Featured

Debu dari Bumi

Minggu Pertama Prapaskah [A]

22 Februari 2026

Kejadian 2:7-9, 3:1-7

Secara tradisional, bacaan Injil untuk Minggu Pertama Prapaskah adalah kisah Yesus di padang gurun selama empat puluh hari, di mana Dia berpuasa dan dicobai oleh Setan. Namun, dalam refleksi ini, kita akan menyelami lebih dalam bacaan pertama dari Kitab Kejadian.

Gereja menggabungkan dua kisah dalam bacaan pertama ini: penciptaan Adam (Kej 2:7-9) dan kejatuhan orang tua pertama kita (Kej 3:1-7). Karena hal ini, kita melewatkan sekitar 16 ayat (Kej 2:10-25), secara khusus menghilangkan aktivitas Adam di Taman Eden dan juga kisah penciptaan Hawa. Saya percaya alasan utamanya bukan sekadar praktis (menghindari bacaan yang terlalu panjang), tetapi Gereja ingin menunjukkan kebenaran tersembunyi yang menghubungkan kedua kisah tersebut.

Pertama, kita harus menyadari bahwa kisah penciptaan Adam bukan sekadar pelajaran biologi, tetapi kebenaran teologis yang mendalam. Adam diciptakan dari debu tanah (עפר מן־האדמה – apar min ha-adama). Kita, sebagai manusia, hanyalah tanah belaka—lemah, kotor, dan pada dasarnya tidak berharga. Yang menarik, adanya permainan kata dalam bahasa Ibrani untuk mengingatkan kita akan asal-usul kita yang rendah: kata Adam (manusia pertama) hampir identik dengan kata untuk tanah dalam bahasa Ibrani (Adama).

Kitab Kejadian seolah-olah ingin mengingatkan kita bahwa kita hanyalah debu dan bukan apa-apa, Allah adalah segalanya; kita adalah tak berdaya, Allah adalah Mahakuasa. Namun, meskipun ada jurang yang tak terukur antara Allah dan kita, penulis Kitab Kejadian juga mengungkapkan kasih Allah yang tak terhingga bagi umat manusia. Digambarkan sebagai Sang Seniman ilahi dengan tangan-Nya yang terampil dan nafas-Nya yang menghidupkan, Allah membentuk debu yang tak berharga ini menjadi salah satu makhluk-Nya yang paling mulia. Selain itu, Allah menjadikan kita sebagai mitra kerja di Taman-Nya, mempercayakan kita untuk merawat makhluk-makhluk yang lain. Kita adalah siapa kita sepenuhnya karena kasih Allah.

Beralih ke bab 3, ular datang dan menggoda Adam dan Hawa. Strateginya sederhana namun sangat efektif. Ia mengklaim bahwa Allah tidak berkata jujur dan bahwa Allah tidak ingin Adam dan Hawa menjadi seperti-Nya, sehingga melarang mereka memakan buah pengetahuan baik dan buruk. Ide bahwa Adam dan Hawa bisa menjadi seperti Allah sangatlah menarik, dan kesombongan mulai merusak hati mereka. Mereka menginginkan untuk menjadi seperti Allah tanpa Allah, bertindak sebagai saingan-Nya daripada hidup sebagai hamba-Nya. Mereka melupakan kebenaran paling mendasar tentang diri mereka: mereka hanyalah debu, dan segala kebaikan yang mereka miliki berasal dari Allah. Akibatnya, mereka pun jatuh.

Dengan menggabungkan kisah penciptaan Adam dan kejatuhannya, Gereja mengajarkan kepada kita bahwa ketika kesombongan meracuni hati kita, kita mulai mengabaikan asal-usul kita yang rendah dan akhirnya kita jatuh dalam dosa. Seperti yang dinyatakan oleh Santo Yohanes Krisostomus dalam khotbahnya pada abad ke-4, “[kisah penciptaan Adam] adalah untuk mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati, untuk menekan semua kesombongan, dan untuk meyakinkan kita akan kelemahan kita sendiri. Sebab, ketika kita mempertimbangkan asal-usul alamiah kita, meskipun kita mungkin mencapai puncak kesuksesan, kita memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dengan mengingat bahwa asal-usul pertama kita berasal dari bumi.”

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan panduan:

Di bidang mana dalam hidup, saya melupakan asal-usul yang rendah (“debu”) dan gagal menyadari bahwa semua berkat, talenta, dan kesuksesan pada akhirnya berasal dari Allah? Bagaimana kesombongan muncul dalam pilihan-pilihan harian saya? Apakah saya kadang-kadang mencoba menjadi “seperti allah tanpa Allah” dengan mencari kendali total atas hidup saya, daripada mempercayai-Nya sebagai hamba dan rekan kerja-Nya? Ketika saya “melambung ke langit” dalam pencapaian duniawi saya, praktik-praktik praktis apa yang dapat saya terapkan untuk tetap berpijak dan mengingat ketergantungan dasar saya pada kasih Allah?

Featured

Clay of the Ground

1st Sunday of Lent [A]

February 22, 2026

Genesis 2:7-9, 3:1-7

Traditionally, the Gospel reading for the first Sunday of Lent is the story of Jesus in the wilderness for forty days, where He fasted and was tempted by Satan. However, in this reflection, we will look deeper into the first reading from the Book of Genesis.

The Church combines two stories in this first reading: the creation of Adam (Gen 2:7-9) and the fall of our first parents (Gen 3:1-7). In order to do this, the lectionary skips around 16 verses (Gen 2:10-25), omitting Adam’s activities in the Garden of Eden and the creation of Eve. I believe the reason is not purely practical (simply avoiding overly long reading), but rather that the Church wishes to show us a hidden truth that connects the two stories.

First, we must recognize that the story of the creation of Adam is not merely a biological lesson, but a profound theological truth. Adam was created from the dust of the ground (עפר מן־האדמהapar min ha-adama). We, as humans, are nothing but mere soil—fragile, dirty, and essentially worthless. In fact, there is a clear play on words in Hebrew to remind us of our lowly origin: the word Adam (the first man) is almost identical to the word for ground (Adama).

However, the Book of Genesis pushes further by pointing out that while we are nothing, God is everything; while we are powerless, God is omnipotent. Yet, despite the infinite gap between God and us, the author of Genesis reveals God’s immense love for humanity. Depicted as a divine artisan with His skillful hands and life-giving breath, God formed this worthless dust into one of His most refined creatures. Furthermore, God made us His co-workers in His Garden, entrusting us to care for the other creatures. We are who we are solely because of God’s love.

Moving to chapter 3, the serpent tempts Adam and Eve. His strategy is simple yet extremely effective. He claimed that God was not telling the truth and that God did not want Adam and Eve to be like Him, thus forbidding them to eat the fruit. The idea of being like God was extremely attractive, and pride began to corrupt their hearts. They desired to be like God without God, acting as His rivals rather than living as His servants. They forgot the most fundamental truth about themselves: they are nothing but dust, and everything good they have comes from God. Consequently, they fell.

By joining the stories of Adam’s creation and his fall, the Church teaches us that when pride poisons our hearts, we begin to ignore our humble origins and are doomed to fall. As St. John Chrysostom stated in a 4th-century homily: “[the story of Adam’s creation] is to teach us a lesson in humility, to suppress all pride, and to convince us of our own lowliness. For when we consider the origin of our nature, even if we should soar to the heavens in our achievements, we have a sufficient cause for humility in remembering that our first origin was from the earth.”

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide questions:

In what areas of my life do I forget my humble origins (“dust”) and fail to recognize that all my gifts, talents, and successes ultimately come from God? How does pride manifest in my daily choices? Do I sometimes try to be “like God without God” by seeking total control over my life, rather than trusting Him as His servant and co-worker? When I “soar to the heavens” in my earthly achievements, what practical practices can I adopt to stay grounded and remember my fundamental reliance on God’s love?

Yesus, Bukan Raja Biasa

Minggu Palma Sengsara Tuhan

13 April 2025

Lukas 19:28-40 dan Lukas 22:14-23:56

Minggu Palma adalah salah satu perayaan liturgi yang paling unik dalam Gereja karena memberikan dua bacaan Injil: Yesus memasuki kota Yerusalem sebagai Raja (Lukas 19:28-40) dan kisah Sengsara Kristus (Lukas 22:14-23:56). Bacaan-bacaan ini bukan kebetulan ada, tetapi Gereja mendampingkan keduanya untuk mengungkapkan hubungan yang mendalam antara kedua bacaan ini. Namun, apakah hubungan ini?

Injil pertama menggambarkan Yesus memasuki Yerusalem, kota Raja Daud dan para penggantinya. Para murid-Nya mengikuti-Nya sementara penduduk Yerusalem menyambut-Nya, menyatakan Dia sebagai raja. Namun Injil ini menjelaskan bahwa Yesus bukanlah seorang penguasa duniawi biasa. Dia bukanlah seorang raja yang berkuasa secara militer dengan menunggang kuda perang, tetapi seorang raja yang rendah hati dan cinta damai dengan menunggang keledai. Dia datang dalam nama Tuhan – tidak melalui garis keturunan kerajaan, sistem politik modern, atau tipu daya. Dia memerintah bukan atas satu bangsa, tetapi atas semua ciptaan, bahkan “batu-batu akan berseru” untuk menyatakan kerajaan-Nya.

Injil kedua, kisah Sengsara, lebih jauh mengungkapkan Kristus sebagai Raja. Dia tidak memerintah dengan kekerasan tetapi merangkulnya dan mengakhirinya di kayu salib. Kerajaan-Nya beroperasi bukan melalui teror tetapi melalui hukum kasih, mengorbankan diri-Nya sendiri agar umat-Nya dapat ditebus dari dosa dan kemudian hidup.

Saat kita memasuki Pekan Suci, kita diundang untuk memeriksa identitas kita sebagai umat kerajaan Allah. Apakah kita mengasihi Raja kita atau takut akan Dia? Jika kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita harus belajar untuk semakin menyerupai Dia dan juga mengasihi seperti Dia mengasihi. Selama dua ribu tahun, banyak sekali martir yang mengikuti teladan Kristus hingga mati. Bahkan saat ini di abad ke-21, umat Kristiani terus menghadapi penganiayaan: Para imam di Nigeria diculik dan dibunuh; komunitas Kristiani di Suriah diserang dan diusir; juga meningkatnya permusuhan anti-Kristen di Israel.

Banyak dari kita yang hidup di tempat di mana iman dapat diekspresikan dengan bebas, namun lingkungan ini menghadirkan bahaya yang berbeda – materialisme, rasa puas diri, atau kepengecutan dalam bersaksi tentang Kristus. Kita tergoda untuk memprioritaskan diri sendiri di atas Tuhan, untuk mencintai diri kita sendiri daripada Yesus.

Kita bisa belajar dari teladan St. Katarina Siena. Pada masanya, paus lebih memilih tinggal di Avignon, Perancis daripada di Roma karena ia takut berurusan dengan orang-orang yang menentangnya di sana. Namun, alih-alih menjadi pemimpin dalam iman dan teladan moral, paus lebih banyak melibatkan diri dalam politik. Maka, St. Katarina dengan berani pergi ke Avignon dan menghadapi Gregorius XI, mendesaknya untuk kembali, “Jika Anda mati di Roma, anda mati sebagai seorang martir – tetapi jika anda tetap di sini, anda mati sebagai seorang pengecut.” Tindakannya mengalir dari cinta yang radikal kepada Kristus Sang Raja.

Jika Yesus adalah Raja kita, bagaimana kita harus mengikuti-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan panduan:

Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Yesus sebagai Raja kita? Bagaimanakah kasih kita kepada Kristus diwujudkan secara praktis? Apakah kita siap untuk menyatakan iman kita dalam lingkungan yang penuh tantangan? Apakah kita mau berkorban untuk orang lain karena kasih kita kepada Yesus? Apakah kita siap untuk menanggung penderitaan sebagai orang Kristen?

Love and Betrayal

5th Sunday of Lent [C]

April 6, 2025

John 8:1-11

The story of the woman caught in adultery is one that frequently appears during Lent, especially in Year C. What lessons can we draw from this story?

At first glance, the narrative seems straightforward, yet it carries profound lessons worth unpacking. While we often associate it with God’s mercy and forgiveness—which is certainly true— there is more to it than what meets the eyes. In Scripture, adultery is not merely a grave sin; it also serves as a metaphor for idolatry, the gravest of spiritual betrayals. The prophet Hosea, for instance, was called to marry an unfaithful woman to symbolize God’s covenant with wayward Israel (Hosea 1–3). Ezekiel condemns Jerusalem and Samaria as “adulterous sisters” who chased after foreign gods (Ezekiel 23:30). Similarly, in the New Testament, James rebukes those who prioritize worldly “friendship” over God, calling them “adulterers.” (James 4:4).

This connection between adultery and idolatry reveals a deeper truth about our relationship with God. He did not create us as slaves driven by fear or as mindless robots bound by programming. Instead, He made us free and capable of love, desiring a relationship with us; one built on devotion rather than obligation. In mystical terms, God invites us to become His spiritual lovers, meaning we must love Him above all else and serve Him not out of fear, but out of deep, sincere love.

One of the earliest saints to speak of this “spiritual marriage” was St. Catherine of Siena. As young as six years old, she declared herself the bride of Christ, refusing earthly marriage to devote herself entirely to Jesus. At the age of 20, she experienced the spiritual marriage with Christ. And her profound love united her deeply to Christ to the point of sharing His wounds. She received stigmata around five years before she passed away.

The Church constantly teaches that we, collectively, are the Bride of Christ. Just as Eve was formed from Adam’s side while he slept, the Church was born from the pierced side of Jesus on the cross. Through baptism, we are reborn as members of His Church—His beloved. Through the Eucharist, we are nourished and sustained by His Body and Blood. Thus, our love for God must surpass all others, and even our love for family and friends should flow from our love for Christ.

This is why preferring anything above God constitutes spiritual adultery. The story of Jesus forgiving the adulterous woman illustrates both God’s unwavering love and mercy and our own unfaithfulness. Lent calls us back to our first and truest love—the only love that brings lasting happiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Reflection Questions:

How do we relate to God—as a servant obeying a master, or as a lover responding to Love Himself? Do we love God above all else? Do we love others for the sake of God? What unhealthy attachments to the world do we need to examine? How can we return to my true love—God alone?

Kasih dan Pengkhianatan

Minggu Prapaskah ke-5 [C]

6 April 2025

Yohanes 8:1-11

Kisah perempuan yang tertangkap dalam berzina merupakan kisah yang sering muncul pada masa Prapaskah, terutama pada Tahun C. Pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah ini?

Sekilas, kisah ini tampak sederhana, namun mengandung pelajaran yang sangat dalam yang perlu kita gali. Meskipun kita sering mengaitkannya dengan belas kasih dan pengampunan Allah, yang tentunya benar, ada hal yang lebih dalam dari sekadar apa yang terlihat. Dalam Alkitab, perzinaan bukan hanya merupakan dosa besar; perzinaan juga merupakan metafora untuk penyembahan berhala, sebuah pengkhianatan rohani yang paling berat. Nabi Hosea, misalnya, dipanggil untuk menikahi seorang wanita yang tidak setia untuk melambangkan relasi Allah yang setia dengan Israel yang tidak setia (Hosea 1-3). Yehezkiel mengutuk Yerusalem dan Samaria sebagai “saudara perempuan yang berzina” karena mengejar ilah-ilah asing (Yehezkiel 23:30). Demikian pula, dalam Perjanjian Baru, Yakobus menegur mereka yang memprioritaskan “persahabatan” duniawi di atas Tuhan, dengan menyebut mereka sebagai “pezina”. (Yakobus 4:4).

Hubungan antara perzinaan dan penyembahan berhala mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam tentang hubungan kita dengan Tuhan. Dia tidak menciptakan kita sebagai budak yang dikendalikan oleh rasa takut atau sebagai robot yang tidak berpikiran yang terikat oleh program. Sebaliknya, Dia menciptakan kita sebagai orang yang bebas dan mampu mengasihi, yang menginginkan sebuah relasi kasih dengan kita; hubungan yang dibangun di atas pengabdian dan bukan kewajiban. Dalam istilah mistik, Tuhan mengundang kita untuk menjadi kekasih rohani-Nya, yang berarti kita mengasihi-Nya di atas segalanya dan melayani Dia bukan karena takut, tetapi karena cinta yang dalam dan tulus.

Salah satu orang kudus yang paling awal berbicara tentang “perkawinan rohani” ini adalah St. Katarina dari Siena. Pada usia enam tahun, ia menyatakan dirinya sebagai mempelai Kristus, menolak pernikahan duniawi untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Yesus. Pada usia 20 tahun, dia mengalami pernikahan rohani dengan Kristus. Dan cintanya yang luar biasa menyatukannya secara mendalam dengan Kristus sampai-sampai ia ikut merasakan luka-luka-Nya. Dia menerima stigmata sekitar lima tahun sebelum dia meninggal dunia.

Gereja secara terus-menerus mengajarkan bahwa kita, secara kolektif, adalah Mempelai Kristus. Sama seperti Hawa yang dibentuk dari sisi Adam ketika dia tidur, Gereja lahir dari sisi Yesus yang tertusuk di kayu salib. Melalui pembaptisan, kita dilahirkan kembali sebagai anggota Gereja-Nya, yakni Kekasih-Nya. Melalui Ekaristi, kita dipelihara dan ditopang oleh Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena itu, kasih kita kepada Allah haruslah melebihi segala sesuatu yang lain, dan bahkan kasih kita kepada keluarga dan teman-teman haruslah mengalir dari kasih kita kepada Kristus.

Inilah sebabnya mengapa lebih mengutamakan sesuatu yang lain di atas Tuhan merupakan perzinaan rohani. Kisah Yesus yang mengampuni perempuan yang berzina menggambarkan kasih dan kerahiman Allah yang tak tergoyahkan dan juga ketidaksetiaan kita. Masa Prapaskah memanggil kita kembali kepada cinta kita yang pertama dan yang paling sejati; satu-satunya cinta yang membawa kebahagiaan abadi.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Refleksi:

Bagaimana kita berelasi dengan Allah – sebagai seorang hamba yang taat kepada tuannya, atau sebagai seorang kekasih yang merespon Cinta-Nya? Apakah kita mengasihi Allah di atas segalanya? Apakah kita mengasihi orang lain demi Tuhan? Keterikatan tidak sehat apa terhadap dunia yang perlu kita periksa? Bagaimana kita dapat kembali kepada cinta sejati kita?

Musa

Minggu ke-3 Masa Prapaskah [C]

23 Maret 2025

Keluaran 3:1-8a, 13-15

Musa adalah salah satu tokoh terbesar dalam Perjanjian Lama. Ia memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, menjadi perantara perjanjian Sinai, mengajarkan hukum-hukum Allah, dan bahkan melakukan mukjizat. Kehidupan dan ajarannya dicatat dalam empat kitab: Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Namun, ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kehidupannya, kita menemukan bahwa kisahnya tidak selalu tentang kehebatan dan kesuksesan. Musa juga memiliki masa lalu yang kelam.

Musa dilahirkan sebagai suku Lewi pada saat Mesir memerintahkan pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki Ibrani. Untuk menyelamatkannya, ibunya menyusun rencana untuk menempatkannya di dalam keranjang di Sungai Nil, di mana ia ditemukan oleh seorang putri Firaun. Putri itu menariknya dari air dan menamainya “Musa” (Kel 2:10). Meskipun lahir sebagai orang Israel, Musa diadopsi oleh sang putri dan dibesarkan sebagai bagian dari keluarga kerajaan, menikmati hak-hak istimewa yang disediakan untuk bangsawan Mesir.

Kisah Musa mungkin saja memiliki “akhir yang bahagia” seandainya ia tidak melibatkan dirinya dalam penderitaan para budak Ibrani. Dia bisa saja hidup dengan nyaman sebagai seorang pejabat Mesir, menikahi seorang wanita Mesir, membesarkan sebuah keluarga, dan menikmati masa tua yang berkelimpahan. Namun, dia tidak bisa mengabaikan ketidakadilan yang menimpa bangsanya. Dalam sebuah momen kemarahan, dia membunuh seorang Mesir yang menindas seorang Israel. Musa percaya bahwa dia telah menyembunyikan kejahatannya, tetapi dia salah. Ketika dia mencoba menengahi perselisihan antara dua orang Israel, mereka justru membongkar rahasianya, mengekspos dia sebagai seorang pembunuh. Kehidupannya yang nyaman hancur, dan dia terpaksa melarikan diri dari Mesir. Setelah ditarik dari air, Musa kini menemukan dirinya tenggelam dalam keputusasaan.

Di Midian, Musa memulai hidup baru. Dia melindungi anak perempuan seorang imam Midian dari gangguan para gembala, dan sebagai tanda terima kasih, imam itu menyambutnya dan memberikan putrinya, Zippora sebagai istri Musa. Hal ini menandai kehidupan Musa yang kedua. Meskipun tidak semewah kehidupannya di Mesir, namun kehidupan Musa di sana terasa tenang. Namun, ketika Musa berusia sekitar 80 tahun, Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak yang menyala dan memanggilnya untuk menjadi alat-Nya dalam membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir. Musa sangat meragukan dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang pembunuh dan buronan yang telah mengkhianati kebaikan hati orang Mesir, dan juga tidak mempercayai rekan-rekannya sesama orang Israel. Dia juga sudah tua dan puas dengan kehidupannya di Midian.

Terlepas dari masa lalu Musa yang kelam dan penuh dosa, dan juga penuh keraguannya, Allah tetap memilihnya. Mengapa? Karena kisah Musa pada akhirnya bukanlah tentang Musa, melainkan tentang Allah, yang menebus Israel melalui seorang manusia yang tidak sempurna dan rapuh. Namun, Musa bukanlah sekadar alat. Ketika ia melakukan perjalanan bersama Tuhan, ia juga menemukan penebusannya sendiri.

Seperti Musa, kita juga jauh dari sempurna. Kita lemah dan bergumul dengan dosa dan keterikatan yang tidak teratur. Kita gagal sebagai orang tua, pasangan, anak, dan teman. Kita menyakiti orang lain dan diri kita sendiri. Kita meragukan diri kita sendiri dan sering kali merasa kurang. Namun, Tuhan tetap memilih kita. Dia ingin kita menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri dan mengundang kita untuk berjalan bersama-Nya untuk menemukan penebusan. Pada akhirnya, kita hanya dapat bersyukur, karena terlepas dari kehancuran dan ketidaksempurnaan kita, Tuhan menjadikan kita indah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Nilai apa yang kita temukan saat kita mengingat cerita tentang Musa?  Apakah kita memiliki kesamaan dengan Musa? Jika ya, apakah itu? Apakah kita memiliki masa lalu yang kelam seperti Musa? Apakah kita mengalami kegagalan seperti Musa? Apakah kita meragukan rencana Allah bagi kita, seperti Musa? Apa yang dapat kita pelajari dari Musa ketika ia menerima panggilan Allah? 

Transfiguration and the Tent

2nd Sunday of Lent [C]

March 16, 2025

Luke 9:28b-36

The second Sunday of Lent presents the story of the Transfiguration, where Jesus is described as shining, literally becoming light itself. Two of the greatest figures from the Old Testament, Moses and Elijah, appeared and conversed with Jesus. Then, Peter made an interesting offer to Jesus: a tent. But why did Peter suddenly offer a tent?

The obvious reason might be that Jesus and His disciples had planned to pray, and they may have needed to stay on the mountain for a longer period. It’s possible that Jesus had instructed the three disciples to bring tents. Therefore, Peter’s offer should not surprise us, as they were likely already prepared with tents. The only difference is that the tents were now meant for Moses and Elijah, rather than for the disciples. But is there a deeper meaning to this offer beyond simply extending their stay on the mountain?

A tent is a temporary and portable dwelling, typically used when traveling. In ancient times, people travelled for various reasons, including trade, military campaigns, and pilgrimages. During these journeys, they did not have buses, cars, or airplanes. Land travel was mostly done on foot, and travellers often needed to rest, especially when far from nearby towns or villages. In such circumstances, tents were a necessity.

In the Old Testament, the Israelites journeyed from Egypt to Canaan and spent approximately forty years in the desert, living most of their lives in tents. However, among all the tents of Israel, there was one special tent at the center of the encampment: the tent where the Lord dwelt among His people. This was traditionally called the “Tabernacle.” The word “tabernacle” itself comes from Latin, meaning “tent,” and in Hebrew, the tent of the Lord is called מִשְׁכָּן  (miškān), which literally means “dwelling place” and is derived from the root שָׁכַן  (šākan), meaning “to dwell.” From this root, we get the word Shekinah (שְׁכִינָה), meaning “the Dwelling”—God’s presence among His people. God chose to dwell in the tent so that He could walk among His people, and the Israelites could come close to their God.

Now, returning to the Gospel, it seems that Jesus declined Peter’s offer of a tent, but in reality, He only postponed it. Jesus knew that one day, He would indeed dwell in a tent among His people. In the Catholic Church, the Lord walks with His people until the end of time as He is present in the Eucharist. We also have a “tent,” the Tabernacle, where the risen and transfigured Lord makes His temporary dwelling among us, allowing us to visit and be close to Him. However, we understand that this tent is only a temporary dwelling; His true dwelling is in heaven.

We must also remember that we are pilgrims in this world, pitching our tents here temporarily. We may have beautiful and spacious tents, but they are still just tents. Our stay here on earth is temporary, and we must not treat this temporary dwelling as our final, permanent home. Our true home is with the Lord in heaven.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide Questions:

Do we realize that we are just pilgrims on this earth? How do we prepare ourselves to reach our true home? Do we visit the Lord in His tent? How do we receive the Lord into our “tents”?

Transfigurasi dan Kemah

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [C]

16 Maret 2025

Lukas 9:28b-36

Minggu Prapaskah kedua memberikan kita kisah Transfigurasi, di mana Yesus digambarkan memancarkan cahaya, menjadi terang itu sendiri. Dua tokoh terbesar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia, muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus. Kemudian, Petrus mengajukan tawaran yang menarik kepada Yesus: sebuah kemah. Tetapi mengapa Petrus tiba-tiba menawarkan sebuah kemah?

Alasan yang praktis adalah karena Yesus dan murid-murid-Nya berencana untuk berdoa di atas gunung, dan mereka mungkin perlu tinggal di gunung untuk waktu yang lebih lama. Mengetahui hal ini, mungkin saja Yesus telah meminta ketiga murid-Nya untuk membawa kemah. Oleh karena itu, tawaran Petrus seharusnya tidak mengejutkan kita, karena kemungkinan besar mereka telah mempersiapkan kemah. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa kemah-kemah itu sekarang ditujukan untuk Musa dan Elia, bukan untuk para murid. Namun, adakah makna yang lebih dalam dari tawaran ini, yang lebih dari sekadar memperpanjang masa tinggal mereka di gunung?

Kemah adalah tempat tinggal sementara dan portabel, biasanya digunakan saat bepergian. Pada zaman dahulu, orang melakukan perjalanan untuk berbagai alasan, termasuk perdagangan, militer, dan ziarah. Pada masa itu, mereka tidak memiliki bus, mobil, atau pesawat terbang. Perjalanan darat sebagian besar dilakukan dengan berjalan kaki, dan para pejalan sering kali perlu beristirahat, terutama ketika jauh dari kota atau desa terdekat. Dalam keadaan seperti itu, kemah adalah sebuah kebutuhan.

Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel melakukan perjalanan dari Mesir ke Kanaan dan menghabiskan waktu kurang lebih empat puluh tahun di padang gurun, menjalani sebagian besar hidup mereka di dalam kemah. Namun, di antara semua kemah Israel, ada satu kemah khusus yang menjadi pusat perkemahan, yaitu kemah di mana Tuhan tinggal di tengah-tengah umat-Nya. Kemah ini secara tradisional disebut “Tabernakel”. Kata “tabernakel” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “kemah.” Dalam bahasa Ibrani, kemah Tuhan ini disebut מִשְׁכָּן (miškān), yang secara harfiah berarti “tempat tinggal” dan berasal dari akar kata שָׁכַן (šākan), yang berarti “hadir; tinggal”. Dari akar kata ini, kita mendapatkan kata Shekinah (שְׁכִינָה), yang berarti “Kehadiran” – kehadiran Allah di antara umat-Nya. Allah memilih untuk tinggal di dalam Kemah Suci agar Dia dapat berjalan di antara umat-Nya, dan bangsa Israel dapat mendekat kepada Allah mereka.

Sekarang, kembali ke Injil, tampaknya Yesus menolak tawaran Petrus untuk mendirikan kemah, tetapi pada kenyataannya, Dia hanya menundanya. Yesus tahu bahwa suatu hari nanti, Dia memang akan tinggal di dalam kemah di antara umat-Nya. Dalam Gereja Katolik, Tuhan berjalan bersama umat-Nya sampai akhir zaman saat Dia hadir dalam Ekaristi. Kita juga memiliki sebuah “kemah”, yaitu Tabernakel, di mana Tuhan yang telah bangkit dan berdiam sementara di antara kita, yang memungkinkan kita untuk berkunjung dan dekat dengan-Nya. Namun, kita memahami bahwa kemah ini hanyalah tempat tinggal sementara; tempat tinggal-Nya yang sejati adalah di surga.

Kita juga harus ingat bahwa kita adalah peziarah di dunia ini, yang mendirikan kemah di sini untuk sementara waktu. Kita mungkin memiliki kemah yang indah dan luas, tetapi itu tetaplah kemah. Tempat tinggal kita di dunia ini hanya sementara, dan kita tidak boleh memperlakukan tempat tinggal sementara ini sebagai rumah kita yang kekal dan permanen. Rumah kita yang sejati adalah bersama Tuhan di surga.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan Panduan:

Apakah kita menyadari bahwa kita hanyalah peziarah di bumi ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk mencapai rumah kita yang sejati? Apakah kita mengunjungi Tuhan di dalam kemah-Nya? Bagaimana kita menerima Tuhan ke dalam “kemah” kita?

The Spirit and the Test

1st Sunday of Lent [C]

March 9, 2025

Luke 4:1-13

As we begin the season of Lent, we once again reflect on the story of Jesus being tested in the desert for forty days. However, St. Luke’s Gospel provides an interesting detail: it is the Spirit who led Jesus into the desert, a place where He had to fast and face the evil one. What does this mean?

1st Sunday of Lent [C]
March 9, 2025
Luke 4:1-13

As we begin the season of Lent, we once again reflect on the story of Jesus being tested in the desert for forty days. However, St. Luke’s Gospel provides an interesting detail: it is the Spirit who led Jesus into the desert, a place where He had to fast and face the evil one. What does this mean?

By leading Jesus into the desert for forty days, the Spirit of God intended for Jesus to reenact an important event from the Old Testament—the Israelites’ wandering in the desert. Like the Israelites, Jesus also faced challenges and difficulties. The weather was harsh, with intense heat during the day and chilling cold at night. Food and water were scarce, and the desert was home to dangerous animals that threatened human life. Jesus relived the experience of the Israelites, enduring the same harsh conditions. But beyond that, the devil saw an opportunity to test Jesus, knowing that He was physically weak. This was the same evil spirit that tested the Israelites in the desert. St. Luke reveals the three temptations that Jesus faced: hunger (bodily pleasure), worldly wealth, and personal glory.

The Israelites in the desert faced the same three temptations. When they were hungry and thirsty, they grumbled against God, even blaming Him for delivering them from Egypt (Exo 16). When Moses was praying on the mountain, the Israelites demanded a new god, replacing the living God with a golden calf—something materially valuable and attractive, but ultimately lifeless (Exo 32). Some Israelites, filled with pride, sought glory for themselves. Aaron and Miriam tried to claim leadership over Moses (Num 12), while Korah and his followers attempted to usurp the position of high priest (Num 16). By entering the desert and reliving the events of the Exodus, Jesus became the new and perfect Israel. He was physically weak, tested, and tempted, but He did not fall. He even defeated Satan in their first spiritual battle.

The Gospel tells us that Jesus was led by the Spirit into the desert, where He was “tempted” by the devil. Does this mean that it was the Spirit’s will to “tempt” Jesus? The Greek word used here is “πειράζειν” (peirazein), which can be translated as ‘to tempt,’ but also as ‘to test.’ These words are not synonymous, but they are closely related because a period of testing often includes the opportunity for temptation. Just like in school exams, we may feel the urge to cheat.

The Gospel teaches us that God, in His infinite wisdom, does not always shield us from difficult times but allows us to face the trials of life. These trials—such as hunger, financial problems, illness, and difficult relationships—are often used by evil spirits to tempt us to steal, cheat, be unfaithful, and blame God. However, we must remember that Jesus was filled with the Holy Spirit when He entered the desert. The only way to endure the trials of life and protect ourselves from temptation is by relying on the Holy Spirit. When we rely on ourselves, we will surely fail, but with God’s help, we will be victorious, just like Jesus.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Guide question:
What are our desert experiences? What trials do we need to face in life? What temptations do we often encounter? Do we rely on the Holy Spirit in these difficult times? How can we trust in the Lord more? What wisdom do we gain after enduring trials?

Is Faith Enough?

4th Sunday of Lent [B]

March 10, 2024

Ephesians 2:4-10

St. Paul wrote in his letter to the Ephesians, “For by grace you have been saved through faith, and this is not from you; it is the gift of God; it is not from works, so no one may boast (Eph 2:8-9, first reading).” Does it mean that what we need to do is to believe? Do we still have to receive the Eucharist and other sacraments like the Catholic Church instructs? Are we still required to do good works and acts of charity?

Often, the Catholic teaching of salvation is comically understood as ‘faith and work,’ which means that to be saved, Catholics must both believe in God and do various works prescribed by the Church, like receiving the sacraments and performing acts of mercy. Yet, this is frankly not the authentic teaching of the Church. Council of Trent decreed that “none of those things that precede justification, whether faith or works, merit the grace of justification (Decree on Justification).” The grace of God that brings us salvation, the forgiveness of sins, and holiness is always a gift from God. Nothing we do can earn it.

Since grace is a gift, just like any other gift, we either freely accept or refuse the gift. Thus, Catechism states, “God’s free initiative demands man’s free response, for God has created man in his image by conferring on him, along with freedom, the power to know him and love him (CCC 2002).” Here comes the role of faith. We say ‘yes’ to God through faith and embrace His grace. But does it mean having faith is enough, and we no longer do anything? If we believe, can we do anything we want, even evil things?

St. Paul indeed says that the grace is not from our works (verse 9), but in the next verse, St. Paul adds, “For we are his handiwork, created in Christ Jesus for the good works that God has prepared in advance, that we should live in them (Eph 2:10).” Is St. Paul contradicting himself? To understand this, we must distinguish the two ‘works’ that St. Paul uses. The first work (verse 9) refers to our efforts to get salvation outside of grace, which is futile. Meanwhile, the second work (verse 10) points to our good works in grace that are pleasing to God.

Yes, grace is freely given, but it does not mean a cheap one. Grace is not something static but active and dynamic. Grace gives us the capacity to do good works, and when we respond to it faithfully, we grow spiritually and open ourselves to more grace. The more good works in grace we offer, the more grace we receive, and the more extraordinary grace we receive, the greater capacity we have to do good works. 

We do not see our involvement in the Eucharist and other sacraments as our efforts to bribe God and get grace, but rather our ways of growing in grace. Our acts of mercy in the family and community are not our works but participation in God’s love for His people. 

(For a deeper understanding of grace, please read CCC paragraph 1987-2006)

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP