Ludah dan Mata

Hari Minggu Prapaskah Keempat [A]

22 Maret 2020

Yohanes 9: 1-41

blind manDalam menyembuhkan orang buta, Yesus melakukan sesuatu yang agak tidak biasa: Ia meludah ke tanah, membuat tanah liat dengan air liurnya, dan mengolesi tanah liat itu di mata orang buta tersebut. Saat ini kita sedang melawan Covid-19, jenis virus korona yang menyebar dengan cepat, kita dididik bahwa salah satu media kontaminasi adalah tetesan manusia seperti air yang keluar dari mulut kita. Ketika air yang sudah terkontaminasi dengan virus bersentuhan dengan mulut, hidung dan mata, itu menjadi titik awal berjangkitnya si virus di tubuh kita.

Namun, hari in, Yesus menggunakan media yang dipakai virus ini untuk menyebar dan mengubahnya menjadi jalan penyembuhan baik kebutaan fisik maupun spiritual. Memang, tindakan pembalikan semacam ini adalah pola favorit Yesus. St. Yohanes Krisostomus, uskup Konstantinopel, dalam homilinya, menyebutkan bahwa tiga cara yang digunakan oleh iblis untuk menghancurkan umat manusia adalah sarana yang sama yang digunakan oleh Yesus untuk menyelamatkan umat manusia. Tiga cara iblis adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, wanita yaitu Hawa yang tidak taat, dan kematian Adam yang membawa serta semua keturunannya. Yesus kemudian mengubah tiga sarana ini menjadi sarana keselamatan-Nya: untuk pohon pengetahuan, ada pohon salib, untuk Hawa, ada Maria yang setia, dan untuk kematian Adam, ada kematian Yesus yang menyelamatkan kita semua. Iblis mengira dia bisa mengakali Tuhan, tetapi sesungguhnya, Tuhanlah yang memiliki kemenangan akhir.

Dalam Kejadian 2, ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia bertindak seperti seorang seniman atau pematung. Dalam tradisi Yahudi kuno, Tuhan mengambil tanah, dan kemudian agar bisa dibentuk, Dia menggunakan ludah-Nya sendiri untuk membuat tanah liat. Tindakan Yesus dalam menyembuhkan orang buta membawa kita kembali ke kisah penciptaan ini. Yesus tidak hanya menyembuhkan, tetapi Dia menciptakan kembali manusia itu seturut citra-Nya sendiri. Bahkan sarana keburukan dan penyakit dapat diubah menjadi sarana keindahan dan keselamatan.

Virus covid-19 telah menghancurkan banyak aspek kehidupan manusia. Virus ini menyebarkan ketakutan dan kepanikan. Virus ini memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan drastis, termasuk “lockdown” kota-kota dan menghentikan kegiatan perekonomian. Virus ini memisahkan orang dari sahabat dan orang yang mereka kasihi. Orang beriman diwajibkan untuk menjauhi rumah Tuhan. Ini adalah waktu yang menyakitkan dan membingungkan bagi banyak dari kita. Bahkan beberapa dari kita akan menangis, “Eli, Eli, Lama sabacthani?”

Namun, kita tidak boleh lupa bahwa Yesus selalu dapat menggunakan sarana-sarana kematian dan kehancuran yang sama untuk menjadi sara keselamatan-Nya. Kita meminta Tuhan untuk membuka mata iman kita untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja melalui masa krisis ini, dan saat mata kita terbuka, kita bisa melihat betapa banyaknya kebaikan ditengah-tengah kita.

Kita berterima kasih atas  berkat Tuhan yang menjelma sebagai berbagai praktisi medis kita yang mempertaruhkan nyawanya untuk merawat mereka yang sakit; untuk pejabat pemerintah kita yang bekerja tanpa kenal lelah untuk mencegah penyebaran virus; untuk para sukarelawan yang menyumbangkan sumber daya mereka sendiri untuk membantu memerangi penyakit ini; untuk para imam dan pelayan Gereja yang melayani kebutuhan rohani umat meskipun ada banyak keterbatasan. Doa saya juga tertuju bagi seorang imam Italia yang membuat pengorbanan terakhir saat dia meminta untuk tidak dirawat sehingga mesin pernapasan yang terbatas dapat digunakan oleh yang lebih muda dan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus, Mempelai Pria Kita

Hari Minggu Prapaskah Ketiga [A]

15 Maret 2020

Yohanes 4: 5-42

jesus n samaritan womanKita melihat Yesus sebagai beberapa figur. Beberapa orang menganggap Dia sebagai guru, beberapa memanggilnya sebagai sahabat, dan beberapa yang lain hanya akan menyatakan Dia sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, sedikit yang kita ketahui bahwa Injil memperkenalkan Dia sebagai mempelai laki-laki.

Gagasan bahwa Yesus sebagai mempelai kita agak canggung dan sulit diterima. Seseorang mungkin berpikir, “Jika saya single, tidak apa-apa menikah dengan Yesus. Tetapi jika saya sudah menikah, apakah itu berarti Yesus akan menjadi suami kedua saya, atau haruskah saya menceraikan suami pertama saya?” Kekhawatiran semacam ini tentu saja valid, namun ini berakar pada pemahaman manusiawi dan bahkan seksual kita tentang pernikahan. Lalu, mempelai laki-laki macam apa Yesus ini?

Untuk menjawab ini, kita perlu memahami beberapa simbol dalam Injil hari ini. Yesus pergi ke sebuah sumur dan Yohanes sang penginjil menegaskan bahwa itu bukan hanya sumur biasa, tetapi sumur Yakub. Seorang wanita Samaria kemudian datang untuk mengambil air, dan bertemu Yesus di sana. Bagi kita, itu hanya kisah biasa tentang pertemuan Yesus dengan seorang wanita, seperti ketika Yesus mengunjungi Maria dan Marta, atau Yesus membantu seorang wanita yang terjebak dalam perzinaan. Namun, ketika kita mengetahui Alkitab kita, pertemuan itu jauh dari biasa. Adegan di sumur adalah saat seorang pria menemukan pengantin wanitanya. Dalam Kejadian 29, Yakub menemukan Rahel di dekat sumur ketika dia akan memberi minum domba. Dalam Kel 3, setelah Musa melarikan diri dari Mesir, ia pergi ke tanah Midian, dan di dekat sumur, ia membela para wanita yang diganggu oleh para gembala. Salah satu dari wanita ini akhirnya akan menjadi istrinya.

Namun, Injil dengan jelas menunjukkan bahwa Yesus tidak mencari istri atau menikahi wanita Samaria itu. Yesus juga tetap sendiri selama seluruh hidupnya, tetapi sekali lagi, kita tidak berbicara di tingkat manusia dan literal. Jika Yesus adalah Mempelai Pria yang ilahi, wanita Samaria juga melambangkan mempelai wanita Kristus yang sejati. Tidak heran, para Bapak Gereja, akan mengidentifikasi wanita Samaria sebagai simbol dari Gereja. Seperti wanita Samaria yang bukan Yahudi, Gereja juga datang dari banyak bangsa. Seperti wanita Samaria yang bergumul dengan kehidupan pernikahannya, Gereja juga bergumul dengan banyak dosa dan kelemahan. Seperti wanita Samaria yang sedang menunggu Mesias, Gereja juga membutuhkan seorang Juru Selamat.

Sungguh aneh melihat Yesus sebagai pengantin laki-laki kita terutama ketika kita terbiasa dalam pemahaman yang terlalu manusiawi. Namun, dalam tingkat spiritual, untuk memiliki Yesus sebagai mempelai laki-laki kita berarti kita memiliki seseorang yang sangat mengasihi kita, seseorang yang akan melindungi dan merawat kita, seseorang yang akan menerima ketidaksempurnaan kita dan seseorang yang akan rela menyerahkan hidupnya demi kita.

Virus Covid-19 hanya dalam waktu tiga bulan telah mendatangkan malapetaka di dunia. Apa yang mengerikan dengan virus ini bukan hanya sangat menular dan belum memiliki obat yang pasti, tetapi juga memaksa manusia untuk menunjukkan naluri bertahan hidup dasarnya: ketakutan dan bahkan keegoisan. Namun, ini adalah juga kesempatan terbaik untuk bertumbuh dalam iman. Iman kita tidak kosong karena kita berpegang pada seseorang, dan Dia adalah Yesus, Mempelai Pria kita yang akan memberikan hidup-Nya bagi kita.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Glory

Second Sunday of Lent [A]

March 8, 2020

Matthew 17:1-9

transfiguration 2The Church has selected the story of Transfiguration as the reading of the second Sunday of Lent.  We may ask how this kind of powerful story may fit into the entire season of Lent. The key is that the Transfiguration is fundamentally linked to the Cross of Jesus. In Luke’s version of the transfiguration, Jesus was talking to Moses and Elijah about His “exodus.” This reminds the ancient Israelites who exited Egypt, walked through the desert, and entered the Promised Land. Yet, the real end of the exodus is the city of Jerusalem, and eventually the holy Temple where God dwelled among His people. Just like the ancient Israelites, Jesus’ exodus has to end in Jerusalem.

The glorious moment of transfiguration is not intended to last long. Jesus has to go down and walk again toward Jerusalem. However, the disciples got it wrong when Peter offered to put a tent and to stay in the wonderful moment for good. Jesus reminded them that they need to go down. The disciples cannot stay there, and they must continue their journey.

There are moments in our lives that we believe that we have seen and reached the glory of God. We feel so blessed when we pray before the Blessed Sacrament. We experience peace during our retreat and meditation. We are inspired after we listen to the insightful preaching. We are re-energized by songs and praises. These things are good, but they are never intended to be the end of the journey. We must go down together with Jesus, and to carry our daily crosses. Jesus understands that there is no real love without suffering, no true glory without pain, and no salvation without the cross.

I am currently in the Holy Land, and I was walking in the same way Lord Jesus has set His feet. I was truly blessed that God allowed me to be on this Promised Land just months after my ordination. The joy is overwhelming. Israel is truly a land flowing with milk and honey, a truly beautiful land. I am studying the Bible for years, but only now that I truly see and touch these biblical places. My faith becomes truly alive. The more I walk through the land and places, the more I want to stay and learn. I have seen the glory of the Lord, and I want to pitch my tent. However, I cannot wait too long, and I need to go back because my mission is not [yet] at this Promised Land.

Last March 4, 2020, the house for the elderly and disabled run by the Missionaries of Charity in Aden, Yemen, was attacked by the terrorists. Four sisters were killed during the ambush. Their works for the elderly in one of the poorest countries is in itself a heroic act, but their true glory lies when they gave their lives totally for God and the people they loved. Every morning, the sisters always prayed together in the community, and this prayer [attributed to St. Ignatius of Loyola] have inspired them through the last moment of their lives:

“Lord, teach me to be generous. Teach me to serve you as you deserve; to give and not to count the cost, to fight and not to heed the wounds, to toil and not to seek for rest, to labor and to ask for reward, save that of knowing that I do Your holy will.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan Sejati

Minggu Kedua Prapaskah [A]

8 Maret 2020

Matius 17: 1-9

transfiguration 3Gereja telah memilih kisah Transfigurasi sebagai Injil Minggu Prapaskah kedua. Kita mungkin bertanya bagaimana kisah kemuliaan semacam ini dapat masuk ke dalam seluruh konteks Prapaskah. Kuncinya adalah bahwa Transfigurasi secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi transfigurasi dari Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.

Momen mulia transfigurasi tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Yesus harus turun dan berjalan lagi menuju Yerusalem. Namun, para murid salah kaprah ketika Petrus menawarkan untuk memasang tenda dan tetap tinggal di gunung itu. Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka harus turun. Para murid tidak dapat tinggal di sana, dan mereka harus melanjutkan perjalanan mereka bersama Yesus di Yerusalem.

Ada saat-saat dalam hidup kita bahwa kita percaya bahwa kita telah melihat dan mencapai kemuliaan Allah. Kita merasa sangat diberkati ketika kita berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita mengalami kedamaian selama retret dan meditasi kita. Kita terinspirasi setelah kita mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Kita diberi energi kembali oleh lagu dan pujian. Hal-hal ini baik, tetapi mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi akhir dari perjalanan. Kita harus turun bersama dengan Yesus, dan memikul salib kita sehari-hari. Yesus mengerti bahwa tidak ada kasih sejati tanpa penderitaan, tidak ada kemuliaan sejati tanpa rasa sakit, dan tidak ada keselamatan tanpa salib.

Saat ini saya berada di Tanah Suci, dan saya berjalan di tempat yang sama seperti Tuhan Yesus telah menginjakkan kaki-Nya. Saya benar-benar diberkati bahwa Allah memberi kesempatan untuk berada di Tanah Perjanjian ini hanya beberapa bulan setelah tahbisan saya. Sebuah sukacita luar biasa. Israel benar-benar tanah yang penuh dengan susu dan madu, tanah yang benar-benar indah. Saya belajar Alkitab selama bertahun-tahun, tetapi baru sekarang, saya benar-benar melihat dan menyentuh tempat-tempat alkitabiah ini. Iman saya menjadi benar-benar hidup. Semakin saya berjalan, semakin saya ingin tinggal dan belajar. Saya telah melihat kemuliaan Tuhan, dan saya ingin mendirikan kemah saya. Namun, saya tidak bisa tinggal terlalu lama, dan saya harus kembali karena misi saya bukan [belum] di Tanah Perjanjian ini.

4 Maret 2020 lalu, rumah bagi orang tua dan orang cacat dijalankan oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, diserang oleh para teroris. Empat suster terbunuh dalam serangan itu. Pekerjaan mereka untuk merawat orang tua di salah satu negara termiskin itu sendiri adalah tindakan heroik, tetapi kemuliaan sejati mereka terletak ketika mereka memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. Setiap pagi, para suster selalu berdoa bersama di komunitas, dan doa ini [dipercaya berasal dari St Ignatius dari Loyola] telah menginspirasi mereka melalui saat-saat terakhir kehidupan mereka:

“Tuhan, ajari aku untuk bermurah hati. Ajari aku untuk melayani-Mu sepantasnya; untuk memberi dan tidak menghitung imbalan, untuk berjuang dan tidak mengindahkan luka, bekerja keras dan tidak mencari istirahat, untuk bekerja dan tidak meminta imbalan, kecuali mengetahui bahwa aku melakukan kehendak suci-Mu. ”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Temptations

First Sunday of Lent

February 26, 2020

Matthew 4:1-11

Jesus is tempted - Matthew 4:1-11

The first Sunday of Lent begins the story of Jesus in the desert, fasting and being tempted by the devil. St. Matthew gives us more details in the story temptations, and from Matthew, we discover the threefold temptations of Christ. Why did Satan tempt Jesus? Why three temptations?

The temptation of Jesus took place after the baptism of Jesus and right before His public ministry of Jesus. His temptation brings us back to the first temptation in the garden of Eden. As Satan engineered the fall of humanity in deceiving the first Adam, the same evil agent executed the same assault to Jesus, the new Adam.

Why three? The ancient Jewish rabbis believe that the serpent who represented the Devil tempted Adam and Eve with three things. “..when the woman saw that the tree was good for food, and that it was a delight to the eyes, and that the tree was to be desired to make one wise [Gen 3:6].” Firstly, the devil made the fruit as something good to eat. Secondly, the devil made Eve perceive that the fruit was a sight to behold. Lastly, the devil made Eve believe that the fruit is the source of wisdom. The first temptation is called the sin of the belly since it attacks our weak flesh [gluttony and sexual sins]. The second is the sin of the sight because through the eyes, we see things we do not have, and we desire to possess them [envy, possessiveness, and stealing]. Lastly, but most potent is the sin of pride. This temptation makes people think that they can dethrone God and put themselves as the new gods.

When dealing with Jesus, the devil applied the same technique. The devil offered Jesus to use His power to satisfy His hunger. The devil brought Jesus to see all the beautiful things in the world to possess. And, the devil asks Jesus to demonstrate His power to show His divinity and authority to the people. However, Jesus did not fall into the temptation, and thus, undid the first Adam’s failure.

How did Jesus counter the devil’s attack? Three things: fasting and abstinence, almsgiving, and prayer. Fasting and abstinence have been an ancient practice to moderate one’s desires. While the devil wants us to fall into the sin of the flesh and enjoy the bodily pleasures, fasting and abstinence put in check our passions. While the devil influences us to get more and possess things even at the expense of other people, almsgiving enables us to be generous and feel sufficient with what we have.  While the devil tries to convince us that we can be the master of our lives, prayers remind us that there is God, and we are not Him.

This Lenten season is precisely a time for us to be aware of our human weaknesses and how the devil exploits them. Yet, we are not without hope; Jesus gives us His grace to counter this temptation and three Lenten practices [fast, abstinence, almsgiving and prayer] as our weapons.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Woman and Jesus’ Mercy

5th Sunday of Lent [April 7, 2019] John 8:1-11

adulterous woman 3Adultery is a serious sin according to the Law of Moses. It is a violence against the Basic Law, the Ten Commandments. It is in fact, one of the few crimes that are punishable by death [Lev 20:10]. Why so cruel? It is a grave sin because adultery profanes the holiness of marriage and the gift of sexuality. In the Book of Genesis, God has willed that man and woman through marriage and their sexuality participate in God’s work of creation and caring of creation. Since marriage is a sacred calling, violation to this holy mission is an utmost insult to God who calls man and woman into marriage.

Some Jewish people bring a woman caught in adultery to Jesus. It is a tough dilemma for Jesus who knows well the Law of Moses. If Jesus agrees to stone the woman, He upholds the Law of Moses, but He is going to invalidate His preaching of mercy and forgiveness. If Jesus refuses to condemn the woman, He violates the Law of Moses, condones the evil committed by the woman, and denies the justice of God. Stoning means he is not merciful but refusing to stone means he is not just. “Damned if you do, damned if you don’t”.

Jesus then begins to write on the ground. The Gospel does not specify what Jesus writes, but we may come up with an intelligent guess. In original Greek, to write is “grapho”, but in this episode, the word used is “katagraho”, and this can be translated as “to write against”. Jesus is writing the sins of the people who brought the woman. Jesus says, “Let the one among you who is without sin be the first to throw a stone at her (Jn. 8:7).” After Jesus reveals their sins, they realize that they themselves deserve to be stoned. They go away, leaving Jesus and the woman.

The Law of Moses states that both man and woman caught in adultery shall be punished, but where is the man? Jesus points out that she is merely a pawn used to trick Jesus, and some are ready to sacrifice this woman just to get what they want. Her humanity is disregarded, her identity as a daughter of God is trampled, and she is treated as a mere tool. Manipulating our neighbors, especially the weak and the poor, for our own gain is a graver sin than adultery!

Jesus knows that the woman has committed a serious sin, but she herself is a victim of injustice and more serious sin. Jesus surely hates evil, but He forgives the woman and gives her a second chance because He understands what has happened to her. She has fallen into sin because of her human weakness and temptation, but God is greater than all ugly things that has befallen her, if she just repents and goes back to God.

There was a movie entitled “Malena”. It was the story of a beautiful woman in an Italian rural village during World War II. She received news that her husband died in the war. After this, her father, her only family, also died when the German planes bombed their village. Because of the poverty and desperation to survive, she was forced into prostitution, even to serve the German soldiers. After the loss of German forces, the villagers condemned her not only as a whore but also as a traitor. She was expelled from the village with humiliation. Surprisingly, her husband came back to the village, alive. He learned of what happened to his wife. Instead of condemning his wife, and looking for another wife, he fetched his wife and brought her back to the village. He proudly walked with his wife around the village as if telling everyone, “it is not her fault that she becomes a prostitute. She is still my faithful wife!”

Mercy gives justice is the beauty. With mercy, we see the bigger picture of our own and other people’s failures. Mercy empowers us to be patient with others and ourselves.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahmat Yesus dan Sang Perempuan

Minggu Prapaskah ke-5 [7 April 2019] Yohanes 8: 1-11

adulterous woman 1Perzinahan adalah dosa serius menurut Hukum Musa. Ini adalah pelanggaran terhadap Sepuluh Perintah Allah. Pezinahan adalah satu dari sedikit dosa yang bisa dihukum mati [Im 20:10]. Kenapa begitu kejam? Ini adalah dosa besar karena perzinahan mencemarkan kekudusan pernikahan dan karunia seksualitas. Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menghendaki pria dan wanita melalui pernikahan dan seksualitas mereka berpartisipasi dalam karya penciptaan. Karena pernikahan adalah panggilan suci, pelanggaran terhadap misi suci ini adalah salah satu penghinaan terbesar bagi Allah yang memanggil pria dan wanita ke dalam pernikahan.

Beberapa orang Yahudi membawa seorang wanita yang tertangkap dalam perzinahan kepada Yesus. Ini adalah dilema yang sulit bagi Yesus yang menjalankan dengan baik Hukum Musa. Jika Yesus setuju untuk melempari wanita itu dengan batu, Ia menegakkan Hukum Musa, tetapi Ia akan membatalkan pemberitaan belas kasih dan pengampunan-Nya. Jika Yesus menolak untuk mengutuk wanita itu, Dia melanggar Hukum Musa, mentolerir kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu, dan menyangkal keadilan Allah. Merajam berarti Yesus tidak berbelas kasihan tetapi menolak untuk melempar batu berarti Dia tidak adil. “Bagaikan memakan buah simalakama.”

Yesus kemudian mulai menulis di tanah. Injil tidak menjelaskan secara spesifik apa yang ditulis oleh Yesus, tetapi kita mungkin dapat menebaknya. Dalam bahasa Yunani asli, menulis adalah “grapho”, tetapi dalam episode ini, kata yang digunakan adalah “katagraho”, dan ini dapat diterjemahkan sebagai “menulis tuntutan”. Yesus menulis dosa-dosa orang-orang yang membawa wanita tersebut. Yesus berkata, “Biarlah orang di antara kamu yang tanpa dosa menjadi yang pertama melemparkan batu ke arahnya (Yoh 8: 7).” Setelah Yesus mengungkapkan dosa-dosa mereka, mereka menyadari bahwa mereka sendiri layak dirajam. Mereka pergi, meninggalkan Yesus dan wanita itu.

Hukum Musa menyatakan bahwa pria dan wanita yang tertangkap dalam perzinahan akan dihukum, tetapi di mana sang pria? Kenapa hanya perempuan yang diadili? Yesus menunjukkan bahwa sang perempuan hanyalah pion yang digunakan untuk menjebaka Yesus, dan beberapa orang Yahudi siap untuk mengorbankan wanita ini hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kemanusiaannya diabaikan, identitasnya sebagai putri Allah diinjak-injak, dan ia diperlakukan sebagai alat belaka. Memanipulasi sesama kita, terutama yang lemah dan yang miskin, demi keuntungan kita sendiri adalah dosa yang lebih besar daripada perzinahan!

Yesus tahu bahwa wanita itu telah melakukan dosa serius, tetapi dia sendiri adalah korban ketidakadilan dan dosa yang lebih berat. Yesus tentu membenci kejahatan, tetapi Dia mengampuni wanita itu dan memberinya kesempatan kedua karena Dia mengerti apa yang terjadi padanya. Dia jatuh ke dalam dosa karena kelemahan manusia dan godaannya, tetapi Tuhan jauh lebih besar dari segala hal buruk yang menimpannya, jikalah dia bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Ada film berjudul “Malena”. Itu adalah kisah tentang seorang wanita cantik di pedesaan Italia selama Perang Dunia II. Dia menerima kabar bahwa suaminya meninggal dalam perang. Setelah ini, ayahnya, satu-satunya keluarganya, juga meninggal ketika pesawat Jerman membom desa mereka. Karena kemiskinan dan keputusasaan untuk bertahan hidup, dia terpaksa menjadi pelacur, bahkan untuk melayani tentara Jerman. Setelah kekelahan pasukan Jerman, penduduk desa mengutuknya, tidak hanya sebagai pelacur tetapi juga sebagai pengkhianat. Dia diusir dari desa dengan penghinaan. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi, ternyatanya, suaminya tidak meninggal, dan kembali ke desa. Setelah dia mengetahui apa yang terjadi pada istrinya, alih-alih mengutuk istrinya, dan mencari wanita, ia menjemput istrinya dan membawanya kembali ke desa. Dia dengan bangga berjalan bersama istrinya di sekitar desa seolah-olah memberi tahu semua orang, “bukan salahnya kalau dia menjadi pelacur. Dia masih istriku yang setia!”

Kerahiman memberi keadilan yang tegas keindahannya. Dengan belas kasihan, kita melihat gambaran yang lebih besar dari kegagalan kita sendiri dan orang lain. Rahmat memberdayakan kita untuk bersabar dengan orang lain dan diri kita sendiri.

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A Father Who Never Abandons His Son

Fourth Sunday of Lent [March 31, 2019] Luke 15:1-3, 11-32

prodigal fatherThe Parable of the Prodigal Son is one of the most moving stories of Jesus and has been regarded as the all-time favorite. Why? I guess one of the reasons is the story of the Prodigal Son is also our story.

Let us look at some details of the parable especially the father and the younger son. The son demands his inheritance while his father is still alive and well. That’s a no-no! It simply means the son wishes his father’s death, and wills that he is no longer part of the family [see Sir 33:20-24]. The offended father has the authority to discipline the ungrateful son, but he does not! Because of his tremendous love for the son, he allows the son to get what he wants. Like the son, we often offend the Lord, wishing to be away from Him. We choose “the inheritance”, the good things God created like wealth, power, and pleasure above and over Him. We keep abusing His love and kindness, knowing that He is a Good Father.

However, the younger son’s action has a terrible consequence. The farther he is away from his father, the more pitiful his life becomes. The inheritance without the true owner is nothing but a passing shadow. The Jewish young man loses everything, and even becomes the caretaker of pigs, the very animal Jews hate! He becomes so low to the point of eating what the pigs eat. Like the younger son, without God, we become miserable. Yes, we may become richer, more powerful and famous, but we have lost our souls. We never become truly happy because these pleasurable things without God are mere addiction.

The son comes to his sense when he remembers his father and his life with him. Even the father is far away, it does not mean he is idle. He is drawing his lost son through good memories they share. No matter far we are from God, He is constantly pulling us back to Him through His mysterious ways. Yet, it remains our choice to heed the voice of our conscience but ignore it and plunge ourselves further into sin.

The parable also speaks about the father who is patiently waiting, looking forward to the day that his son returns home. The moment he sees his son from distance, without a second thought, he runs toward his son and embraces him and kisses him. The son never thinks that he deserves to be his son once more, and just wants to be treated like a servant. But, mercy precisely is to receive something we do not deserve. The father receives back his young man as his child.

Allow me to close this simple reflection with a story. In 1988, a terrible earthquake hit Armenia. In just four minutes, buildings crumbled, and thousands died. A man immediately ran to a school where his son studied. He had promised to his son that he would be there to fetch him. He saw that the school was now piles of rubbles. He rushed to the site where the class used to be. He started digging barehandedly. Some people tried to help him but stopped afterward. Some people discouraged him, saying, “It is useless. They are dead!” He refused to give up, and continue digging for hours. Then after more than 30 hours of searching, he heard a small voice from the rubble. He shouted, “Arman!” and he heard a response, “Father!” His boy was still alive, and together with him were other pupils. That day, the man had saved 14 children who got trapped. Arman told his friends, “I told you, my father will come no matter what!”

The parable of the Prodigal Son is so beautiful because it does not only reflect who we are but also reveals who our God is. He is a merciful Father who refuses to give up hope on us, however desperate we have become.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ayah yang Tak Pernah Meninggalkan Putranya

Minggu keempat Prapaskah [31 Maret 2019] Lukas 15: 1-3, 11-32

prodigal son 3Perumpamaan tentang Anak yang Hilang adalah salah satu kisah Yesus yang paling mengharukan dan telah dianggap sebagai yang paling disukai. Mengapa? Saya kira salah satu alasannya adalah kisah Anak yang Hilang adalah kisah hidup kita juga.

Marilah kita melihat beberapa rincian perumpamaan terutama ayah dan putra bungsunya. Sang putra menuntut warisannya saat ayahnya masih hidup dan sehat. Itu hanya berarti sang putra berharap ayahnya mati! Ia juga menghendaki bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga [lihat Sir 33: 20-24]. Sang ayah memiliki wewenang untuk mendisiplinkan anak yang tidak tahu berterima kasih, tetapi ia tidak melakukannya! Karena cintanya yang luar biasa pada putranya, ia membiarkan putranya mendapatkan apa yang diinginkannya. Seperti sang putra, kita sering berdosa terhadap Tuhan, ingin menjauh diri dari-Nya. Kita memilih “warisan”, hal-hal baik yang Allah ciptakan seperti kekayaan, kuasa, dan kesenangan dari pada Dia. Kita terus menyalahgunakan kasih dan kebaikan-Nya, mengetahui bahwa Dia adalah Bapa yang Baik.

Namun, tindakan putra bungsu memiliki konsekuensi yang mengerikan. Semakin jauh dia dari ayahnya, semakin menyedihkan hidupnya. Warisan tanpa pemilik sejati hanyalah bayangan yang semu. Sang pemuda Yahudi tersebut kehilangan segalanya, dan bahkan menjadi penjaga babi, hewan yang sangat dibenci orang Yahudi! Dia menjadi sangat rendah sampai memakan apa yang dimakan babi peliharaannya. Seperti putra bungsu, tanpa Tuhan, kita menjadi sengsara. Ya, kita mungkin menjadi lebih kaya, lebih perkasa dan terkenal, tetapi tanpa Tuhan, kita telah kehilangan jiwa kita. Kita tidak pernah menjadi benar-benar bahagia karena hal-hal yang menyenangkan ini tanpa Allah hanyalah sebuah kecanduan.

Putranya baru menyadari keadaannya ketika dia ingat ayahnya dan hidupnya bersamanya. Bahkan ketika sang ayah berada jauh, bukan berarti dia tidak peduli. Dia menarik kembali putranya yang hilang melalui kenangan indah yang mereka bagi bersama. Tidak peduli seberapa jauh kita dari Tuhan, Dia terus-menerus menarik kita kembali kepada-Nya melalui cara-cara misterius-Nya. Namun, ini tetaplah pilihan kita untuk mengindahkan suara hati kita atau mengabaikannya dan menceburkan diri kita lebih jauh ke dalam dosa.

Perumpamaan itu juga berbicara tentang ayah yang dengan sabar menunggu, menantikan hari ketika putranya pulang. Saat dia melihat putranya dari jauh, tanpa berpikir dua kali, dia berlari, memeluk putranya serta menciumnya. Putranya tidak pernah berpikir bahwa dia pantas menjadi anaknya, dan hanya ingin diperlakukan seperti pelayan. Tetapi, rahmat sesungguhnya adalah memberi sesuatu yang tidak pantas kita terima. Sang ayah menerima kembali putranya sebagai anaknya.

Izinkan saya untuk menutup refleksi sederhana ini dengan sebuah cerita. Pada tahun 1988, gempa bumi dahsyat melanda Armenia. Hanya dalam empat menit, bangunan-bangunan runtuh, dan ribuan meninggal. Seorang pria segera berlari ke sekolah tempat putranya belajar. Dia telah berjanji kepada putranya bahwa dia akan berada di sana untuk menjemputnya. Dia melihat bahwa sekolah itu sekarang menjadi puing. Dia bergegas ke situs tempat kelas anaknya berada. Dia mulai menggali dengan tangannya. Beberapa orang mencoba membantunya tetapi berhenti ketika mereka lelah. Beberapa orang mengecilkan hatinya, mengatakan, “Itu tidak berguna. Mereka sudah mati! ”Dia menolak menyerah, dan terus menggali selama berjam-jam. Kemudian setelah lebih dari 30 jam mencari, dia mendengar suara kecil dari reruntuhan. Dia berteriak, “Arman!” Dan dia mendengar jawaban, “Ayah!” Putranya masih hidup, dan bersama-sama dengannya ada murid-murid lain. Hari itu, pria tersebut telah menyelamatkan 14 anak yang terjebak. Arman memberi tahu teman-temannya, “Sudah kubilang, ayahku akan datang apa pun yang terjadi!”

Perumpamaan tentang Anak yang Hilang begitu indah karena tidak hanya mencerminkan siapa kita tetapi juga mengungkapkan siapa Allah kita. Dia adalah Bapa yang berbelaskasih yang menolak untuk menyerah pada kita, betapapun buruknya kita.

 Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A Story of a Fig Tree

Third Sunday of Lent [March 24, 2019] Luke 13:1-9

“Sir, leave it for this year also, and I shall cultivate the ground around it and fertilize it; it may bear fruit in the future (Luk 13:8).”

fig tree 2It normally takes around three years for a fig tree to reach its maturity and fruition. If it does not produce fruit by that time, it is not likely to bear fruit at all. The owner has a reasonable right to cut the tree, but through the effort of the gardener, it is given another chance. Like the fig tree, through the effort of our Chief Gardener, the new Adam of eternal Eden, Jesus Christ, we are given another chance to change and be fruitful.

However, it is always easier said than done. In daily reality, it is not simply a matter of instantly erasing errors on the whiteboard, of flash and clear-cut change from bad guy to good guy, from villains to heroes. Some of us are merely entrapped in the evil structures or systems that promote sin in us and through us, and we simply do not know how to get out of it. Some of us are victims of vicious cycles of sin in our families or our societies that sooner or later turn us to be the perpetrators, and we are merely powerless to find the way out.

One time, I visited a place for the youth who conflicted with the Law. I met this teenager, Joseph, not his real name. He was arrested for stealing small amount of money, or petty theft. He shared to me his story that he was without parents, and he lived together with a band of snatchers. His elders in the group taught him how to steal and snatch, and after several practices and actual deeds, he developed the habit, not only to take the money, but also to desire for an easy money. He has been in the facility for several times, and every time he was released, he promised himself not to go back to that way of life. Yet, because he no longer knew what to do and where to go outside the facility, he once again stole something for him to fill his hungry stomach. Then, again he was caught.

Then, what does it mean to repent, to change? Is there any point we observe Lenten season every year, yet no apparent change seems to take place? We miss the point if we just think that Lenten season is only about instant change.

It is a story of a struggling fig tree to be fruitful and yet find itself facing desperate end, the story of struggling humanity. It is a story of a gardener who refuses to give up on his tree, a story of God who never loses hope in humanity. The Lenten season means that despite of all our imperfection and disfigured life, we refuse to succumb to despair. It means we take courage to fight hopelessness even when no actual fruit of change seems visible in our lives. It means we always hope in the Lord who never loses hope in us.

Deacon Valentinus Bayuhadi Ruseno