Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Untuk Kemuliaan Allah dan Keselamatan Manusia

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa [B]
11 Februari 2024
Markus 1:40-45
1 Korintus 10:30 – 11:1

Menjelang akhir suratnya kepada jemaat di Korintus, Santo Paulus mengingatkan kita akan dua tujuan dasar setiap murid Kristus. Yang pertama adalah, “…segala sesuatu yang kamu perbuat, perbuatlah semuanya untuk kemuliaan Allah (1 Kor 10:31).” Yang kedua adalah, “…dalam segala sesuatu yang kulakukan, aku tidak mencari keuntungan bagiku sendiri, tetapi keuntungan bagi banyak orang, supaya mereka diselamatkan (1 Kor. 10:33).” Paulus mengatakan bahwa dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kita melakukannya untuk kemuliaan Allah dan keselamatan sesama.

Namun, apakah mungkin kita melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama? Banyak dari kita yang sibuk bekerja dan disibukkan dengan banyak hal lain untuk kelangsungan hidup kita, dan seringkali, kita hampir tidak ingat akan hadirat Tuhan, apalagi memuji dan bersyukur kepada-Nya. Beberapa dari kita bahkan kesulitan untuk menghadiri Misa Mingguan. Apakah ini berarti kita gagal dalam hal ini?

Paulus tidak memerintahkan kita untuk ‘mengucapkan kemuliaan bagi Tuhan’ melainkan ‘melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan’. Ini bukan hanya tentang menyanyikan pujian atau mengucapkan “kemuliaan bagi Allah di surga” sepanjang hari. Pada dasarnya, apa yang bisa kita lakukan adalah memilih untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan, bahkan dalam hal-hal yang biasa dan rutin. Dalam pekerjaan kita, kita memuliakan Allah ketika kita melakukan pekerjaan yang jujur. Bahkan ketika kita menonton sesuatu di televisi atau melihat konten di gadget kita, kita dapat melakukannya untuk kemuliaan Tuhan ketika kita menghindari melihat hal-hal yang membawa kita kepada dosa dan memilih untuk melakukan apa yang benar-benar bermanfaat. Tentu saja, kita tidak dapat memuliakan Allah jika kita menganggur atau membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak berguna.

Tujuan kedua adalah melakukan segala sesuatu agar orang lain mendapatkan keselamatan. Adalah sikap yang salah jika kita hanya berfokus pada keselamatan kita sendiri. Iman kita bukanlah iman yang mementingkan diri sendiri dan individualistis, tetapi iman yang berorientasi pada sesama dan penuh kasih. Keselamatan kita bergantung pada keselamatan sesama kita juga. Itulah iman Katolik, sebuah iman untuk keselamatan universal. Misi mendasar seorang suami adalah membawa istrinya lebih dekat kepada Allah. Keselamatan orang tua bergantung pada pertumbuhan kekudusan anak-anak mereka.

Tetapi, apakah kita bertanggung jawab atas keselamatan semua orang? Ya, kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada semua orang, tetapi kita terutama bertanggung jawab atas mereka yang dekat dengan kita, seperti keluarga atau anggota komunitas kita. Namun, Santo Paulus juga menyampaikan pesan yang jelas, “Jadilah tanpa cela bagi orang Yahudi atau orang Yunani atau Gereja Allah (1 Kor. 10:32).” Meskipun kita tidak secara aktif bertanggung jawab atas keselamatan semua orang, kita diharapkan untuk tidak menyebabkan kerugian atau skandal yang dapat mendorong orang menjauh dari Tuhan. Kita selalu menjadi saksi dan murid Kristus di dunia.

Terakhir, dua misi dasar yang diinstruksikan oleh Santo Paulus ini adalah konkretisasi dari hukum yang paling mendasar yang diajarkan oleh Yesus: mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita (lihat Mat. 22:37-38). Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, kita melakukannya untuk kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita dan Pewartaan Injil

Hari Minggu ke-5 dalam Masa Biasa [B]

4 Februari 2024

Markus 1:29-39

Sering kali, kita berasumsi bahwa tugas pewartaan Injil hanya untuk para uskup, imam, dan diakon, atau untuk biarawan-biarawati atau katekis-katekis awam. Namun, anggapan ini kurang tepat. Yang benar adalah bahwa setiap orang yang dibaptis memiliki sebuah tanggung jawab untuk mewartakan Injil. Ya, Anda dan saya! Tetapi, bagaimana kita mewartakan jika kita tidak memiliki talenta atau kemampuan untuk melakukannya?

Pertama, kita harus menyadari bahwa mewartakan Injil adalah bagian penting dari identitas kita sebagai orang Kristen. Menjadi Kristen berarti kita menjadi ‘citra Kristus’, atau ‘Kristus yang lain.’ Dalam Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa misi-Nya adalah untuk mewartakan Injil. Dia menolak untuk berhenti di satu kota dan menikmati pujian dari orang-orang, tetapi Dia harus pergi ke tempat lain dan berkhotbah. Jika Yesus sendiri berkomitmen untuk memberitakan Kabar Baik, maka kita, sebagai citra-Nya, dipanggil untuk mewujudkan komitmen ini juga. Orang Kristen sejati adalah orang yang dengan setia mewartakan Injil.

Yesus mengakui misi ini sebagai bagian dari identitas-Nya dan menyerahkannya kepada Gereja-Nya sebagai sebuah perintah. Setelah kebangkitan-Nya, Dia mengamanatkan kepada murid-murid-Nya, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:19-20). Sekali lagi, misi ini bukanlah pilihan, melainkan kewajiban bagi setiap murid Yesus.

Gereja memahami misi ini, dan dengan demikian, Gereja mengajarkan kepada kita, “Kaum awam juga memenuhi misi kenabian mereka melalui penginjilan, “yaitu pewartaan Kristus dengan kata-kata dan kesaksian hidup… (KGK 905).” Santo Thomas Aquinas, seorang teolog, menulis, “Mengajar untuk menuntun orang lain kepada iman adalah tugas setiap pengkhotbah dan setiap orang beriman (STh. III, 71,4 ad 3).”

Namun, bagaimana kita berkhotbah jika kita tidak memiliki talenta dan karunia? Pertama, kita perlu menyadari bahwa ada jenis-jenis pewartaan yang secara khusus dipercayakan kepada para klerus, seperti di dalam liturgi. Alasannya adalah karena Gereja ingin memastikan bahwa pewartaan di tempat yang sakral ini akan dilakukan dengan khidmat dan sesuai dengan ajaran-ajaran Gereja yang benar. Namun, ada banyak kesempatan lain bagi umat awam untuk pewartaan, dan bahkan, pada kenyataannya, ada konteks-konteks di mana hanya umat awam yang dapat mewartakan Injil: pernikahan dan keluarga.

Dalam konteks keluarga, pria dan wanita tidak hanya terikat oleh baptisan mereka untuk memberitakan Injil, tetapi juga oleh janji pernikahan mereka. Suami dan istri membawa satu sama lain lebih dekat kepada Allah, dan orang tua mendidik anak-anak mereka untuk mengasihi Allah dan melatih mereka dalam kekudusan. Kita meluangkan waktu untuk berdoa bersama sebagai sebuah keluarga di rumah atau di gereja. Kita mengajarkan anak-anak kita doa-doa dasar. Kita memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita. Kita membawa anak-anak kita ke paroki untuk pembaptisan dan sakramen-sakramen lainnya serta menerima berbagai petunjuk iman dari para imam dan katekis. Misi ini tidak membutuhkan bakat atau pelatihan khusus, melainkan waktu dan komitmen, sesuatu yang dimiliki semua orang.

Misi pewartaan Injil tidak hanya sesuatu yang esensial dari identitas kita sebagai murid Kristus, dan bahkan keselamatan kita bergantung pada hal ini. Biarlah kata-kata Santo Paulus menjadi moto kita, “Celakalah aku, jika aku tidak mewartakan Injil” (1 Kor. 9:16).

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh-Roh Jahat dan Najis

Hari Minggu Keempat dalam Masa Biasa [B]

28 Januari 2024

Markus 1:21-28

Salah satu hal yang paling menarik dalam pelayanan Yesus adalah pengusiran roh-roh jahat. Markus, sang penulis Injil, bahkan tidak ragu-ragu menuliskan bahwa mengusir roh-roh jahat merupakan bagian dari pengajaran Yesus yang penuh otoritas. Otoritas Yesus tidak hanya mempengaruhi pendengar manusia, tetapi juga mengendalikan roh-roh jahat. Namun, siapakah roh-roh jahat itu? Mengapa Yesus memiliki otoritas atas mereka? Dan bagaimanakah pengaruhnya terhadap kehidupan kita?

Berdasarkan Kitab Suci dan tradisi, Gereja mengajarkan bahwa roh-roh ini juga merupakan ciptaan Allah. Pada dasarnya, mereka adalah roh atau malaikat. Sebagai roh, mereka adalah makhluk tanpa tubuh, dan karena mereka tidak terpengaruh oleh keterbatasan materi, mereka secara alamiah jauh unggul daripada kita manusia. Namun, tidak seperti malaikat baik yang menggunakan kekuatan mereka untuk membantu manusia, roh-roh ini justru melakukan sebaliknya. Mereka ingin mencelakakan manusia. Itulah mengapa mereka disebut sebagai roh-roh jahat.

Jika Allah itu baik, mengapa Allah menciptakan makhluk yang jahat? Pada awalnya, Allah menciptakan mereka sebagai roh-roh yang baik. Namun, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan, mereka membuat pilihan yang definitif untuk menentang Pencipta mereka. Pemberontakan mereka terhadap Allah membuat mereka jatuh dari rahmat, dan oleh karena itu, mereka disebut “malaikat-malaikat yang jatuh”. (lihat KGK 391-395)

Lalu, mengapa roh-roh jahat bisa taat kepada Yesus? Jawabannya sangat mudah. Yesus adalah Pencipta mereka. Otoritas Yesus tercermin dalam kata Yunani yang dipilih ketika Yesus mengusir roh-roh jahat, ‘φιμοω’ (baca: phimoo). Biasanya, kata ini diterjemahkan sebagai ‘diam,’ tetapi secara harfiah, kata ini berarti ‘memasang moncong’ (alat yang dipasang di mulut binatang untuk membuatnya diam). Ini seperti seorang petani yang meletakkan moncong di mulut lembu yang gaduh sehingga membuatnya tunduk. Idenya adalah bahwa Yesus sangat berkuasa sampai-sampai Dia dapat dengan mudah menundukkan roh-roh jahat di bawah kendali-Nya.  

Satu fakta yang menarik adalah bahwa Markus tidak menyebut malaikat-malaikat yang jatuh itu sebagai ‘roh-roh jahat’, melainkan ‘roh-roh najis’ (πνευμα ἀκάθαρτον – pneuma akatarton). Dalam konteks Yahudi, najis berarti tidak layak bagi Allah secara ritual. Sesuatu atau seseorang yang najis tidak dapat masuk ke dalam Bait Allah dan, sebagai konsekuensi, tidak dapat mempersembahkan penyembahan dan menjadi jauh dari Allah. Roh-roh ini najis karena mereka tidak layak bagi Allah dan jauh dari-Nya.

Kita juga dapat melihat kenajisan sebagai efek dari roh-roh jahat. Orang yang berada di bawah kekuasaan roh-roh jahat menjadi najis dan jauh dari Allah. Orang yang hidup dalam dosa dan jauh dari Allah, berada di bawah pengaruh roh-roh jahat sampai batas tertentu. Dari sini, kita dapat memahami bahwa misi Yesus untuk mengusir roh-roh jahat merupakan bagian integral dari misi-Nya untuk membuat manusia menjadi kudus dan menyatukan manusia dengan Allah.

Pembahasan mengenai roh-roh jahat tentu saja sangat luas dan menarik, tetapi cukuplah untuk mengatakan bahwa Yesus jauh lebih unggul daripada roh-roh jahat ini. Oleh karena itu, hidup bersama dan di dalam Yesus adalah satu-satunya cara untuk mengusir roh-roh jahat. Juga benar bahwa ketika kita semakin dekat dengan Yesus, roh-roh jahat akan melipatgandakan usaha mereka, dan justru dalam situasi ini, kita harus semakin berpegang teguh pada Yesus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Apa itu Injil?

Hari Minggu Ketiga dalam Masa Biasa [B]

21 Januari 2024

Markus 1:14-20

Yesus memulai misi-Nya dengan menyatakan, “Waktunya telah genap, Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Namun, pertanyaannya adalah, “Injil apakah yang harus kita percayai?” Tentu saja, Injil yang dimaksud bukanlah keempat Injil tertulis (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) karena Injil-injil tersebut ditulis beberapa tahun setelah kematian dan kebangkitan Yesus. Jadi, apakah yang dimaksud dengan Injil di sini?

Pengertian paling dasar dari Injil adalah ‘kabar baik’. Kata ini berasal dari kata Yunani ‘ευαγγελιον’ (baca: Evangelion). Kata ini sendiri terdiri dari dua unsur: ‘ευ’ yang berarti ‘bahagia’ atau ‘baik’, lalu ‘αγγελιον’ yang berarti ‘berita’. Pada zaman Yesus, kata ‘ευαγγελιον’ bukanlah sembarang kabar baik seperti “Saya lulus ujian” atau “Saya menerima hadiah.” Kata ini adalah istilah teknis kekaisaran Roma untuk menunjukkan kemenangan besar kaisar atau perayaan ulang tahun kaisar. Setiap kali ‘ευαγγελιον’ diumumkan, akan ada sukacita besar bagi rakyat karena musuh telah dikalahkan, dan sekarang penduduk kekaisaran dapat hidup dengan tenang.

Yesus menggunakan kosakata kekaisaran yang sama tetapi menyesuaikan isinya dengan tujuan-Nya. Injil bukan lagi tentang kabar baik tentang kekaisaran Romawi, tetapi tentang Kerajaan Allah. Injil ini bukan lagi tentang kemenangan kaisar, tetapi tentang kemenangan Yesus. Mereka yang hidup pada masa itu mungkin akan merespons Injil Yesus dengan cara yang berbeda. Orang mungkin menganggap Yesus gila, atau bahkan pembohong, dan dengan demikian, Injil-Nya tidak lain adalah kebohongan yang menggelikan. Orang lain mungkin melihat Yesus sebagai seorang yang subversif-revolusioner, dan dengan demikian, Injil-Nya adalah sebuah seruan untuk memberontak terhadap kekaisaran Romawi. Kita juga ingat bahwa pemahaman subversif tentang Injil ini kemudian digunakan untuk menuduh Yesus di hadapan Pilatus. Yesus adalah ‘raja orang Yahudi’ yang menentang kaisar Romawi.

Namun, Yesus membuktikan bahwa anggapan ini tidak benar. Yesus tidak mewartakan Injil kata-kata kosong; Dia mengajar dengan penuh kuasa dan melakukan mukjizat-mukjizat yang dahsyat. Bahkan setan-setan pun taat kepada perkataan-Nya. Dia juga bukan seorang pejuang politik yang revolusioner karena Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini (lihat Yoh 18:36), dan bagaimana Dia menolak untuk diangkat menjadi raja oleh para pendukung-Nya (lihat Yoh 6:15). Kerajaan Yesus adalah Kerajaan Allah yang kudus. Satu-satunya cara untuk masuk ke dalamnya adalah melalui pertobatan (metanoia). Kata metanoia mengandaikan adanya perubahan ‘pikiran’ atau ‘gaya hidup’ dari kehidupan yang penuh dengan dosa dan jauh dari Allah menjadi kehidupan yang sesuai dengan hukum Allah, dan dengan demikian, hidup bersama Allah.

Jadi, dari perspektif ini, kita dapat mengatakan bahwa ‘percaya kepada Injil’ berarti kita percaya kepada Kerajaan Allah dan Yesus, raja dari Kerajaan itu, yang menyelamatkan kita dari dosa-dosa dan membawa kita kembali kepada Allah. Dan bukti kita percaya tidak lain adalah dengan bertobat. Mengatakan, “Saya percaya kepada Yesus,” tetapi kita tetap mencuri uang orang lain, adalah omong kosong. Mengatakan, “Saya percaya kepada Tuhan,” tetapi kita tetap melanggar hukum dan perintah-Nya, adalah sia-sia.

Fakta menarik lainnya! Kata Yunani yang sebenarnya digunakan oleh Markus untuk ‘percaya’ adalah ‘πιστεύετε’ (pisteuete), dan secara tata bahasa, kata ini merupakan bentuk imperatif dalam bentuk waktu sekarang (present tense). Dalam bahasa Yunani kuno, bentuk imperatif ini berarti perintah untuk melakukan sesuatu, bukan hanya sekali tetapi terus menerus. Dengan demikian, Markus ingin menekankan bahwa percaya adalah sebuah proses yang berkelanjutan dan bukannya sebuah tindakan yang dilakukan sekali saja. Percaya kepada Yesus adalah sesuatu yang bertumbuh dan dinamis, bukan statis.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Nama dan Kekudusan

Hari Minggu ke-2 dalam Masa Biasa [B]

14 Januari 2024

Yohanes 1:35-42

Di awal Injil Yohanes, kita menemukan tiga peristiwa pemberian nama. Pertama, ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus, ia menyebut-Nya ‘Anak Domba Allah’. Kemudian, setelah tinggal satu hari bersama Yesus, Andreas menyebut-Nya ‘Mesias’ atau ‘Kristus’ [artinya: yang diurapi]. Terakhir, setelah Yesus bertemu dengan Simon, saudara Andreas, Yesus menamai dia ‘Kefas’ dalam bahasa Aram, atau ‘Petros’ dalam bahasa Yunani [artinya: batu karang]. Mengapa tindakan memberi nama itu penting dalam Injil dan juga hidup kita?

Kita ingat bahwa tindakan pemberian nama pada dasarnya adalah milik Allah. Allah itu mahakuasa, sehingga dengan setiap nama yang diucapkan, nama tersebut menjadi kenyataan, dari tidak ada menjadi ada. “Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang! Maka jadilah terang.” Setiap kali Allah menamai dan menciptakan sesuatu, kebaikan yang lebih besar terjadi. Pada hari terakhir, Allah menamai ‘hari ketujuh’ sebagai hari yang ‘kudus’. Kekudusan adalah ketika sebuah nama menjadi sebuah kenyataan dan kenyataan itu mencapai kepenuhan dan kesempurnaannya sesuai dengan rencana Allah.

Roh Kudus mengilhami Yohanes Pembaptis untuk menamai Yesus sebagai Anak Domba Allah. Hal ini memunculkan realitas bahwa Yesus akan ‘disembelih’ dan ‘dimakan’ untuk menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan dosa, sama seperti anak domba Paskah yang disembelih dan dimakan untuk melindungi orang Israel dari kematian dan membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Roh Kudus juga mengilhami Andreas untuk menamai Yesus sebagai Mesias. Hal ini mengungkapkan kenyataan bahwa Yesus adalah Yang Diurapi yang akan menggenapi janji-janji dan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama, terutama sebagai Raja Israel Baru. Nama Yesus adalah nama yang kudus karena justru di dalam nama-Nya, rencana penebusan Allah mencapai kenyataan sepenuhnya. Bagaimanapun juga, Dia adalah Firman yang telah menjadi manusia (lihat Yohanes 1:14).

Ketika Yesus memanggil Simon dan memberinya nama baru, ‘Kefas,’ realitas baru pun muncul. Simon akan menjadi batu karang di mana Gereja Yesus bertumpu. Jelas sekali, Simon adalah orang yang impulsif, pemarah, dan bahkan pengecut. Namun, karena Yesus telah menamainya, nama itu adalah bagian dari rencana ilahi Yesus. Yesus tahu bahwa Simon lemah; Yesus mengizinkan Simon goyah bahkan menyangkal-Nya, tetapi Yesus juga mengubah dan memberdayakannya. Nama yang telah ditanamkan Yesus pada pertemuan pertama mereka akhirnya menjadi kenyataan ketika Simon mempersembahkan nyawanya sebagai martir Kristus di kota Roma.

Kita percaya bahwa kita ada bukan karena kebetulan, sesuatu yang sama sekali tidak direncanakan, tetapi karena rencana ilahi. Kita ada di dunia bukan hanya karena proses biologis, tetapi karena Tuhan memberi kita nama, dari ketiadaan menjadi ada. Memang, Tuhan mengijinkan kita mengalami penderitaan dan bahkan kegagalan, namun ini juga merupakan bagian dari rencana-Nya untuk menjadikan kita kudus.

Kekudusan adalah ketika nama-nama yang Tuhan berikan kepada kita menjadi semakin nyata. Bagaimana caranya? Seperti Simon, kita melakukan yang terbaik untuk mengikuti kehendak-Nya dalam hidup kita, menjadi lebih sabar dalam penderitaan, dan menghindari apa pun yang menyimpang dari-Nya.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Orang Majus dan Kebenaran

Hari Raya Penampakan Tuhan – Epifani [B]
7 Januari 2024
Matius 2:1-12

Masa Natal berakhir dengan perayaan Epifani. Perayaan kuno ini erat hubungannya dengan kisah orang Majus dari Timur yang mengunjungi bayi Yesus di Bethlehem. Kisah ini merupakan penutup yang tepat untuk masa Natal karena orang Majus mewakili bangsa-bangsa di dunia yang datang dan menyembah raja yang baru lahir. Yesus lahir bukan hanya sebagai Mesias bagi orang Yahudi, tetapi juga Juruselamat bagi semua bangsa.

Identitas orang Majus masih menjadi misteri besar. Lukisan paling awal di Basilika Kelahiran Yesus di Bethlehem menampilkan mereka mengenakan pakaian Persia (sekarang Iran). Namun, beberapa bapa Gereja percaya bahwa mereka adalah orang Kasdim (sekarang Irak). Yang lain berpendapat bahwa mereka berasal dari Suriah utara karena mereka dianggap sebagai keturunan Baalam (lihat Bil. 22). Alkitab menggunakan kata ‘Magos’, dan di dalam Alkitab sendiri, kata ‘Magos’ memiliki arti yang ambigu. Kata Magos dapat diasosiasikan secara negatif dengan tukang sihir, untuk mendapatkan uang dan ketenaran (lihat Kisah13:6). Namun, istilah ini juga dapat diterjemahkan sebagai orang bijak, mereka yang mendedikasikan dirinya untuk mencari Kebenaran.

Tradisi Gereja cenderung melihat orang Majus sebagai orang bijak dari Timur. Mereka adalah orang-orang yang memberikan hidup mereka untuk mencari Kebenaran. Namun, hidup dua milenium sebelum kita, mereka tidak menikmati metode ilmiah dan ilmu pengetahuan modern. Mereka harus mengandalkan sumber daya dan informasi yang terbatas, yang sering kali bercampur dengan mitos dan takhayul. Mereka belum mengenal ilmu kimia, melainkan alkimia (proto-sains yang bertujuan untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan lain seperti emas atau obat-obatan). Mereka belum memahami prinsip-prinsip astronomi, namun mereka lebih banyak berkutat pada astrologi (ilmu semu yang membaca benda-benda langit dan bagaimana hubungannya dengan nasib manusia). Mayoritas literatur mereka mungkin lebih banyak membahas tentang ilmu gaib daripada ilmu pengetahuan yang benar.

Namun, terlepas dari keterbatasan mereka, Tuhan melihat upaya tulus mereka, dan dengan demikian menuntun mereka kepada Kebenaran sejati melalui bintang-Nya. Bagaimanapun juga, Tuhan jugalah menempatkan kehausan yang mendalam akan Kebenaran di dalam hati mereka. Mereka membuktikan komitmen mereka ketika mereka meninggalkan kenyamanan istana mereka dan memulai perjalanan yang panjang dan berbahaya. Kita juga tidak yakin apa yang sebenarnya dialami oleh Baltazar, Melkior, dan Gaspar (sebagaimana tradisi menyebutnya) ketika mereka menemukan Yesus, Sang Kebenaran. Namun, kita yakin bahwa orang Majus adalah simbol dari umat manusia yang sedang mencari Kebenaran untuk Tuhan sendiri.

Seperti orang Majus, Tuhan juga menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki rasa lapar yang mendalam akan Kebenaran. Sayangnya, rasa lapar akan Kebenaran ini sering kali tidak terpenuhi karena dosa. Dosa kemalasan meracuni hasrat kita akan Kebenaran dan membelenggu kita dalam zona nyaman. Dosa hawa nafsu mengubah keinginan kita akan Kebenaran menjadi keinginan daging. Dosa kesombongan membuat kita percaya bahwa kita telah memiliki kebenaran dan kita tidak membutuhkan rahmat Allah. Belajar dari orang Majus, kita menyadari bahwa ilmu pengetahuan juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah untuk menuntun kita ke dalam Kebenaran yang hakiki.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Istri, Suami dan Keluarga dalam Rencana Ilahi

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf
31 Desember 2023
Lukas 2:22-40

“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” [Kol 1:18-19].” Bagi kita, para pembaca modern, kata-kata Santo Paulus ini membuat kita terheran-heran. Paulus memerintahkan wanita untuk tunduk dan menjadi bawahan dari suami? Bukankah pria dan wanita diciptakan sederajat? Apakah Santo Paulus anti perempuan?

Untuk menjawab keberatan-keberatan ini, kita harus memahami konteks historis Santo Paulus dan Gereja di Kolose. Dalam masyarakat Yunani-Romawi pada abad pertama Masehi, perempuan pada dasarnya adalah properti rumah tangga laki-laki. Mereka terutama bertanggung jawab untuk menghasilkan keturunan yang sah bagi suami dan diharapkan untuk merawat rumah tangga. Mereka harus mematuhi suami mereka dalam segala hal. Memang, ada wanita-wanita yang kuat dan dominan, tetapi ini adalah pengecualian. Bahkan bagi para wanita bangsawan, meskipun mereka menikmati kehidupan mewah yang langka, mereka juga menjadi alat politik. Mereka ditawarkan sebagai pengantin untuk mengamankan aliansi politik dan keamanan ekonomi keluarga.

Dalam konteks ini, surat Paulus sebenarnya sesuatu yang revolusioner. Pada bagian instruksi untuk keluarga Kristiani (lihat Kol 3:18-21), Santo Paulus tidak menulis, “Hai suami, beritahukanlah kepada istrimu, bahwa mereka harus tunduk kepadamu!” Sebaliknya, ia menyapa para pembaca wanitanya secara langsung (tidak melalui suami mereka). Gaya penulisan ini menunjukkan pemahaman Paulus yang mendasar tentang hubungan antara pria dan wanita: istri berdiri sejajar dengan suami mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah Paulus menyebutkan perempuan terlebih dahulu dan laki-laki di urutan kedua. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya! Paulus melanggar batasan budaya pada zamannya untuk mewartakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus [Gal. 3:27-28].”

Sekarang, bagaimana kita memahami kata Paulus, ‘tunduklah’? Paulus menggunakan kata Yunani ‘ὑποτάσσω’ (baca: hupotasso). Secara harfiah kata ini berarti ‘ditugaskan di bawah’. Jadi, para istri ditugaskan di bawah para suami. Namun, ini tidak berarti bahwa perempuan lebih rendah martabatnya dan statusnya dalam keluarga. Paulus memahami bahwa keluarga juga merupakan suatu bentuk komunitas manusia, dan setiap komunitas manusia membutuhkan sebuah ‘tatanan’ (organisasi) untuk berkembang. Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ‘tatanan’ berjalan dengan baik dan, dengan demikian, menghasilkan kebaikan terbesar bagi semua orang dalam komunitas. Santo Paulus menyatakan bahwa suami adalah pemimpin dari tatanan keluarga.

Paulus memperjelas ‘ὑποτάσσω’ ini dengan instruksinya kepada para suami, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Bagi Paulus, keluarga adalah sebuah tatanan kasih. Ya, para pria adalah kepala keluarga, tetapi mereka bukanlah diktator, melainkan pemimpin kasih. Laki-laki yang secara alamiah lebih kuat secara fisik diharapkan untuk melindungi dan menafkahi keluarga. Paulus mengharapkan para suami untuk menyerahkan hidup mereka bagi keluarga mereka, sebagaimana Kristus telah menyerahkan hidup-Nya bagi Gereja (lihat Efesus 5:25). Dengan demikian, ‘ὑποτάσσω’ berarti istri berada di bawah perlindungan dan kasih dari para suami.

Kita menyadari bahwa cita-cita Paulus tidak selalu terjadi. Karena kelemahan kita dan serangan iblis, kita jatuh ke dalam dosa, dan kita gagal menjadi suami atau istri yang baik. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan karena ini adalah rencana Allah bagi kita, dan kita terus berjuang dalam kekudusan melalui kasih karunia Allah.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Natal

Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus (Natal)
25 Desember 2023
Lukas 2:1-14

Selamat Natal!
Tuhan telah lahir, dan ada sukacita besar di surga dan di bumi. Namun, apa alasan di balik sukacita Natal ini? Sukacita ini ada bukan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat dan mengadakan pesta Natal yang meriah. Sukacita ini ada bukan karena kita mendapatkan hadiah dan bonus, juga bukan karena kita berlibur dan healing. Jadi, apa sebenarnya di balik sukacita ini?

Natal adalah hari kelahiran Juruselamat kita. Kelahiran ini bukan hanya sebuah proses biologis alamiah yang melibatkan seorang pria dan wanita. Kelahiran ini adalah sebuah peristiwa adikodrati yang berakar dari kasih Allah kepada kita, para pendosa. Allah memiliki banyak sekali pilihan untuk menebus kita, namun Dia memilih cara yang paling intim. Allah Bapa mengutus Putra-Nya, dan Sang Putra mengambil kodrat-Nya yang kedua, yaitu kodrat manusia dalam diri Perawan Maria. Dengan cara ini, Allah menjadi sangat dekat dengan kita, sehingga gelar-Nya, Imanuel, Allah yang bersama kita, menjadi sebuah kenyataan. Dia bersama kita tidak hanya dalam cara-cara rohani atau mistik, tetapi dalam cara yang paling manusiawi. Dia adalah bayi yang Maria susui, Yusuf peluk, dan para gembala kunjungi. Dia adalah yang wafat disalib dan bangkit pada hari ketiga. Dia adalah yang naik ke surga, dan yang hadir di setiap Ekaristi. Dia, sang Immanuel, Allah yang bersama kita sampai akhir zaman.

Namun, Natal juga memberikan kita alasan lain untuk bersukacita. Kita hidup dalam budaya dan pola pikir yang telah berubah. Banyak pasangan yang tidak lagi ingin memiliki anak. Memang, ada beberapa alasan yang sah, seperti kesulitan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membesarkan anak atau kondisi medis tertentu yang dapat membahayakan ibu. Namun, banyak juga yang menganggap memiliki anak hanya sebagai beban, dan dengan demikian, hanya ingin menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam pernikahan tetapi tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sulit, termasuk membesarkan anak.

Namun, Natal mengingatkan kita bahwa meskipun benar bahwa memiliki anak membawa kesusahan tersendiri, namun juga membawa sukacita. Memang benar bahwa setelah menerima Yesus, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan kehidupan yang lebih baik; bahkan mereka harus menanggung lebih banyak penderitaan. Namun, Maria dan Yusuf tetap merayakan kelahiran Anak Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya penuh suka cita dan bernyanyi kemuliaan bagi Allah di surga, dan di bumi, para gembala bergegas menyambut Maria dan Yusuf dengan penuh sukacita [lihat Lukas 2].

Kehamilan memang merupakan proses yang menyakitkan dan melelahkan, dan mendidik anak-anak sering kali dapat menjadi tantangan secara ekonomi dan emosional. Namun, Tuhan juga menyediakan sukacita yang berlimpah bagi para orang tua. Ketika orang tua berinteraksi dengan penuh kasih dengan bayi mereka, tubuh akan memproduksi hormon ‘positif’ seperti oksitosin dan dopamin. Seorang teman yang baru saja memiliki bayi menceritakan kegembiraannya setiap kali ia melihat pertumbuhan yang sederhana namun signifikan pada bayinya. Ada kegembiraan ketika bayi mulai mengucapkan kata-kata dengan jelas. Ada sukacita ketika bayi mulai mengenali dan membedakan wajah orang tuanya dengan orang lain. Seorang teman lain juga bercerita bagaimana ada sukacita yang tak terlukiskan saat melihat wajah sang bayi yang terlahir sehat, setelah mengalami beberapa kali keguguran.

Natal mengajarkan kepada kita bahwa ada sukacita yang besar di surga ketika seorang bayi dikandung dan dilahirkan karena bayi ini adalah calon warga surga. Sekarang, adalah sukacita kita untuk membawa anak-anak yang dipercayakan kepada kita kepada Tuhan dan berbagi kepenuhan hidup dengan-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penuh Rahmat

Minggu ke-4 Masa Adven [B]
24 Desember 2023
Lukas 1:26-38

“Penuh Rahmat” adalah gelar yang tak terpisahkan dari Maria. Setiap kali kita mengucapkan doa ‘Salam Maria’, kita langsung menyadari bahwa gelar pertama setelah nama Maria adalah ‘penuh rahmat’. Tidak hanya gelar ini yang paling dikenal, tetapi juga yang paling kuno. Bahkan gelar ini berasal dari Alkitab, yaitu pada bab pertama Injil Lukas. Malaikat Gabriel menampakkan diri dan menyapa Maria, “Salam, penuh rahmat!” Namun, jika kita membaca ayat ini dengan saksama, sebutan ‘Penuh Rahmat’ sebenarnya tidak ada di sana (lih. Luk 1:28). Lalu, apa yang dikatakan malaikat kepada Maria? Mengapa kita mengunakan kata ‘Penuh Rahmat’?

Kata ‘Penuh Rahmat’ muncul dalam Alkitab versi Vulgata. Vulgata sendiri adalah terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin oleh Santo Heronimus pada awal abad ke-5. Dalam bahasa Latin, kata ini adalah ‘gratia plena’. Karena bahasa Latin adalah bahasa resmi Gereja Katolik Roma, ‘gratia plena’ akhirnya menjadi gelar standar Maria dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, ‘penuh rahmat.’ Ketika ‘Salam Maria’ dan doa rosario menjadi devosi yang paling populer di dunia Katolik, gelar ‘penuh rahmat’ tidak dapat lagi dipisahkan dari Maria. Namun, apa yang sebenarnya tertulis di dalam Alkitab?

Lukas menulis dalam bahasa Yunani ‘κεχαριτωμένη’ (baca: kecharitomene) yang secara harfiah berarti ‘dia yang telah diberi rahmat.’ Jadi, apakah Santo Heronimus keliru? Tidak juga. Heronimus memutuskan untuk tidak membuat terjemahan harfiah, melainkan terjemahan yang lebih puitis. Dengan pilihan ini, Santo Heronimus ingin menarik perhatian kita pada kehadiran rahmat secara total dan terus menerus dalam kehidupan Maria. Namun, mengapa gelar ‘κεχαριτωμένη’ sangat penting bagi Maria dan bagi kita?

Pertama, kita perlu memahami arti kata ‘rahmat’. Dalam bahasa Yunani, kata ini berarti ‘χάρις’ (baca: charis) dan arti yang paling mendasar adalah ‘anugerah’, ‘pemberian’ atau ‘hadiah’. Namun, dalam Perjanjian Baru, kata rahmat tidak hanya berarti hadiah secara umum, seperti hadiah ulang tahun atau hadiah kelulusan, tetapi rahmat adalah hadiah yang paling utama dan paling penting. Rahmat mengacu pada anugerah keselamatan dari Tuhan. Dan, keselamatan itu tidak hanya selamat dari dosa dan kematian, tetapi juga selamat untuk Allah. Ketika kita diselamatkan, bukan hanya dosa-dosa kita yang diampuni, tetapi kita juga dimampukan untuk berpartisipasi pada kehidupan ilahi sang Allah Tritunggal. Rahmat adalah karunia keselamatan, karunia kekudusan, dan karunia surga. (untuk diskusi yang lebih lengkap, lihat KGK 1996-2007)

Maria sepenuhnya unik karena dia adalah orang pertama yang telah menerima rahmat bahkan sebelum Tuhan kita disalibkan dan bangkit, dan bahkan, sebelum Dia dilahirkan. Realitas rahmat secara sempurna dimanifestasikan di dalam diri Maria. Rahmat hadir bukan karena Maria layak, tetapi karena ia dipilih. Bukan karena usahanya, tetapi karena rahmat diberikan secara cuma-cuma. Bukan karena rencana Maria, tetapi karena penyelenggaraan Allah. Namun, momen Kabar Sukacita juga menunjukkan kepada kita bahwa rahmat itu benar-benar cuma-cuma, tetapi tidak pernah murahan. Meskipun rahmat telah memenuhi diri Maria sejak awal, Maria masih harus membuat pilihan bebas untuk menerima rahmat tersebut dan membuatnya berbuah dalam hidupnya. Karena itu, ia berkata, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu!” Jawaban ya dari Maria terhadap rahmat Allah bukan hanya satu kali, tetapi sebuah komitmen seumur hidup, bahkan dalam menghadapi salib.

Juruselamat kita telah wafat dan bangkit bagi kita dan mencurahkan rahmat-Nya untuk penebusan kita. Namun, seperti Maria, kita harus memilih dengan bebas untuk menerima rahmat tersebut dalam hidup kita, dan melaluinya, kita bertumbuh dalam persahabatan dengan Allah. Inilah sebabnya mengapa kita berusaha menghindari dosa, pergi ke misa secara teratur dan pantas, dan melakukan karya-karya belas kasih. Bukan karena kita ingin mendapatkan keselamatan dengan usaha kita sendiri, melainkan kita ingin bertumbuh dalam rahmat Allah, dan mengungkapkan rasa syukur kita atas rahmat keselamatan yang diberikan secara cuma-cuma.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP