Minggu Biasa ke-19 [7 Agustus 2016] Lukas 12: 32-48
“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.(Luk 12:34).”
Apakah kita siap untuk menjual semua yang kita miliki dan mengikuti Yesus? Apakah kita siap untuk menyerah mimpi dan cita-cita kita untuk Kerajaan Allah? Apakah kita bersedia untuk menaruh hati kita pada harta yang tidak akan dirusak ngengat dan tidak akan dicuri?
St. Dominikus de Guzman yang hari rayanya akan kita sambut besok, adalah contoh untuk diteladani. Ketika ia menjadi kanon regular di Katedral Osma, Spanyol, dia sejatinya adalah seorang yang dipersiapkan sebagai pemimpin. Dia terpilih sub-prior pada usia yang sangat muda. Menjadi sub-prior berarti ia adalah wakil dari pemimpin utama Katedral dan dipersiapkan untuk menjadi Uskup. Osma adalah kota tua berbenteng, makmur dan memiliki Gereja yang indah. Osma menyediakan ketenangan dan kenyamanan bagi Dominikus saat perang dan kelaparan melanda Spanyol di abad pertengahan. Dia juga dipersiapkan untuk mengemban posisi Uskup di Osma. Namun, Dominikus memutuskan untuk meninggalkan semua ini. Menghadapi kesulitan besar dan bahaya yang mengancam hidupnya, ia pergi untuk memberitakan Injil di Perancis Selatan di mana kelompok sesat, Albigentians, telah berakar.
St. Dominikus dan banyak orang kudus lainnya menjadi teladan pemberian diri yang total, tapi berapa banyak dari kita yang bisa melakukan apa St. Dominikus telah lakukan? Sejujurnya, banyak dari kita yang tidak siap untuk melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Injil hari ini. Kita tidak bisa begitu saja menjual segala yang kita miliki karena kita perlu untuk membesarkan anak-anak kita dan mengirim mereka ke sekolah. Kita tidak bisa begitu saja meninggalkan studi kita karena kita perlu mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. Kita harus menjalankan bisnis kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan para pekerja dan keluarga mereka. Saya sendiri harus mengakui bahwa sulit bagi saya untuk melepaskan koleksi buku-buku saya.
Kita terjerat dalam kompleksitas kehidupan. Namun, di dalam hati kita, kita selalu merasakan kerinduan untuk menyerahkan segalanya demi Kerajaan Allah. Kadang-kadang, hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah melakukan pengorbanan sederhana setiap hari.
Seorang ibu yang bangun pagi, mempersiapkan sarapan untuk keluarga, membawa anak-anaknya ke sekolah, pergi bekerja untuk mencari nafkah, memasak makan malam untuk suaminya, dan pada dasarnya menyisihkan mimpinya untuk bekerja dengan kaum miskin, benar-benar memberikan dirinya kepada Tuhan. Saya punya teman frater yang cerdas dan sangat bertekad untuk menjadi seorang imam. Saya yakin bahwa dia bisa menjadi seorang imam yang baik suatu hari nanti. Tapi, ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, saudara-saudaranya yang masih belajar, dan ibunya berpenghasilan sangat pas-pasan. Dengan berat hati, ia memutuskan untuk meninggalkan seminari dan bekerja untuk membantu keluarganya. Dia mengorbankan harapannya untuk melayani Tuhan sebagai imam, namun ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Tuhan, dengan merawat keluarganya.
Saya percaya bahwa Tuhan penuh belas kasih. Dia mengerti pergulatan kita sehari-hari untuk mengikuti-Nya. Dengan demikian, Allah tidak meninggalkan kita sendirian. Ia memberdayakan kita dalam pergulatan kita dan kasih karunia-Nya memungkinkan kita untuk menyerahkan hidup kita secara total ditengah-tengah kompleksitas kehidupan di dunia ini.
St. Dominikus de Guzman, doakanlah kita!
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Greed is one of the most sickening sins. It can plague practically anyone, rich and poor, young and old, lay people and even the leaders of the Church. Greed as the inordinate desire for wealth or money. Greed breeds corruption, stealing, cheating and violence. Greed produces injustice and poverty. And injustice and poverty cause nothing but suffering of countless people and permanent destruction to our mother earth.
Keserakahan dan ketamakan adalah dosa yang sangat menhancurkan. Ketamakan dapat menjangkiti praktis siapa pun, kaya dan miskin, tua dan muda, awam dan bahkan para pemimpin Gereja. Ketamakan dapat dimengerti sebagai hasrat yang tak terkendali untuk memiliki kekayaan atau harta benda. Keserakahan melahirkan berbagai bentuk korupsi, pencurian, penipuan dan kekerasan. Keserakahan menghasilkan ketidakadilan dan kemiskinan. Dan ketidakadilan dan kemiskinan menyebabkan penderitaan bagi jutaan orang dan kerusakan permanen pada bumi ini.
When we begin to pray, we acknowledge the presence of God. Not only that, we also recognize that we are dependent on Him. No wonder that the most basic and common prayer is a prayer of petition. We pray to ask favor from God. We beg for good health, success in career, passing examination, protection from dangers, and more. Several times, I wrote that God is not a spiritual ATM and that our prayer is an ATM card. After ‘inserting our prayer’ and ‘inputting a correct amount of request’, God will produce what we wish. But, I have realized that every morning, when I pray before the Blessed Sacrament and the image of our Lady of La Naval de Manila, my prayer is a prayer of petition. I ask God for so many things, for good breakfast, for easy quiz, sometimes for suspension of classes. Certainly, I also pray for people I love and people I promised to pray for.
Ketika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi. Saya pernah menulis bahwa Tuhan bukanlah ATM spiritual dan doa kita adalah kartu ATM. Setelah memasukan ‘kartu ATM doa’ dan mengetikan ‘password Amin’, Allah akan serta-merta menghasilkan apa yang kita inginkan. Tapi, saya menyadari bahwa setiap pagi, ketika saya berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dan bunda Maria La Naval, doa-doa saya adalah doa permohonan. Saya meminta Tuhan banyak hal, seperti sarapan yang enak, kemudahan dalam ujian, kadang-kadang berharap bisa dapat cuti lebih awal dan panjang. Tentu saja, saya berdoa juga bagi orang-orang yang saya kasihi dan mereka yang telah saya janjikan untuk didoakan.
Few weeks ago, I participated in a seminar-workshop on personality recognition and development. The activity was organized by the ministry of Lectors of Santo Domingo Parish and facilitated by seasoned speaker Sr. Leticia Garcia, DC. As I expected, the test result told me that I was dominantly introvert, meaning I was silent and more reserved guy. I found strength in solitude. I shared this treats with many of the participants. Yet, not few were actually our opposite. They were extrovert, meaning they were people-oriented and action-driven. They were recharged in interaction with others. Sr. Garcia made a point that the difference must not bring us into animosity. When properly developed, our personalities shall complete each other and contribute in the service of God.
uti seminar dan lokakarya tentang pengenalan dan pengembangan kepribadian di Manila, Filipina. Seperti yang saya duga, hasil tes menyatakan bahwa saya secara dominan adalah introvert, yang berarti saya kepribadian yang tenang dan pendiam. Saya menemukan kekuatan dalam keheningan. Saya tidak sendirian karena banyak juga peserta adalah introvert. Namun, tidak sedikit yang memiliki kepribadian yang berlawanan dengan kami. Mereka adalah ekstrovert, yang berarti mereka menyukai banyak aktivitas dan senang berinteraksi dengan orang lain. Sang pembicara mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh membawa kita ke permusuhan. Jika dikembangkan dengan baik, kepribadian kita yang unik akan saling melengkapi dan berkontribusi dalam pelayanan di Gereja dan kemuliaan Tuhan.
The scholars of the Law were representing the intellectual elite in Jewish society at the time of Jesus. While the rest of Jewish people were struggling to fill their stomach and living in bare necessity, this group had a rare access to good education. We may reasonably suspect that the scholars were affluent enough to read and study the Torah extensively and undisturbed. Compared to the ordinary Jews, they were experts with the details and interpretation of the Law. No wonder, they could easily develop the vice of pride.
Para ahli Taurat mewakili kelompok intelektual elit di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus. Saat sebagian besar dari bangsa Yahudi berjuang untuk mengisi perut mereka, kelompok ahli Taurat memiliki akses langka untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Kita bisa menduga bahwa para ahli hukum Taurat adalah cukup kaya untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci bangsa Yahudi tak terganggu. Dibandingkan dengan orang-orang Yahudi biasa, mereka tentunya ahli dengan berbagai rincian dan interpretasi hukum Taurat. Tidak heran, mereka bisa dengan mudah menjadi tinggi hati atau sombong.
The life of Jesus’ disciples is difficult. It is all the more difficult because we are sent to preach peace. Nothing is harder to sell than peace. In the world intoxicated with fundamental ideologies and narrow-mindedness, violence has become daily food. In Syria and Iraq, the war seems far from an end, and every day, it claims countless of innocent lives. Suicide bombings and shooting rampage insanely become common occurrences. Just recently, some unidentified individuals detonated themselves inside a busy airport in Istanbul, Turkey, killing more than 40 people and injuring countless others. Few weeks back, a heavily armed guy opened fire inside a gay bar in Orlando, US, and murdered more 50 persons. It was the worst case in the US history.