Kisah Perempuan Samaria

Minggu Ketiga Masa Prapaskah [A]
12 Maret 2023
Yohanes 4:5-42

Untuk hari Minggu ketiga Prapaskah, Gereja telah memilihkan kisah perempuan Samaria dari Injil Yohanes. Kisah ini tidak hanya muncul pada tahun liturgi ini (Tahun A), tetapi juga pada tahun-tahun lainnya (Tahun B dan C). Mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Mengapa kisah ini menjadi sangat istimewa karena setiap tahun kita diundang untuk mendengarkan dan merenungkan kisah ini?

photocredit: Nandhu Kumar

Kisah perempuan Samaria menawarkan kepada kita sebuah kisah pertobatan. Oleh karena itu, kisah ini sangat cocok untuk masa Prapaskah. Mari kita masuk lebih dalam ke dalam kisah ini. Yohanes Penginjil tidak menyebutkan nama perempuan ini dan juga rincian lainnya, tetapi ada satu informasi yang menonjol. Sang perempuan pernah memiliki lima suami, dan saat ini, ia hidup dengan seorang pria lain. Sekali lagi, kita tidak memiliki rincian tentang hal ini. Tampaknya wanita tersebut telah menjalani siklus pernikahan, perceraian, dan pernikahan kembali. Untuk alasan yang tidak diketahui, para mantannya terus menceraikannya (lihat Ul 24, untuk proses perceraian di Hukum Musa).

Mungkin, ada masalah pernikahan yang serius. Mungkin, juga ada masalah dengan kepribadiannya dan juga karakter suaminya, yang membuat mereka tidak dapat hidup dalam hubungan yang permanen dan sehat. Sekali lagi, kita tidak yakin, tetapi kita dapat mengatakan bahwa ia telah melalui masa yang sangat sulit, dan pengalaman ini sangat menyakitkan dan traumatis, sampai-sampai ia memutuskan untuk hidup dengan seorang pria tanpa pernikahan yang sah. Pada saat yang sama, dia harus menghindari bangsanya karena malu, dan menjauhkan diri dari Tuhannya.

Pada awalnya, mendengar bahwa wanita ini memiliki lima pernikahan terdengar sulit dipercaya. Namun, hal ini tidak sepenuhnya mustahil. Namun, yang lebih penting adalah bahwa perempuan Samaria ini telah menjadi cerminan dari sebagian dari kita, atau orang-orang yang dekat dengan kita. Sebelum saya memulai studi saya di Roma, saya melayani sebagai asisten pastor paroki di Surabaya. Berada di paroki di sebuah kota besar, pelayanan saya terkait dengan pernikahan dan keluarga Katolik. Saya beruntung bahwa saya diberi kesempatan untuk memberkati lebih dari lima puluh pernikahan. Namun, sayangnya, saya juga bertemu dengan banyak pasangan yang mencari bantuan untuk menghadapi masalah perkawinan mereka. Ketika saya mendengarkan cerita mereka, saya dapat merasakan rasa sakit, frustrasi dan terkadang kemarahan. Konsekuensinya sangat menyakitkan dan traumatis: relasi menjadi hancur, keluarga retak, dan anak-anak menderita.

Untungnya, kisah perempuan Samaria tidak berakhir dengan tragedi. Yesus secara tak terduga menunggunya dan dengan penuh belas kasih menawarkan pengampunan dan kehidupan yang baru. Meskipun awalnya perempuan itu ragu-ragu, ia mengakui dosa-dosanya dan menemukan Mesias yang sejati. Kita tidak diberitahu apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupnya, tetapi kita dapat berasumsi bahwa ia mengubah hidupnya karena ia memiliki keberanian baru untuk menghadapi bangsanya dan mewartakan Yesus.

Ketika saya mendampingi pria dan wanita yang bergumul dengan pernikahan mereka, banyak hal yang sulit dan menyakitkan, tetapi bukan berarti tanpa harapan. Beberapa pasangan akhirnya berekonsiliasi, tetapi ada juga yang menghadapi situasi yang lebih sulit. Namun, terlepas dari situasi yang sulit, banyak yang menolak untuk jatuh dalam dosa, tetapi memilih untuk bertumbuh dalam kekudusan. Saya merasa terhormat bertemu dengan beberapa di antaranya. Meskipun ditinggalkan oleh pasangan mereka, mereka menolak untuk membalas dengan kekerasan. Mereka juga menolak godaan untuk hidup dengan pria atau wanita lain di luar pernikahan, tetapi berkomitmen untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Mereka memiliki hak untuk marah dan kecewa kepada Tuhan karena kondisi yang mereka alami, tetapi mereka tidak membiarkan emosi negatif mengendalikan mereka. Yang lebih luar biasa lagi, mereka memutuskan untuk melayani juga di dalam Gereja.

Mari kita rangkul dan dukung saudara atau sahabat kita yang sedang bergulat dengan pernikahan mereka.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of Samaritan Woman

Third Sunday of Lent [A]
March 12, 2023
John 4:5-42

For the third Sunday of Lent, the Church has selected for us the story of Samaritan woman from the Gospel of John. This story does not only appear in the current liturgical year (Year A), but also other years (Year B and C). Why does the Church select this reading for the season of Lent? What makes it very special that every year we are invited to listen and reflect on the story?

The story of the Samaritan woman is a story of repentance. Thus, it is fitting for the season of Lent. Let us go deeper into the story. John the evangelist does not give us the name of this woman as well as her other details, but there is a particular information that stands out. The woman had five husbands, and presently, is living with another man. Again, we don’t have details on this issue. It seems that the woman has lived through cycle of marriage, divorce, and remarriage. For unknown reason, her former husbands kept dismissing her (see Deu 24). Perhaps, there were serious marital issues. Perhaps, there were problems with her personalities as well as her husbands’ characters, that rendered them unable to live in a permanent and healthy relationship. Again, we are not sure, but we may say that she has been through hell, and the experience was deeply painful and traumatic, to the point that she decided to live with a man without a proper marriage. At the same time, she had to avoid her people because of shame, and run away from her God.

At first, to hear that this woman had five marriages sounds unbelievable. Yet, this is not totally impossible. However, what more important is that the Samaritan woman has become a reflection of some of us, or some people close to us. Before I began my study in Rome, I served as an assistant parish priest in Surabaya, Indonesia. Being in the parish of a big city, my ministry was inevitably tied to Catholic marriages and families. I am fortunate that I was given the opportunity to solemnize more than fifty marriages. Yet, unfortunately, I also encountered many couples as they sought help facing their marital problems. As I was listening to their stories, I could not but feel the pain, frustration and sometimes anger. The consequences are deeply painful and traumatic: relationships are fractured, families are broken, and children are suffering.

Fortunately, the story of Samaritan woman does not end in a tragedy. Jesus unexpectedly waited for her and mercifully offered her the forgiveness and a new life. Though she was initially hesitated, she confessed her sins and found the true Messiah. We are not told what happened exactly to her life, but we can assume that she changed her life because she had the new-born courage to face her own people and proclaim Jesus.

As I accompany men and women who are struggling with their marriages, things are tough and painful, but not hopeless. Some couples eventually reconciled, but there are some who face more difficult situations. Yet, despite their challenging situations, many refuse to fall into sinful life, but choose to grow in holiness. I honored to encounter some of them. Despite being abandoned by their spouses, they refuse to retaliate with violence. They also resiste the temptation to live with another man or woman outside of marriage but committed to rise their children alone. They have all the right to become angry and disappointed with God because of their conditions, but they did not allow negative emotions to control them. More remarkably, they decided to serve also in the Church.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscentia

Hari Minggu Prapaskah ke-2 [A]
5 Maret 2023`
Matius 17:1-9

Masa Prapaskah ditandai dengan tindakan silih serta latihan rohani yang intensif seperti pantang, puasa dan amal. Salah satu tujuan dari kegiatan-kegiatan ini adalah untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kelemahan jiwa atau ‘Concupiscentia’, yaitu kecenderungan kita untuk jatuh ke dalam dosa karena kodrat kita yang terluka (sering disebut juga sebagai ‘kedagingan’ kita). Namun, mengapa kita masih memiliki kelemahan ini jika kita telah ditebus? Bahkan Paulus dalam suratnya kepada Timotius dengan tegas mengatakan, “… kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (2 Tim. 1:10).” Namun, kenapa kita masih bergulat dengan kedagingan kita?

photocredit: Nicolai Chernichenko

Pertama, kita harus mengakui bahwa kita berhadapan dengan misteri iman. Seperti misteri-misteri iman lainnya, realitas penebusan dan juga keberadaan ‘Concupiscentia’ adalah sebuah kenyataan, tetapi alasan di balik realitas tersebut sebagian besar masih tersembunyi karena kebenaran-kebenaran tersebut lebih besar daripada kemampuan akal budi kita. Namun, bukan berarti kita tidak mengerti sama sekali. Melalui para teolog dan orang-orang kudusnya, Gereja telah merefleksikan masalah ini selama dua ribu tahun, dan mengajarkan bahwa ‘Concupiscentia’, yakni cenderungan pada kejahatan, tetap ada dalam diri manusia karena Tuhan memanggil kita ke dalam peperangan rohani (lih. KGK 405).

Kehadiran ‘Concupiscentia’ membuka kesempatan bagi kita untuk menjalankan keutamaan-keutamaan dan bertumbuh dalam kekudusan melalui berbagai latihan rohani. Dengan demikian, meskipun ‘Concupiscentia’ tetap ada setelah pembaptisan, hal ini bukanlah halangan yang tidak dapat diatasi untuk menjalani hidup yang kudus, dan pada kenyataannya membuat perjalanan kita menjadi lebih bermakna. Dengan bantuan rahmat Allah, kita dapat melawan keinginan-keinginan yang tidak teratur ini dan bertumbuh dalam kekudusan.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa Yesus bertransfigurasi di atas gunung. Bagi Petrus, Yohanes dan Yakobus, ini adalah pengalaman yang luar biasa yang dipenuhi dengan sukacita. Mereka tidak ingin kehilangan pengalaman yang menggembirakan ini, dan dengan demikian, Petrus mengusulkan untuk membangun tenda agar mereka dapat tinggal lebih lama di atas gunung. Namun, Yesus tidak tinggal lama dalam keadaan ilahi-Nya, tetapi memanggil para murid-Nya untuk turun dan mengikuti-Nya. Ke mana? Setelah transfigurasi, Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem di mana penderitaan dan kematian-Nya telah menanti. Yesus sangat memahami, “tidak ada kebangkitan tanpa salib”. ‘Concupiscentia’ adalah salah satu salib kita di dunia ini, dan ini bisa menjadi sarana menuju kekudusan.

Seorang teman baik saya pernah bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ‘Concupiscentia’ tetap ada di dalam jiwa kita? Bukankah akan lebih baik dan lebih mudah bagi kita jika ‘kedagingan’ itu dihilangkan pada saat pembaptisan?” Saya dapat membayangkan bahwa tanpa ‘Concupiscentia’, kita tidak perlu lagi berurusan dengan banyak godaan. Hidup akan jauh lebih mudah dan dunia akan menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang tidak lagi melakukan hal-hal jahat karena egoism dan hawa nafsu. Situasi tanpa ‘Concupiscentia’ ini, kurang lebih sama dengan kondisi orang tua pertama kita, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Ini adalah sebuah Firdaus!

Namun, kemudian, saya menyadari bahwa bahkan tanpa adanya ‘Concupiscentia’, orang tua pertama kita tetap saja jatuh dalam dosa. Tidak adanya ‘Concupiscentia’ tidak secara otomatis mencegah kita jatuh ke dalam dosa. Faktanya, pada saat kita berbuat dosa di luar kebebasan total kita dan tanpa pengaruh ‘Concupiscentia’, kita akan jatuh dengan sangat keras, sama seperti Adam dan Hawa. Mungkin untuk mencegah kita mengalami apa yang dialami oleh orang tua pertama kita, Allah mengizinkan ‘Concupiscentia’ untuk tetap ada.

Pada akhirnya, kita masih menghadapi sebuah misteri ini, tetapi kita percaya bahwa kehadiran ‘Concupiscentia’ pada akhirnya adalah untuk kebaikan kita.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Concupiscence

2nd Sunday of Lent [A]
March 5, 2023
Matthew 17:1-9

Lenten Season is characterized with acts of penance as well as intensified spiritual exercises like fasting and almsgiving. One of the purposes of these activities is to strengthen our spiritual muscles against the weaknesses of the soul or ‘concupiscence’, that is a tendency to fall into sins due to our wounded nature. Yet, why do still have this weakness if we have been redeemed? St. Paul in his letter to Timothy emphatically says, “… the appearance of our savior Christ Jesus, who destroyed death and brought life and immortality to light through the gospel (2 Tim 1:10).”

photocredit: corina rainer

I must admit that we are dealing with mystery of faith. Like other mysteries, the reality of redemption as well as the presence of concupiscence are a reality, but the reasons behind these realities remain largely hidden because these truths are greater than our minds’ capacity. However, it does not mean that we are clueless. Through her theologians and saints, the Church has reflected on the matter for two thousand years, and taught that the consequences for nature, weakened and inclined to evil, persist in man and summon him to spiritual battle (CCC 405).

The presence of concupiscence opens up an opportunity for us to exercise the virtues and to grow in holiness through the practice of spiritual exercises. Thus, even though concupiscence remains after baptism, it is not an insurmountable obstacle to living a holy life, and in fact make our journey a lot more meaningful. With the help of God’s grace, we can resist their disordered desires and grow in holiness.

In today’s gospel, we hear that Jesus was transfigured in the mountain. For Peter, John and James, this was an ecstatic experience overflowing with joy. They did not want to lose this elating experience, and thus, Peter proposed to build tents so that they could stay longer up on the mountain. But, Jesus did not stay long in His divine state, but summoned his disciples to go down and follow Him. Where? After transfiguration, Jesus set His eyes to Jerusalem where His suffering and death awaited. Jesus understood well, ‘there is no resurrection without the cross.’ Concupiscence is one of our crosses here on earth, and it becomes a means to holiness.

One good friend of mine once asked me, “Why did God allow concupiscence to remain in our soul? It could have been better and easier for us if concupiscence had been removed during baptism.” The point was clearly taken. I can imagine that without concupiscence, I would not have to deal with many temptations. Life would be much easier, and the world would be a better place because people would no longer commit evil things out of selfish interests. However, our first parents still sinned even without concupiscence. The absence of concupiscence does not automatically prevent us from falling into sin. In fact, the moment we sin out of our total freedom and without the influence of concupiscence, we will fall extremely hard, just like Adam and Eve. Perhaps to prevent us from experiencing what our first parents had suffered, God allows concupiscence to remain.

Eventually, we still face the mystery, but we believe that even the presence of concupiscence is ultimately for our good.

Rome
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Masa Prapaskah, Adam dan Yesus

Hari Minggu Pertama Masa Prapaskah [A]
26 Februari 2023
Matius 4:1-11

Sekarang kita berada di hari Minggu pertama masa Prapaskah. Bagi sebagian dari kita, masa Prapaskah sudah menjadi sebuah rutinitas tahunan. Kita berpantang makan daging atau hal-hal lain yang membuat kita nyaman dan berpuasa setidaknya dua kali dalam setahun (Rabu Abu dan Jumat Agung). Kita juga diminta untuk menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdoa dan didorong untuk beramal lebih banyak. Warna dan suasana liturgi juga berubah di gereja-gereja kita. Dan di banyak paroki, pengakuan dosa juga tersedia. Beberapa dari kita mungkin tidak benar-benar mengerti mengapa kita harus melakukan hal-hal ini, tetapi karena kita adalah orang Katolik dan orang lain mempraktikkannya, kita juga melakukannya. Beberapa dari kita mungkin menyadari alasan di balik berbagai olah rohani ini karena kita mendengarkan katekese yang diberikan oleh para imam atau katekis awam, atau penjelasan yang diberikan di media sosial. Sebagai seorang imam, saya berusaha untuk mengambil setiap kesempatan untuk mendidik umat beriman pada masa yang indah ini (lihat juga katekese dan refleksi saya di tahun-tahun sebelumnya). Namun, kita masih bertanya-tanya mengapa kita harus terus melakukan hal-hal ini setiap tahun?

Jawabannya terletak pada kodrat manusia kita yang terluka. Berbicara tentang kodrat manusia, kita harus kembali kepada orang tua pertama kita, Adam dan Hawa. Dalam bacaan pertama Minggu ini, kita menemukan bagaimana Adam diciptakan dari debu tanah dan menerima nafas kehidupan. Tidak hanya itu, Tuhan menempatkan mereka di taman yang dekat dengan Allah sendiri. Hal ini menjadi simbol bahwa mereka hidup dalam keselarasan dengan Tuhan, alam semesta dan diri mereka sendiri. Ini adalah kondisi rahmat yang asli (original state of grace). Namun, terlepas dari semua hak istimewa itu, Adam dan Hawa, yang berasal dari tanah, berani menentang Tuhan semesta alam. Sungguh, dosa mereka layak berbuah kematian. Namun, Tuhan berbelas kasih, mencegah kematian, dan memberikan kesempatan kedua bagi pria dan wanita. Sayangnya, dosa telah melukai jiwa mereka dan menghancurkan persahabatan mereka dengan Tuhan. Kodrat yang terluka sekarang menjadi lemah terhadap godaan dan cenderung melakukan lebih banyak dosa.

Sayangnya, Adam bukan hanya seorang individu yang terisolasi. Ia merupakan kepala umat manusia. Oleh karena itu, Santo Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Roma (bacaan kedua Minggu ini), mengungkapkan kebenaran bahwa dampak dari dosa Adam mengalir ke seluruh umat manusia. “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa (Rm. 5:12).” Ketika kita dikandung, kita menerima kodrat manusia yang terluka. Kita berada dalam kondisi yang jauh dari Allah. Tradisi Katolik kita menyebutnya sebagai ‘dosa asal’.

Namun, kita tidak perlu putus asa. Juga dalam surat yang sama, St. Paulus memberitakan kabar baik bahwa Yesus telah menyelamatkan kita dan membawa kita kembali ke dalam persahabatan dengan Allah, yaitu kondisi rahmat (state of grace). “Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi rahmat Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (Rm. 5:15).”

Lalu, pertanyaannya yang tetap ada: “Jika kita sudah ditebus, mengapa kita masih harus melakukan olah rohani yang intensif di masa Prapaskah? Ya, kita telah ditebus, tetapi jiwa kita masih memiliki beberapa kelemahan karena dampak dari dosa asal. Kita masih memiliki kecenderungan dan ketidakteraturan untuk melakukan dosa (para theolog menyebutnya sebagai ‘concupiscentia’ – KGK 405). Oleh karena itu, untuk menguatkan otot-otot rohani kita melawan kedagingan, dunia, dan iblis, dan semakin hidup di dalam rahmat, Yesus memberi kita tiga kiat berikut ini: berpuasa, berdoa secara intensif, dan beramal. (Untuk mengetahui mengapa ketiga hal ini harus dilakukan, lihatlah renungan saya tahun lalu).

Namun, ada satu pertanyaan yang tersisa: “Mengapa Allah mengizinkan ‘concupiscentia’ untuk tetap ada di dalam jiwa kita meskipun ada kita sudah ditebus?” Nantikan jawabannya Minggu depan!

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Story of the Elder Son

4th Sunday of Lent [C]
March 27, 2022
Luke 15:1-3, 11-32

The parable of the prodigal is one of the most beautiful and heart-warming stories in the entire Bible. It is, in fact, the longest among Jesus’ parables and loaded with exciting details. While a great deal of the parable is given to the younger son, the story ends with the elder son. Many of us identify with the younger son. We used to live in the life of sin, far from God, and even become the enemies of God. Yet, we felt empty, and our lives go in the wrong direction. Then, going back to our senses, we repent and go back to the Lord. However, not a few identify themselves with the elder son.

Personally, I tend to be sympathetic to the elder son, perhaps because I am also the eldest in the family. I feel that the elder son’s anger is nothing but natural. I will be angry if my younger brothers ask for his inheritance and leave the family behind for a life of dissipation. I will be even more enraged when he suddenly comes back, and my parents will accept him as if nothing happens. At least, he must be disciplined and make reparations for what he has done. It is just and right!

Yet, after I go deeper into the story, I realize some critical details. The elder son is angry, and, in his wrath, he refuses to enter the home. Without realizing it, the elder son does what, the younger son did: leaving his house. Then, He says, “this son of yours!” He could have said, “Father, why do you treat my brother like this!” Without realizing it, the elder son does what the younger son did: distancing and disassociating himself from his father. Another interesting fact is that the elder son says, “I have been working like a slave for you.” Without realizing it, the elder son becomes what, the younger son has been: a slave.

Son though he is, he never considers himself as one, but rather a mere slave. We can see how the elder son only views his brother as another runaway slave and his father as an enslaver. A disobedient slave must be punished severely, and the loyal servant must be rewarded. Therefore, he is distraught. His paradigm is violated. He fails to see from his father’s perspective, and thus, he suffers.

From this story, we see a deeper meaning of metanoia or repentance. Metanoia [change of mind] does not simply mean turning from a life of sin to a life with God. It also means having the mind and heart of God. We are invited to think and act, no longer as slaves fearing punishment, but as mature children of God. Unfortunately, some of us are like the lost firstborn, who see ourselves as nothing more than servants, and we build our relationship with God based on fear, not love. We go to church because otherwise, we will go to hell. We serve because otherwise, we will be cursed. And we begin to see our neighbors as servants who have to follow the rules blindly; otherwise, they will be severely punished. Metanoia means no longer living in fear but as children of God living in love and freedom.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The True Glory

5th Sunday of Lent [B]

March 21, 2021

John 12:20-33

Traditionally, the Gospel of John is divided into two major divisions: the Book of Sign [chapter 1-12] and the Book of Glory [Chapter 13-21]. The book of Sign focuses on the public ministry of Jesus and presents the seven signs of Jesus. In John’s Gospel, Sign is a technical term for a miracle. Jesus’ signs begin with changing water into wine in Cana and reaching its culmination in raising Lazarus from the dead. Meanwhile, the book of Glory tells us how Jesus is glorified. The second part starts with Jesus and his disciples in the Upperroom and culminates in His Passion, death, and resurrection.

Today’s Gospel is coming from John chapter 12, and this chapter serves as a transition between the Book of Signs to the Book of Glory. This is also why the Church selected this reading: to prepare us to enter the Passion Sunday or the Holy Week.

One powerful lesson that we can see in today’s Gospel is how Jesus perceived His Passion and death. Undeniably, He would be crucified and die a horrible death. Crucifixion is a monstrous punishment reserved only for heinous criminals or violent rebels against the Romans. Crucifixion is dreadful because its purpose is to prolong the agony of the condemned before they met their death. On the cross, people are treated even lower than the animals. This is the kind of death that Jesus embraced.

Yet, in John’s Gospel, he did not see His crucifixion as a mere human event but divine providence. Jesus calls His crucifixion the glorification of the Son of Man. Jesus’ view does not only reverse the perspective of the cross but radically transform it. His crucifixion is not just something good or positive, but it is the victorious summit of His life. Jesus declared that the cross is the time of a judgment against the devil, the ruler of the world. Jesus also claimed that the cross is when people from all nations gather as one and receive salvation.

Does it mean Jesus simply dismisses His human side and acts ridiculously tough before the suffering of the cross? Jesus also recognized and admitted His human emotions. We know that Jesus manly faces the horror of His death in the garden of Gethsemane, yet when Jesus was firm to do the Father’s will and to love until the end.

From here, we can learn a profound lesson from Jesus. In following Christ, we might face trials and hardship in life, yet trusting in God’s providence, we can embrace them as our moment of glorification. Trusting in God’s providence is not running from the harsh realities of life, but in fact, it presupposes that we embrace all our humanity. It is not running but resolutely accepting it.

We can always see the lives of our saints. St. Agatha could easily escape death, but she refused to deny Christ and braved the horrifying tortures and death. Her torturers cut her breasts, and she was burned alive. In the eyes of the world, her death was senseless, but for them, it is sharing in the suffering of Christ, and thus, sharing in His Glory.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photocredit: marcio-chagas

Kemuliaan Sejati

Minggu ke-5 Prapaskah [B]
21 Maret 2021
Yohanes 12: 20-33

njil Yohanes biasanya dibagi menjadi dua divisi utama: Buku Tanda-Tanda [bab 1-12] dan Buku Kemuliaan [Bab 13-21]. Buku Tanda-Tanda berfokus pada pelayanan publik Yesus dan juga tujuh ‘tanda’ Yesus. Dalam Injil Yohanes, ‘Tanda’ adalah istilah teknis untuk mukjizat. Tanda-tanda Yesus ini dimulai dengan mengubah air menjadi anggur di Kana dan mencapai puncaknya dengan membangkitkan Lazarus dari kematian. Sedangkan Buku Kemuliaan menjelaskan kepada kita bagaimana Yesus ‘dimuliakan’. Buku kedua dimulai dengan Yesus dan murid-murid-Nya di Ruang Atas dan berpuncak pada sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya.

Injil hari ini diambil dari Yohanes bab 12, dan bab ini berfungsi sebagai transisi antara Buku Tanda-Tanda ke Buku Kemuliaan. Ini juga mengapa Gereja memilih bacaan ini: untuk mempersiapkan kita memasuki Minggu Palma Sengsara Yesus dan Pekan Suci.

Satu pelajaran berharga yang dapat kita lihat dalam Injil hari ini adalah bagaimana Yesus memandang sengsara dan kematian-Nya. Tidak dapat disangkal, Yesus akan disalibkan dan wafat dengan cara yang mengerikan. Penyaliban adalah hukuman mengerikan yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas berat dan pemberontak terhadap bangsa Romawi. Penyaliban ini mengerikan karena tujuannya adalah untuk memperpanjang penderitaan yang terhukum sebelum mereka menemui ajalnya. Di kayu salib, orang diperlakukan lebih rendah daripada hewan. Ini adalah kematian mengerikan yang Yesus akan rangkul.

Namun, dalam Injil Yohanes, Yesus tidak sekedar melihat penyaliban-Nya sebagai peristiwa manusia belaka tetapi sebagai penyelenggaraan ilahi. Yesus menyebut penyaliban-Nya sebagai kemuliaan Anak Manusia. Pandangan Yesus ini tidak hanya membalikkan perspektif salib tetapi secara radikal mentransformasinya. Penyaliban-Nya, bagi Yesus bukan hanya sesuatu yang baik atau positif, tetapi itu adalah puncak kemenangan dari hidup-Nya. Yesus menyatakan bahwa salib adalah waktu penghakiman terhadap iblis, penguasa dunia [Yoh 12:31]. Yesus juga mengklaim bahwa salib adalah saat orang-orang dari segala bangsa berkumpul menjadi satu dan menerima keselamatan [Yoh 12:32].

Apakah ini berarti Yesus mengabaikan sisi kemanusiaan-Nya dan menekan emosi-Nya sebelum menderita di kayu salib? Tentu tidak! Yesus juga mengenali dan menghidupi emosi manusiawi-Nya. Kita tahu bahwa Yesus menghadapi kengerian kematian-Nya di dalam sakratul maut di taman Getsemani, namun walaupun penuh pergulatan, Yesus tetap teguh untuk melakukan kehendak Bapa dan untuk mengasihi sampai akhir.

Dari sini, kita dapat mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari Yesus. Dalam mengikuti Kristus, kita mungkin menghadapi pencobaan dan kesulitan dalam hidup, namun kita diajak untuk percaya pada penyelenggaraan Tuhan, dan kita dapat merangkul penderitaan kita sebagai momen kemuliaan kita. Percaya pada penyelenggaraan Tuhan bukan berarti lari dari kenyataan hidup, tetapi sebaliknya, hal ini mengandaikan bahwa kita merangkul seluruh kemanusiaan kita.

Kita selalu bisa belajar dari kehidupan para kudus kita. Sebagai contoh, St Agatha dapat dengan mudah lolos dari kematian, tetapi dia menolak untuk menyangkal Kristus dan menantang siksaan dan kematian yang mengerikan. Para penyiksanya memotong payudaranya, dan dia dibakar hidup-hidup. Di mata dunia, kematiannya tidak masuk akal, tetapi bagi mereka, yang berbagi dalam penderitaan Kristus, dan dengan demikian, berbagi dalam Kemuliaan-Nya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photocredit: manuel-asturias

Ular, Manna dan Ekaristi

Minggu Keempat Prapaskah [B]

14 Maret 2021

Yohanes 3: 14-21

Injil hari ini memberi kita salah satu perkataan Yesus yang paling sulit dimengerti, “sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,  demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,  supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Untuk memahami perkataan ini, kita perlu kembali ke Perjanjian Lama, terutama Kitab Bilangan.

Dalam kitab Bilangan bab 21, kita akan menemukan kisah bani Israel di padang gurun yang mengeluh tentang Manna yang diberikan Tuhan. Mereka bahkan menyebut Manna dari Tuhan tersebut sebagai makanan tidak ada gunanya atau bahkan tidak berharga. Tentunya, tindakan mereka ini membawa hukuman yang mengerikan. Ular tedung menyerang dan membunuh banyak orang Israel. Sadar bahwa mereka akan binasa, orang Israel memohon belas kasihan. Tuhan memerintahkan Musa untuk membuat ular perunggu dan memasangnya di tiang untuk dilihat orang. Mereka yang telah digigit dan melihat ular perunggu itupun pulih. Dengan latar belakang cerita ini, Yesus menampilkan diri-Nya seperti ular perunggu. Dia akan ditinggikan di kayu salib sehingga mereka yang melihat Dia dan percaya akan menerima hidup yang kekal.

Namun, ada hal yang menarik yang kita tidak boleh lewatkan! Jika kita memperhatikan, alasan dari mengapa orang Israel kena hukuman adalah bahwa orang Israel gagal menghargai roti dari surga dan bahkan menyebutnya tidak berharga. Tentunya, ini adalah tindakan tidak tahu berterima kasih, tetapi lebih dalam, ini merupakan tindakan penodaan terhadap roti surgawi itu sendiri. Inilah mengapa hukumannya sangat berat. Yang menarik adalah Yesus menunjukkan bahwa manna di gurun adalah tanda dari roti Ekaristi yang akan Dia berikan [lihat Yoh 6: 48-50]. Jadi, kejadian di Bilangan 21 mengajarkan kita pelajaran pahit apa yang akan terjadi jika kita tidak menghargai anugerah Tuhan, dan terutama anugerah yang paling berharga yakni, Tubuh Kristus dalam Ekaristi.

Yang bertanggung jawab atas kematian orang Israel adalah ular tedung.  Jika kita perhatikan, kata ibrani yang digunakan adalah ‘saraph.’ Kata ‘saraph’ atau ‘yang terbakar’ mengingatkan kita pada seraphim, salah satu malaikat di surga. Selain itu, cerita tentang ular yang menyerang umat manusia mengingatkan kita pada serangan pertama Setan terhadap Adam dan Hawa. Ular ini bukanlah ular biasa seperti ular cobra atau ular sanca. Serangan terhadap bangsa Israel di padang gurun bukan hanya fenomena alami, melainkan supranatural. Iblis sendiri yang datang membawa malapetaka bagi orang-orang Israel.

Jika sekarang kita menghubungkan hal-hal ini, kita akan melihat hubungan antara manna, ular ‘saraph’ dan ular perunggu. Ketika orang Israel menodai manna, ular seraph terlepas dan memulai serangan mereka. Manna tidak hanya memberi makan orang Israel, tetapi juga melindungi mereka dari bahaya rohani. Sekarang, jika manna di gurun adalah tanda dari Ekaristi, ular adalah iblis, dan ular perunggu adalah Yesus yang disalibkan, kita bisa melangkah lebih jauh. Setiap kali kita menodai Ekaristi, kita tidak hanya menghina Tuhan, tetapi juga membuka gerbang neraka dan membiarkan kekuatan jahat menguasai kita dan komunitas kita. Penodaan ini hanya dapat diperbaiki dengan pertobatan sejati dan salib Yesus.

Jika kita melihat diri kita sendiri, keluarga kita dan komunitas kita berantakan dan menjadi sasaran empuk iblis, akarnya adalah kita gagal menghormati Ekaristi. Seperti Manna yang melindungi orang Israel dari ular, dan memberi makan mereka sepanjang perjalanan mereka, ekaristi adalah benteng pertahanan kita melawan serangan setan, dan makanan rohani kita yang memelihara dan memperkuat kita dalam perjalanan duniawi ini menuju tanah air surgawi.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Forty Days in the Wilderness

First Sunday of Lent [B]

February 21, 2021

Mark 1:12-15

Why did Jesus have to stay in the wilderness for 40 days? The answer is not difficult. He was reperforming what the Israelites did when they were liberated from Egypt. The Israelites stayed for 40 years in the wilderness before they entered the promised land. Yet, there is one more thing! Mark gives us a small, however important detail: in the wilderness, Jesus was staying with the beasts. Why so? If there is one man closely connected to the beasts in the scriptures, he is no other than Adam. Jesus is the new Israel who endured the harsh conditions of the desert and the new Adam who faced the onslaught of the devil.

Jesus entered the wilderness for forty days, and He was tested there by the harsh conditions of the Judean desert. Not only facing the barrenness of the desert, but Jesus was also confronting the devil himself. From here alone, we can draw a strong connection between the Israelites in the wilderness and Jesus, as well as Adam and Jesus. Like the old Israel who struggled with their own ego, Jesus was also enduring human weakness. Like Adam was facing the tempter, the devil tempted Jesus. However, there are significant differences.

While the Israelites murmured and complained, Jesus faithfully fasted and prayed. While the Israelites were grumbling for the food and Adam ate the forbidden fruit, Jesus rejected Satan’s temptation to change stone to bread. While the Israelites were losing faith and worshipping the demon in the form of the golden calf, and Adam wanted to be like God, Jesus refused to bow down to the devil despite all the worldly glory it offered. While the Israelites losing hope in the promised land and Adam blamed the woman, Jesus remained steadfast and refused to test God. Jesus is the new Israel and the new Adam. While the old Israel faltered and Adam succumbed to the trials and temptations, Jesus emerged victorious. Jesus corrected and perfected ancient Israel and old Adam.

We are the body of Christ, and we are part of the new Israel. As Jesus enters the wilderness, so we are going to our spiritual battle. However, we can only become triumphant when we are holding on to God and participating in Christ. The devil is much stronger than us, and without God, we march for sure defeat.

How are we going to win against this spiritual battle? Jesus gives us the answer: fasting-abstinence, almsgiving, and prayer. Fasting makes us hungry, yet it makes us realize that not all our bodily desires need to be fulfilled immediately. Almsgiving may hurt our pockets, but it opens us to the truth that we live meaningfully by giving, not hoarding things. Prayer may be a waste of time, but it offers us the most fundamental reality that we are nothing without God. We are part of the new Adam and the new Israel, and only in Him, we achieve our real victory.

 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo credit: nathan-mcbride