Janganlah Khawatir

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [A]
8 Oktober 2023
Matius 21:33-43
Filipi 4:6-9

Di akhir suratnya, Santo Paulus memerintahkan jemaat di Filipi untuk tidak khawatir. Nasihatnya tampak menghibur, namun jika kita perhatikan dengan saksama, Santo Paulus tidak hanya memberikan nasihat tetapi sebuah perintah. “Janganlah kamu kuatir! (Fil 4:6)” Namun, apakah mungkin untuk bebas dari kecemasan atau kekhawatiran? Apakah kecemasan itu? Apakah kecemasan memiliki tujuan dalam hidup kita? Dan, apa nasihat Santo Paulus untuk mengatasi kecemasan ini?

Kecemasan adalah respons alami terhadap stres atau ancaman yang dirasakan. Kecemasan memicu reaksi psikologis dan fisiologis. Kekhawatiran menyebabkan keadaan emosi yang kompleks yang ditandai dengan kegelisahan, ketakutan, kegugupan, dan bahkan kemarahan. Secara fisik, kecemasan dapat menyebabkan jantung berdebar, berkeringat dingin, tegang otot, sakit perut, dan banyak lagi. Kecemasan itu sendiri tidak berbahaya dan dapat memiliki tujuan yang baik. Kekhawatiran mendorong kita untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik saat menghadapi situasi yang rumit dan tak terduga. Namun, seringkali kecemasan cenderung berlebihan, melumpuhkan, dan bahkan bisa berujung pada gangguan mental. Kemudian, ketika kesehatan mental kita terganggu karena kecemasan yang berlebihan, maka jalan terbaik adalah berkonsultasi dengan ahlinya seperti psikiater yang kompeten. Namun, ketika tingkat kecemasan masih dalam rentang emosi yang sehat, nasihat Santo Paulus dapat sangat membantu kita untuk meredakan kecemasan. Jadi, apa saja nasihat Santo Paulus untuk kita?

Pertama, Santo Paulus menulis, “Akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang sedap didengar, semua yang manis,… pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Singkatnya, Santo Paulus menasihati kita untuk memikirkan hal-hal yang baik, daripada berfokus pada hal-hal yang buruk. Paulus menyadari bahwa faktor penting yang menyebabkan dan mempertahankan kecemasan adalah apa yang kita lihat, nilai dan terus kita pikirankan. Kata Yunani untuk khawatir adalah ‘μεριμνάω’ (- merimnao), dan kata ini mungkin terkait dengan kata Yunani ‘μνήμη’ (mneme), yang berarti memori. Jadi, apa yang kita simpan dalam memori kita akan mempengaruhi kita secara psikologis dan fisik. Hebatnya, fakta kuno ini tidak jauh berbeda dengan data psikiatri modern, yang mengidentifikasi bahwa fungsi kognitif kita memainkan peran penting dalam kecemasan.

Namun, ini bukan hanya tentang ‘berpikir positif’, tetapi juga melihat kehidupan melalui lensa iman. Paulus juga mengatakan bahwa untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan, kita harus menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan bersyukur (lihat Flp. 4:6). Ya, menghadapi masalah dan kesulitan dapat menyebabkan kecemasan. Namun, dengan membawanya kepada Tuhan dalam doa-doa kita, kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan akan menjaga kita.

Yang lebih penting lagi, kita perlu belajar dari Santo Paulus. Ketika menulis surat ini, ia sedang dibelenggu, dianiaya, dan menghadapi kemungkinan eksekusi. Kondisi-kondisi ini merupakan penyebab kecemasan yang berat bagi Paulus. Namun, Paulus tetap bersyukur dan bahkan bersukacita atas kondisinya. Karena ia tahu betul bahwa penderitaannya adalah bagian dari penyelenggaraan Allah dan pada akhirnya akan bermanfaat bagi Gereja (lihat Kol. 1:24; Flp. 1:21). Oleh karena itu, ia tidak berlarut-larut dalam kecemasan berlebihan atau melarikan diri dengan menyangkal imannya. Ia dengan berani menerima situasinya dan mengucap syukur kepada Allah.

Kesimpulannya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan: pikirkanlah hal-hal yang baik dan percayalah akan pemeliharaan Tuhan atas diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Keselamatan

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

1 Oktober 2023

Matius 21:28-32

Dari konteks Alkitab, kita dapat dengan mudah memahami makna perumpamaan tentang dua putra pemilik kebun anggur. Anak yang awalnya menolak untuk taat kepada ayahnya tetapi akhirnya berubah hati melambangkan orang-orang Yahudi yang berdosa di depan umum, seperti pemungut cukai dan pelacur. Mereka memang orang berdosa, tetapi akhirnya mereka bertobat ketika mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus. Anak yang pada awalnya mengiyakan ajakan ayahnya, tetapi pada kenyataannya tidak pergi ke kebun anggur, melambangkan para penatua dan pemimpin Israel. Mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus, tetapi mereka tidak menghiraukan dan bahkan menganiaya mereka.

akira hojo

Namun, perumpamaan ini bukan hanya untuk para penatua dan pemimpin Israel pada zaman Yesus, tetapi juga untuk kita, yang memanggil Yesus sebagai Tuhan, pergi ke Gereja setiap hari Minggu, dan bahkan terlibat dalam banyak pelayanan. Perumpamaan ini sederhana dan mudah dimengerti, tetapi yang dipertaruhkan adalah keselamatan kekal kita. Pesannya jelas: setiap orang harus bertobat dan menaati kehendak Allah. Baik orang yang jauh dari Tuhan maupun mereka yang mengaku dirinya beriman dan religius, semuanya harus berjuang untuk menjadi kudus.

Kita mungkin bertanya, “Apakah tidak cukup hanya dibaptis secara Katolik?” Apakah tidak cukup baik untuk menghadiri misa setiap hari Minggu? Apakah pelayanan-pelayanan kita memiliki arti di hadapan Allah? Tentu saja, semua itu penting dalam kehidupan Kristiani kita dan juga melakukan kehendak Allah. Namun, orang-orang Farisi dan para tua-tua Yahudi pada masa Yesus melakukan hal yang kurang lebih sama. Mereka disunat saat masih bayi (seperti pembaptisan) dan belajar membaca Taurat (Kitab Suci orang Yahudi) sejak kecil. Mereka pergi ke sinagoge (tempat doa orang Yahudi) pada hari Sabat dan juga mempersembahkan kurban ketika mereka berada di Yerusalem. Mereka mungkin juga terlibat dalam banyak kegiatan keagamaan di komunitas mereka. Apa yang kita lakukan tidak jauh berbeda dengan orang-orang Farisi! Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Dari perumpamaan ini, kita mengerti bahwa elemen kuncinya adalah melakukan kehendak Bapa dan kehendak-Nya yaitu berbalik dari dosa (atau pertobatan) dan berbalik kepada Allah (atau kekudusan). Ya, kita dibaptis secara Katolik, tetapi apakah kita yakin bahwa iman Katolik adalah iman yang menyelamatkan, dan kita siap untuk membagikannya? Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu, tetapi apakah kita menyembah Allah yang benar atau pergi ke Gereja untuk mencari kenyamanan dan keuntungan pribadi? Ya, kita aktif dalam banyak komunitas dan pelayanan, tetapi apa gunanya jika kita menjadi sombong dan angkuh terhadap orang lain yang tidak dapat melayani seperti kita? Ya, kita menyebut diri kita sebagai pengikut Kristus, tetapi mungkin diam-diam kita tidak mau melepaskan perilaku dosa kita.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Pertama, dalam tradisi Katolik, kita memiliki pemeriksaan batin harian, dan ketika dilakukan dengan benar, hal ini membantu kita untuk menyadari tindakan-tindakan kita dan motif di belakangnya. Kedua, bacaan rohani memperkaya jiwa kita. Kita dapat memilih dari Alkitab, kisah dan tulisan dari orang-orang kudus, atau Katekismus Gereja Katolik. Ketiga, kita mengaku dosa secara teratur. Kita tidak boleh membiarkan dosa-dosa menumpuk di dalam hati kita dan lambat laun menumpulkan hati nurani kita. Sakramen pengakuan dosa memberikan pengampunan dan mempertajam perasaan kita akan apa yang berkenan kepada Allah dan apa yang tidak. Tentu saja, ada hal-hal lain yang dapat kita lakukan, tetapi pada dasarnya, jika kita tidak sungguh-sungguh bertobat dari dalam hati kita, kita dapat kehilangan keselamatan kekal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup adalah Kristus

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [A]
24 September 2023
Matius 20:1-16a
Filipi 1:20c-24, 27a

Hari ini, Santo Paulus menulis kalimat sangat menarik, “Aku rindu meninggalkan dunia ini dan bersama dengan Kristus, karena itulah yang jauh lebih baik [Flp. 1:23].” Apakah St. Paulus ini ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri? Atau ada hal lain yang sebenarnya terjadi?

Kita harus memahami konteks surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi untuk menjawab pertanyaan ini. Surat kepada jemaat di Filipi adalah salah satu surat Paulus dari penjara [termasuk surat ke jemaat di Efesus dan Kolose]. Jika kita mengingat kembali kehidupan rasul besar ini, kita tahu bahwa Paulus dianiaya dan ditangkap oleh orang-orang Yahudi yang menentang pemberitaan Injil Yesus Kristus. Saat menghadapi pengadilannya, Paulus kemudian menggunakan hak istimewanya sebagai warga negara Romawi untuk mengajukan banding kepada Kaisar. Dengan demikian, dia dibawa ke Roma, ibu kota kekaisaran. Sementara dia menunggu Kaisar mendengar bandingnya, dia menjadi tahanan rumah, dan bahkan dirantai. Namun, ia diizinkan untuk terus mewartakan Injil dan mengirim surat ke berbagai komunitas. Salah satu suratnya adalah kepada jemaat di Filipi [lihat Flp. 1:14]. Dalam masa penantian ini, Paulus bisa saja dinyatakan tidak bersalah, tetapi ada kemungkinan besar Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Dari konteks ini, kita memahami bahwa Paulus tidak sedang berpikir bagaimana mengakhiri hidupnya, melainkan tentang kematiannya sebagai martir. Sementara bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup kita sendiri, menjadi martir adalah kematian yang disebabkan oleh kebencian terhadap iman. Namun, yang menarik adalah bagaimana Paulus bereaksi terhadap kematian sebagai martir. Ia tidak takut, tidak cemas berlebihan, dan bahkan tidak mengalami depresi. Sebaliknya, ia menunjukan diri penuh dengan sukacita. Bahkan, jika kita membaca surat kepada jemaat di Filipi, kita akan segera merasakan bahwa suasana umum dari surat ini adalah sukacita. Paulus menulis, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, aku berkata, Bersukacitalah (Flp. 4:4)! Hal ini sangat membingungkan. Bagaimana Paulus dapat bersukacita ketika ia dianiaya dan menghadapi kematian yang sudah dekat?

Jawabannya adalah karena Paulus telah melihat nilai sejati dari Yesus Kristus. Paulus menulis, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus [Flp. 3:8].” Paulus mengerti betapa berharganya Kristus, dan karena kebijaksanaan ini, Paulus memiliki hirarki prioritas yang benar dalam hidupnya. Segala sesuatu, termasuk kehidupan itu sendiri, haruslah di dalam Kristus dan untuk Kristus. Dengan demikian, Paulus, yang telah memberikan segalanya untuk Kristus dan hidup di dalam Kristus, bersukacita dalam menghadapi kematian karena ia tahu bahwa ia akhirnya dapat bersatu dengan Kristus.

Paulus memberi kita sebuah kiat berharga untuk keselamatan: kenali Kristus, dan betapa pentingnya Dia bagi kita. Kita perlu menetapkan prioritas kita dengan benar. Kristus dahulu, dan yang lain akan jatuh pada tempatnya. Ya, kekayaan materi memang penting, makanan dan tempat tinggal sangat penting, dan pendidikan juga penting, tetapi semua itu adalah sarana untuk hidup di dalam Kristus dan untuk Kristus. Kita mungkin kehilangan uang atau harta benda, dan itu tidak masalah, tetapi jika kita kehilangan Kristus, kita akan kehilangan keselamatan dan sukacita kekal. Saat kita kehilangan Kristus, segala kesuksesan di dunia ini akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, bersukacitalah karena bagi kita, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Koreksi Persaudaraan: Karya Amal yang terbesar

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [A]

10 September 2023

Matius 18:15-20

Mengoreksi saudara-saudari kita yang tidak hidup sesuai dengan Hukum Allah adalah sebuah tindakan kerahiman dan kasih. Dalam tradisi Katolik, koreksi persaudaraan [latin: Correctio fraterna] merupakan hal yang esensial dalam tujuh karya belas kasih rohani. Mengapa mengoreksi sesama dianggap sebagai tindakan belas kasih? Mengapa hal ini justru sulit untuk dilakukan? Di sini, saya membagikan refleksi saya tentang mengapa correctio fraterna itu penting, tetapi pada saat yang sama juga sangat sulit, serta beberapa kiat untuk melakukan tindakan belas kasih ini.

Mengoreksi saudara-saudari kita adalah sebuah karya belas kasih dan cinta karena kita ingin agar jiwa-jiwa mereka diselamatkan dari api neraka dan menikmati hidup kekal bersama Allah. Dengan demikian, bersama dengan evangelisasi, yaitu membawa orang-orang untuk mengenal dan mendekat kepada Kristus, correctio fraterna dianggap sebagai karya amal yang paling baik. Karena kita mengasihi mereka, kita bersedih ketika saudara dan saudari kita tersesat dari jalan Tuhan. Dengan demikian, kita menunjukkan kasih kita dan mengingatkan mereka untuk kembali kepada Tuhan.

Namun, meskipun mengoreksi saudara-saudari kita adalah sesuatu yang mulia dan penuh belas kasihan, itu adalah salah satu hal yang paling menantang untuk dilakukan. Ada beberapa alasan. Pertama, ketidaktahuan. Kita tidak mengetahui ajaran dasar tentang moralitas. Karena kita tidak tahu, kita dapat mengoreksi orang lain. Ini adalah masalah besar karena banyak dari kita yang belum memiliki pengetahuan yang lengkap tentang Hukum-hukum Allah. Namun, ini juga merupakan masalah yang paling mudah dipecahkan karena pengajaran dan katekese yang tepat akan sangat membantu kita.

 Kedua, rasa takut. Kasih kita tidak cukup kuat, dan rasa takut mendominasi kita. Kita takut menghadapi saudara-saudara kita karena kita tidak mau mengusik ‘ketenangan’ mereka. Kadang-kadang, kita takut bahwa kita akan merusak hubungan persahabatan kita. Kita tidak suka memiliki ‘musuh’. Oleh karena itu, kita membiarkan kesalahan mereka dengan tetap diam. Nah, ini berbahaya karena tidak hanya saudara kita yang akan kehilangan jiwa mereka, tetapi kita juga akan membahayakan keselamatan kita karena sekarang kita menjadi ‘rekan’ mereka. Hal ini sering disebut sebagai tindakan dosa karena kelalaian.

Ketiga, relativisme. Virus relativisme adalah wabah yang tak kentara namun sangat berbahaya bagi Gereja. Orang Kristen percaya pada satu Allah dan satu hukum moral yang berasal dari-Nya, tetapi relativisme mengatakan sebaliknya: tidak ada kebenaran absolut atau standar moral yang universal. Seorang relativis akan berkata, “Tindakan itu mungkin salah menurut standar saya, tetapi mungkin benar menurut standarnya.’ Dengan demikian, kita menolak untuk mengoreksi perilaku berdosa orang lain karena kita ‘menghormati’ sudut pandang mereka. Hal ini bahkan lebih berbahaya karena hal ini merusak pemahaman kita yang benar tentang agama kita dan membingungkan banyak orang lain.

Berikut adalah beberapa tips untuk correctio fraterna. Pertama, kita harus memiliki pengetahuan dasar yang kuat tentang moralitas Katolik. Jika kita ragu, kita dapat membaca katekismus Gereja Katolik atau berkonsultasi dengan para imam yang baik dan cakap di sekitar kita. Kita harus ingat bahwa correctio fraterna terutama berhubungan dengan perilaku-perilaku berdosa dan doktrin-doktrin yang salah. Kedua, kita dapat memulai dengan diri kita sendiri. Jika kita melihat orang yang kita kasihi perlu kita koreksi, kita perlu bertanya apakah saya juga perlu menerima koreksi yang sama. Ketiga, kita melakukannya dengan lemah lembut dan sabar. Seperti yang Yesus katakan, kita melakukannya secara pribadi terlebih dahulu agar tidak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak tergoda untuk menjadi sombong. Keempat, jika koreksi kita menghadapi resistansi yang kuat, kita perlu membaca Yehezkiel 33:7-9 (bacaan pertama). Meskipun melihat orang yang kita kasihi jauh dari Allah membuat kita frustrasi, kita juga harus percaya pada pemeliharaan Allah. Rencana-Nya baik dan akan berbuah pada waktunya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kurban yang Sempurna

Minggu ke-22 dalam Masa Biasa

3 September 2023

Roma 12:1-2

Matius 16:21-27

Setiap penyembahan yang benar dalam Alkitab datang dalam bentuk persembahan korban. Apakah yang dimaksud dengan korban? Pengorbanan terjadi ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Allah, dan dalam masyarakat kuno, ternak dianggap sebagai harta yang berharga yang bisa dikurbankan. Habel mempersembahkan anak-anak sulung dari kawanan ternaknya [lihat Kej. 4:4]. Di kaki Gunung Sinai, Musa menyembelih lembu-lembu sebagai persembahan kepada Tuhan saat perjanjian antara Tuhan dan bangsa Israel ditetapkan [Lihat Kel. 24:4-5]. Namun, terkadang, pengorbanan yang tidak berdarah juga dipersembahkan. Melkisedek membawa roti dan anggur sebagai persembahan [lihat Kej. 14:18]. Bahkan, seluruh kitab Imamat mengatur ibadah kurban bangsa Israel.

Jika Ekaristi adalah ibadah kita, lalu apa yang kita persembahkan sebagai kurban di dalam Ekaristi? Tentu saja, bukan binatang atau benda-benda duniawi. Kurban kita dalam Ekaristi adalah Yesus [lihat 1 Kor 5:7]. Karena Yesus adalah ilahi dan tidak berdosa, Dia menjadi korban yang sempurna, dan akibatnya, Ekaristi adalah penyembahan yang sempurna. 

Namun, jika kita melihat bagian dari Ekaristi dengan seksama, kita akan menemukan kalimat yang diucapkan oleh imam, “berdoalah saudara-saudara, agar kurban yang kupersembahkan dan yang persembahkanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa.”  Hal ini menarik karena kalimat ini memberi tahu kita bahwa umat beriman yang menghadiri Ekaristi memiliki persembahan yang berbeda dengan persembahan imam. Jika kurban yang dipersembahkan oleh imam adalah Tubuh dan Darah Kristus, lalu apakah kurban umat?

Paulus membantu kita menjawab pertanyaan ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati [Rm 12:1; bacaan kedua].” Persembahan kita adalah tubuh kita, hidup kita. Dan, kita mempersembahkan hidup kita dalam Ekaristi dan yang kita satukan dengan kurban Yesus Kristus, ini menjadi ibadah rohani kita.

Namun, Paulus juga menasihati agar kita tidak mempersembahkan sembarangan tubuh, tetapi tubuh yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian, adalah tugas kita untuk menjaga hidup kita dari dosa dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa cukup percaya kepada Kristus, tetapi kita tidak menaati hukum-hukum-Nya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pergi ke Gereja setiap hari Minggu saja sudah cukup, tetapi kita melakukan kejahatan di hari-hari lainnya. Setiap hari adalah kesempatan untuk membuat hidup kita berkenan kepada Tuhan.

Terakhir, kita juga perlu mengingat bahwa penderitaan juga merupakan bagian dari hidup kita. Dengan demikian, jika kita menanggung penderitaan yang tak terhindarkan dengan kesabaran, hal ini juga dapat menjadi bagian dari persembahan hidup kita yang berkenan kepada Tuhan. Di dalam Ekaristi, hidup dan penderitaan kita dipersembahkan sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah, dan karena itu berkenan kepada Allah, hidup kita berubah menjadi berkat. Sekarang, kita tahu mengapa Allah mengizinkan penderitaan dalam hidup kita. Inilah sebabnya mengapa Yesus menegur Petrus dengan keras karena menghalangi Dia untuk memikul salib dan mati. Di dalam Kristus, pada akhirnya penderitaan bahkan dapat menjadi berkat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Seorang Wanita, dan Anjing

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [A]
20 Agustus 2023
Matius 15:21-28

Injil hari ini sungguh mencengangkan. Bagaimana mungkin Yesus bertindak begitu keras terhadap seorang perempuan yang sedang kesusahan? Mengapa Yesus harus menyebutnya ‘anjing’? Di manakah belas kasihan Yesus?

Konteks sejarah mungkin dapat membantu kita. Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan menuju daerah Tirus dan Sidon. Kedua kota kuno ini berada di luar wilayah Israel di sebelah utara (saat ini di Lebanon). Tujuan utama dari kedatangan Yesus ke daerah ini adalah untuk beristirahat. Pelayanan yang terus menerus di Palestina menguras tenaga, dan mereka membutuhkan istirahat. Jadi, kita dapat membayangkan Yesus dan para pengikut-Nya kelelahan setelah melakukan berbagai pelayanan dan perjalanan yang panjang, tetapi tiba-tiba, seorang wanita Kanaan datang dan mengusik ketenangan mereka.

Reaksi yang umum dilakukan adalah meminta wanita itu untuk pergi, dan inilah yang disarankan oleh para murid kepada Yesus. Namun, Yesus tidak mengusir perempuan itu dan tidak mengabaikannya, melainkan memulai sebuah dialog. Kita menyadari bahwa Yesus memiliki rencana khusus untuk wanita ini. Namun, apakah tujuan-Nya bagi perempuan itu?

Pertama, Yesus mengatakan kepada perempuan itu bahwa Dia datang untuk domba-domba yang hilang dari suku Israel, yang berarti prioritas-Nya adalah bagi bangsa Israel dan bukan orang non-Yahudi. Namun, wanita itu menolak untuk menyerah dan bahkan berlutut di hadapan Yesus. Menariknya, kata Yunani yang digunakan adalah ‘προσκυνέω’ (proskuneo), dan kata ini dapat diterjemahkan sebagai ‘menyembah’. Meskipun ada penolakan, perempuan itu tetap berjuang dan bahkan menyembah Yesus. Melihat reaksi perempuan itu, Yesus pun berkata dengan kata-kata yang lebih keras, “Tidaklah patut mengambil roti anak-anak dan melemparkannya kepada anjing-anjing (Mat. 15:26).” Sekali lagi, perempuan itu menolak untuk menyerah. Di luar dugaan, ia tidak marah atau merasa terhina. Sebaliknya, ia berkata, “Benar, Tuhan, bahkan anjing-anjing pun makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya (Mat. 15:27).” Karena kasihnya yang besar kepada putrinya dan iman kepada Yesus, ia tidak keberatan disamakan dengan ‘anjing’ dan bahkan merasa puas dengan apa yang tersisa. Mendengar jawaban perempuan itu, Yesus menyatakan bahwa ia memiliki iman yang besar dan akan menerima permintaannya.

Namun, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal. Apakah benar-benar sebuah penghinaan untuk menyebut wanita itu ‘anjing’? Menarik untuk diperhatikan bahwa kata Yunani yang digunakan adalah ‘κυνάριον’ (kunarion), dan itu bukan sembarang anjing, tetapi seekor anjing kecil yang biasa dipelihara di dalam rumah. Ya, ini adalah seekor anjing, tetapi ia adalah bagian dari keluarga dan sering kali disayangi. Meskipun benar bahwa orang-orang bukan Yahudi belum menjadi prioritas Yesus, namun mereka sangat dekat dengan hati-Nya. Sekarang, dengan menyadari hal ini, ‘kunarion’ dapat menjadi sebuah penghinaan atau sebuah istilah yang menunjukkan kasih sayang. Untungnya, wanita itu memutuskan untuk melihat istilah ini bukan sebagai penghinaan tetapi sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Yesus.

Kita tahu sekarang bahwa Yesus menjadikan perempuan itu sebagai model iman dalam menghadapi cobaan dan kesulitan. Melalui perempuan itu, Yesus menunjukkan bahwa diamnya Allah terhadap permintaan kita sebenarnya adalah rencana Allah bagi kita. Tanpa ujian iman, kita tidak akan bertumbuh dalam relasi kita dengan Allah. Ujian iman adalah bagian dari pendidikan Allah. Inilah cara Dia melatih orang-orang yang dikasihi-Nya. Dia menguji Abraham, menantang Musa, dan mengizinkan Daud menanggung penganiayaan. Adalah suatu kehormatan bagi kita untuk diuji oleh Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Penabur dan Jalan-Nya yang Misterius

Hari Minggu ke-15 dalam Waktu Biasa [A]
16 Juli 2023
Matius 13:1-23

Ada yang aneh dengan perumpamaan Yesus ini. Penabur itu melakukan sesuatu yang tidak patut dicontoh sebagai seorang petani. Penabur itu menyia-nyiakan benihnya. Ia membiarkan benih-benih itu jatuh ke jalan setapak, tanah berbatu, dan semak duri, tempat-tempat yang pasti akan membunuh benih ini. Jika benih-benih ini adalah sumber hidup petani, maka, dia sedang membunuh dirinya sendiri. Mengapa penabur melakukan sesuatu yang tampaknya tidak berguna dan bahkan bodoh?

Untuk menemukan jawabannya, kita harus memahami tujuan dari perumpamaan-perumpamaan Yesus. Banyak dari kita percaya bahwa perumpamaan adalah cerita sederhana yang digunakan Yesus untuk menyampaikan dan menyederhanakan ajaran-Nya. Itulah sebabnya seorang teolog mendefinisikan perumpamaan sebagai ‘ajaran-ajaran surgawi dalam cerita-cerita duniawi’. Sampai batas tertentu, definisi ini benar, tetapi tidak menangkap keseluruhan tujuan perumpamaan. Ketika Yesus ditanya, “mengapa Ia mengajar dalam perumpamaan? Yesus menjawab, “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka, sebab mereka melihat tetapi tidak melihat, mendengar tetapi tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:13).” Yesus menggunakan perumpamaan bukan untuk mengungkapkan ajaran-Nya, tetapi justru untuk menyembunyikan ajaran-Nya. Mengapa? Yesus menjelaskan bahwa dengan menggunakan perumpamaan, hanya mereka yang percaya kepada Yesus yang akan mengerti perumpamaan tersebut dan mempelajari pesannya, sementara mereka yang tidak percaya, hanya akan bingung.

Sekarang, bagaimana kita memahami penabur yang tampaknya menyia-nyiakan benihnya? Sekali lagi, kuncinya adalah iman kepada Yesus. Kita diundang untuk membaca perumpamaan ini dari sudut pandang iman. Jika berbagai jenis tanah melambangkan kondisi jiwa kita, dan benihnya adalah firman Tuhan, maka siapakah penaburnya? Bagi kita, orang-orang percaya, jawabannya sudah jelas. Penaburnya adalah Allah sendiri. Sekarang, jika kita mengetahui semua makna dari karakter dan elemen-elemen perumpamaan ini, kita dapat lebih memahami cerita ini. Sama seperti sang penabur di perumpamaan, Allah menyampaikan firman-Nya bukan hanya kepada satu jenis jiwa, tetapi kepada semua jiwa. Mengapa? Karena Dia mengasihi semua jiwa, dan ingin agar semua jiwa datang kepada keselamatan. Allah mengasihi semua orang, bahkan mereka yang melakukan hal-hal yang jahat, mereka yang tidak mengenal-Nya, dan mereka yang membenci-Nya.

Dia mengirimkan sinar matahari dan hujan bagi kita semua, meskipun kita tidak bersyukur. Dia menyediakan banyak hal baik dalam hidup kita, meskipun kita menganggapnya remeh. Pada akhirnya, Dia mengutus Yesus, Firman-Nya yang menjadi manusia, untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah mengutus Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Allah, sang penabur ilahi, tidak mengukur segala sesuatu dengan ukuran ekonomi duniawi, tetapi mengasihi kita dengan cuma-cuma.

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa kita juga harus melakukan bagian kita. Kita diundang untuk mengubah jiwa kita menjadi tanah yang subur. Mungkin, pada awalnya, pikiran dan hati kita keras, atau penuh dengan batu keraguan, atau penuh dengan duri kemarahan. Namun, Tuhan memberi kita kebebasan dan juga rahmat pertobatan untuk mengubah hati kita menjadi tanah yang subur di mana Firman Tuhan dapat bertumbuh. Sebagian dari kita mungkin memiliki hati yang subur, tetapi kita tidak boleh lalai, melainkan terus menyuburkan tanah kita agar firman Tuhan dapat berbuah berlimpah.

Jenis tanah seperti apakah kita sekarang? Apakah kita mengenali karya Allah dalam hidup kita? Apa yang kita lakukan untuk menerima firman Tuhan dan membiarkan firman itu bertumbuh dan berbuah?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuk Yesus

Minggu ke-14 dalam Masa Biasa

9 Juli 2023

Matius 11:25-30

Saya sangat diberkati karena diberi kesempatan untuk mengambil program S3 di bidang Kitab Suci (Teologi Biblis) di Roma, di jantung Gereja Katolik. Izinkan saya berbagi mengapa saya memilih bidang ini dan bagaimana kecintaan saya pada Sabda Allah dimulai. Dan hal ini berkaitan erat dengan Injil hari ini.

Ketika saya masih di Novisiat (awal hidup biarawan), saya membaca ayat ini di mana Yesus berkata, ‘Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang… karena kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan (Mat 11:28-30).”  Kuk adalah alat yang digunakan manusia atau hewan, seperti lembu atau keledai, untuk memikul beban. Kuk biasanya dibawa di pundak. Awalnya, saya membayangkan bahwa kita memiliki kuk yang harus kita pikul, yang memberatkan. Kuk ini melambangkan berbagai beban dan masalah dalam hidup kita. Kemudian, Yesus meminta kita untuk melepaskan kuk yang tidak perlu ini dan memikul kuk yang telah Yesus persiapkan untuk kita. Jadi, pada dasarnya ini adalah tentang ‘menganti’ kuk. Kuk Yesus lebih ringan daripada kuk kita; oleh karena itu, kuk ini memberi kita kelegaan dan istirahat.

Namun, seorang imam yang waktu itu masih belajar S3 dalam bidang Kitab Suci pernah mengunjungi kami. Dia membagikan sebagian pengetahuannya kepada kami, dan pada satu titik, dia memberi tahu kami tentang kuk. Di Palestina kuno (seperti di banyak tempat lainnya), ada jenis kuk yang dapat dibawa oleh dua orang atau hewan. Kuk ini dirancang untuk mendistribusikan beban ke kedua pundak secara merata. Jadi, ketika Yesus berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang…” Yesus tidak hanya memberikan kuk kepada kita, tetapi Dia berbagi kuk dan memikulnya bersama kita. Kemudian, ketika kita lelah, Yesus akan memikul sebagian besar beban itu sehingga kita mendapatkan kelegaan.

Penjelasan imam ini cukup sederhana karena saya sudah pernah melihat jenis kuk seperti ini karena saya sering melihatnya ketika saya masih kecil. Namun, ketika dia menghubungkannya dengan kuk Yesus dan menemukan kelegaan, hal itu membuka pikiran saya dan memukau hati saya. Sungguh, saat saya pikir saya sudah tahu tentang Sabda Allah, ternyata saya tidak tahu apa-apa. Firman Tuhan itu kaya dan menarik hati. Jika sebuah kata sederhana seperti ‘kuk’ dapat memiliki makna yang dalam, maka demikian pula halnya dengan kata-kata, kalimat, dan realitas lainnya di dalam Alkitab. Kemudian, saya mulai membaca banyak tafsiran dan penjelasan tentang berbagai ayat Alkitab. Semakin banyak saya belajar, semakin saya ditarik ke dalam misteri yang tak berdasar namun indah. Seiring dengan perkembangan panggilan saya, saya memutuskan untuk memfokuskan studi saya di bidang ini.

Apakah kisah tentang Kuk ini berakhir dengan penemuan saya di Novisiat? Tidak! Ketika saya memasuki studi teologi saya di Manila, saya menyadari satu teologi Katolik yang khas: teologi partisipasi. Teologi ini mengajarkan kita bahwa Allah memang pelaku utama penebusan, tetapi Dia tidak memperlakukan kita hanya sebagai penerima yang pasif. Dia menjadikan kita sebagai partisipan aktif dalam karya keselamatan-Nya. Ya, Yesus telah wafat dan bangkit bagi kita, tetapi kita juga perlu berpartisipasi dalam misteri penebusan ini melalui iman, pengharapan dan kasih.

Kemudian, ketika saya menghubungkannya dengan ‘kuk’, teologi partisipasi menjadi lebih bermakna. Jika kita memikul kuk kita sendiri, maka kuk itu tidak lebih dari beban yang tak bermakna. Tetapi, ketika kita berpartisipasi dalam kuk Kristus, beban kita akan menjadi lebih ringan dan memiliki nilai rohani. Ya, kita sering kali tidak dapat melepaskan diri dari banyak situasi yang membebani dalam hidup kita, tetapi ketika kita menyatukannya dengan salib Yesus dan dengan setia memikulnya, semua itu akan menjadi berkat rohani dan sarana keselamatan.

Apakah kuk kita sehari-hari? Apakah kita memikulnya sendirian? Apakah kita mempersembahkannya kepada Tuhan? Apakah kita mengambil bagian dalam kuk-salib Yesus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Takut

Minggu ke-12 dalam Masa Biasa [A]

25 Juni 2023

Matius 10:26-33

Takut adalah salah satu emosi manusia yang paling mendasar dan primitif. Rasa takut dapat didefinisikan sebagai reaksi emosional dan fisiologis terhadap bahaya atau ancaman yang dirasakan. Pada manusia dan banyak hewan, bagian kuno dari otak kita yang disebut amigdala memainkan peran penting dalam mengatur rasa takut. Ketika potensi ancaman terhadap kehidupan kita dirasakan, amigdala melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini meningkatkan kewaspadaan kita dan memperkuat tubuh kita, dan dengan demikian, meningkatkan peluang kita untuk menyelamatkan hidup kita. Amigdala (dan rasa takut) bertanggung jawab atas kelangsungan hidup kita.

Akan tetapi, ada masalah besar. Otak kita, tidak seperti otak hewan, jauh lebih kompleks dan pintar. Amigdala hanyalah bagian yang kecil dari sistem yang lebih besar. Seiring dengan semakin majunya otak kita, pemahaman kita akan rasa takut pun semakin rumit. Kita tidak hanya takut pada bahaya fisik di depan mata kita, seperti api atau hewan buas, tapi juga pada potensi ancaman dan bahaya yang sebenarnya belum ada, atau bahkan tidak akan pernah ada. Dalam batas-batas tertentu, jenis ketakutan ini sesuatu yang normal, tetapi saat ketakutan ini berlebihan, ini menjadi permasalahan serius dalam hidup kita. Ketakutan ini muncul dalam berbagai bentuk seperti ‘overthinking,’ ‘comfort zone’, dan ‘insecurity (minder)’. Ketakutan ini melumpuhkan kita dan bahkan menekan pertumbuhan otentik kita.

Apa yang Yesus ajarkan kepada kita tentang rasa takut? Kita sering membaca dalam Injil bahwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jangan takut!” Namun, apakah ini berarti Yesus ingin kita menekan emosi kita? Apakah Yesus memerintahkan kita untuk bersikap gegabah dan mengabaikan rasa takut sama sekali? Injil hari ini memberi kita kebijaksanaan yang lebih dalam tentang ajaran Yesus tentang rasa takut. Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam Gehena (mat 10:28).” Yesus tidak meminta kita untuk mati rasa terhadap semua jenis takut, melainkan untuk mengetahui apa atau siapa yang benar-benar harus kita takuti.

Yesus sangat memahami bahwa rasa takut adalah emosi dasar manusia. Rasa takut memiliki tujuan penting untuk bertahan hidup; tanpa rasa takut, spesies manusia sudah lama punah. Oleh karena itu, membedakan antara objek ketakutan yang nyata dan yang semu sangat penting untuk menangani rasa takut kita dengan benar. Namun, Yesus mengingatkan kita bahwa kita bukan hanya makhluk duniawi tetapi terutama makhluk yang diciptakan untuk Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu lebih takut pada hal-hal yang akan memisahkan kita dari Allah, terutama dosa. Ya, secara alamiah kita takut akan hal-hal yang membahayakan tubuh kita, tetapi kita harus lebih takut akan hal-hal yang membahayakan jiwa kita, bahkan jika hal-hal tersebut memberikan kenyamanan dan keamanan bagi tubuh kita. Ajaran Yesus selaras dengan hikmat Perjanjian Lama: takutlah akan Tuhan (lihat Pkh. 12:13; Mzm. 34:9). Kita tidak takut kepada Tuhan karena Dia menakutkan, tetapi kita takut kehilangan Dia untuk selama-lamanya.

Sekarang, saatnya kita mengevaluasi hidup kita. Apa saja objek takut yang semu dalam hidup kita yang menghalangi kita untuk bertumbuh dan mengasihi Tuhan dan sesama kita? Apakah kita lebih takut pada hal-hal yang membahayakan kehidupan duniawi kita atau hal-hal yang menjauhkan kita dari kehidupan kekal? Apakah kita siap untuk menghadapi rasa takut kita demi Yesus?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Manna

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi)
11 Juni 2023
Yohanes 6:51-58

Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, atau juga disebut Hari Raya Corpus Christi (bahasa Latin yang berarti “Tubuh Kristus”). Melalui hari Minggu ini, Gereja mengundang seluruh umat beriman untuk merenungkan sekaligus merayakan salah satu misteri dan mukjizat agung iman Katolik, yaitu kehadiran Yesus Kristus yang nyata dalam setiap Ekaristi. Seperti yang kita dengar dari Injil Yohanes, Yesus benar-benar memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang nyata, dan mereka yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan memiliki hidup yang kekal (Yohanes 6:51). Namun, apakah kita benar-benar memakan Tubuh dan Darah Yesus? Apakah itu berarti kita memakan daging manusia, dan dengan demikian, kita melakukan kanibalisme?

Ya, kita memang makan dan minum Tubuh dan Darah Kristus, tetapi kita tidak melakukan tindakan kanibalisme. Mengapa demikian? Cara termudah untuk menjawab tuduhan ini adalah dengan pergi ke Gereja dan mengamati liturgi Ekaristi itu sendiri. Dalam perayaan misa, tidak ada orang yang memakan daging mentah atau vampir yang menghisap darah segar. Tidak ada yang bersifat kanibal sama sekali dalam Ekaristi. Jadi, di manakah Tubuh dan Darah Kristus? Jawabannya mungkin sedikit rumit. Roti dan anggur yang dipersembahkan dan dikonsekrasikan oleh imam bukan lagi roti dan anggur biasa. Ya, apa yang terlihat tetap sama, tetapi kodratnya berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang sesungguhnya. Dalam perspektif ini, kita mengambil bagian dalam Yesus bukan dengan cara kanibal, melainkan dengan cara ekaristi.

Namun, ada hal yang lebih menarik lagi jika kita membaca perkataan Yesus dengan seksama. Ketika Yesus menjelaskan tentang realitas Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan yang sejati, Yesus membuat perbandingan tipologis dengan Manna yang diterima bangsa Israel di padang gurun. Apakah Manna itu? Banyak dari kita beranggapan bahwa Manna hanyalah sejenis roti biasa. Namun, jika kita membaca dengan seksama Kitab Keluaran 16, reaksi orang Israel yang melihat dan mengambil Manna itu sangat terkejut karena mereka tidak pernah melihat makanan semacam itu sebelumnya. Faktanya, kata Manna berasal dari bahasa Ibrani מָן הוּא (baca: man hu; Kel 16:15), yang secara harafiah berarti “apakah ini?” Orang Israel ragu-ragu, tetapi Musa meyakinkan mereka bahwa ini adalah roti yang datang dari surga untuk menopang mereka dalam perjalanan melalui padang gurun.

Dari perbandingan tipologis ini, Yesus ingin kita melihat Tubuh-Nya seperti Manna dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana Manna adalah makanan sejati yang berasal dari surga, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan sejati yang berasal dari surga. Sebagaimana Manna adalah makanan yang menopang perjalanan bangsa Israel di padang gurun, demikian juga Tubuh Yesus adalah makanan yang menopang perjalanan kita di bumi. Sebagaimana Manna terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan sesuatu yang melampaui pemahaman bangsa Israel, demikian juga Tubuh Kristus terlihat seperti roti biasa, namun pada kenyataannya merupakan rahmat terbesar yang melampaui pemahaman kita.

Kita bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan Tubuh dan Darah-Nya, seluruh diri-Nya kepada kita sebagai roti kehidupan yang menyehatkan dan melestarikan kita di lembah duka ini. Ekaristi menjadi bukti kasih-Nya, bahwa Dia akan menyertai kita sampai akhir zaman.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP