Minggu Paskah ke-7
24 Mei 2020
Yohanes 17: 1-11a
Doa adalah bagian mendasar dari kehidupan Yesus. Dia berdoa secara teratur, dan terutama ketika Dia bersiap untuk merangkul peristiwa-peristiwa yang menentukan, seperti Pembaptisan di Sungai Yordan [Lukas 3:21], pemilihan kedua belas rasul [Lukas 6:12], transfigurasi [Lukas 9:28], dan jalan salib-Nya [Mat 26:36-44]. Namun, kita jarang mendengar apa yang Yesus katakan dalam doa-doanya. Dalam Injil Sinoptik [Matius, Markus dan Lukas] kita cukup beruntung mendengar doa Yesus yang pendek dan emosional di Taman Getsemani sebelum Dia memasuki sengsara-Nya. Namun, penginjil Yohanes memastikan bahwa kita akan menemukan apa yang Yesus doakan dan hal ini jauh lebih panjang daripada yang pernah kita dengar sebelumnya.
Yohanes mencurahkan seluruh bab untuk doa ini [Yohanes 17: 1-26]. Yesus berdoa kepada Bapa dengan kasih dan keyakinan yang luar biasa. Namun, yang membuat doa ini penting adalah bahwa Yesus tidak hanya berdoa tentang diri-Nya dan misi-Nya, tetapi juga berdoa untuk para murid-Nya. Yesus bertindak sebagai imam yang menjadi perantara bagi para murid-Nya. Itulah sebabnya kita menyebut bagian ini sebagai doa Yesus Kristus sebagai imam besar.
Dari doa Yesus, kita menggali beberapa pelajaran yang penting:
Pertama, jika doa sangat penting dalam kehidupan Yesus karena Yesus mengerti doa adalah jalur komunikasi-Nya kepada Bapa. Komunikasi adalah kunci untuk setiap hubungan untuk berkembang, dan Yesus mengetahui hal ini dengan baik. Mungkin, kita gagal melihat kebenaran ini, dan itulah sebabnya kita merasa doa itu membosankan. Kita malas menghadiri misa karena kita hanya memahaminya sebagai kewajiban. Kita menempatkan doa pribadi hanya sebagai tambahan karena kita menjadikan hal-hal lain sebagai prioritas kita. Anehnya, kita segera menyalahkan Tuhan jika rencana kita tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, atau kita bahkan mengancam Tuhan untuk mengabulkan keinginan kita. Jadi, mengubah perspektif tentang doa adalah penting dan bahkan akan mengubah kehidupan.
Kedua, jika doa adalah komunikasi, maka harus selalu berupa dialog. Sering kali ketika mulai tumbuh dalam doa, kita berpikir bahwa kita harus selalu mengatakan sesuatu kepada Tuhan. Saya ingat seorang frater bertanya kepada saya, “Romo, apa lagi yang harus saya katakan jika saya kehabisan kata-kata dalam doa saya?” Saya mengatakan kepadanya, “Mungkin, ini saatnya untuk mendengarkan Tuhan.” Pertanyaan selanjutnya adalah, “Bagaimana saya mendengarkan Tuhan?” Tentunya tidak ada jawaban yang baku, tetapi saya suka apa yang dikatakan St Heronimus, “Kamu berdoa: kamu berbicara kepada mempelai laki-laki [Yesus]. Kamu membaca [Kitab Suci]: Dia berbicara kepadamu. ” Namun, kita perlu ingat bahwa dialog kata-kata bukanlah akhir dari komunikasi. Akhirnya adalah orang-orang dalam dialog menjadi satu. Yesus berkata pada dirinya sendiri, “Aku di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu [Yohanes 14:20].”
Terakhir, doa kita melibatkan orang ketiga. Ini adalah konsekuensi langsung dari doa imam Yesus. Doa adalah dialog, tetapi sama seperti dialog lainnya, doa dapat berbicara tentang orang lain. Inilah saatnya kita berdoa kepada Tuhan untuk orang lain. Karena Yesus memberi kita teladan dalam doa-Nya, maka semakin penting bagi kita untuk memelihara sesama melalui doa. Pada saatnya kita tidak dapat menjangkau orang lain yang membutuhkan bantuan kita, doa tetap menjadi cara terbaik untuk mencintai mereka. Sesungguhnya orang-orang kudus di surga terus memelihara kita meskipun tidak mampu secara fisik menampakkan diri kepada kita, melalui doa-doa mereka.
Doa menyatukan kita dengan Tuhan dalam kasih dan doa juga menyatukan kita dengan orang-orang yang kita kasihi di dalam Tuhan.
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Dalam perjamuan terakhir, Yesus berjanji kepada murid-murid bahwa Ia akan mengirim penolong yang lain untuk bersama mereka selamanya. Siapa penolong yang lain ini?
Kita telah menutup gereja-gereja kita untuk pelayanan publik untuk beberapa minggu sekarang. Kita beralih ke misa livestreaming, dan kita belajar untuk menyesuaikan diri dan mengutamakan kesehatan dan kehidupan kita. Tetapi, kita menyadari bahwa hati kita tetap gelisah. Kita ingin melihat Yesus dalam Sakramen Mahakudus, kita berhasrat untuk menerima-Nya dalam Ekaristi, kita ingin melayani-Nya di paroki dan komunitas, dan kita kehilangan sakramen pengakuan dosa. Kita tidak yakin kapan akan berakhir dan kembali normal.
Hari ini adalah hari Minggu Paskah keempat dan secara tradisional juga disebut sebagai Minggu Gembala yang Baik. Bacaan Injil berbicara tentang Yesus yang memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu gerbang domba dan juga Gembala yang Baik. Mazmur tanggapan diambil dari mazmur 23 yang menyatakan bahwa “Tuhanlah gembalaku.” St. Petrus dalam Suratnya mengatakan bahwa kita adalah domba-Nya yang hilang, tetapi sekarang telah kembali kepada Yesus sang Gembala [lih. 1 Pet 2:25].
Hari Minggu Paskah kedua juga dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan Minggu Kerahiman Ilahi ditetapkan pada tahun 2000 oleh St. Yohanes Paulus II yang memiliki devosi khusus kepada kerahiman Ilahi yang diwahyukan kepada St. Faustina. Meskipun perayaan liturgi ini sendiri adalah sesuatu yang baru, kebenaran akan kerahiman Ilahi adalah sesuatu yang mendasar dalam Alkitab dan Tradisi Suci. Jika ada satu karakter Allah yang paling penting, ini tidak lain adalah kerahiman-Nya. Dalam Perjanjian Lama, setidaknya ada dua kata Ibrani yang dapat diterjemahkan sebagai kerahiman. Yang satu adalah rāḥam dan yang lainnya adalah ḥeṣedh.
Hari ini adalah hari kebangkitan Yesus. Hari ini adalah hari Yesus mengalahkan dosa dan maut. Hari ini adalah hari kemenangan kita. Tidak mengherankan di antara perayaan liturgi Gereja, Paskah adalah yang termegah, terpanjang dan paling spektakuler. Inilah saatnya gereja dibanjiri oleh umat beriman. Inilah saatnya umat paroki terlibat dalam banyak kegiatan, persiapan, dan pelayanan. Inilah saatnya keluarga berkumpul dan merayakan. Inilah saatnya para imam menerima lebih banyak berkat!
Jika ada satu hal yang menyatukan orang-orang dari berbagai negara, bahasa, dan agama, ini adalah penderitaan. Dengan coronavirus yang menyebar sangat cepat, orang-orang dengan latar belakang yang berbeda, muda dan tua, kaya dan miskin, dan bangsawan dan rakyat jelata, dan awam dan klerus jatuh tersungkur dan gemetar. Memang, virus mikroskopis ini telah meluluh lantahkan kehidupan banyak orang. Orang-orang sakit kerah, rumah sakit kewalahan, kota-kota terisolasi, keluarga-keluarga terpisah, pekerja-pekerja menganggur, pemerintah-pemerintah tak berdaya, dan gereja-gereja kosong. Penderitaan memaksa kita untuk mengakui kelemahan manusiawi kita dan semua yang kita banggakan, ternyata hampa.
Hari ini, kita merayakan Minggu Palma. Di banyak negara, hari ini adalah perayaan besar dan umat dengan penuh semangat memenuhi Gereja. Saya ingat waktu masih kecil saya selalu paling semangat ikut perarakan romo yang memasuki Gereja dan kami mengikutinya dengan membawa daun palma kami masing-masing.
Di antara lima indra manusia, indra peraba [sentuhan] adalah yang paling dasar dan fondasi bagi indra yang lainnya. Indra penglihatan perlu bersentuhan dengan spektrum cahaya. Indra perasa perlu bersentuhan dengan bahan kimia dalam makanan. Indra pendengaran harus menerima getaran suara di udara. Sentuhan menjadikan kita manusia, makhluk yang bertubuh. Tidak mengheran jika banyak pengalaman traumatis [bahkan masalah mental] berakar pada sentuhan yang kurang diterima atau tidak seharusnya diterima.