Kita Sangat Berharga

Minggu ke-7 Paskah [C]

1 Juni 2025

Yohanes 17:20-26

Yesus telah wafat untuk kita dan bangkit dari kematian untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Dia melakukan semua ini karena Dia sangat mengasihi kita. Seperti yang dikatakan Yesus sendiri, “Tidak ada seorang pun yang mempunyai kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Tetapi mengapa Dia begitu mengasihi kita? Mengapa Dia menganggap kita cukup berharga untuk memberikan hidup-Nya bagi kita?

Salah satu jawaban yang paling mendalam terdapat dalam 1 Yoh 4:8, “Allah adalah kasih.” Kasih bukan hanya sesuatu yang Allah lakukan, namun kasih adalah jati diri Allah. Karena itu, Dia tidak bisa tidak, selain mengasihi kita. Kasih Yesus mengalir secara alami dari identitas-Nya. Pada saat yang sama, Alkitab menyatakan bahwa kita diciptakan menurut citra Allah (Kej. 1:26-27). Ini berarti kita diciptakan menurut citra Kasih itu sendiri. Inilah mengapa kita hanya menemukan kepenuhan sejati ketika kita menghidupi tujuan terdalam kita: mengasihi seperti Allah mengasihi (Yoh 13:34) dan dikasihi oleh-Nya.

Namun, ketika saya merenungkan lebih jauh tentang Kitab Suci, saya menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Dalam Injil hari ini, Yesus berdoa kepada Bapa, tidak hanya untuk para rasul-Nya tetapi juga untuk semua orang yang akan menjadi percaya melalui pewartaan mereka, yang adalah kita. Dia berdoa agar kita dapat bersatu dengan satu sama lain dan dengan Dia, sama seperti Dia dan Bapa adalah satu. Kemudian, Ia menyatakan sesuatu yang menakjubkan: “Bapa, Aku menghendaki supaya mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, ada bersama-sama dengan Aku di mana pun Aku berada” (Yoh 17:24). Kita adalah pemberian Bapa kepada Yesus. Kita adalah ekspresi hidup dari kasih Bapa kepada Anak-Nya.

Kebenaran ini sebenarnya sangat mudah dipahami. Ketika kita mengasihi seseorang, kita sering memberikan hadiah yang berharga sebagai tanda kasih sayang kita, dan bagi penerimanya, hadiah itu menjadi tak tergantikan. Cincin kawin, misalnya, sangat berharga bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi karena cincin itu melambangkan cinta kasih suami istri. Namun, kita jauh lebih berharga daripada emas atau permata. Allah dengan luar biasa menciptakan kita untuk menjadi pemberian yang sempurna bagi Putra-Nya. Maka, apakah mengherankan jika Yesus sangat mengasihi kita? Dia rela memberikan nyawa-Nya bagi kita karena setiap kali Dia melihat kita, Dia melihat bukti kasih Bapa-Nya. Dia tidak dapat menanggung pikiran untuk kehilangan kita atau terpisah dari kita.

Saat ini, di beberapa negara seperti Filipina dan Italia, Gereja merayakan Kenaikan Yesus ke surga. Gambaran yang sering ditampilkan adalah Yesus naik sementara para murid-Nya ditinggalkan. Tetapi Dia tidak meninggalkan kita, melainkan Dia membawa kita lebih dekat kepada Bapa. Mengapa? Karena kita berharga bagi Allah. Kita adalah pemberian Bapa kepada Putra-Nya yang terkasih.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan:

Apakah kita menyadari bahwa kita berharga di mata Allah? Apakah kita hidup sebagai milik Allah yang berharga? Bagaimana kita hidup sebagai pemberian Bapa kepada Putra? Bagaimana kita membagikan berkat-berkat yang kita terima dari Allah?

Kita dan Paus Kita

Minggu ke-6 Paskah [C]

25 Mei 2025

Kisah Para Rasul 15:1-2, 22-29

Gereja Katolik menghadapi momen yang penting dan bersejarah pada Paskah 2025 ini. Paus Fransiskus, sosok yang dicintai namun penuh dengan polemik, meninggal dunia hanya sehari setelah menyampaikan berkat Minggu Paskah. Misa pemakamannya pada hari Sabtu berikutnya menarik ratusan ribu pelayat, yang mencerminkan dampak mendalam dari kepausannya. Ketika para kardinal berkumpul untuk konklaf, dunia menyaksikan dengan penuh antisipasi. Kemudian, pada tanggal 8 Mei, asap putih mengepul dari Kapel Sistina. “Habemus Papam!” Kita memiliki paus baru, dan namanya adalah Leo XIV, soerang paus dari Amerika Utara pertama dan juga pertama dari Ordo Santo Agustinus. Ribuan orang bersukacita di Lapangan Santo Petrus, berharap akan sebuah babak baru dalam Gereja.

Warisan Paus Fransiskus diwarnai dengan kekaguman dan kontroversi. Banyak yang mengapresiasi belas kasihnya kepada kaum miskin dan terpinggirkan, sementara yang lain bergumul dengan beberapa pernyataan dan keputusannya. Kini, dengan terpilihnya Paus Leo XIV, ada harapan akan persatuan dan perdamaian dalam Gereja. Namun, seperti halnya pemimpin manusia lainnya, dia juga akan mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita. Lalu, bagaimana kita harus menanggapi kenyataan ini?

Kuncinya terletak pada pembedaan antara devosi sejati dari fanatisme. Fanatisme adalah sebuah ketertarikan yang tidak teratur yang mendistorsi persepsi kita terhadap kepausan. Efeknya adalah mengubah kekaguman menjadi penyembahan berhala. Fanatisme membutakan kita terhadap kemanusiaan seorang paus, membuat kita percaya bahwa ia tidak dapat salah dalam segala hal, tidak hanya dalam hal iman dan moral, dan membuat kita mengabaikan atau menyerang mereka yang mengkritiknya. Lebih buruk lagi, hal ini dapat mengarah pada penghinaan terhadap paus-paus lain hanya karena mereka berbeda dengan paus idaman kita. Fanatisme ini sering menjadi bumerang; ketika paus yang kita idam-idamkan tidak sesuai dengan harapan, kekecewaan pun muncul, bahkan terkadang membuat kita menjauh dari Gereja.

Di sisi lain, devosi yang sejati berakar pada kasih kepada Kristus, yang mempercayakan Petrus dan para penerusnya untuk menjaga kawanan domba-Nya (Yoh 21). Kita menghormati Paus bukan terutama karena kualitas pribadinya, tetapi karena peran sucinya sebagai Wakil Kristus. Secara sederhana, kita mengasihi para paus karena kita mengasihi Yesus.

Bacaan pertama mengingatkan kita akan kepemimpinan Santo Petrus dalam Gereja mula-mula. Ketika para rasul dan penatua berkumpul di Yerusalem dan memperdebatkan apakah orang-orang non-Yahudi yang percaya, perlu mengikuti hukum Musa. Beberapa penatua menginginkan agar mereka menjadi orang Yahudi sebelum menjadi orang Kristen, yang berarti mereka harus disunat dan mengikuti hukum Taurat secara ketat. Paulus dan Barnabas menginginkan agar orang-orang non-Yahudi yang percaya terbebas dari hukum Musa. Akhirnya, Petrus berdiri dan membuat keputusan akhir: mereka tidak terikat oleh hukum Musa. Konsili ini menerima otoritas Petrus, karena mereka tahu bahwa otoritas itu berasal dari Kristus. Namun, Petrus sendiri bukanlah orang yang sempurna. Sebagai contoh, Paulus secara terbuka mengoreksi Petrus karena ia gagal menegakkan ajarannya sendiri (Gal 2:11-14). Teguran Paulus tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kasih; sebuah hasrat untuk menguatkan Petrus dalam misinya yang diberikan Allah.

Seperti Petrus, setiap paus memikul tanggung jawab yang berat untuk menggembalakan Gereja. Dan seperti Petrus, mereka tetaplah manusia biasa yang rentan terhadap kelemahan dan kesalahan. Peran kita adalah untuk mendukung mereka dengan doa, terutama pada saat-saat sulit, dan untuk terus membangun Gereja dengan pengharapan dan kebijaksanaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimana kita melihat para paus kita? Bagaimana kita mencintai para paus kita? Apakah kita pernah bergumul untuk memahami para paus kita? Seberapa sering kita mendoakan para

Dua Cara Mewartakan Injil

Minggu ke-5 Paskah [C]

18 Mei 2025

Kisah Para Rasul 14:21-27

Dalam bacaan pertama, kita telah mendengar tentang perjalanan misi Santo Paulus dan rekannya Santo Barnabas. Misi mereka menunjukkan kepada kita bagaimana Gereja perdana memenuhi perintah Yesus, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku (Mat 28:19).” Jadi, apa yang dapat kita temukan dari teladan mereka?

Pertama, mari kita simak kisah Santo Paulus secara keseluruhan. Setelah pertobatannya, Paulus tinggal di Antiokhia (sekarang di Turki bagian tenggara), di mana ia menjadi seorang guru dan nabi yang dihormati. Kemudian Roh Kudus memanggil Paulus dan Barnabas untuk dikhususkan bagi pekerjaan Tuhan. Komunitas Kristiani menugaskan mereka untuk mewartakan di tempat-tempat di mana Injil belum pernah didengar. Mereka melakukan perjalanan ke berbagai tempat termasuk pulau Siprus dan kota-kota di Turki selatan – Antiokhia Pisidia, Ikonium, Derbe, dan Listra.

Mereka memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi di tempat-tempat tersebut, membawa banyak jiwa percaya kepada Yesus Kristus. Namun, Paulus dan Barnabas tahu bahwa mereka tidak akan tinggal di sana secara permanen, tetapi mereka harus melanjutkan perjalanan mereka untuk memberitakan Injil di lebih banyak tempat lagi. Untuk menjaga komunitas Kristiani yang baru didirikan ini, mereka mengangkat “penatua” (Yunani: presbuteroi). Para penatua ini menjadi pemimpin yang stabil dalam komunitas, yang bertanggung jawab untuk memimpin ibadah, memberitakan Injil, dan memelihara disiplin rohani.

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari perjalanan misi Paulus? Kita melihat setidaknya ada dua cara yang sangat penting dalam memberitakan Injil. Cara pertama adalah pergi memberitakan Injil ke tempat yang belum pernah mendengar Injil dan di mana iman belum berakar. Mereka yang mengikuti jalan ini biasanya disebut misionaris. Para misionaris cenderung berpindah dari satu tempat ke tempat lain ketika kebutuhan akan Injil muncul. Cara kedua berfokus pada pendalaman pemahaman Injil dan kedewasaan iman bagi mereka yang sudah percaya, memelihara dan melindungi iman mereka. Dalam tradisi Katolik, cara kedua ini dilakukan oleh para “penatua” – para uskup yang dibantu oleh para imam dan diakon, yang tinggal lebih stabil dalam komunitas yang mereka layani.

Di sisi lain, perbedaan antara misionaris dan penatua tidaklah kaku. Orang yang sama bisa berperan baik sebagai misionaris dan penatua. Contoh sederhana adalah Paus Leo XIV. Sebelum menjadi Paus, beliau adalah seorang imam Ordo St. Agustinus dari Amerika Serikat yang menjadi misionaris di Peru. Kemudian dia menjadi uskup Chiclayo, Peru. Identitas misionaris dan penatua menyatu di dalam dirinya.

Namun, kita harus ingat bahwa tugas pewartaan Injil tidak hanya diberikan kepada para misionaris atau penatua, tetapi juga kepada kita semua. Kita pun dapat dan harus mempraktikkan kedua cara kuno untuk memberitakan Injil. Di dunia modern ini, kesempatan untuk membagikan Injil sangatlah berlimpah. Kita dapat mengkomunikasikan berbagai aspek dari iman kita, mulai dari kebenaran hingga keindahannya, melalui berbagai platform media sosial. Interaksi pribadi dengan teman dan saudara juga memberikan kesempatan untuk memperkenalkan iman kita. Bahkan jika kita merasa sulit untuk menjelaskan iman kita dengan kata-kata, kita selalu dapat mengundang kerabat dan teman-teman kita untuk bergabung dengan kita di Misa.

Para orang tua secara khusus mewujudkan kedua pendekatan ini secara bersamaan. Para orang tua dipanggil untuk memperkenalkan iman kepada anak-anak mereka melalui baptisan dan katekese dasar, mengajar mereka cara berdoa dan membagikan kebenaran-kebenaran mendasar dari iman. Seperti para penatua Gereja, para orang tua kemudian harus terus memelihara iman anak-anak mereka melalui gaya hidup yang sesuai ajaran Injil, doa, dan bimbingan. Kita juga harus mendukung para katekis kita yang bekerja tanpa lelah untuk memperkenalkan dan memperdalam iman, terlepas dari banyaknya tantangan yang mereka hadapi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Bagaimana kita mewartakan Injil dalam situasi-situasi khusus kita? Siapa yang secara khusus membutuhkan kita untuk memperkenalkan mereka kepada Yesus? Sudahkah kita menolong orang-orang yang dekat dengan kita untuk bertumbuh lebih dekat dengan Tuhan? Apakah orang lain mengenali kita sebagai orang yang membawa Yesus bersama kita?

Mendengarkan Suara Tuhan

Minggu ke-4 Paskah [C]

11 Mei 2025

Yohanes 10:27-30

Pendengaran adalah salah satu indra yang paling mendasar yang membuat kita menjadi manusia. Memang benar bahwa kita sangat bergantung pada penglihatan untuk menavigasi dunia, tetapi pendengaran membedakan kita dengan makhluk lain. Bagaimana penjelasannya?

Tentu saja, manusia tidak memiliki indra pendengaran yang terbaik. Banyak hewan yang memiliki kemampuan pendengaran yang jauh lebih baik. Sebagai contoh, kelelawar memiliki indra pendengaran seperti sonar, yang memungkinkan mereka untuk mengukur jarak melalui suara. Telinga manusia jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan hewan-hewan ini. Namun, terlepas dari kapasitas pendengaran kita yang sepertinya biasa saja, kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh hewan lain: kemampuan untuk mengasosiasikan suara dengan makna. Dengan kata lain, kita dapat menciptakan bahasa. Kemampuan berbahasa ini berarti kita dapat membedakan kata-kata yang bermakna dari suara yang tidak berarti.

Melalui mendengarkan, manusia purba membangun keluarga dan komunitas. Mereka mendengarkan para pemimpin mereka untuk mendapatkan panduan dalam mempertahankan diri dari binatang buas dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Dengan mendengarkan, mereka menerima kebijaksanaan para tetua mereka dan kisah-kisah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mendengar kata-kata yang bermakna adalah hal yang membuat kita hidup dan tumbuh sebagai manusia.

Sayangnya, kita sekarang hidup di dunia yang penuh dengan suara kebisingan yang tidak ada artinya sama sekali, dari sekedar polusi pendengaran, musik-musik yang tidak jelas, dan bahkan kata-kata kasar, penuh kebohongan dan bahkan kutukan. Apa yang sering kita dengar tidak lagi berguna bagi kelangsungan hidup atau pertumbuhan kita, melainkan hanya apa yang berteriak paling keras. Kita tidak lagi mendengarkan akal sehat, kebijaksanaan dari masa lalu, dan yang paling penting, firman Tuhan. Jika orang-orang zaman dahulu menyadari bahwa mendengarkan para pemimpin mereka sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka, kita pun harus menyadari bahwa mendengarkan Tuhan kita, Yesus Kristus, bukanlah suatu opsi, tetapi ini adalah masalah keselamatan jiwa kita.

Jadi, bagaimana kita dapat belajar untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara Gembala kita yang sejati?

Pertama, sama seperti domba yang mendengarkan suara gembalanya demi keselamatannya, kita harus mengenali suara Gembala kita dan mengikuti petunjuk-Nya – karena keselamatan kekal kita bergantung padanya. Kedua, untuk mengenali suara-Nya, kita harus menjadi terbiasa dengannya. Hal ini dapat dicapai dengan terus mendengarkannya, dengan membaca Kitab Suci secara teratur, mempelajari ajaran-ajaran-Nya secara khusus yang telah diajarkan Gereja, dan terlibat dalam doa yang mendalam. Ketika kita menjadi terbiasa dengan suara Tuhan, kita juga bisa belajar untuk membedakan suara-suara yang tidak berasal dari-Nya, suara-suara dari keinginan kita sendiri, dunia, dan roh-roh jahat. Ketiga, mendengar harus membawa kepada tindakan. Mendengar tanpa ketaatan tidak ada artinya, atau bahkan lebih buruk lagi, itu berarti mengikuti tuntunan musuh.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita mengenal suara Tuhan kita? Suara-suara seperti apa yang kita dengarkan? Apakah kita dapat membedakan suara-suara yang berbeda dalam hidup kita? Firman Tuhan apa yang paling berkesan dan menjadi panduan hidup kita selama ini?

Kasih Kita yang Lemah

Minggu Ketiga Paskah [C]

4 Mei 2025

Yohanes 21:1-19

Dalam Injil hari ini, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Beberapa Bapa Gereja menafsirkan pengulangan ini sebagai Yesus membatalkan penyangkalan Petrus sebanyak tiga kali. Namun, jika dilihat lebih dekat pada teks bahasa Yunani, Yesus menggunakan kata yang berbeda untuk “kasih” dalam setiap contoh. Perbedaan-perbedaan ini memperdalam pemahaman kita akan perikop ini.

Pertama, Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan, tetapi Ia mengajukan permintaan. Dalam permintaan-Nya yang pertama, Yesus meminta jenis kasih yang spesifik. Yohanes Penginjil menggunakan kata Yunani “agape”, yang menandakan kasih yang rela berkorban, yang mencari kebaikan yang tulus dari orang lain. Kasih ini tidak didasarkan pada emosi, melainkan pada kebebasan dan komitmen. Agape yang sejati menuntut pemberian diri sepenuhnya, bahkan sampai mengorbankan nyawa. Di sini, Yesus menuntut bentuk agape tertinggi dari Petrus, sebuah kasih yang melampaui segala sesuatu yang lain.

Dalam permintaan-Nya yang kedua, Yesus sekali lagi menggunakan kata “agape”, tetapi kali ini tanpa frasa “lebih dari itu.” Dia masih menyerukan kasih yang berkorban, tetapi tidak sampai pada tingkat yang tertinggi. Dalam permintaan-Nya yang ketiga, Yesus beralih dari agape ke “philia”, kata dalam bahasa Yunani yang berarti kasih yang didasarkan pada persahabatan. Tidak seperti agape yang berakar pada kehendak bebas dan dedikasi, philia lebih bergantung pada emosi, perasaan yang sama, dan minat yang sama. Meskipun persahabatan sejati mungkin membutuhkan tindakan agape, fondasinya tetaplah philia. Ketika kepentingan bersama memudar, persahabatan sering kali melemah.

Tetapi mengapa Yesus tampaknya menurunkan ekspektasi-Nya, dari agape yang total menjadi agape yang sederhana, dan akhirnya menjadi persahabatan? Jawabannya terletak pada jawaban Petrus. Setiap kali Yesus menanyainya, Petrus menjawab dengan kata “philia”. Ia tidak dapat membawa dirinya untuk mengakui agape, terutama dalam bentuk yang paling tinggi. Penyangkalannya yang terdahulu telah membuatnya patah hati, malu, dan ragu untuk mengasihi Yesus lagi. Ketakutan menahannya.

Namun, terlepas dari jawaban Petrus yang tidak lengkap, Yesus tidak menegurnya atau mencari murid yang lebih setia. Sebaliknya, Yesus menemui Petrus di mana ia berada. Dia menerima kasih Petrus yang penuh kekurangan dan keraguan dan tetap mempercayakannya untuk menggembalakan kawanan domba-Nya. Yesus tidak menuntut kesempurnaan, tetapi Dia menginginkan kerendahan hati dan ketulusan. Dia melihat upaya Petrus dan tahu bahwa, pada saatnya nanti, Petrus akan memberikan nyawanya bagi-Nya.

Tuhan meminta kita masing-masing untuk memberikan kasih yang tertinggi, namun kita sering kali gagal. Seperti Petrus, kita terluka, lemah, dan penuh dengan kegagalan. Tetapi Kabar Baiknya adalah Tuhan menerima kasih kita yang tidak sempurna dan dengan lembut menuntun kita menuju kesempurnaan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Apakah kita mengasihi Allah?  Apakah kita mengasihi Dia dengan agape atau philia?  Dalam hal apa saja kita gagal mengasihi Allah? Apa yang menghalangi kita untuk mengasihi Allah? Bagaimana Dia terus mengasihi kita terlepas dari kekurangan kita? Dapatkah kita mengingat kembali saat-saat dalam hidup kita ketika kasih Allah yang tak tergoyahkan terbukti meskipun kita gagal? 

Damai Paskah

Minggu Kedua Paskah [C]

27 April 2025

Yohanes 20:19-31

Kata-kata pertama Kristus setelah bangkit kepada para murid-Nya adalah, “Damai bagi kamu!” Dalam bahasa Ibrani, “Shalom lakem” (שָׁלוֹם לָכֶם), sebuah ucapan yang sering ditemukan dalam Perjanjian Lama (Hakim 6:23; 1 Samuel 1:17; 20:42; 25:6; dll.). Variasi Yahudi lainnya, meskipun tidak ada dalam Alkitab, adalah “Shalom aleichem” (שָׁלוֹם עֲלֵיכֶם), yang artinya kurang lebih sama. Namun, apakah salam Yesus hanya sekadar sapaan budaya, atau apakah salam itu memiliki makna yang lebih dalam?

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus menyelidiki makna alkitabiah dari kata “shalom”. Shalom adalah salah satu kata yang paling umum dalam Alkitab, muncul sebanyak 237 kali dalam Perjanjian Lama. “Shalom” sering kali diterjemahkan sebagai “damai”. Namun, kata ini memiliki arti yang lebih luas: kesejahteraan yang total dari seseorang, yang berakar pada hubungan yang benar dengan diri sendiri, sesama, dan Tuhan.

Ketika Kristus yang telah bangkit menampakkan diri kepada para murid, mereka dicengkeram oleh rasa takut akan “orang-orang Yahudi”. Menariknya, “orang Yahudi” ini dapat merujuk pada tiga hal: penguasa bangsa Yahudi, Yesus sendiri, karena dia seorang Yahudi, dan bahkan para murid sendiri karena mereka juga adalah orang Yahudi. Mereka takut kepada para penatua bangsa Yahudi yang telah membunuh Yesus, karena mereka tahu bahwa mereka bisa saja menjadi korban berikutnya. Mereka takut kepada Yesus, mengingat kegagalan mereka sebagai murid: pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, dan mereka yang lari dan bersembunyi. Akankah Dia sekarang menghukum mereka? Dan mereka takut akan diri mereka sendiri: mereka merasa tidak layak dan tidak mampu menjadi murid; mereka tidak layak menerima kerahiman dan pengampunan Yesus; mereka hancur karena dosa. Mereka takut akan hidup dan masa depan mereka sendiri.

Namun, kata-kata Yesus menembus rasa takut mereka: “Damai bagi kamu.” Ini bukanlah sapaan biasa. Ini adalah sebuah berkat dan peneguhan ilahi. Mereka tidak perlu takut kepada penguasa, karena jika mereka tidak dapat menghentikan Yesus, mereka tidak dapat menghentikan para pengikut-Nya. Mereka tidak perlu takut kepada Yesus, karena Ia datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk berbelas kasihan dan mengampuni kelemahan mereka. Ketika Ia mengulangi, “Damai sejahtera bagi kamu,” dan menambahkan, “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikianlah Aku mengutus kamu,” Ia menegaskan panggilan mereka terlepas dari kekurangan mereka. Yesus meyakinkan mereka sekali lagi bahwa meskipun mereka tidak layak, mereka tetap terpilih, dan meskipun mereka lemah dan gagal, rahmat Allah cukup untuk menyempurnakan apa yang kurang dari mereka. 

Damai yang sejati hanya mengalir dari Kristus yang telah bangkit, sebuah rahmat yang mendamaikan kita dengan Allah, menyembuhkan hubungan kita, dan menghapus rasa takut di dalam diri kita.  Kita tahu bahwa kita adalah orang berdosa, namun kita telah ditebus sehingga kita berada dalam damai dengan Allah. Kita tahu bahwa kita sering kali memiliki hubungan yang sulit dengan sesama, tetapi kita diundang untuk memohon belas kasihan dan berbelas kasihan kepada sesama. Kita sadar bahwa kita lemah dan tidak mampu untuk mengasihi Allah dan sesama, tetapi rahmat Allah cukup untuk melengkapi apa yang kurang dari diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apakah ada damai dalam hidup kita? Apa yang kita takuti? Apakah kita memiliki kedamaian dengan Allah? Apakah kita memiliki kedamaian dengan sesama kita? Apakah kita memiliki damai dengan diri kita sendiri? Hal-hal apa saja yang membuat kita gagal mencapai shalom?

`

Salib dan Pohon Kehidupan

Minggu Paskah [C]

20 April 2025

Yohanes 20:1-9

Beberapa Bapa Gereja, seperti Santo Efremus dari Siria, Santo Ambrosius, dan Santo Yohanes Krisostomus, melihat Salib Yesus sebagai Pohon Kehidupan yang baru. Pohon Kehidupan pertama kali muncul dalam Kejadian 2:9, di mana Allah menanamnya di tengah-tengah Taman Eden di samping Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat. Meskipun Alkitab tidak menjelaskan lebih lanjut, penempatan Pohon Kehidupan di tengah-tengah mengisyaratkan maknanya yang mendalam. Sama seperti memakan buah dari pohon terlarang akan membawa kematian, menyantap buah dari Pohon Kehidupan akan memberikan hidup kekal dan persekutuan dengan Tuhan.

Adam, Hawa, dan keturunan mereka dapat hidup selamanya bersama Allah, jika saja mereka memilih Pohon Kehidupan daripada Pohon Pengetahuan. Tragisnya, mereka memilih ketidaktaatan, sehingga membawa kematian atas diri mereka sendiri dan seluruh umat manusia. Diusir dari Eden, mereka terpisah dari Pohon Kehidupan yang dijaga oleh malaikat kerubim (Kej 3:24). Tanpa pohon itu, umat manusia berjalan menuju binasa.

Namun, kita bukannya tanpa pengharapan. Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Dia memberikan Putra-Nya yang tunggal (Yoh 3:16), dan Yesus, pada gilirannya, mengasihi kita “sampai pada kesudahannya” (Yoh 13:1), menyerahkan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10). Bagi Yesus, Salib bukanlah sebuah takdir yang tak terhindarkan, melainkan sebuah pilihan bebas untuk mengasihi. Meskipun penyaliban adalah kematian yang brutal dan memalukan, Kristus mengubah Pohon Terkutuk ini menjadi Pohon Kehidupan yang kudus. Dia mengajarkan kepada kita bahwa dengan memeluk salib kita sendiri, dan juga menyatukannya dengan salib-Nya, kita akan menemukan kehidupan yang penuh dan kebangkitan yang sejati.

Salib sejatinya adalah sebuah kenyataan dalam hidup kita yang membawa penderitaan. Salib terwujud dalam dua bentuk. Salib jenis pertama adalah penderitaan yang tidak dapat dihindari. Ini adalah cobaan yang tidak kita pilih: pengkhianatan, penyakit, pergumulan keuangan, atau ketidakadilan. Pada saat-saat seperti ini, kita memohon rahmat kepada Tuhan untuk bertahan, mempersembahkan penderitaan kita dalam persatuan dengan Salib Kristus sehingga dapat menghasilkan buah-buah rohani.

Jenis Salib yang kedua adalah penderitaan yang lahir dari kasih. Ini muncul dari komitmen dan pengorbanan kita. Contoh yang baik adalah seorang ibu yang berkomitmen untuk mengasihi bayinya yang masih kecil. Dalam prosesnya, ia akan kehilangan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya. Membesarkan dan melindungi anak kecilnya secara fisik dan mental sangat melelahkan. Ia juga kehilangan kesempatan untuk hidup lebih bebas, mendapatkan lebih banyak uang, atau lebih menikmati hidup. Secara lahiriah, ia memikul salibnya, tetapi jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa ia hidup berkelimpahan dan menemukan makna yang lebih dalam di hidupnya, lebih dari yang dapat ditawarkan oleh dunia. Salibnya menjadi pohon kehidupan bagi anaknya. Itulah kebangkitan yang sejati.

Selamat Paskah!

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Apa saja salib-salib jenis pertama kita? Bagaimana kita menghadapinya? Apa saja salib jenis kedua kita? Bagaimanakah salib-salib itu membawa kehidupan bagi orang lain? Apakah salib kita, yang dipikul dengan kasih, menjadi Pohon Kehidupan bagi orang-orang di sekitar kita?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

Kisah Seorang Ayah

Minggu ke-4 Masa Prapaskah [C]

30 Maret 2025

Lukas 15:1-3, 11-32

Kisah Anak yang Hilang adalah salah satu perumpamaan yang paling indah dalam Injil. Tidak hanya diceritakan dengan indah, tetapi juga mengajarkan pelajaran yang mendalam – terutama tentang menjadi orang tua.

Membesarkan anak bukanlah tugas yang mudah. Setiap anak memiliki kepribadian yang unik, dan masing-masing dapat membawa sukacita, namun juga sakit hati. Banyak dari kita yang bergulat menjadi orang tua yang baik. Beberapa mengandalkan kebijaksanaan yang diturunkan dari orang tua kita dan orang sekitar kita, atau  dari pengalaman dan memori bagaimana kita dibesarkan. Sebagian lagi beralih ke media sosial atau influencers yang menyebut diri sebagai “pakar parenting.”  Beberapa orang melakukan langkah lebih jauh dengan berkonsultasi dengan spesialis yang sebenarnya, seperti dokter anak, psikiater dan psikolog anak, dan pendidik. Namun, pada akhirnya, anak-anak kita bukanlah fotokopi dari diri kita. Akan selalu ada kejutan-kejutan di luar kendali kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa dan berharap mereka tumbuh menjadi diri mereka yang terbaik.

Sang ayah dalam perumpamaan ini memberikan teladan yang baik kepada kita. Meskipun telah melakukan yang terbaik untuk membesarkan kedua putranya, dia menghadapi relasi yang menyakitkan dengan keduanya. Anak bungsunya menuntut warisannya, memutuskan hubungan, dan pergi untuk menjalani kehidupan yang penuh dosa. Bayangkan betapa hancurnya hati sang ayah karena putranya memperlakukannya sebagai barang yang bisa dibuang, bukan sebagai orang tua. Anak sulungnya juga tidak lebih baik. Ketika adiknya kembali, dia menolak untuk masuk ke rumah dan bergabung dalam perayaan. Dia tidak pernah memanggil ayahnya dengan sebutan “Ayah,” dan memanggil saudaranya dengan sebutan “anakmu” daripada “saudaraku.” Dia melihat dirinya bukan sebagai anak tetapi sebagai hamba, bahkan berkata, “Lihat! Selama ini saya telah bekerja untukmu seperti seorang budak!” Sekali lagi, hati sang ayah pasti hancur karena ia telah membesarkan seorang anak, bukan seorang budak.

Namun, terlepas dari semua pergulatan ini, sang ayah tidak pernah menyerah. Dia tidak pernah berhenti berharap anak-anaknya kembali. Ketika anak yang hilang itu pulang dan berharap untuk menjadi seorang hamba, sang ayah adalah orang pertama yang melihat anaknya, berlari mengejarnya, dan memeluknya. Dia memanggilnya “anakku” dan bukan hamba. Ketika anak pertama menolak untuk pulang, sang ayah mencarinya dan memohon kepadanya, memanggilnya “anakku” dan bukan hamba, menjelaskan bahwa semua yang dia miliki, adalah juga milik anaknya.

Banyak dari kita yang dikaruniai anak tetapi mengalami hubungan yang tidak selalu sempurna. Terlepas dari upaya terbaik kita, anak-anak kita mungkin tidak menjadi seperti yang kita harapkan. Beberapa, seperti anak bungsu, menolak cinta kita atau berharap kita pergi. Yang lainnya, seperti anak sulung, melihat kita sebagai bos atau atasan, bukan sebagai orang tua. Namun, perumpamaan ini memanggil kita untuk mengasihi dengan tekun, dan sampai akhir. Itulah orang tua yang sejati. Itulah kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita membesarkan anak-anak kita dengan baik? Bagaimana hubungan kita dengan mereka? Apakah kita menghadapi kesulitan dalam berhubungan dengan anak-anak kita? Bagaimana kita menanggapi tantangan-tantangan ini? Apakah kita mengandalkan kasih karunia Allah untuk membimbing kita?