Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]
Pada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.
Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.
Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.
Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.
Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Kebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Dalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).
The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?
Pencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?
Mamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.
Cinta kasih bukanlah untuk orang yang lemah hatinya. Mengasihi itu sulit, bahkan bagi mereka yang seharusnya kita cintai secara alami dan mudah. Kadang-kadang, kita menyesal telah mengikat diri dalam pernikahan dengan seseorang yang moody, banyak tuntutan dan tidak lagi menarik. Kadang-kadang, kita ingin menendang keluar anak-anak yang menjadi keras kepala dan susah diatur. Kadang-kadang, kita, kaum berjubah, juga berpikir bahwa kita telah memasuki Kongregasi atau biara yang salah.
Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.
Yesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Yesus tidak berkata kita ‘seperti’ garam dunia. Keduanya sangat berbeda, seperti ‘saya adalah Bayu’ jauh berbeda dengan ‘saya seperti Bayu.’ Kalimat pertama memberi hubungan esensial antara subjek dan predikat, sedangkan kalimat kedua hanya hubungan kesamaan yang sementara. Yesus pun tahu persis hal ini.