Iman saja Cukup?

Minggu Prapaskah ke-4 [B]

10 Maret 2024

Efesus 2:4-10

Paulus menulis dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, “Sebab karena rahmat kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9, bacaan kedua). Apakah ini berarti bahwa satu-satunya yang perlu kita lakukan adalah percaya? Apakah kita masih perlu ke Gereja dan melakukan tindakan amal kasih seperti yang diajarkan Gereja Katolik?

Seringkali, ajaran Katolik tentang keselamatan dipahami secara keliru sebagai ‘iman dan perbuatan’, yang berarti bahwa untuk diselamatkan, umat Katolik harus percaya kepada Tuhan dan juga melakukan berbagai perbuatan yang ditetapkan oleh Gereja, seperti menerima sakramen-sakramen dan melakukan perbuatan amal kasih. Namun, hal ini sebenarnya bukanlah ajaran otentik Gereja. Konsili Trente telah mengajarkan secara definitif bahwa “tidak ada satu pun dari hal-hal yang mendahului pembenaran, baik iman maupun perbuatan, yang layak mendapatkan rahmat pembenaran (Decree on Justification).” Rahmat Allah yang membawa kita kepada keselamatan, pengampunan dosa, dan kekudusan selalu merupakan anugerah dari Allah. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mendapatkannya.

Karena rahmat adalah sebuah anugerah, sama seperti anugerah atau hadiah lainnya, kita bisa memilih untuk menerima atau menolak anugerah tersebut. Dengan demikian, Katekismus Gereja Katolik menyatakan, “Inisiatif bebas Allah menuntut respons bebas manusia, karena Allah telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dengan menganugerahkan kepadanya, bersama dengan kebebasan, kuasa untuk mengenal-Nya dan mengasihi-Nya (KGK 2002).” Di sinilah terletak peran iman. Iman adalah respons positif pertama kita kepada Allah, dan dengan demikian, membuka diri terhadap rahmat-Nya. Tetapi apakah itu berarti memiliki iman saja sudah cukup, dan kita cukup duduk santai dan tidak lagi melakukan apa pun?

Paulus memang mengatakan bahwa rahmat itu bukan karena perbuatan kita (ayat 9), tetapi di ayat berikutnya, Paulus menambahkan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. (Ef. 2:10).” Apakah Santo Paulus salah menulis? Untuk memahami hal ini, kita harus membedakan dua ‘perbuatan’ di ayat 9 dan 10. Perbuatan pertama (ayat 9) mengacu pada usaha kita untuk mendapatkan keselamatan di luar rahmat, dan ini yang sia-sia. Sementara itu, perbuatan kedua (ayat 10) menunjuk pada perbuatan baik kita di dalam rahmat, dan ini yang berkenan kepada Allah.

Ya, rahmat diberikan secara cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Rahmat bukanlah sesuatu yang statis, tetapi aktif dan dinamis. Rahmat memberi kita kemampuan untuk melakukan perbuatan baik, dan ketika kita meresponsnya dengan setia, kita bertumbuh secara rohani dan membuka diri kita untuk menerima lebih banyak rahmat. Semakin banyak perbuatan baik dalam rahmat yang kita persembahkan, semakin banyak rahmat yang kita terima, dan semakin banyak rahmat yang kita terima, semakin besar kapasitas yang kita miliki untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Ini adalah siklus kekudusan.

Jadi, kita tidak melihat keterlibatan kita dalam Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya sebagai upaya kita untuk menyuap Allah untuk mendapatkan rahmat, melainkan sebagai cara-cara kita untuk bertumbuh di dalam rahmat. Tindakan-tindakan belas kasih kita di dalam keluarga dan komunitas bukanlah perbuatan-perbuatan kita, melainkan partisipasi kita di dalam kasih Allah bagi umat-Nya. Rahmat memampukan kita berbuat baik, dan ini yang berkenan di hadapan Allah.

(Untuk pemahaman yang lebih dalam tentang rahmat, silakan baca KGK paragraf 1987-2006)

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Isaac’s Faith

2nd Sunday of Lent [B}

February 25, 2024

Gen 22:1-18

Isaac’s binding is one of the Bible’s most dramatic and intense stories. From this story, the Church sees that Isaac is the type of Christ. Isaac and Jesus were both the sons of the fulfillment of God’s promise. Both were born in the miraculous conditions. Isaac and Jesus were the sacrifices of their fathers. Yet, Isaac’s sacrifice was halted because his sacrifice would be fulfilled in Jesus on the cross. However, though typological analysis is beautiful, some questions remain unanswered. How did Isaac feel when he knew that he was about to sacrifice? Was he forced or freely giving himself? What was his motive?

Whether or not Isaac was forced as a sacrifice revolves around this age during the event. Many imagine that Isaac was still a small child, and thus, Abraham forcibly tied him and made him ready for the sacrifice. Yet, the text suggests that he was no longer a small child because he carried on his shoulder the wood for the sacrifice. Since wood was not for simple fire but a ritual sacrifice, Isaac must have brought a significant amount. Indeed, it was a job for a strong young man. Thus, we can conclude that Isaac was not forced because, as a young man, he had the physical power to resist the aging Abraham. Isaac was freely giving himself as a sacrifice and, perhaps, asked Abraham to bind him.

Yet, the question remains: Why did Isaac feel? Why did he offer himself? Unfortunately, the text of the Bible does not give us a window into Isaac’s heart. Yet, putting ourselves in the place of Isaac, it is not difficult to feel the great distress, sorrow, and fear. He was a young man with many years to come, and yet he was about to lose his life at that moment. He was not only facing death but a violent death. In fact, unlike his father, he had little to ponder about God’s will since he knew about it just a few moments before the sacrifice. Why?

The story usually focuses on the faith of Abraham, who obeyed God’s will and gave up his only son. God Himself blessed Abraham for his steadfast faith (see Gen 22:16-17). Yet, the story is also about Isaac’s faith. In the Bible, Isaac is considered a minor character among Israel’s patriarchs compared to Abraham and Jacob. He has fewer stories and often takes a more passive role. Yet, the story has proved that Isaac is a man of great faith. In fact, without his faith, Abraham would not have received the blessing.

Isaac’s faith is mature and profound. Amid extreme anguish and debilitating fear, he remained steadfast and believed that God would eventually turn things well. His faith also helped him to recognize that his life was a sacrifice to God. As he offered himself as a sacrifice, God’s blessing came to Abraham. Isaac’s faith is not only about ‘believing in God’s existence, not only about passive reception of situations but actively participating in God’s will.

How do we react in the face of uncertain situations and suffering? Fear, anxiety, or anger? What is faith to us? A mere belief in God, a passive surrender to avoidable situations, or proactively seeking God’s will? Do we also offer our lives as sacrifices to God so that others may receive blessings?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Desert

1st Sunday of Lent [B]

February 18, 2024

Mark 1:12-15

What do we imagine when we hear the word ‘desert’? The image in our mind may vary depending on our experience and knowledge of the desert. Yet, we agree that the desert is barren, plagued by an unfriendly climate, and not a suitable place for humans to live. Then, why does the Spirit lead Jesus to the desert? Why do we need to experience desert moments?

When we have an image of a desert, we can think of a fertile garden as its opposition. The Bible gives us these two images, a garden, and a desert, as two contrasting places. Adam and Eve originally lived in the perfect garden, with everything provided. They had the best food and safest place; most of all, God was with them. Yet, they fell, and they had to leave the garden. They began their journey in a ‘desert’ where they had to work hard to earn their livings, where many dangers lurked, and death was their final destination.

Then, why did Jesus follow the Spirit to the desert? The answer is that Jesus is in the desert for us to find Him. Even the desert may become a holy place because our Saviour is there and blesses this place. Yes, the desert is a dangerous place, and even the evil spirits are lurking to snatch us away from God, yet Jesus is also there. His presence makes even the ugliest place on earth a beautiful and holy ground.

The presence of God in the desert is not even something new. Interestingly, the word desert in Hebrew is מדבר (read: midbar) and can be literally translated as ‘the place of the word.’ Indeed, the desert is where the Israelites endured many hardships and were tested, yet it is also where God manifested Himself and made a covenant with Israel through Moses. In fact, through the desert experience, God disciplined and formed His people.

Our natural inclination is to avoid a desert, whether a natural geographical place or a symbol of our difficult moments in life. We don’t want to experience pain and sickness, we hate to endure financial and economic difficulties, and we detest difficult relationships in our family or community. We want to be blessed, to be in the Paradise. Yet, we must not fear to walk through our deserts because Jesus is there. Indeed, our hardships can exhaust us and become the devil’s opportunity to tempt us hard, yet with Jesus, these experiences can be a means of holiness.

In the season of Lent, the Church teaches us to fast, to pray more frequently, and to increase our acts of charity. These practices invite us into the desert to feel hunger, experience discomfort, and enjoy fewer things that give us pleasure. Yet, paradoxically, when we enter voluntarily and faithfully this difficult desert of Lent, we may find Christ even there, and we are renewed in holiness.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Padang Gurun

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [B]

18 Februari 2024

Markus 1:12-15

Apa yang kita bayangkan ketika mendengar kata padang gurun? Gambaran yang ada di benak kita mungkin sangat beragam, tergantung pada pengalaman dan pengetahuan kita tentang gurun. Namun, kita sepakat bahwa padang gurun adalah tempat yang tandus, diliputi oleh iklim yang tidak bersahabat, dan bukan tempat yang cocok untuk dihuni oleh manusia. Lalu, mengapa Roh Kudus membawa Yesus ke padang gurun? Mengapa kita perlu mengalami momen-momen padang gurun?

Ketika kita memiliki gambaran tentang padang gurun, kita dapat berpikir tentang hutan hijau atau taman yang subur sebagai kebalikannya. Faktanya, Alkitab memberikan dua gambaran ini, taman dan padang gurun, sebagai dua tempat yang kontras. Adam dan Hawa pada awalnya tinggal di taman yang sempurna, dengan segala kenikmatannya. Mereka memiliki makanan terbaik, tempat teraman, dan yang paling penting, Tuhan bersama mereka. Namun, mereka jatuh dalam dosa, dan mereka harus meninggalkan taman itu. Mereka memulai perjalanan mereka di ‘padang gurun’ di mana mereka harus bekerja keras untuk mencari nafkah, di mana banyak bahaya mengintai, dan kematian menjadi tujuan akhir mereka.

Lalu, mengapa Yesus berada di padang gurun? Jawabannya adalah bahwa Yesus ada di padang gurun agar kita dapat menemukan-Nya juga di sana. Bahkan padang gurun pun dapat menjadi tempat yang kudus, karena Juruselamat kita ada di sana dan memberkati tempat itu. Ya, padang gurun adalah tempat yang berbahaya, dan bahkan roh-roh jahat pun mengintai untuk merenggut kita dari Tuhan, namun Yesus juga ada di sana. Kehadiran-Nya membuat tempat yang paling jelek sekalipun di dunia ini menjadi tempat yang indah dan kudus.

Kehadiran Tuhan di padang gurun bukanlah sesuatu yang baru. Kata gurun dalam bahasa Ibrani adalah מדבר (baca: midbar), dan secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai ‘tempat sabda’. Memang, gurun Sinai adalah tempat di mana bangsa Israel mengalami banyak kesulitan, dan diuji, namun juga tempat di mana Tuhan menyatakan diri-Nya dan membuat perjanjian dengan Israel melalui Musa. Bahkan, melalui pengalaman di padang gurun, Tuhan mendisiplinkan dan membentuk umat-Nya.

Kecenderungan alamiah kita adalah menghindari padang gurun, baik itu tempat geografis yang nyata maupun simbol untuk saat-saat sulit dalam hidup kita. Kita tidak ingin mengalami rasa sakit dan penyakit, kita benci menanggung kesulitan keuangan dan ekonomi, dan kita tidak mau hubungan yang sulit dalam keluarga atau komunitas kita. Kita ingin selalu diberkati, berada di Firdaus. Namun, sekarang, kita tidak perlu takut untuk berjalan melewati padang gurun karena Yesus ada di sana. Memang, kesulitan kita dapat membuat kita lelah dan menjadi kesempatan bagi iblis untuk mencobai kita dengan keras, namun bersama Yesus, pengalaman-pengalaman ini dapat menjadi sarana kekudusan.

Pada masa Prapaskah, Gereja mengajarkan kita untuk berpuasa, berdoa lebih intens dan meningkatkan amal kasih. Praktik-praktik ini mengundang kita untuk memasuki padang gurun, merasakan kelaparan, mengalami ketidaknyamanan, dan mengurangi hal-hal yang memberi kita kesenangan. Namun, secara paradoks, ketika kita memasuki padang gurun Prapaskah yang sulit ini dengan sukarela dan setia, kita dapat menemukan Kristus di sana, dan kita diperbaharui dalam kekudusan.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup adalah Kristus

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [A]
24 September 2023
Matius 20:1-16a
Filipi 1:20c-24, 27a

Hari ini, Santo Paulus menulis kalimat sangat menarik, “Aku rindu meninggalkan dunia ini dan bersama dengan Kristus, karena itulah yang jauh lebih baik [Flp. 1:23].” Apakah St. Paulus ini ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri? Atau ada hal lain yang sebenarnya terjadi?

Kita harus memahami konteks surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi untuk menjawab pertanyaan ini. Surat kepada jemaat di Filipi adalah salah satu surat Paulus dari penjara [termasuk surat ke jemaat di Efesus dan Kolose]. Jika kita mengingat kembali kehidupan rasul besar ini, kita tahu bahwa Paulus dianiaya dan ditangkap oleh orang-orang Yahudi yang menentang pemberitaan Injil Yesus Kristus. Saat menghadapi pengadilannya, Paulus kemudian menggunakan hak istimewanya sebagai warga negara Romawi untuk mengajukan banding kepada Kaisar. Dengan demikian, dia dibawa ke Roma, ibu kota kekaisaran. Sementara dia menunggu Kaisar mendengar bandingnya, dia menjadi tahanan rumah, dan bahkan dirantai. Namun, ia diizinkan untuk terus mewartakan Injil dan mengirim surat ke berbagai komunitas. Salah satu suratnya adalah kepada jemaat di Filipi [lihat Flp. 1:14]. Dalam masa penantian ini, Paulus bisa saja dinyatakan tidak bersalah, tetapi ada kemungkinan besar Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Dari konteks ini, kita memahami bahwa Paulus tidak sedang berpikir bagaimana mengakhiri hidupnya, melainkan tentang kematiannya sebagai martir. Sementara bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup kita sendiri, menjadi martir adalah kematian yang disebabkan oleh kebencian terhadap iman. Namun, yang menarik adalah bagaimana Paulus bereaksi terhadap kematian sebagai martir. Ia tidak takut, tidak cemas berlebihan, dan bahkan tidak mengalami depresi. Sebaliknya, ia menunjukan diri penuh dengan sukacita. Bahkan, jika kita membaca surat kepada jemaat di Filipi, kita akan segera merasakan bahwa suasana umum dari surat ini adalah sukacita. Paulus menulis, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, aku berkata, Bersukacitalah (Flp. 4:4)! Hal ini sangat membingungkan. Bagaimana Paulus dapat bersukacita ketika ia dianiaya dan menghadapi kematian yang sudah dekat?

Jawabannya adalah karena Paulus telah melihat nilai sejati dari Yesus Kristus. Paulus menulis, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus [Flp. 3:8].” Paulus mengerti betapa berharganya Kristus, dan karena kebijaksanaan ini, Paulus memiliki hirarki prioritas yang benar dalam hidupnya. Segala sesuatu, termasuk kehidupan itu sendiri, haruslah di dalam Kristus dan untuk Kristus. Dengan demikian, Paulus, yang telah memberikan segalanya untuk Kristus dan hidup di dalam Kristus, bersukacita dalam menghadapi kematian karena ia tahu bahwa ia akhirnya dapat bersatu dengan Kristus.

Paulus memberi kita sebuah kiat berharga untuk keselamatan: kenali Kristus, dan betapa pentingnya Dia bagi kita. Kita perlu menetapkan prioritas kita dengan benar. Kristus dahulu, dan yang lain akan jatuh pada tempatnya. Ya, kekayaan materi memang penting, makanan dan tempat tinggal sangat penting, dan pendidikan juga penting, tetapi semua itu adalah sarana untuk hidup di dalam Kristus dan untuk Kristus. Kita mungkin kehilangan uang atau harta benda, dan itu tidak masalah, tetapi jika kita kehilangan Kristus, kita akan kehilangan keselamatan dan sukacita kekal. Saat kita kehilangan Kristus, segala kesuksesan di dunia ini akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, bersukacitalah karena bagi kita, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Lazarus dan Sakramen Krisma

Minggu ke-5 Masa Prapaskah [A]
26 Maret 2023
Yohanes 11:1-45

Ada tujuh tanda (atau mukjizat) dalam Injil Yohanes, dan Gereja telah mengenali bahwa ketujuh mukjizat ini berhubungan dengan ketujuh sakramen. Minggu lalu, kita telah melihat bahwa penyembuhan orang yang buta sejak lahir menjadi tanda dari sakramen Baptisan (lih. Yoh 9:1-41). Sekarang, kita menemukan mukjizat Yesus yang lain, yaitu kebangkitan Lazarus. Mukjizat ini berhubungan dengan sakramen penguatan atau krisma. Mari kita simak penjelasannya.

Sakramen krisma sering kali disalahpahami dan bahkan diabaikan. Ada banyak alasan kenapa hal ini terjadi. Beberapa dari kita mungkin merasa bahwa sakramen ini tidak terlalu dibutuhkan. Kita merasa bahwa kita sudah memenuhi tugas kita ketika kita dibaptis, pergi ke Misa sesekali, dan mungkin pergi ke pengakuan dosa setahun sekali. Yang lainnya menerima katekese yang tidak memadai, dan oleh karena itu, pemahaman kita tentang sakramen ini sangat terbatas dan bahkan salah. Yang lainnya tidak ingin merepotkan diri dengan serangkaian katekese dan pembekalan sebelum menerima sakramen Penguatan. Yang lainnya lagi menerima sakramen tanpa katekese yang memadai karena pernikahan mereka sudah dekat. Dengan demikian, banyak yang melihat krisma sebagai sakramen ‘kelas dua’.

Namun, anggapan ini tidak benar sama sekali. Gereja terus mengajarkan bahwa sakramen ini memiliki peran yang tak tergantikan dalam kehidupan umat beriman. Krisma adalah sakramen kedua dari tiga sakramen inisiasi Gereja (bersama dengan baptisan dan Ekaristi). Ini berarti, untuk menjadi anggota Gereja yang utuh dan dewasa, kita harus menerima rahmat Roh Kudus yang diterima dalam sakramen krisma. Sekarang, bagaimana Injil hari ini berhubungan dengan sakramen krisma?

Pertama, Lazarus, bersama dengan Maria dan Marta, memiliki persahabatan yang penuh kasih dengan Yesus sebelum mukjizat terjadi. Kondisi ini menunjukkan kepada kita bahwa Lazarus adalah simbol orang Kristen yang telah dibaptis yang hidup di dalam Kristus. Kedua, kematian Lazarus dan kebangkitannya menunjuk kepada kehidupan baru di dalam Roh. Yohanes Penginjil menceritakan secara eksplisit bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari (Yoh 11:17). Ini adalah detail kecil namun penting. Lazarus benar-benar telah meninggal, dan jiwanya tidak lagi bersama dengan tubuhnya. Dengan demikian, mukjizat Yesus adalah tindakan ilahi yang menghidupkan kembali, menyatukan tubuh dan jiwa. Memang benar bahwa Roh Kudus tidak disebutkan, tetapi mukjizat Yesus membawa kita kembali kepada penciptaan manusia di mana Roh Allah aktif dan memberi kehidupan.

Terakhir, mukjizat ini memiliki dampak yang permanen pada diri Lazarus. Setelah kembali dari kematian, Lazarus menjadi saksi hidup akan kuasa dan kasih Yesus. Karena kesaksian Lazarus, banyak orang datang kepada Yesus dan percaya kepada-Nya. Dan karena alasan yang sama, Lazarus menghadapi penganiayaan dari musuh-musuh Yesus [lih. Yoh 12:9-11]. Namun, Lazarus tidak menjadi pengecut. Dia telah mengalami kematian, tetapi bahkan kematian pun tidak dapat memisahkannya dari kasih Kristus.

Apa yang terjadi pada Lazarus juga terjadi pada kita. Ketika kita dibaptis, kita menerima persahabatan yang penuh kasih dengan Kristus. Namun, dalam sakramen krisma, jiwa kita menerima karunia-karunia Roh Kudus dan kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Kita sekarang telah menjadi saksi Yesus Kristus yang hidup dan membawa lebih banyak orang kepada Tuhan. Kita juga diberdayakan untuk menanggung penderitaan dan penganiayaan karena Kristus, dengan sabar dan berani.

Inilah sebabnya mengapa sebelum menerima sakramen perkawinan atau sakramen imamat, kita perlu menerima sakramen peneguhan. Perkawinan dan imamat adalah sakramen pelayanan dan kesaksian, yang membawa orang lain lebih dekat kepada kekudusan. Oleh karena itu, hanya orang-orang Kristen yang sungguh dewasa yang layak untuk melakukan tugas-tugas ini. Kita tidak hanya dipanggil untuk menjadi sahabat-sahabat Yesus, tetapi juga menjadi saksi-saksi-Nya yang berani di dunia, dan sakramen krisma ini menjadikan kita saksi-saksi-Nya.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Samaritan Woman

Third Sunday of Lent [A]
March 12, 2023
John 4:5-42

For the third Sunday of Lent, the Church has selected for us the story of Samaritan woman from the Gospel of John. This story does not only appear in the current liturgical year (Year A), but also other years (Year B and C). Why does the Church select this reading for the season of Lent? What makes it very special that every year we are invited to listen and reflect on the story?

The story of the Samaritan woman is a story of repentance. Thus, it is fitting for the season of Lent. Let us go deeper into the story. John the evangelist does not give us the name of this woman as well as her other details, but there is a particular information that stands out. The woman had five husbands, and presently, is living with another man. Again, we don’t have details on this issue. It seems that the woman has lived through cycle of marriage, divorce, and remarriage. For unknown reason, her former husbands kept dismissing her (see Deu 24). Perhaps, there were serious marital issues. Perhaps, there were problems with her personalities as well as her husbands’ characters, that rendered them unable to live in a permanent and healthy relationship. Again, we are not sure, but we may say that she has been through hell, and the experience was deeply painful and traumatic, to the point that she decided to live with a man without a proper marriage. At the same time, she had to avoid her people because of shame, and run away from her God.

At first, to hear that this woman had five marriages sounds unbelievable. Yet, this is not totally impossible. However, what more important is that the Samaritan woman has become a reflection of some of us, or some people close to us. Before I began my study in Rome, I served as an assistant parish priest in Surabaya, Indonesia. Being in the parish of a big city, my ministry was inevitably tied to Catholic marriages and families. I am fortunate that I was given the opportunity to solemnize more than fifty marriages. Yet, unfortunately, I also encountered many couples as they sought help facing their marital problems. As I was listening to their stories, I could not but feel the pain, frustration and sometimes anger. The consequences are deeply painful and traumatic: relationships are fractured, families are broken, and children are suffering.

Fortunately, the story of Samaritan woman does not end in a tragedy. Jesus unexpectedly waited for her and mercifully offered her the forgiveness and a new life. Though she was initially hesitated, she confessed her sins and found the true Messiah. We are not told what happened exactly to her life, but we can assume that she changed her life because she had the new-born courage to face her own people and proclaim Jesus.

As I accompany men and women who are struggling with their marriages, things are tough and painful, but not hopeless. Some couples eventually reconciled, but there are some who face more difficult situations. Yet, despite their challenging situations, many refuse to fall into sinful life, but choose to grow in holiness. I honored to encounter some of them. Despite being abandoned by their spouses, they refuse to retaliate with violence. They also resiste the temptation to live with another man or woman outside of marriage but committed to rise their children alone. They have all the right to become angry and disappointed with God because of their conditions, but they did not allow negative emotions to control them. More remarkably, they decided to serve also in the Church.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscence

2nd Sunday of Lent [A]
March 5, 2023
Matthew 17:1-9

Lenten Season is characterized with acts of penance as well as intensified spiritual exercises like fasting and almsgiving. One of the purposes of these activities is to strengthen our spiritual muscles against the weaknesses of the soul or ‘concupiscence’, that is a tendency to fall into sins due to our wounded nature. Yet, why do still have this weakness if we have been redeemed? St. Paul in his letter to Timothy emphatically says, “… the appearance of our savior Christ Jesus, who destroyed death and brought life and immortality to light through the gospel (2 Tim 1:10).”

photocredit: corina rainer

I must admit that we are dealing with mystery of faith. Like other mysteries, the reality of redemption as well as the presence of concupiscence are a reality, but the reasons behind these realities remain largely hidden because these truths are greater than our minds’ capacity. However, it does not mean that we are clueless. Through her theologians and saints, the Church has reflected on the matter for two thousand years, and taught that the consequences for nature, weakened and inclined to evil, persist in man and summon him to spiritual battle (CCC 405).

The presence of concupiscence opens up an opportunity for us to exercise the virtues and to grow in holiness through the practice of spiritual exercises. Thus, even though concupiscence remains after baptism, it is not an insurmountable obstacle to living a holy life, and in fact make our journey a lot more meaningful. With the help of God’s grace, we can resist their disordered desires and grow in holiness.

In today’s gospel, we hear that Jesus was transfigured in the mountain. For Peter, John and James, this was an ecstatic experience overflowing with joy. They did not want to lose this elating experience, and thus, Peter proposed to build tents so that they could stay longer up on the mountain. But, Jesus did not stay long in His divine state, but summoned his disciples to go down and follow Him. Where? After transfiguration, Jesus set His eyes to Jerusalem where His suffering and death awaited. Jesus understood well, ‘there is no resurrection without the cross.’ Concupiscence is one of our crosses here on earth, and it becomes a means to holiness.

One good friend of mine once asked me, “Why did God allow concupiscence to remain in our soul? It could have been better and easier for us if concupiscence had been removed during baptism.” The point was clearly taken. I can imagine that without concupiscence, I would not have to deal with many temptations. Life would be much easier, and the world would be a better place because people would no longer commit evil things out of selfish interests. However, our first parents still sinned even without concupiscence. The absence of concupiscence does not automatically prevent us from falling into sin. In fact, the moment we sin out of our total freedom and without the influence of concupiscence, we will fall extremely hard, just like Adam and Eve. Perhaps to prevent us from experiencing what our first parents had suffered, God allows concupiscence to remain.

Eventually, we still face the mystery, but we believe that even the presence of concupiscence is ultimately for our good.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP