Para Majus dan Herodes

Epifani [A]

4 Januari 2026

Matius 2:1-12

Cerita tentang Para Majus mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat mendasar saat kita mencari Yesus. Apakah hal itu?

Para Majus bukanlah berasal dari bangsa Yahudi, namun mereka dengan tulus mencari Raja Israel yang baru lahir. Identitas Para Majus tetap menjadi misteri. Kata Yunani magos—dari mana kata Inggris Majusc berasal—merujuk pada seseorang yang ahli dalam ilmu-ilmu kuno. Ilmu-ilmu kuno ini sangat berbeda dengan ilmu modern: eksperimen dan mitos, pengamatan alam dan ritual, seringkali saling terkait. Ini adalah masa ketika astronomi erat terkait dengan astrologi, dan kimia dengan alkimia.

    Meskipun tidak dinyatakan secara eksplisit dalam Kitab Suci, banyak tradisi mengidentifikasi para Majus sebagai tiga raja dari Timur. Tertullian (wafat tahun 225 M), menafsirkan kisah Epifani berdasarkan Mazmur 72 dan Yesaya 60, merujuk pada para Majus sebagai raja. Meskipun para Majus tidak mesti raja, mereka kemungkinan besar adalah orang-orang berkedudukan tinggi, karena Herodes, raja Yerusalem, menerima mereka dan memperlakukan mereka dengan hormat. Angka tiga umumnya berasal dari tiga hadiah yang diberikan kepada Kristus: emas, kemenyan, dan mur. Bukti tertulis tertua tentang “tiga” Majus muncul dalam mozaik abad keenam di Gereja Sant’Apollinare Nuovo di Ravenna, Italia. Nama-nama Melkior, Gaspar, dan Balthasar muncul dalam tradisi Latin pada periode yang sama.

    Kisah para Majus menjadi lebih mencolok ketika dibandingkan dengan rekan-rekan Yahudi mereka: Herodes, raja Yerusalem, dan para cendekiawan Yahudi. Ketika Herodes mendengar berita tersebut, ia segera berkonsultasi dengan para ahli agama di istananya. Setelah memeriksa Kitab Suci dengan cermat, mereka mengonfirmasi penemuan para Majus dan mengidentifikasi Betlehem sebagai tempat kelahiran raja baru. Namun, berbeda dengan para Majus—yang menggunakan kebijaksanaan dan pengetahuan mereka untuk menghormati anak itu—Herod dan penasihat-penasihatnya menggunakan pemahaman mereka tentang Kitab Suci untuk merencanakan kehancuran Mesias yang dijanjikan.

    Perbedaan antara para Majus dan Herodes menjadi pola bagi apa yang akan terjadi pada Yesus. Pada awal hidup-Nya, Yesus dihormati oleh para Majus yang bukan Yahudi tetapi dicari untuk dihancurkan oleh Herodes dan penasihatnya. Demikian pula, pada akhir hidup-Nya di bumi, Yesus dihukum oleh imam-imam kepala dan pemimpin agama, dituduh sebagai Mesias palsu, sementara Ia diakui oleh kepala pasukan Romawi sebagai Anak Allah (Mat 27:54).

    Akhirnya, setelah para Majus menemukan Yesus dan memberi hormat kepada-Nya, mereka pulang melalui “jalan yang berbeda”. Rincian ini mengandung simbolisme yang mendalam: bertemu dengan Yesus membawa kepada pertobatan sejati dan transformasi. Kita mungkin sibuk mempelajari Kitab Suci, terlibat dalam karya amal, atau melayani di pelayanan Gereja, tetapi jika kita tidak benar-benar menemukan Yesus di dalamnya, tidak ada pertobatan yang sejati. Tanpa menemukan Yesus, kita mungkin hanya menemukan diri kita sendiri. Bahayanya adalah hal ini dapat menyebabkan frustrasi ketika kita gagal atau kesombongan ketika kita berhasil. Dalam kedua kasus ini, kita tidak menemukan kebahagiaan sejati. Seperti Herodes dan penasihatnya, kita bahkan dapat menyalahgunakan pengetahuan iman kita dengan cara yang merusak kehidupan rohani kita dan melemahkan iman kita pada Kristus.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan:

    Apakah saya lebih mirip para Majus atau seperti Herodes dan penasihatnya dalam cara saya mencari Yesus? Bagaimana saya menggunakan pengetahuan dan talenta yang Tuhan berikan kepada saya? Apakah kegiatan keagamaan saya benar-benar membawa saya ke dalam pertemuan dengan Yesus? Dalam hal apa pertemuan dengan Kristus telah mengubah arah hidup saya? Apa yang menghalangi saya untuk mengenali Kristus ketika Dia datang dengan tenang dan rentan?

    The Magi and Herod

    Epiphany [A]

    January 4, 2026

    Matthew 2:1-12

    The story of the Magi is a powerful one because they do not come from the Jewish people, and yet they sincerely seek the newborn King of Israel. The identity of the Magi remains a mystery. The Greek word magos—from which the English word magic is derived—refers to a person learned in the ancient sciences. These ancient sciences were very different from modern ones: experiment and myth, natural observation and ritual, were often intertwined. This was a period when astronomy was closely linked with astrology, and chemistry with alchemy.

    Although not stated explicitly in Scripture, many traditions identify the Magi as the three kings from the East. Tertullian (d. AD 225), interpreting the Epiphany account in light of Psalm 72 and Isaiah 60, refers to the Magi as kings. While the Magi were not necessarily kings, they were likely men of high status, since Herod, the king of Jerusalem, received them and treated them with respect. The number three is commonly derived from the three gifts offered to Christ: gold, frankincense, and myrrh. The earliest clear evidence for three Magi appears in a sixth-century mosaic in the Church of Sant’Apollinare Nuovo in Ravenna, Italy. The names Melchior, Gaspar, and Balthasar emerge in Latin tradition around the same period.

    The story of the Magi becomes even more striking when they are contrasted with their Jewish counterparts: Herod, the king of Jerusalem, and the Jewish scholars. When Herod heard the news, he immediately consulted the learned men of his court. After carefully examining the Scriptures, they confirmed the Magi’s discovery and identified Bethlehem as the birthplace of the newborn king. Yet, unlike the Magi—who used their wisdom and knowledge to honor the child—Herod and his learned advisors used their understanding of Scripture to plot the destruction of the promised Messiah.

    The contrast between the Magi and Herod becomes a paradigm for what would later happen to Jesus. At the beginning of His life, Jesus was honored by Gentile Magi but sought for destruction by Herod and his advisors. Likewise, at the end of His earthly life, Jesus was condemned by the chief priests and religious leaders, accused of being a false Messiah, while He was recognized by a Roman centurion as the Son of God.

    Finally, after the Magi found Jesus and paid Him homage, they returned home by a different way. This detail carries profound symbolism: encountering Jesus leads to true repentance and transformation. We may be busy studying Scripture, engaging in charitable works, or serving in Church ministries, but if we do not truly find Jesus in them, there is no genuine conversion. Without finding Jesus, we may end up finding only ourselves. The danger is that this leads either to frustration when we fail or to pride when we succeed. In either case, we do not find true happiness. Like Herod and his advisors, we may even misuse our knowledge of faith in ways that harm our spiritual life and weaken our faith in Christ.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide Questions:
    Am I more like the Magi or like Herod and his advisors in the way I seek Jesus? How do I use the knowledge and gifts God has given me? Do my religious activities truly bring me into an encounter with Jesus? Or have Scripture, ministry, and service become ends in themselves? In what ways has encountering Christ changed my direction in life? What prevents me from recognizing Christ when He comes quietly and vulnerably?

    Featured

    St. Yusuf: Pelindung Keluarga Kudus

    Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria, dan Yusuf
    28 Desember 2025 [A]
    Matius 2:13–15, 19–23a

    Saat kita merayakan Pesta Keluarga Kudus, kita merenungkan apa yang membuat keluarga ini kudus. Tentu saja, di pusatnya adalah kehadiran Yesus, Allah yang menjadi manusia. Namun, kekudusan tidak berarti pasif dan diam saja. Baik Maria maupun Yusuf secara aktif menerima peran unik dan vital dalam rencana Allah dalam keluarga mereka. Injil hari ini dari Matius khususnya berbicara tentang misi Yusuf, pelindung dan kepala Keluarga Kudus. Apa yang dapat kita pelajari dari kesaksiannya?

    Matius menceritakan bagaimana Yusuf memimpin keluarganya ke pengasingan. Diperingatkan dalam mimpi tentang niat jahat Herodes, ia membawa Maria dan Yesus dan melarikan diri pada malam hari ke Mesir. Setelah kematian Herodes, seorang malaikat kembali memerintahkan Yusuf untuk kembali—hanya untuk mengetahui bahwa putra Herodes, Archelaus, memerintah Yudea dengan kekejaman yang lebih besar. Jadi, Yusuf membimbing keluarganya bukan ke Betlehem, tetapi ke utara ke Nazaret di Galilea, di mana mereka dapat bersembunyi dan hidup dengan aman.

    Kisah Keluarga Kudus bukanlah kisah kenyamanan atau kesuksesan duniawi. Mereka mengalami penderitaan pengasingan, kerentanan para pengungsi, kelaparan, kemiskinan, serta tekanan memulai hidup dari awal. Di tengah cobaan-cobaan itu, Yusuf tetap teguh sebagai pelindung dan penyedia bagi keluarga kudus. Ia adalah penjaga yang tenang dan teguh yang memastikan keselamatan Yesus dan Maria.

    Yusuf tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun dalam Injil, namun perbuatannya berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Sebagai kepala keluarga, dia memahami apa yang harus dilakukan dan melaksanakannya dengan kesetiaan yang tenang. Dia adalah pria yang berani, rela menghadapi bahaya, ketidakpastian, dan kesulitan. Pada saat yang sama, dia adalah pria yang penuh cinta, siap mengorbankan waktunya, tenaganya, masa depannya, bahkan nyawanya untuk mereka yang dipercayakan padanya—Yesus dan Maria.

    Di atas segalanya, Yusuf adalah seorang pria yang memiliki iman dan doa yang mendalam. Kehendak Allah diungkapkan kepadanya melalui mimpi, yang dengan mudah dapat ia abaikan sebagai khayalan atau tipu daya sang jahat. Namun, Yusuf mengenali suara Allah yang berbicara melalui malaikat-Nya. Lebih dari sekadar mengenali asal usul ilahi mimpi tersebut, ia merespons dengan ketaatan yang segera dan tanpa ragu. Sadar akan risiko yang dihadapinya, Yusuf menaruh kepercayaan penuh pada Allah. Yusuf menunjukkan kepada kita bahwa kepemimpinan spiritual yang sejati dibangun atas mendengarkan, iman, dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah.

    Kita diundang untuk menjadi Yusuf yang baru dalam keluarga kita sendiri. Meskipun kita jauh dari sempurna, kita dapat memulai dengan meniru Santo Yusuf dalam cara-cara kecil dan setia. Seorang imam Dominikan, juga sahabat saya, pernah berbagi cerita tentang ayahnya. Dia mengakui bahwa ayahnya tidak terlalu religius, namun dia sangat berkomitmen pada satu praktik esensial: setiap Minggu, dia membawa seluruh keluarganya—istri dan lima anaknya—ke Misa. Selain itu, setiap dua bulan, dia memastikan semua anak-anaknya pergi ke pengakuan dosa. Yang paling mengesankan bagi romo ini adalah bahwa ayahnya selalu pergi ke pengakuan dosa terlebih dahulu, dengan tenang memberikan contoh bagi anak-anaknya. Saksi sederhana namun kuat itu meninggalkan bekas yang mendalam di hatinya dan akhirnya membawanya ke imamat.

    Banyak dari kita—termasuk saya sendiri—perlu belajar dari Santo Yusuf dan memohon perantaraannya untuk menjadi suami, orang tua, dan anggota keluarga yang lebih baik. Seperti dia, semoga kita menempatkan Tuhan di atas segalanya, melakukan pengorbanan harian karena kasih, menahan diri dari kemarahan, dan memilih pengampunan saat paling dibutuhkan.

    Santo Yusuf, doakanlah kami!

    Roma
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Refleksi:

    • Apakah kita mencintai Allah lebih dari diri kita sendiri?
    • Apakah kita bersedia melakukan pengorbanan kecil setiap hari karena cinta?
    • Bagaimana kita mengekspresikan amarah, terutama saat merasa frustrasi?
    • Bagaimana kita merespons saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana kita?
    • Apakah kita siap untuk memaafkan, bahkan saat itu sulit?

    Pilgrims of Hope

    The Epiphany [C]
    January 5, 2025
    Matthew 2:1-12

    Only Matthew recorded the story of the Magi from the East, devoting just 12 verses to it (around 1.12% of his Gospel). Yet, Christians throughout generations have found this story deeply fascinating and full of mysteries. Who were these Magi? Were there really three of them? Where exactly did they come from in the East? What was the “star” they saw? What is the meaning behind their gifts? While these questions remain the subject of debate and discussion, one thing draws us all to this story—we can all relate to the experience of the Magi. But what exactly is this shared experience?

    We are captivated by the Magi’s journey because we, too, are journeying. Every day, we travel—from home to school or work, from one place to another. Every Sunday, we journey to church. Occasionally, we explore new places for vacation, discovery, or pilgrimage. At other times, we are compelled to go places we would rather avoid, like hospitals. At a deeper level, life itself is a journey. From the moment we leave our mother’s womb until we reach our final destination, we are constantly moving through time and space. Deep within, we ask ourselves, “Where are we going? Does my journey have a purpose?”

    The story of the Magi offers us answers to these fundamental questions. When the Magi discovered the “star” of the newborn King, they knew they had to find Him. However, they could have misinterpreted the star’s meaning. Along the way, they faced potential dangers and unforeseen challenges. The risks were enormous. Yet, they did not give up easily. As true pilgrims, they pressed on with hope—hope to find the One they desired most.

    Matthew gives us few details about their journey, leaving much to our imagination. Yet, we can sense their surprise when they failed to find the newborn King in Jerusalem. They likely expected the King to be the son of Herod, the reigning monarch. Despite this setback, they did not lose hope but continued their search. Their surprise grew even greater when they found the baby King in the humble home of Joseph and Mary. Yet again, despite unmet expectations, their hope pointed them to this little baby would become the King of Israel, and thus, they offered their homage and gifts. The Magi became the first non-Israelites to accept Jesus. Their journey reminds us of St. Paul’s words: “Hope does not disappoint” (Romans 5:5).

    Like the Magi, we, too, are pilgrims in this world. At times, we feel unsure of our paths, surrounded by uncertainties. Sometimes, our journey seems meaningless, especially when we are tired or lost. Often, we are afraid to face challenges and dangers. Yet, deep inside, we know we must keep moving forward, hoping that our journey toward Jesus will bear fruit. For it is He whom our hearts desire most. Gabriel Marcel, a Catholic philosopher, beautifully expresses this in his book Homo Viator, “I almost think that hope is for the soul what breathing is for the living organism. Where hope is lacking, the soul dries up and withers…” We are pilgrims on earth—not of fear or despair, but of hope.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide Questions

    Are we aware that we are sojourners on this earth, not permanent residents? Do we recognize our true destination? What efforts do we make to stay on the right path? How do we respond to challenges and troubles in our journey? How can we keep our hope alive during this long journey?

    Peziarah dengan Harapan

    Epifani [C]

    5 Januari 2025

    Matius 2:1-12

    Hanya Matius yang mencatat kisah orang Majus dari Timur, dengan hanya 12 ayat (sekitar 1,12% dari Injilnya). Namun, umat Kristiani dari generasi ke generasi selalu melihat kisah ini sangat menarik dan penuh dengan misteri. Siapakah orang-orang Majus ini? Benarkah mereka berjumlah tiga orang? Dari mana tepatnya mereka datang dari Timur? Apakah “bintang” yang mereka lihat? Apa makna di balik pemberian mereka? Sementara pertanyaan-pertanyaan ini masih menjadi bahan perdebatan dan diskusi, ada satu hal yang membuat kita tidak berbeda dengan para Majus. Apakah itu?

    Kenapa kita bisa terpikat oleh kisah perjalanan orang Majus karena kita juga sejatinya sedang melakukan perjalanan. Setiap hari, kita melakukan perjalanan, dari rumah ke sekolah atau tempat kerja, dari satu tempat ke tempat lain. Setiap hari Minggu, kita melakukan perjalanan ke gereja. Terkadang, kita menjelajahi tempat-tempat baru untuk berlibur atau berziarah. Di lain waktu, kita terpaksa untuk pergi ke tempat-tempat yang kita tidak sukai, seperti rumah sakit karena kita sakit. Sejatinya, hidup kita itu sendiri adalah sebuah perjalanan. Dari saat kita meninggalkan rahim ibu kita, hingga kita mencapai tujuan akhir kita, kita terus bergerak melintasi ruang dan waktu. Kita adalah peziarah di dunia ini. Jauh di dalam hati, tidak jarang kita bertanya, “Ke mana saya pergi? Apakah perjalanan saya memiliki tujuan?”

    Kisah para Majus memberikan kita jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar ini. Ketika para Majus menemukan “bintang” sang Raja yang baru lahir, mereka tahu bahwa mereka harus menemukan-Nya. Namun, mereka bisa saja salah menafsirkan arti bintang itu. Di sepanjang perjalanan, mereka bisa saja menghadapi potensi bahaya dan tantangan yang tak terduga. Risikonya sangat besar. Namun, mereka tidak menyerah. Sebagai peziarah sejati, mereka terus maju dengan satu harapan untuk menemukan Dia yang paling mereka dambakan.

    Matius hanya memberikan sedikit rincian tentang perjalanan mereka, dan membiarkan imajinasi kita mengambilnya selebihnya. Namun, kita dapat merasakan betapa terkejutnya mereka ketika mereka gagal menemukan Raja yang baru lahir di Yerusalem. Mereka mungkin berharap bahwa Raja itu adalah putra Herodes, raja yang sedang berkuasa pada saat itu. Meskipun mengalami kegagalan, mereka tidak hilang harapan dan terus melanjutkan perjalanan mereka. Rasa terkejut mereka semakin menjadi-jadi ketika mereka menemukan Raja mungil di rumah Yusuf dan Maria yang sederhana. Sekali lagi, walaupun di luar bayangan mereka, mereka tidak berhenti berharap bahwa kelak, bayi ini sungguh akan menjadi raja besar, dan mereka memberikan penghormatan dan persembahan. Para Majus menjadi orang non-Israel pertama yang menerima Yesus. Perjalanan mereka mengingatkan kita akan kata-kata Santo Paulus: “Pengharapan tidak mengecewakan” (Roma 5:5).

    Seperti orang Majus, kita juga adalah peziarah di dunia ini. Terkadang, kita merasa tidak yakin dengan jalan kita, dikelilingi oleh ketidakpastian. Terkadang, perjalanan kita tampak tidak berarti, terutama ketika kita lelah atau tersesat. Seringkali, kita takut menghadapi tantangan dan bahaya. Namun, jauh di dalam lubuk hati kita, kita tahu bahwa kita harus terus melangkah maju, karena sebuah pengharapan bahwa perjalanan kita menuju Yesus akan menghasilkan buah sejati. Karena Dialah yang paling dirindukan oleh hati kita. Gabriel Marcel, seorang filsuf Katolik, dengan indah mengungkapkan hal ini dalam bukunya Homo Viator, “Saya berpikir bahwa harapan bagi jiwa adalah seperti bernapas bagi organisme hidup. Di mana harapan tidak ada, jiwa menjadi kering dan layu…” Kita adalah peziarah di bumi ini, dan kita berjalan bukan karena takut atau putus asa, tetapi karena pengharapan.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan Panduan

    Apakah kita sadar bahwa kita adalah pendatang di bumi ini, bukan penghuni tetap? Apakah kita mengenali tujuan kita yang sebenarnya? Upaya apa yang kita lakukan untuk tetap berada di jalan yang benar? Bagaimana kita menanggapi tantangan dan masalah dalam perjalanan kita? Bagaimana kita dapat menjaga harapan kita tetap hidup selama perjalanan panjang ini?

    Hidden Life, a Holy Life

    Feast of the Holy Family [C]

    December 29, 2024

    Luke 2:41-52

    Jesus did not appear in the world as a fully grown man out of nowhere, nor did He descend from the sky like an alien. Instead, He chose to be born as a little child into the family of Joseph and Mary. Interestingly, most of the events within this family, spanning more than 30 years, remain hidden. What did Jesus do during this time? Why did He choose to remain hidden during these years?

    The little information we have comes from St. Luke, who tells us that Jesus submitted to the authority of Joseph and Mary and grew in age and wisdom, much like any other child (Luke 2:52). This implies that Jesus experienced and acted as any Israelite boy or man would in His time. As a baby, Jesus received constant nourishment from Mary. He learned to speak, walk, and play. As a young child, He likely helped Mary with household chores and played with His peers and relatives. When He became strong enough, He helped Joseph with his work and learned the family trade of carpentry. Being a descendant of David, Joseph was likely responsible for teaching Jesus to read, especially the Torah.

    As a young man, Jesus continued to assist Joseph in his work. From time to time, they may have travelled to nearby major cities, such as Sepphoris, to work on various building projects. It’s reasonable to believe that Jesus not only learned to read the Torah but also to interpret and teach the Law of Moses under Joseph’s guidance. Young Jesus likely observed His foster father discussing and debating the precepts of the Law with local Pharisees and scribes. Perhaps He even listened as Joseph preached in the synagogue in Nazareth.

    From this account, we see that there was nothing outwardly remarkable about the hidden lives of Jesus, Mary, and Joseph. Everything seemed ordinary. Had Jesus been born in our time, He would have grown up doing many of the things we commonly do. However, it would be a mistake to think that what Jesus did in Nazareth was insignificant. Jesus is not only fully human but also fully divine. His divinity sanctifies every aspect of His humanity, including the most ordinary moments of His life. Whatever Jesus did—whether working, eating, or even resting—was holy and salvific.

    Through the mystery of the Incarnation, Jesus shared in our humanity. Because of this, we may share in His divinity through grace. Many of us live ordinary lives, punctuated by occasional exceptional moments. Yet, through Jesus and His hidden life, everything we do—even the smallest and most mundane tasks—can become a means of sanctification and salvation when done out of love for God and our neighbors. The little, unseen things we do in our families, schools, and workplaces can sanctify us if we offer them with love. The sufferings and pains we endure can also make us holy when we bear them patiently and without sin. Ultimately, the holiness of ordinary things is made possible when we unite everything we do, endure, and live with the living sacrifice of Jesus in the Eucharist.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Guide questions:

    Do we recognize that Jesus is present even in our daily and ordinary lives? Do we realize that even simple things we do in our lives contribute to our holiness? Do we know that God see even little and hidden acts of love we do for our parents, children and even strangers?

    Hidup yang Tersembunyi, Hidup yang Kudus

    Pesta Keluarga Kudus [C]

    29 Desember 2024

    Lukas 2:41-52

    Yesus tidak muncul di dunia sebagai seorang pria dewasa secara tiba-tiba, dan Dia juga tidak turun dari langit seperti alien. Sebaliknya, Dia memilih untuk dilahirkan sebagai seorang anak dalam keluarga Yusuf dan Maria. Menariknya, sebagian besar peristiwa dalam keluarga ini, yang berlangsung selama lebih dari 30 tahun, tetap tersembunyi. Apa yang Yesus lakukan selama masa itu? Mengapa Dia memilih untuk tetap tersembunyi selama tahun-tahun ini?

    Sedikit informasi yang kita miliki berasal dari Santo Lukas, yang mengatakan bahwa Yesus tunduk pada otoritas Yusuf dan Maria dan bertumbuh dalam usia dan kebijaksanaan (Lukas 2:52). Intinya tidak ada perbedaan mendasar antara kanak-kanak Yesus dan anak-anak lainnya. Yesus mengalami dan bertindak seperti seorang Israel pada zaman-Nya. Sebagai seorang bayi, Yesus menerima kasih dan perhatian dari Maria. Dia belajar berbicara, berjalan, dan bermain. Sebagai seorang anak kecil, Dia mungkin membantu Maria melakukan pekerjaan rumah tangga dan bermain dengan teman sebaya dan kerabat-Nya. Ketika Dia menjadi cukup kuat, Dia membantu Yusuf dalam pekerjaannya dan belajar pertukangan, sebagai bagian dari usaha keluarga. Sebagai keturunan Daud, Yusuf kemungkinan besar bertanggung jawab untuk mengajar Yesus membaca, terutama Taurat.

    Sebagai seorang pemuda, Yesus membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Dari waktu ke waktu, mereka mungkin melakukan perjalanan ke kota-kota besar terdekat, seperti Sepphoris, untuk mengerjakan berbagai proyek pembangunan. Masuk akal untuk percaya bahwa Yesus tidak hanya belajar membaca Taurat, tetapi juga menafsirkan dan mengajarkan Hukum Musa di bawah bimbingan Yusuf. Yesus muda kemungkinan besar mengamati ayah angkat-Nya berdiskusi dan berdebat tentang ajaran-ajaran Taurat dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat setempat. Mungkin Dia bahkan mendengarkan Yusuf ketika dia berkhotbah di sinagoge di Nazaret.

    Dari kisah ini, kita melihat bahwa tidak ada yang luar biasa dari kehidupan tersembunyi Yesus, Maria, dan Yusuf. Semuanya tampak biasa saja. Seandainya Yesus lahir di zaman ini, Dia akan tumbuh besar dengan melakukan banyak hal yang biasa kita lakukan. Namun, adalah sebuah kesalahan jika kita berpikir bahwa apa yang Yesus lakukan di Nazaret tidak ada gunanya. Yesus tidak hanya sepenuhnya manusia tetapi juga sepenuhnya ilahi. Keilahian-Nya menguduskan setiap aspek kemanusiaan-Nya, termasuk saat-saat yang paling biasa dalam hidup-Nya. Apa pun yang Yesus lakukan-baik bekerja, makan, atau bahkan beristirahat-adalah kudus dan menyelamatkan.

    Melalui misteri Inkarnasi, Yesus berbagi dalam kemanusiaan kita. Karena itu, kita dapat berbagi dalam keilahian-Nya melalui rahmat. Banyak dari kita menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, yang sesekali diselingi oleh momen-momen yang luar biasa. Namun, melalui Yesus dan kehidupan-Nya yang tersembunyi, segala sesuatu yang kita lakukan – bahkan tugas-tugas terkecil dan paling biasa – dapat menjadi sarana pengudusan dan keselamatan jika dilakukan dengan kasih kepada Tuhan dan sesama. Hal-hal kecil yang tidak terlihat yang kita lakukan dalam keluarga, sekolah, dan tempat kerja dapat menguduskan kita jika kita melakukannya dengan kasih. Penderitaan dan rasa sakit yang kita alami juga dapat menguduskan kita jika kita menanggungnya dengan sabar dan tanpa dosa. Pada akhirnya, kekudusan dari hal-hal yang biasa menjadi mungkin ketika kita menyatukannya dengan kurban Yesus yang hidup di dalam Ekaristi.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Pertanyaan-pertanyaan panduan:

    Apakah kita menyadari bahwa Yesus hadir bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita menyadari bahwa hal-hal sederhana yang kita lakukan dalam hidup kita berkontribusi pada kekudusan kita? Apakah kita tahu bahwa Allah melihat tindakan kasih yang kecil dan tersembunyi yang kita lakukan untuk orang tua, anak-anak, dan bahkan orang asing?

    Cold Yet Blessed Christmas

    Nativity of Our Lord [C]
    December 25, 2024
    Luke 2:1–14

    One privilege I had as a priest was the opportunity to study in Rome, and one unforgettable experience was celebrating Christmas in this eternal city. A striking difference from my home country was immediately apparent: Christmas in Rome is cold. Coming from a country near the equator, where the temperature remains relatively constant throughout the year, experiencing December as winter (with temperatures ranging from 8°C to -1°C) was a stark contrast. As I celebrated Christmas in this chilly season, my first thought was that it must have been a similarly cold winter in Bethlehem when Jesus was born.

    Some skeptics argue that it’s unlikely Jesus was born in December, claiming it would have been too cold for shepherds to keep watch over their sheep in the open fields. While December is indeed winter in Israel, it’s not so cold as to prevent people from staying outside. A quick online search reveals that nighttime temperatures in Bethlehem-Jerusalem average around 7–8°C. After all, sheep are typically kept outdoors, and the shepherds, familiar with these conditions, would have been well-prepared to endure the chilly environment.

    The shepherds may have been prepared for the cold, but what about the baby Jesus? While winters in Israel are milder than in many European countries, the fact remains that winter in Bethlehem is cold and chilling. The first sensation baby Jesus likely felt upon leaving the warmth of Mary’s womb was the cold. Certainly, Mary and Joseph would have done their utmost to protect and keep Him warm, but the low temperatures could not be completely avoided. This chill would have been even more pronounced given that Jesus was not born in a modern, comfortable maternity ward but in a humble place for animals – a cave, as tradition tells us.

    Yet, this very humility is at the heart of Christmas: Emmanuel, God-with-us. Our God is not a distant deity hidden away in the heavens, occasionally sending angels to interact with us. He is intimately present, becoming one of us, human. From the moment of His conception, He felt, experienced, and endured everything we are and do. The coldness of that Christmas night was only the beginning. Jesus would come to know hunger and thirst, pain and sorrow, just as we do. He also embraced the warmth and love of Mary and Joseph. He grew and learned to live as we do. He knows who we are because He has become one of us.

    It’s true that we often pray for the Lord to remove our suffering, pain, and sorrow, yet it seems these struggles persist. In His divine wisdom, God allows our suffering, though we may not always understand the reasons. However, through the mystery of Christmas, we are assured of one profound truth: Jesus knows our pain. He shares in it and bears it with us. This is our Gospel, this is our Christmas.

    Rome

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Merry and Blessed Christmas!

    Natal yang Dingin Namun Penuh Berkah

    Kelahiran Tuhan Kita [C]

    25 Desember 2024

    Lukas 2:1-14

    Saya bersyukur memperoleh kesempatan untuk belajar di Roma, dan salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah merayakan Natal di kota yang abadi ini. Perbedaan yang mencolok dari perayaan natal di Indonesia langsung terasa: Natal di Roma terasa dingin. Berasal dari negara yang berada di garis khatulistiwa, di mana suhu udara relatif konstan sepanjang tahun, mengalami bulan Desember sebagai musim dingin (dengan suhu berkisar antara 8°C hingga -1°C) merupakan hal yang sangat baru. Ketika saya merayakan Natal di musim dingin ini, pikiran pertama saya adalah Bethlehem juga sangat dingin ketika Yesus lahir.

    Beberapa orang yang tidak percaya berpendapat bahwa Yesus tidak mungkin lahir pada bulan Desember, dengan alasan bahwa cuaca terlalu dingin bagi para gembala untuk menjaga domba-domba mereka di padang rumput (Luk 2:8). Meskipun Desember memang merupakan musim dingin di Israel, namun dinginnya tidak mencegah orang untuk tetap berada di luar rumah. Penelusuran cepat di internet menunjukkan bahwa suhu malam hari di Bethlehem-Yerusalem rata-rata sekitar 7-8°C. Lagi pula, domba-domba biasanya dipelihara di luar ruangan, dan para gembala, yang terbiasa dengan kondisi seperti ini, pasti sudah siap untuk bertahan di lingkungan yang dingin.

    Para gembala mungkin sudah siap menghadapi cuaca dingin, tapi bagaimana dengan bayi Yesus? Meskipun musim dingin di Israel tidak sedingin di banyak negara Eropa, faktanya musim dingin di Bethlehem tetap dingin dan menggigil. Sensasi pertama yang mungkin dirasakan oleh bayi Yesus ketika meninggalkan kehangatan rahim Maria adalah rasa dingin. Tentu saja, Maria dan Yusuf telah melakukan yang terbaik untuk melindungi dan menjaga Dia tetap hangat, tetapi suhu yang rendah tidak dapat sepenuhnya dihindari. Rasa dingin ini akan semakin terasa karena Yesus tidak dilahirkan di ruang bersalin yang modern dan nyaman, melainkan di tempat yang sederhana untuk hewan – sebuah gua, seperti yang dikatakan oleh tradisi.

    Namun, kerendahan hati inilah yang menjadi inti dari Natal: Imanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita bukanlah Tuhan yang jauh yang tersembunyi di surga, yang sesekali mengirim malaikat untuk berinteraksi dengan kita. Dia hadir secara intim, menjadi salah satu dari kita, manusia. Sejak saat pembuahan-Nya, Dia merasakan, mengalami, dan menanggung segala sesuatu yang kita alami dan lakukan. Dinginnya malam Natal itu hanyalah permulaan. Yesus akan merasakan lapar dan haus, rasa sakit dan kesedihan, sama seperti kita. Dia juga merasakan kehangatan dan kasih Maria dan Yusuf. Dia bertumbuh dan belajar untuk hidup seperti kita. Dia tahu siapa kita karena Dia telah menjadi salah satu dari kita.

    Memang benar bahwa kita sering berdoa agar Tuhan menyingkirkan permasalahan, rasa sakit, dan kesedihan kita, namun tampaknya pergumulan ini terus berlanjut. Dalam kebijaksanaan ilahi-Nya, Tuhan mengizinkan penderitaan ini terjadi, meskipun kita mungkin tidak selalu mengerti alasannya. Namun, melalui misteri Natal, kita yakin akan satu kebenaran yang mendalam: Yesus mengetahui penderitaan kita. Dia ikut merasakannya dan menanggungnya bersama kita. Inilah Injil kita, inilah Natal kita.

    Roma

    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

    Selamat Natal!

    The Magi and the Truth

    The Epiphany of the Lord
    January 7, 2024
    Matthew 2:1-12 [B]

    The Christmas season ends with the feast of Epiphany. This ancient feast is associated with the story of the Magi from the East who visited the child Jesus in Bethlehem. The story is a fitting conclusion to the Christmas season since the Magi represented the nations of the world who came and worshiped the newborn king. Jesus was born not only to be the Messiah of the Jews but also the Savior of the nations.

    The identity of the Magi remains largely a mystery. The earliest depiction in the Basilica of the Nativity in Bethlehem presented them dressed in Persian clothes (presently Iran). But, some fathers of the Church believed that they were Chaldeans (now Iraq). Others still argued that they were coming from northern Syria because they were thought to be the descendants of Baalam (see Num 22). Finally, we are not really sure. The Bible describes them as ‘Magos’; in the Bible itself, ‘Magos’ has ambiguous meanings. The word Magos can be negatively associated with a sorcerer, one who practiced magic and even to earn money and fame (see Acts 13:6). Yet, the term can also be translated as a sage or wise man, one who dedicated himself in search of Truth.

    The Church’s traditions tend to see the Magi as the wise men from the East. These were people who offered their lives in search of the Truth. Yet, living two millennia before us, they did not enjoy the fruits of scientific revolutions and methods. They had to rely on limited resources and information, often mixed with myths and superstitions. They did not have chemistry yet, but rather alchemy (protoscience that aims to transform one material into something else like gold or medicine). They did not yet understand astronomy principles but contended with astrology (a pseudo-science that reads the celestial bodies and how they relate to human fates). The majority of their literature probably dealt with magic rather than true science.

    However, despite their limitations, God recognized their sincere effort and thus led them to the Truth himself through the star. After all, God placed in their hearts the profound thirst for Truth. They proved their commitment as they left their palaces’ comfort and embarked on a long, dangerous journey. We are also not sure what Baltazar, Melchior, and Gaspar (as the tradition calls them) truly experienced when they discovered Jesus, the Truth. We are confident that the Magi are the symbols of humanity in search of Truth for God Himself.

    Like the Magi, God also created us as beings that possess a fundamental hunger for Truth. Unfortunately, this hunger for Truth does not find its fulfillment because of sins. The sin of laziness poisons our desire for Truth and chains us in our comfort zones. The sin of lust turns our desire for Truth into carnal desire. The sin of pride makes us believe that we already possess the Truth and we do not need God’s grace. Learning from the Magi, we recognize that sciences are also parts of God’s providence to lead us into ultimate Truth to Himself.

    Rome
    Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP