Orang Majus dan Kebenaran

Hari Raya Penampakan Tuhan – Epifani [B]
7 Januari 2024
Matius 2:1-12

Masa Natal berakhir dengan perayaan Epifani. Perayaan kuno ini erat hubungannya dengan kisah orang Majus dari Timur yang mengunjungi bayi Yesus di Bethlehem. Kisah ini merupakan penutup yang tepat untuk masa Natal karena orang Majus mewakili bangsa-bangsa di dunia yang datang dan menyembah raja yang baru lahir. Yesus lahir bukan hanya sebagai Mesias bagi orang Yahudi, tetapi juga Juruselamat bagi semua bangsa.

Identitas orang Majus masih menjadi misteri besar. Lukisan paling awal di Basilika Kelahiran Yesus di Bethlehem menampilkan mereka mengenakan pakaian Persia (sekarang Iran). Namun, beberapa bapa Gereja percaya bahwa mereka adalah orang Kasdim (sekarang Irak). Yang lain berpendapat bahwa mereka berasal dari Suriah utara karena mereka dianggap sebagai keturunan Baalam (lihat Bil. 22). Alkitab menggunakan kata ‘Magos’, dan di dalam Alkitab sendiri, kata ‘Magos’ memiliki arti yang ambigu. Kata Magos dapat diasosiasikan secara negatif dengan tukang sihir, untuk mendapatkan uang dan ketenaran (lihat Kisah13:6). Namun, istilah ini juga dapat diterjemahkan sebagai orang bijak, mereka yang mendedikasikan dirinya untuk mencari Kebenaran.

Tradisi Gereja cenderung melihat orang Majus sebagai orang bijak dari Timur. Mereka adalah orang-orang yang memberikan hidup mereka untuk mencari Kebenaran. Namun, hidup dua milenium sebelum kita, mereka tidak menikmati metode ilmiah dan ilmu pengetahuan modern. Mereka harus mengandalkan sumber daya dan informasi yang terbatas, yang sering kali bercampur dengan mitos dan takhayul. Mereka belum mengenal ilmu kimia, melainkan alkimia (proto-sains yang bertujuan untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan lain seperti emas atau obat-obatan). Mereka belum memahami prinsip-prinsip astronomi, namun mereka lebih banyak berkutat pada astrologi (ilmu semu yang membaca benda-benda langit dan bagaimana hubungannya dengan nasib manusia). Mayoritas literatur mereka mungkin lebih banyak membahas tentang ilmu gaib daripada ilmu pengetahuan yang benar.

Namun, terlepas dari keterbatasan mereka, Tuhan melihat upaya tulus mereka, dan dengan demikian menuntun mereka kepada Kebenaran sejati melalui bintang-Nya. Bagaimanapun juga, Tuhan jugalah menempatkan kehausan yang mendalam akan Kebenaran di dalam hati mereka. Mereka membuktikan komitmen mereka ketika mereka meninggalkan kenyamanan istana mereka dan memulai perjalanan yang panjang dan berbahaya. Kita juga tidak yakin apa yang sebenarnya dialami oleh Baltazar, Melkior, dan Gaspar (sebagaimana tradisi menyebutnya) ketika mereka menemukan Yesus, Sang Kebenaran. Namun, kita yakin bahwa orang Majus adalah simbol dari umat manusia yang sedang mencari Kebenaran untuk Tuhan sendiri.

Seperti orang Majus, Tuhan juga menciptakan kita sebagai makhluk yang memiliki rasa lapar yang mendalam akan Kebenaran. Sayangnya, rasa lapar akan Kebenaran ini sering kali tidak terpenuhi karena dosa. Dosa kemalasan meracuni hasrat kita akan Kebenaran dan membelenggu kita dalam zona nyaman. Dosa hawa nafsu mengubah keinginan kita akan Kebenaran menjadi keinginan daging. Dosa kesombongan membuat kita percaya bahwa kita telah memiliki kebenaran dan kita tidak membutuhkan rahmat Allah. Belajar dari orang Majus, kita menyadari bahwa ilmu pengetahuan juga merupakan bagian dari penyelenggaraan Allah untuk menuntun kita ke dalam Kebenaran yang hakiki.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wives, Husband and Family in God’s Plan

Feast of the Holy Family of Jesus, Mary and Joseph

December 31, 2023

Luke 2:22-40

“Wives, be subordinate to your husbands, as is fitting in the Lord [Col 1:18].” To us, modern readers, the words of St. Paul raise our eyebrows. How come St. Paul instructed women to be subjected and even slaves to men? Were not men and women created equal in dignity? Is St. Paul anti-women or even a misogynist?

To answer these objections, we must understand the historical context of St. Paul and the Church in Colossae. In the Greco-Roman society of the first century AD, women were basically the household property of men. They were primarily responsible for producing legitimate heirs to their husbands and were expected to care for the house. They were to obey their husbands in all respects. Indeed, there were strong and dominant women, but these were exceptions. Even for the women of nobility, though they enjoyed rare lives of luxury, they also turned out to be political tools. They were offered as brides to secure political alliances and the families’ economic security.

Reading St. Paul in this context, his letter is, in fact, revolutionary. In the section of the instructions to the Christian families (see Col 3:18-21), St. Paul did not write, “Husbands, tell your wives that they need to be your subjects!” Instead, he addressed his female readers directly and made his instructions clear to them. This writing style unearthed Paul’s fundamental understanding of the relationship between men and women: wives stand on equal ground with their husbands. What is even more remarkable is that St. Paul mentioned the women first and the men second. This was unheard of! St. Paul transgressed the cultural limitations to preach, “For as many of you as were baptized into Christ have put on Christ. There is neither Jew nor Greek, there is neither slave nor free, there is neither male nor female; for you are all one in Christ Jesus [Gal 3:27-28].”

Now, how do we understand Paul’s word, ‘be subordinate’? St. Paul used the original Greek word ‘ὑποτάσσω’ (read: hupotasso). It literally means ‘to be assigned under.’ So, the wives are assigned under the husbands. Yet, it does not mean that women are lower in human dignity and status in the family. St. Paul understood that the human family is also a form of human community, and any human community need ‘order’ to flourish. A leader is a responsible person who ensures that the order works properly and, thus, generates the greatest good for everyone in the community. In a family context, St. Paul recognized the husband is the leader of an order called family.

St. Paul further clarified this ‘subordination’ by his instruction to the husbands, “Husbands, love your wives, and avoid any bitterness toward them.” For Paul, family is an order of love. Yes, the men are the heads of families, but they are not tyrants but the leaders of love. Men who are naturally stronger physically are expected to protect and provide for the family. Paul expected husbands to give up their lives for their families, as Christ gave His life for the Church (see Eph 5:25). Thus, ‘ὑποτάσσω’ means that wives are under the radical love of husbands.

We recognize that Paul’s ideal is not always happening. Because of our weakness and the devil’s attack, we fall into sin, and we fail to become a good husband or wife. Yet, we must not lose hope because this is God’s plan for us, and we continue to strive in holiness through God’s grace.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Istri, Suami dan Keluarga dalam Rencana Ilahi

Pesta Keluarga Kudus Yesus, Maria dan Yusuf
31 Desember 2023
Lukas 2:22-40

“Hai istri-istri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah istrimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” [Kol 1:18-19].” Bagi kita, para pembaca modern, kata-kata Santo Paulus ini membuat kita terheran-heran. Paulus memerintahkan wanita untuk tunduk dan menjadi bawahan dari suami? Bukankah pria dan wanita diciptakan sederajat? Apakah Santo Paulus anti perempuan?

Untuk menjawab keberatan-keberatan ini, kita harus memahami konteks historis Santo Paulus dan Gereja di Kolose. Dalam masyarakat Yunani-Romawi pada abad pertama Masehi, perempuan pada dasarnya adalah properti rumah tangga laki-laki. Mereka terutama bertanggung jawab untuk menghasilkan keturunan yang sah bagi suami dan diharapkan untuk merawat rumah tangga. Mereka harus mematuhi suami mereka dalam segala hal. Memang, ada wanita-wanita yang kuat dan dominan, tetapi ini adalah pengecualian. Bahkan bagi para wanita bangsawan, meskipun mereka menikmati kehidupan mewah yang langka, mereka juga menjadi alat politik. Mereka ditawarkan sebagai pengantin untuk mengamankan aliansi politik dan keamanan ekonomi keluarga.

Dalam konteks ini, surat Paulus sebenarnya sesuatu yang revolusioner. Pada bagian instruksi untuk keluarga Kristiani (lihat Kol 3:18-21), Santo Paulus tidak menulis, “Hai suami, beritahukanlah kepada istrimu, bahwa mereka harus tunduk kepadamu!” Sebaliknya, ia menyapa para pembaca wanitanya secara langsung (tidak melalui suami mereka). Gaya penulisan ini menunjukkan pemahaman Paulus yang mendasar tentang hubungan antara pria dan wanita: istri berdiri sejajar dengan suami mereka. Yang lebih luar biasa lagi adalah Paulus menyebutkan perempuan terlebih dahulu dan laki-laki di urutan kedua. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya! Paulus melanggar batasan budaya pada zamannya untuk mewartakan, “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus [Gal. 3:27-28].”

Sekarang, bagaimana kita memahami kata Paulus, ‘tunduklah’? Paulus menggunakan kata Yunani ‘ὑποτάσσω’ (baca: hupotasso). Secara harfiah kata ini berarti ‘ditugaskan di bawah’. Jadi, para istri ditugaskan di bawah para suami. Namun, ini tidak berarti bahwa perempuan lebih rendah martabatnya dan statusnya dalam keluarga. Paulus memahami bahwa keluarga juga merupakan suatu bentuk komunitas manusia, dan setiap komunitas manusia membutuhkan sebuah ‘tatanan’ (organisasi) untuk berkembang. Seorang pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ‘tatanan’ berjalan dengan baik dan, dengan demikian, menghasilkan kebaikan terbesar bagi semua orang dalam komunitas. Santo Paulus menyatakan bahwa suami adalah pemimpin dari tatanan keluarga.

Paulus memperjelas ‘ὑποτάσσω’ ini dengan instruksinya kepada para suami, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” Bagi Paulus, keluarga adalah sebuah tatanan kasih. Ya, para pria adalah kepala keluarga, tetapi mereka bukanlah diktator, melainkan pemimpin kasih. Laki-laki yang secara alamiah lebih kuat secara fisik diharapkan untuk melindungi dan menafkahi keluarga. Paulus mengharapkan para suami untuk menyerahkan hidup mereka bagi keluarga mereka, sebagaimana Kristus telah menyerahkan hidup-Nya bagi Gereja (lihat Efesus 5:25). Dengan demikian, ‘ὑποτάσσω’ berarti istri berada di bawah perlindungan dan kasih dari para suami.

Kita menyadari bahwa cita-cita Paulus tidak selalu terjadi. Karena kelemahan kita dan serangan iblis, kita jatuh ke dalam dosa, dan kita gagal menjadi suami atau istri yang baik. Namun, kita tidak boleh kehilangan harapan karena ini adalah rencana Allah bagi kita, dan kita terus berjuang dalam kekudusan melalui kasih karunia Allah.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Joy of Christmas

The Nativity of our Lord (Christmas)

December 25, 2023

Luke 2:1-14

Merry Christmas!

The Lord is born, and there is a great joy in heaven and earth. However, what is the reason behind this joy of Christmas? There is joy not because we can gather with our family and relatives and have a good Christmas party. The joy is not because we have gifts and bonuses, nor because we travel and have our vacations. So, what is behind this joy?

Christmas is the day that our Savior is born. This birth is not just a natural biological process involving a man and a woman. This birth is a supernatural event that takes its root from God’s love for us, pitiful sinners. God had countless options to redeem us, yet He chose the most intimate way. God the Father sent His Son, and the Son took His second nature, that is, human nature in the Virgin Mary. In this way, God becomes intimately close to us, thus, His title, Immanuel, God-with-us. He is with us not only in spiritual or mystical manners but in the most humanly possible. He is a baby Mary could feed, Joseph could embrace, and shepherds could see.

However, Christmas is the cause of rejoicing not only in a theological sense but also because it is a strong reminder for all of us. We are living in a changing culture and mindset. Many couples no longer want to have children. Indeed, there are some valid reasons, such as economic hardship that makes it impossible to raise children or certain medical conditions that can be dangerous for the mothers. Yet, many also consider having children a burden, and thus, want only to have the fun things in marriage but get away with the difficult parts, including raising children.

However, Christmas reminds us that while it is true that having children carries its own hardship, it also brings joy. It is true that after receiving Jesus, Mary and Joseph did not get a better life; in fact, they had to endure more suffering. Yet, Mary and Joseph celebrated the birth of the Son of God. We must not forget that the countless angelic community sang glory to the Lord in heaven, and on earth, the shepherds rushed to joyfully greet Mary and Joseph [see Luk 2].

Getting pregnant is indeed a painful and laborious process, and educating our children can often be economically and emotionally challenging. Yet, God also provides abundant joy for parents. There is immense and indescribable joy when the mother sees her newborn baby for the first time. When the parents lovingly interact with their babies, the bodies intensely produce ‘positive’ hormones like oxytocin and dopamine. A friend who recently had a baby recounted her joy every time she noticed simple yet significant growth in her baby. There is joy when the baby begins to pronounce words clearly. There is joy when the baby starts recognising and distinguishing her parents’ faces from others.

Christmas teaches us that there is great joy in heaven when a baby is conceived and born because this baby is a potential citizen of heaven. Now, it is our joy to bring our children entrusted to us to God and share the fullness of life with Him.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sukacita Natal

Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus (Natal)
25 Desember 2023
Lukas 2:1-14

Selamat Natal!
Tuhan telah lahir, dan ada sukacita besar di surga dan di bumi. Namun, apa alasan di balik sukacita Natal ini? Sukacita ini ada bukan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga dan kerabat dan mengadakan pesta Natal yang meriah. Sukacita ini ada bukan karena kita mendapatkan hadiah dan bonus, juga bukan karena kita berlibur dan healing. Jadi, apa sebenarnya di balik sukacita ini?

Natal adalah hari kelahiran Juruselamat kita. Kelahiran ini bukan hanya sebuah proses biologis alamiah yang melibatkan seorang pria dan wanita. Kelahiran ini adalah sebuah peristiwa adikodrati yang berakar dari kasih Allah kepada kita, para pendosa. Allah memiliki banyak sekali pilihan untuk menebus kita, namun Dia memilih cara yang paling intim. Allah Bapa mengutus Putra-Nya, dan Sang Putra mengambil kodrat-Nya yang kedua, yaitu kodrat manusia dalam diri Perawan Maria. Dengan cara ini, Allah menjadi sangat dekat dengan kita, sehingga gelar-Nya, Imanuel, Allah yang bersama kita, menjadi sebuah kenyataan. Dia bersama kita tidak hanya dalam cara-cara rohani atau mistik, tetapi dalam cara yang paling manusiawi. Dia adalah bayi yang Maria susui, Yusuf peluk, dan para gembala kunjungi. Dia adalah yang wafat disalib dan bangkit pada hari ketiga. Dia adalah yang naik ke surga, dan yang hadir di setiap Ekaristi. Dia, sang Immanuel, Allah yang bersama kita sampai akhir zaman.

Namun, Natal juga memberikan kita alasan lain untuk bersukacita. Kita hidup dalam budaya dan pola pikir yang telah berubah. Banyak pasangan yang tidak lagi ingin memiliki anak. Memang, ada beberapa alasan yang sah, seperti kesulitan ekonomi yang tidak memungkinkan untuk membesarkan anak atau kondisi medis tertentu yang dapat membahayakan ibu. Namun, banyak juga yang menganggap memiliki anak hanya sebagai beban, dan dengan demikian, hanya ingin menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam pernikahan tetapi tidak ingin terlibat dalam hal-hal yang sulit, termasuk membesarkan anak.

Namun, Natal mengingatkan kita bahwa meskipun benar bahwa memiliki anak membawa kesusahan tersendiri, namun juga membawa sukacita. Memang benar bahwa setelah menerima Yesus, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan kehidupan yang lebih baik; bahkan mereka harus menanggung lebih banyak penderitaan. Namun, Maria dan Yusuf tetap merayakan kelahiran Anak Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa bala malaikat yang tak terhitung jumlahnya penuh suka cita dan bernyanyi kemuliaan bagi Allah di surga, dan di bumi, para gembala bergegas menyambut Maria dan Yusuf dengan penuh sukacita [lihat Lukas 2].

Kehamilan memang merupakan proses yang menyakitkan dan melelahkan, dan mendidik anak-anak sering kali dapat menjadi tantangan secara ekonomi dan emosional. Namun, Tuhan juga menyediakan sukacita yang berlimpah bagi para orang tua. Ketika orang tua berinteraksi dengan penuh kasih dengan bayi mereka, tubuh akan memproduksi hormon ‘positif’ seperti oksitosin dan dopamin. Seorang teman yang baru saja memiliki bayi menceritakan kegembiraannya setiap kali ia melihat pertumbuhan yang sederhana namun signifikan pada bayinya. Ada kegembiraan ketika bayi mulai mengucapkan kata-kata dengan jelas. Ada sukacita ketika bayi mulai mengenali dan membedakan wajah orang tuanya dengan orang lain. Seorang teman lain juga bercerita bagaimana ada sukacita yang tak terlukiskan saat melihat wajah sang bayi yang terlahir sehat, setelah mengalami beberapa kali keguguran.

Natal mengajarkan kepada kita bahwa ada sukacita yang besar di surga ketika seorang bayi dikandung dan dilahirkan karena bayi ini adalah calon warga surga. Sekarang, adalah sukacita kita untuk membawa anak-anak yang dipercayakan kepada kita kepada Tuhan dan berbagi kepenuhan hidup dengan-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emas, Mur dan Kemenyan

Epifani [A]
8 Januari 2023
Matius 2:1-12

Kisah orang Majus memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi kisah petualangan yang luar biasa. Kisah ini dimulai dengan perjalanan panjang dan penuh tantangan orang-orang Majus dari timur yang mencari harta karun yang besar, yaitu Raja yang baru lahir. Ada juga bintang misterius yang membimbing mereka. Kemudian, tokoh antagonis, dalam diri Herodes, muncul. Dia tampaknya seorang pria yang suka menolong dan tulus, tetapi diam-diam menyembunyikan niat jahatnya dan berencana untuk menghancurkan Raja sejati. Kemudian kejutan! Para Majus menemukan sang Raja mereka pada kondisi yang paling tak terduga: bukan di istana, tapi di rumah sederhana, bukan dalam kekayaan, tetapi dari keluar sederhana, bukan raja biasa, tapi Sang Imanuel, Allah-bersama-kita. Kemudian, sebagai penutup, orang-orang Majus berhasil lolos dari raja gila karena mereka diperingatkan dalam mimpi dan kembali ke negara mereka sendiri melalui jalan yang berbeda dan lebih aman.

Matius adalah seorang narator yang jenius, dan mengizinkan kita, para pembacanya, untuk menjadi bagian dari cerita ini. Sebagian besar dari kita bisa dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan orang-orang Majus. Ia juga membiarkan beberapa elemen ceritanya ‘tidak lengkap’ sehingga kita bisa mengisinya dengan interpretasi dan imajinasi kita. Salah satunya adalah tiga persembahan orang Majus. Lalu, mengapa mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur?

Salah satu jawaban paling awal berasal dari St. Irenaeus (sekitar 200 M). Dia mengatakan bahwa tiga persembahan itu mewakili identitas dan misi Kristus. Emas adalah salah satu logam yang paling berharga, dan ini menjadi simbol dari Kristus Sang Raja. Kemenyan berkualitas tinggi juga merupakan sesuatu yang berharga digunakan untuk ritual keagamaan, dan ini menjadi simbol keilahian dan imamat Kristus. Sementara itu, mur adalah rempah-rempah berharga yang digunakan dalam penguburan (lihat Yoh 19:39), dan ini merujuk pada kematian dan kodrat manusia Yesus. St. Thomas Aquinas dari abad ke-13, dalam tafsirannya tentang Injil Matius, menjelaskan bahwa pemberian-pemberian ini memiliki tujuan yang lebih praktis. Emas adalah untuk membantu Keluarga Kudus yang berkekurangan secara finansial. Mur mungkin digunakan untuk menghangatkan tubuh bayi, dan kemenyan untuk menghilangkan bau tidak enak.

Penafsiran lain yang menarik adalah bahwa emas, mur, dan kemenyan adalah bahan yang digunakan dalam alkimia dan sihir kuno. Orang Majus (dari kata ‘magos’ dan akar kata ‘magic’) diyakini terlibat dalam kegiatan sihir, tetapi ketika mereka menemukan Yesus, mereka memutuskan untuk meninggalkan hal-hal ini dan menemukan cara baru dalam hidup mereka. Dengan demikian, karunia-karunia ini melambangkan pertobatan orang Majus kepada iman yang sejati.

Namun, secara pribadi saya cenderung ke arah penafsiran yang paling sederhana. Orang Majus mempersembahkan benda-benda ini karena hal-hal ini adalah benda-benda yang paling berharga yang mereka miliki saat itu. Mereka mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki kepada Raja sejati. Ini adalah sikap yang tepat untuk menghormati sang raja dan juga menyembah Tuhan. Di dalam Alkitab, tindakan penyembahan melibatkan persembahan yang terbaik yang kita miliki kepada Tuhan. Orang Majus menemukan Allah yang benar dan menyembah-Nya. Hal ini mengubah hidup mereka dan membawa sukacita dan keselamatan bagi mereka.

Kisah Epifani menyadarkan kita bahwa umat manusia memiliki tujuan, yaitu untuk menemukan Tuhannya. Kita sangat diberkati karena kita telah menemukan Allah kita. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita ingin menyembah Dia? Apa yang akan kita persembahkan kepada-Nya? Apakah kita bersedia memberikan hal-hal yang paling berharga dalam hidup kita? Apakah kita ingin hidup kita diubahkan? Sampai kita mempersembahkan emas, mur, dan kemenyan kita, itu belum mencapai akhir yang bahagia dan mulia.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gold, Myrrh and Frankincense

The Epiphany [A]
January 8, 2023
Matthew 2:1-12

The story has what it takes to be magical. It begins with a long and adventurous journey of people searching for a great treasure, the new-born King. There is also a mysterious star that guides them. Then, the antagonist, in the person of Herod, appears. He seems to be a helpful and sincere guy, but secretly hides his evil intention and plot to destroy the true King. Here comes the twist. The main characters discover their King in the most unexpected way: a little child in a humble house with His poor family, yet He is also Emmanuel, God-with-us. Then, for the finale, the Magi barely escape the mad king as they are warned in a dream and return to their own countries through a different and safer way.

Matthew is a genius storyteller, and allows us, his readers, to be part of the story. Most of us can easily identify ourselves with the Magi. He also leaves some elements ‘incomplete’ so that we may fill them in with our interpretation and imagination. One of those is the Magi’s gifts. Why do they offer gold, frankincense, and myrrh?

One of the earliest answers comes from St. Irenaeus (ca. 200 AD). He said that the gifts represent the identity and mission of Christ. Gold is one of the most precious and expensive metals, and this is for His kingship. Frankincense is a resin from a particular plant and is commonly used for religious ritual, and this is the symbol of His divinity and priesthood. Meanwhile, myrrh is a spice used in burial (see John 19:39), and this points to His death and human nature. St. Thomas Aquinas in his commentary on Matthew explained that these gifts served practical purposes. Gold is to support the Holy Family, who was poor. Myrrh may be used to warm the baby’s body, and frankincense to remove the stench.

Another interesting interpretation is that gold, myrrh, and frankincense are materials used in ancient alchemy and sorcery. Magi (from ‘magos’ and the root word of ‘magic’) were believed to be involved in magical activities, but when they discover Jesus, they decide to give up these things and find a new way in their lives. Thus, these gifts represent the conversion of the Magi to true faith.

However, I am personally inclined towards the simplest interpretation. The Magi offered these items because these gifts were the most precious things in their possessions. They offered the best they had to the true King. This is a fitting gesture of honoring a king as well as worshiping God. In the Bible, acts of worship involve offering the best we have to God. The Magi discovered the true God and worshipped Him. This transformed their lives and brought them joy and salvation.

The story of Epiphany tells us that the human race has a purpose, that is to find its God. We are extremely blessed because we have discovered our God. Yet, the question is: do we wish to worship Him? What will we offer to Him? Are we willing to give the most precious things in our lives? Do we desire our lives to be transformed? Until we offer our gold, myrrh, and frankincense, it is not yet a glorious ending.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mary and her Motherhood

Solemnity of Mary, the Mother of God [A]
January 1, 2023
Luke 2:16-21

After eight days (octave) we ponder the mystery of our Savior’s birth, we turn our eyes to the woman who gave birth to the Savior. Therefore, exactly on January 1, we celebrate the solemnity of Mary, the Mother of God. It is once again an opportunity to clarify some misconceptions about this important dogma, as well as to deepen our understanding on her motherhood.

photocredit: Fra Angelicum

The title mother of God for Mary does not mean that she is a god-mother who created other deities. Neither she is a goddess-wife of God the Father. The Church always teaches that Mary is not a god, but a human being. To understand better, we look closely the word ‘mother’. A mother is someone who has a person in her womb and eventually give birth to that person. Mary had the second person of the Trinity in her womb, and in due course, gave birth to Him. Thus, as simple logical conclusion, Mary is the mother of Jesus, the Second Person of the Trinity. In short, Mary is the Mother of God.

However, being a mother is not only about getting pregnant and giving birth. A true mother is a woman who also raises, nourishes and educates her children. Mary did not stop when she gave birth to Jesus in Bethlehem. She did not leave Jesus on the manger and went away. She did not abandon baby Jesus to the Magi or to Herod’s army. With Joseph, Mary protected, nurtured and ‘made big’ Jesus. In fact, Mary was faithful to follow Jesus to His cross and tomb.

How did Mary perceive her identity as a mother? We recognize that when Mary received Jesus in her womb, she was entering extremely perilous situations. She could lose her life because people may stone her, or Herod’s soldiers may arrest and kill her. She endured the life of exile in Egypt, and had to contain with life of poverty. But, did she regret her decision?

The answer we can get from Mary’s song, ‘Magnificat’. “My soul magnifies the Lord, and my spirit rejoices in God my Savior… (Luk 1:46–47)” In Hebrew language, the term ‘my soul’ or ‘my spirit’ is another way to say ‘I’. Thus, Mary said, “I magnifies the Lord, and I rejoices in God my Savior.” Interesting to note is the word ‘magnify’ or literally ‘make big’. What does it mean ‘Mary makes big the Lord’? The Greek word is ‘μεγαλύνω (- megaluno)’ and it is related to Hebrew word ‘גָּדַל’ (- gadal) which means to become physically mature. Therefore, what Mary said is that she physically nourishes the Lord in her womb as well as to make sure the Lord grow into maturity. And in her role as a mother of the Lord, she rejoiced exceedingly.

Mary becomes an antithesis to modern toxic maternity. In our time, many separate sexualities with pro-creation, and even consider fertility as disease. Many see being a mother and having a child are unnecessary burden that must be avoided and disposed. Mary saw things the opposite way. Despite life-threatening situations, Mary accepted her motherhood as integral part of her identity as woman. She saw Jesus in her womb as great blessing, and her participation in God’s will. She knew well only when she fulfilled God’s plan, she found her true joy.

Happy Mothers’ Day!
And
Happy New Year!

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

We are the Magi

The Epiphany of the Lord

January 3, 2021

Matthew 2:1-12

The Christmas season ends with the feast of Epiphany of the Lord or the Feast of the Three Kings. However, if we read the Gospel carefully, we will discover that one who visited Jesus is magi, and the word “king” is not used to describe them. The Gospel of Matthew also reveals neither their number nor names. St. Matthew only speaks of three gifts offered: gold, frankincense and myrrh.

Magi is coming from the Greek word ‘magos’, and it is the same root word for magic. In his book ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives,’ Pope Benedict XVI explains that Magi has a wide range of meanings. In one sense, it may point to a black magician like Simon the Magician [see Acts 8:9-24], but in another sense, the magi may refer to the philosophers of noble birth coming from the land of Persia. Ancient philosophers are educated people who devoted themselves to the pursuit of wisdom. This is the reason why we call the magi also the wise men. It seems that the wise men have eventually discovered through their careful study, that the great king who is the embodiment of wisdom herself has been born in the land of Judea.

Are they kings? The Church recognizes that the magi who brought three particular gifts are the fulfillment of ancient prophecy. Isaiah said, “Nations shall walk by your light,

and kings by your shining radiance. Raise your eyes and look about; they all gather and come to you… bearing gold and frankincense, and proclaiming the praises of the LORD [Isa 60:3-4,6; which is our first reading].” In short, Isaiah prophesized that the light will guide kings, and they will come and bring gifts of gold and frankincense, and praise the Lord. The magi match the description of Isaiah’s prophecy, and from here, we can also say that the magi are also kings who were guided by the light of the star and offered precious gifts to Jesus. They might be indeed kings of small nations or perhaps, members of royalty, otherwise Herod the great would not have received them in his palace and welcome them cordially.

What about their names? Writing from the 8th century, ‘Excerpta Latina barbari,’ introduces them as Balthasar, Melchior and Gaspar. Whether these are their real name or not, we are never sure. However, we are invited to have the spirit and character of these wise men.

To find Jesus, they left their homes’ comfort and embarked into a long and challenging journey. They also learned to open their hearts as they discovered that the great king is not in Herod’s palace, but a poor home of Joseph and Mary. Ultimately, they humbled themselves before Jesus as they worshipped Him and offered the best gifts representing their lives. Then, they may go home with great joy.

Epiphany means God’s manifestation to the nations, yet this manifestation requires the magi to get up, search, and be humble. We are the magi. We are invited to look diligently for Jesus. To be baptized, catholic is undoubtedly excellent, but it is just the first step of our incredible journey. We are called to go deeper into the beauty of our faith. We are challenged to see Jesus in even the most unexpected places. Unless we go out and seek, we never find. It is because we are the magi.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kita adalah Orang Majus

Hari Raya Epifani

3 Januari 2021

Matius 2: 1-12

Masa Natal diakhiri dengan hari raya Penampakan Tuhan Yesus atau juga dikenal sebagai Pesta Tiga Raja. Namun, jika kita membaca Injil dengan cermat, kita akan menemukan bahwa orang yang mengunjungi Yesus adalah orang majus, dan kata ‘raja’ tidak digunakan untuk mendeskripsikan mereka. Injil Matius juga tidak menyebutkan berapa atau nama mereka. St. Matius hanya berbicara tentang tiga hadiah yang dipersembahkan: emas, kemenyan dan mur.

Majus berasal dari kata Yunani ‘magos’ dan ini adalah akar kata yang sama untuk ‘magic’. Dalam bukunya ‘Jesus of Nazareth: The Infancy Narratives’, Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa kata ‘magos’ memiliki arti yang cukup luas. Di satu sisi, kata ‘magos’ menunjuk pada seorang penyihir seperti Simon yang mencoba membeli rahmat dari Petrus [lihat Kisah Para Rasul 8: 9-24], tetapi dalam arti lain, ‘magos’ merujuk pada para filsuf dari keluarga bangsawan yang datang dari tanah Persia. Filsuf kuno adalah orang-orang terpelajar yang mengabdikan diri untuk mencari kebijaksanaan. Inilah alasan mengapa kita menyebut orang majus sebagai orang bijak. Mereka tidak berhenti sampai menemukan sang Kebijaksanaan itu sendiri.

Apakah mereka raja? Gereja melihat bahwa orang majus yang membawa tiga hadiah ini adalah penggenapan nubuat kuno. Yesaya berkata, “Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling, mereka semua datang berhimpun kepadamu… akan membawa emas dan kemenyan,  serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan. [Yes 60: 3-4,6; yang merupakan bacaan pertama kita].”

Singkatnya, Yesaya menubuatkan bahwa raja-raja akan dibimbing oleh cahaya dan mereka akan datang membawa persembahan emas dan kemenyan, dan memuji Tuhan. Dari sini, kita juga bisa mengatakan bahwa orang majus juga adalah raja yang dibimbing oleh cahaya bintang dan mempersembahkan hadiah berharga kepada Yesus. Mereka mungkin sungguh raja dari kerajaan kecil di timur atau anggota keluarga kerajaan, jika tidak Herodes Agung tidak akan menerima mereka di istananya dan menyambut mereka dengan hormat.

Bagaimana dengan nama mereka? Sebuah tulisan yang berasal dari abad ke-8, ‘Excerpta latina barbari,’ memperkenalkan mereka sebagai Balthasar, Melchior dan Gaspar. Apakah ini nama asli mereka? Kita tidak pernah tahu dengan pasti. Namun, kita diajak untuk memiliki semangat dan karakter orang majus tersebut.

Untuk menemukan Yesus, mereka meninggalkan kenyamanan tempat tinggal mereka, dan memulai perjalanan yang panjang dan sulit. Mereka belajar juga untuk membuka hati mereka ketika mereka menemukan bahwa raja agung tidak ada di istana Herodes, tetapi ada di keluarga miskin Yusuf dan Maria. Akhirnya, mereka merendahkan diri di hadapan Yesus saat mereka menyembah Dia dan mempersembahkan hadiah terbaik yang mewakili hidup mereka. Hanya dengan demikian, mereka bisa pulang dengan penuh sukacita.

Epifani berarti penampakan Tuhan kepada bangsa-bangsa, namun hal ini menuntut orang majus untuk bangkit, mencari dan menjadi rendah hati. Kita adalah orang majus. Kita diundang untuk mencari Yesus dengan tekun. Dibaptis menjadi katolik memang rahmat yang luar biasa, tetapi ini adalah langkah awal dari perjalanan besar kita. Kita dipanggil untuk masuk lebih dalam lagi untuk menemukan keindahan iman kita. Kita ditantang untuk melihat Yesus bahkan di tempat yang paling tidak terduga. Jika kita tidak mau pergi dan mencari, kita tidak pernah menemukan-Nya. Ingat bahwa kita adalah orang majus.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: jeff jewiss