Maka Menangislah Yesus

Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]

jesus-weptPada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.

Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.

Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.

Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.

Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Why Temptation?

First Sunday of Lent (Year A). March 5, 2017 [Matthew 4:1-11]

“Then Jesus was led by the Spirit into the desert to be tempted by the devil. (Mat 4:1)”

jesus-temptation-2The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?

The book of Genesis narrates to us that we were created on the sixth day (see Gen 1:24ff). We were the summit of creation as we were made in the image of God. Yet, the Bible says that we were not alone on the sixth day. God also fashioned the animals in this day. We were situated between the animals and the image of God. This is a symbolic narrative that we have both the animal side and the spiritual side. Yet, I am not saying that animals are bad. The animal-lovers will rally against me! This means we share what are common to animals: our physical body, emotions, and instinct. A Greek Philosopher, Aristotle correctly defined human being as ‘rational animal’. The purpose of creation is that we nurture all our humanity, both physical and spiritual, so that we may enter into the rest with God on the seventh day.

Unfortunately, that is not the end of the story. The evil forces also will not let us enter God’s rest effortlessly. They will continue to feed the ‘animal’ in us to the point that our spiritual aspect is neglected and overcome. The temptation is an attempt by the Satan and his cohorts to drag us way below the situation of an animal.

In the Gospel, we learn that Satan tempted Jesus to use His divine power to produce bread; to wield his might to amaze the crowd and draw praise to Himself; to submit to Satan so that He receives all glory and honor. Satan was tempting Jesus to yield to His physical, emotional and psychological needs by manipulating His spiritual power. As Satan did to Jesus, he will do to us. We all need food, security, and recognition, and the devil and his army will make sure that we will sacrifice our spiritual identity for these basic needs.

How to counter temptation? Jesus gives us the answer: the Word of God. We need to continue to feed our spiritual life with His Word. I am elated that more and more people, even the laity, study the Sacred Scriptures. Yet, we should be cautious as well since Satan also uses the Bible to deceive us and achieve his end. Thus, Lenten season calls us to intensify our efforts to study the Word of God together and within the Church. In Jesus, the Word of God, we shake off the devil and all his works.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mamon

Minggu pada Pekan Biasa ke-8 (Tahun A) 26 Februari 2017 [Matius 6:24-34]

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat 6:24)

slaveMamon dalam bahasa Aram, bahasa asli Yesus, berarti kekayaan, uang atau bahkan properti. Dan tidak ada yang dapat melayani Allah yang benar dan Mamon bersamaan. Dalam bahasa Yunani, Matius memilih kata yang lebih kuat dari “melayani” Mamon, tapi ia mengunakan untuk ‘menjadi budak’ Mamon. Seorang budak adalah seseorang yang tidak lagi memiliki kebebasan dan kehidupannya tergantung pada kemauan tuannya. Menarik untuk dicatat adalah bahwa Mamon itu bukan makhluk hidup, namun, banyak orang mau meletakkan kebebasan mereka untuk menjadi budaknya. Hal ini tidak rasional dan pada kenyataannya, tak terpikirkan, tetapi kenyataannya banyak orang yang memilih kekayaan dan melakukan hal-hal yang tidak manusiawi demi Mamon.

Bukan hal baru di banyak negara, pejabat pemerintah terlibat dalam korupsi besar-besaran, sementara warga biasa harus bekerja keras dan membayar pajak. Di Brazil, Filipina dan negara-negara lain, petani-petani kecil diusir dari rumah dan tanah mereka oleh tuan tanah yang serakah. Kita juga menghadapi Realitas suram perdagangan manusia yang terselubung namun  sangat besar. Anak-anak dan perempuan diculik dan diperdagangkan sebagai komoditas, digunakan sebagai pengantar narkoba atau objek seks. Sementara yang lain menghadapi kematian karena organ tubuh mereka dijual di pasar gelap. Hutan dan pegunungan yang indah hancur karena penebangan liar dan pertambangan ilegal. Hal ini menyebabkan kehancuran ekologi, satwa terancam punah, sungai dan laut menjadi situs limbah beracun raksasa, dan tanah menjadi sangat tandus dan mati.

Penyembahan Mamon tidak hanya berlangsung di luar sana, tapi tanpa disadari, hal ini juga menjadi malapetaka di rumah dan keluarga kita sendiri. Siapa di antara kita yang kecanduan kerja dan mulai mengesampingkan tanggung jawab kita dalam keluarga dan mengabaikan kesehatan kita? Siapa di antara kita mulai berpikir bahwa memberikan uang kepada anak-anak kita sudah cukup untuk pertumbuhan mereka? Kadang-kadang, para imam dan rohaniawan terjebak dalam mentalitas yang sama. Kami melakukan pelayanan seolah-olah tidak ada hari esok. Kita mulai menyisihkan dasar-dasar seperti doa, studi, dan komunitas.

St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa kekayaan dan uang tidak dapat memuaskan kerinduan terdalam kita. Dia berpendapat bahwa tujuan kekayaan adalah untuk memenuhi kebutuhan duniawi kita yang fana, tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritual dan tertinggi kita. Masalah sebenarnya terjadi ketika kita keliru dan menjadikan kekayaan sebagai pemenuhan keinginan kita yang tak terbatas. Kita membuat Mamon tuhan. Kita meninggalkan Allah yang benar dan semua masalah serius pun dating karena kita mulai menjadi seperti Mamon, tidak rasional, tidak berpikir dan tidak hidup.

Yesus memanggil kita untuk kembali ke Allah yang benar. Bentuk lain dari mamon, seperti kekayaan, uang, gadget, properti, mobil, sex, prestise, pekerjaan hanya menyeret kita ke dalam perbudakan dan kesengsaraan. Sulit memang karena kenikmatan instan yang kita terima, namun, hal ini perlu karena hanya Tuhan yang bisa membawa kita kebahagiaan sejati dan pembebasan. Kita dibebaskan dari ilusi keperkasaan kita, dari berlebihan ego-sentrisme kita. Tidak hanya kita dibebaskan, tetapi juga keluarga dan masyarakat kita, lingkungan kita dan bumi kita juga terbebaskan. Ingin membuat dunia kita menjadi tempat yang lebih baik? Lepaskanlah mamon dan biarkan Allah menjadi Allah kita!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih, bukan untuk yang Lemah Hati

Ketujuh Minggu Biasa (Tahun A). 19 Februari 2017 [Matius 5: 38-48]

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat 5:44)”

love-your-enemies-2Cinta kasih bukanlah untuk orang yang lemah hatinya. Mengasihi itu sulit, bahkan bagi mereka yang seharusnya kita cintai secara alami dan mudah. Kadang-kadang, kita menyesal telah mengikat diri dalam pernikahan dengan seseorang yang moody, banyak tuntutan dan tidak lagi menarik. Kadang-kadang, kita ingin menendang keluar anak-anak yang menjadi keras kepala dan susah diatur. Kadang-kadang, kita, kaum berjubah, juga berpikir bahwa kita telah memasuki Kongregasi atau biara yang salah.

Namun, Yesus ingin kita pergi lebih jauh, dan bahkan mengasihi musuh kita. Jika kita kesulitan untuk mengasihi orang yang dekat dengan hati kita, bagaimana mungkin untuk mengasihi mereka yang kita benci? Bagaimana kita akan mengasihi orang-orang yang memberi banyak masalah di kantor atau di sekolah? Apakah bisa untuk bersikap baik kepada orang-orang yang menyebarkan gosip jahat tentang kita? Mengapa kita harus bersikap baik kepada orang-orang yang telah menipu kita dan bahkan mengeksploitasi kita? Apakah kita perlu memaafkan mereka yang telah melakukan tindak kekerasan dan memberi kita pengalaman traumatis yang permanen?

Meskipun sangat sulit untuk mengasihi, bahkan hampir tidak mungkin, Yesus tetap pada pendirian-Nya. Dia tahu siapa kita, jauh lebih baik kita mengetahui diri kita sendiri. Kita diciptakan dalam citra Allah. Dan St. Yohanes mengingatkan kita bahwa Allah adalah kasih (1 Yoh 4: 8). Oleh karena itu, kita dibuat dalam citra Kasih. Ini adalah identitas kita untuk mengasihi, dan hanya dalam mengasihi kita menemukan kebahagiaan. Namun, bagaimana kita mengasihi orang yang kita benci?

Ketika Yesus memerintahkan untuk mengasihi, Injil sengaja memilih kata agape’ untuk kasih. Dalam bahasa Yunani, Agape sedikit berbeda dari jenis cinta yang lain seperti philia dan eros. Jika philia dan eros adalah cinta yang lahir dari perasaan ketertarikan kita yang alamiah untuk seseorang, agape pada dasarnya berasal dari kekuatan kehendak, keberanian dan kebebasan. Lebih mudah untuk mencintai seseorang kita sukai, tapi kita tidak diciptakan hanya dalam citra philia dan eros, kita adalah citra dari Agape. Kita memiliki kemampuan dalam diri kita untuk mengasihi meskipun ada perasaan tidak menyenangkan terhadap seseorang.

St. Thomas Aquinas mendefinisikan bahwa ‘mengasihi adalah kemauan untuk berbuat baik pada orang lain. Kita tidak perlu merasa baik kepada seseorang, untuk berbuat baik kepadanya. Dalam tradisi Gereja, kita memiliki berbagai karya belas kasih, dan semua ini tidak bisa jalan jika hanya berdasarkan emosi. Banyak keuskupan dan paroki di Filipina secara aktif membantu rehabilitasi pecandu obat terlarang di masyarakat. Tentunya, tidak ada yang suka dengan pecandu, beberapa bahkan ingin mereka mati, tapi kenapa yang para anggota Gereja terus membantu mereka, meskipun dikritik? Karena Yesus ingin kita mengasihi mereka.

Kasih sejati itu sulit dan bukan untuk mereka yang lemah hati. Kasih ini menuntut keberanian, kekuatan, dan pengorbanan. Namun, tanpa kasih, apa gunanya hidup? Danny Thomas, seorang aktor dan produser kawakan, mengatakan, “Semua dilahirkan karena suatu alasan, tetapi kita semua tidak mengetahui apa. Sukses dalam hidup tidak ada hubungannya dengan apa yang Anda dapatkan dalam hidup atau capai untuk diri sendiri. Hidup adalah apa yang Anda lakukan untuk orang lain.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lebih Baik Dari Farisi

Minggu ke-6 dalam Masa Biasa. 12 Februari 2017 [Matius 5: 20-37]

“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Mat 5:20)”

pharisees2Kata ‘Farisi’ memiliki konotasi negatif bagi kita. Dalam Injil, mereka adalah lawan-lawan Yesus. Mereka sering berdebat dengan Yesus dan Yesus mengkritik cara hidup mereka. Bahkan beberapa merencanakan untuk menyingkirkan Yesus (lihat Mat 12:14). Pada zaman sekarang, istilah ‘Farisi’ sering kali diasosiasikan dengan kemunafikan.

Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lain, orang-orang Farisi tidak seutuhnya jahat. Dalam zaman Yesus, mereka memiliki peran penting, yakni merevolusi masyarakat Yahudi. Apa yang mereka lakukan? Mereka membawa Hukum Taurat, berbagai ritual dan praktek devosi dari Bait Allah di Yerusalem ke komunitas-komunitas dan keluarga-keluarga Yahudi di Israel. Banyak orang-orang Farisi mengelola rumah-rumah ibadat setempat di berbagai penjuru Palestina dan memastikan bahwa orang-orang akan melaksanakan dengan baik Hukum Taurat dan tradisi, seperti Sabat dan ritual pembersihan. Berbeda dengan imam yang bertugas di Bait Allah, orang-orang Farisi adalah orang-orang awam yang mencintai Hukum Taurat di dalam kesederhanaan hidup sehari-hari mereka. Dengan demikian, ketika Bait Allah dihancurkan oleh tentara Romawi pada tahun 70 Masehi, kasta imam juga menghilang, tapi budaya dan agama Yahudi terus hidup karena orang-orang Farisi ini yang adalah orang-orang awam.

Yesus mengkritik mereka bukan karena mereka mencintai Hukum Taurat dan tradisi, tetapi bagaimana mereka ‘menginterpretasi’ Hukum tersebut. Tak diragukan lagi orang-orang Farisi mencintai Hukum Musa, tetapi bahayanya adalah mereka bisa jatuh ke dalam fundamentalisme. Mereka memutlakkan setiap huruf Hukum Taurat dan tradisi, dan melupakan tujuan utama Hukum tersebut: melayani: Allah dan sesama manusia. Untuk menjadi fundamentalis itu mudah karena kita memilih untuk mengikuti huruf-huruf mati yang tertera di Kitab suci. Jauh lebih sulit untuk berdialog dengan Dia yang ada di balik huruf-huruf tersebut dan mereka yang ada di depan huruf-huruf tersebut.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang bertindak seperti orang Farisi. Seperti mereka, kita mengasihi Tuhan, Hukum-Nya dan Gereja-Nya, tapi kadang-kadang, kita terlalu sibuk dengan hal-hal sepele. Saya sedih ketika tidak sedikit orang berdebat tentang bagaimana menerima Ekaristi Kudus, berlutut, berdiri, dengan tangan atau langsung ke mulut. Beberapa menuduh misa Karismatik itu sesat. Beberapa lainnya menyatakan bahwa Misa Latin sebagai ultra-konservatif. Saya juga sedih dengan seorang teman dan juga apologis Katolik muda di Filipina yang rajin berdebat di internet, namun tidak melakukan apa-apa untuk membantu ibunya yang sedang sakit. Ya, Kitab Suci dan Liturgi merupakan bagian penting dari iman kita dan juga sarana keselamatan, tetapi jika kita terpecah-belah dan menjadi fundamentalis-fundamentalis kecil, kita melepas tujuan utama iman kita.

Kita lupa untuk mengubah kasih kita kepada Allah dan Gereja-Nya ke dalam kasih bagi orang lain. St. Dominikus de Guzman menjual buku-bukunya yang mahal terbuat dari kulit binatang sehingga ia bisa memberi makan orang-orang miskin, dan berkata, “Apakah kamu mau saya belajar dari ini kulit mati ini ketika kulit hidup mati kelaparan?” Siapa di antara kita yang terlibat memberi makan orang miskin sekitar kita? Siapa di antara kita melakukan sesuatu yang berarti bagi korban ketidakadilan di masyarakat? Siapa di antara kita memiliki kesabaran terhadap saudara dan saudari kita yang bermasalah dalam keluarga atau masyarakat? Ingat bahwa kita dipanggil untuk melampaui kebenaran orang-orang Farisi.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Mengapa Garam?

Minggu Ke-5 dalam Pekan Biasa. 5 Februari 2017 [Matius 5:13-16]

Kamu adalah garam dunia (Mat 5:13).

PrintYesus mengatakan bahwa kita adalah garam dunia. Yesus tidak berkata kita ‘seperti’ garam dunia. Keduanya sangat berbeda, seperti ‘saya adalah Bayu’ jauh berbeda dengan ‘saya seperti Bayu.’ Kalimat pertama memberi hubungan esensial antara subjek dan predikat, sedangkan kalimat kedua hanya hubungan kesamaan yang sementara. Yesus pun tahu persis hal ini.

Yesus melihat bahwa menjadi garam dunia adalah bagian sangat penting dan menentukan dari identitas dan misi para murid-Nya. Kita tidak bisa menjadi garam dunia hanya pada hari kerja dan berubah menjadi gula dalam akhir pekan. Kita adalah garam setiap detik dari kehidupan kita. Ini adalah apa yang kita sebut panggilan. Menjadi garam dunia adalah panggilan kita.

Biasanya, garam digunakan sebagai bumbu. Kita tidak suka jika makanan terlalu asin, tapi kita lebih tidak suka jika makanan hambar. Saat saya masih di Seminari Mertoyudan, kita makan makanan tanpa garam sebagai bentuk pantang dan puasa pada masa Pra-Paskah. Sungguh, rasanya benar-benar mengerikan. Tapi karena kami lapar, santapan tetap saja habis. Ini adalah saat saya menghargai pentingnya garam. Menjadi garam, kita harus membuat perbedaan di dunia dengan perbuatan baik kita, namun tidak ‘terlalu asin’ sehingga kita hanya menarik perhatian untuk diri kita sendiri. Sekali lagi, kita berbuat baik sepanjang waktu, tidak hanya ketika orang lain melihat kita, tidak hanya ketika kita merasa baik dan termotivasi, tidak hanya ketika kita mengharapkan imbalan. Seorang ibu tentu tidak akan berbuat baik kepada anak-anaknya hanya Senin sampai Jumat. Atau ayah hanya akan membesarkan anak berpotensi sukses dan menelantarkan yang lain.

Namun, kita juga bertanya: mengapa kita harus menjadi garam? Kita menyadari bahwa selain untuk bumbu, garam praktis tidak memiliki nilai gizi. Bahkan beberapa ilmuwan menghubungkan kelebihan garam dengan masalah kesehatan seperti tekanan darah tinggi. Mengapa tidak sesuatu yang lebih bermanfaat seperti nasi, pasta, atau mie? Jawabannya sebenarnya sederhana: bukan panggilan kita untuk menjadi sumber nutrisi utama dan kehidupan. Ini milik Yesus. Maka tidak salah jika dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Roti Hidup (Yoh 6:35). Ia adalah sumber kehidupan yang sejati, bukan kita. Di Filipina, kita memiliki roti populer bernama  pandesal’ (secara harfiah berarti roti garam). Ini adalah roti kecil yang terbuat dari tepung, ragi, telur, gula dan garam. Sebenarnya terasa sedikit manis daripada asin. Jumlah garamnya pun tidak signifikan, tetapi garam tetap ada untuk meningkatkan cita rasa roti, membuatnya semakin nikmat di lidah. Jadi garam bukanlah hal yang sebenarnya, melainkan roti.

Seperti garam, bukan kita yang memberikan hidup, tetapi panggilan kita adalah untuk membawa Yesus kepada orang lain sehingga mereka dapat memiliki hidup. Kebaikan kita bukan untuk menarik pujian bagi diri kita sendiri, tetapi melalui perbuatan baik kita, Tuhan akan semakin terasa di kehidupan banyak orang.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP