Minggu pertama Prapaskah. 14 Februari 2016 [Lukas 4:1-13]
“Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun (Luk 4:1).”
Injil hari ini menulis tentang Roh Kudus yang membawa Yesus ke padang gurun. Ya, Roh Kudus akan membawa kita ke padang gurun juga! Gurun bisa diartikan sebagai kekeringan dan kekosongan dalam hidup dan jiwa kita. Seorang frater tiba-tiba masuk ke pengalaman gurun dan ia merasa kehilangan makna dan semangat di dalam panggilannya. Seorang ibu mulai mengalami kelelahan dalam mengemban misi yang sulit untuk membesarkan anak-anak nya. Melalui tulisan-tulisannya, terungkap bahwa bahkan orang kudus seperti Bunda Teresa dari Kalkuta pun harus melalui ‘Allah yang diam’ ketika dia tidak merasakan kehadiran Allah selama hampir 10 tahun dalam hidupnya.
Injil mengingatkan kita juga bahwa di padang gurun, Yesus dicobai oleh iblis. Berjalan melalui pengalaman padang gurun, iblis tahu benar bahwa pertahanan kita berada pada titik terendah dan pasti dia akan mengambil kesempatan untuk membuat kita jatuh dari komitmen kita. Sang frater mulai melihat bahwa hidup di luar lebih menarik dan solusi untuk kekosongan hidupnya. Lalu, tidak hanya kehampaan, sang frater juga menghadapi krisis. Lelah menghabiskan waktu dengan anak-anaknya sang ibu mulai berpikir untuk mengalihkan fokusnya pada sesuatu yang lain seperti karir, hobi, atau teman-temannya. Iblis adalah makhluk yang sangat cerdas. Dia akan memanipulasi keinginan dan kerinduaan yang paling mendasar kita. Dia menawarkan kita kompromi-kompromi kecil yang akhirnya menghancurkan komitmen kita. Sang frater yang mulai tidak menghadiri doa dengan komunitas, seorang siswa menjadi malas belajar, dan seorang suami mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah dan keluarganya sendiri.
Lalu bagaimana kita menghadapi situasi ini? Yesus memberikan jawabannya: Sabda Tuhan. Di gurun, Yesus berpegang teguh kepada Sabda Bapa-Nya, dan menolak godaan. Di tengah kekeringan hidup dan berbagai tantangan, kita hendaknya kita berpegang pada Sabda Tuhan. Tak diragukan lagi, kita dapat membaca Alkitab dan melakukan Bible Study secara mandiri. Dengan membaca dan merenungkan refleksi ini dan refleksi-refleksi lainnya adalah undangan untuk masuk lebih dalam ke dalam Sabda Allah. Atau, doa rosario adalah salah satu cara yang efektif untuk merenungkan kehidupan Yesus dan menolak godaan Setan. Tapi, satu-satunya tempat dimana Sabda Tuhan berada dalam bentuk yang paling kuat dan unik adalah di Ekaristi. Dalam Ekaristi, Sabda Allah dibagikan kepada kita melalui pembacaan Alkitab dan diperdalam melalui homili. Dan, yang paling penting, Sabda Allah akhirnya menjadi ‘daging’ di Ekaristi dan kita menyantap-Nya dalam Komuni Kudus.
Ketika iblis mengoda Yesus yang lapar untuk mengubah batu menjadi roti, Yesus menolak karena Ia tahu manusia hanya hidup karena roti yang nyata, Sabda yang menjadi daging, Ekaristi. Ketika si jahat berusaha untuk memikat Anak Allah menunjukkan kuasa-Nya di Bait Allah di Yerusalem, Yesus menolak dengan menunjukkan kepadanya bahwa Bait Allah sesungguhnya adalah Bait Sabda, dan bukan tempat pertunjukan. Ketika pangeran kegelapan meminta Yesus untuk menyembah Dia dan menawarkan semua kemuliaan dan kekayaan dunia, Yesus menghadapinya dengan kebenaran bahwa hanya Tuhan dan Sabda-Nya dalam Ekaristi layak mendapat semua sembah sujud kita.
Roh Kudus memang akan membawa kita ke padang gurun, mengalami kekeringan, lapar dan digoda oleh iblis, tetapi semua ini tidak untuk menghancurkan kita, tetapi memungkinkan kita untuk menemukan siapa kita sesungguhnya, yakni manusia yang berpedoman pada Sabda Tuhan, dalam Ekaristi.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

