New Commandment: Agape

5th Sunday of Easter [May 19, 2019] John 13:31-33a, 34-35

childrenAt the Last Supper, after Jesus washed the feet of the disciples, He gives them a new commandment: “love one another as I have loved you”. If there is one single, most beautiful line in the Gospel of John or even in the entire Bible, this would be one of the strongest candidates. However, why does Jesus give us a new commandment?

To understand what Jesus does in the Last Supper, we need to go back to the Old Testament, particularly when the Lord God gave His commandments. After the Lord God delivered Israel from the slavery of Egypt, He made a covenant with them through the mediation of Moses. They shall be God’s people and the Lord shall be their God. This was the fundamental step in the life of Israel because God formed them as the People of God. This was an unprecedented privilege and grace, but with great privilege comes the great responsibility. God wanted them to live as the People of God and not as the other nations that surrounded them. Thus, the Lord gave them the Law that would separate them from other peoples who worshiped false gods, and the most fundamental among these laws are the Ten Commandments. If they stubbornly failed to observe the Law and lived as if like the Gentiles, they would be cut off from the People of God.

At the Last Supper, Jesus does the same as His Father in the desert. He forms His disciples, His family, His Church by giving them a New Law, the Law of Love. Only when the disciples keep the New Law, they will be different from the rest of nations, and they may call themselves as the followers of Jesus. At first, we may perceive that Jesus’ new law is easier done than the Ten Commandment. Yet, when we go deeper to the meaning of love understood by Jesus, it is actually the opposite. Jesus’ Law is much more difficult and tougher to do. Why?

In Greek of the New Testament, there are several words for love. “Eros” is the love between husband and wife. “Philia” is love among friends. None of these two Jesus used to describe His love. It is “agape”. While eros and philia are love based on emotion, agape is love rooted in free will. It is the love of action. That is why Jesus is able to teach us to love our enemies. Jesus does not say we should like our enemies because it is naturally impossible, but we can still do good to our enemies despite the hatred and anger.

But, this agape is not just any agape, it is agape of Jesus. For Him, there is no greater love than one who lays down his life for his friends. Agape of Jesus is sacrificial. It is Jesus’ cross as well as His glory. Only when we love to the point of sacrifice, we may say that we have kept Jesus’ commandment.

Muelmar “Toto” Magallanes was a young Filipino who worked as a construction worker. In 2009, monstrous tropical storm Ondoy battered Metro Manila and caused an instant flood in many areas. When his area was flooded, Toto first brought to safety his family. Yet, he did not stop there. He decided to rescue others who were still trapped by the mighty water. Braving the strong current, he saved more than 30 people. He was already exhausted when he realized a mother and her baby were still in danger. He made his last rescue attempt and brought the mother and her baby to the higher ground. Yet, losing his strength, he was swept by the current. He was lifeless the following day. “He gave his life for my baby,” Menchie Penalosa, the child’s mother, told Agence France-Presse. “I will never forget his sacrifice.”

This is the new commandment of Jesus and only by keeping His Commandment, we can become His authentic disciples.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perintah Baru: Agape

Minggu Paskah ke-5 [19 Mei 2019] Yohanes 13: 31-33a, 34-35

love new commandmentPada Perjamuan Terakhir, setelah Yesus membasuh kaki para murid, Dia memberi mereka perintah baru: “Kasihanilah satu sama lain seperti Aku telah mengasihi kamu”. Namun, mengapa Yesus perlu memberi kita perintah baru?

Untuk memahami apa yang Yesus lakukan dalam Perjamuan Terakhir, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, khususnya ketika Tuhan Allah memberikan Hukum-Nya. Setelah Tuhan Allah membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Dia membuat perjanjian dengan mereka melalui perantaraan Musa. Mereka akan menjadi umat Tuhan dan Tuhan Allah akan menjadi Tuhan mereka. Ini adalah langkah mendasar dalam kehidupan Israel karena Allah membentuk mereka sebagai Umat-Nya. Ini adalah hak istimewa dan rahmat yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi dengan hak istimewa yang besar ini diikuti oleh tanggung jawab besar. Tuhan ingin mereka hidup sebagai Umat Allah dan bukan sebagai bangsa lain yang mengelilingi mereka. Jadi, Tuhan memberi mereka Hukum yang akan memisahkan mereka dari orang-orang lain yang menyembah dewa-dewa palsu, dan yang paling mendasar di antara hukum-hukum ini adalah Sepuluh Perintah Allah. Jika mereka dengan keras kepala gagal mematuhi Hukum Allah dan hidup seolah-olah seperti bangsa-bangsa lain, mereka akan disingkirkan dari Umat Allah.

Pada Perjamuan Terakhir, Yesus melakukan hal yang sama seperti Bapa-Nya di padang gurun. Dia membentuk murid-murid-Nya, keluarga-Nya, Gereja-Nya dengan memberi mereka Hukum Baru, Hukum Kasih. Hanya ketika para murid mematuhi Hukum Baru, mereka akan berbeda dari bangsa-bangsa lain, dan mereka dapat menyebut diri mereka sebagai pengikut Yesus. Pada awalnya, kita dapat merasakan bahwa hukum baru Yesus lebih mudah dilakukan daripada Sepuluh Perintah Allah. Namun, ketika kita masuk lebih dalam ke makna kasih yang dipahami oleh Yesus, kita mulai menyadari bahwa Hukum Yesus jauh lebih sulit untuk dilakukan. Mengapa?

Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, ada beberapa kata untuk kasih. “Eros” adalah kasih antara suami dan istri. “Philia” adalah kasih di antara teman-teman. Tidak satu pun dari kedua kata ini yang digunakan untuk menggambarkan kasih-Nya. Itu adalah “agape”. Sementara eros dan philia adalah cinta berdasarkan perasaan, agape adalah cinta yang berakar pada kehendak bebas. Itu adalah kasih tindakan. Itulah sebabnya Yesus dapat mengajar kita untuk mengasihi musuh kita. Yesus tidak mengatakan kita harus menyukai musuh kita karena itu secara alami tidak mungkin, tetapi kita masih bisa berbuat baik kepada musuh kita meskipun ada kebencian dan kemarahan.

Tetapi agape ini bukan sembarang agape. Bagi-Nya, tidak ada kasih/agape yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Agape Yesus adalah pengorbanan. Itu adalah salib Yesus dan juga kemuliaan-Nya. Hanya ketika kita mengasihi sampai pada titik pengorbanan, kita dapat mengatakan bahwa kita telah mematuhi perintah Yesus.

Muelmar “Toto” Magallanes adalah seorang pemuda Filipina yang bekerja sebagai pekerja konstruksi. Pada 2009, badai tropis Ondoy yang dahsyat menghantam Metro Manila dan menyebabkan banjir di banyak daerah. Ketika daerahnya dilanda banjir, Toto pertama-tama membawa keluarganya ke tempat aman. Namun, dia tidak berhenti di situ. Dia memutuskan untuk menyelamatkan orang lain yang masih terjebak. Menantang arus kuat, dia menyelamatkan lebih dari 30 orang. Dia sudah kelelahan ketika menyadari seorang ibu dan bayinya masih dalam bahaya. Dia melakukan upaya penyelamatan terakhirnya dan membawa ibu dan bayinya ke tempat yang lebih tinggi. Namun, kehilangan kekuatannya, ia tersapu oleh arus. Dia ditemukan tak bernyawa pada hari berikutnya. “Dia memberikan hidupnya untuk bayiku,” Menchie Penalosa, ibu yang bayinya diselamatkan, mengatakan kepada Agence France-Presse. “Aku tidak akan pernah melupakan pengorbanannya.”

Ini adalah perintah baru Yesus dan hanya dengan mematuhi Perintah-Nya, kita dapat menjadi murid-murid-Nya yang otentik.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hearing His Voice

Fourth Sunday of Easter [May 12, 2019] Jn 10:27-30

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me. (Jn. 10:27)”

jesus shepherdFew of us have a direct encounter with a sheep, let alone shepherding sheep. When Jesus says, “My sheep hear my voice.” I thought it was a kind exaggeration. After all the sheep is not that intelligent compared to the Golden Retriever or Labrador who would listen to their owners. However, one time, I watched a video on YouTube about a group of tourists who visited the vast hill in the countryside of Judea where the flock was grazing. They were asked to call the attention of the sheep. One by one, the tourists shouted to the top of their lungs, but they got not even the slightest response. Yet, when the true shepherd came forward and called them out, all the scattered sheep immediately rushed toward the shepherd! It was an eye-opener. Jesus was right. The sheep literally hear the voice of His shepherd.

The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’

Modern men and women, especially the Millennials, are heavily visual creatures. Thanks to smartphones, TV, and computers, our span of attention becomes shorter and shorter. One scientist even says that our span of attention is one second shorter than of the goldfish! The teachers or speakers must use all the visual aids to catch the attention of young listeners. PowerPoint presentation is a minimum requirement nowadays, and the teachers need to move all their body’s parts, to crack a joke, to sing, to dance, even to summersault! Simply listening to a plain talk is tedious, and to read a bare and long text like this reflection is boring. This is also one of the reasons why young people are leaving the Church because they experience the Church, especially her preachers, as boring and dry. After five minutes listening to the preacher, we begin to be restless, checking our watch, scratching our heads, and dozing off!

However, hearing remains fundamental because hearing is the key to following Jesus. We call ourselves, Christians, the follower of Christ, and how can we follow Christ if we do not recognize His voice? While the sense of sight attracts us, sense of hearing remains signs of intimacy and love. Like a sheep that identifies the shepherd’s voice because the shepherd takes care of it, so we recognize the voice of someone we love. I have been hearing the voice of my mother since I was inside her womb, and even when I close my eyes, I can still acknowledge her voice. I can even identify whether she is happy, sad, or angry when she calls my name.

One time, a young man asked me, “Brother, how do we know God’s will?” I replied, “Do you hear His voice?” He immediately said, “I pray, but I never heard a voice.” I said in reply, “Ah, how are you going to hear His voice if you talk all the time? And how are you going to know His voice, if you seldom give your time with Him?” To follow Jesus means that we are able to hear Jesus, and to recognize His voice presupposes we have a loving and strong relationship with Him

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mendengar Suara-Nya

Minggu Paskah keempat [12 Mei 2019] Yoh 10: 27-30

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (Yoh 10:27)”

jesus shepherd 2Ketika Yesus berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” Saya pikir itu agak berlebihan. Kita tahu domba-domba adalah hewan yang tidak secerdas anjing Golden Retriever atau Labrador yang bisa mendengarkan instruksi dari pemiliknya. Namun, suatu kali, saya menonton video di YouTube tentang sekelompok wisatawan yang mengunjungi bukit luas di pedesaan Yudea di mana kawanan domba sedang merumput. Mereka diminta untuk menarik perhatian domba. Satu demi satu, para wisatawan berteriak dengan lantang, tetapi mereka tidak mendapat tanggapan sedikit pun. Namun, ketika sang gembala maju dan memanggil mereka, semua domba yang tercerai-berai segera bergegas menuju gembala itu dan mengerumuni dia! Sungguh menakjubkan! Yesus sungguh benar. Domba-domba sungguh mendengar suara gembala-Nya.

Domba-domba di Yudea dibesarkan untuk wol dan sebagai hewan korban. Khususnya untuk jenis domba-domba yang diperuntukkan bagi produksi wol, mereka akan hidup bersama-sama dengan sang gembala selama bertahun-tahun. Tidak heran jika sang gembala mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan fitur fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘si kaki kecil’ atau ‘si telinga besar.’ Dan kawanan domba pun mengenal suara sang gembala.

Berbeda dengan domba, pria dan wanita modern, terutama kaum Millennial, adalah makhluk yang sangat visual. Berkat smartphone, TV, dan komputer, rentang perhatian kita menjadi lebih pendek setiap harinya. Seorang ilmuwan bahkan mengatakan bahwa rentang perhatian kita satu detik lebih pendek daripada ikan mas! Para guru atau pembicara harus menggunakan semua alat bantu visual untuk menarik perhatian pendengar muda. Presentasi PowerPoint adalah persyaratan minimum saat ini, dan para guru perlu menggerakkan semua bagian tubuh mereka, membuat lelucon, bernyanyi, menari, bahkan jungkir balik! Hanya mendengarkan pembicaraan biasa itu membosankan, dan membaca teks yang panjang dan panjang seperti refleksi ini boring. Ini juga salah satu alasan mengapa kaum muda meninggalkan Gereja karena mereka mengalami Gereja, terutama para pengkhotbahnya, membosankan dan kering. Setelah lima menit mendengarkan homili, kita mulai gelisah, memeriksa jam tangan, mengaruk-garuk kepala, dan akhirnya tertidur!

Namun, indera pendengaran tetap mendasar karena pendengaran adalah kunci untuk mengikuti Yesus. Kita menyebut diri kita sendiri, Kristiani, artinya pengikut Kristus, dan bagaimana kita dapat mengikuti Kristus jika kita tidak mengenali suara-Nya? Sementara indera penglihatan menarik kita, indera pendengaran tetap menjadi tanda keintiman dan kasih. Seperti seekor domba yang mengidentifikasi suara gembala karena gembala menjaganya, kitapun mengenali suara seseorang yang kita cintai. Saya telah mendengar suara ibu saya sejak saya di dalam rahimnya, dan bahkan ketika saya menutup mata, saya masih bisa mengenali suaranya dari jauh. Saya bahkan dapat mengidentifikasi apakah dia bahagia, sedih, atau marah ketika dia memanggil nama saya.

Suatu kali, seorang pemuda bertanya kepada saya, “Frater, bagaimana kita tahu kehendak Tuhan?” Saya menjawab, “Apakah kamu mendengar suara-Nya?” Dia segera berkata, “Saya banyak berdoa, tetapi saya tidak pernah mendengar suara.” Saya berkata dalam jawab, “Ah, bagaimana kamu akan mendengar suara-Nya jika kamu yang berbicara sepanjang waktu? Dan bagaimana kamu akan mengetahui suara-Nya, jika kamu jarang memberikan waktumu bersama-Nya?” Mengikuti Yesus berarti bahwa kita dapat mendengar Yesus, dan untuk mengenali suara-Nya, kita perlu memiliki hubungan yang penuh kasih dan kuat dengan-Nya.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fish and Bread

Third Sunday of Easter [May 5, 2019] John 21:1-19

ichthus 2If we observe the Gospel readings of the past days and Sundays, we will notice that most of them are speaking about the risen Christ’s appearances to His disciples. One unnoticeable yet interesting feature in these stories is that of the presence of food.

The two disciples who walk to Emmaus, invite Jesus to have a dinner. Jesus takes the bread, says the blessing, breaks it, and gives it, and He disappears. The two disciples come to their senses, and realize He is Jesus [Luk 24:30]. When Jesus appears to the Eleven and other disciples, they are terrified. To dispel their doubt on His resurrection, Jesus presents His body and eats the fish given to Him [Luk 24:42]. And in today’s Gospel, Jesus invites His seven disciples to a breakfast at the shore of the Lake of Tiberias. After another miraculous catch, Jesus prepares bread and fish for the disciples who are no longer baffled by the appearance of their Master [John 21:13].

We may ask, “Why bread and fish?” These are simple food that are often available at Jewish household. Yet, looking deeper, bread and fish possess a profound meaning. Bread and fish are earliest symbol of Christ and Christians. Bread, especially the breaking of the bread, is the technical biblical name for the Eucharist. In the Acts of Apostles, the first Christians gather around the apostles for the teaching and breaking of the bread [Acts 2:42]. On a Sunday, Paul leads the community of Troas in worship as he preaches and breaks bread [Acts 20:7]. Fish, in Greek, is “Ichthus” and it stands for “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, meaning Jesus Christ God Son [and] Savior. The symbol of fish was scattered inside catacombs of Rome as a sign of Christian gathering in time of persecution.

The question lingers: why does the risen Lord ask for food and invites the disciples to eat? Firstly, eating food is one of the most basic activities of human being. It points to our biological functions that sustains our bodily life and growth. The spiritless body neither consumes food, nor the bodiless spirit enjoys meals. Jesus shows His disciples that his resurrection is not a matter of spiritual enlightenment, but truly a bodily reality. His disciples neither see a spirit floating in the air, nor simply believe that their Teacher is alive in their hearts. The tomb is empty because Jesus, including His body, has risen.

Secondly, eating together does not only satisfy our tummy, but it also brings people closer together. While we are enjoying food, we cannot but share our thoughts and hearts to each other. Eating together builds not only the body, but also the dialogue and community. One of my favorite activities in the convent is the meal time, not because I am fond of eating, but we share a lot of stories and opinions. We practically speak about anything under the sun, from the latest movie, Avenger Endgame, the current political issues, to theological discussion on St. Thomas Aquinas. We also tell our joys, concerns and worries in our ministry and our future as a community. Simple food, yet great bonding.

Upon the simple reality of eating together, Jesus builds His community. In a shared meal, He retells His stories of painful passion and shameful death, and unearths its profound meanings especially as the fulfillment of the Scriptures. The events of his death used to be absurdity and loss of hope, but in the dining table, the risen Lord restores the faith, hope and love that go dim.

Jesus leaves us the Eucharist, the breaking of the bread, the sacred meal. Like the first disciples, it is here that we discover the risen Lord who shares His body as a spiritual food, and His Word as the meaning of our life. In the Eucharist, we are assured that the worst of this world does not have the last say, and the battle against absurdity has already been won.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ikan dan Roti

Minggu Paskah ketiga [5 Mei 2019] Yohanes 21: 1-19

ichthus

Jika kita mengamati bacaan-bacaan Injil pada hari-hari terakhir, kita perhatikan bahwa kebanyakan dari mereka berbicara tentang penampakan Kristus yang bangkit kepada murid-murid-Nya. Salah satu fitur yang sederhana namun menarik dalam cerita-cerita ini adalah adanya makanan.

Kepada dua murid yang berjalan ke Emaus, Yesus diundang untuk makan malam. Bagi mereka, Yesus mengambil roti, mengucapkan berkat, memecahnya, dan memberikannya, dan Dia menghilang. Kedua murid itu segera menyadari bahwa Dia adalah Yesus [Luk 24:30]. Ketika Yesus menampakkan diri kepada sebelas rasul dan murid-murid lainnya, mereka ketakutan. Untuk menghilangkan keraguan mereka tentang kebangkitan-Nya, Yesus menunjukkan tubuh-Nya dan memakan ikan yang diberikan kepada-Nya [Luk 24:42]. Dan dalam Injil hari ini, Yesus mengundang ketujuh murid-Nya untuk sarapan di tepi Danau Tiberias. Setelah mujizat penangkapan ikan, Yesus menyiapkan roti dan ikan untuk para murid yang tidak lagi bingung dengan penampakan Guru mereka [Yoh 21:13].

Kita mungkin bertanya, “Mengapa roti dan ikan?” Ini adalah makanan sederhana yang sering tersedia di rumah tangga Yahudi. Namun, melihat lebih dalam, roti dan ikan memiliki makna yang dalam. Roti dan ikan adalah simbol awal Kristus dan Gereja. Roti, khususnya pemecahan roti, adalah nama teknis Alkitabiah untuk Ekaristi. Dalam Kisah Para Rasul, jemaat pertama berkumpul di sekitar para rasul untuk pengajaran dan pemecahan roti [Kis 2:42]. Pada hari Minggu, Paulus memimpin komunitas di Troas dalam ibadat, dan ia berkhotbah dan memecahkan roti [Kis 20:7]. Ikan, dalam bahasa Yunani, adalah “Ichthus” dan itu singkatan dari “Iesous Christos Theos Hyios Soter”, yang berarti Yesus Kristus, Allah Putra [dan] Juruselamat. Simbol ikan tersebar di katakombe Roma sebagai tanda pertemuan jemaat pada masa penganiayaan.

Pertanyaannya: mengapa Tuhan yang bangkit meminta makanan dan mengundang para murid untuk makan? Pertama, makan makanan adalah salah satu kegiatan paling dasar manusia. Itu menunjuk pada fungsi biologis kita yang menopang kehidupan dan pertumbuhan tubuh kita. Tubuh tanpa roh maupun roh tanpa tubuh tidak mengkonsumsi makanan. Yesus menunjukkan kepada para murid-Nya bahwa kebangkitan-Nya bukanlah masalah pencerahan spiritual, tetapi benar-benar suatu realitas jasmani. Murid-muridnya tidak melihat roh mengambang di udara, juga tidak hanya percaya bahwa Guru mereka hidup di dalam hati mereka. Makam itu kosong karena Yesus, termasuk tubuh-Nya, telah bangkit.

Kedua, makan bersama tidak hanya memuaskan perut kita, tetapi juga membuat kita lebih dekat dengan satu sama lain. Sementara kita menikmati makanan, kita juga berbagi pikiran dan hati kita. Makan bersama membangun tidak hanya tubuh, tetapi juga dialog dan komunitas. Salah satu kegiatan favorit saya di biara adalah waktu makan, bukan karena saya senang makan, tetapi kami bisa berbagi banyak cerita dan pendapat. Kami berbicara tentang apa pun, dari film terbaru, Avenger Endgame, masalah politik saat ini, hingga diskusi teologis tentang St Thomas Aquinas. Kami juga menceritakan kegembiraan, keprihatinan, dan kekhawatiran kami dalam pelayanan dan masa depan kami sebagai sebuah komunitas. Makanan sederhana menjadi ikatan persaudaraan.

Dengan realitas sederhana yakni makan bersama, Yesus membangun komunitas-Nya. Dalam perjamuan bersama, Dia menceritakan kembali kisah-kisah-Nya tentang penderitaan yang menyakitkan dan kematian yang memalukan, dan menggali maknanya yang mendalam terutama sebagai penggenapan dari Kitab Suci. Peristiwa kematiannya dulunya adalah sebuah absurditas dan kehilangan harapan, tetapi di meja makan, Tuhan yang bangkit memulihkan iman, harapan dan cinta yang menjadi redup.

Yesus memberikan kita Ekaristi, memecahkan roti, perjamuan kudus. Seperti para murid pertama, di sinilah kita menemukan Tuhan yang bangkit yang membagikan tubuh-Nya sebagai makanan rohani, dan Firman-Nya sebagai makna hidup kita. Dalam Ekaristi, kita diyakinkan bahwa yang terburuk di dunia ini tidak memiliki suara terakhir, dan makna dan pengertian mengalahkan kegelapan dan keputusasaan.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fear and Forgiveness

Second Sunday of Easter/ Divine Mercy Sunday [April 28, 2019] John 20:19-31

risen christ 2Today is the Divine Mercy Sunday. From the Gospel, Jesus institutes the sacrament of reconciliation as He bestows His Holy Spirit upon the Disciples. He grants them the divine authority to forgive (and not to forgive) sins and charges them to be the agents of Mercy. While it is true that only priests can minister the sacrament of confession, every disciple of Christ is called to be an agent of Mercy and forgiveness. Yet, how we are going to be the bearers of Mercy and Forgiveness? I think we need to understand first the dynamic of fear and peace.

Fear is one of the human most basic emotions. It makes us flee from impending danger and normally, it is good and necessary for our survival. Yet, what is unique with us humans is that the object of fear is not only physical real danger like an earthquake, fire, or venomous animals, but it extends to moral judgment. When we commit a mistake, we are afraid of the judgment as well as the consequences. Quite often too, fearful of the judgment and condemnation, we are run away and hide. In fact, the story of fear is a primordial story. We recall our first parents, Adam and Eve. After they violated the Law of God, they realized that they have terribly sinned against the Lord, and afraid of God’s judgment, they hid.

After the passion and death of Jesus we find out that Jesus’ disciples themselves are afraid and hiding. The disciples lock themselves inside the room because they are afraid. However, the real fear is not from the Jewish authority or the Roman troops, but from Jesus’ judgment. We remember that Judas handed over Jesus to the Jewish authority, Peter, the leader, denied Jesus three times, and most of the disciples were running away. Even before the crucial moments of Jesus, they have deserted their Master and Messiah. In a court martial, a soldier who deserts his army, especially during the pick of the battle, is considered a traitor not only to the army, but to the entire nation, and he deserves no less than capital punishment. The disciples are hiding because of fear that Jesus will bring His severe judgment, and get back on them. The disciples are afraid that Jesus may come anytime, condemn them, and throw a fireball on them.

Indeed, Jesus comes to them, but he brings not condemnation but the gift of peace, “Shalom”. This peace only ensues from forgiveness. This peace, however, is not the absence of judgment, but rather it presupposes one. Unless the disciples recognize and own up their terrible mistakes, they will not appreciate Jesus’ forgiveness and mercy. The peace will be just a mirage, and fear still reigns.

To become an agent of Mercy, we first dare to pronounce judgment. If we pretend that the sin never happens, and keep telling ourselves that everything is just fine, we deceive ourselves and never become sincerely peaceful. Indeed, it is difficult, but as we cannot heal unless there is prognosis, we cannot truly forgive unless there is judgment.

Just last week, several suicide bombers blew themselves up at several churches in Sri Lanka and killed hundreds of Christians. A religious sister, who lost several of her community members in the explosion, wrote an open letter to the perpetrators. She judged that what they did was an act of terrorism, pure evil. Yet, she reminds them that Christians will not be cowed and afraid because we know how to forgive. She said that the Catholic Church remains an open-door Church because she is not afraid to welcome everyone including those who tried to destroy her.

There is no peace without forgiveness, and there is no forgiveness and mercy without true judgment.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ketakutan dan Pengampunan

Minggu Paskah Kedua [28 April 2019] Yohanes 20: 19-31

risen christ n thomasHari ini adalah Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Dari Injil, Yesus membentuk sakramen rekonsiliasi saat Ia menganugerahkan Roh Kudus-Nya kepada para Murid. Dia memberi mereka otoritas ilahi untuk mengampuni (dan tidak mengampuni) dosa dan mengutus mereka sebagai pekerja Kerahiman. Meskipun benar bahwa hanya imam yang dapat melayani sakramen pengakuan dosa, setiap murid Kristus dipanggil untuk menjadi pekerja Kerahiman dan pengampunan. Namun, bagaimana kita akan menjadi pembawa Kerahiman dan Pengampunan? Kita perlu memahami dulu dinamika antara rasa takut dan kedamaian.

Rasa takut adalah salah satu emosi paling mendasar manusia. Itu membuat kita lari dari bahaya yang akan datang dan biasanya, hal ini baik dan perlu untuk kelangsungan hidup kita. Namun, yang unik dengan kita manusia adalah bahwa objek rasa takut bukan hanya bahaya benda nyata secara fisik seperti gempa bumi, api, atau binatang berbisa, tetapi meluas ke penilaian moral. Ketika kita melakukan kesalahan, kita takut akan penghakiman serta konsekuensinya. Dan seringkali terlalu takut pada penghakiman dan hukuman, kita melarikan diri dan bersembunyi. Sejatinya, kisah ketakutan adalah kisah primordial kita. Kita mengingat orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Setelah mereka melanggar Hukum Allah, mereka menyadari bahwa mereka telah sangat berdosa terhadap Tuhan, dan takut akan hukuman Tuhan, mereka bersembunyi. Kita menjumpai juga bahwa murid-murid Yesus sendiri takut dan bersembunyi seperti halnya Adam dan Hawa.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena mereka takut. Namun, ketakutan yang sebenarnya bukan dari otoritas Yahudi atau pasukan Romawi, tetapi dari penghakiman Yesus. Kita ingat bahwa Yudas menyerahkan Yesus kepada otoritas Yahudi, Petrus, sang pemimpin, menyangkal Yesus tiga kali, dan sebagian besar murid melarikan diri. Bahkan sebelum saat-saat genting Yesus, mereka telah meninggalkan Sang Guru dan Mesias mereka. Di pengadilan militer, seorang prajurit yang meninggalkan tentaranya, terutama saat pertempuran, dianggap sebagai pengkhianat tidak hanya bagi tentara, tetapi juga bagi seluruh bangsa, dan ia layak menerima hukuman mati. Para murid bersembunyi karena takut bahwa Yesus akan membawa hukuman berat-Nya, dan membalas mereka. Para murid takut bahwa Yesus akan datang kapan saja, mengutuk mereka, dan melemparkan bola api ke atas mereka.

Sungguh, Yesus datang kepada mereka, tetapi ia tidak membawa penghukuman tetapi karunia damai, “Shalom”. Kedamaian ini hanya terjadi karena pengampunan. Namun, kedamaian ini tidak terlahir dari absennya penghakiman, tetapi justru dari penghakiman yang diambil Yesus. Hanya saat para murid mengenali dan mengakui kesalahan mereka yang mengerikan, mereka akan menghargai pengampunan dan kerahiman Yesus. Tanpa penghakiman, kedamaian hanya akan menjadi fatamorgana, dan ketakutan masih berkuasa.

Untuk menjadi pekerja Kerahiman, pertama-tama kita berani mengucapkan penghakiman. Jika kita berpura-pura dosa tidak pernah terjadi, dan terus mengatakan pada diri kita sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, kita menipu diri kita sendiri dan tidak pernah menerima rasa damai yang sesungguhnya. Seperti halnya dokter yang tidak dapat menyembuhkan pasien kecuali ada diagnosis yang benar, kita tidak dapat benar-benar memaafkan kecuali ada penghakiman yang benar.

Baru minggu lalu, beberapa pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di beberapa gereja di Sri Lanka dan membunuh ratusan jemaat. Seorang suster, yang kehilangan beberapa anggota komunitasnya dalam ledakan itu, menulis surat terbuka kepada para pelaku. Dengan berani dia menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan terorisme, kejahatan yang tak berprikemanusiaan. Namun, dia mengingatkan mereka bahwa umat Katolik tidak akan takut karena kita tahu bagaimana cara mengampuni. Dia mengatakan bahwa Gereja Katolik tetap menjadi Gereja dengan pintu terbuka karena kita tidak takut untuk menyambut semua orang termasuk mereka yang mencoba menghancurkan Gereja.

Tidak ada kedamaian tanpa pengampunan, dan tidak ada pengampunan dan belas kasihan tanpa yang benar.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Mary Magdalene and Resurrection

Easter Sunday [April 19, 2019] John 20:1-9

mary magdalene n resurrection 2
He Qi_Easter morning

Mary Magdalene is a female disciple that loves her Teacher deeply, and being a woman, there is something that she teaches us. Luke describes her in his Gospel as a woman “from whom seven demons have come out” [see Luk 8:2]. It must be a terrible experience to be tormented by seven demons, and when Jesus heals her, she expresses her deep gratitude by following Jesus. As one of Jesus’ disciples, she is proven to be the most faithful to her Teacher. When many followers of Jesus are running away to save their lives, and even Peter, the leading figure in the group, denies Jesus, Mary follows Jesus in His way of the Cross to the end. She received the insult Jesus receives, she bears the humiliation Jesus bears, she carries the cross Jesus carries. In fact, she is standing beside the cross together with the mother of Jesus and John the beloved.

However, Mary’s love is even bigger than death. She is the first person who visits the tomb early in the morning. We recall that after Jesus died on the cross, his body was hastily brought to the tomb by Nicodemus and Joseph Arimathea because the Sabbath was drawing near. During Sabbath, Jews are not allowed to bury the dead. Mary knows that Jesus’ body was not taken care of properly, and she wants to make sure that Jesus deserves the proper burial. She comes to the tomb to express her love for the last time for the Teacher by anointing the body of Jesus. Yet, she only sees the empty tomb. Fear seizes her. She may think that some bad guys stole, inflicted further damages and desecrated the body. Instinctively, she runs towards the men of authority after Jesus Himself, Peter and John.

After checking the tomb, Peter fails to understand, and he goes back to the house. She also does not understand and weeps for the loss of her love, but unlike Peter, Mary stays at the tomb. In utter confusion and meaninglessness, Mary does not abandon Jesus. Indeed, the Savior does not disappoint and gives Mary Magdalene a singular privilege to witness the resurrected Jesus. Her great love and fidelity lead her to the joy of Resurrection. She becomes the first preacher of Resurrection.

In the Gospel, often female disciples are depicted as a model of love and perseverance. God created man and woman as equal in dignity, but they differ in characters. Indeed, men like Peter, are the figures of authority, but women excel in what often is lacking in male disciples. I have visited many places in Indonesia and the Philippines, and I give talks and reflections, but one thing in common from these places, is that women often outnumber the men. I am newly assigned in Redemptor Mundi Parish, Surabaya, Indonesia, and a simple gaze will prove that more women are attending our daily morning masses.

Mary Magdalene, a woman disciple, shows to us that it is possible to love and to be faithful when things got tough and rough, when life throws us its trash, and when confusion and meaningless seem to reign. Mary is those women who unceasingly pray for the priests despite so many failures they have made Mary are those mothers who make daily sacrifices for their children despite being unappreciated. Mary is those religious sisters who serve the poor committedly despite many setbacks and trails. We must thank many Mary Magdalene around us. They show us that there love truly conquers death and that there is a resurrection in even the senseless empty tomb.

Happy Easter!

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Maria Magdalena dan Kebangkitan

Minggu Paskah [21 April 2019] Yohanes 20: 1-9

mary magdalene at tombMaria Magdalena adalah seorang murid perempuan yang sangat mencintai gurunya, dan sebagai seorang wanita, ada sesuatu yang dia ajarkan kepada kita. Lukas mengatakan dalam Injilnya bahwa Maria adalah sebagai seorang wanita “yang darinya tujuh setan keluar” [lihat Luk 8:2]. Pastinya merupakan pengalaman yang mengerikan untuk disiksa oleh tujuh setan, dan ketika Yesus menyembuhkannya, ia mengungkapkan rasa terima kasihnya yang mendalam dengan mengikuti Yesus. Sebagai salah satu murid Yesus, ia terbukti paling setia kepada gurunya. Ketika banyak pengikut Yesus melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka, dan bahkan Petrus, tokoh utama dalam kelompok itu, menyangkal Yesus, Maria mengikuti Yesus dalam jalan Salib-Nya sampai akhir. Dia menerima penghinaan yang Yesus terima, dia menanggung malu yang Yesus tanggung. Bahkan, dia berdiri di samping salib bersama dengan ibu Yesus dan Yohanes yang terkasih.

Namun, cinta Maria bahkan lebih besar daripada kematian. Dia adalah orang pertama yang mengunjungi makam Yesus pagi-pagi buta. Kita ingat bahwa setelah Yesus mati di kayu salib, tubuhnya dengan tergesa-gesa dibawa ke makam oleh Nikodemus dan Joseph Arimathea karena hari Sabat semakin dekat. Selama hari Sabat, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menguburkan orang mati. Maria tahu bahwa tubuh Yesus tidak dirawat dengan baik, dan dia ingin memastikan bahwa Yesus mendapatkan penguburan yang layak. Dia datang ke makam untuk mengekspresikan cintanya yang terakhir kalinya bagi sang Guru. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Maria hanya melihat makam kosong. Ketakutan luar biasa merasuki dirinya. Dia mungkin berpikir bahwa beberapa pria jahat mencuri dan menodai tubuh sang Guru. Secara naluriah, dia berlari kepada para pemimpin Gereja setelah Yesus sendiri, Petrus dan Yohanes.

Setelah memeriksa makam, Petrus gagal untuk mengerti apa yang terjadi, dan dia kembali ke rumah. Maria juga tidak mengerti dan menangisi kehilangan cintanya, tetapi ada perbedaan yang signifikan, tidak seperti Petrus, Maria tidak meninggalkan makam. Dalam kebingungan dan ketidakberartian, Maria tidak meninggalkan Yesus. Sungguh, Juruselamat tidak mengecewakan dan memberi Maria Magdalena hak istimewa untuk menyaksikan Yesus yang telah bangkit. Cinta dan kesetiaannya yang luar biasa menuntunnya ke sukacita Kebangkitan. Dia pun menjadi pewarta pertama akan Yesus yang bangkit.

Dalam Injil, seringkali murid perempuan digambarkan sebagai model cinta kasih, kesetiaan dan ketekunan. Tuhan menciptakan pria dan wanita setara dalam martabat, tetapi mereka berbeda dalam karakter. Memang, pria seperti Petrus, adalah figur otoritas, tetapi wanita unggul dalam apa yang sering kurang pada murid pria. Saya telah mengunjungi banyak tempat, komunitas dan gereja di Indonesia dan Filipina, dan satu hal yang sama dari tempat-tempat ini, adalah bahwa wanita sering kali lebih banyak jumlahnya dari kaum pria. Saya baru saja ditugaskan di Paroki Redemptor Mundi, Surabaya, Indonesia, dan pandangan sederhana akan membuktikan bahwa lebih banyak wanita menghadiri misa pagi harian kami.

Maria Magdalena, seorang murid perempuan, menunjukkan kepada kita bahwa adalah mungkin untuk mencintai dan setia ketika segala sesuatu menjadi sulit, ketika hidup melempari kita segala permasalahan, dan ketika kebingungan dan ketidakberartian tampaknya berkuasa. Maria Magdalena adalah wanita-wanita yang terus-menerus berdoa untuk para imam meskipun begitu banyak kegagalan yang mereka buat. Maria adalah para ibu yang berkorban setiap harinya untuk anak-anak mereka meskipun tidak dihargai. Maria adalah para suster religius yang melayani orang miskin dengan penuh komitmen meskipun ada banyak jalan terjal dan gosip tidak sedap yang harus dihadapi. Kita harus berterima kasih banyak kepada Maria Magdalena di sekitar kita. Mereka menunjukkan kepada kita bahwa di sana kasih benar-benar mengalahkan maut, dan bahwa ada kebangkitan bahkan di kubur kosong yang tidak masuk akal.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP