ketat, puasa, dan mati raga. Namun, Yesus tidak datang sebagai pahlawan nasionalis, dan Ia juga tidak hidup seperti Yohanes. Sebaliknya, Ia menunjuk pada mukjizat-mukjizat yang Ia lakukan: “Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan…” (Luk 7:22). Ini adalah karya-karya ilahi, tanda-tanda yang mengesahkan identitas dan misi-Nya, meskipun Ia tidak sesuai dengan ekspektasi manusia.

Dari kisah Yohanes, kita belajar pelajaran yang sangat penting: Allah tetap Allah, entah Dia memenuhi ekspektasi kita atau tidak. Memang, Allah seringkali tidak sesuai dengan gambaran terbatas kita tentang-Nya. Hal ini mendorong kita untuk terus-menerus memeriksa ekspektasi kita sendiri dan menyesuaikannya sesuai dengan wahyu-Nya. Menyadari ekspektasi kita dan merubahnya tidaklah mudah, bahkan Yohanes Pembaptis—nabi terbesar—mengalami ketidakpastian dan memiliki ekspektasi yang perlu disempurnakan.

Seiring pertumbuhan rohani kita, kita dipanggil untuk mencari Allah lebih dari mencari keinginan kita sendiri. Hal ini membutuhkan refleksi jujur: Apa harapan kita terhadap Allah? Apakah harapan-harapan itu mendekatkan kita kepada-Nya atau justru menjauhkan kita? Kita percaya Allah adalah baik, tetapi bagaimana kita mengharapkan kebaikan-Nya itu terwujud? Apakah itu berarti kita selalu mendapatkan apa yang kita inginkan? Apakah doa-doa kita dijawab persis seperti yang kita harapkan? Apakah kita akan terhindar dari penderitaan? Dan ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi kita, bagaimana kita merespons? Jika kita menjadi sedih, frustrasi, marah, atau bahkan dipenuhi kepahitan, masalahnya mungkin tidak terletak pada Allah, tetapi pada ekspektasi kita. Masa Advent ini sekali lagi mengajak kita untuk membersihkan ekspektasi kita dan mengizinkan Allah sungguh menjadi Allah kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk refleksi:

Apa ekspektasi- ekspektasi yang saya miliki tentang Allah? Bagaimana saya membayangkan Allah bekerja dalam hidup saya? Bagaimana saya merespons ketika Allah tidak memenuhi ekspektasi saya? Apakah ekspektasi saya mendekatkan saya kepada Allah, atau justru menciptakan jarak?

Our Expectations

Third Sunday of Advent [A]

December 14, 2025

Matthew 11:2-11

John the Baptist sends his disciples to ask Jesus a pivotal question: “Are you the one who is to come, or should we look for another?” This moment reveals a profound uncertainty in John—a man who had dedicated his life to preparing the way for the Messiah. Why, then, does he doubt?

For Christians today, Jesus’ identity is clear. Yet what is evident to us was not always obvious to others, even to someone as faithful as John. A fundamental reason many struggles to recognize Jesus as the One is that He often does not meet human expectations.

John’s situation illustrates this. He had devoted himself entirely to God’s mission—to herald the coming of the Messiah. But after challenging Herod to repent, he finds himself imprisoned and in mortal danger. In that dark hour, he wonders: Had he fulfilled God’s will, or had he labored in vain? God had already revealed Jesus’ identity to John at the Jordan (Mk 1:9; Mt 3:13–17; Lk 3:21–22; Jn 1:29–34) yet doubt lingered. Jesus did not fully align with John’s expectations.

What were those expectations? Like many Israelites, John may have awaited a Davidic Messiah—a political liberator who would unite Israel, overthrow Roman rule, and restore national glory. Or perhaps John expected someone who mirrored his own ascetic lifestyle: a figure of severe simplicity, fasting, and prophetic austerity. Yet Jesus did not come as a nationalist rebel, nor did He live like John. Instead, He pointed to the works He performed: “The blind regain their sight, the lame walk, lepers are cleansed, the deaf hear, the dead are raised…” (Lk 7:22). These were divine acts, signs that authenticated His mission, even if He did not fit human preconceptions.

From John’s story, we learn a powerful lesson: God remains God, whether He meets our expectations or not. Indeed, God often does not conform to our limited images of Him. This invites us to continually examine our own expectations and adjust them in light of His revelation. It is humbling to realize that even John the Baptist—the greatest of prophets—experienced uncertainty and held expectations that needed refining.

As we grow spiritually, we are called to seek God more than we seek our own desires. This requires honest reflection: What are our expectations of God? Are they drawing us closer to Him or pushing us away? We believe God is good, but how do we expect that goodness to manifest? Does it mean we always get what we want? That our prayers are answered exactly as we wish? That we will be spared from suffering? And when God does not meet our expectations, how do we respond? If we become unhappy, frustrated, angry, or even embittered, the problem may lie not with God, but with our expectations. This season of Advent invites us once again to purify our expectations and allow God to be our God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for reflection:

What expectations do I hold about God? How do I envision God working in my life? How do I respond when God does not meet my expectations? Are my expectations drawing me nearer to God, or are they creating distance?

Yohanes Pembaptis dan Integritas

Minggu Kedua Advent [A]

7 Desember 2025

Matius 3:1-12

Teguran Yohanes Pembaptis terhadap orang-orang Farisi dan Saduki sebagai “keturunan ular beludak” merupakan salah satu momen paling mengejutkan dalam Injil. Bagi telinga kita, hal itu terdengar seperti hinaan yang sangat keras. Mengapa Yohanes menggunakan bahasa yang begitu keras?

Untuk memahami kata-katanya, kita harus terlebih dahulu melihat siapa Yohanes itu. Dia diakui secara luas sebagai nabi Allah, seorang pria dengan integritas yang tak tergoyahkan, hidupnya mencerminkan pesan yang dia sampaikan. Memanggil orang untuk bertobat dan kembali kepada Allah, dia sendiri hidup dalam kesederhanaan yang ekstrem—berpakaian bulu unta, makan belalang dan madu liar—mencerminkan penyesalan yang dia ajarkan. Konsistensi antara kata dan perbuatan ini membangun kredibilitasnya, menarik banyak orang ke Sungai Yordan untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka.

Di antara mereka yang datang ada orang-orang Farisi dan Saduki. Meskipun kedua kelompok ini memiliki perbedaan teologis yang signifikan—seperti keyakinan orang Farisi tentang kebangkitan badan dan kanon Kitab Suci yang lebih luas, berbeda dengan orang Saduki—mereka memiliki sikap yang sama: keduanya mengklaim kesalehan yang superior dari orang-orang Israel yang lain berdasarkan pengetahuan mereka tentang Hukum Musa. Pengetahuan ini menjadi landasan untuk mendapatkan keistimewaan, menempatkan mereka dalam posisi kehormatan dan otoritas (lihat Lukas 14:7-11).

Namun, permasalahan mendasar dari orang-orang Farisi dan Saduki adalah kemunafikan. Banyak di antara mereka mencari kehormatan tanpa mempraktikkan integritas yang menghasilkan penghormatan sejati. Mereka berdoa, berpuasa, dan memberi sedekah secara mencolok, melakukan tindakan-tindakan keagamaan sebagai pertunjukan publik dan bukan sebagai transformasi batin. Iman tanpa integritas, pada dasarnya, adalah kemunafikan.

Yohanes menyebut mereka sebagai “keturunan ular beludak” karena, seperti ular di Kitab Kejadian yang menipu Hawa, tipu daya mereka juga menjauhkan orang dari Allah. Mereka datang ke Sungai Yordan bukan dengan penyesalan yang tulus, melainkan untuk memanfaatkan popularitas Yohanes dan mempertahankan citra kesalehan mereka. Bukan pertobatan tetapi pencitraan. Melihat niat mereka, Yohanes menegur mereka dengan tajam: “Berilah buah yang sesuai dengan penyesalan” (Matius 3:8).

Bahaya kemunafikan tidak berakhir dengan para pemimpin agama pada abad pertama. Hal ini tetap menjadi godaan bagi siapa pun yang secara mendalam terlibat dalam kehidupan agama—termasuk kita semua. Menghadiri Misa, berpartisipasi dalam pelayanan, dan melakukan tindakan devosi, tanpa integritas dan pertobatan, dapat menjadi rutinitas yang menipu dan merusak. Kemunafikan tidak hanya merugikan si munafik, tetapi juga komunitasnya. Hal ini dapat melemahkan orang-orang yang beriman, melukai mereka yang tulus, dan memberikan amunisi bagi mereka membenci iman untuk mengejek kita. Tidak jarang karena sudah muak dengan kemunafikan, beberapa orang meninggalkan Gereja sama sekali.

Advent berfungsi sebagai panggilan bangun yang profetik, menggema seruan Yohanes Pembaptis melintasi abad-abad. Praktik-praktik keagamaan kita—baik Ekaristi, pengakuan dosa, devosi, atau pelayanan—harus erat terhubung dengan tobat yang autentik dan pertumbuhan kekudusan yang tulus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk Refleksi:

• Apa yang memotivasi aktivitas keagamaan saya—keinginan untuk dilihat dan dipuji, atau cinta sejati kepada Allah?

• Apakah pilihan harian saya mencerminkan iman yang saya nyatakan? Apakah saya tetap dalam kebiasaan yang bertentangan dengan Injil sambil mempertahankan pengamalan eksternal?

• Apakah saya menghakimi orang lain sementara gagal memenuhi standar yang saya tuntut dari diri sendiri?

Integrity

Second Sunday of Advent [A]

December 7, 2025

Matthew 3:1-12

John the Baptist’s denunciation of the Pharisees and Sadducees as a “brood of vipers” stands as one of the most startling and confrontational moments in the Gospels. To modern ears, it sounds like a severe insult. Why would John use such harsh language?

To understand his words, we must first look at John himself. He was widely recognized as a prophet of God, a man of unwavering integrity whose life embodied his message. Calling for repentance and a return to God, he himself lived in radical austerity—clothed in camel’s hair, sustained by locusts and wild honey—embodying the penitence he preached. This consistency between word and deed established his credibility, drawing multitudes to the Jordan to be baptized as a sign of their repentance.

Among those who came were Pharisees and Sadducees. While these two groups held significant theological differences—such as the Pharisees’ belief in resurrection and a broader canon of Scripture, unlike the Sadducees—they shared a common belief: both claimed a superior piety based on their expert knowledge of the Law. This knowledge became a platform for privilege, placing them in positions of honor and authority (see Luke 14:7-11).

The core issue, however, was hypocrisy. Many among them sought honor without practicing the integrity that earns true respect. They prayed, fasted, and gave alms conspicuously, performing religiosity as a public spectacle rather than an inward transformation. A faith devoid of integrity is, in essence, hypocrisy.

John identified them as a “brood of vipers” because, like the ancient serpent that deceived Eve, their deception led people away from God. They came to the Jordan not in genuine repentance, but to co-opt John’s popularity and perpetuate a façade of piety. Seeing through their intentions, John rebuked them sharply: “Bear fruit worthy of repentance” (Mat 3:8).

The danger of hypocrisy did not end with the religious leaders of the first century. It remains a temptation for anyone deeply invested in religious life—ourselves included. Attending church, participating in ministries, and performing devotional acts can, without integrity and repentance, become a deceptive routine. Hypocrisy harms not only the hypocrite but also the community. It can disillusion the faithful, wound the sincere, and provide those hostiles to faith with ammunition to ridicule believers. It is not rare that because of them, some people leave the Church all together.

Advent serves as a prophetic wake-up call, echoing John the Baptist’s cry across the centuries. Our religious practices—whether the Eucharist, confession, devotions, or service—must be intimately linked to authentic repentance and a sincere pursuit of holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  • What motivates my religious activities—a desire to be seen and praised, or a genuine love for God?
  • Do my daily choices reflect the faith I proclaim? Do I persist in habits contrary to the Gospel while maintaining external observance?
  • Do I judge others while failing to live up to the standards I demand of myself?

Dua Adven

Minggu Pertama Adven [A]

30 November 2025

Matius 24:37-44

Kita memulai tahun liturgi dengan merayakan Minggu Pertama Adven. Kata “Adven” berasal dari bahasa Latin “Adventus,” yang berarti “kedatangan.” Dalam konteks Katolik, Adven menandakan kedatangan Yesus Kristus. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus datang ke dunia dua kali. Kedatangan-Nya yang pertama adalah ketika Pribadi Kedua Tritunggal Mahakudus, Sang Putra, Logos yang ilahi dan tak diciptakan, menjadi manusia dan hidup di Israel pada abad pertama. Kedatangan-Nya yang kedua akan terjadi pada akhir zaman, ketika Ia akan kembali sebagai Hakim bagi yang hidup dan yang mati.

Dualitas kedatangan Kristus ini tercermin dalam bacaan-bacaan hari Minggu sepanjang masa Adven. Minggu pertama dan kedua berfokus terutama pada kedatangan kedua Yesus, sementara minggu ketiga dan keempat lebih banyak berbicara tentang kedatangan pertama-Nya. Pola ini sangat penting karena mengajarkan kepada kita bahwa Adven—dan juga Natal—bukan hanya tentang kelahiran bayi Yesus di Bethlehem, tetapi juga tentang kembalinya Kristus  sang Raja. Kedatangan pertama menonjolkan kelembutan dan belas kasih Yesus, sementara kedatangan kedua mengungkapkan keadilan ilahi-Nya.

Oleh karena itu, Adven mengajak kita untuk memasuki dua bentuk penantian yang berbeda: penantian yang penuh sukacita akan bayi Yesus yang penuh kasih, dan kesadaran yang serius akan penghakiman ilahi Kristus Raja pada akhir zaman. Menjaga keseimbangan antara dua bentuk penantian ini tidaklah mudah, karena kita sering kali lebih fokus pada satu aspek daripada yang lain. Beberapa orang hanya fokus pada sukacita kelahiran Yesus, melupakan kebutuhan untuk mempersiapkan diri menghadapi penghakiman Allah. Yang lain hidup dalam ketakutan yang konstan akan murka ilahi pada hari Penghakiman dan mengabaikan kasih dan belas kasih Allah yang mendalam.

Meskipun sulit, menjaga keseimbangan antara kedua kebenaran ini esensial bagi keselamatan kita. Yesus sendiri memperingatkan murid-murid-Nya bahwa pada zaman Nuh, orang-orang terlarut dalam kehidupan sehari-hari mereka ketika banjir tiba-tiba datang. Sebaliknya, jika kita terjebak dalam ketakutan dan kecemasan tentang surga dan neraka, kita tidak dapat hidup di dunia ini dengan sukacita, sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, bagaimana kita menjaga keseimbangan yang sehat antara dua jenis penantian ini?

Jawaban terletak pada apa yang dapat kita sebut sebagai “kedatangan ketiga” Kristus. Jika kedatangan pertama adalah inkarnasi-Nya dan kedatangan kedua adalah perannya sebagai Hakim, kedatangan ketiga ini terjadi di antara keduanya. Ini adalah kedatangan Kristus dalam hidup kita setiap hari melalui berbagai cara. Yesus berjanji akan menyertai kita hingga akhir zaman (Mat 28:20). Pertama, Dia datang kepada kita dalam Sakramen, terutama Ekaristi, di mana Dia hadir sepenuhnya dalam rupa roti dan anggur. Ketika kita menyembah-Nya dalam Ekaristi dengan selayaknya, kita membentuk jiwa kita untuk menyambut-Nya dengan layak sebagai Raja Semesta Alam.

Kedua, ketika kita secara teratur membaca Kitab Suci dan hidup sesuai dengan firman Allah, kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus. Maka, ketika Ia datang sebagai Hakim, Ia akan mengenali kita sebagai milik-Nya. Ketiga, ketika kita meluangkan waktu untuk doa, devosi, dan adorasi, kita menjadi familiar dengan suara Gembala kita. Oleh karena itu, pada kedatangan-Nya yang kedua, kita akan tahu persis suara mana yang harus diikuti ketika Sang Raja memanggil nama kita.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan untuk Refleksi:

  • Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk Natal? Apakah persiapan kita berfokus pada hal-hal eksternal seperti dekorasi, liburan, dan pakaian baru? Atau apakah kita memprioritaskan persiapan rohani dengan berusaha hidup lebih penuh sesuai dengan kehendak Allah?
  • Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus yang kedua? Apakah dengan sukacita atau ketakutan? Apakah kita menghadiri Misa karena kewajiban, kebiasaan, atau keinginan yang tulus untuk menyembah Allah?

First and Second Advent

First Sunday of Advent [A]
November 30, 2025
Matthew 24:37-44

We begin the liturgical year by celebrating the First Sunday of Advent. The word “Advent” comes from the Latin “Adventus,” meaning “arrival.” In the Catholic context, Advent signifies the arrival of Jesus Christ. Our faith teaches that Jesus comes to the world in two ways. His first coming was in the flesh, when the Second Person of the Holy Trinity, the divine and uncreated Logos, became man and lived in first-century Palestine. His second coming will be at the end of time, when He will return as the Judge of the living and the dead.

This duality of Christ’s coming is reflected in the Sunday readings throughout Advent. The first and second Sundays focus primarily on the second coming of Jesus, while the third and fourth Sundays speak more of His first coming. This pattern is crucial because it teaches us that Advent—and, by extension, Christmas—is not only about the birth of a baby in Bethlehem but also about the return of Christ the King. The first arrival highlights Jesus’ tenderness and mercy, while the second reveals His divine justice.

Therefore, Advent invites us into two distinct modes of waiting: a joyful anticipation of the loving infant Jesus, and a sober awareness of the divine judgment of Christ the King. Maintaining this tension is challenging, as we often favor one aspect over the other. Some focus exclusively on the joy of the Nativity, forgetting the need to prepare for God’s judgment. Others live in constant fear of divine wrath, overlooking God’s profound love and mercy.

Though difficult, holding both truths in balance is essential for our salvation. Jesus Himself warns His disciples that in the days of Noah, people were absorbed in their daily lives when the flood suddenly came. Conversely, if we are trapped in fear and anxiety about hell, we cannot live the joyful life God intends. So, how do we maintain a healthy balance between these two kinds of waiting?

The answer lies in what we can call the “third” coming of Christ. If the first Advent is His incarnation and the second is His role as Judge, this third coming occurs between these two. It is Christ’s daily arrival in our lives through various means. Jesus promised to be with us until the end of time (Matthew 28:20). He comes to us in the Sacraments, especially the Eucharist, where He is fully present under the appearances of bread and wine. When we worship Him at Mass with reverence, we form our souls to properly welcome Him as the King of the Universe.

When we regularly read Scripture and live according to God’s word, we are conformed to the likeness of Christ. Then, when He comes as Judge, He will recognize us as His own. When we dedicate time to prayer, devotion, and adoration, we familiarize ourselves with the voice of our Shepherd. Thus, at His second coming, we will know exactly which voice to follow when the King calls our name.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  • How do we prepare for Christmas? Is our preparation focused on external things like decorations, travel, and new clothes? Or do we prioritize spiritual preparation by striving to live more fully according to God’s will?
  • How do we prepare for Jesus’ second coming with joy rather than fear? Do we attend Mass out of obligation, habit, or a genuine desire to worship God?

The Tale of Two Mothers

4th Sunday of Advent [C]

December 22, 2024

Luke 1:39-45

Mary and Elizabeth are two of the most powerful women in the Bible. Yet, their power does not stem from physical strength. Mary is a young and tender woman, while Elizabeth is elderly. Their immense strength lies in their unwavering commitment to follow the will of God. But what is God’s will for these remarkable women? They are called to be mothers.

Motherhood is often seen as a natural progression in a woman’s life. After marriage, it is generally expected that a woman will bear children. The female body undergoes incredible transformations to create a nurturing environment for a growing baby. These physiological changes are not only numerous but also gradual, adapting to the baby’s needs during pregnancy. The activities of the heart, lungs, kidneys, and other organs increase significantly to support both mother and child. Additionally, the body produces new hormones that affect various organs, metabolism, and psychological states. Even after giving birth, the mother’s body doesn’t immediately return to its pre-pregnancy state; instead, it continues to transform to support the newborn. For example, the body produces breast milk, carefully adjusted in quantity and nutrients to meet the baby’s needs.

Despite the marvel of these processes, the pregnancy has taken place to billions of women and this has led some to view it as merely a biological or mechanical function necessary for the survival of the species. Some people reduce the female body to a mere reproductive tool or see pregnancy as nothing more than a temporary vessel for the baby. This mechanical perspective on the body and the mother-child relationship has driven some to make extreme decisions, including terminating pregnancies. The reasons for such decisions are varied—fears of overpopulation, concerns about increasing carbon emissions, economic challenges, or simply the perceived inconvenience of having children.

This is where Mary and Elizabeth stands as our examples. Both women recognized that their pregnancies were not just biological processes. They understood the risks involved in their unique situations. Mary, though betrothed to Joseph, was pregnant without any involvement of a man. She risked being accused of adultery, a crime punishable by stoning under the law (Deuteronomy 22:22-24). Elizabeth, on the other hand, faced the physical dangers of pregnancy in old age, which could have jeopardized her life. Despite these risks, both women embraced their roles as mothers. Why? Because they believed that motherhood was God’s will for them—a holy vocation. They trusted that the God who called them to this sacred mission would also sustain and provide for them.

Holiness is the key to true happiness. This is why the meeting between Mary and Elizabeth is marked by joy rather than fear or anxiety. In today’s world, where having children is often viewed as a burden rather than a blessing, an act of faith, or a source of joy, Mary and Elizabeth serve as beacons of hope. Their courage and faith inspire us to see motherhood as a divine calling and a profound source of happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Questions for Reflection:

  1. How do we perceive pregnancy? Is it merely a biological process, a socio-cultural event, an economic burden, or a divine calling to holiness?
  2. For mothers: How do you view your children? How do you nurture them and guide them in their journey through life?
  3. For men: What roles do you play in supporting pregnant mothers or mothers caring for their babies?

Kisah Dua Orang Ibu

Minggu ke-4 Masa Adven [C]

22 Desember 2024

Lukas 1:39-45

Maria dan Elisabet adalah dua wanita yang paling kuat di dalam Alkitab. Namun, kekuatan mereka tidak berasal dari kekuatan fisik. Maria adalah seorang wanita muda dan lembut, sementara Elisabet sudah lanjut usia. Kekuatan mereka yang luar biasa terletak pada komitmen mereka yang teguh untuk mengikuti kehendak Allah. Mereka dipanggil untuk menjadi ibu. Namun, bagaimana mereka melihat panggilan mereka sebagai ibu? Dan apa hidup mereka masih relevan bagi kita sekarang?

Menjadi seorang ibu sering kali dipandang sebagai perkembangan alamiah dalam kehidupan seorang wanita. Setelah menikah, umumnya seorang wanita akan mengandung dan melahirkan anak. Tubuh wanita mengalami transformasi yang luar biasa untuk menciptakan lingkungan yang sehat bagi bayi yang sedang tumbuh. Perubahan fisiologis ini tidak hanya banyak tetapi juga bertahap, beradaptasi dengan kebutuhan bayi selama kehamilan. Aktivitas jantung, paru-paru, ginjal, dan organ-organ lainnya meningkat secara signifikan untuk mendukung ibu dan anak. Selain itu, tubuh memproduksi hormon-hormon baru yang memengaruhi berbagai organ, metabolisme, dan kondisi psikologis. Bahkan setelah melahirkan, tubuh ibu tidak langsung kembali ke kondisi sebelum hamil, melainkan terus bertransformasi untuk mendukung bayi yang baru lahir. Sebagai contoh, tubuh memproduksi ASI, yang volume dan nutrisinya, terus berubah menyesuaikan kebutuhan bayi.

Terlepas dari keajaiban proses ini, karena proses kehamilan terjadi di mana-mana dan di setiap waktu, tidak sedikit orang yang memandangnya hanya sebagai fungsi biologis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies. Beberapa orang melihat tubuh wanita hanya sebagai alat reproduksi belaka atau melihat rahim tidak lebih dari sebuah wadah sementara untuk bayi. Perspektif yang salah terhadap tubuh dan hubungan ibu-anak ini telah mendorong beberapa orang untuk mengambil keputusan ekstrem, termasuk aborsi. Alasan untuk keputusan tersebut beragam – ketakutan akan populasi yang berlebihan, kekhawatiran akan peningkatan emisi karbon, tantangan ekonomi, atau hanya sekedar ketidaknyamanan yang dirasakan karena memiliki anak.

Di sinilah Maria dan Elisabet menjadi sangat relevan bagi kita. Mereka memahami risiko yang ada dalam situasi unik mereka. Maria, meskipun telah bertunangan dengan Yusuf, hamil tanpa keterlibatan seorang pria pun. Ia berisiko dituduh berzinah, sebuah kejahatan yang dapat dihukum rajam menurut hukum Taurat (Ulangan 22:22-24). Di sisi lain, Elisabet menghadapi bahaya fisik akibat kehamilan di usia tua, yang dapat membahayakan nyawanya. Terlepas dari risiko-risiko tersebut, kedua perempuan ini tetap menjalankan peran mereka sebagai ibu. Mengapa? Karena kedua wanita ini menyadari bahwa kehamilan mereka bukan hanya proses biologis, namun percaya bahwa menjadi ibu adalah kehendak Tuhan bagi mereka – sebuah panggilan suci. Mereka percaya bahwa Tuhan yang memanggil mereka ke dalam misi kudus ini juga akan menopang dan memenuhi kebutuhan mereka.

Kekudusan adalah kunci kebahagiaan sejati. Inilah sebabnya mengapa pertemuan antara Maria dan Elisabet ditandai dengan sukacita dan bukannya ketakutan atau kecemasan. Di dunia saat ini, di mana memiliki anak sering kali dipandang sebagai beban dan bukan sebagai berkat, tindakan iman, atau sumber sukacita, Maria dan Elisabet menjadi tanda pengharapan. Keberanian dan iman mereka mengilhami kita untuk melihat menjadi seorang ibu sebagai panggilan ilahi dan sumber kebahagiaan yang mendalam.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:

  1. Bagaimana kita memandang kehamilan? Apakah kehamilan hanyalah sebuah proses biologis, peristiwa sosial-budaya, beban ekonomi, atau panggilan ilahi untuk menjadi kudus?
  2. Untuk para ibu: Bagaimana Anda memandang anak-anak Anda? Bagaimana Anda mengasuh mereka dan membimbing mereka dalam perjalanan hidup mereka?
  3. Untuk laki-laki: Peran apa yang Anda mainkan dalam mendukung ibu hamil atau ibu yang merawat bayi mereka?