Menghormati Sang Raja

Minggu ke-28 di Masa Biasa

11 Oktober 2020

Matius 22: 1-14

Untuk memahami perumpamaan yang kita dengar Minggu ini, kita perlu melihat elemen-elemen yang mengejutkan. Pertama, perjamuan ini bukalah perjamuan pernikahan biasa, tapi pernikahan putra raja. Tentunya, orang-orang dalam daftar undangan adalah tamu terhormat dan istimewa, tetapi mereka menolak untuk datang sampai dua kali dan bahkan menganiaya para utusan raja. Apa yang mereka lakukan tidak terpikirkan! Mereka gagal untuk melihat betapa berharganya undangan tersebut dan malah memilih urusan-urusan sepele mereka sendiri. Mereka sama saja melontarkan hinaan kepada raja yang telah menghormati mereka. Tak heran, raja menghukum mereka.

Namun, raja ini adalah raja yang murah hati, dan dia memutuskan untuk mengundang semua orang yang bukan bagian dari tamu kehormatannya. Dia memberikan undangan kerajaan dan kehormatan bagi semua orang. Banyak yang memang datang dan memenuhi undangan tersebut. Namun, ada satu orang yang gagal mengenakan pakaian yang layak bagi perjamuan. Berpakaian pantas dalam menghadiri perjamuan pernikahan tidak hanya sesuatu yang wajar, tetapi juga menunjukkan bagaimana kita menghormati orang yang mengundang kita. Orang ini adalah tamu kehormatan, tetapi dia gagal menghargai kehormatan yang dia terima, gagal berperilaku sesuai harapan, dan membawa aib besar kepada raja. Karena itu, raja melemparkannya bukan ke sembarang tempat, melainkan ke kegelapan yang berkesudahan.

Kita sama seperti tamu perjamuan nikah ini karena kita menerima penghormatan yang tak terukur karena pada kenyataannya kita tidak pantas dipanggil oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Pada sudah sepatutnya, kita perlu melakukan bagian kita untuk menghormati Dia yang mengundang kita, dan untuk menunjukkan rasa syukur yang terbaik kepada Tuhan. Pertanyaannya kemudian, apa yang dimaksudkan dengan pakaian yang layak untuk perjamuan pernikahan ini? Jika kita melihat Kitab Wahyu 19, kita akan melihat sebuah perjamuan pernikahan juga. Ini adalah perjamuan pernikahan Anak Domba, dan dalam Wahyu 19: 8, “… karena lenan halus itu adalah perbuatan benar orang-orang kudus.” Iman kepada Yesus itu seperti menerima undangan dan datang ke perjamuan, tetapi kita tidak boleh berhenti sampai di situ, kita juga akan mengenakan pakaian yang terbentuk dari perbuatan-perbuatan benar. Iman awal kita harus tumbuh menjadi kasih.

Prinsip dasarnya adalah rahmat itu cuma-cuma, tapi itu tidak murahan. Faktanya, rahmat bersatu dengan Tuhan ini adalah hal paling berharga yang pernah kita terima dalam hidup kita. Perbuatan-perbuatan benar kita tidak dimaksudkan sebagai alat tawar-menawar dengan Tuhan, melainkan sebagai tanda terima kasih kita. Kita melakukan perbuatan benar bukan karena kita ingin dipuji, tetapi karena kita ingin menghormati Dia yang telah memanggil kita ke perjamuan surgawi. Sebagai imam, kami melayani umat terutama karena meskipun memiliki kelemahan, kami dipilih untuk menjadi saran rahmatnya. Sebagai pasangan suami-istri, kita dipanggil untuk membangun keluarga tidak hanya berdasarkan ketertarikan emosional, kebutuhan biologis, dan stabilitas ekonomi, tetapi rasa syukur kepada Tuhan yang telah mempersatukan suami istri dalam kasih dan rahmat. Sebagai orang tua, kita membesarkan anak-anak kita tidak hanya untuk menjadi sukses, kaya atau berpengaruh, tetapi terutama untuk menjadi pria dan wanita yang kudus karena kita menyadari bahwa anak-anak ini adalah berkat dari Tuhan. Dunia akan menjadi dunia yang lebih baik dengan orang-orang yang dipenuhi rasa syukur, dan dengan orang-orang kudus.

Refleksi ini didedikasikan bagi Carlo Acutis yang pada hari ini [10 Oktober] menjadi seorang beato, seorang model kekudusan bagi kita semua.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

picture by : mateus campos filipe

Menjaga Berkat

Minggu ke-27 di Masa Biasa [A]

4 September 2020

Matius 21: 33-43

Pemilik kebun anggur dalam perumpamaan hari ini luar biasa tak terduga. Dia tahu bahwa para penyewa adalah serakah dan korup, dan jika saya menjadi dia, saya akan segera mengusir para penyewa itu. Namun, pemilik ini melakukan yang sebaliknya. Dia terus mengirim utusannya dan sampai memberikan putranya sendiri, pewaris sejati. Pemilik kebun anggur ini pasti sudah gila! Dan, itulah citra Tuhan kita yang sangat penuh belas kasih dan sabar. Namun, itu bukanlah akhir dari cerita. Perumpamaan ditutup dengan sebuah penghakiman: jika kita terus menyalahgunakan belas kasihan Tuhan, keadilan-Nya pada akhirnya akan meraja.

Ketika Yesus berbicara tentang perumpamaan kebun anggur ini, konteksnya adalah Yesus menghadapi para penatua dan imam kepala. Alih-alih melayani umat Allah, mereka memilih mencari keuntungan pribadi dan terlibat dalam berbagai praktik korupsi. Yesus mengingatkan mereka bahwa kebun anggur akan diambil jika mereka tidak bertobat. Sayangnya, mereka terlalu rakus dan sombong. Jadi, mereka memilih untuk menyingkirkan Yesus, sang Putra Allah. Sejarah akhirnya menceritakan bahwa pada tahun 70 M, sekitar 40 tahun setelah Kristus, Yerusalem dibakar, dan Bait Suci diratakan dengan tanah.

Sebenarnya, cerita tentang berkat yang diberi dan kemudian diambil lagi, adalah salah satu pola dasar dalam Alkitab. Adam dan Hawa diberi hak istimewa di taman Eden, namun mereka melukai hati Tuhan, dan mereka kehilangan firdaus. Orang Israel dibebaskan dari tanah Mesir, tetapi di padang gurun, mereka terus bersungut-sungut dan bahkan menyembah dewa palsu. Oleh karena itu, mereka harus mati di gurun pasir, dan hanya anak-anak mereka yang diizinkan masuk ke Tanah Terjanji.

Tuhan telah memberi kita masing-masing, sesuatu anugerah yang istimewa, berkat yang berharga. Dan kita harus menjaga dan melindungi pemberian ini. Jika tidak, anugerah ini akan diambil dari kita.

Iman adalah anugerah. Iman adalah langkah pertama kita ke surga. Namun, kita harus menumbuhkan iman kita, memupuknya dengan ajaran Gereja yang benar dan menumbuhkan hubungan yang mesra dengan Tuhan. Kita harus menjaganya tidak hanya dari ajaran-ajaran yang menyesatkan tetapi juga dari kemalasan dan ketidakpeduliaan kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan imamat dan sebagai seorang bruder dan suster adalah sebuah anugerah. Ini adalah sebuah kesempatan untuk melayani umat Tuhan, untuk memberitakan Firman Tuhan, dan untuk melayani sakramen kasih karunia dan keselamatan. Kita perlu memeliharanya setiap hari dengan tekun dalam doa, belajar dengan sungguh-sungguh, dan dengan setia menjalankan kaul kita. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Panggilan untuk menjadi suami-istri dan keluarga adalah anugerah. Merupakan kesempatan untuk menjadi rekan pencipta dan rekan kerja Tuhan; untuk melahirkan kehidupan dan memelihara kehidupan. Kita perlu melindunginya dari dosa ketidaksetiaan dan keegoisan, dan memeliharanya dengan cinta, komitmen, dan bahkan keterbukaan. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Bumi adalah anugerah bagi kita. Ini adalah rumah kita, rumah yang menakjubkan untuk ditinggali, dan di antara miliaran planet di galaksi, tidak ada yang seperti bumi. Kita perlu mempertahankannya dari eksploitasi, penambangan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, dan bahkan dari gaya hidup kita yang secara bertahap merusak alam. Jika tidak, itu akan diambil dari kita.

Dan kita harus menjaga dan melindungi semua pemberian ini. Jika tidak, hadiah ini akan diambil dari kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: S. Danilo

Kerendahan Hati dan Kesombongan Rohani

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

27 September 2020

Matius 21: 28-31

Untuk memahami perumpamaan tentang dua anak laki-laki pemilik kebun anggur ini, kita perlu membaca seluruh Matius pasal 21. Yesus baru saja memasuki kota Yerusalem dan disambut oleh orang-orang dengan teriakan “Hosana” dan ranting palem. Kemudian, Dia pergi ke area Bait Allah untuk menyucikannya dari malpraktek yang terjadi. Jadi, para penatua dan imam kepala, yang bertanggung jawab atas Bait Allah, mempertanyakan Yesus, “siapa kamu? Dengan wewenang apa Anda bertindak demikian? ”

Jadi, Yesus menjawab mereka melalui perumpamaan. Perumpamaan ini berbicara tentang dua anak laki-laki; yang pertama mewakili para penatua dan yang kedua mewakili para pemungut pajak dan pelacur. Namun, yang mengejutkan para tetua adalah mereka  menjadi antagonis dari cerita tersebut. Yang memperparah adalah para sesepuh praktis berada dalam kondisi yang lebih buruk dari para pemungut pajak, karena mereka masih jauh dari kebun anggur, dari keselamatan. Namun, alih-alih bertobat, para penatua menjadi marah dan memutuskan untuk menghabisi Yesus selamanya.

Pertanyaannya adalah “mengapa pemungut cukai bisa bertobat sedangkan yang penatua tidak?” Jawabannya ada hubungannya dengan dua kekuatan yang saling bertentangan: di satu sisi adalah kerendahan hati dan yang lainnya adalah kesombongan rohani. Kita mulai dengan kesombongan rohani. Berdasarkan tradisi Gereja, kesombongan adalah yang paling mematikan dari tujuh dosa maut. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kesombongan adalah “hasrat berlebihan atas keunggulan diri sendiri dan akhirnya menolak tunduk kepada Tuhan.” Singkatnya, manusia yang sombong menganggap diri mereka lebih baik daripada yang lain. Apa yang membuat kesombongan begitu berbahaya adalah kesombongan membuat orang berpikir bahwa mereka mandiri dan bahkan tidak membutuhkan Tuhan.

Kesombongan juga sangat susah dideteksi karena dapat mengakar bahkan dalam hal-hal rohani. Kita tidak bisa mengatakan bahwa saya bernafsu untuk berdoa, tetapi kita bisa sombong dengan kehidupan rohani kita. Kita melihat diri kita lebih suci dan lebih saleh daripada orang lain berdasarkan standar kita.

Lawan dari kesombongan adalah kerendahan hati. Menurut St. Thomas Aquinas, kerendahan hati adalah keutamaan yang “mengolah jiwa, sehingga tidak menghasratkan yang lebih dari kodratnya.” Singkatnya, kerendahan hati adalah penangkal kesombongan rohani. Kerendahan hati dalam bahasa Latin “humilitas” berakar dari kata “humus” yang berarti tanah. Orang yang rendah hati mengenali identitas mereka yang berasal dari debu, dan nafas kehidupan serta kesempurnaan adalah anugerah Tuhan. Kerendahan hati ini akan mendatangkan rasa syukur karena kita menyadari bahwa meskipun hanya debu, Tuhan sangat murah hati dan penuh belas kasihan kepada kita.

Namun, kadang kita membingungkan antara menjadi rendah hati dengan menjadi minder. Minder itu kurang percaya diri dan biasanya lari dari tanggung jawab, karena belum dewasa. Minder berakar pada citra diri yang tidak lengkap dan bahkan terdistorsi. Sementara kerendahan hati dimulai dengan pemahaman yang benar tentang diri kita sendiri, bahwa kita secara sempurna dikasihi oleh Tuhan. Orang yang rendah hati adalah orang yang kuat karena hanya yang kuat yang bisa mengakui dosa-dosanya. Orang yang rendah hati adalah orang yang dewasa karena hanya yang dewasa yang bisa mengakui kelemahannya, meminta maaf, dan meminta bantuan. Pria dan wanita yang rendah hati adalah orang yang tangguh karena mereka bisa memaafkan walaupun itu sangat sulit.

Tuhan, berikan aku kerendahan hati, agar aku mengikuti kehendak-Mu yang suci.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perumpamaan Kerahiman

Minggu ke-25 dalam Waktu Biasa [A]

20 September 2020

Matius 20: 1-16

Di antara banyak perumpamaan Yesus, perumpamaan tentang pemilik kebun anggur yang satu ini adalah perumpamaan yang sulit saya pahami. Setiap saya membaca perumpamaan ini, saya selalu merasa ada yang tidak beres. Mungkin, saya dengan mudah mengasosiasikan diri dengan pekerja yang pertama datang, yang bekerja dari pagi hingga matahari terbenam. Mereka adalah para buruh yang menghabiskan waktu dan energi mereka di bawah terik matahari dan mengerahkan upaya mereka untuk memenuhi tuntutan pemilik kebun anggur. Namun, mereka menerima upah yang sama dengan mereka yang hanya memberikan satu jam kerja. Tentunya pemilik kebun anggur tidak melanggar kontrak, tapi tetap sepertinya ada ketidakadilan.

Mungkin, pengalaman ini seperti saat saya masih kuliah di Manila. Saya belajar keras untuk mendapatkan yang terbaik yang bisa saya raih. Memang, saya mendapat nilai baik, tetapi yang membuat saya tidak terima adalah ketika teman-teman sekelas saya yang saya tahu bahwa mereka pas-pasan, mendapat nilai yang sama dengan saya. Bagi saya, itu tidak adil, tetapi saya tidak dapat melayangkan keluhan saya karena nilai akhir adalah hak prerogatif dosen.

Namun, hal ini mulai terlihat berbeda ketika saya menjadi dosen. Pada satu titik, saya perlu memberi nilai akhir kepada siswa saya. Dan ini adalah saat yang paling dilematis bagi saya karena saya menyadari bahwa di satu sisi, saya perlu memberikan keadilan, tetapi di sisi lain, saya ingin semua siswa saya lulus dan berhasil. Akhirnya, saya lebih sering memilih belas kasihan dan mengizinkan murid-murid saya yang pas-pasan untuk lulus. Saya sepenuhnya sadar bahwa beberapa siswa saya akan merasa bahwa saya tidak adil, dan itulah beban yang harus saya tanggung sebagai dosen yang memilih untuk berbelas kasihan.

Jika kita mencoba melihat dengan teliti apa yang dilakukan pemilik kebun anggur, kita akan menganggapnya lucu dan bahkan aneh. Dia terus mencari dan memperkerjakan orang baru hampir setiap tiga jam. Lebih parah lagi, dia memberikan upah harian yang sama untuk semua. Dalam ekonomi dan bisnis, pengeluaran berlebihan dan kelebihan tenaga kerja adalah resep kebangkrutan! Tapi, si pemilik kebun anggur sepertinya tidak peduli dan terus mencari tenaga kerja. Mungkin, dia tahu betul jika orang-orang ini tanpa pekerjaan, mereka akan mati kelaparan, namun jika mereka bekerja dan menerima kurang dari upah minimum, mereka juga tidak akan bisa bertahan hidup. Dia tidak bisa memuaskan semua orang, tapi setidaknya dia akan bisa menyelamatkan semuanya.

Belajar dari perumpamaan ini, daripada mengeluh kepada Tuhan, kita perlu bersukacita karena Tuhan kita penuh belas kasihan, yang bahkan Dialah berinisiatif dan berupaya untuk mencari kita yang membutuhkan keselamatan, dan yang dengan sedia memberikan kehidupan kekal bahkan bagi mereka yang selama hidupnya tidak baik, tetapi pada saat terakhir bertobat.

 Kita harus bersukacita karena dalam mata Tuhan, kita semua adalah pekerja terakhir yang memohon belas kasihan pemilik kebun anggur. Siapa tahu, pekerja yang datang pertama sebenarnya adalah para malaikat, dan kita benar-benar pendatang terakhir yang tidak layak. Dengan dosa kita, kita semua pantas masuk neraka, tapi Tuhan mengulurkan tangan-Nya dan membuka Gerbang Surga. Kita harus bersukacita bahwa surga bukanlah tempat yang sepi di mana hanya sedikit orang benar yang layak mendapatkannya, tetapi surga penuh dengan orang-orang yang bersyukur yang menikmati belas kasihan Tuhan walau tidak layak.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Picture: Maja Patric

Belas Kasih: Jalan Kehidupan

Minggu ke-24 di Masa Biasa [A]

13 September 2020

Matius 18: 21-35

josue-escoto-UkpYNiJyx8A-unsplash

Minggu lalu, Injil berbicara tentang bagaimana perlu menegur saudara kita yang berdosa. Jika seorang saudara berdosa kepada kita, kita wajib memberikan koreksi dalam kasih. Minggu ini, Injil berbicara tentang apa yang harus kita lakukan jika seseorang yang telah menerima koreksi, bertobat dan meminta pengampunan. Jawabannya sederhana: kita memaafkannya, dan kita merangkulnya kembali ke dalam persekutuan.

Simon Petrus mencoba untuk mengesankan Guru-nya. Dia menyatakan bahwa dia bersedia memaafkan hingga tujuh kali. Simon Petrus ingin menunjukkan kepada Yesus bahwa dia juga mampu memiliki standar yang tinggi. Yang mengejutkan adalah Yesus tidak terkesan, dan pada kenyataannya, mengajarkan kepada para murid keutamaan lainnya yakni tentang keadilan, belas kasihan dan pengampunan.

Kali ini, Yesus mengajar dengan metode favorit-Nya: menceritakan sebuah perumpamaan, dan kita akan menghargai perumpamaan ini jika kita dapat mengenali konteks sejarah dan hal yang tidak terduga. Seorang hamba berhutang 10.000 talenta kepada seorang raja. Pada zaman Yesus, talenta adalah koin emas yang berharga, dan itu setara dengan 6.000 dinar. Satu dinar sendiri setara dengan upah satu hari kerja. Jadi, hamba ini berhutang 60.000.000 hari kerja kepada tuannya [atau sekitar 160.000 tahun kerja!]. Yang paling mengejutkan bukanlah jumlah hutang sang hamba, tetapi sikap sang raja yang dengan mudah mengampuni dan menghapus seluruh hutang ketika hamba memohon belas kasihan.

Oleh karena itu, ketika raja menerima berita bahwa hamba yang telah dimaafkan ini menolak untuk mengampuni sesama hamba yang memiliki hutang yang jauh lebih kecil [100 dinar], kemarahannya dapat dibenarkan, dan belas kasihannya berubah menjadi keadilan.

Dengan bercermin pada perumpamaan ini, kita memahami bahwa di hadapan Tuhan Allah, kita tidak berbeda dengan hamba ini. Kita tidak berhak mendapatkan apapun dari Tuhan kecuali satu hal: neraka! Dosa telah menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan kita menciptakan lubang yang sangat dalam. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk menutup celah yang tidak terbatas ini. Hanya Tuhan yang mahakuasa yang memiliki kemampuan untuk membangun jembatan yang mustahil diseberangi ini. Syukurlah, Yesus telah meyakinkan kita bahwa Bapa-Nya juga adalah kerahiman itu sendiri. Meskipun kita tidak pantas mendapatkan apa-apa selain neraka, Tuhan telah membukakan pintu surga bagi kita.

Karena tidak ada yang bisa mendapatkan belas kasihan Tuhan, kerahiman-Nya selalu cuma-cuma, tetapi tidak berarti hal ini murahan. Tuhan ingin kita melakukan sesuatu juga untuk menerima belas kasihan-Nya. Dia mau kita untuk berbelas kasihan. Dia mengampuni kita, maka kita juga perlu mengampuni mereka yang telah menyakiti kita. Yesus sendiri mengingatkan kita bahwa kita harus berbelas kasihan seperti Bapa kita di surga yang penuh belas kasihan [Luk 6:36]. Berbelas kasihan bukanlah sekedar pilihan. Sesungguhnya, keadilanlah yang akan diterapkan pada kita di penghakiman terakhir.

Kita tahu bahwa mengampuni itu sulit, tetapi sekali lagi kita bisa belajar dari Yesus bagaimana cara mengampuni. Di kayu salib, Dia berkata, “Bapa, ampunilah mereka; karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan [Luk 23:34]. ” Langkah pertama adalah berdoa untuk orang-orang yang telah bersalah kepada kita. Dengan sering berdoa, kita melatih hati kita untuk melepaskan amarah dan kepahitan kita, dan bahkan belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi orang-orang yang memusuhi Dia.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraterna Correctio

Minggu ke-23 dalam Waktu Biasa [A]

6 September 2020

Matius 18: 15-20

bundo-kim-KYRHKbcWdYM-unsplashInjil kita hari ini dikenal dalam Bahasa Latin sebagai fraterna correctio atau cara mengoreksi saudara kita. Namun, jika kita membaca teks dengan cermat, apa yang dikoreksi bukan hanya tentang penampilan, tingkah laku, atau etiket kita. Yesus berbicara tentang dosa. Yesus tidak mengajari kita untuk mengoreksi seseorang yang memiliki gaya rambut aneh, atau seseorang yang tidur mendengkur. Jika ada sesuatu yang membuat Yesus marah tidak lain adalah dosa. Kenapa begitu? Dosa bisa menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan, dan menutup gerbang surga. Misi Yesus adalah untuk membawa pengampunan dosa dan untuk menghilangkan efek dosa, tetapi jika kita menolak untuk bertobat dan terus berbuat dosa, kita menghina pengorbanan Kristus.

Yesus memberi kita tiga tahap mengoreksi saudara yang hidup dalam dosa. Tingkat pertama adalah pengingatkan secara pribadi dan penuh kasih. Kita tidak boleh berbicara di belakang orang tersebut, tetapi dengan berani untuk berkonfrontasi namun dengan kasih. Jika orang tersebut masih keras kepala, kita berlanjut ke tingkat kedua: memanggil dua atau tiga saksi. Kehadiran saksi akan memperkuat klaim kita. Namun, jika orang itu tetap keras kepala, kita akan banding kepada Gereja. Perlu kita ingat bahwa Gereja dalam Matius 18 bukan hanya kumpulan orang-orang beriman, tetapi para rasul atau otoritas Gereja. Namun, jika orang itu tetap dalam dosanya, Gereja harus memperlakukan dia seperti orang kafir dan pemungut cukai.

Bangsa-bangsa bukan Yahudi tidak disunat dan menyembah berhala, oleh karena itu mereka dianggap najis dan berdosa. Sedangkan pemungut cukai adalah orang-orang yang bekerja untuk kekaisaran Romawi, dan karena kontak mereka yang terus-menerus dengan orang Romawi dan praktik korupsi mereka, mereka dianggap juga najis dan berdosa. Orang-orang najis tidak diizinkan masuk ke Bait Allah dan sinagoga untuk menyembah Tuhan. Jadi, memperlakukan saudara yang keras kepala seperti orang-orang non-Yahudi dan pemungut cukai berarti memisahkan dia dari peribadatan. Istilah teknis untuk ini adalah ekskomunikasi. Kata ini berasal dari kata Latin: “ex-” yang berarti di luar, dan “communio” yang berarti komunitas atau persekutuan. Jadi, ekskomunikasi berada di luar komunitas yang berdoa. Dengan demikian, orang-orang yang diekskomunikasi tidak diperbolehkan menerima Komuni Kudus, yang adalah tanda kesatuan Tubuh Kristus.

Ekskomunikasi tampaknya terlalu kejam, namun melihat dalam perspektif yang lebih besar, itu adalah cara belas kasih, bukan sekadar alat hukuman. Pada kenyataannya, Gereja sangat jarang menjatuhkan sanksi ekskomunikasi. Sebagian besar kasus, adalah pribadi-pribadi itu sendiri yang menjauh dari Gereja dan memisahkan diri mereka dari Tuhan dan umat-Nya. Kita juga harus ingat bahwa Yesus juga mengasihi orang-orang bukan Yahudi dan pemungut cukai, memanggil mereka untuk bertobat, dan melakukan banyak Mujizat bagi mereka. Kasih kita kepada saudara-saudara kita yang hidup dalam dosa tetap ada dan bahkan semakin kuat. Mengapa? karena Yesus tidak ingin mereka binasa, tetapi hidup bersama Tuhan. Kita mengoreksi saudara dan saudari kita bukan karena kita membenci mereka, tetapi karena kita mengasihi mereka dan karena kita adalah bagian dari keluarga Allah yang sama. Kita bertanggung jawab satu sama lain dan kita akan menjaga saudara-saudari kita tetap berjalan menuju surga.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Batu Sandungan

Minggu ke-22 di Waktu Biasa [A]

30 Agustus 2020

Matius 16: 21-27

FILE PHOTO POPE FRANCIS BAPTIZES BABY VATICAN
 (CNS photo/Vatican Media)

Minggu lalu, kita mendengarkan pengakuan Petrus tentang identitas Yesus sebagai Kristus, Putra Allah yang hidup. Simon menerima nama baru dan kunci kerajaan surga. Ia menjadi perdana menteri kerajaan Allah, dan paus pertama. Namun, hari ini, kita menyaksikan perubahan dramatis. Ketika Yesus menubuatkan tentang sengsara-Nya, Simon secara reaktif menarik gurunya ke samping, dan menegur-Nya. Sebagai tanggapan, Yesus menyatakan dengan keras, “Enyahlah Setan. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku…! ”

Minggu lalu, Simon adalah Petrus, dan hari ini, Simon adalah “Setan”. Minggu lalu, Simon adalah batu fondasi, dan hari ini, Simon adalah batu sandungan. Minggu lalu, Simon diilhami oleh Roh Kudus, dan sekarang, dia memikirkan kepentingan dirinya sendiri.

Menyebut Simon  sebagai “Setan” adalah hal yang tidak terduga, tetapi juga sesuatu hal yang menarik di dalami. Mungkin Yesus ingin menunjukkan bahwa tindakan Petrus dipengaruhi oleh setan itu sendiri. Sering kali, kita berpikir bahwa roh jahat mempengaruhi kita dalam bentuk-bentuk kerasukan setan, tetapi kenyataannya, kerasukan setan adalah cara yang luar biasa untuk menyerang kita. Ada cara yang biasa: melalui godaan dan mendorong ide-ide yang bertentangan dengan rencana Tuhan. Pertempuran yang sebenarnya terjadi bukan dalam hal kepemilikan tubuh kita, tetapi dalam pikiran dan jiwa kita.

Petrus juga disebut sebagai batu sandungan, dan dalam bahasa Yunani “skandalon”. Minggu lalu, dia diberi identitas baru, Petrus, batu fondasi, tetapi sekarang, dia berubah menjadi batu sandungan. Keduanya adalah batu, tetapi dua tujuan yang berlawanan. Batu karang fondasi adalah untuk mendukung Gereja dan kehendak Tuhan, tetapi batu sandungan adalah untuk menghentikan atau setidaknya, untuk menghalangi dan memperlambat kehendak Tuhan. Yesus telah mengarahkan pandangannya pada Yerusalem, untuk mempersembahkan hidup-Nya sebagai korban di kayu salib dan dengan mulia, bangkit dari kematian. Namun, Simon, sang batu sandungan, mencoba melawan dan mencegah Yesus memenuhi kehendak Bapa-Nya. Kata “Satanas” dalam bahasa Yunani, dapat berarti ‘musuh’. Simon menjadi musuh yang melawan misi Yesus.

Minggu lalu, kita merenungkan misi Simon Petrus dan bagaimana kita menjadi Petrus-Petrus kecil saat Tuhan memanggil kita untuk sebuah panggilan dan pelayanan tertentu meskipun kita tidak layak. Namun, Yesus menyatakan bahwa hambatan sejati untuk misi kita bukanlah kelemahan dan ketidaklayakan kita, tetapi kepentingan dan agenda egois kita. Alih-alih berkata, “Terjadilah menurut kehendakmu,” kita berteriak, “terjadilah seturut kehendakku.” Ini adalah taktik besar setan, bahwa kita diajak mengutamakan diri kita sendiri, daripada Tuhan. Mungkin ada imam-imam yang tergoda dan sibuk mencari kenyamanan hidup dan mengumpulkan kekayaan untuk diri kita sendiri, daripada melayani umat dengan dedikasi. Mungkin ada orangtua-orangtua, yang alih-alih membawa anak-anak kita kepada Tuhan, malah disibukkan dengan mengejar ambisi dan karier kita pribadi.

Karena itu, Yesus mengingatkan dengan lantang, “apa gunanya mendapatkan seluruh dunia namun kehilangan jiwa kita?” Di gerbang surga, St. Simon Petrus akan bertanya kepada kita, “Apakah selama hidup, kamu menjadi batu sandungan bagi kehendak Tuhan atau telah menjadi batu fondasi bagi rencana-Nya?”

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Petrus

Minggu ke-21 di Masa Biasa

23 Agustus 2020

Matius 16: 13-20

peter crucifixion 1Injil hari ini berbicara banyak tentang identitas baru dan peran St. Simon Petrus sebagai pemimpin para rasul, dan dengan demikian, pemimpin Gereja. Dia adalah batu fondasi pilihan yang di atasnya Yesus membangun Gereja-Nya. Dia adalah perdana menteri yang memegang kunci kerajaan Tuhan. Dia adalah imam kepala yang bertanggung jawab atas Bait Allah yang baru. Dia adalah Rabi kepala yang ajarannya mengikat seluruh umat beriman. Ini adalah hak istimewa yang luar biasa dan orang mungkin bertanya-tanya, “Di antara para murid, mengapa dia yang dipilih? Apakah Yesus tahu bahwa dia akan menyangkal-Nya tiga kali? “

Pilihan Yesus adalah sebuah misteri besar, namun pada akhirnya, tidak ada yang layak menjadi paus pertama. Jika kita membaca Alkitab dan mencoba melihat banyak cerita panggilan dari para pemimpin besar Israel, kita akan melihat pola yang sama: kebanyakan dari mereka tidak layak dan pendosa besar. Abraham adalah seorang pengecut yang bersembunyi di belakang istrinya. Musa terlibat dalam pembunuhan seorang Mesir. Daud melakukan perzinaan dan merencanakan pembunuhan Uria. Tuhan tampaknya memiliki kecenderungan untuk memilih orang berdosa yang tidak layak!

Namun, itu baru setengah dari cerita. Para pemimpin hebat ini memiliki kualitas luar biasa dalam hubungannya dengan belas kasihan dan cinta Tuhan. Terlepas dari kelemahan mereka, mereka tidak pernah kehilangan harapan akan kasih karunia Tuhan yang bekerja di dalam diri mereka. Ketika mereka jatuh, mereka belajar untuk bangkit sekali lagi dan membiarkan Tuhan menopang mereka. Kualitas khusus ini juga yang dimiliki Simon.

Sepanjang hidupnya, Petrus berjuang untuk mencintai Yesus dan menjadi pemimpin Gereja Kristus. Dia berhasil berjalan beberapa langkah di atas air, tetapi ragu sehingga dia mulai tenggelam. Dia membuat pernyataan yang diilhami Roh kudus tentang keilahian Yesus, tetapi segera setelah itu, dia mencegah Yesus untuk menuntaskan misi-Nya di kayu salib. Tak ayal, Yesus menyebutnya “Setan!” Dia berjanji kepada Yesus bahwa dia akan menyerahkan nyawanya untuk Yesus, tetapi kurang dari dua puluh empat jam, dia menyangkal Yesus tiga kali, dan melarikan diri! Namun, meskipun begitu besar dosa, dia memilih bertobat, tetapi tidak putus asa. Bandingkan dengan Yudas yang kehilangan harapan dan bunuh diri, Petrus tahu betul bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Sungguh, Kristus yang bangkit memulihkan tempatnya sebagai pemimpin dan gembala kawanan domba-Nya, setelah meminta pengakuan kasih Simon tiga kali. Namun, itu bukanlah akhir cerita. Sebuah tradisi mengatakan bahwa selama penganiayaan kaisar Niro, Petrus berusaha melarikan diri dari Roma. Dalam perjalanannya ke luar kota itu, Petrus bertemu Yesus berjalan dengan arah berlawanan. Dia kemudian bertanya kepada Yesus, “Quo vadis, Domine? [Ke mana kamu pergi, Tuhan?]” Yesus menjawab, “Aku akan ke Roma, untuk disalibkan lagi!” Mendengar ini, Petrus lari kembali ke Roma. Benar saja, dia ditangkap dan disalibkan secara terbalik.

Pilihan kepada Petrus adalah sebuah misteri, tapi juga kabar baik. Kita seperti Simon Petrus, kita dipilih menjadi umat Tuhan, dipilih untuk peran dan misi tertentu, tetapi jauh di lubuk hati kita, kita tidak layak dan penuh kelemahan. Mengapa Tuhan memilih saya menjadi imam-Nya? Mengapa Tuhan ingin saya membesarkan anak-anak untuk kerajaan? Mengapa Tuhan memilih saya untuk menjadi pelayan-Nya? Kita tidak yakin alasan pastinya, tetapi seperti Petrus, kita juga dipanggil untuk memercayai rencana-Nya, dan tidak pernah kehilangan harapan di tengah pencobaan dan kegagalan, dan untuk lebih mengasihi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lihat Maria, Lihat Yesus

Hari Raya Pengangkatan Maria

16 Agustus 2020

Lukas 1: 39-45

dormitionSeringkali, kita, umat Katolik, dituduh terlalu menekankan Maria dalam iman, liturgi, dan bahkan kehidupan kita sehari-hari. Keberatan yang biasa kita dengar adalah: “Mengapa saya harus lewat Maria jika saya dapat langsung kepada Yesus? Mengapa harus ada Maria di antara saya dan Yesus?” Jenis-jenis keberatan ini berasal dari asumsi dasar bahwa keselamatan adalah hanya tentang saya dan Yesus. Kita hanya membutuhkan Yesus, dan sisanya adalah penghalang bagi Yesus. Kita tidak membutuhkan Gereja, orang-orang kudus, dan khususnya Maria. Ini adalah “kelebihan bagasi” yang harus disingkirkan agar kita bisa terbang dengan mudah kepada Tuhan.

Meskipun kita mungkin diselamatkan dengan iman semacam ini, tetapi iman semacam ini adalah sempit, individualistis dan bahkan angkuh. Lebih mendasar lagi, imam seperti ini  bukanlah jenis iman yang diajarkan Tuhan dalam Alkitab kepada kita.

Di dalam Alkitab, Tuhan meletakkan dasar untuk keselamatan kita yaitu melalui keluarga-Nya. Kata kunci dasarnya adalah perjanjian [Bahasa Ibrani “berit” dan Inggris “covenant”]. Ini adalah kesepakatan yang agung untuk menyatukan dua pihak berbeda menjadi satu keluarga. Tuhan memanggil Adam, Nuh, Abraham, Musa dan Daud untuk menjadi bagian dari keluarga Tuhan dan keselamatan tersedia bagi bangsa Israel. Dan dalam kepenuhan waktu, Yesus, Putra Allah, membuat perjanjian baru dan kekal dengan Allah demi umat manusia dan seluruh ciptaan. Kita diselamatkan melalui keluarga Yesus, kerajaan Allah.

Jika kita menyebut Tuhan sebagai Bapa kita, kita adalah saudara dan saudari dalam keluarga Tuhan. Jika kita adalah saudara dan saudari, kita memiliki tanggung jawab untuk keselamatan satu sama lain. Di sini kita melihat peran penting Gereja sebagai keluarga Allah, bahkan mereka yang telah mendahului kita, yakni para kudus. Para santo-santa tak henti-hentinya mengasihi dan berdoa bagi kita karena mereka adalah saudara kita yang penuh tanggung jawab di surga, dan ingin kita bergabung dengan mereka. Kehadiran mereka sama sekali tidak menghalangi pandangan kita kepada Yesus karena justru semakin kita melihat mereka, semakin kita melihat kesempurnaan Tuhan. Jika kita bisa menghargai gunung atau lautan sebagai karya kuasa dan keindahan Tuhan, kita akan semakin menghargai orang-orang kudus sebagai mahakarya supernatural Tuhan.

Terdepan di antara orang-orang kudus adalah Bunda Maria. Dia adalah contoh paling kongkret dari manusia yang disempurnakan oleh rahmat Tuhan. Semakin kita melihat Maria, semakin kita dekat dengan Tuhan dalam kekaguman dan pujian. Jika Tuhan dapat melakukan hal-hal besar kepada Maria, Dia akan melakukan hal yang sama kepada kita. Jika Tuhan dapat menebus Maria dengan sempurna, Dia akan menebus kita juga. Jika Tuhan dapat membawa Maria ke surga, Dia akan membawa kita juga ke surga. Dan sebagai saudari yang hebat dalam iman, dia bahkan memiliki tanggung jawab yang paling besar untuk membawa kita lebih dekat kepada Tuhan. Dia berdoa untuk kita dengan sangat semangat, bahkan dia berdoa lebih semangat lagi untuk orang-orang yang membencinya.

St. Lukas dengan lihat menceritakan bagaimana Maria, sebagai tabut perjanjian baru, membawa Yesus di dalam rahimnya kepada Elisabet dan Yohanes Pembaptis. Kita perhatikan juga Elizabeth tidak memisahkan keduanya. Ketika dia melihat Maria, dia mengenali Tuhan, dan ketika dia menyadari kehadiran Tuhan, dia mengakui pembawa suci, Maria. Melalui Yesus yang hadir melalui Maria, Elizabet dan Yohanes menemukan sukacita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fokus pada Yesus

Minggu ke-19 di Masa Biasa [A]

9 Agustus 2020

Matius 14: 22-33

jesus walk water 2Kisah Yesus berjalan di atas air adalah kisah terkenal yang ditulis oleh tiga Injil: Matius 14: 22-33, Markus 6: 45–52 dan Yohanes 6: 15–21. Namun, yang unik dari Matius adalah bagian dari Petrus yang juga berjalan di atas air, namun tenggelam setelah beberapa langkah. Mari kita fokuskan perhatian kita pada momen unik dalam kehidupan Simon Petrus ini.

Kehadiran Yesus yang tiba-tiba dan tidak biasa mengejutkan para murid yang masih berjuang melawan angin kencang. Reaksi alami para murid adalah ketakutan. Mereka mengira mereka melihat hantu. Matius memberi kita sedikit detail yang menarik: para murid takut bukan karena badai laut, tetapi karena kehadiran Yesus. Kita ingat bahwa banyak dari mereka adalah nelayan berpengalaman dan berurusan dengan kondisi tak terduga di danau Galilea adalah bagian dari pekerjaan mereka. Namun, melihat seseorang berjalan di atas air belum pernah terjadi sebelumnya. Jadi, Yesus mengambil inisiatif untuk menenangkan badai di dalam hati mereka dan meyakinkan mereka bahwa dialah Yesus yang mengendalikan kekuatan alam.

Petrus, pemimpin yang berani namun juga impulsif, ingin membuktikan apa yang dilihat dan didengarnya. Dia kemudian menantang Yesus dan dirinya sendiri dengan berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”  Yesus mengundang dia untuk datang. Mujizat terjadi. Simon Petrus bisa berjalan di atas air! Namun, sifat kemanusiaannya yang lemah sekali lagi muncul. Setelah beberapa langkah mujizat, dia terganggu oleh angin, kehilangan fokusnya pada Yesus, dan dia mulai tenggelam. Yesus harus menyelamatkannya dan berkata kepadanya, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Kita memperhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Kamu, yang tidak memiliki iman!” melainkan, “kurang percaya!” Ini menunjukkan bahwa Petrus sebenarnya memiliki iman, dibuktikan dengan beberapa langkah mukjizatnya, tetapi iman itu masih kecil, mudah terganggu, dan sarat keraguan.

Banyak dari kita dapat dengan mudah melihat diri kita seperti Simon Petrus, Paus pertama kita. Kita percaya kepada Yesus namun, kita sadar juga bahwa iman kita masih kecil. Kita mungkin pergi ke Gereja setiap hari Minggu atau berdoa dari waktu ke waktu, percaya bahwa Yesus, Tuhan dan Juru selamat kita, dan menerima ajaran Gereja, tetapi iman kita hannyalah bagian kecil dari hidup kita, yang dapat dikesampingkan ketika hal-hal yang lebih besar seperti pekerjaan, karier, relasi, dan lainnya mulai memenuhi hati kita. Kita memberikan kepada Tuhan sisa-sisa kita, baik waktu maupun usaha kita. Bahkan dalam doa dan ibadah kita, kita mudah terganggu. Daripada memfokuskan diri kita pada Yesus, kita memberikan perhatian kita pada ponsel kita dan semua kegembiraan yang mereka tawarkan. Kemudian, saat kita menghadapi badai kehidupan, kita mulai tenggelam, dan saat itulah, kita berseru, seperti Petrus, “Tuhan, selamatkan aku!”

Kita dipanggil untuk mengarahkan pandangan kita pada-Nya dan untuk belajar memiliki mata iman yang sejati. Ini adalah mata untuk melihat Ekaristi bukan hanya sebagai roti dan anggur, bukan sebagai pengulangan yang monoton, tetapi sebagai kehadiran nyata Yesus yang telah mengorbankan hidup-Nya bagi kita. Ini adalah iman yang memberdayakan kita untuk melihat kehadiran Yesus dalam kegiatan sehari-hari dan biasa kita. Jika ini sungguh menjadi iman kita, badai yang paling dahsyat sekalipun tidak dapat menenggelamkan kita karena kita memusatkan perhatian pada Yesus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP