Minggu Pertama Prapaskah [B]
21 Februari 2021
Markus 1: 12-15
Mengapa Yesus harus tinggal di padang gurun selama 40 hari? Jawabannya tidak sulit. Dia mengulangi apa yang dilakukan orang Israel ketika mereka dibebaskan dari perbudakan Mesir. Orang Israel tinggal selama 40 tahun di padang gurun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian. Namun, ada satu hal lagi! Markus memberi kita detail kecil namun penting: di padang gurun, Yesus tinggal bersama binatang-binatang. Kenapa demikian? Jika ada satu orang yang hidup bersama para binatang di dalam kitab suci, dia tidak lain adalah Adam. Yesus bukan hanya Israel baru yang menanggung kondisi keras padang gurun, tetapi juga Adam baru yang menghadapi serangan setan.
Yesus memasuki padang gurun selama empat puluh hari dan Dia diuji di sana oleh kondisi keras gurun Yudea. Tidak hanya menghadapi tandusnya gurun, tetapi Yesus juga menghadapi iblis itu di sana. Dari sini saja, kita dapat melihat hubungan yang kuat antara bangsa Israel di padang gurun dan Yesus, serta antara Adam dan Yesus. Seperti Israel kuno yang bergumul dengan ego mereka sendiri, Yesus juga menanggung kelemahan manusia. Seperti Adam menghadapi si penggoda, Yesus juga dicobai oleh iblis. Namun terdapat perbedaan yang signifikan.
Sementara orang Israel menggerutu dan mengeluh, Yesus dengan setia berpuasa dan berdoa. Sementara orang Israel menggerutu untuk mendapatkan makanan, dan Adam memakan buah terlarang, Yesus menolak godaan Setan untuk mengubah batu menjadi roti. Sementara orang Israel kehilangan iman dan menyembah iblis dalam bentuk anak lembu emas, dan Adam ingin menjadi seperti Tuhan, Yesus menolak untuk tunduk kepada iblis meskipun semua kemuliaan duniawi yang ditawarkannya. Sementara orang Israel kehilangan harapan atas tanah perjanjian dan Adam menyalahkan sang wanita, Yesus tetap teguh dan menolak untuk menguji Tuhan. Yesus adalah Israel baru dan Adam baru. Sementara Israel lama goyah dan Adam menyerah pada pencobaan dan godaan, Yesus tampil sebagai pemenang. Yesus mengoreksi dan menyempurnakan Israel lama dan Adam lama.
Kita adalah tubuh Kristus, dan kita adalah bagian dari Israel baru. Saat Yesus memasuki padang gurun, demikianlah kita pergi ke pertempuran rohani kita. Namun, kita hanya bisa menjadi pemenang ketika kita mengandalkan kepada Tuhan dan berpartisipasi di dalam Kristus. Iblis jauh lebih kuat dari kita, dan tanpa Tuhan, kita pasti akan kalah.
Bagaimana kita akan menang melawan pertempuran spiritual ini? Yesus memberi kita tipsnya: puasa-pantang, amal dan doa. Puasa membuat kita lapar namun menyadarkan kita bahwa tidak semua keinginan jasmani kita harus segera dipenuhi. Karya amal mungkin melukai kantong kita, tetapi itu membuka kita pada kebenaran bahwa kita bisa hidup bermakna dengan memberi, bukan menimbun. Doa mungkin terkesan hanya membuang-buang waktu, tetapi doa membawa kita kepada kenyataan paling mendasar bahwa tanpa Tuhan, kita bukan apa-apa. Kita adalah bagian dari Adam baru dan Israel baru, dan hanya di dalam Dia, kita mencapai kemenangan sejati kita.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Penyakit kusta pada zaman Yesus tidak hanya mematikan secara fisik dan mental, tetapi juga melumpuhkan secara rohani. Kusta atau yang sekarang dikenal dengan penyakit Hansen adalah penyakit yang mengerikan karena tidak hanya membunuh orangnya secara perlahan, tetapi lambat laun akan merusak wujud dan melumpuhkan orang tersebut. Bakteri kusta menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan saraf sehingga orang tersebut tidak lagi dapat merasakan sensasi, terutama rasa sakit. Tanpa sensasi ini, orang tersebut gagal mengenali dan menghindari cedera pada tubuh. Kehilangan anggota tubuh seperti jari adalah hal yang biasa terjadi pada penderita kusta stadium lanjut.
Yesus tidak dapat dipisahkan dari pelayanan penyembuhan-Nya. Beberapa kisah kesembuhan merupakan kejadian yang luar biasa seperti kesembuhan seorang wanita dengan pendarahan dan juga anak perempuan Jarius [Markus 5: 321-43]. Penyembuhan ini adalah mujizat karena kasus-kasus yang dihadapi Yesus adalah hal-hal mustahil disembuhkan pada zaman-Nya. Sang wanita telah menderita pendarahan selama dua belas tahun tanpa harapan, dan putri Jarius sebenarnya sudah meninggal. Di sisi lain, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang yang sakit parah, tapi juga mereka yang sakitnya tergolong tidak membahayakan.
Yesus melakukan pengusiran setan atau eksorsisme pertama-Nya dalam Injil Markus. Membaca konteksnya, kita menemukan bahwa Yesus sedang mengajar di sinagoga dan orang-orang mengenali Dia mengajar dengan otoritas. Ketika Yesus mengajar dengan otoritas, ini tidak hanya berarti Dia berkhotbah dengan kefasihan dan krisma, tetapi ajaran-Nya dimanifestasikan dalam tanda-tanda yang nyata dan menakjubkan, seperti penyembuhan dan pengusiran setan.
Kita mendengarkan kisah panggilan murid-murid pertama: Simon dan Andreas, juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Yesus memanggil mereka dan Dia akan menjadikan mereka ‘penjala manusia’. Namun, dari berbagai profesi dan pekerjaan yang tak terhitung jumlahnya, mengapa mereka harus menjadi ‘penjala manusia’? Mengapa tidak jadi tim promosi Yesus? Mengapa bukan tentara Yesus?
Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai ‘Anak Domba Allah.’ Jika kita menghadiri perayaan Ekaristi, kita akan selalu mendengar ungkapan ini. Tepat sebelum komuni, imam akan memegang roti dan anggur yang telah dikonsekrir, dan memperlihatkan kepada kita semua, lalu berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, Lihatlah Dia yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!”
Baptisan Tuhan adalah salah satu momen yang menentukan dalam hidup Yesus. Injil sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] menulis peristiwa ini, meskipun dengan perspektif dan penekanan yang berbeda. Karena kita berada di tahun liturgi B, kita mendengarkan dari Injil Markus. Versi Markus memang terlihat paling pendek, tetapi bukan berarti tidak menyampaikan pesan yang mendalam. Pembaptisan Yesus di sungai Yordan adalah titik balik dalam kehidupan Yesus. Setelah ini Yesus akan berada di padang gurun selama 40 hari dan dicobai oleh iblis. Kemudian, dari sini, Yesus akan memulai pelayanan publik-Nya, dan bergerak menuju Yerusalem, menuju Salib, Kematian dan Kebangkitan.
Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.
Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.
Natal adalah salah satu masa terindah dan menggembirakan. Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, dan juga bertukar hadiah. Natal adalah waktu memasang pohon Natal, merancang Gua Natal, dan memutar lagu-lagu Natal. Pastinya, Natal adalah saat keluarga pergi ke gereja bersama-sama.