Kristus, Raja Hidup Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

21 November 2021

Yohanes 18:33-37

Minggu Kristus Raja adalah hari Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi. Perayaan ini adalah peringatan yang tepat bagi kita semua bahwa pada akhirnya, Yesus adalah raja kita. Namun, bagi banyak dari kita, kita tidak benar-benar tahu apa artinya menjadi hamba pada seorang raja. Beberapa dari kita mungkin memiliki raja atau ratu sebagai kepala negara kita, tetapi biasanya mereka tidak terlibat dalam kehidupan kita sehari-hari. Faktanya, di dunia, kita hanya memiliki sedikit monarki absolut seperti Sultan Brunei, Raja Arab Saudi, dan Paus!

Hidup dalam masyarakat modern, kita menghargai dan menjaga kebebasan dan otonomi pribadi. Kita memperjuangkan hak-hak dasar kita, dan kita bahkan berjuang ke pengadilan untuk menuntut keadilan atas hak-hak kita. Pelanggaran hak asasi manusia dianggap sebagai kejahatan berat. Di alam demokrasi, kita memutuskan bagaimana kita ingin diatur dengan memilih pejabat publik yang kita inginkan. Kita memilih di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita ingin hidup. Mereka yang ingin membatasi kebebasan kita adalah tiran dan diktator. Jadi, ketika kita merayakan Hari Raya Kristus Raja, gelar rajawi Yesus ini tidak terlalu berarti bagi kita. Kita dapat dengan mudah melihat Yesus sebagai sahabat dan saudara kita, tetapi Yesus sebagai raja kita adalah konsep yang asing.

Namun, dalam Injil, Yesus sebagai raja adalah salah satu identitas-Nya yang paling mendasar. Yesus disebut Kristus, yang berarti yang diurapi, dan gelar ini terutama mengacu pada seorang raja seperti raja Daud. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan membangun Kerajaan Allah dan memilih dua belas rasul sebagai suku baru Israel. Tindakannya hanya masuk akal jika Yesus adalah raja kerajaan itu. Dalam Injil hari ini, Pilatus bertanya kepada Yesus apakah Dia seorang raja, dan Yesus memberikan jawaban tegas-Nya. Di kayu salib, penjahat yang bertobat berkata kepada Yesus, “Ingatlah aku ketika kamu datang sebagai raja!” Bahkan, di salib-Nya, identitas-Nya tertulis dengan jelas, “Yesus Raja orang Yahudi.”

Apa artinya memiliki Yesus sebagai raja kita? Mengapa itu penting bagi kita? Jawabannya adalah yang paling penting bagi kita. Yesus bukan hanya seorang raja, sama seperti raja-raja lainnya, tetapi Dia juga pencipta hidup kita. Dia merancang kodrat kita bahwa kita hanya akan sampai pada tujuan sejati kita di dalam Tuhan. Jadi, menerima Yesus sebagai raja kita, dan hidup sesuai dengan rencana-Nya, adalah jalan pasti kita menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati.

Iblis mengetahui hal ini dengan sangat baik, dan dia menggoda orang tua pertama kita untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi ‘tuhan’ tanpa Tuhan. Strategi yang sama masih digunakan sampai hari ini, dan kita dibuat untuk percaya bahwa kebebasan tanpa Tuhan adalah apa yang kita butuhkan. Kita mencoba untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita, kita membesarkan ego kita, dan kita berperilaku seperti raja-ratu kecil. Namun sejatinya, ini adalah sumber frustrasi, kekhawatiran, dan ketidakbahagiaan kita. Hanya saat kita mati bagi diri kita sendiri dan sekali lagi mengizinkan Yesus meraja di dalam hati kita, kita menjadi sungguh merdeka, autentik dan bahagia.

Hidup Kristus Raja!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Akhir Zaman

Minggu Biasa ke-33 [B]
14 November 2021
Markus 13:24-32

Kita mendekati akhir tahun. Kita berada di pertengahan November, dan kita akan mengakhiri 2021 setidaknya 50 hari lagi. Pada saat yang sama, kita berada pada hari Minggu ke-33 pada Masa Biasa, dan minggu depan, kita akan merayakan Kristus Raja, hari Minggu pamungkas dalam tahun Liturgi. Dengan demikian, Gereja memberi kita Injil yang berbicara tentang akhir zaman.

photocredit: Austrian National Library

Yesus sedang bersama murid-murid-Nya di Bukit Zaitun tepat di sebelah timur Yerusalem, menghadap Bait Allah. Salah satu murid-Nya mengklaim bahwa Bait Allah dibangun dengan megah dan sungguh, Bait Allah menjadi salah satu keajaiban kuno. Bangunan ini dibangun dengan mengumpulkan ribuan batu besar. Satu balok batu bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton. Tidak hanya megah, itu juga indah. Emas dan batu mulia menghiasi bangunan suci ini. Tidak heran jika banyak orang berharap bahwa Bait Allah akan bertahan selamanya.

Namun, Yesus memiliki pandang berbeda. Dia menyatakan penghakiman-Nya atas Yerusalem, dan Bait Allah akan dibakar dan dihancurkan hanya dalam satu generasi setelah Yesus. Sungguh, penghakiman Yesus menjadi kenyataan ketika pada tahun 70 M, Titus dan tentara Romawinya mengepung dan akhirnya meratakan Yerusalem. Josephus, seorang sejarawan Yahudi, menceritakan bahwa selama pengepungan, ratusan orang disalibkan setiap hari dan orang-orang di dalam kota terpaksa melakukan praktik kanibalisme untuk bertahan hidup. Bait Allah terbakar, dan setelah beberapa waktu, bangunan paling indah di zaman kuno tinggal reruntuhan dan puing-puing saja.

Mengapa Yesus mengucapkan penghakiman yang begitu mengerikan ke kota Yerusalem, ke tempat suci di Israel? Itu karena Yerusalem, terutama para penatua, menolak Yesus, dan menolak Yesus berarti menolak Tuhan sendiri. Namun, penghakiman semacam ini bukanlah pertama kalinya. Dalam Perjanjian Lama, para nabi terus memperingatkan bangsa Israel untuk kembali kepada Allah. Namun, Israel, yang diwakili oleh raja dan imamnya, menolak panggilan itu, dan bahkan menganiaya para nabi Allah. Kerajaan Israel akhirnya menghadapi penghakimannya. Kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur pada 721 SM, dan kerajaan selatan diasingkan oleh kekaisaran Babilonia pada 587 SM.

Yesus tidak bertindak seperti seorang nabi malapetaka yang pesimistis. Yesus pada dasarnya membangkitkan pesan para nabi pendahulu-Nya. Pesan Injil Yesus adalah pertobatan. Kita dipanggil untuk percaya kepada Yesus, dan ini bukan hanya di bibir kita, tetapi juga dalam hidup kita. Yesus mengkritik para pemimpin agama di zaman-Nya, baik para imam maupun kaum awam, yang melakukan tugas keagamaan mereka sebagai sebuah pertunjukan, tetapi secara diam-diam melakukan kejahatan terhadap kaum miskin Israel. Jika kita gagal untuk bertobat, kita mungkin akan menghadapi bencana yang sama.

Sering kali, saya mendengar beberapa orang berkata, “Saya akan mengakui dosa-dosa saya ketika saya sudah tua.” Atau, “Saya tidak perlu berubah karena ketika saya sekarat, saya akan menerima pengurapan orang sakit, dan saya akan pergi ke surga.” Pemikiran seperti ini berbahaya. Mengapa? Pertama, ini adalah penyalahgunaan rahmat, sebuah dosa serius. Kedua, jika kita tidak bertobat sekarang, semakin keras hati kita, dan semakin sulit untuk keluar dari jeratan dosa kita.
Penghakiman Yesus mungkin tentang akhir Yerusalem dan akhir zaman, tetapi intinya adalah tentang pertobatan kita di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Minggu Biasa ke-32 [B]

7 November 2021

Markus 12:38-44

Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.

Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].

Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Poor Widow: A reminder for all of us

32nd Sunday in Ordinary Time [B]
November 7, 2021
Mark 12:38-44

We have two main characters in our Gospel today. The first one is the scribes and then the poor widow. The scribes are the elite class of the ancient Israelite society. They are the learned ones because they know how to read and write, extremely precious skills during those times. Their ability to access the Torah makes them powerful because they read and teach the Law, and ordinary people should listen to them. At the other end of the spectrum, we have the poor widow. Being a woman in the time of Jesus is undoubtedly not the best time. Women generally are not allowed to possess or inherit properties. This causes them to rely heavily on their male family members, like their father, siblings, or husbands. Thus, if a woman loses her husband, she loses her protector and provider, and a widow with no sons is the neediest. But, here comes the surprise.

photocredit: Connor Hall

Jesus praises the poor widow because her poverty and misery do not stop her from becoming generous. Perhaps, she offers to the Lord the last two small coins she has, and she may go hungry for the rest of the day. Yet, her love and faith in God are enormous. She does not hold to her life-saving coins, but she trusts that God will take care of her.

Meanwhile, without a second thought, Jesus condemns the scribes. Jesus reveals His reason: the scribes are at the top of the Israelite society and Jewish religious hierarchy, but they care about their self-interests. They use every opportunity to advance their glories and fame. They desire the best seats, the highest place, and the greatest honor from the people around them. This megalomanic tendency can be tolerated, but there is one thing that is almost unforgivable. By using their knowledge of the Law, they are manipulating and exploiting the poor neighbors. There is a possibility that the poor widow is one of their victims. No wonder that Jesus calls them ‘the devourers of the poor widows. With their privileges and wisdom, they are supposed to aid and improve the lives of the poor Israelites. Yet, they do the opposite and turn to cause greater suffering for these simple people. They are masters of the Law, but they stand in direct opposition to God’s Law, “Do not take advantage of a widow or an orphan” [Exo 22:22].

Today’s Gospel is a slap on the face for many of us, especially for the people who are entrusted with God’s Word, with positions of authority in the Church, and with the power of the sacraments. Time and again, Jesus reminds His disciples that the first shall be the servant of all. The higher the position is, the greater love and service will be, especially to the poor and the needy. As priests, we must be responsible for using Church’s properties and goods, we are called to serve with dedication, we are to offer our lives for the people, otherwise, we shall commit grave injustice to the people of God. We pray that we will not receive the same condemnation as the scribes.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tuhan tidak akan Cemburu

Minggu Biasa ke-31 [B]
31 Oktober 2021
Markus 12:28-34

Beberapa hari yang lalu, saya memberikan seminar tentang rosario, dan saya menerima pertanyaan yang cukup sulit, “Bagaimana jika devosi kita kepada Santa Perawan Maria membuat kita mencintai Maria lebih daripada Yesus?” Reaksi pertama saya adalah bahwa kasih kita kepada Yesus harus terbesar dibandingkan kepada siapa pun atau apa pun. Saya tidak mungkin salah dengan memberikan jawaban itu. Namun, dalam hati saya tidak puas dengan jawaban saya. Jika mencintai Yesus adalah satu-satunya hal yang penting, mengapa kita harus mencintai Bunda-Nya, mengapa kita harus menghormati St Yosef, ayah angkat-Nya, dan mengapa kita harus melayani Gereja-Nya? Kemudian, saya menyadari bahwa dengan logika ini, saya dapat mengatakan bahwa seorang suami tidak harus mencintai istrinya sepenuhnya, cukup cinta Yesus; seorang ibu tidak harus merawat anak-anaknya secara total, cukup cinta Yesus; seorang imam tidak harus melayani umatnya dengan penuh komitmen, cukup cinta Yesus. Logika ini mungkin menyesatkan.

photocredit: debby hudson

Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang mengajar kita yang pertama dan terutama dari semua hukum: Mengasihi Allah dengan segenap hati kita, dengan segenap jiwa kita, dengan segenap akal budi kita, dan dengan segenap kekuatan kita, dan kedua, untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Sangat menarik bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa mengasihi Tuhan dengan apa yang kita miliki saja sudah cukup. Dia menambahkan perintah kedua, untuk mengasihi sesama kita, dan Hukum kedua tidak dapat dipisahkan dari Hukum pertama. Kenapa? Kuncinya adalah bahwa mengasihi sesama kita adalah bagian tak terpisahkan dari mengasihi Tuhan.

Kasih kita kepada Bunda Maria, seperti kasih kita kepada keluarga dan teman-teman kita, tidak bertentangan dengan kasih kepada Kristus. St. Yusuf, St Padre Pio, St. Dominikus tidak bersaing dengan Tuhan dalam memenangkan cinta kasih kita. Kasih kita kepada sesama sejatinya adalah ekspresi kasih kita kepada Yesus. St. Bernard dari Clairvaux, dalam tulisannya ‘On the Love of God’, menulis bahwa jenis kasih tertinggi adalah mengasihi diri kita sendiri dan sesama demi Tuhan. Sederhananya, semakin kita mengasihi Bunda Maria, semakin kita mencintai keluarga kita, dan semakin kita mengasihi Yesus. Jika kita masuk lebih dalam ke dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa Allah adalah kasih [1 Yoh 4:8]. Tuhan tidak sedang bersaing dengan keluarga dan teman-teman kita, dan merasa cemburu ketika terkadang kita memprioritaskan anak-anak kita. Kenapa? Karena Tuhan adalah kasih itu sendiri yang mengikat kita dengan orang yang kita cintai. Semakin kita secara otentik mengasihi sesama kita, semakin besar Tuhan di hati kita.

Bagaimana kita menerapkan kebenaran ini dalam kehidupan kita sehari-hari? Memang ada kalanya kita harus memilih antara Tuhan dan hal-hal lain, seperti negara. St Thomas More, ketika dia akan dieksekusi, berkata, “hamba raja yang baik, tetapi Tuhan adalah yang pertama.” Namun, ini adalah kasus luar biasa. Sebagian besar, untuk mengasihi Tuhan dan untuk mengasihi sesama berjalan bersama-sama. Setiap hari Minggu, kita dapat membawa anak-anak kita ke Gereja dan beribadah bersama sebagai keluarga. Setiap malam, pasangan suami-istri bisa berdoa bersama. Pada bulan Oktober, keluarga dan komunitas dapat berdoa rosario bersama. Semakin dekat kita dengan satu sama lain, semakin dekat kita dengan Bunda Maria, dan tentunya semakin dekat lagi dengan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Visi Sejati

Minggu ke-30 Masa Biasa [B]
24 Oktober 2021
Markus 10:46-52

Kisah Bartimeus adalah salah satu kisah yang paling indah dalam Injil. Cerita ini berkisah tentang seorang pria yang dihancurkan oleh kesulitan hidup yang tak terbayangkan, namun dia tanpa henti mencari penebusan dan makna hidupnya. Dia harus hidup dengan kebutaan dan berjuang dengan kegelapan sepanjang hidupnya. Segalanya menjadi lebih buruk karena masyarakat dan mungkin keluarganya menolaknya dan melihat dia sebagai kegagalan. Alih-alih mendapatkan bantuan yang layak sebagai penyandang disabilitas, ia harus menghadapi diskriminasi yang kejam. Untuk bertahan hidup ia harus mengemis dari orang-orang yang keluar masuk kota Yeriko. Bartimaeus bukanlah seorang pengemis malas yang menyia-nyiakan program sosial pemerintah. Dia benar-benar korban dari sistem yang tidak adil pada zamannya.

Minggu ke-30 Masa Biasa [B]
24 Oktober 2021
Markus 10:46-52

Kisah Bartimeus adalah salah satu kisah yang paling indah dalam Injil. Cerita ini berkisah tentang seorang pria yang dihancurkan oleh kesulitan hidup yang tak terbayangkan, namun dia tanpa henti mencari penebusan dan makna hidupnya. Dia harus hidup dengan kebutaan dan berjuang dengan kegelapan sepanjang hidupnya. Segalanya menjadi lebih buruk karena masyarakat dan mungkin keluarganya menolaknya dan melihat dia sebagai kegagalan. Alih-alih mendapatkan bantuan yang layak sebagai penyandang disabilitas, ia harus menghadapi diskriminasi yang kejam. Untuk bertahan hidup ia harus mengemis dari orang-orang yang keluar masuk kota Yeriko. Bartimaeus bukanlah seorang pengemis malas yang menyia-nyiakan program sosial pemerintah. Dia benar-benar korban dari sistem yang tidak adil pada zamannya.
photocredit: riccardo annandale

Ketika Yesus melewati Yeriko menuju Yerusalem, Bartimeus melakukan apa yang biasa dilakukan: mengemis. Dia mengakui Yesus sebagai Anak Daud, Mesias yang telah lama ditunggu-tunggu, dan memohon belas kasihan. Yesus mendengar teriakan minta tolong dan memanggilnya. Namun, ada hal menarik yang terjadi. Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kamu ingin aku lakukan bagimu?” Tampaknya, pertanyaan ini tampak konyol. Tentu saja, Bartimeus ingin melihat! Namun, mengapa Yesus menanyakan pertanyaan itu meskipun faktanya sudah jelas?

Yesus tentu tahu apa yang dibutuhkan Bartimeus, namun Yesus, sebagai guru yang baik, membimbingnya untuk mengartikulasikan keinginannya yang terdalam. Yesus memampukan Bartimeus untuk bersuara. Kemudian mukjizat terjadi di tingkat yang jauh lebih dalam. Bartimeus tidak lagi menyebut Yesus, ‘Anak Daud,’ seorang Mesias dan raja yang berkuasa, tetapi dia menyebut Yesus sebagai ‘Rabouni’ [guruku]. Bartimeus tidak hanya merindukan penglihatan mata yang sempurna, tetapi sejatinya persekutuan yang intim dengan Yesus: dari hubungan yang saling menghormati namun jauh antara raja dan rakyatnya, menjadi persahabatan yang hangat dan memberdayakan antara seorang guru dan murid-Nya.

Jadi, permintaan kedua Bartimeus, ‘Saya ingin melihat’, harus dipahami dalam konteks ini. Ketika matanya terbuka, orang pertama yang dilihatnya tidak lain adalah Yesus, gurunya yang terkasih. Penglihatannya tidak ada artinya kecuali untuk melihat Yesus. Keinginan terdalamnya adalah untuk melihat Yesus dan bersama Yesus. Tak heran jika cerita berakhir dengan Bartimeus mengikuti Yesus di jalan-Nya.

Kisah Bartimeus sangat indah dan tergolong kisah klasik karena cerita ini adalah milik kita juga. Kita dibutakan oleh banyak hal yang membuat jiwa kita melarat dan menyedihkan. Kita mengejar hal-hal yang memiskinkan kehidupan rohani kita. Kita mungkin memiliki yang terbaik yang dapat ditawarkan dunia, tetapi kita tahu bahwa kita kehilangan yang paling penting.

Beato Carlo Acutis pernah berkata, “Kita dilahirkan sebagai orisinal, namun banyak yang mati sebagai fotokopian.” Kita semua dilahirkan sebagai citra Tuhan yang indah dan unik, tetapi kita tumbuh sebagai ‘fotokopi’ selebriti yang kita tonton di TV. Kita mengidolakan influencer media sosial yang memamerkan mobil sport dan kekayaan mereka. Kita meniru tokoh masyarakat yang ‘karismatik’ tetapi tidak hidup berbudi luhur. Kita dibutakan dan akhirnya mati sebagai ‘fotokopi’ yang jelek. Jadi, mengikuti petunjuk sang guru yang baik, kita perlu mengartikulasikan apa kerinduan terdalam kita dalam hidup ini. Mudah-mudahan, seperti St. Thomas Aquinas, kita akan dapat berkata, “Tidak ada yang lain selain Engkau, ya Tuhan!”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kuasa Terbesar

Minggu Biasa ke-29 [B]
17 Oktober 2021
Markus 10:35-45

Yakobus dan Yohanes sedang mencari posisi yang paling berharga di kerajaan Yesus. Duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri raja berarti memerintah bersama dengan raja itu sendiri. Kembali ke Perjanjian Lama, orang yang duduk di sebelah kanan Raja Solomon tidak lain adalah sang ibu, Batsyeba. Ibu ratu sangat dihormati oleh raja sendiri dan dia memiliki kekuatan yang sangat besar [1 Sam 1 – 2].

photocredit: ravi roshan

Apa yang membuat kisah Injil ini lebih menarik adalah bahwa Yakobus dan Yohanes berusaha mengambil posisi ini dengan cara yang cerdik. Mereka langsung pergi kepada Yesus, dan memanfaatkan kesempatan ketika murid-murid yang lain sedang sibuk dengan hal-hal lain. Tentunya, ketika murid-murid lain menyadari rencana mereka, mereka menjadi marah. Mengapa? Mereka juga menginginkan posisi yang sama, dan juga kekuatan yang menyertainya.

Mengapa para murid terobsesi dengan kekuasaan dan posisi? Mengapa kita sangat menginginkan kekuasaan? Secara sederhana, kekuasaan adalah kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dan orang lain. Ketika kita memiliki kemampuan untuk melakukan apa yang perlu kita lakukan dan apa yang ingin kita lakukan, kita kuat dan berkuasa. Ketika kita dapat mengontrol dan mempengaruhi orang lain, kita bahkan menjadi lebih kuat dan berkuasa. Ketika kita kuat dan berkuasa, kita memegang kendali, dan ketika kita memegang kendali, kita merasa sebuah kepuasan dan kenikmatan. Tidak heran jika kita menginginkan kekuasaan.

Apakah kekuasaan sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak! Seperti hal-hal lain di dunia ini, kekuasaan adalah sarana dan dapat memiliki tujuan yang baik. Dengan kekuasaan, kita dapat melakukan hal-hal yang membuat kita tumbuh dan mencapai potensi maksimal kita. Dengan kekuasaan, kita dapat membantu orang lain dan masyarakat untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, dan kebaikan bersama. Dengan kekuasaan, kita dapat mencegah orang lain menyakiti diri sendiri dan orang lain. Namun, seperti hal-hal duniawi lainnya, kekuasaan rentan terhadap penyalahgunaan. Kekuatan yang sama dapat digunakan untuk memanipulasi dan menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain.

Yesus memahami dengan baik dinamika kekuasaan. Dia sendiri tidak mengajarkan bahwa kekuatan itu jahat, atau sesuatu yang harus dihilangkan. Sebaliknya, Dia menunjukkan tujuan kekuasaan yang sebenarnya. Yesus menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah tentang memiliki kekuatan militer atau ekonomi. Kekuasaan yang sejati adalah untuk saling melayani. Yesus bahkan mengajarkan hal yang lebih radikal bahwa orang yang paling bebas dan paling berkuasa adalah orang yang dengan bebas menyerahkan hidupnya agar orang lain dapat memiliki hidup sepenuhnya. Kekuatan sejati bukanlah tentang memiliki dan mengumpulkan lebih banyak kekuatan dan kendali, melainkan tentang memberi dan memberdayakan orang lain. Kekuasaan menghancurkan ketika di dalam hati kita diperbudak oleh dosa.

Apa yang menakjubkan tentang kekuasaan adalah bahwa hampir setiap orang memilikinya. Sekarang, kembali kepada kita untuk menggunakan kekuasaan ini untuk melayani sesama atau untuk menghancurkan mereka. Seorang ibu dapat menggunakan kekuasaannya atas bayi di dalam kandungannya dengan merawat bayinya, namun ibu yang sama dapat menggunakan kekuasaannya untuk membinasakan dan menggugurkan kandungannya. Seorang imam dapat menggunakan kuasanya untuk menguduskan umatnya dan mendidik mereka di jalan Tuhan, atau ia dapat menggunakannya untuk memperoleh kehidupan yang lebih nyaman, dan bahkan popularitas. Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada kuasa yang lebih besar dari pada seseorang yang dengan rela memberikan hidupnya agar orang lain dapat hidup sepenuhnya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Orang Kaya

Minggu Biasa ke-28 [B]
10 Oktober 2021
Markus 10:17-27

Ketika seorang kaya datang dan memohon untuk kehidupan kekal, Yesus menyebutkan dua prinsip paling mendasar dari agama Yahudi: ‘Shema’ dan Sepuluh Perintah Allah. Shema adalah kata Ibrani pertama dalam “Dengarlah, hai orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa…” [Ul 6:4]. Shema telah menjadi doa dasar dan pernyataan kredo bagi orang-orang Yahudi sejak zaman Yesus. Seorang Yahudi yang baik akan mendaraskan ‘Shema’ setidaknya tiga kali sehari. Yesus sedikit memodifikasi Shema ketika Dia berkata, “…Hanya Tuhan saja yang baik.” Yesus juga menyebutkan Sepuluh Perintah Allah, setidaknya paruh keduanya. Yesus menekankan kewajiban manusia untuk berbuat baik dan menghindari hal-hal jahat bagi sesama.

photocredit: amirali

Yesus mengajarkan pria itu bahwa menjalankan Shema dan melakukan perintah Tuhan adalah apa yang perlu dia lakukan untuk mendapatkan hidup yang kekal. Namun, ada sebuah kejutan yang menarik dalam cerita ini. Orang kaya itu mengatakan bahwa dia telah melakukan hal-hal itu sejak dia masih muda. Sekarang, alih-alih merasa puas dengan pencapaiannya, dia merasa ada sesuatu yang hilang. Meskipun melakukan apa yang dituntut Hukum Allah dan percaya pada satu Tuhan Allah yang benar, pria itu tidak menemukan apa yang benar-benar ia rindukan. Dia berharap Yesus memberikan jawabannya, sebuah mata rantai yang hilang.

Yesus mengenali ketulusan pria itu dan mengasihinya. Yesus menawarkan kepadanya bagian terakhir yang akan memecahkan teka-teki hidupnya: mengikuti Yesus. Namun, Yesus juga tahu persis satu hambatan besar untuk mengikuti-Nya dan memperoleh hidup yang kekal. Orang ini terikat pada kekayaannya. Jadi, solusinya adalah secara radikal melepaskan diri dari kekayaan, seperti ‘unta melalui lubang jarum’.

Apakah kekayaan itu jahat? Sama sekali tidak! Harta benda adalah baik karena ini juga diciptakan oleh Tuhan dan berkat Tuhan. St Paulus mengingatkan kita bahwa yang jahat bukanlah kekayaan itu sendiri, tetapi cinta akan uang [1 Tim 6:10]. Kekayaan itu baik jika berfungsi sebagai sarana untuk mencapai tujuan, dan bukan tujuan akhir itu sendiri. Jika kita membaca Injil, kita juga akan melihat bagaimana Yesus mengizinkan diri-Nya dan pelayanan-Nya didukung oleh pria dan wanita yang kaya.

Mengikuti Yesus berarti menggunakan kekayaan kita untuk melayani Tuhan dan membantu orang lain terutama yang miskin. Mengikuti Yesus berarti kita menyadari bahwa kekayaan adalah berkat Tuhan. Mengikuti Yesus berarti mengakui bahwa mengejar harta benda duniawi tanpa Allah pasti akan kehilangan Allah, sumber segala kekayaan.

Namun, keputusan untuk mengikuti Yesus dan menjadikan prioritas kita yang lain seperti uang, ketenaran, dan kesuksesan sebagai sarana daripada tujuan adalah pilihan yang radikal. Harta duniawi ini sering memberi kita kesenangan dan perasaan aman instan. Dengan banyak uang, kita dapat melakukan apa yang kita inginkan, dan kita dapat memiliki apa yang kita mau. Namun, kesenangan dan keamanan ini hannyalah fatamorgana. Pada tahun 2008, krisis keuangan melanda banyak negara, dan banyak ekonomi runtuh. Paus Emeritus Benediktus XVI mengingatkan kita, “mereka yang hanya mencari kesuksesan, karier atau uang sedang membangun di atas pasir.” Benar, kekayaan tanpa Tuhan, tidak lain adalah ‘pasir’.

Kita mencari dahulu Kerajaan Allah, dan sisanya akan diberikan. Kita mengikuti Yesus terlebih dahulu, dan hal-hal lain akan mengikuti.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yesus Membenci Perceraian

Minggu ke-27 Masa Biasa
3 Oktober 2021
Markus 10:2-16

Beberapa orang menuduh Gereja ‘kolot’ karena mengajarkan pernikahan Katolik adalah monogami dan tidak terceraikan. Kita dikecam karena tidak peka dan tidak fleksibel terhadap berbagai masalah pernikahan yang mengguncang pasangan dan menuntut perceraian. Gereja Katolik disalahkan atas pernikahan yang tidak bahagia karena kita menolak untuk mendengarkan tuntutan masyarakat pasca-modern.

photocredit: John Appelagate

Namun, banyak yang lupa bahwa perceraian, perzinahan, perselingkuhan, dan kekerasan dalam rumah tangga lebih tua dari Yesus dan Gereja yang Dia dirikan. Hal-hal mengerikan ini telah terjadi sejak awal umat manusia. Apa yang ‘kolot’ dan menyebabkan ketidakbahagiaan tidak lain adalah dosa. Ajaran Yesus tentang pernikahan adalah radikal karena Dia melibas berbagai tembok tebal dosa dan kembali ke rencana awal Tuhan.

Ketika orang Farisi menguji Yesus dan mengungkit masalah perceraian. Mereka berharap bahwa Yesus akan berpihak pada pandangan konservatif tentang perceraian atau yang lebih terbuka. Lagi pula, Musa mengizinkan perceraian. Namun, Yesus memanfaatkan momen itu untuk mengajarkan kebenaran sejati. Dia mencabut izin perceraian yang diberikan Musa. Yesus tahu betul bahwa Musa terpaksa mengeluarkan peraturan itu karena ketegaran hati dan dosa.

Yesus mengingatkan orang-orang Farisi tentang rencana awal Allah bagi pria dan wanita. Dengan mengutip Kitab Kejadian, Yesus mengajarkan bahwa pria dan wanita tidak dapat menemukan kebahagiaan sejati baik dalam ‘binatang’ atau benda, atau dalam memanipulasi pria atau wanita lain. Yesus, sebagai pencipta pernikahan, menegaskan kembali bahwa hanya dengan ‘meninggalkan ayah dan ibu’ dan ‘menjadi satu dengan istrinya’, manusia dapat menjadi satu tubuh yang utuh. Ini adalah bahasa simbolis bahwa pria dan wanita dapat menemukan kebahagiaan sejati dengan memberikan diri mereka sepenuhnya kepada satu sama lain.

Pernikahan monogami adalah institusi ilahi dan manusiawi untuk melindungi dan mendorong pasangan untuk memberikan hidup mereka sepenuhnya dan untuk mencintai secara radikal. Suami diundang untuk menjadi pria yang lebih dewasa, dan berperan sebagai pelindung, penyedia, dan pemimpin. Istri dipanggil untuk lebih mencintai, dan menjadi seseorang yang benar-benar merawat dan mendidik. Saat mereka saling memberi lebih banyak, semakin mereka tumbuh dan semakin mereka menemukan kembali diri mereka sendiri, dan semakin mereka menemukan sukacita.

Dengan pasangan yang lebih dewasa dan penuh kasih, pernikahan menjadi tempat terbaik untuk tumbuh bagi anak-anak kita. Di sinilah mereka diterima, dilindungi, dan dicintai. Di sinilah mereka belajar nilai-nilai terbaik pertama dalam hidup mereka: kasih, kesetiaan, keadilan, komitmen, dan pengorbanan.

Beberapa orang mengatakan bahwa pernikahan semacam ini terlalu rumit dan terlalu sulit untuk menjadi kenyataan. Namun, sejatinya ini adalah simple dan sangat indah. Yang membuat pernikahan menjadi rumit dan sulit adalah dosa. Kekerasan dalam rumah tangga menciptakan luka yang dalam dan traumatis, dan anak-anak kita tumbuh sebagai orang dewasa yang penuh kekerasan. Perzinaan menghancurkan kesetiaan dan kepercayaan, dan membentuk anak-anak menjadi seseorang yang tidak percaya diri. Perceraian melukai hubungan manusia secara permanen, dan membawa anak-anak kita ke dalam kekacauan.

Memang benar bahwa kehidupan pernikahan bisa sangat sulit, tetapi suami dan istri tidak pernah sendirian. Allah yang memanggil mereka ke dalam persekutuan, akan memberikan rahmat yang diperlukan. Dan dengan kasih karunia Tuhan, bahkan cobaan dan kesulitan dalam pernikahan dapat berubah menjadi kesempatan cinta dan pertumbuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Neraka itu Nyata [Begitu juga Surga]

Minggu Biasa ke-26 [B]

26 September 2021

Markus 9:38-43, 45, 47-48

Bagi Yesus, neraka itu nyata. Yesus berbicara tentang neraka tanpa keraguan. Yesus tidak ragu untuk mengatakan apa yang sangat Dia benci: neraka dan apa yang menyebabkan orang pergi ke sana. Seperti orang-orang pada zaman-Nya, Yesus menyebut kenyataan yang paling mengerikan ini sebagai ‘Gehenna’. Kata ‘Gehenna’ sendiri berasal dari Bahasa Ibrani yang secara harfiah berarti ‘lembah Hinom’. Lembah ini sungguh tempat nyata yang terletak di selatan Yerusalem pada zaman Yesus. Orang-orang Yerusalem dan sekitarnya akan membuang sampah, kotoran dan limbah mereka di sana dan membakarnya. Ini adalah gunung sampah  dimana api terus membara, bau menyengat, asap beracun memenuhi tempat itu, dan barang-barang terus membusuk. Yang lebih menakutkan adalah tempat yang sama untuk penyembahan berhala dan pengorbanan anak di zaman Perjanjian Lama [2 Raj 23:10]. Karena itu, tempat itu dikutuk oleh para nabi [Yer 7:31–32] dan kemudian menjadi lambang tempat terkutuk.

Yesus menggunakan dua simbolisme yang kuat untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana, “di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”. Beberapa orang mengira kedua hal ini adalah hal-hal yang sungguh terjadi di neraka, tetapi Gereja mengajarkan bahwa gambaran-gambaran ini berbicara sesuatu yang lebih dalam. Ulat adalah hewan yang terutama bertanggung jawab atas pembusukan tubuh. Di dalam kubur, cacing atau ulat hadir untuk mengurai jenasah. Api memang baik dan bermanfaat, tetapi api juga bisa menjadi sumber kehancuran dan sakit. Jika di dalam Gehenna, ulat-ulat ini tidak mati dan api tidak berhenti, ini melambangkan kerusakan dan penderitaan yang tiada akhir.

Yesus membenci neraka karena sangat bertentangan dengan Allah dan rencana-Nya. Jika surga adalah persatuan dengan Tuhan, maka neraka adalah pemisahan dengan Tuhan. Jika ada satu hal yang memutuskan hubungan kita dengan Tuhan adalah dosa. Jadi, tidak heran, Yesus sangat marah dengan orang-orang yang menyebabkan orang lain berdosa dan kecenderungan kita untuk berbuat dosa. Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari neraka, tetapi jika kita dengan sengaja berbuat dosa terhadap Allah, maka kita membuat penyaliban dan kematian-Nya sia-sia.

Yesus menggunakan metafora amputasi untuk menyelamatkan jiwa kita dari dosa. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa dosa seperti luka gangren spiritual yang lambat laun akan menyebar ke seluruh tubuh dan menghancurkannya seluruhnya. Ini mungkin dimulai dengan hal-hal kecil, tetapi secara bertahap tumbuh besar. Tindakan drastis harus diambil untuk menyelamatkan nyawa. Kita harus memotongnya sebelum menjadi liar dan tidak dapat disembuhkan. Apa yang membuat dosa ini bahkan keji tidak hanya menyebar ke seluruh jiwa, tetapi juga sangat menular sehingga orang-orang yang imun rohaninya lemah dapat dengan mudah terinfeksi. Tak heran, Yesus malah semakin murka dengan orang-orang yang menyebarkan penyakit rohani ini.

Apa yang perlu kita lakukan? Kita perlu memotongnya dengan pertobatan sejati dan kerendahan hati bahwa kita adalah orang berdosa. Kita lolos dari neraka dengan mengatakan tidak kepada diri kita sendiri setiap hari dan mengatakan ya kepada Tuhan. Kita kembali kepada rahmat Allah dengan memohon belas kasihan Tuhan dan pengampunan-Nya dalam sakramen pengakuan dosa. Kita menyembuhkan luka kita melalui kehidupan doa yang sejati. Kita memulai perjalanan kita ke surga dengan memikul salib kita setiap hari dan dengan mengasihi secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP