Come and Experience!

Second Sunday in the Ordinary Time [January 14, 2018] John 1:35-42

They said to him, “Rabbi, where are you staying?” He said to them, “Come and see.”  (Jn 1:38-39)

children praying
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

In the Gospel of John, we will not discover the word “apostle” or one who is sent to preach the Gospel. John the Evangelist consistently calls those who faithfully gather around Jesus as the disciples. Why so? Perhaps, John the Evangelist wants to show us that the most important and fundamental aspect of being a follower of Jesus is truly to be a disciple.

What is a disciple in the time of Jesus? We usually understand a student as one who studies at a particular school with its buildings, facilities and system of learning. Like Br. Bayu is a student of the University of Santo Tomas, and every Monday to Friday, he has to attend classes at the Manila campus. I am expected to learn particular knowledge, like the theology of St. Paul or master certain skills like preaching. At the end of the semester, I need to pass the exams in order to prove that I have learned those set of knowledge or skills. If I fail, I have to take a remedial or retake the subject all over again. Surely, this is a simplistic way of imagining learning in our time, but if we want to be a disciple in the time of Jesus, we have to enter a different world.

When Andrew and Peter become the disciples of Jesus, it does not mean that they will attend lectures of Jesus. They literally follow Jesus wherever Jesus goes. That is why the first question Andrew asks is not how much the tuition fee is or what lesson Jesus will impart, but rather “Rabbi, where are you staying?” because it is clear in the mind of Andrew that if he wants to become a disciple, he has to follow Jesus literally for 24 hours a day, seven days a week. He is going to walk where Jesus goes, eat what Jesus eats, to sleep where Jesus lays His head, to experience what Jesus experiences, the joy, sadness, the suffering, and resurrection! Learning then is not simply about gaining knowledge or skills, but it is about sharing life, giving and receiving life.

It is interesting also to note that Jesus’ response to Andrew is oft-quoted “come and see”, yet in some ancient Greek manuscripts the words used are “erkesthe kai opheste ”. If they are translated literally, it sounds like “come and experience!” To become a disciple is to experience the life of Jesus, to experience Jesus Himself. Surely, it is a total experience of Jesus. Thus, the end of learning is not the grades, but a new life in the likeness of Jesus, the Master. It is the imitation of Christ in the real sense.

However, to become this kind of disciple, the price is also extremely high. To follow and experience Jesus’ life, we need to give up our lives. A life for life. We cannot be the disciples of Jesus only 8 AM to 3 PM, but the rest of the day, we are free.  We cannot say that we are disciples of Jesus when we are at the Church only, but not in the workplaces and homes. We become like Jesus both in good times and bad times. The questions now are: Are we willing to sacrifice our old lives? Are we ready to follow Jesus day and night? Are we making our full effort to become like Christ?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

Datanglah dan Alamilah!

Minggu di Biasa ke-2 [14 Januari 2018] Yohanes 1:35-43

“Kata mereka kepada-Nya: ‘Rabi, di manakah Engkau tinggal?’ Ia berkata kepada mereka, ‘Datang dan lihatlah.”  (Yoh 1: 38-39)

children praying - bnw
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Dalam Injil Yohanes, kita tidak akan menemukan kata “rasul” atau seseorang yang diutus untuk memberitakan Injil. Yohanes Penginjil secara konsisten memanggil orang-orang yang dengan setia mengikuti Yesus sebagai seorang murid. Kenapa demikian? Mungkin, Yohanes penginjil ingin menunjukkan kepada kita bahwa aspek terpenting dan mendasar dari menjadi pengikut Yesus adalah benar-benar menjadi seorang murid.

Apa artinya menjadi murid di zaman Yesus? Kita biasanya memahami bahwa seorang murid sebagai orang yang belajar di sekolah tertentu yang dilengkapi dengan bangunan, fasilitas dan sistem pembelajarannya. Seperti Frater Bayu adalah murid di Universitas Santo Tomas, dan setiap hari Senin sampai Jumat, dia harus menghadiri kelas di kampus Manila. Saya diharapkan untuk memahami ilmu teologi, seperti teologi St. Paulus atau menguasai keterampilan khusus seperti berkhotbah. Pada akhir semester, saya diharuskan lulus ujian untuk membuktikan bahwa saya telah menguasai ilmu atau keterampilan yang diharapkan. Jika saya gagal, saya harus mengambil ujian ulang atau mengulang kembali mata kuliah yang gagal. Tentunya, ini adalah cara sederhana untuk membayangkan sistem pembelajaran di zaman kita, tetapi jika kita ingin menjadi murid pada masa Yesus, kita harus memasuki dunia yang berbeda.

Ketika Andreas atau Petrus menjadi murid Yesus, ini tidak berarti bahwa mereka akan menghadiri kelas-kelas yang diadakan Yesus. Mereka benar-benar mengikuti Yesus ke manapun Yesus pergi. Itulah sebabnya pertanyaan pertama yang diajukan Andreas bukan berapa biaya kuliah atau pelajaran apa yang akan diberikan Yesus, melainkan “Rabi, di manakah Engkau tinggal?” Karena jelas di dalam benak Andreas bahwa jika dia ingin menjadi seorang murid, dia harus mengikuti Yesus secara penuh, 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Mereka akan berjalan ke tempat Yesus pergi, makan apa makanan yang Yesus makan, tidur di mana Yesus meletakkan kepala-Nya, mengalami semua yang Yesus rasakan, sukacita, kesedihan, penderitaan dan kebangkitan! Belajar kemudian bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan atau keterampilan, tapi juga tentang berbagi hidup, memberi dan menerima kehidupan.

Menarik juga untuk dicatat bahwa tanggapan Yesus terhadap Andreas adalah “come and see” atau “datang dan lihatlah”, namun jika kita kembali ke teks Yunani kuno, kata yang digunakan adalah “erkesthe kai opheste”. Jika diterjemahkan secara harfiah, ini adalah “datang dan alamilah!” Untuk menjadi murid adalah mengalami kehidupan Yesus, untuk mengalami Yesus sendiri. Tentunya, ini adalah pengalaman total tentang Yesus. Dengan demikian, akhir pembelajaran bukanlah nilai, melainkan kehidupan baru dan sungguh menjadi citra Yesus, sang Guru. Ini adalah mengikuti Kristus dalam arti sebenarnya.

Namun, untuk menjadi murid semacam ini, tidaklah mudah. Untuk mengikuti dan mengalami kehidupan Yesus, kita harus menyerahkan hidup kita. Hidup untuk hidup. Kita tidak bisa menjadi murid Yesus hanya dari jam 8 pagi sampai 5 sore, tetapi setelah itu, kita bebas. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita adalah murid Yesus ketika kita berada di Gereja saja, tapi bukan murid-Nya di tempat kerja dan rumah. Kita menjadi murid Yesus pada saat-saat indah maupun masa-masa sulit. Pertanyaannya sekarang adalah: Apakah kita bersedia mengorbankan kehidupan lama kita? Apakah kita siap untuk mengikuti Yesus siang dan malam? Apakah kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seperti Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP