Kepenuhan Kasih

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus [Corpus Christi] – B

6 Juni 2021

Markus 14:12-16; 22-26

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus atau dikenal dalam Bahasa Latin, ‘Corpus Christi’ adalah muara dari semua hari raya yang telah kita rayakan selama ini. Kita mulai beberapa bulan yang lalu, dari Pekan Suci dan mencapai puncaknya dalam Trihari Suci. Empat puluh hari setelah Minggu Paskah, kita memuliakan Kristus yang naik ke Surga, dan kemudian Dia mengutus Roh Kudus di antara para murid pada hari Pantekosta. Dan, Minggu lalu, kita memberikan pujian terbesar kita kepada Tritunggal Mahakudus. Sekarang, kita memiliki Corpus Christi. Tapi, mengapa hari raya dirayakan sekarang?

photocredit: Eric Mok

Dengan bimbingan Roh Kudus, Gereja telah mengakui betapa pentingnya kehadiran Yesus yang real di Ekaristi. Seluruh sejarah penciptaan dan keselamatan mengalir ke misteri ini. Tuhan menciptakan dunia agar dunia dapat berbagi dalam kasih-Nya. Sayangnya, pria dan wanita jatuh ke dalam dosa, dan menjauh dari kasih Tuhan. Namun, kasih dan kerahiman-Nya jauh lebih besar daripada kejahatan dan kelemahan kita, dan Dia mengutus Putra-Nya untuk mengambil kodrat manusia dan hidup di antara kita. Tidak hanya menjadi manusia, Yesus juga mempersembahkan diri-Nya di kayu salib untuk keselamatan kita. St. Yohanes dengan tepat menyimpulkan, “Karena begitu besar kasihAllah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakanAnak-Nyayang tunggal, supaya setiap orang yang percayakepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal [Yohanes 3:16].” Namun, ini bukan akhir dari kisah kasih Allah yang luar biasa! Kristus yang bangkit secara mujizat berubah menjadi Ekaristi, menjadi makanan kita. Dalam Sakramen Ekaristi mahakudus, tercakuplah “dengan sesungguhnya, secara real dan substansial tubuh dan darah bersama dengan jiwa dan ke-Allahan Tuhan kita Yesus Kristus dan dengan demikian seluruh Kristus.” – [KGK 1374]

Bagi mereka yang tidak beriman, roti ini hanyalah kerupuk putih yang hambar, tetapi bagi kita yang dipanggil untuk hidup yang kekal, roti itu bukan lagi roti, tetapi kepenuhan Kristus sendiri. Ketika Yesus ada di sana, Tritunggal Mahakudus juga ada di sana. Ketika Trinitas ada di sana, seluruh malaikat dan orang-orang kudus juga ada di sana. Menerima Ekaristi adalah menerima seluruh surga, hidup yang kekal. Inilah kehendak Kristus sendiri, “Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan dagingAnak Manusiadan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.[Yoh 6:53-54].”

Ekaristi adalah bukti kasih Allah. Tidaklah cukup bagi Tuhan untuk menjadi manusia, tidak cukup bagi Dia untuk mati dan bangkit bagi kita, tidak cukup bagi Dia untuk membuka gerbang surga. Dia ingin kita berbagi kehidupan dan kasih ilahi-Nya sekarang dan di sini.

Namun, kita perlu ingat bahwa surga bukan hanya untuk kita sendiri. Saat Yesus membagikan hidup dan kasih-Nya dalam Ekaristi, kita diundang untuk menjadi Ekaristi kecil dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana Yesus memelihara kita dengan Tubuh dan Darah-Nya, apakah kita memelihara orang-orang dengan tubuh dan darah kita? Sebagai orang tua, apakah kita mempersembahkan tubuh dan darah kita kepada anak-anak kita agar mereka dapat mengalami kepenuhan hidup yang sesungguhnya? Apakah kita membawa surga bagi keluarga dan komunitas kita? Apakah kita menjadi agen kasih bagi masyarakat kita?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Misteri

Trinity Sunday [B]
30 Mei 2021
Matius 28: 16-20

Misteri Tritunggal Mahakudus adalah inti dari iman Kristiani kita. Gereja sendiri mengakui bahwa inilah dasar dari semua misteri iman, sebuah misteri Tuhan di dalam diri-Nya sendiri, yakni: Satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Meskipun menyadari bahwa pada dasarnya saya tidak mungkin untuk menjelaskan Tritunggal dalam tulisan pendek ini, dengan refleksi sederhana ini, saya berharap dapat membantu kita semua menghargai keindahan misteri paling sakral ini.


Pertama, kita perlu menyadari bahwa arti dari kata misteri. Misteri Tritunggal tidak seperti film misteri yang penontonnya dibuat penasaran dan menebak-nebak hingga akhir film. Misteri Tritunggal tidaklah misterius seolah-olah terdapat banyak rahasia dan keanehan. Jauh dari kata misterius, Tritunggal telah diwartakan dan dijelaskan secara terbuka sejak lahirnya Gereja. Misteri Tritunggal seperti misteri kasih. Misteri kasih itu sangat nyata, namun kita tidak memiliki kapasitas intelektual untuk mengerti secara sepenuh. Seringkali, kita tidak mengerti mengapa seorang wanita cantik ini jatuh cinta pada pria yang tidak begitu tampan, namun cinta di antara keduanya tidak dapat disangkal. Sama halnya dengan misteri Tritunggal, kita tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi itu nyata dalam iman dan hidup kita.


Kedua, kita perlu melihat bahwa kita diundang untuk menjadi bagian dari misteri Trinitas ini. Inilah yang menakjubkan tentang arti misteri yang sebenarnya. Kita mungkin tidak sepenuhnya memahaminya, tetapi kita diundang menjadi bagian dari misteri itu. Jika kita membuka hati kita, kita akan sungguh berbagi dalam misteri itu. Sekali lagi, seperti misteri kasih, seringkali, kita tidak akan mencapai analisis logis yang memuaskan tentang alasan di balik kasih seorang ibu yang berkorban untuk anak-anaknya, tetapi kita tahu itu benar dan kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih radikal semacam itu. Santo Petrus, paus pertama kita, telah menyatakan bahwa dengan bantuan rahmat-Nya, kita harus berbagi kodrat ilahi, kehidupan Tritunggal Mahakudus [lih. 2 Pet 1:4]. Inilah artian surga yang sesungguhnya, yakni menjadi bagian dari kasih yang mempersatukan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.


Ketiga, kita perlu melakukan usaha kita untuk tumbuh di dalam misteri itu. Menjadi bagian dari misteri adalah rahmat karena apa pun yang kita lakukan, kita tidak bisa mendapatkannya. Itu diberikan secara cuma-cuma. Sama seperti kasih, mengasihi dan dikasihi sepenuhnya cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintai kita, namun ketika kita menerima kasih, kita perlu melakukan bagian kita untuk tumbuh di dalam kasih itu. Jika tidak, kasih itu akan diambil dari kita, dan mungkin tidak pernah akan kembali. Sama halnya dengan misteri Tritunggal. Tuhan dengan bebas menawarkan persahabatan-Nya, tetapi kita perlu melakukan bagian kita untuk hidup dan bertumbuh dalam misteri ini.


Kita memulai hidup kita dalam Tritunggal ketika kita dibaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, tetapi apakah kita hidup dan bertumbuh juga dalam misteri ini? Ketika kita membuat tanda salib, apakah kita sungguh ingin menjadi tanda Tritunggal Mahakudus dalam dunia? Setiap kali kita diberkati oleh imam, Kita diberkati dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, tetapi apakah kita benar-benar berubah menjadi berkat Tritunggal bagi orang lain?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Kudus dan Kita

Minggu Pentekosta [B]

Yohanes 20: 19-23

23 Mei 2021

Pentekosta adalah hari raya Roh Kudus. Kita merayakan turunnya Roh Kudus ke atas Gereja, dan momen ini memulai era Roh Kudus. Dengan bantuan Roh Kudus, para murid perlahan-lahan tumbuh dan secara bertahap berkembang menjadi komunitas terbesar di dunia. Namun, sayangnya, di antara ketiga pribadi ilahi, Roh Kudus sering kali sering dilupakan dan terkadang disalahpahami. Tentunya, refleksi ini tidak akan dan tidak dapat mencakup seluruh pneumatologi [subjek tentang Roh Kudus], tetapi saya mencoba menawarkan secuil refleksi yang diharapkan akan membawa kita pada rasa syukur kepada Roh Kudus.

Pertama, iman kepada Yesus Kristus pada dasarnya adalah karunia Roh Kudus. Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tanpa bantuan Roh Kudus, kita tidak akan bisa percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah kita [lihat 1 Kor 12:3]. Untuk percaya akan adanya Allah sebagai pencipta dan mahakuasa mungkin tidak sulit karena pikiran dan logika kita dapat membuktikan  keberadaan Tuhan. Namun, percaya pada Tuhan yang mengambil kodrat manusia di dalam rahim seorang wanita yang sederhana, dan akhirnya menderita di kayu salib adalah di luar nalar manusia biasa. Bahkan Yesus ini tidak berhenti di kayu salib, tetapi Dia bangkit dari kematian, dan memutuskan untuk hadir secara sakramental dan nyata dalam Ekaristi. Allah alam semesta menjadi hosti putih kecil! Tanpa karunia supernatural Roh Kudus ini, secara alami mustahil untuk memiliki iman yang luar biasa ini. Namun, bagi mereka yang memiliki karunia iman, percaya kepada Yesus tampak sealami bernafas.

Kedua, Roh Kudus menghidupkan dan memperkuat Gereja di bumi ini. Seringkali, kita salah mengira bahwa Roh Kudus hanya berfungsi ketika seseorang mulai berbicara dalam bahasa roh. Namun, peran Roh Kudus jauh lebih masif dan mendasar dari itu. Roh Kudus menguatkan kita pada saat masa-masa sulit. Itu sebabnya kita meminta karunia keperkasaan. Roh Kudus menerangi kita ketika kita mengalami kesulitan dalam memahami iman kita dan makna hidup. Itu sebabnya kita meminta karunia pengertian. Ini hanyalah dua dari tujuh karunia Roh Kudus! Jangan lupa juga bahwa Roh Kudus mengilhami para penulis Kitab Suci sehingga tulisan yang mereka hasilkan adalah Firman Tuhan sendiri. Dan, hanya Roh Kudus yang dapat menjadikan sakramen sebagai sarana rahmat Tuhan.

Ketiga, Roh Kudus adalah sumber kekudusan kita. Roh Kudus tidak hanya memungkinkan permulaan dari iman kita, Dia tidak hanya menopang dan memelihara pertumbuhan kita dalam pengharapan, tetapi Dia juga memberi buah-buah rohani. Bagi kita yang bertekun dan mengandalkan Roh Kudus, kita akan menikmati buah Roh Kudus: cinta, sukacita, damai, kesabaran, kebaikan, kemurahan hati, kesetiaan, kelembutan, pengendalian diri [lihat Gal 5:22]. Bahkan, kebahagiaan abadi di surga adalah karunia Roh Kudus. Kita ingat bahwa satu-satunya dosa yang tidak akan diampuni adalah penghujatan terhadap Roh Kudus [lihat Mat 12:30]. Gereja telah mengajar kita bahwa dosa ini adalah kekerasan hati kita untuk bertobat sampai akhir [KGK 1864]. Jika kita dengan tegas menolak pekerjaan Roh Kudus di dalam diri kita, kita menghina Roh Kudus, dan jika sampai nafas terakhir kita, kita menutup hati kita kepada-Nya, maka keselamatan kitapun hilang.

Roh Kudus ada di awal perjalanan iman kita, Dia hadir di sepanjang jalan dan Dia memberikan karunia terakhir keselamatan. Segala hormat dan pujian bagi Roh Kudus!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dikuduskan

Minggu Paskah ke-7 [B]
16 Mei 2021
Yohanes 17: 11b-19

Injil Yohanes bab 17 secara tradisional disebut doa Yesus sebagai imam agung. Doa agung-Nya ini terjadi dalam konteks Perjamuan Terakhir, dan tepat sebelum sengsara dan kematian-Nya. Di sini, Yesus berdoa kepada Bapa, dan menjadi perantara bagi para murid-Nya serta bagi kita semua yang percaya kepada-Nya. Sebuah doa yang sangat indah.

Bl. Carlo Acutis


Satu hal menarik yang Yesus minta dari Bapa adalah bahwa Yesus tidak memohon agar Bapa mengambil murid-murid dari dunia, tetapi untuk melindungi mereka dari si jahat. Kita ingat bahwa Yesus segera kembali kepada Bapa dalam kenaikan-Nya, tetapi Yesus belum ingin para rasul mengikuti-Nya. Sebaliknya, Yesus kemudian meminta Bapa untuk menguduskan murid-muridnya dengan kebenaran.


Menguduskan berarti menjadikan kudus atau suci. Seringkali, pemahaman kita tentang kekudusan atau kesucian terbatas pada orang-orang yang sudah di surga. Kita menyebut mereka orang-orang kudus atau santo dan santa. Namun, arti fundamental dari ‘menjadi kudus’ adalah ‘dipisahkan’ atau ‘dikhususkan’. Dalam Bahasa Ibrani, kata untuk kudus adalah “Kados” dan memiliki arti yang sama. Oleh karena itu, dikuduskan berarti dikhususkan untuk tujuan tertentu. Seperti misalnya air suci, bukan lagi air biasa karena telah diberkati dan dipisahkan dari penggunaan biasa seperti minum atau kumur, dan sekarang dikhususkan untuk keperluan keagamaan.


Dalam doa-Nya, Yesus menguduskan murid-murid-Nya. Yesus menjadikan murid-Nya kudus, dan ini berarti, Yesus memisahkan mereka dari dunia ini, bagi kebenaran. Meskipun para murid ada di dunia, mereka bukan lagi milik dunia. Mereka dikuduskan pada kebenaran yaitu Yesus Kristus sendiri [lihat Yohanes 14: 6]. Murid-murid ini sekarang milik Yesus. Jadi, mereka tetap di dunia, bukan karena mereka menikmati dan melekatkan diri mereka pada dunia, tetapi mereka diutus memberitakan Kebenaran dan membawa Yesus.


Doa Yesus tidak hanya untuk para rasul-Nya dua ribu tahun yang lalu, tetapi untuk kita semua. Ketika kita dibaptis, kita telah dipisahkan dari dunia, dan dikhususkan bagi Tuhan. Kita adalah milik Tuhan. Namun, baptisan yang sama membuat kita ikut serta dalam misi para rasul. Kita tetap di dunia karena Tuhan mengutus kita untuk membawa Kristus kepada lebih banyak orang.


Namun, godaannya adalah kita sering lupa siapa kita sebenarnya, dan mulai percaya bahwa kita adalah bagian dari dunia, bukan milik Kristus. Kita tidak hanya di dunia ini, tapi kita menjadi terlalu duniawi. Kita menjadi terlalu terikat dengan dunia, dan sibuk dengan banyak urusan duniawi. Tentu saja, saya tidak menyarankan agar kita semua memasuki biara atau beralih menjadi pertapa. Kita tetap di dunia seperti kita sekarang, sebagai orang tua, suami-istri, pekerja, guru, siswa, namun dalam semua ini, kita membawa Kristus. Jadi, orang tua yang kudus bukan berarti mereka yang berdoa di kapel 24 jam, tetapi yang membesarkan anak-anak mereka dengan dedikasi dan membawa mereka kepada Kristus. Pekerja suci bukanlah mereka yang datang ke tempat kerja dan kemudian bertapa sepanjang hari, tetapi mereka yang bekerja keras dan jujur.


Kita ingat Beato Carlo Acutis. Dia senang pergi ke Misa dan berdoa rosario, tetapi dia adalah siswa biasa dan pencinta komputer. Dia menggunakan kecintaannya pada komputer untuk membangun situs web Katolik untuk menyebarkan devosi kepada Ekaristi Kudus. Jika Carlo Acutis bisa melakukannya, mengapa kita tidak?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tiga Jalan untuk Tinggal di dalam Kristus

Minggu Paskah kelima [B]

2 Mei 2021

Yohanes 15: 1-8

Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. [Yoh 15:4].” Tetap berada di dalam Yesus bukan hanya sebuah pilihan tetapi keharusan agar dapat menghasilkan buah-buah kehidupan kekal.

photocredit: Amos Bar Zeev

Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Setidaknya kita bisa melakukan tiga cara ini. Pertama, kita perlu tetap di dalam Firman-Nya. Yesus berkata, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu [Yoh15:3].” Sering kali, kita, umat Katolik, dituduh kurang membaca Alkitab. Meskipun tuduhan itu mungkin salah, ajakan untuk membaca dan merenungkan Alkitab tetap benar dan sangat relevan. Membaca Kitab Suci mungkin menantang, tetapi ini sangat mendasar untuk hidup di dalam Kristus. Bagaimana kita bisa tetap di dalam Yesus jika kita tidak mengenal Dia? Bagaimana kita bisa mengenal Dia jika kita tidak membaca kisah dan ajaran-Nya di dalam Alkitab? Itulah mengapa St. Heronimus berkata, “Ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus.”

Kedua, kita tinggal di dalam Dia melalui sakramen, khususnya Ekaristi. Yesus berkata, “Barang siapa makan dagingku dan minum darahku, tetap di dalam aku dan aku di dalam dia [Yoh 6:56].” Kita menghadapi masa-masa sulit karena pandemi, dan banyak orang kehilangan kesempatan untuk menerima komuni Kudus. Tidak ada yang bisa menggantikan persatuan sakramental dengan Kristus dalam Ekaristi. Sebagai seorang imam, saya sedih dengan situasi ini, tetapi pada saat yang sama, saya juga terharu karena saya melihat beberapa umat meneteskan air mata ketika mereka menerima Tubuh Kristus setelah lama tidak bisa menerima-Nya. Pandemi memaksa kita untuk merefleksikan lebih dalam tentang makna Ekaristi dalam hidup kita. Sungguh, banyak dari kita merindukan Ekaristi. Terkadang, kita  juga perlu belajar dari orang-orang kudus. Bl. Alexandrina da Costa dari Portugal hanya mengkonsumsi Ekaristi Kudus selama 13 tahun sampai kematiannya. Dari kisah Alexandrina, kita belaja bahwa Roti Kehidupan benar-benar memelihara jiwa, dan ketika jiwa sehat, tubuh akan mewujudkan vitalis ini.

Ketiga, kita tetap di dalam Kristus dengan terus bersatu dengan Tubuh-Nya, yakni Gereja. Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya, dan karena satu pokok anggur, semua cabang saling berhubungan erat. Satu cabang tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh tanaman. Satu cabang yang sehat dapat berkontribusi pada kesejahteraan seluruh ekosistem, dan pada saat yang sama, cabang lain mungkin membutuhkan lebih banyak nutrisi dan dukungan dari cabang-cabang yang lain. Inilah mengapa saya selalu mendorong umat menjadi bagian dari komunitas dan aktif di Gereja. Gereja memiliki komunitas yang sangat beragam. Ada kelompok-kelompok berdasarkan usia. Ada juga komunitas-komunitas yang memiliki berbagai tradisi spiritual dan devosi. Memang benar bahwa menjadi bagian dari komunitas terkadang sulit, hal itu juga memberikan kesempatan untuk tumbuh, mengasihi, dan berbuah.

Ini adalah tiga cara agar kita dapat tetap di dalam Yesus, dan Yesus tetap di dalam kita. Kita terus bertumbuh dan menghasilkan buah untuk kemuliaan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gembala yang Baik dan Kudus

Minggu Paskah keempat [B]

25 April 2021

Yohanes 10: 11-18

Minggu Paskah keempat umumnya dikenal sebagai Minggu Gembala yang Baik. Alasannya adalah bahwa setiap tahun Gereja selalu memilih Injil dari Yohanes khususnya bab 10 [tahun A: Yoh 10: 1-10; tahun B: Yoh 10: 11-18; tahun C: Yoh 10: 27-30]. Dalam bab ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Minggu ini juga dikenal sebagai Minggu Panggilan. Pada tahun 1964, Paus Paulus VI menetapkan Hari Doa Sedunia bagi Panggilan pada hari Minggu keempat Paskah. Mengapa minggu Panggilan? Dalam Injil yang sama, Yesus berkata bahwa Sang Gembala ‘memanggil’ domba-domba-Nya menurut nama mereka dan mereka mendengar suara-Nya [lihat Yoh 10: 3-4].

Seringkali, kita mengasosiasikan panggilan dengan panggilan seorang imam atau kehidupan membiara, menjadi bruder atau menjadi suster. Namun, Yesus, Gembala yang Baik, tidak hanya memanggil sebagian kecil domba-domba-Nya, tetapi seluruh kawanan. Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia, dan dengan demikian, setiap orang memiliki dipanggil dan memiliki panggilan.

Secara umum, di Gereja, kita memiliki kaum klerus dan kaum awam. Klerus adalah mereka yang menerima Sakramen Imamat atau tahbisan. Di bawah kelompok ini adalah para diakon, imam, dan uskup. Sedangkan yang tidak menerima tahbisan adalah kaum awam. Di dalam kelompok awam ini, ada yang menikah dan mereka yang tetap sendiri untuk Tuhan [disebut juga selibater awam]. Ada juga kategori khusus, yaitu orang-orang yang mengucapkan kaul. Secara tradisional, kita memiliki tiga kaul atau janji kepada Tuhan, kaul ketaatan, kaul kemurnian dan kaul kemiskinan. Umat ​​Katolik yang mengikrarkan kaul biasanya tergabung dalam komunitas [secara teknis disebut lembaga hidup bakti] seperti Ordo Pengkhotbah, Serikat Yesus, dan banyak lainnya. Ketika seorang wanita awam mengikrarkan kaul, dia menjadi seorang suster dari komunitas tertentu seperti, Sr. Maria, OP, dan ketika seorang imam berkaul, dia disebut sebagai imam biarawan atau taraket, seperti Rm. Joseph, OFM. Seorang imam yang tidak mengikrarkan kaul, dan terikat pada keuskupan disebut imam projo, diosesan atau sekular. Tentu saja, kategori-kategori ini hanya sebuah penyederhanaan, dan masih banyak lagi bentuk kehidupan lain di dalam Gereja Katolik. Intinya adalah bahwa Gembala yang Baik memanggil kita semua untuk mengikuti-Nya dan bersama-Nya. Ini adalah panggilan universal menuju kekudusan.

Namun, apakah kekudusan itu? Apakah ini berarti ketika seseorang ditahbiskan menjadi imam, dia auto suci? Apakah mengenakan pakaian keagamaan merupakan tanda kesucian? Apakah doa terus menerus dan kesalehan merupakan manifestasi dari orang-orang kudus? Jika kekudusan mengikuti dan menjadi satu dengan Gembala yang Baik, maka menjadi suci adalah hidup dan bertindak seperti Gembala yang Baik itu sendiri. Lalu, apa karakter utama dari Gembala yang Baik? Yesus menyatakan, “Gembala yang Baik memberikan hidup-Nya untuk domba-dombanya [Yohanes 10:15].” Gembala yang Baik itu ‘Baik’ karena kasih-Nya yang radikal dan pengorbanan.

Menjadi kudus berarti mengasihi secara radikal dan rela berkorban, dan cinta kasih sejati dilakukan setiap hari dengan segala cara yang bahkan sangat sederhana. Kekudusan adalah saat seorang pria bekerja keras setiap hari untuk keluarganya. Kekudusan adalah seorang ibu yang merawat bayinya dan siap kehilangan waktu tidurnya setiap malam. St. Theresa dari Avila pernah berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu berada di dapur, Tuhan berjalan di antara panci dan wajan.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Mulia

Minggu Ketiga Paskah [B]

18 April 2021

Lukas 24: 35-48

Mukjizat adalah kejadian langka, tetapi ada jenis-jenis mukjizat yang bahkan lebih langka dan lebih berharga daripada yang lain. Penyembuhan memang mukjizat dashyat tetapi hidup kembali setelah kematian lebih luar biasa. Namun, ada satu mukjizat yang sepenuhnya unik dan tak tertandingi: kebangkitan. Namun, apa yang membuat kebangkitan berbeda dari mukjizat-mukjizat lainnya?

Kebangkitan mengandaikan kematian, dan definisi kematian adalah keterpisahan permanen antara tubuh dan jiwa. Jadi, kebangkitan adalah penyatuan kembali tubuh dan jiwa yang telah terpisah oleh kematian. Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus menunjukkan kepada murid-murid tubuh-Nya serta luka-luka-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dialami para murid di ruang atas bukanlah ilusi atau fantasi, mereka juga tidak melihat hantu atau roh tanpa tubuh. Apa yang mereka temui adalah tubuh manusia yang hidup. Apalagi luka itu membuktikan bahwa tubuh Kristus yang bangkit sama dengan tubuh yang disalibkan. Yesus bahkan meminta makanan dan sungguh makan ikan yang diberi. Dia bertingkah laku seperti manusia biasa, dan oleh karena itu, murid-murid-Nya tidak perlu takut lagi, tapi diajak untuk percaya.

Namun, kebangkitan Yesus pada dasarnya berbeda dari yang terjadi pada Lazarus. Kita ingat bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, wafat, tetapi Yesus membangkitkan dia dari kubur. Namun, Lazarus pada akhirnya akan menghadapi kematian sekali lagi. Apa yang terjadi pada Lazarus biasanya disebut ‘resuscitatio’. Sementara itu, Yesus bangkit dari kematian dan tidak akan mati lagi. Kristus tidak akan lagi mengalami kematian karena Ia tidak menerima tubuh biasa, tetapi tubuh yang sangat mulia. Ini adalah tubuh yang sama yang Yesus terima dari Perawan Maria, ini adalah tubuh yang sama yang berjalan di Galilea, ini adalah tubuh yang sama yang mewartakan Injil kepada para murid, dan ini adalah tubuh yang sama yang disiksa, disalibkan, dan dikuburkan di makam. Dan sekarang, kekuatan ilahi telah mengubah tubuh ini menjadi tubuh yang mulia.

Apa yang membuat tubuh yang dimuliakan ini luar biasa? Pertama, tubuh ini kekal dan tidak akan mati. Kedua, tidak lagi mengalami penderitaan seperti sakit atau penuaan. Ketiga, tubuh ini tidak tunduk pada hukum alam dan terbebas dari batasan ruang dan waktu. Ini menjelaskan mengapa Yesus bisa masuk ke ruang para murid yang terkunci [lihat KGK 645]. Keempat, tubuh ini bisa mengubah wujudnya. Ini menjelaskan mengapa para murid sering tidak mengenali Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan tidak hanya tentang penyatuan kembali antara jiwa dan tubuh, tetapi tentang tubuh yang dimuliakan dan disucikan untuk hidup yang kekal.

Realitas tentang kebangkitan memperkuat kebenaran dasar tentang tubuh kita. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia material sebagai sesuatu yang baik. Pribadi manusia, termasuk tubuh kita diberkati dan disebut ‘sangat baik.’ Adalah rencana Tuhan agar ciptaan-Nya yang luar biasa tidak menjadi sia-sia dalam kematian dan dekomposisi. Dia menghendaki agar tubuh yang baik dan diberkati ini terus ada selama-lamanya dan menjadi bagian dari surga-Nya yang menakjubkan.

Dari kesadaran ini, apakah kita mempersiapkan tubuh kita untuk surga? Apakah kita menyalahgunakan tubuh kita dengan gaya hidup yang tidak sehat? Apakah kita menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan dalam doa dan perbuatan baik? Apakah kita menghancurkan tubuh kita, Bait Roh Kudus, dengan kejahatan dan kecanduan? Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan menyenangkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keraguan dan Iman

Minggu Kedua Paskah [B] – Minggu Kerahiman Ilahi

11 April 2021

Yohanes 20: 19-31

Tomas, salah satu rasul Yesus, disebut sebagai ‘orang yang ragu’. Sikap skeptisnya muncul ketika dia tidak hadir pada pertemuan rasul hari Minggu, dan dia melewatkan hal terpenting yang terjadi pada hari Minggu: kebangkitan Yesus. Dari sini, kita dapat memetik pelajaran penting: jangan absen pada misa hari Minggu!

Menjadi skeptis atau ragu adalah bagian dari kodrat manusia kita. Bahkan skeptisisme pada tahap tertentu itu sehat dan perlu. Ketika kita menemukan klaim atau informasi yang tidak biasa, kita tidak langsung mempercayai hal itu dan juga meragukannya. Keraguan mengundang kita untuk menyelidiki dan memverifikasi kebenaran klaim tersebut. Ketika semua keraguan dihilangkan, kita bisa yakin akan kebenaran hal tersebut.

Ada klaim-klaim yang memang tidak boleh diterima begitu saja dan harus diverifikasi. Jika seorang laki-laki dituduh mencuri, ia berhak mendapatkan proses hukum, dan berdasarkan bukti-bukti, hakim yang berwenang akan menjatuhkan keputusan. Tidak hanya di dalam pengadilan, bidang ilmu alam dan sosial juga memiliki metode-metode ilmiah yang ketat untuk membuktikan sebuah hipotesis. Gereja juga mengadopsi sikap yang sama. Ketika Gereja menerima klaim bahwa seseorang telah melihat Tuhan atau Perawan Maria, Gereja tidak langsung percaya dan akan menyelidikinya. Apakah orang tersebut mengalami masalah kejiwaan, atau hanya berhalusinasi? Apakah roh jahat itu terlibat? Apakah wahyu pribadi bertentangan dengan ajaran Gereja? Setelah menghilangkan keraguan, Gereja akan menyatakan posisinya atas klaim tersebut.

Kembali ke Thomas, pada awalnya, keraguan Thomas tampaknya sesuatu yang wajar karena dia mendengar klaim spektakuler kebangkitan Yesus dari para rasul yang lain. Sebagai seorang Yahudi, Tomas mungkin percaya pada kebangkitan orang mati, tapi ini akan terjadi pada akhir zaman. Kebangkitan Yesus sungguh tidak terduga. Karena itu, Thomas meminta bukti. Namun, jika kita melihat kata-kata Yesus kepada Tomas setelah Dia menunjukkan luka-luka-Nya, “… jangan engkau tidak percaya [Yunani: apistis] lagi, melainkan percayalah. [Yoh 20:27]. ” Yesus menunjukkan bahwa apa yang terjadi pada Tomas bukanlah keraguan yang alami, tetapi ketidak percayaan yang disengaja.

Sementara keraguan alami dapat dihilangkan melalui proses verifikasi untuk mencapai kebenaran obyektif, di sisi lain, keyakinan adalah keputusan bebas untuk menerima klaim tertentu itu benar. Masalahnya adalah apa yang kita dipercaya tidak selalu sesuai dengan kebenaran obyektif. Jadi, ketika seseorang sudah memutuskan untuk menerima klaim tertentu sebagai kebenaran subyektifnya, dia tidak akan melepaskan klaim tersebut betapa pun salahnya hal itu. Idealnya, keyakinan kita sesuai dengan realitas objektif. St Thomas Aquinas secara sederhana menyatakan bahwa kebenaran adalah korespondensi [kecocokan] antara pikiran dan realitas.

Setelah Yesus menunjukkan kepada Thomas luka-luka-Nya sebagai bukti kebangkitan-Nya, Yesus menuju ke langkah berikutnya dan yang paling penting. Dia meminta Thomas untuk percaya. Thomas akhirnya menerima kebenaran kebangkitan sebagai miliknya sendiri. Yesus memang Tuhan dan Allah, tetapi hanya ketika Thomas menerima kebenaran ini sebagai miliknya, dia bisa berkata, ‘Ya Tuhanku dan Allahku.’

Dalam hidup ini, kita mungkin sama seperti Tomas. Kita mungkin mempelajari kebenaran iman Katolik sejak kita muda, tetapi apakah kita benar-benar mempercayai dan menghidupinya? Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan kita, tetapi apakah kita benar-benar percaya dan berpegang pada Dia pada saat pencobaan dan kesulitan? Kita mungkin berkata bahwa Tuhan telah menebus kita, tetapi apakah kita hidup seperti orang-orang tertebus?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Paskah

Minggu Paskah [B]

4 April 2021

Yohanes 20: 1-9

photocredit: Bruno van der Kraan

Yesus telah bangkit! Aleluya! Dia benar-benar hidup dan kita bersukacita. Dari Minggu Palma hingga Jumat Agung, kita telah menjadi saksi drama terbesar di pusat iman kita. Yesus diterima sebagai raja oleh rakyat-Nya yang pada akhirnya akan menghukum Dia. Dia menyerahkan tubuh dan darah-Nya kepada para murid dan saudara-Nya yang akhirnya menjual, mengkhianati, menyangkal, dan meninggalkan-Nya. Dia tidak bersalah, namun Dia dihukum sebagai penjahat dan menderita kematian yang mengerikan di kayu salib. Dia adalah Tuhan, tetapi Dia dikuburkan sama seperti manusia lainnya. Namun, hal-hal mengerikan ini bukanlah akhir dari cerita kita. Ada kejutan yang luar biasa! Dia bangkit dari kematian dan menaklukkan kematian. Kasih-Nya menang atas kebencian dan dosa.

Kabar baiknya adalah kisah Yesus itu nyata. Kisah-Nya sangat berbeda dari film-film box-office seperti film-film Marvel. Avengers mungkin secara dramatis mengalahkan Thanos dan membangkitkan separuh umat manusia yang hilang, tetapi mereka tetap merupakan karya fiksi. Yesus itu nyata, bahkan lebih nyata dari kita semua. Dan karena Dia benar-benar telah bangkit, iman kita kepada-Nya tidak sia-sia. Kita diselamatkan dan kita ditebus. Ini adalah fondasi yang tak tergoyahkan dari sukacita kita! Blaise Paschal, seorang Filsuf Prancis Katolik, pernah berkomentar, “Tidak ada yang sebahagia umat Kristiani sejati.”

Namun, apa artinya bersukacita di dunia kita sekarang? Banyak dari kita masih berjuang dengan pandemi COVID-19 dan kita tidak yakin kapan ini akan berakhir. Beberapa dari kita kehilangan orang yang kita cintai, dan yang lain harus menghadapi masa depan yang tidak pasti karena krisis ekonomi. Kita menjadi lebih tidak yakin dengan hidup kita. Apa bisa kita bersukacita? Kita perlu melihat bahwa sukacita kita bukan hanya perasaan enak yang cepat berlalu atau sebuah luapan emosi. Jika kita hanya mencari sensasi seperti ini di Gereja, kita mungkin kecewa.

Beriman kepada Yesus berarti kita percaya bahwa hidup kita pada akhirnya akan memiliki makna di dalam Yesus. Jadi, sukacita kita datang dari mengikuti Yesus, berpartisipasi dalam drama kasih dan penebusan-Nya, termasuk dalam salib dan kematian-Nya. Penderitaan Yesus bukanlah penderitaan korban yang tidak berdaya, melainkan penderitaan manusia berani. Kematian Yesus bukanlah kematian pecundang, tapi pengorbanan total. Yesus mengasihi kita sepenuhnya, dan kasih total menuntut kematian. Di dalam Kristus, penderitaan kita bukanlah tanda kelemahan kita, tetapi dari kasih radikal kita. Sukacita kita mengalir dari kebenaran yang kita temukan bahwa di dalam Kristus, kita diciptakan melampaui diri kita sendiri, tetapi untuk kasih yang tak terbatas, untuk Tuhan sendiri.

Di masa krisis ini, kita mungkin menanggung lebih banyak ketidakpastian, tetapi kita bisa menjadikan momen ini untuk mati terhadap ilusi kita bahwa kekayaan, posisi, dan kekuasaan dapat menyelamatkan kita. Di masa pencobaan ini, kita mungkin menghadapi lebih banyak kesulitan, tetapi di dalam Kristus, kita dapat mengubah kesempatan ini untuk mengasihi secara mendalam, dan bahkan memberikan diri kita sendiri.

Pada 27 Maret 1996, ada tujuh pertama Trappist diculik dari biara Tribhirine, Aljazair, oleh kelompok ekstremis. Semua akhirnya dibunuh. Beberapa bulan sebelumnya, mereka telah diperingatkan untuk meninggalkan biara karena situasi Aljazair memburuk, tetapi mereka menolak pergi karena mereka ingin tinggal bersama dengan orang yang mereka layani. Brother Christian, pemimpin biara, menulis dalam sebuah surat, “Saya yakin bahwa Tuhan mencintai orang Aljazair dan bahwa Dia telah memilih untuk membuktikannya dengan memberikan hidup kami kepada mereka. Jadi, apakah kami benar-benar mencintai mereka? Apakah kami cukup mencintai mereka? Ini adalah momen kebenaran bagi kami masing-masing dan tanggung jawab yang berat di saat-saat ini ketika teman-teman kami merasa sangat sedikit dicintai. ”

Selamat Paskah!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keledai

Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan [B]

28 Maret 2021

Markus 11: 1-10; Markus 14 – 15

Minggu Palma menandai awal Pekan Suci, minggu paling sakral dalam tahun liturgi kita. Perayaan tahun ini mungkin berbeda dari tahun-tahun lainnya karena pandemi, namun hal tersebut tidak menghentikan kita untuk menjalankan perayaan yang khusyuk dan bermakna. Salah satu pertanyaan yang biasa diajukan tentang perayaan Minggu Palma, “Mengapa Yesus menunggangi keledai?” Dengan bercanda, saya menjawab, “Ya, mungkin taksi online belum ada pada saat itu!”

Jawaban standar untuk pertanyaan ini adalah bahwa Yesus ingin menunjukkan diri-Nya sebagai raja yang lemah lembut dan rendah hati, dan bukan seorang jenderal yang haus kekuasaan dan suka berperang yang disimbolkan dengan kuda dewasa. Jawaban ini benar, tetapi tidak memberi kita gambaran yang lengkap. Jika kita mencoba untuk masuk lebih dalam ke Injil Markus saja, kita akan menemukan banyak penggenapan Perjanjian Lama.

Pemilihan keledai ini dilakukan oleh Yesus karena Dia memenuhi nubuat Zakharia. Intinya, nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari nanti seorang raja yang lembut namun jaya akan memasuki Yerusalem, menunggangi seekor keledai muda [lihat Zak 9:9]. Tapi, ini bukan satu-satunya nubuat yang dipenuhi Yesus.

Jika kita kembali ke Perjanjian Lama, kita akan menemukan seorang raja Israel yang benar-benar menaiki keledai. Dia adalah Salomon, putra Daud, ketika dia dinobatkan sebagai raja dan naik takhta [1 Raja 1:33]. Dengan mengendarai seekor keledai muda, Yesus menandakan bahwa Dia adalah Salomon baru yang naik ke tahta baru-Nya, salib.

Markus juga memberi kita informasi bahwa orang-orang juga menyebarkan pakaian mereka di hadapan Yesus. Kembali ke Perjanjian Lama, kita juga menemukan seorang raja Yehuda yang menerima perlakuan yang sama seperti ini juga dari rakyatnya. Namanya adalah Yehu [2 Raja 9:12]. Selain itu, Markus menulis bahwa orang-orang menyambut Yesus dengan ranting-ranting yang hijau. Sekali lagi, jika kita kembali ke perjanjian lama, ranting hijau digunakan untuk menerima Yudas Makabe, yang berhasil merebut kembali Yerusalem dari tangan musuh [2 Mak 10:7]. Yesus memang raja yang lembut, tetapi Dia juga pemenang yang jaya atas musuh-musuh-Nya. Satu hal lagi adalah bahwa Markus menambahkan ungkapan ‘… Bapa kita Daud…” Daud sejatinya bukanlah salah satu dari bapa bangsa Israel [yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub]. Namun, orang Israel mengakui raja Daud sebagai bapak bangsa mereka, seorang raja yang melindungi dan memimpin rakyatnya.

Dari sini, kita bisa menarik kesimpulan yang menakjubkan pada Minggu Palma ini. Yesus menunggangi keledai muda untuk menunjukkan bahwa Dia adalah Raja Mesias dalam garis keturunan Daud, seperti Salomon dan Yehu, serta raja yang jaya yang akan menaklukkan musuh-musuh-Nya. Namun, ada sesuatu yang bahkan luar biasa. Markus memberi kita detail unik: keledai ini belum pernah ditunggangi. Artinya keledai ini masih liar dan belum terlatih. Pilihan Yesus untuk menunggangi binatang yang masih liar ini menunjukkan kekuasaann dan otoritas-Nya atas binatang-binatang buas dan alam. Dia bukan hanya raja Israel, raja umat manusia, tetapi Dia adalah raja dari segala alam. Sungguh, seekor keledai adalah tumpangan yang sempurna bagi raja alam semesta.

Namun, kita tidak boleh terlalu cepat gembira. Ada lebih banyak rahasia yang harus dibuka dan lebih banyak nubuatan yang harus digenapi saat kita memasuki drama Pekan Suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP