Yohanes dan Yesus

Minggu ke-3 dalam Masa Biasa (A)
22 Januari 2023
Matius 4:12-23

Matius, sang Penginjil, menunjukkan bahwa Yesus memulai pewartaan publik-Nya setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Mengapa Yesus mengambil keputusan ini? Ada beberapa alasan. Yang pertama adalah Yesus menggenapi apa yang dinubuatkan oleh Yohanes sendiri, ” Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yoh 3:30).” Yohanes sangat populer, dan banyak orang mengikutinya dan menganggapnya sebagai nabi Allah, tetapi pelayanannya terhenti setelah dia dipenjara karena dia menegur Herodes yang menikahi istri saudaranya sendiri (Mat. 14:1-12). Ketika Yohanes tidak lagi dapat berkhotbah, dan meredup, Yesus datang, membawa Kabar Baik dan mulai bersinar.

Alasan lain yang menarik adalah bahwa Yohanes berfungsi sebagai cermin kehidupan dan pelayanan Yesus. Apa yang Yohanes lakukan dan alami, akan dilakukan dan dialami oleh Yesus, tetapi dengan skala yang jauh lebih besar. Pembuahan Yohanes merupakan sebuah mukjizat, karena Zakharia dan Elisabet dianggap sudah terlalu tua untuk memiliki seorang anak. Kehadiran Yesus dalam rahim bahkan tidak ada bandingannya karena Dia dikandung oleh kuasa Roh Kudus dan dilahirkan oleh perawan Maria. Yohanes memiliki banyak pengikut dan murid, dan banyak orang juga yang mengikut Yesus, dan beberapa di antaranya menjadi murid-murid dekat-Nya. Baik Yohanes maupun Yesus sama-sama memberitakan pertobatan, tetapi perbedaannya juga jelas. Yohanes berkhotbah untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan, sementara Yesus berkhotbah untuk membangun Kerajaan Allah dan keselamatan.

Yohanes membaptis sebagai tanda lahiriah dari pertobatan batin, sedangkan Yesus memberikan pengampunan dosa yang sejati. Yohanes membuktikan pewartaannya melalui gaya hidupnya, Yesus membuktikan Injil-Nya melalui mukjizat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Baik Yohanes maupun Yesus dianiaya dan dieksekusi karena mereka memberitakan pertobatan dan kebenaran, dan dengan demikian, bertentangan dengan otoritas. Namun, Yesus bangkit dan naik ke surga, sementara Yohanes, yang walaupun sudah berada di surga, masih menunggu kebangkitan badannya.

Ketika saya bertemu dengan Romo Gerard Timoner, Pemimpin tertinggi Ordo Dominikan, di Roma, ia menguraikan sebuah fakta menarik tentang Yohanes dan Yesus. Ulang tahun Yohanes adalah 24 Juni, sedangkan Yesus 25 Desember. Yang menarik bukan hanya karena tanggalnya yang berbeda enam bulan, tetapi juga karena fenomena alam yang terjadi di sekitar tanggal-tanggal tersebut. Ulang tahun Yohanes dekat dengan titik balik matahari musim panas (summer solstice). Hal ini terjadi ketika kemiringan sumbu bumi paling condong ke arah matahari, sehingga menghasilkan periode siang hari terpanjang sepanjang tahun (bagi kita yang hidup di negara tropis seperti Indonesia, hampir tidak terasa perbedaannya). Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari akan semakin pendek (sinar matahari akan berkurang). Sementara itu, hari kelahiran Kristus berada di dekat titik balik matahari musim dingin (winter solstice), hari terpendek dalam setahun. Namun, setelah titik balik matahari ini, hari-hari semakin panjang. Fenomena ini juga menggenapi apa yang Yohanes katakan, “Dia harus bertambah, tetapi aku harus berkurang”

Apa artinya bagi kita? Ketika kita memulai perjalanan kita melalui Masa Biasa, kita dipanggil untuk menjadi seperti Yohanes Pembaptis. Kita harus menjadi cerminan Kristus dalam hidup kita. Kita mungkin memiliki panggilan yang berbeda di dunia ini, seperti kaum awam, suami-istri, orang tua, imam, atau biarawan/biarawati, tetapi dalam cara hidup kita, kita harus mencerminkan Kristus. Apakah orang lain melihat Yesus ketika mereka melihat kita? Apakah kita membawa kedamaian, pertobatan, dan kebenaran kepada orang lain seperti yang Yesus lakukan? Apakah kita membawa orang lain kepada Yesus dan tidak tergoda untuk menarik orang lain kepada diri kita sendiri?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mengapa Yohanes tidak mengenal Yesus

Minggu ke-2 dalam Masa Biasa [A]
15 Januari 2023
Yohanes 1:29-35

Membaca Injil hari ini, mungkin ada beberapa pertanyaan dalam benak kita, “Mengapa Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia?” dan “Mengapa Yohanes mengatakan bahwa dia tidak mengenal Yesus dan Yesus telah ada sebelum Yohanes?” Kita tahu pasti bahwa Yohanes adalah kerabat Yesus dan, pada kenyataannya, dia lahir enam bulan lebih dulu dari Yesus. Dalam refleksi kali ini, saya tidak akan lagi menulis tentang identitas Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah’ karena saya sudah pernah membahasnya dua tahun yang lalu [silakan cek refleksi saya tertanggal 17 Januari 2021]. Dengan demikian, kita mencoba menjawab pertanyaan kedua. “Mengapa Yohanes tidak mengenal Yesus?”

Kita tahu dari Injil Lukas bahwa Maria dan Elisabet, ibu Yohanes, adalah kerabat dekat, dan Maria bahkan hidup sekitar tiga bulan di tempat Elisabet dan Zakaria, suaminya [Luk 1:39-56]. Kelahiran Yohanes dan Yesus bahkan terkait erat. Kadang-kadang, saya menemukan benda seni rohani yang menggambarkan Yohanes dan Yesus sedang bermain bersama sebagai anak-anak kecil. Tentunya, ini berasal dari imajinasi dan kreativitas para seniman Kristiani. Lalu, mengapa tiba-tiba Yohanes mengatakan ‘dia tidak mengenal Yesus’?

Jawabannya mungkin ditemukan dalam kehidupan awal Yohanes yang dicatat dalam Injil Lukas. Lukas menulis bahwa Yohanes bertumbuh di dalam Roh, dan ia berada di padang gurun sampai hari Yohanes menampakkan diri di depan umum kepada Israel (lihat Luk 1:80). Jadi, Yohanes mungkin mendengar tentang Yesus dari orang tuanya waktu kecil, tetapi kemungkinan besar mereka tidak pernah bertemu secara pribadi karena Yohanes berada di padang gurun sejak ia masih sangat muda. Mengapa di padang gurun? Bagaimana seorang anak kecil bisa bertahan hidup di padang gurun? Sejumlah ahli berpendapat bahwa Yohanes, sejak kecil, masuk ke dalam salah satu komunitas Eseni. Eseni adalah kelompok keagamaan di dalam bangsa Yahudi yang berkembang pada zaman Yohanes, dan mereka terkenal karena ketaatan mereka yang ketat terhadap Hukum Musa. Mereka juga terkenal karena mereka hidup sebagai komunitas di padang gurun, memisahkan diri dari dunia.

Hal menarik lainnya adalah bahwa Yohanes mengatakan bahwa Yesus ‘sudah ada’ sebelum dia. Namun, kita tahu Yohanes lahir lebih awal daripada Yesus. Di sini, Yohanes tidak mengacu pada tanggal lahir kronologis dan usia biologis. Dengan ilham ilahi, Yohanes bersaksi bahwa Yesus telah ada bahkan sebelum dia, dan bahkan sebelum segala sesuatu yang lain ada. Hal ini sesuai dengan prolog Injil keempat (lihat Yoh 1:1-14). Bahkan sebelum Yesus dilahirkan ke dalam dunia dan mengambil kodrat manusia, Ia sudah ada bersama dengan Bapa dan Roh Kudus dalam kekekalan. Yohanes Pembaptis mengakui identitas keilahian Yesus.

Apa yang kita pelajari dari kesaksian Yohanes? Banyak di antara kita yang mungkin hanya tahu sedikit tentang Yesus. Kita mungkin merayakan hari ulang tahun-Nya setiap tahun dan mengenali wajah-Nya (karena kain kafan Turin), dan akrab dengan beberapa kisah dan ajaran-Nya, tetapi kita tidak tahu banyak tentang Dia. Bahkan bagi banyak ahli Kitab Suci dan teolog yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mempelajari kehidupan Yesus, Yesus tetap menjadi misteri. Namun, kita tidak perlu khawatir: bahkan Yohanes, saudara Yesus, tidak tahu banyak tentang Yesus!

Memang benar bahwa Yohanes hanya tahu sedikit sekali tentang Yesus, tetapi apa yang ia kenali adalah hal yang paling penting, yaitu Yesus itu Allah. Tentu saja, saya tidak mengatakan bahwa kita harus berhenti mengenal Yesus, dan cukup percaya bahwa Dia ilahi. Sebaliknya, kita diundang untuk mengenal-Nya dengan lebih baik dan lebih dalam, dan pada saat yang sama, kita tidak boleh melupakan hal yang mendasar: identitas ilahi-Nya. Jika tidak, kita dapat dengan mudah jatuh ke dalam godaan bahwa Yesus adalah segala hal, kecuali ilahi. Dalam studi kita, kita dapat menemukan bahwa Yesus adalah seorang nabi yang hebat, penyembuh yang luar biasa, pengusir setan yang kuat, guru yang benar, tetapi jika kita gagal untuk mengakui keilahian-Nya, semuanya akan sia-sia. Jadikanlah Yohanes teladan kita.

Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emas, Mur dan Kemenyan

Epifani [A]
8 Januari 2023
Matius 2:1-12

Kisah orang Majus memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi kisah petualangan yang luar biasa. Kisah ini dimulai dengan perjalanan panjang dan penuh tantangan orang-orang Majus dari timur yang mencari harta karun yang besar, yaitu Raja yang baru lahir. Ada juga bintang misterius yang membimbing mereka. Kemudian, tokoh antagonis, dalam diri Herodes, muncul. Dia tampaknya seorang pria yang suka menolong dan tulus, tetapi diam-diam menyembunyikan niat jahatnya dan berencana untuk menghancurkan Raja sejati. Kemudian kejutan! Para Majus menemukan sang Raja mereka pada kondisi yang paling tak terduga: bukan di istana, tapi di rumah sederhana, bukan dalam kekayaan, tetapi dari keluar sederhana, bukan raja biasa, tapi Sang Imanuel, Allah-bersama-kita. Kemudian, sebagai penutup, orang-orang Majus berhasil lolos dari raja gila karena mereka diperingatkan dalam mimpi dan kembali ke negara mereka sendiri melalui jalan yang berbeda dan lebih aman.

Matius adalah seorang narator yang jenius, dan mengizinkan kita, para pembacanya, untuk menjadi bagian dari cerita ini. Sebagian besar dari kita bisa dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan orang-orang Majus. Ia juga membiarkan beberapa elemen ceritanya ‘tidak lengkap’ sehingga kita bisa mengisinya dengan interpretasi dan imajinasi kita. Salah satunya adalah tiga persembahan orang Majus. Lalu, mengapa mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur?

Salah satu jawaban paling awal berasal dari St. Irenaeus (sekitar 200 M). Dia mengatakan bahwa tiga persembahan itu mewakili identitas dan misi Kristus. Emas adalah salah satu logam yang paling berharga, dan ini menjadi simbol dari Kristus Sang Raja. Kemenyan berkualitas tinggi juga merupakan sesuatu yang berharga digunakan untuk ritual keagamaan, dan ini menjadi simbol keilahian dan imamat Kristus. Sementara itu, mur adalah rempah-rempah berharga yang digunakan dalam penguburan (lihat Yoh 19:39), dan ini merujuk pada kematian dan kodrat manusia Yesus. St. Thomas Aquinas dari abad ke-13, dalam tafsirannya tentang Injil Matius, menjelaskan bahwa pemberian-pemberian ini memiliki tujuan yang lebih praktis. Emas adalah untuk membantu Keluarga Kudus yang berkekurangan secara finansial. Mur mungkin digunakan untuk menghangatkan tubuh bayi, dan kemenyan untuk menghilangkan bau tidak enak.

Penafsiran lain yang menarik adalah bahwa emas, mur, dan kemenyan adalah bahan yang digunakan dalam alkimia dan sihir kuno. Orang Majus (dari kata ‘magos’ dan akar kata ‘magic’) diyakini terlibat dalam kegiatan sihir, tetapi ketika mereka menemukan Yesus, mereka memutuskan untuk meninggalkan hal-hal ini dan menemukan cara baru dalam hidup mereka. Dengan demikian, karunia-karunia ini melambangkan pertobatan orang Majus kepada iman yang sejati.

Namun, secara pribadi saya cenderung ke arah penafsiran yang paling sederhana. Orang Majus mempersembahkan benda-benda ini karena hal-hal ini adalah benda-benda yang paling berharga yang mereka miliki saat itu. Mereka mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki kepada Raja sejati. Ini adalah sikap yang tepat untuk menghormati sang raja dan juga menyembah Tuhan. Di dalam Alkitab, tindakan penyembahan melibatkan persembahan yang terbaik yang kita miliki kepada Tuhan. Orang Majus menemukan Allah yang benar dan menyembah-Nya. Hal ini mengubah hidup mereka dan membawa sukacita dan keselamatan bagi mereka.

Kisah Epifani menyadarkan kita bahwa umat manusia memiliki tujuan, yaitu untuk menemukan Tuhannya. Kita sangat diberkati karena kita telah menemukan Allah kita. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita ingin menyembah Dia? Apa yang akan kita persembahkan kepada-Nya? Apakah kita bersedia memberikan hal-hal yang paling berharga dalam hidup kita? Apakah kita ingin hidup kita diubahkan? Sampai kita mempersembahkan emas, mur, dan kemenyan kita, itu belum mencapai akhir yang bahagia dan mulia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Matius dan Injilnya

Minggu Pertama Adven (A)
27 November 2022
Matius 24:37-44

Masa Adven menandai awal tahun liturgi Gereja. Kali ini, kita memasuki tahun Matius (tahun A) karena sebagian besar hari Minggu tahun ini, kita akan mendengarkan dan merenungkan bersama teks-teks dari Injil Matius. Sekarang, karena kita akan berziarah bersama dengan Matius, marilah kita mengenal sang penginjil ini dan Injilnya.

Asal-usul, komposisi dan kepengarangan Injil ini telah menjadi bahan diskusi dan perdebatan yang tak ada habisnya di antara para ahli kitab suci modern. Namun, tradisi panjang Gereja Katolik dengan tegas menyatakan bahwa rasul Matius adalah penulisnya, dan banyak saksi kuno, seperti Santo Irenaeus (sekitar tahun 130-200), Santo Klemens dari Aleksandria (sekitar tahun 150-215) dan Uskup Eusebius dari Kaisarea (sekitar tahun 260 – 340) bersaksi bahwa Matius memang penulisnya.

Karakteristik yang menarik dari Injil Matius adalah karakter Yahudinya. Dipercaya bahwa pembaca asli dari Injil Matius adalah orang-orang Kristen Yahudi mula-mula. Matius banyak mengutip dari Perjanjian Lama (sekitar 60 kutipan). Ia menempatkannya dari awal sampai akhir, dari ‘… mereka akan menyebut-Nya Imanuel’ (Mat 1:23, bdk. Yes 8:10), sampai ‘Eli, Eli lema sebachtani (Mat 27:46, bdk. Mzm 22:1)’. Tidak hanya dari Perjanjian Lama, Matius juga menggunakan tradisi Yahudi pada masa Yesus, seperti tradisi tentang ‘kursi Musa’ (Mat 23:2). Jelas, Matius ingin mengajarkan bahwa Yesus adalah penggenapan janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama. Seorang filsuf dan teolog Katolik, Peter Kreeft, merangkum Injil Matius sebagai ‘Injil dari seorang Yahudi, untuk orang Yahudi tentang Mesias Yahudi’.

Namun, meskipun sangat Yahudi, Matius tetap teguh bahwa Yesus bukan hanya Juruselamat orang Yahudi saja, tetapi untuk semua orang. Hanya dalam Matius, kita memiliki kisah tentang orang-orang Majus, yang menjadi perwakilan bangsa-bangsa, yang datang dan menyembah bayi Yesus (Mat 2). Dalam Matius juga, Yesus memerintahkan para murid, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19).” Dari Israel, untuk dunia.

Karakter lain dari Injil Matius adalah bahwa Injil Matius adalah Injil Gereja. Tentu saja, ketiga Injil lainnya juga untuk Gereja, namun hanya dalam Matius, kata ‘Gereja’ (ἐκκλησία) keluar dari mulut Yesus. Pertama, ketika Yesus akan mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (Mat 16:13-20) dan kedua, ketika Yesus mengajarkan koreksi persaudaraan di antara para anggota Gereja (Mat 18:17). Injil menjadi piagam dasar Gereja kita, Gereja yang didirikan Yesus. Tidak heran mengapa Injil Matius menjadi favorit banyak orang kudus.

Kembali ke kisah hidup Matius, kita tahu bahwa ia adalah seorang mantan pemungut cukai (Mat 9:9-13). Yesus memanggilnya dan ia bangkit, meninggalkan segala sesuatu, dan mengikuti Yesus. Namun, ia tidak benar-benar meninggalkan segalanya. Ia membawa serta kapasitas intelektual dan keahliannya sebagai pemungut cukai dan menggunakannya untuk menulis Injil dan membawa orang lebih dekat kepada Yesus.

Masa Adven mempersiapkan kita untuk kedatangan Yesus, dan undangan adalah apa yang akan kita persembahkan kepada Yesus ketika Dia datang. Jika Matius memberikan hidupnya dan keahliannya dalam menulis kepada Yesus, apa yang akan kita persembahkan kepada Yesus di Masa Adven ini?
Dalam masa Adven ini juga, saya mengundang Anda untuk membaca seluruh Injil Matius. Mari kita habiskan satu pasal untuk setiap hari di Masa ini, sebagai bagian dari latihan rohani kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mariafobia

Hari Raya Maria Diangkat ke Surga [C]

15 Agustus 2022

Lukas 1:39-56

Umat ​​Katolik sering dituduh menghormati Maria secara berlebihan. Beberapa orang bahkan melihat kita memberikan Maria sebuah penyembahan yang hanya untuk Tuhan. Tuduhan ini tentu tidak benar, tetapi akar kesalahpahaman dapat ditelusuri lebih lanjut. Saya menemukan setidaknya tiga alasan dari apa yang saya sebut ‘Mariaphobia’ ini.

Penyebab pertama adalah sebagian orang bingung antara penyembahaan dan doa. Ketika kita berlutut dan berdoa kepada Maria, kita tidak menyembahnya. Kata ‘berdoa’ di sini sejatinya sama dengan ‘meminta bantuan’ atau ‘mengajukan permohonan’. akar kata bahasa Inggris ‘prayer’ adalah bahasa Latin, ‘praegare’ yang berarti ‘memohon bantuan’. Sama dengan kata ‘doa’ yang berakar dari kata Arab yang artinya juga ‘memohon’. Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mendekati Maria adalah kita memintanya untuk berdoa bagi kita kepada Tuhan. Sama halnya ketika kita meminta kepada orang tua atau orang yang kita anggap dekat dengan Tuhan untuk mendoakan kita. Maria sangat dekat dengan putra-Nya, dan kita bisa sangat yakin bahwa Yesus mendengarkan permintaannya. Sementara itu, tindakan penyembahan baik dalam Kitab Suci maupun tradisi Katolik, selalu hadir dalam bentuk persembahan kurban. Kita hanya mempersembahkan kurban kepada Allah, dan ini terjadi dalam Ekaristi, saat kita mempersembahkan kurban sempurna Yesus Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus.

Akar kedua adalah bahwa beberapa orang masih bingung tindakan penyembahan dan tindakan penghormatan. Sementara menghormati dan menyembah saling berhubungan erat, mereka dapat dibedakan dengan benar. Dalam teologi Katolik, kita menggunakan kata-kata Yunani ‘latria’ dan ‘dulia’. Latria adalah tindakan penyembahan yang pantas hanya untuk Tuhan, sedangkan dulia adalah tindakan penghormatan kepada makhluk ciptaan (seperti para kudus dan malaikat). Sementara latria datang dalam bentuk persembahan kurban, dulia dapat hadir dalam berbagai cara. Kita bisa menghormati seseorang dengan memeluk mereka, memberi mereka bunga, menundukkan kepala, dan bahkan memberikan gelar kehormatan. Jadi, ketika kita mempersembahkan bunga kepada Maria atau menyimpan foto-fotonya, itu tidak berarti suatu tindakan penyembahan, melainkan tindakan kasih dan kehormatan.

Alasan ketiga adalah bahwa sebagian orang masih melihat hubungan antara Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya sebagai relasi oposisi. Ada paham yang menyatakan bahwa jika kita menghormati dan mencintai ciptaan, kita tidak menghormati dan mencintai Tuhan. Namun, relasi ini tidak tepat. Seperti seorang ayah yang baik yang membekali anak-anak-Nya dengan hal-hal duniawi agar mereka bertumbuh dan berhasil, demikian pula Tuhan memberikan karunia-karunia rohani-Nya agar putra-putri-Nya bertumbuh dalam kekudusan. Bagaikan seorang ayah yang bangga dengan prestasi anak-anaknya, demikian pula Allah bersuka cita dengan pertumbuhan rohani anak-anaknya. Ketika Maria diangkat ke surga, itu hanya karena Tuhan. Dan, ketika Maria dihormati karena dia ada di surga, tubuh dan jiwanya, kehormatan yang sejati adalah milik Allah.

Kita tidak perlu takut mendekat kepada Maria, karena dia membawa kita kepada Yesus. Kita tidak perlu takut menghormati Maria, karena sejatinya ini menghormati Allah. Kita tidak perlu takut mencintai Maria, karena kita mencintai Allah melalui Maria.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Yohanes Membaptis

Minggu Adven Kedua [C]
5 Desember 2021
Lukas 3:1-6

Pada Minggu Adven kedua, kita bertemu dengan sosok Yohanes Pembaptis. Dia adalah salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh dalam Injil. Keempat penginjil menyebut dia dan sering menggambarkan dia sebagai orang yang tak kenal takut yang bahkan berani menantang orang yang paling berkuasa di Galilea, Herodes Antipas. Dari padang gurun Yudea, ia datang dan memposisikan diri pada tempat strategis di lembah Yordan. Tempat adalah jalan utama yang menghubungkan Yerusalem dengan seluruh Israel, dan Yohanes memanfaatkan momen itu untuk menyatakan kedatangan Mesias. Kita bisa membayangkan suaranya yang kuat menggelegar di seluruh lembah dan mengguncang setiap hati yang mendengarkan.

Mesias akan datang, dan jalan-Nya harus dipersiapkan. Namun, kita tidak mempersiapkan kedatangan-Nya dengan karpet merah, karangan bunga, atau parade musik besar. Dia tidak akan datang dan menyelami para pejabat dan disambut dengan perjamuan pesta. Dia tidak membutuhkan persiapan eksternal tetapi menuntut transformasi internal. Maka, Yohanes berteriak dengan suara nyaring, “Bertobatlah!”

Satu pertanyaan mungkin membuat kita bertanya-tanya: mengapa Yohanes membaptis orang? Membaptis berarti membasuh diri dengan air, dan dalam tradisi Yahudi, ini adalah sebuah ritual Yahudi yang umum untuk membersihkan diri dari kenajisan. Para peziarah Yahudi akan membasuh diri sebelum mereka memasuki Bait Allah Yerusalem, dan ada banyak kolam kecil untuk tujuan ini yang disebut ‘mikvah’ di kota Yerusalem. Satu tradisi mengatakan bahwa Yohanes berasal dari sekte Yahudi bernama Essenes. Kelompok ini terkenal karena kepatuhan mereka yang ketat terhadap Hukum Musa. Bahkan, mereka memiliki standar ekstrim dalam hal menjaga diri dari kenajisan, dan mereka akan melakukan ritual pembasuhan bahkan beberapa kali sehari. Jika tradisi ini benar, Yohanes tahu betul betapa pentingnya pembaptisan dengan air.

Namun, Yohanes tidak hanya mengulangi ritual pentahiran Yahudi yang lama. Dia merevolusi hal ini. Yohanes membaptis orang dengan air sebagai tanda eksternal dari pertobatan internal. Bagi Yohanes, tidak ada gunanya jika orang pergi ke Bait Allah dan melakukan berbagai ritual, tetapi hati mereka jauh dari Tuhan.

Yohanes Pembaptis mengingatkan inti Adven: persiapan rohani untuk kedatangan Yesus. Kita menyadari bahwa Adven adalah masa persiapan untuk kedatangan Kristus, tetapi seringkali kita tidak tahu bagaimana mempersiapkannya. Terkadang, kita menghabiskan waktu dan uang kita untuk membeli hadiah, menyiapkan dekorasi Natal, dan merencanakan liburan. Terkadang, kita sibuk berlatih untuk Misa Natal, atau mempersiapkan diri untuk pesta dan perayaan. Namun, jika kita lupa mempersiapkan diri secara rohani, kita bisa kehilangan segalanya.

Warna liturgi Adven adalah ungu, dan ungu yang sama yang kita gunakan pada masa Prapaskah. Jika ungu di Prapaskah berarti warna pertobatan, ungu Adven memiliki karakter yang sama. Ketika Yohanes Pembaptis mengingatkan orang-orang untuk mempersiapkan jalan bagi Mesias dengan perubahan hati, Gereja juga memanggil kita untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan kita dengan pertobatan dan latihan rohani.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

[JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN SHARE YA UNTUK MENDUKUNG KARYA RM. BAYU, OP]

Kristus, Raja Hidup Kita

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam [B]

21 November 2021

Yohanes 18:33-37

Minggu Kristus Raja adalah hari Minggu terakhir dalam Tahun Liturgi. Perayaan ini adalah peringatan yang tepat bagi kita semua bahwa pada akhirnya, Yesus adalah raja kita. Namun, bagi banyak dari kita, kita tidak benar-benar tahu apa artinya menjadi hamba pada seorang raja. Beberapa dari kita mungkin memiliki raja atau ratu sebagai kepala negara kita, tetapi biasanya mereka tidak terlibat dalam kehidupan kita sehari-hari. Faktanya, di dunia, kita hanya memiliki sedikit monarki absolut seperti Sultan Brunei, Raja Arab Saudi, dan Paus!

Hidup dalam masyarakat modern, kita menghargai dan menjaga kebebasan dan otonomi pribadi. Kita memperjuangkan hak-hak dasar kita, dan kita bahkan berjuang ke pengadilan untuk menuntut keadilan atas hak-hak kita. Pelanggaran hak asasi manusia dianggap sebagai kejahatan berat. Di alam demokrasi, kita memutuskan bagaimana kita ingin diatur dengan memilih pejabat publik yang kita inginkan. Kita memilih di mana, bagaimana, dan dengan siapa kita ingin hidup. Mereka yang ingin membatasi kebebasan kita adalah tiran dan diktator. Jadi, ketika kita merayakan Hari Raya Kristus Raja, gelar rajawi Yesus ini tidak terlalu berarti bagi kita. Kita dapat dengan mudah melihat Yesus sebagai sahabat dan saudara kita, tetapi Yesus sebagai raja kita adalah konsep yang asing.

Namun, dalam Injil, Yesus sebagai raja adalah salah satu identitas-Nya yang paling mendasar. Yesus disebut Kristus, yang berarti yang diurapi, dan gelar ini terutama mengacu pada seorang raja seperti raja Daud. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan membangun Kerajaan Allah dan memilih dua belas rasul sebagai suku baru Israel. Tindakannya hanya masuk akal jika Yesus adalah raja kerajaan itu. Dalam Injil hari ini, Pilatus bertanya kepada Yesus apakah Dia seorang raja, dan Yesus memberikan jawaban tegas-Nya. Di kayu salib, penjahat yang bertobat berkata kepada Yesus, “Ingatlah aku ketika kamu datang sebagai raja!” Bahkan, di salib-Nya, identitas-Nya tertulis dengan jelas, “Yesus Raja orang Yahudi.”

Apa artinya memiliki Yesus sebagai raja kita? Mengapa itu penting bagi kita? Jawabannya adalah yang paling penting bagi kita. Yesus bukan hanya seorang raja, sama seperti raja-raja lainnya, tetapi Dia juga pencipta hidup kita. Dia merancang kodrat kita bahwa kita hanya akan sampai pada tujuan sejati kita di dalam Tuhan. Jadi, menerima Yesus sebagai raja kita, dan hidup sesuai dengan rencana-Nya, adalah jalan pasti kita menuju kemuliaan dan kebahagiaan sejati.

Iblis mengetahui hal ini dengan sangat baik, dan dia menggoda orang tua pertama kita untuk percaya bahwa mereka bisa menjadi ‘tuhan’ tanpa Tuhan. Strategi yang sama masih digunakan sampai hari ini, dan kita dibuat untuk percaya bahwa kebebasan tanpa Tuhan adalah apa yang kita butuhkan. Kita mencoba untuk mengendalikan segala sesuatu dalam hidup kita, kita membesarkan ego kita, dan kita berperilaku seperti raja-ratu kecil. Namun sejatinya, ini adalah sumber frustrasi, kekhawatiran, dan ketidakbahagiaan kita. Hanya saat kita mati bagi diri kita sendiri dan sekali lagi mengizinkan Yesus meraja di dalam hati kita, kita menjadi sungguh merdeka, autentik dan bahagia.

Hidup Kristus Raja!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Akhir Zaman

Minggu Biasa ke-33 [B]
14 November 2021
Markus 13:24-32

Kita mendekati akhir tahun. Kita berada di pertengahan November, dan kita akan mengakhiri 2021 setidaknya 50 hari lagi. Pada saat yang sama, kita berada pada hari Minggu ke-33 pada Masa Biasa, dan minggu depan, kita akan merayakan Kristus Raja, hari Minggu pamungkas dalam tahun Liturgi. Dengan demikian, Gereja memberi kita Injil yang berbicara tentang akhir zaman.

photocredit: Austrian National Library

Yesus sedang bersama murid-murid-Nya di Bukit Zaitun tepat di sebelah timur Yerusalem, menghadap Bait Allah. Salah satu murid-Nya mengklaim bahwa Bait Allah dibangun dengan megah dan sungguh, Bait Allah menjadi salah satu keajaiban kuno. Bangunan ini dibangun dengan mengumpulkan ribuan batu besar. Satu balok batu bahkan bisa mencapai lebih dari 10 ton. Tidak hanya megah, itu juga indah. Emas dan batu mulia menghiasi bangunan suci ini. Tidak heran jika banyak orang berharap bahwa Bait Allah akan bertahan selamanya.

Namun, Yesus memiliki pandang berbeda. Dia menyatakan penghakiman-Nya atas Yerusalem, dan Bait Allah akan dibakar dan dihancurkan hanya dalam satu generasi setelah Yesus. Sungguh, penghakiman Yesus menjadi kenyataan ketika pada tahun 70 M, Titus dan tentara Romawinya mengepung dan akhirnya meratakan Yerusalem. Josephus, seorang sejarawan Yahudi, menceritakan bahwa selama pengepungan, ratusan orang disalibkan setiap hari dan orang-orang di dalam kota terpaksa melakukan praktik kanibalisme untuk bertahan hidup. Bait Allah terbakar, dan setelah beberapa waktu, bangunan paling indah di zaman kuno tinggal reruntuhan dan puing-puing saja.

Mengapa Yesus mengucapkan penghakiman yang begitu mengerikan ke kota Yerusalem, ke tempat suci di Israel? Itu karena Yerusalem, terutama para penatua, menolak Yesus, dan menolak Yesus berarti menolak Tuhan sendiri. Namun, penghakiman semacam ini bukanlah pertama kalinya. Dalam Perjanjian Lama, para nabi terus memperingatkan bangsa Israel untuk kembali kepada Allah. Namun, Israel, yang diwakili oleh raja dan imamnya, menolak panggilan itu, dan bahkan menganiaya para nabi Allah. Kerajaan Israel akhirnya menghadapi penghakimannya. Kerajaan utara dihancurkan oleh kekaisaran Asyur pada 721 SM, dan kerajaan selatan diasingkan oleh kekaisaran Babilonia pada 587 SM.

Yesus tidak bertindak seperti seorang nabi malapetaka yang pesimistis. Yesus pada dasarnya membangkitkan pesan para nabi pendahulu-Nya. Pesan Injil Yesus adalah pertobatan. Kita dipanggil untuk percaya kepada Yesus, dan ini bukan hanya di bibir kita, tetapi juga dalam hidup kita. Yesus mengkritik para pemimpin agama di zaman-Nya, baik para imam maupun kaum awam, yang melakukan tugas keagamaan mereka sebagai sebuah pertunjukan, tetapi secara diam-diam melakukan kejahatan terhadap kaum miskin Israel. Jika kita gagal untuk bertobat, kita mungkin akan menghadapi bencana yang sama.

Sering kali, saya mendengar beberapa orang berkata, “Saya akan mengakui dosa-dosa saya ketika saya sudah tua.” Atau, “Saya tidak perlu berubah karena ketika saya sekarat, saya akan menerima pengurapan orang sakit, dan saya akan pergi ke surga.” Pemikiran seperti ini berbahaya. Mengapa? Pertama, ini adalah penyalahgunaan rahmat, sebuah dosa serius. Kedua, jika kita tidak bertobat sekarang, semakin keras hati kita, dan semakin sulit untuk keluar dari jeratan dosa kita.
Penghakiman Yesus mungkin tentang akhir Yerusalem dan akhir zaman, tetapi intinya adalah tentang pertobatan kita di sini dan sekarang.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Janda Miskin: Kritik untuk Gereja

Minggu Biasa ke-32 [B]

7 November 2021

Markus 12:38-44

Kita memiliki dua karakter utama dalam Injil kita hari ini. Yang pertama adalah para ahli Taurat dan yang kedua adalah sang janda miskin. Ahli Taurat adalah kelas elit masyarakat Israel kuno. Mereka adalah orang-orang terpelajar karena mereka tahu cara membaca dan menulis, keterampilan yang sangat berharga pada masa itu. Kemampuan dan hak istimewa mereka untuk mengakses Kitab-Kita Taurat membuat mereka sangat berpengaruh karena mereka mengerti dan mengajarkan Hukum Allah, dan orang-orang biasa harus mendengarkan mereka. Di sisi lain, ada janda miskin. Menjadi seorang wanita di zaman Yesus tentu bukan hal yang mudah. Selain menghadapi diskriminasi, wanita umumnya tidak diperbolehkan memiliki atau mewarisi properti. Hal ini menyebabkan mereka sangat bergantung pada anggota keluarga laki-laki mereka, seperti ayah, saudara laki-laki, atau suami. Jadi, jika seorang wanita kehilangan suaminya, dia kehilangan pelindung dan pemberi nafkahnya, dan jika seorang janda yang tidak memiliki anak laki-laki, dia adalah yang paling miskin di antara para janda. Tapi, Tuhan Yesus memberikan kejutan.

Yesus memuji janda miskin dan mengecam para ahli Taurat. Kemiskinan dan kesengsaraan janda miskin tidak menghentikannya untuk bermurah hati. Mungkin, dia mempersembahkan kepada Tuhan dua koin kecil terakhir yang dia miliki, dan dia mungkin akan kelaparan sepanjang hari. Namun, kasih dan imannya kepada Tuhan sangat besar. Dia tidak berpegang koin yang dapat penyelamatan hidupnya, tetapi dia percaya bahwa Tuhan akan menjaganya.

Sementara itu, tanpa berpikir dua kali, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat. Yesus mengungkapkan alasan-Nya: ahli-ahli Taurat berada di puncak masyarakat Israel dan hierarki agama Yahudi, tetapi yang mereka pedulikan adalah kepentingan diri mereka sendiri. Mereka menggunakan setiap kesempatan untuk menambah kemuliaan dan popularitas mereka. Mereka menginginkan kursi terbaik, tempat tertinggi, dan kehormatan terbesar dari orang-orang di sekitar mereka. Aksi-aksi megalomania ini dapat ditolerir, tetapi ada satu hal yang hampir tidak bisa dimaafkan. Menggunakan pengetahuan mereka akan Hukum untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama mereka yang miskin. Ada kemungkinan bahwa janda miskin menjadi salah satu korban mereka. Dengan hak-hak istimewa dan kebijaksanaan, mereka seharusnya membantu dan meningkatkan kehidupan orang-orang Israel yang miskin. Namun, mereka melakukan yang sebaliknya, dan menjadi penyebab penderitaan dan penindasan yang lebih besar bagi orang-orang sederhana ini. Mereka adalah ahli hukum Taurat, tetapi mereka menjadi pelanggar pertama hukum Allah ini, “Jangan mengambil keuntungan dari seorang janda atau anak yatim!” [Kel 22:22].

Injil hari ini adalah tamparan bagi banyak dari kita, terutama bagi kita yang dipercayakan dengan pewartaan Sabda Allah, dengan posisi otoritas di Gereja, dan dengan kuasa sakramen. Berkali-kali, Yesus mengingatkan murid-murid-Nya bahwa yang terbesar harus menjadi hamba dari semua. Semakin tinggi posisinya, semakin besar kasih dan pelayanannya, terutama kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Sebagai imam, saya harus bertanggung jawab dalam menggunakan properti dan harta benda Gereja, saya dipanggil untuk melayani dengan penuh dedikasi, saya harus mempersembahkan hidup saya untuk umat, jika tidak, saya akan melakukan ketidakadilan yang serius kepada umat Allah. Kita berdoa agar kita tidak menerima penghukuman yang sama seperti para ahli Taurat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Poor Widow: A reminder for all of us

32nd Sunday in Ordinary Time [B]
November 7, 2021
Mark 12:38-44

We have two main characters in our Gospel today. The first one is the scribes and then the poor widow. The scribes are the elite class of the ancient Israelite society. They are the learned ones because they know how to read and write, extremely precious skills during those times. Their ability to access the Torah makes them powerful because they read and teach the Law, and ordinary people should listen to them. At the other end of the spectrum, we have the poor widow. Being a woman in the time of Jesus is undoubtedly not the best time. Women generally are not allowed to possess or inherit properties. This causes them to rely heavily on their male family members, like their father, siblings, or husbands. Thus, if a woman loses her husband, she loses her protector and provider, and a widow with no sons is the neediest. But, here comes the surprise.

photocredit: Connor Hall

Jesus praises the poor widow because her poverty and misery do not stop her from becoming generous. Perhaps, she offers to the Lord the last two small coins she has, and she may go hungry for the rest of the day. Yet, her love and faith in God are enormous. She does not hold to her life-saving coins, but she trusts that God will take care of her.

Meanwhile, without a second thought, Jesus condemns the scribes. Jesus reveals His reason: the scribes are at the top of the Israelite society and Jewish religious hierarchy, but they care about their self-interests. They use every opportunity to advance their glories and fame. They desire the best seats, the highest place, and the greatest honor from the people around them. This megalomanic tendency can be tolerated, but there is one thing that is almost unforgivable. By using their knowledge of the Law, they are manipulating and exploiting the poor neighbors. There is a possibility that the poor widow is one of their victims. No wonder that Jesus calls them ‘the devourers of the poor widows. With their privileges and wisdom, they are supposed to aid and improve the lives of the poor Israelites. Yet, they do the opposite and turn to cause greater suffering for these simple people. They are masters of the Law, but they stand in direct opposition to God’s Law, “Do not take advantage of a widow or an orphan” [Exo 22:22].

Today’s Gospel is a slap on the face for many of us, especially for the people who are entrusted with God’s Word, with positions of authority in the Church, and with the power of the sacraments. Time and again, Jesus reminds His disciples that the first shall be the servant of all. The higher the position is, the greater love and service will be, especially to the poor and the needy. As priests, we must be responsible for using Church’s properties and goods, we are called to serve with dedication, we are to offer our lives for the people, otherwise, we shall commit grave injustice to the people of God. We pray that we will not receive the same condemnation as the scribes.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP