Holy Families

Feast of the Holy Family [B]

December 27, 2020

Luke 2:22-40

We are celebrating the feast of the Holy Family, and indeed, we are celebrating not only the family of Jesus, Mary, and Joseph but every human family. Through this liturgical celebration, the Church is inviting us to recognize the importance and the value of our family. Not only acclaiming the fundamental worth of family, but we are also invited to embrace and celebrate family lives.

At a human level, many social experts have understood that healthy and thriving societies begin in robust families. The families do not only fill the communities with human populations, but they provide an environment where children can grow into physically and psychologically mature men and women. A healthy and mature adult turns to be an asset to society.

From the perspective of faith, the Church always considers family as the basic unit of society and the Church herself. In his apostolic exhortation, Familiaris Consortio, Pope St. John Paul II affirmed the family’s fundamental role as the intimate community of life and love. In the family, husband and wife learn to love each other deeper and deeper every day. In the family, parents offer unconditional and sacrificial love for their children. In the family, the children learn to give honor and respect to their parents and their brothers and sisters. Because only in love, human persons find their true fulfillment as God’s image who is Love.

The Scriptures also give premium to family life. To honor our mother and father is one of the Torah’s highest commandments [Exo 20:]. Sirach even claimed that honoring our parents can atone for our sins [Sir 3:3]. St. Paul himself, in his letter to the Colossians, instructed each member of the family on how to behave [see Col 3:12-21].

Yet, going back to Jesus, we discover that for Him, a family is indeed indispensable. As God, Jesus could have come to us directly from heaven. He did not need human aid. Yet, He chose to be born of the virgin Mary, and through the angel, instructed Joseph to become the husband of Mary and, thus, His foster father. When He became man, He entered a human family and grew through Joseph and Mary’s guidance and protection. Jesus has become part of a family, and His presence sanctified His human family. This is a poignant message for all that family is a school of holiness because Jesus is present.

We also admit that family life is not always smooth and sweet. Moments of frustrations, misunderstanding, anger, and sadness often come and struck us. Various problems ranging from economic stability to emotional immaturity beset our familial relationship. However, these ugly situations may be transformed into means of holiness if Jesus is present among us. Raising children can be tough and even irritating, but we can offer this cross to the Lord as prayer. A relationship with our spouse can be filled with misunderstanding, but before we vent our emotions, we may pause a moment and ask the Lord the best course of action we shall take. Thus, through these difficulties, we are made closer to the Lord.

We thank the Lord for the gift of life, love, and family.

Happy feast day of the Holy Family!

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keluarga-Keluarga Kudus

Pesta Keluarga Kudus [B]

27 Desember 2020

Lukas 2: 22-40

Kita merayakan pesta Keluarga Kudus, namun kita tidak hanya merayakan keluarga Yesus, Maria dan Yusuf, tetapi setiap keluarga di dunia. Melalui perayaan liturgi hari ini, Gereja mengundang kita untuk menyadari pentingnya dan berharganya keluarga kita. Tidak hanya menghargai nilai dasar keluarga, kita diundang untuk merangkul dan merayakan kehidupan keluarga.

Di tingkat manusia, banyak ahli sosial telah memahami bahwa masyarakat yang sehat dan berkembang dimulai dari keluarga yang kokoh. Keluarga tidak hanya mengisi komunitas dengan populasi manusia, tetapi juga menyediakan lingkungan di mana anak-anak dapat tumbuh menjadi pria dan wanita yang dewasa secara fisik dan psikologis. Manusia-manusia dewasa yang sehat dan mapan menjadi aset masyarakat dan bangsa.

Dari perspektif iman, Gereja selalu memandang keluarga sebagai unit dasar tidak hanya masyarakat tetapi Gereja itu sendiri. Dalam Seruan Apostoliknya, Familiaris Consorsium, Paus St. Yohanes Paulus II menegaskan peran fundamental keluarga sebagai “komunitas hidup dan kasih”. Dalam keluarga, suami dan istri belajar untuk saling mencintai semakin dalam setiap harinya. Dalam keluarga, orang tua memberikan kasih tanpa pamrih dan pengorbanan untuk anak-anak mereka. Di dalam keluarga, anak-anak belajar untuk menghormati dan menyayangi orang tua serta saudara-saudara mereka. Karena hanya dalam kasih, manusia menemukan pemenuhan sejatinya sebagai citra Tuhan yang adalah Kasih.

Alkitab juga sangat menghargai kehidupan keluarga. Menghormati ibu dan ayah kita adalah salah satu perintah tertinggi dalam Hukum Taurat [Kel 20]. Sirach bahkan mengklaim bahwa menghormati orang tua kita dapat menghapus dosa-dosa kita [Sir 3:3]. St. Paulus sendiri dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, memberikan instruksinya kepada setiap anggota keluarga tentang bagaimana berperilaku yang baik sebagai anggota keluarga [lihat Kol 3: 12-21].

Kembali kepada Yesus, kita menemukan bahwa bagi Dia, keluarga memang sangat esensial. Sebagai Tuhan, Yesus bisa saja datang kepada kita langsung dari surga. Dia tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menebus manusia. Namun, Dia memilih untuk dilahirkan dari perawan Maria, dan melalui malaikat, Dia menginstruksikan Yusuf untuk menjadi suami Maria dan dengan demikian, menjadi ayah angkat-Nya. Ketika Yesus menjadi manusia, Dia memasuki keluarga manusia, dan tumbuh melalui bimbingan dan perlindungan Yusuf dan Maria. Yesus telah menjadi bagian dari sebuah keluarga, dan kehadiran-Nya menguduskan keluarga manusia-Nya. Ini adalah pesan penting bagi semua keluarga bahwa keluarga akan menjadi sekolah kekudusan karena Yesus hadir.

Kita akui juga bahwa kehidupan keluarga tidak selalu mulus dan manis. Saat-saat frustrasi, kesalahpahaman, amarah dan kesedihan seringkali datang dan menghantam kita dengan keras. Berbagai masalah mulai dari stabilitas ekonomi hingga ketidakdewasaan emosional melanda hubungan kekeluargaan kita. Namun, situasi buruk ini dapat diubah menjadi sarana kekudusan jika Yesus hadir di antara kita. Membesarkan anak bisa jadi sulit dan bahkan menjengkelkan, tetapi kita bisa mempersembahkan salib ini kepada Tuhan sebagai doa. Hubungan dengan pasangan kita dapat dipenuhi dengan kesalahpahaman, tetapi sebelum kita melampiaskan emosi kita, kita mungkin berhenti sejenak dan bertanya kepada Tuhan tindakan terbaik yang akan kita ambil. Dengan demikian, melalui kesulitan-kesulitan ini, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Kita berterima kasih atas karunia kehidupan, kasih dan keluarga.

Selamat Pesta Keluarga Kudus!

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Emmanuel

Christmas – Mass during the Night [B]

December 24, 2020

Luke 2:1-14

Christmas is one of the most beautiful and joyous times of the year. Christmas is the time to gather with the families and friends and to have an exchange of gifts. Christmas is the time to put up Christmas trees, place Nativity scenes, and play Christmas songs. Surely, Christmas is the time when families once again go to the church together.

However, this year, things do not go as we want them to be. The pandemic caused by Covid-19 continues to plague our societies, and it significantly affects how we do things and relate with one another. Some of us can no longer go home because of our nature of professions or travel restrictions. Some of us will not attend the beautiful Christmas vigil liturgy because the Church remained closed. Some of us have no special meals on the table because the poor economy hits us hard. For some of us, it is just a lonely and sad Christmas because some of our family members are sick or even have passed away.

Is this still a Christmas? In these difficult situations, all the more, we are invited to reflect on the mystery of Incarnation. The drama of salvation begins with a little baby with His poor parents. Joseph was David’s son, yet he was no more than a poor carpenter, who cannot even provide a decent place for his wife to give birth. Mary was a young mother who had to endure unimaginable shame and various threats to her life. And, at the center of Christmas is the baby boy who is God and yet chose to be born in the most unworthy place of all, a cave filled with animals. He did not opt for much grander places like a royal palace or a magnificent castle. He did not decide to be wrapped with a purple royal garment, but a simple linen cloth. He did not select a golden and comfortable bed, but an unhygienic stone manger.

Looking at the circumstances, Jesus’ birth is not that impressive, but this is what makes the mystery of Incarnation touch every human heart. He did not come as an imposing and authoritarian king like Augustus. He did not come as a shrewd military leader like Julius Caesar. He did not come as a smart politician like Herod. God comes to us as the weakest baby in the humblest place. He is a God who radically loves us and wills to embrace even our weak nature.

Christmas reminds us that Jesus is with us when we are broken by economic conditions; Jesus is with us when we cannot be with our loved ones. Jesus is with us when we are losing our family members. The first Christmas points to us that God does not always spare us from suffering, but He promises to be with us in these terrible times.

One of my friends just lost his father due to Covid-19. It was sudden and untimely death. And what made it very painful is they could not give the last farewell for him as the remain brought immediately to the cemetery. When I had a chance to talk to him, I discovered he could accept the death, and then I asked him the reason. He narrated to me that before his father was admitted to the hospital, he gave his father a brown scapular. He also learned that his father passed away when he was praying the rosary. He believed that his father was not alone when he died; God is with him. Indeed, Jesus is the Emmanuel: God is with us.

Merry Christmas!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: debby hudson

Immanuel

Malam Natal [B]

24 Desember 2020

Lukas 2: 1-14

Natal adalah salah satu masa terindah dan menggembirakan. Natal adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan para sahabat, dan juga bertukar hadiah. Natal adalah waktu memasang pohon Natal, merancang Gua Natal, dan memutar lagu-lagu Natal. Pastinya, Natal adalah saat keluarga pergi ke gereja bersama-sama.

Namun, tahun ini, banyak hal tidak berjalan seperti yang kita inginkan. Pandemi yang disebabkan oleh Covid-19 terus menghantam masyarakat kita, dan memengaruhi secara signifikan cara kita melakukan sesuatu dan berelasi satu sama lain. Beberapa dari kita tidak bisa lagi pulang karena profesi kita atau pembatasan perjalanan. Beberapa dari kita tidak akan dapat menghadiri liturgi malam Natal yang indah karena Gereja tetap tutup. Beberapa dari kita tidak memiliki makanan spesial di atas meja karena ekonomi yang buruk memukul kita dengan keras. Bagi sebagian dari kita, ini adalah Natal yang dingin dan menyedihkan karena beberapa anggota keluarga kita sakit atau bahkan telah meninggal dunia.

Apakah ini masih Natal? Dalam situasi sulit ini, semakin kita diundang untuk merenungkan misteri Inkarnasi. Drama keselamatan dimulai dengan seorang bayi kecil dengan orang tua-Nya yang miskin. Yusuf adalah putra Daud, namun dia tidak lebih dari seorang tukang kayu yang sederhana, yang bahkan tidak dapat menyediakan tempat yang layak bagi istrinya untuk melahirkan. Maria adalah seorang ibu muda, yang harus menanggung rasa malu yang tak terbayangkan dan berbagai ancaman terhadap hidupnya. Dan, di tengah Natal adalah bayi laki-laki yang adalah Tuhan sendiri, tetapi memilih untuk dilahirkan di tempat yang paling tidak layak, sebuah gua yang dipenuhi dengan binatang. Dia tidak memilih tempat yang sangat megah seperti istana atau kastil yang megah. Ia tidak memilih untuk dibungkus dengan pakaian kerajaan berwarna ungu, melainkan kain linen sederhana. Dia tidak memilih tempat tidur emas dan nyaman, tetapi palungan batu yang tidak higienis.

Melihat keadaannya, kelahiran Yesus memang tidak terlalu mengesankan, tapi inilah yang membuat misteri Inkarnasi menyentuh hati setiap manusia. Dia tidak datang sebagai raja yang mendominasi dan otoriter seperti kaisar Agustus. Dia tidak datang sebagai pemimpin militer yang lihai seperti Julius Caesar. Dia tidak datang sebagai politikus yang cerdas seperti Herodes. Tuhan datang kepada kita sebagai bayi terlemah di tempat yang paling rendah. Dia adalah Tuhan yang sangat mengasihi kita, dan ingin merangkul bahkan kodrat kita yang lemah kita.

Natal mengingatkan kita bahwa Yesus menyertai kita ketika kita bergulat dengan kondisi ekonomi; Yesus menyertai kita saat kita tidak bisa bersama orang yang kita cintai. Yesus menyertai kita saat kita kehilangan anggota keluarga kita. Natal pertama menunjukkan kepada kita bahwa Tuhan tidak selalu melepaskan kita dari penderitaan, tetapi Dia berjanji untuk selalu menyertai kita di saat-saat yang sulit ini.

Salah satu teman saya baru saja kehilangan ayahnya karena Covid-19. Hal ini adalah kematian yang tiba-tiba dan terlalu cepat. Yang membuatnya sangat menyakitkan adalah mereka tidak bisa memberikan perpisahan terakhir karena jenazah segera dikubur. Ketika saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya, saya melihat dia sudah dapat menerima kepergian ayahnya. Sayapun menanyakan alasannya. Dia menceritakan kepada saya bahwa sebelum ayahnya dirawat di rumah sakit, dia dapat memberikan skapulir coklat kepada ayahnya. Dia juga mengetahui bahwa ayahnya meninggal ketika dia berdoa rosario. Dia percaya bahwa ayahnya tidak sendirian ketika dia meninggal, Tuhan menyertainya. Sungguh, Yesus adalah Imanuel, Tuhan beserta kita.

Selamat Natal!

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: debby hudson

Sincere Pilgrimage

The Solemnity of the Epiphany of the Lord – January 5, 2020 – Matthew 2:1-12

They were overjoyed at seeing the star (Mat 2:10

three magiThe journey of the three wise men from the East embodies the deepest human longing for a meaningful life and true happiness. Balthazar, Melchior and Gaspar, as the tradition called them, were neither Jews nor baptized Christians. In Greek ancient manuscripts of the Gospel, the word used to describe them is ‘magos’, meaning ‘someone with magical power’ or ‘magicians’, and practicing magic is detestable in the eyes of the Jews (2 Cro 33:6). Though we cannot be sure what kind of magic they crafted, but one thing is sure that they read the sign of times and followed the star. Because of this, they were instantaneously accused as one of those astrologers, star-readers who predict the human behaviors and the future, but I would argue that they were actually early astronomers instead astrologers. Like ordinary seamen who gazed the stars and hoped that they would guide them home, the magi did look at the star and believed that they would navigate their way to the true end.

They were people heatedly called the “Gentiles”; people who knew nothing about God and His mighty acts; and people who would fatefully perish because they were far from God’s Law. Yet, God always turns His eyes toward those who are sincerely looking for Him. They became one among the first persons to whom God chose to reveal Himself, and together with them were the simple shepherds. Surprisingly, these people were not learned Jews, wealthy aristocrats and definitely not King Herod the great.

The journey of the wise men is rightly considered as a pilgrimage for a very simple yet essential reason: they have God as their end. It was not a recreational picnic to reenergize oneself. It was never an educational tour to add up knowledge. Surely, it was not a business trip to make one richer. The Gospel tells us they was searching for the “newborn King of the Jews” and intending to pay homage. But, why did they have to give utmost respect to this weak baby whereas there were a lot of powerful kings around them? It was because they were aware that this King was not a typical warlord nor a power-addict politician, but a King that would answer their heart’s desire: the fullness of life and true wisdom. They indeed looked for God Himself and this made them truly wise.

Deep inside us, there is always yearning for real happiness and genuine completeness. Yet, we are often like Herod the Great who boxed himself in his own man-made palace and we seek the answer within ourselves, in richness, power and bodily pleasure. This brings us nothing but frustration and emptiness. The pilgrimage of the three wise men from the east should be ours as well. The three magi give us an authentic example by looking the answer not in ourselves but in God, and only in Him we may find our joy.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perziarahan Sejati

Hari Raya Epiphani – 5 Januari 2020 – Matius 2:1-12

three magi 2Perjalanan tiga orang bijak dari Timur menjadi symbol dari kerinduan terdalam manusia untuk kehidupan yang bermakna dan kebahagiaan sejati. Balthazar, Melchior dan Gaspar, sebagaimana tradisi menyebut mereka, bukanlah orang Yahudi ataupun Kristiani. Dalam naskah kuno Yunani dari Injil, kata yang digunakan untuk mendeskripsikan mereka adalah ‘magos’, yang berarti ‘seseorang dengan kekuatan magis’ atau ‘penyihir’, dan melakukan magis/sihir adalah kejahatan di mata orang-orang Yahudi (2 Taw 33:6). Meskipun kita tidak bisa memastikan apakah mereka sungguh penyihir apa bukan, satu hal yang pasti bahwa mereka membaca tanda-tanda zaman dan mengikuti sang bintang. Karena itu, mereka sering dituduh sebagai astrolog, pembaca bintang untuk memprediksi perilaku manusia dan masa depan, hal yang dilarang banyak agama, tapi saya berpendapat bahwa mereka sebenarnya adalah astronom. Seperti pelaut yang menatap bintang-bintang dan berharap bahwa bintang-bintang ini akan membimbing mereka pulang, orang majus ini juga melihat bintang dan percaya bahwa mereka akan berjalan di jalan yang benar.

Mereka adalah orang-orang yang disebut sebagai “bangsa-bangsa lain” atau “kafir”, orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang Tuhan, dan orang-orang yang dipercaya akan binasa karena mereka jauh dari Hukum Allah. Namun, Tuhan tidak akan menutup mata-Nya terhadap mereka yang dengan tulus mencari Dia. Sungguh, tiga majus ini menjadi salah satu dari antara orang-orang pertama kepada siapa Allah memilih untuk menampakan diri-Nya, dan bersama-sama dengan mereka adalah para gembala sederhana. Anehnya, orang-orang istimewa ini bukanlah orang Yahudi yang terpelajar, bangsawan kaya raya ataupun Raja Herodes yang agung.

Perjalanan dari orang-orang bijak secara tepat bisa kita dianggap sebagai sebuah perziarahan karena mereka memiliki Tuhan sebagai tujuan akhir mereka. Ini bukanlah sekedar piknik untuk menyegarkan diri sendiri. Ini bukanlah wisata pendidikan untuk menambah pengetahuan. Tentunya, ini bukanlah perjalanan bisnis untuk membuat mereka kaya. Injil menyatakan bahwa mereka mencari “Raja orang Yahudi yang baru lahir” dan berniat untuk memberi penghormatan. Namun, mengapa mereka harus memberikan hormat kepada bayi yang lemah ini sementara ada banyak raja-raja yang lebih berkuasa di sekitar mereka? Hal ini karena mereka sadar bahwa Raja ini bukanlah seorang panglima perang maupun politisi yang haus akan kekuasaan, tapi Raja yang akan memenuhi keinginan hati: sebuah kepenuhan hidup dan kebijaksanaan sejati. Mereka memang mencari Allah dan ini membuat mereka benar-benar bijaksana.

Jauh di dalam lubuk hati kita, selalu ada kerinduan untuk kebahagiaan sejati dan kepenuhan yang sempurna. Namun, kita sering seperti Herodes Agung yang mengunci dirinya sendiri di dalam istana buatan manusia karena kita mencari jawaban dalam diri kita sendiri, dalam kekayaan, kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Hal ini hanya membawa kita pada kekosongan dan frustasi. Perziarahan tiga orang bijak dari timur harus menjadi perziarahan kita juga. Tiga orang majus ini memberi kita contoh otentik dengan melihat jawabannya tidak dalam diri kita sendiri tetapi hanya kepada Allah, dan hanya kepada-Nya kita dapat menemukan sukacita kita sejati.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Not a Perfect Family

Feast of the Holy Family – December 29, 2019 – Matthew 2:13-23

If we were given the choice to choose our parents, what kind of parents would we like to have? Perhaps, some of us want to have rich parents. Some of us may desire to have beautiful or genius parents. Some of us may wish to be born in a royal and politically influential family. These are our usual dreams. Yet, surprisingly, these are not the options that God made when He chose His parents. In His beautiful wisdom, God selected Mary and Joseph of Nazareth.

Joseph was a descendant of acclaimed King David, but the Davidic Kingdom was the only thing of the past in the time of Joseph. He was also a carpenter and despite hardworking, this profession just gave enough to survive. Mary was an ordinary young woman from an unknown village called Nazareth. Joseph and Mary were simple if not poor people living within the time where most Israelites were suffering from the oppression of the Roman empire. In the eyes of the world, this couple was nothing.

However, our God is the God of surprises, and He has a hobby to upset “the established world’s order.” For God, the crucial criteria to be His parents are not wealth, popularity, or noble line. God has no need of these things. So, what is the basis of His choice?

The fundamental criterium is faith in God. Joseph and Mary possessed nothing of this world, but both are the man and woman of faith, or the man and woman of God. Joseph was called as the “righteous man,” meaning he was a man who knew the Torah by heart and obeyed them faithfully. Joseph loved God and His laws. Moreover, when Gabriel appeared to Joseph and revealed the plan of God, Joseph immediately got up and followed Angel’s instruction without any question asked. Mary did basically the same thing. When Gabriel told her about God’s plan that she would be the mother of God, Mary did not understand, but she did not simply give her nod, but she accepted God’s design as her own. Joseph and Mary knew well that the moment they participated in God’s way, they had to surrender their own plans, dreams, and hopes. Their lives were practically thrown into the unknown. Yet, their faith is bigger than their fear or pride, and they believed that God’s way is always the best way. These are the kind of parents whom God chose.

Like Joseph and Mary, I do believe that the first attitude that any parents have is faith in God. Every child is a gift, yet this gift will challenge and change the parents who receive them. As a child enters the life of their parents, husband and wife shall also enter the life of sacrifice. Sometimes, I am sudden by the decision of some Catholic couples who refuse to have children. We understand that it is difficult to raise children, but our refusal to accept a gift from God might point to our lack of faith, even to our selfishness, our obsessiveness to our plans, career, and ambitions.

God does not need a perfect couple to raise His Son, He rather chooses a man and woman of faith.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bukan Keluarga Sempurna

Pesta Keluarga Kudus –  29 Desember 2019 – Matius 2: 13-23

holy family 2Jika kita diberi pilihan untuk memilih orang tua kita, orang tua seperti apa yang kita inginkan? Mungkin, sebagian dari kita ingin memiliki orang tua yang kaya. Beberapa dari kita mungkin berhasrat untuk memiliki orang tua yang berupa cantik, tampan atau berotak jenius. Beberapa dari kita mungkin ingin dilahirkan dalam keluarga kerajaan dan berpengaruh secara politis. Ini adalah impian-impian kita yang sangat wajar. Namun, yang mengejutkan, ini bukanlah pilihan yang Allah buat ketika Dia memilih orang tua-Nya. Dalam kebijaksanaan-Nya yang indah, Allah memilih Maria dan Yusuf dari Nazaret.

Yusuf adalah keturunan Raja Daud yang terkenal, tetapi Kerajaan Daud sudah tidak ada di zaman Yusuf. Dia juga seorang tukang kayu dan meskipun bekerja keras, profesi ini hanya cukup untuk bertahan hidup. Maria adalah seorang wanita muda biasa dari desa yang tidak dikenal bernama Nazareth. Yusuf dan Maria adalah orang sederhana, bahkan orang miskin yang hidup di masa ketika sebagian besar orang Israel menderita karena penindasan kekaisaran Romawi. Di mata dunia, pasangan ini bukan apa-apa.

Namun, Tuhan kita adalah Tuhan memberi kejutan, dan Dia memiliki hobi untuk mengacaukan “tatanan dunia yang mapan.” Bagi Tuhan, kriteria penting untuk menjadi orang tua-Nya bukanlah kekayaan, popularitas, atau darah. Tuhan tidak membutuhkan hal-hal ini. Jadi, apa dasar dari pilihan-Nya?

Kriteria mendasar adalah iman kepada Tuhan. Yusuf dan Maria tidak memiliki apa pun di dunia ini, tetapi keduanya adalah pria dan wanita beriman, atau pria dan wanita Allah. Yusuf disebut sebagai “orang yang tulus hati,” yang berarti dia adalah orang yang mengenal Hukum Taurat dan menaati mereka dengan setia. Yusuf mencintai Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Terlebih lagi, ketika Gabriel menampakkan diri kepada Yusuf dan mengungkapkan rencana Tuhan, Yusuf segera bangkit dan mengikuti instruksi Malaikat tanpa ada pertanyaan. Maria pada dasarnya melakukan hal yang sama. Ketika Gabriel memberi tahu dia tentang rencana Tuhan bahwa dia akan menjadi ibu Tuhan, Maria tidak mengerti, tetapi dia tidak hanya memberikan persetujuannya, tetapi dia menerima rancangan Tuhan sebagai miliknya sendiri. Yusuf dan Maria tahu betul bahwa saat mereka mengambil bagian dalam jalan Tuhan, mereka harus menyerahkan rencana, impian, dan harapan mereka sendiri. Namun, iman mereka lebih besar daripada ketakutan atau kesombongan mereka, dan mereka percaya bahwa jalan Tuhan selalu merupakan jalan terbaik, meski mereka tidak mengerti. Ini adalah tipe orang tua yang Tuhan pilih.

Seperti Yusuf dan Maria, saya percaya bahwa sikap pertama yang harus dimiliki setiap orang tua adalah iman kepada Tuhan. Setiap anak adalah karunia, namun karunia ini akan mengubah orang tua yang menerimanya. Ketika seorang anak memasuki kehidupan orang tua mereka, suami dan istri juga akan memasuki kehidupan pengorbanan. Terkadang, saya sedih mendengar keputusan beberapa pasangan Katolik yang menolak untuk memiliki anak. Kita memahami bahwa tentunya sulit untuk membesarkan anak-anak, tetapi penolakan kita untuk menerima karunia dari Tuhan mungkin menunjukkan kurangnya iman kita, bahkan keegoisan kita, obsesi kita terhadap rencana, karier, dan ambisi kita.

Tuhan tidak membutuhkan pasangan yang sempurna untuk membesarkan Putranya, Ia lebih memilih seorang pria dan wanita yang memiliki iman.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Beauty of Christmas

Christmas Vigil – December 24, 2019 – Luke 2:1-14

nativity scene 1Today is Christmas, the day of Jesus was born in Bethlehem, and it is a traditional practice that in every Church or Christian family, there is a nativity scene. Usually, the baby Jesus was born in a kind of stable or shed, and He was placed on the wooden manger (a place where animals eat). Surely, Mary and Joseph are intently watching on the Baby, while other animals like sheep and cows become the silent witnesses of this most beautiful moment in human history. The scene will not be complete without the shepherds and the angel.

The nativity scene is indeed beautiful and always remains us of the simplicity of Christmas that we often miss.

However, if we go back to the time of Joseph and Mary, to first-century Palestine, we will discover a slightly different yet have a deeper meaning. Most probably, Joseph and Mary were not resting in a wooden stable, but inside a stone cave since this is a common feature in hill country Judea. Inside the stone cave is warm and sometimes spacious, and the shepherds use them as a safe and warm shelter for their sheep at night. The mangers provided for sheep were not made of wood, but stone. Sometimes, we see Baby Jesus half-naked on the manger, but Luke describes that Jesus was wrapped in a swaddling cloth. It is normal practice that a new-born baby will be cleansed, and then be enclosed by the cloth to keep the baby warm, protected and comfortable.

We discover that Jesus was born in a stone cave, rested on a stone manger and swaddled in cloth. These three things point to an even greater reality in the life of Christ: His death and resurrection. After the crucifixion, his body was enclosed in cloth, put inside the cave tomb, and rested on the large stone. Yet, it is also the same stone tomb where Jesus rose from death. From the very beginning of Jesus’ life here on earth, His destiny has been foretold: by His death and resurrection, He will save us.

However, there is something even more remarkable. Jesus was placed on a manger, and a manger is none other than a place for animal’s feed. From the beginning, Jesus is already presented to us as a food that will satisfy those who come to Him. Then, what “kind of food” is He? It is not a coincidence that Jesus was born in Bethlehem. The word Bethlehem comes from two Hebrew words: “Beth” meaning “house” and “Lehem” meaning “bread”; thus, Bethlehem is a house of bread. Jesus is given to us as bread, and indeed, Jesus calls Himself as the bread of life [Jn 6:35]. It is interesting also to ask why the shepherds were the first persons invited to see Jesus. One of the possible answers is that the shepherds are the first men who are aware of the birth of a lamb. The shepherds recognized that this holy Baby is a new-born lamb. Indeed, later, Jesus would be called as the Lamb of God [John 1:29]. In ancient Israel, lambs were also the main sacrificial animal in the Temple. Baby Jesus came to feed us, and He came as the bread of life and sacrifice that saves us.

While it is good to spend Christmas with vacation or festive celebration, the best way to celebrate Christmas is none other than to celebrate the Eucharist, to mediate the simplicity and humility of God who came to us as little baby, and to ponder His infinite love that He offered Himself to feed us. This is the beauty of Christmas, that God has chosen to love us to the end.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Keindahan Natal

Vigili Natal –  24 Desember 2019 – Lukas 2: 1-14

nativity scene 2Hari ini adalah Natal, hari Yesus lahir di Bethlehem. Biasanya di setiap Gereja atau keluarga Kristiani, ada sebuah kadang atau gua yang menjadi tempat kelahiran Yesus. Di sini, Bayi Yesus ditempatkan di sebuah palungan kayu (tempat makanan binatang). Tentunya, ada patung Maria dan Yusuf yang dengan penuh perhatian mengawasi sang Bayi, sementara binatang-binatang lain seperti domba dan sapi menjadi saksi bisu dari momen terindah ini dalam sejarah manusia ini. Tentunya, kandang ini tidak akan lengkap tanpa gembala dan malaikat. Tempat kelahiran Yesus ini memang indah dan selalu mengingatkan kita akan kesederhanaan Natal yang sering kita lupakan di tengah hiruk pikuk perayaan Natal dan Tahun Baru.

Namun, jika kita kembali ke zamannya Yusuf dan Mary, ke Palestina abad pertama, kita akan menemukan kesederhanaan Natal ini memiliki maknanya sangat dalam. Kemungkinan besar, Yusuf dan Mary tidak beristirahat di kandang, tetapi di dalam gua batu karena ini adalah hal umum yang ditemukan di Bethlehem yang terletak daerah pegunungan Yudea. Di dalam gua batu itu hangat dan terkadang cukup luas, sehingga para gembala menggunakannya sebagai tempat berlindung yang aman dan hangat untuk domba-domba mereka di malam hari. Palungan yang disediakan untuk domba bukan terbuat dari kayu, tetapi batu. Kadang-kadang, kita melihat Bayi Yesus telanjang dada di palungan, tetapi St. Lukas menggambarkan bahwa Yesus dibungkus dengan lampin. Ini adalah hal wajar bahwa bayi yang baru lahir akan dibersihkan, dan kemudian dibalut oleh kain untuk menjaga bayi tetap hangat, terlindungi dan nyaman.

Kita menemukan bahwa Yesus dilahirkan di sebuah gua batu, dibaringkan pada palungan batu dan terbungkus kain. Tiga hal ini menunjuk pada peristiwa yang lebih besar dalam kehidupan Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya. Kita ingat setelah penyaliban, tubuhnya ditutupi kain, dimasukkan ke dalam makam batu, dan diletakkan di atas batu besar. Namun, kuburan batu dimana Yesus dimakamkan adalah makam yang sama tempat Yesus bangkit dari kematian. Sejak awal kehidupan Yesus di bumi ini, misi-Nya telah dinubuatkan.

Namun, ada sesuatu yang lebih luar biasa. Yesus ditempatkan di palungan, dan palungan tidak lain adalah tempat untuk memberi makan hewan. Sejak awal, Yesus sudah persembahkan kepada kita sebagai makanan yang akan memuaskan mereka yang datang kepada-Nya. Lalu, “jenis makanan” apa Yesus itu? Bukan kebetulan bahwa Yesus lahir di Bethlehem. Kata Bethlehem berasal dari dua kata Ibrani: “Beth” yang berarti “rumah” dan “Lehem” yang berarti “roti”; dengan demikian, Bethlehem adalah rumah roti. Yesus diberikan kepada kita sebagai roti, dan memang, Yesus menyebut diri-Nya sebagai roti hidup [Yoh 6:35]. Menarik juga untuk bertanya mengapa para gembala adalah orang pertama yang diundang untuk melihat Yesus. Salah satu jawaban yang menarik adalah bahwa para gembala adalah orang pertama yang menyadari kelahiran seekor anak domba. Dengan datangnya para gembala, Bayi Yesus yang kudus ini adalah anak domba yang baru lahir. Tak salah jika Yesus akan disebut sebagai Anak Domba Allah [Yohanes 1:29]. Di Israel kuno, domba juga merupakan hewan kurban utama di Bait Allah. Bayi Yesus datang untuk memberi makan kita, dan Dia datang sebagai roti hidup dan korban yang menyelamatkan kita.

Meskipun baik untuk merayakan Natal dengan liburan atau perayaan meriah, cara terbaik untuk merayakan Natal tidak lain adalah dengan merayakan Ekaristi dimana Yesus telah memberikan diri seutuhnya kepada kita manusia. Bersama-sama kita merenungkan kesederhanaan dan kerendahan hati Allah yang datang kepada kita sebagai bayi, dan untuk merenungkan kasih-Nya yang tak terbatas. Inilah keindahan Natal, yang dipilih Tuhan untuk mencintai kita sampai akhir.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP