Mengapa Perlu Menunggu?

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [C]

19 Oktober 2025

Lukas 18:1-8

Dalam perumpamaan tentang janda yang gigih dan hakim yang tidak adil, Yesus memberi kita perintah yang jelas: “Berdoalah selalu!” Ia mengajak kita untuk tetap teguh, terutama ketika Allah meminta kita untuk menunggu jawaban-Nya. Namun, mengapa Bapa yang penuh kasih, yang mengetahui kebutuhan kita, mengizinkan penantian ini?

Periode penantian ini bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, melainkan kasih-Nya yang mendalam. Berikut tiga alasan mengapa Allah mungkin mengizinkan kita menanti.

1. Waktu Menyembuhkan dan Memurnikan Doa-doa Kita

Seringkali, doa-doa kita lahir dari emosi yang intens—kesedihan, penderitaan, atau bahkan amarah. Dalam kegelisahan kita, kita bisa membingungkan antara kebutuhan sejati kita dengan keinginan egois. Kita tidak selalu tahu apa yang benar-benar baik untuk kita.

Allah menggunakan waktu untuk membantu kita menenangkan hati dan menyucikan niat kita. Waktu membantu kita untuk membentuk ulang doa-doa kita, mengubahnya dari tuntutan menjadi dialog, dari permohonan untuk keuntungan pribadi menjadi kata-kata penyerahan dan pengharapan, dari “Jadilah sesuai kehendakku” menjadi “Jadilah kepadaku sesuai kehendak-Mu.”

2. Waktu Membangun Keutamaan

Kita hidup di dunia yang mengutamakan hasil instan, dan kita dapat membawa ketidaksabaran ini ke dalam hubungan kita dengan Allah. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan secara instan, kita dapat menjadi gelisah dan frustrasi, dan bahkan marah.

Menunggu mengajarkan kita kesabaran—yang bukan hanya kemampuan untuk menunggu, tetapi kemampuan untuk mempertahankan sikap baik saat menunggu. Seperti yang diingatkan oleh St. Fransiskus de Sales, “Setiap dari kita membutuhkan setengah jam doa setiap hari, kecuali ketika kita sibuk, maka kita membutuhkan satu jam.” Semakin kita berdoa dengan sabar, semakin kita menyadari bahwa banyak hal di luar kendali kita. Namun, meskipun kita lemah, kita tidak putus asa atau kehilangan harapan karena kita kini bergantung pada Allah Pencipta langit dan bumi.

3. Waktu Mendalamkan Kedekatan Kita dengan Allah

Mudah bagi kita untuk memperlakukan Allah seperti mesin penjual otomatis surgawi. Masa penantian mengalihkan perhatian kita dari pemberian yang kita cari ke Sang Pemberi.

Semakin banyak waktu yang kita habiskan dalam doa yang penuh kesabaran, semakin kita mencari untuk mengenal Allah sebagaimana Dia adanya—bukan hanya sebagai pemberi keinginan, tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih. Kita tidak berfokus lagi pada daftar kebutuhan kita tetapi pada hubungan kita dengan-Nya. Inilah inti doa, yang didefinisikan oleh Santa Teresa dari Ávila sebagai “tidak lain daripada menjalin persahabatan dengan Allah.”

Seorang biarawati senior pernah berbagi kisah tentang bagaimana, saat masih menjadi novis muda, ia ingin meninggalkan biara untuk bekerja dan mendukung ibunya secara finansial. Doanya dipenuhi dengan berbagai rencana apa yang akan dia lakukan di luar. Pembimbing rohaninya dengan lembut bertanya, “Apakah meninggalkan biara benar-benar yang terbaik? Apakah Allah terbatas pada satu cara saja untuk menolong?”

Ia mulai mengubah doanya. Ia berhenti memberi tahu Allah apa yang harus dilakukan dan mulai menyerahkan ibunya sepenuhnya kepada penyelenggaraan-Nya. Seiring waktu, kerabat dan teman-temannya datang untuk mendukung ibunya, dan ia menemukan kedamaian untuk tetap setia pada panggilannya. Kisah sederhana ini menunjukkan bagaimana Allah menggunakan waktu untuk menyucikan doa-doa kita dan mendekatkan kita kepada-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan untuk Refleksi Pribadi:

  • Apakah saya berdoa? Apakah ada ruang yang konsisten dan harian untuk Tuhan dalam hidup saya?
  • Bagaimana cara saya berdoa? Apakah doa saya sekadar daftar permintaan, ataukah itu percakapan yang termasuk mendengarkan?
  • Seberapa lama saya berdoa? Apakah saya menyerah ketika jawaban tidak segera datang?
  • Apa yang saya minta dari Allah? Apakah doa-doa saya berfokus pada kehendak saya, atau pada upaya untuk memahami kehendak-Nya?
  • Bagaimana reaksi saya ketika tidak mendapatkan apa yang saya doakan? Apakah hal itu menimbulkan keraguan, atau justru memperdalam kepercayaan pada kebijaksanaan-Nya?
  • Apakah saya meminta anugerah? Apakah saya berdoa tidak hanya untuk hasil tertentu, tetapi juga untuk kekuatan, kedamaian, dan kepercayaan untuk menanggung penantian?

Melampaui Rasa Syukur

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [C]

12 Oktober 2025

Lukas 17:11-19

Di permukaan, kisah sepuluh orang kusta ini menampilkan kontras yang jelas antara rasa syukur dan sikap tidak tahu berterima kasih. Sepuluh orang kusta disembuhkan, namun hanya satu—seorang Samaria, musuh orang Yahudi—yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus. Sembilan orang lainnya, kemungkinan orang Yahudi, tampak tidak bersyukur. Namun, jika kita berhenti pada pelajaran itu saja, kita akan melewatkan drama yang mendalam dalam pertemuan ini. Apakah itu?

Luke 5:12-16. A man covered with leprosy entreated Jesus to clean him falling with his face down. Jesus cleaned him immediately by touching him.

Untuk benar-benar memahami kisah ini, pertama-tama kita harus memahami betapa parahnya kondisi orang-orang itu. Kata Yunani “lépra” yang digunakan dalam Injil untuk kata “kusta” merupakan terjemahan untuk kata Ibrani “tzara’at.” Ini bukan sekadar penyakit medis yang menyebabkan borok yang menyebar dan kulit yang berubah warna; ini adalah keadaan najis yang parah, sebuah kondisi yang membuat orang-orang tersebut tidak bisa mendekati tempat suci (Imamat 13-14). Karena sifat religius kondisinya, imam Lewi bertindak sebagai penentu apakah seseorang dengan kondisi tersebut najis atau tidak. Karena kenajisan “tzara’at”  yang menular, mereka dipaksa hidup dalam isolasi, mengenakan pakaian robek, dan berteriak “Najis, najis!” untuk memperingatkan siapa pun yang mendekat. Oleh karena itu, “tzara’at” merupakan salah satu nasib paling ditakuti bagi seorang Israel, karena memisahkan seseorang dari keluarga, komunitas, dan yang paling penting, dari Allah.

Dalam konteks ini, perintah Yesus kepada sepuluh orang kusta untuk menunjukkan diri mereka kepada imam-imam memiliki makna yang mendalam. Mereka akan mengenali ini sebagai prosedur standar untuk secara resmi dinyatakan suci dan dipulihkan ke dalam masyarakat. Kita dapat mengasumsikan bahwa sembilan orang Yahudi berangkat menuju imam-imam Israel mereka, sementara orang Samaria menuju imamnya sendiri. Momen penting terjadi ketika orang Samaria, yang masih dalam perjalanan dan secara teknis masih najis, memutuskan untuk berbalik. Ia jatuh di kaki Yesus dan ini adalah sebuah sikap yang lebih dari sekadar ucapan terima kasih emosional; ini adalah tindakan iman yang mendalam yang melanggar hukum ritual, karena orang najis tidak boleh mendekati orang tahir, dalam hal ini Yesus.

Tindakan ini mengungkapkan makna yang lebih dalam dari cerita ini. Pertanyaannya bukan sekadar apakah sembilan orang itu tidak bersyukur. Mungkin mereka memang tidak bersyukur, melupakan penyembuh mereka begitu mereka disembuhkan. Atau mungkin mereka hanya mengikuti perintah Yesus, berencana untuk kembali setelah mendapat persetujuan imam. Kita perlu ingat bahwa orang-orang ini memiliki iman pada Yesus sehingga mereka mau pergi kepada para imam bahkan sebelum mereka sembuh. Namun, orang Samaria itu menyadari sesuatu yang lebih dalam. Ia memahami bahwa Yesus bukan hanya sang penyembuh penyakit, tetapi sumber pemurnian itu sendiri. Dengan kembali kepada Yesus, ia mengakui bahwa Kristus memiliki wewenang untuk menyucikan dirinya tidak hanya dari penyakit fisiknya, tetapi juga dari kenajisan yang serius. Pada saat itu, Yesus terungkap sebagai Imam Besar Ilahi yang sejati.

Penyembuhan itu, oleh karena itu, bukanlah sekadar tentang memulihkan kesehatan. Itu adalah undangan untuk kembali kepada Allah, memilih kekudusan, dan mengenali Pemberi di atas pemberian. Orang Samaria itu menerima bukan hanya kulit yang sembuh, tetapi keselamatan. Rasa syukurnya adalah tanda iman yang melihat melampaui kebutuhannya yang segera kepada Dia yang dapat memenuhi kebutuhannya yang paling mendasar akan Allah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mendekati Allah terutama dengan kebutuhan dan keperluan kita? Ketika kita merasa Allah telah menjawab doa-doa kita, apa reaksi kita? Bagaimana kita mengekspresikan rasa syukur kita? Apakah hal itu mendekatkan kita kepada Pemberi? Apakah karunia yang kita terima dari Allah pada akhirnya membawa kita kembali kepada-Nya, ataukah kita menjadi terobsesi dengan karunia itu sendiri?

Iman Sejati

Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [C]

5 Oktober 2025

Lukas 17:5-10

Iman adalah sebuah tindakan luar biasa. Tuhan kita mengajarkan bahwa dengan iman sekecil biji sesawi, kita dapat memerintahkan pohon besar untuk dicabut dan ditanam di laut. Namun, Ia juga mengingatkan kita bahwa iman saja tidak cukup. Iman harus disertai dengan keutamaan lain yang esensial. Apa itu?

Secara sederhana, iman adalah tindakan untuk percaya kepada Allah dan Putra-Nya, Yesus Kristus. Sepanjang sejarah, orang-orang percaya telah mengalami kuasa yang luar biasa dan ajaib melalui iman. Melalui iman kepada Yesus, banyak orang menemukan kesembuhan, baik fisik maupun psikologis, bahkan dari penyakit yang tak tersembuhkan sekalipun. Melalui iman, banyak sekali orang mengalami pengalaman yang mengubah hidup, menemukan makna yang mendalam dan kebahagiaan. Melalui iman, banyak orang menerima karunia-karunia rohani, termasuk yang luar biasa seperti kesembuhan dan bernubuat.

Meskipun memiliki kuasa yang mengguncang bumi, Tuhan mengingatkan kita bahwa kita pada akhirnya adalah “hamba-hamba” Allah. Iman tidak menjadikan kita tuan. Iman sejatinya membuka mata kita pada kebenaran identitas kita. Jika kita percaya pada Pencipta yang Mahakuasa, maka kita adalah makhluk ciptaan-Nya. Ada jurang yang tak terjembatani di antara kita: Allah adalah segalanya, dan kita tidak ada apa-apanya. Namun, Allah mengasihi kita begitu besar sehingga Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan kita dan membawa kita ke dalam persatuan dengan diri-Nya. Kebenaran ini, yang didorong oleh iman, membawa kita langsung kepada kerendahan hati.

Kata “kerendahan hati” dalam bahasa Inggris adalah “humility” dan ini berasal dari bahasa Latin humus, yang berarti “tanah” atau “bumi.” Itu adalah kesadaran bahwa kita tidak berarti apa-apa dan tidak layak. Kita, dalam arti tertentu, “tanah kotor.” Namun, Allah mengasihi kita tanpa syarat. Kerendahan hati menempatkan iman dalam konteks yang tepat, mengingatkan kita bahwa bahkan iman kita juga adalah anugerah dari Allah.

Sebenarnya, iman tanpa kerendahan hati itu berbahaya. Setan dan roh-roh jahat memiliki semacam “iman”—mereka tahu dengan pasti bahwa Allah ada dan bahwa mereka memperoleh keberadaan dan kekuatan mereka dari-Nya. Namun, tanpa kerendahan hati, mereka menolak untuk taat dan melayani. Pada akhirnya, mereka jatuh.

Tanpa kerendahan hati, kita berisiko tertipu oleh diri sendiri. Kita mungkin berpikir bahwa “iman besar” kita membuat kita lebih unggul dari orang lain. Meskipun karunia dan pengalaman iman itu nyata, mereka dapat menjebak kita dalam kesombongan. Tanpa kerendahan hati, kita juga dapat memperlakukan iman sebagai alat tawar-menawar, percaya bahwa jika kita memiliki cukup, kita dapat mengendalikan Allah untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Dengan kerendahan hati, iman benar-benar menyelamatkan. Kita menerima baptisan dari Gereja, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui keselamatan sebagai anugerah Allah yang cuma-cuma. Kita menerima Komuni Kudus dari tangan imam, dan tindakan kerendahan hati ini berarti mengakui bahwa kita membutuhkan Allah untuk memberi makan jiwa-jiwa kita yang lapar dan lemah. Kita mengaku dosa dalam sakramen Tobat, dan tindakan kerendahan hati ini berarti menerima bahwa seberapa pun kita rusak dan hancur, Allah tetap mencintai kita dan ingin menyembuhkan kita. Kerendahan hati memungkinkan iman kita untuk mendorong kita mengasihi Allah dengan mendalam, karena kita sepenuhnya menyadari kelimpahan kasih-Nya bagi kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan

  1. Bagaimana kita memahami iman? Apakah itu sekedar keyakinan akan kebenaran tentang Allah? Sebuah ikatan emosional? Atau komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya?
  2. Bagaimana kita memahami kerendahan hati? Apakah itu sekadar rasa “minder”? Atau apakah itu kesadaran mendalam akan kasih Allah yang tak terhingga bagi kita, bahkan dalam kelemahan kita?

Orang Kaya yang Tak Bernama

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [C]

28 September 2025

Lukas 16:19-31

Cerita tentang Lazarus dan Orang Kaya tidak hanya mengandung banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dan teladani, tetapi juga mengungkapkan kebenaran tentang keselamatan kita. Apa saja itu?

1. Plot Twist

Cerita tentang Lazarus dan orang kaya menunjukkan kebijaksanaan Yesus sebagai seorang pencerita dan guru. Kebanyakan orang akan menganggap orang kaya sebagai protagonis, karena kekayaan materialnya dianggap sebagai tanda kasih karunia Allah. Sebaliknya, Lazarus, dalam kemiskinan dan penyakitnya, akan dianggap sebagai orang yang kalah, menderita karena hukuman Allah atau Allah tidak berkenan kepadanya. Namun, Yesus memberikan kejutan di dalam ceritanya yang menantang pendengar Yahudi aslinya dan terus menantang kita hingga hari ini. Pada akhirnya, orang kaya, meskipun memiliki kekayaan yang luar biasa, tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri, sementara Lazarus, orang miskin, menerima belas kasihan Allah dan beristirahat di pangkuan Abraham.

2. Bukan Hanya Tentang Kekayaan

Namun, pandangan yang lebih dalam menunjukkan bahwa Yesus tidak sekadar mengutuk orang kaya dan memuliakan orang miskin. Orang kaya kehilangan keselamatannya bukan hanya karena kekayaannya, yang dapat menjadi berkat dari Allah jika digunakan sebagai sarana untuk tujuan tertentu. Intinya, kegagalannya adalah keserakahannya. Ia digambarkan mengenakan pakaian ungu yang mahal dan berpesta mewah setiap malam, namun ia memilih mengabaikan orang miskin yang putus asa di gerbang rumahnya. Meskipun memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk membantu, ia menutup mata, hanya fokus pada kesenangannya sendiri.

Demikian pula, kemiskinan saja tidak secara otomatis memberikan Lazarus tempat di sisi Abraham. Orang miskin juga rentan terhadap dosa, seperti mencuri atau manipulasi. Namun, Lazarus digambarkan sebagai orang yang “dengan senang hati” menerima sisa-sisa makanan dari meja orang kaya. Ia menolak menggunakan kemiskinannya sebagai alasan untuk berdosa, melainkan memilih bersyukur atas sedikit yang ia miliki.

3. Orang Kaya yang Tak Bernama

Di antara tiga karakter utama dalam cerita ini, hanya satu yang tidak disebutkan namanya: orang kaya. Abraham, yang namanya berarti “bapak banyak bangsa,” menerima Lazarus, yang namanya adalah bentuk Latinisasi dari nama Ibrani “Eliazer,” yang berarti “Allahku adalah penolongku.” Rincian kecil ini penting, menggambarkan kebenaran yang mendalam: kita menjadi apa yang kita cintai.

Orang kaya itu begitu mencintai kekayaannya sehingga ia kehilangan identitas uniknya, dikenal hanya berdasarkan status materialnya. Ia mendefinisikan dirinya melalui pakaian mewah dan gaya hidup yang bermewah-mewah. Sebaliknya, Lazarus dan Abraham mencintai Allah. Semakin mereka mencintai-Nya, semakin mereka mencerminkan gambar-Nya, memungkinkan identitas asli yang diberikan Allah untuk bersinar. Lazarus hidup sebagai orang yang bergantung pada pertolongan Allah, dan Abraham sebagai bapa bagi banyak bangsa. Semakin kita mencintai hal-hal duniawi, semakin kita terjerat olehnya, dan secara bertahap kehilangan diri kita sendiri. Namun, semakin kita mencintai Allah, semakin kita menjadi seperti Allah, dan kita menjadi lebih autentik.

Lourdes, Prancis

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah kita mencintai Allah lebih dari segalanya? Apa saja hal-hal yang menghalangi kita untuk mencintai Allah? Apa saja misi yang diberikan Allah dalam hidup ini? Apakah kita peduli terhadap saudara-saudari kita yang kurang beruntung di sekitar kita?

Krisis Sejati

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [C]

21 September 2025

Lukas 16:1-13

Hari ini, kita dihadapkan pada salah satu perumpamaan Yesus yang sulit dipahami: perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur. Kesulitannya terletak pada sebuah kontradiksi: Bendahara itu dipuji atas tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya. Ia menyalahgunakan wewenangnya dan memanipulasi harta tuannya untuk keuntungan pribadi, tetapi dia dipuji. Jadi, bagaimana kita memahami hal ini?

  1. Ia Dipuji atas Kecerdikannya, Bukan Moralitasnya

Pertama, penting untuk memahami bahwa bendahara itu dipuji karena kecerdikannya, bukan etika moralnya. Kata Yunani yang digunakan adalah φρονίμως (phronimos), yang berarti seseorang yang bijaksana, cerdas, atau pandai dalam urusan-urusan praktis. Di hadapan krisis, bendahara itu membuat keputusan yang tajam dan terukur. Setelah tertangkap karena ketidakjujurannya dan menghadapi pemecatan, ia tahu bahwa ia tidak memiliki keterampilan lain untuk bertahan hidup. Karena ia pasti akan dipecat, meminta ampun juga tidak ada gunanya. Sebaliknya, ia menggunakan satu-satunya keterampilan yang dimilikinya, manajemen manipulatif, untuk menciptakan semacam jaring pengaman. Dengan mengurangi utang, ia menjadikan para peminjam sebagai teman-temannya yang akan menerimanya setelah pekerjaannya hilang, sehingga menyelamatkan dirinya dari kemiskinan dan rasa malu.

2.      Kecerdasan Duniawi “Anak-Anak Zaman Ini”

Kedua, perumpamaan ini menggambarkan bagaimana “anak-anak zaman ini” dapat dengan luar biasa mahir menggunakan sumber daya mereka untuk menghadapi krisis dan mencapai “keselamatan” mereka. Cinta akan uang telah membutakannya, namun ketika krisis sesungguhnya datang, sang bendahara menyadari apa yang paling penting bagi dirinya: kelangsungan hidupnya di dunia ini. Ia secara pragmatis mengubah kekayaan yang diperoleh secara curang menjadi modal relasional untuk menjamin kelangsungan hidupnya di dunia ini.

3.      Tantangan bagi “Anak-Anak Terang”

Akhirnya, dan yang paling penting, perumpamaan ini menantang “anak-anak terang” untuk menyadari krisis nyata yang kita hadapi dan untuk menjadi sebijaksana mungkin dalam mengejar keselamatan sejati kita. Apa krisis kita? Sama seperti tuan kembali untuk menghakimi bendaharanya, Tuhan kita akan kembali untuk menghakimi kita. Banyak dari kita hidup dalam ilusi bahwa penghakiman Allah masih jauh, berpikir kita memiliki waktu yang tak terbatas. Namun, kita tidak tahu jam berapa Tuhan akan datang atau kapan kematian akan memanggil kita untuk mempertanggungjawabkan diri. Bendahara yang tidak jujur tahu bahwa hidup duniawinya terancam dan bertindak lugas untuk menyelamatkannya. Betapa lebih penting bagi kita, yang mengejar hidup kekal, untuk menggunakan waktu, talenta, dan harta kita untuk mempersiapkan diri menghadapi kedatangan Tuhan yang tak terduga.

Pier Giorgio Frassati tampak seperti pemuda biasa pada zamannya: ia menyukai olahraga seperti hiking dan merupakan pelajar yang aktif terlibat dalam isu-isu sosial dan politik zamannya. Ia juga seorang Katolik yang taat berdoa Rosario dan menghadiri Misa secara teratur. Ia meninggal secara tiba-tiba pada usia 24 tahun, dan di mata dunia, dia tidak memiliki pencapaian apa-apa. Namun, pada hari pemakamannya, ribuan orang, kebanyakan orang miskin, datang untuk berduka. Terungkap bahwa selama bertahun-tahun, ia secara rahasia mengunjungi dan membantu orang-orang miskin. Pada tahun 1990, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai beato, dan menyebutnya sebagai “manusia Delapan Sabda Bahagia”. Pier Giorgio adalah contoh sempurna seorang “anak terang” yang menggunakan sumber daya duniawinya dengan bijak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang tidak terduga.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan untuk Refleksi:

Apakah kita siap untuk kedatangan Tuhan kita? Dalam keadaan apa Dia akan menemukan kita hari ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri? Langkah praktis apa yang kita ambil untuk berinvestasi dalam masa depan kekal kita? Hal-hal duniawi apa yang kita ikat? Apakah uang, kenyamanan, status, atau kebanggaan? Bagaimana kita bisa terbebas dari ikatan-ikatan ini? Bagaimana kita bisa mengalihkan sumber daya ini untuk melayani Tuhan dan orang lain, menimbun “harta di surga”?

Salib yang Menyembuhkan

Pesta Salib Suci [C]

14 September 2025

Yohanes 3:13-17

Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

Pesta Salib Suci [C]
14 September 2025
Yohanes 3:13-17

Salib adalah simbol universal Kristiani. Orang-orang Kristen mengenakannya sebagai bentuk perhiasan, seperti kalung, cincin, dan anting-anting, baik sebagai tanda devosi atau iman, maupun sekadar sebagai fashion. Gereja, dan berbagai institusi Kristiani memiliki salib sebagai penandanya. Namun, meskipun kita mungkin sudah familiar, sejarah dan makna mendalam salib sering kali diabaikan.

Secara historis, salib bukanlah simbol keagamaan, melainkan alat teror. Salib adalah metode eksekusi Romawi yang ditujukan untuk penjahat dan pemberontak. Orang yang dihukum akan ditelanjangi, dipaku pada tiang kayu besar, dan dibiarkan mati perlahan, secara publik, terpapar elemen alam dan juga hujatan. Itu adalah simbol kekejaman dan kebengisan manusia. Inilah siksaan yang dialami Yesus.

Namun, Yesus tidak melarikan diri dari salib-Nya. Ia menerimanya, dan melalui kebangkitan-Nya, Ia mengubah salib dari alat penyiksaan menjadi sarana belas kasihan dan penyembuhan Allah. Dalam Injil, Yesus sendiri membuat hubungan tipologis antara salib-Nya dan ular tembaga yang diangkat oleh Musa di Buku Bilangan (Bil 21). Sama seperti orang-orang Israel yang tersengat ular dan memandang ular tembaga disembuhkan, semua yang memandang salib Yesus dengan iman akan diselamatkan dari maut.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan mendalam: bagaimana salib menyembuhkan kita?

Pertama, salib menyembuhkan melalui kasih. Ketika kita memandang salib, kita melihat bukti kasih Allah yang paling luhur: Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia, dan menyerahkan diri-Nya sebagai korban demi mendamaikan kita dengan-Nya. Seperti yang ditulis Santo Paulus, “Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, karena ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rom 5:8).

Setiap dosa melukai jiwa kita dan memisahkan kita dari Allah. Setiap  kali kita melihat salib Kristus, ini menjadi panggilan permanen akan kasih Allah untuk bertobat dan kembali kepada-Nya. Dan rahmat perdamaian dan penyembuhan dari Salib mengalir kepada kita terutama melalui Baptisan dan Sakramen Rekonsiliasi.

Kedua, salib menyembuhkan melalui kehadiran Allah. Salib menunjukkan bahwa Allah bukanlah ilah yang jauh, terpisah dari penderitaan kita. Ia memilih untuk menjadi salah satu dari kita, untuk berbagi pengalaman manusiawi kita dengan segala penderitaannya. Di salib, Yesus menerima penderitaan manusia yang paling berat, menunjukkan bahwa ketika kita menyatukan penderitaan kita dengan-Nya, salib kita sendiri dapat diubah dan disembuhkan.

Ketika penderitaan menimpa kita, mudah untuk mengeluh dan putus asa. Tetapi salib mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian. Sama seperti Yesus menggunakan penderitaan-Nya untuk menjadi berkat bagi dunia, kita pun dapat menawarkan penderitaan kita kepada Allah dan menjadi sumber kekuatan dan belas kasihan bagi orang lain.

St. Fransiskus dari Assisi pernah mencari kemuliaan sebagai seorang ksatria. Setelah ditangkap dalam pertempuran dan jatuh sakit parah, ia pulih secara fisik tetapi masih merasa kekosongan rohani. Segalanya berubah saat ia berdoa di sebuah kapel yang rusak. Ia melihat penglihatan Yesus di salib, yang berkata kepadanya, “Fransiskus, pergilah dan perbaiki rumah-Ku yang sedang runtuh.” Momen ini memberikan penyembuhan sejati yang dibutuhkan Fransiskus, membantunya menemukan jati dirinya dan apa yang seharusnya ia lakukan, yaitu menjadi alat Tuhan untuk damai dan penyembuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa salib-salib dalam hidup kita? Bagaimana salib Yesus menyembuhkan kita? Apakah kita menjadi sarana penyembuhan Tuhan bagi orang lain juga? Bagaimana caranya?

Membenci dan Mengasihi

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [C]

7 September 2025

Lukas 14:25-33

Kita kini dihadapkan pada salah satu pernyataan Yesus yang paling sulit dipahami: Ia menuntut agar kita “membenci” orang tua, pasangan, saudara kandung, bahkan anak-anak kita sendiri. Bagaimana kita memahami perkataan yang sulit ini?

Untuk menemukan jawabannya, kita harus mempertimbangkan tiga unsur utama: pernyataan lengkap Yesus, makna kata “benci”, dan konteks yang lebih luas dari kehidupan dan misi Yesus.

1. Pernyataan Lengkap

Pertama, kita perlu membaca kalimat secara utuh. Yesus berkata, “Jika ada orang yang datang kepada-Ku tanpa membenci ayah dan ibunya, istri dan anak-anaknya, saudara-saudaranya, bahkan hidupnya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Ini bukan perintah umum untuk semua orang, tetapi syarat khusus yang ditujukan kepada mereka yang ingin menjadi pengikut-Nya yang sejati.

2. Arti Alkitabiah dari “Benci”

Kata “benci” di sini (dari bahasa Yunani μισέω – miseo) tidak mengimplikasikan perasaan kebencian yang kuat atau permusuhan. Dalam Alkitab, kata ini sering memiliki makna perbandingan: “mencintai lebih sedikit” agar dapat memberikan perlakuan istimewa kepada sesuatu yang lain (lihat Kejadian 29:31, Ulangan 21:15-16, Lukas 16:13). Dalam konteks ini, Yesus menuntut agar pengikut-Nya menjadikan-Nya prioritas mutlak. Dia tidak meminta kita untuk memusuhi keluarga kita, tetapi untuk mencintai-Nya sedemikian rupa sehingga semua cinta lainnya—bahkan untuk hidup kita sendiri—terasa seperti bukan prioritas utama. Cara yang lebih sederhana untuk mengatakannya adalah: Kecuali kita mencintai Yesus lebih dari segala sesuatu dan semua orang lain, kita tidak dapat menjadi murid-Nya.

3. Konteks yang Lebih Luas

Akhirnya, kita harus ingat bahwa Yesus berbicara saat Dia berjalan menuju Yerusalem, tempat Dia akan menghadapi penderitaan dan kematian-Nya di salib. Mengikuti-Nya berarti berbagi dalam penderitaan-Nya. Hal ini hanya mungkin jika seorang murid memprioritaskan Yesus di atas segalanya. Kita melihat hal ini tercermin dalam tokoh seperti Maria, ibu-Nya, yang menolak untuk bersembunyi tetapi berdiri teguh di kaki salib, berbagi dalam penderitaan-Nya. Murid-murid lain, seperti Yohanes dan Maria Magdalena, juga mengikuti-Nya hingga akhir, menunjukkan prioritas kasih ini.

Ajaran yang keras ini tetap berlaku bagi kita hari ini. Mengikuti Yesus hingga akhir membutuhkan cinta kepada-Nya di atas segalanya. Meskipun tidak semua orang dipanggil untuk menjadi martir seperti Santo Ignatius dari Antiokhia yang dimakan singa atau Santo Fransiskus de Capillas yang disiksa dan dibunuh saat memberitakan Yesus di Tiongkok, setiap murid dipanggil untuk menjadikan Yesus sebagai prioritas utama dalam hidupnya.

Ini tidak berarti kita harus berdoa setiap detik. Sebaliknya, ini berarti membuat keputusan sehari-hari yang mencerminkan cinta kita kepada Yesus dan keinginan kita untuk berkenan di hadapan Allah. Ini bisa sesederhana: Memilih untuk menghindari dosa dan keburukan; Menolak menjadi batu sandungan bagi orang lain; Menjadikan Misa Minggu sebagai prioritas, bahkan saat berlibur; Dengan lembut mengajak anggota keluarga untuk mengenal Yesus lebih dalam.

Mencintai Yesus adalah keputusan sadar dan harian untuk memilih apa yang mengembangkan kekudusan kita dan memperdalam hubungan kita dengan-Nya.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita secara konkret menunjukkan cinta kita kepada Yesus dalam rutinitas harian kita? Apakah tindakan dan kata-kata kita mendorong orang lain untuk mencintai Yesus? Apakah perilaku kita membuat seseorang sulit untuk mendekati Yesus?

Kehormatan dan Kekudusan

Minggu ke-22 dalam Masa Biasa [C]

31 Agustus 2025

Lukas 14:1,7-14

Kehormatan adalah sebuah konsep dasar yang membedakan kita sebagai manusia. Konsep ini membimbing perilaku dan tindakan kita, dan dalam kasus-kasus ekstrem, dapat juga mendorong orang untuk mati atau bahkan menghabisi nyawa orang lain.

Menentukan makna  dari “kehormatan” adalah hal yang tidak mudah karena konsep ini tertanam dalam identitas individu dan komunitas kita sebagai manusia. Kehormatan merujuk pencapaian pada nilai-nilai luhur yang kita junjung tinggi sebagai manusia. Meskipun nilai-nilai ini dapat bervariasi antarbudaya, beberapa di antaranya diakui secara universal seperti kesetiaan, keberanian, kejujuran, kerja keras, dan integritas moral. Kehormatan diperoleh ketika orang lain mengakui usaha kita untuk mencapai nilai-nilai luhur tersebut. Misalnya, seorang siswa menerima “kehormatan” saat dia menerima medali sebagai penghargaan atas prestasi akademiknya yang diraih dengan susah payah.

Pencarian kehormatan, oleh karena itu, adalah pencarian akan idealisme tertinggi kita, sebuah perjuangan menuju keagungan yang membuat kita lebih manusiawi. Sebaliknya, ketidakhormatan menandakan kegagalan dalam memegang teguh nilai-nilai luhur tersebut. Kita kehilangan kehormatan ketika kita mengkhianati seseorang yang kita berjanji untuk setia, atau ketiak kita menghindari kesulitan seperti pengecut. Beberapa masyarakat menghargai kehormatan begitu dalam sehingga mereka melihat kehidupan yang tidak terhormat, seperti kehidupan yang dipenuhi dengan ketidakjujuran, ketidaksetiaan, dan pengecut, sebagai sesuatu yang lebih buruk daripada hidup seekor hewan. Selama Perang Dunia II, banyak tentara dan warga sipil Jepang memilih bunuh diri daripada menanggung malu ditangkap atau pulang dalam kekalahan.

Sebagai Tuhan kita, Yesus memahami bahwa kehormatan merupakan hal yang mendasar bagi kemanusiaan. Namun, Dia juga menyadari bagaimana dosa dapat merusak dan memutarbalikkan arti kehormatan tersebut. Dalam Injil, Yesus mengkritik mereka yang mencari tempat kehormatan tanpa berusaha mewujudkan nilai-nilai yang diwakilinya. Yesus mengajarkan bahwa nilai sejati dari sebuah tempat duduk di perjamuan bukanlah kemegahannya, melainkan keutamaan-keutamaan dari orang yang duduk di sana. Yang lebih penting lagi, Yesus memanggil kita untuk mengejar idealisme sejati dan menolak nilai-nilai yang korup, memperkenalkan kerendahan hati sebagai keutamaan yang mendatangkan kehormatan yang sejati.

Kritik Yesus terhadap orang-orang pada zamannya tetap sangat relevan hingga hari ini. Di masyarakat pascamodern, kita sering mengganti “kursi kehormatan” dengan hal-hal lain seperti merek pakaian, kendaraan, dan jumlah rekening bank. Meskipun harta benda sejatinya tidak jahat, mereka menjadi berbahaya ketika kita menganggapnya sebagai standar kehormatan kita, dan dalam prosesnya, kita mengorbankan idealisme sejati seperti kejujuran dan kesetiaan untuk mendapatkannya. Kesetiaan suami-istri pernah sangat dihormati, tetapi kini beberapa budaya memuji kebebasan seksual. Kita pernah memuji kerja keras, tetapi kini seringkali hanya merayakan hasil akhir, bahkan jika dicapai melalui tipu daya.

Mengikuti Yesus berarti terus-menerus mengkaji nilai-nilai kita. Ini berarti menolak nilai-nilai yang tidak membawa pada kemajuan manusia dan menghidupi nilai-nilai yang memupuk pertumbuhan sejati. Yesus, Tuhan kita, tidak menginginkan apa pun selain pertumbuhan menyeluruh kita sebagai manusia yang pada akhirnya membawa kita pada kepenuhan hidup sebagai manusia dan kekudusan.

Surabaya

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Idealisme apa yang kita perjuangkan? Apakah idealisme tersebut mendukung perkembangan kita sebagai manusia? Apakah kita merasa malu ketika gagal mencapai idealisme kita atau ketika kita berbuat dosa? Apakah kita mengajarkan anak-anak kita tentang arti sebenarnya dari rasa kehormatan yang sejati?

Disiplin dan Kasih Seorang Bapa

Minggu ke-21 dalam Masa Biasa [C]

24 Agustus 2025

Ibrani 12:5-7, 11-13

Dalam Surat kepada Orang Ibrani, kita diingatkan bahwa Allah berelasi dengan kita sebagai Bapa yang baik yang mendidik anak-anak-Nya melalui disiplin. Pada pandangan pertama, hal ini tampak sederhana. Orang tua, secara khusus, seorang bapa, mendidik anak-anak mereka melalui aturan dan konsekuensi. Namun, ketika diterapkan pada hubungan kita dengan Allah, konsep ini mengungkapkan kebenaran yang mendalam tentang kehendak-Nya bagi pertumbuhan dan keselamatan kita.

1. Landasan dalam Pengajaran Yesus

Penulis Surat Ibrani mendasarkan gagasan ini pada wahyu Yesus sendiri. Dalam Perjanjian Lama, Allah secara simbolis disebut “Bapa” dari bangsa Israel (Kel 4:22; Ul 32:6; Yes 63:16; Yer 31:9). Seperti seorang ayah yang baik, Allah memberikan kebaikan kepada bangsa Israel dan melindungi mereka dari para musuh. Namun, Yesus mengungkapkan sesuatu yang sepenuhnya baru: Ia secara konsisten dan unik menyebut Allah sebagai Bapa-Nya karena Ia adalah Anak Tunggal yang kekal (Yoh 3:16; 5:17; 10:30). Lebih dari itu, Yesus menghendaki agar kita turut serta dalam relasi Bapa-anak ini, dan mengajarkan kita untuk memanggil Allah sebagai “Bapa Kami” (Mat 6:9; Luk 11:2; Yoh 20:17). St. Paulus menerangkan lebih lanjut bahwa melalui pembaptisan dan Roh Kudus, kita bukan hanya hamba, tetapi kita adalah anak-anak Allah melalui adopsi (Rom 8:14-17).

2. Penderitaan Bukanlah Hukuman

Surat kepada orang-orang Ibrani membuat perbedaan yang penting: penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi bukanlah hukuman ilahi. Allah mengizinkan cobaan karena Dia tahu bahwa cobaan tersebut pada akhirnya akan bermanfaat bagi kita. Tema ini muncul dalam Perjanjian Lama, di mana orang benar seperti Ayub berusaha memahami penderitaan besar yang dialaminya, meskipun dia tidak berdosa (Ayub 5:17-18). Perjanjian Baru mengungkapkan alasan yang lebih dalam: Allah adalah Bapa yang penuh kasih yang mengizinkan kesusahan agar anak-anak-Nya dapat tumbuh dan berkembang dalam kekudusan.

3. Kasih dan Disiplin Bukanlah Oposisi

Penulis melanjutkan, “Sebab siapa yang dikasihi Tuhan, dia didisiplinkan; dia mencambuk setiap anak yang diakui-Nya” (Ibrani 12:6). Ini menantang distorsi modern tentang cinta, yang menyarankan bahwa mencintai seseorang berarti memberi mereka segala yang mereka inginkan, terlepas dari apakah hal-hal itu bermanfaat atau justru merugikan bagi mereka. Kasih sejati itu bijaksana. Seorang ayah yang baik memberi anak apa yang mereka butuhkan untuk pertumbuhan yang autentik, meskipun itu membawa kesulitan bagi sang anak. Bapa Surgawi yang Mahabijaksana tahu apa yang terbaik untuk kebaikan kekal kita, dan Dia kadang-kadang menggunakan cobaan hidup untuk membentuk kita untuk hidup kekal.

Pemahaman ini, bahwa disiplin Tuhan adalah tindakan kasih-Nya, telah memberdayakan banyak orang kudus untuk menanggung cobaan dengan sukacita. Santa Katarina dari Siena, yang menanggung penderitaan fisik, emosional, dan spiritual (termasuk stigmata), mengajarkan bahwa “Tidak ada hal besar yang pernah dicapai tanpa banyak menanggung penderitaan.” Santa Thérèse dari Lisieux menghidupi “Jalan Kecil”-nya, dengan menerima ketidaknyamanan sehari-hari dan perjuangan menyakitkan melawan tuberkulosis tanpa keluhan. Dia menyerahkan semuanya dengan sukacita, dan berkata, “Penderitaan yang ditanggung dengan sukacita untuk orang lain lebih banyak mengubah orang daripada khotbah.” Bagi dia, ranjang sakitnya menjadi tempat misi dan kasih.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan untuk Refleksi:

Apa saja ujian yang sedang kita alami saat ini? Bagaimana kita memandang penderitaan ini: sebagai hukuman, atau sebagai bagian dari rencana kasih Allah untuk pertumbuhan kita? Apa reaksi tipikal kita terhadap kesulitan? Apakah kita merespons dengan keluhan dan amarah, atau dengan kepercayaan dan syukur? Bisakah kita belajar melihat tangan kasih Bapa Surgawi bahkan dalam penderitaan kita?

Api Yesus

Minggu ke-20 dalam Masa Biasa [C]

17 Agustus 2025

Lukas 12:49-53

Ketika Yesus berkata, “Aku datang untuk membakar bumi ini, dan betapa Aku menginginkan api itu sudah berkobar!” (Lukas 12:49), Dia menggunakan api sebagai simbol Alkitab yang sarat dengan makna rohani yang mendalam. Namun, apa arti “api” yang dimaksud Yesus di sini?

Api dalam Kitab Suci adalah gambaran yang mewakili kehadiran Allah, penghakiman, penyucian, dan juga kuasa transformatif Roh Kudus. Dengan mengkaji dimensi-dimensi ini, kita dapat memahami lebih baik misi Kristus dan kerinduan-Nya akan api yang akan memperbaharui dunia.

1. Api sebagai Kehadiran Allah yang Nyata

Di Perjanjian Lama, api berfungsi sebagai tanda terlihat dari kekudusan dan kedekatan Allah. Ketika Musa menjumpai semak yang berkobar namun  tidak menghanguskannya, api ini mengungkapkan kehadiran kudus Allah yang  juga menjadi tanda awal pembebasan Israel (Kel 3:2–5). Kemudian, saat Israel berziarah di padang gurun, Allah memimpin mereka dengan tiang api, sebagai sebuah pengingat akan perlindungan dan bimbingan-Nya (Kel 13:21–22). Di Gunung Sinai, Allah turun dengan api, dan hal ini menandakan kehadiran-Nya yang megah namun dekat dengan umat-Nya (Kel 19:18). Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa api melambangkan keterlibatan aktif Allah dalam sejarah manusia. Yesus, sang api ilahi, adalah puncak dan kesempurnaan kehadiran aktif Allah di dunia.

2. Api sebagai Hukuman Ilahi

Api juga melambangkan keadilan Allah terhadap dosa. Kehancuran Sodom dan Gomora oleh “belerang dan api” (Kej 19:24) menunjukkan murka-Nya terhadap kejahatan. Demikian pula, Nadab dan Abihu, anak-anak Harun, sang imam besar, tiba-tiba dimakan oleh api suci (Im 10:1-2) saat mereka mempersembahkan api dan dupa yang tidak sah. Hal ini menggambarkan betapa seriusnya melayani Allah, dan konsekuensi serius saat kita tidak menghormati kehadiran Allah. Dari kisah-kisah ini, kita bisa melihat bahwa kata-kata Yesus dalam Lukas 12 mengandung peringatan: Kedatangan-Nya sebagai api akan memicu pemisahan antara mereka yang menerima kebenaran Allah dan mereka yang menolaknya (12:51–53).

3. Api sebagai Penyucian

Namun, api tidak hanya merusak; ia juga menyucikan. Pada awal pelayanannya, bibir yang najis Yesaya disucikan oleh bara api yang menyala (Yes 6:6–7). Sementara itu, nabi Maleakhi bernubuat bahwa Allah akan menyucikan umat-Nya seperti api (Mal 3:2–3). Dalam Perjanjian Baru, Paulus mengulang gagasan ini, menggambarkan bagaimana “Hari Tuhan” akan menguji setiap perbuatan manusia dengan api, membakar apa yang tidak berguna sambil menjaga apa yang kekal (1 Korintus 3:12–15). Api Yesus, oleh karena itu, adalah panggilan kepada kekudusan dan pertobatan.

4. Api sebagai Kuasa Roh Kudus

Akhirnya, api melambangkan kehadiran dinamis Roh Kudus. Pada hari Pentekosta, lidah-lidah api turun atas para murid, memenuhi mereka dengan Roh Kudus dan memberdayakan mereka untuk memberitakan Injil dengan berani (Kis 2:1-4). Hal ini memenuhi nubuat Yohanes Pembaptis bahwa Yesus akan membaptis “dengan Roh Kudus dan api” (Mat 3:11). Ketika Yesus berbicara tentang membakar bumi, Dia berbicara tentang pencurahan Roh Kudus, yang adalah api rohani yang akan membakar semangat pemberitaan Injil, mengubah hidup, dan menyebarkan Injil ke seluruh bangsa.

Keinginan Kristus untuk “membakar bumi” adalah ringkasan dari seluruh misinya: untuk mengungkapkan kehadiran Allah, menghancurkan dosa dengan keadilan, memurnikan orang beriman, dan mengutus Roh Kudus untuk memberdayakan Gereja.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita telah mengalami kehadiran Allah sebagai api yang membimbing atau memurnikan dalam hidup kita? Apakah “api Roh Kudus” mendorong kita untuk berbagi Kristus dengan orang lain? Jika tidak, apa yang menghalangi kita? Di bidang mana kita membutuhkan Yesus untuk menyempurnakan kita, membakar dosa dan menerangi iman kita?