The Real Talent

33rd Sunday in Ordinary Time [A]

November 19, 2023

Matthew 25:14-30

Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern languages. Talent connotes a God-given ability or a natural, unique skill, and it needs to be fully developed. Harnessing our talents may contribute to the progress of society. In fact, talents have become a well-sought commodity in our society. Companies only hire talented employees. Schools are marketed as venues of talent development. TV shows like ‘American Got Talent’ or other similar programs flood our contemporary culture and shape our understanding of talents. To be successful means to have fully developed talents!

Unfortunately, this modern understanding of talent has also reshaped our behaviors as Church members. As Christians, we are expected to use our talents to serve. We may participate in various roles in the liturgy, like as choir members, lectors, or altar servers. Not only in the liturgy, we can also use our talents to serve in various communities and organizations. In fact, this limited sense of talent also affects how we see priests and other religious figures. Talented priests are either charismatic preachers or capable leaders in the parishes. Then, what will happen to many of us who do not have these ‘talents’ fit to serve in the Church? Are we not successful in the Church if we do not have talents?

To answer this, we must go back to the biblical understanding of talent. The Greek word ‘τάλαντον’ (read: talanton) is a Greek monetary unit (also a unit of weight) with an extremely high value. In the time of Jesus, a silver talent was worth approximately six thousand denarii. If a denarius is equal to a daily wage, then a talent means six thousand daily wages. How do we understand the talent in the Gospel, then? We are sure that talent is something precious, and when used correctly, it can grow and even multiply. Yet, Jesus also linked talents with our eternal salvation or damnation. Thus, talent must not only be something related to natural abilities that are useful for our lives on earth but rather something spiritual that is beneficial for our souls and salvation.

No wonder, if we read Fathers of the Church and other spiritual authors, we will see a different understanding of talent. St. Thomas Aquinas, in his commentary of St. Matthew, saw talent as the gift of graces. While it is true that Christians have different capacities to receive spiritual gifts, each of us has the most basic gift of faith, hope and charity. Furthermore, we are expected to grow in these spiritual gifts and to recognize them if we wish to please our Lord and the giver of these talents.

 While St. Jerome recognized it as the Gospel. Different persons receive different intensities of the Gospel message depending on our capacity, but everyone must live and share the Gospel. Some of us who have received five talents of the Gospel are tasked to proclaim it loud and clear to many people. Some of us who receive one talent of the Gospel are called to share it with the closest persons in our lives, like our families and close friends.

Indeed, this is Good News. We thank the Lord for the natural talents we have, but far more critical is how we receive and share our spiritual talents for the salvation of souls.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Talenta yang Sesungguhnya

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [A]
19 November 2023
Matius 25:14-30

Talenta adalah salah satu kata dalam Alkitab yang telah menjadi bagian dari bahasa sehari-hari kita. Talenta memiliki konotasi sebagai kemampuan yang diberikan Tuhan atau keterampilan alamiah yang unik, dan perlu dikembangkan sepenuhnya. Dengan memanfaatkan talenta, kita dapat berkontribusi pada kemajuan masyarakat. Faktanya, talenta telah menjadi komoditas yang sangat dicari dalam dunia sekarang ini. Perusahaan-perusahaan hanya mempekerjakan karyawan yang bertalenta. Sekolah-sekolah dipasarkan sebagai tempat pengembangan talenta. Acara TV seperti ‘Indonesia Got Talent’ atau program serupa lainnya membanjiri budaya kontemporer kita dan membentuk pemahaman kita tentang talenta: Menjadi sukses berarti memiliki talenta!

Sayangnya, pemahaman modern tentang talenta ini juga telah mengubah perilaku kita sebagai anggota Gereja. Sebagai umat Kristiani, kita diharapkan untuk menggunakan talenta kita untuk melayani. Kita dapat berpartisipasi dalam berbagai peran dalam liturgi, seperti sebagai anggota paduan suara, lektor, atau misdinar. Tidak hanya dalam liturgi, kita juga dapat menggunakan talenta kita untuk melayani di berbagai komunitas dan organisasi. Faktanya, pengertian talenta yang terbatas ini juga mempengaruhi bagaimana kita melihat para imam dan tokoh-tokoh rohaniawan lainnya. Para imam yang bertalenta adalah pengkhotbah yang karismatik atau pemimpin yang cakap di paroki-paroki. Lalu, apa yang akan terjadi pada kita yang tidak memiliki ‘talenta’ yang cocok untuk melayani di Gereja? Apakah kita tidak akan berhasil dalam hidup menggereja?

Untuk menjawab ini, kita harus kembali kepada pemahaman alkitabiah tentang talenta. Kata Yunani ‘τάλαντον’ (baca: talanton) adalah unit moneter Yunani (juga unit berat) dengan nilai yang sangat tinggi. Pada zaman Yesus, satu talenta perak bernilai sekitar enam ribu dinar. Jika satu dinar sama dengan upah harian, maka satu talenta berarti sama enam ribu hari kerja. Lalu, bagaimana kita memahami talenta dalam Injil? Kita yakin bahwa talenta adalah sesuatu yang berharga, dan jika digunakan dengan benar, talenta dapat bertumbuh dan bahkan berlipat ganda. Namun, Yesus juga mengaitkan talenta dengan keselamatan dan hukuman kekal kita. Dengan demikian, talenta seharusnya bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan alamiah yang berguna bagi kehidupan kita di dunia, tetapi juga sesuatu yang bersifat rohani dan bermanfaat bagi jiwa dan keselamatan kita.

Tidak heran, jika kita membaca para Bapa Gereja dan penulis rohani lainnya, kita akan melihat pemahaman yang berbeda tentang talenta. Santo Thomas Aquinas, dalam tafsirnya terhadap Injil Matius, melihat talenta sebagai karunia rahmat. Meskipun benar bahwa orang Kristen memiliki kapasitas yang berbeda untuk menerima karunia-karunia rohani, masing-masing dari kita memiliki rahmat yang paling mendasar yaitu iman, pengharapan, dan kasih. Lebih jauh lagi, kita diharapkan untuk bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih jika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, sang pemberi talenta rohani ini.

Sementara St. Heronimus, pujangga Gereja dari abad ke-4, mengenali talenta sebagai Injil. Setiap orang menerima intensitas yang berbeda dari pesan Injil, tergantung pada kapasitas kita masing-masing, tetapi setiap orang harus hidup dan membagikan Injil. Beberapa dari kita yang telah menerima lima talenta Injil ditugaskan untuk memberitakan Injil dengan lantang dan jelas kepada banyak orang. Beberapa dari kita yang menerima satu talenta Injil dipanggil untuk membagikannya kepada orang-orang terdekat dalam hidup kita, seperti keluarga dan teman-teman dekat.

Sungguh, ini adalah Kabar Baik. Kita bersyukur kepada Tuhan atas talenta-talenta alamiah yang kita miliki, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menerima dan membagikan talenta-talenta rohani kita untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Wise for Heaven

32nd Sunday of the Ordinary Time [A]

November 12, 2023

Matthew 25:1-12

Wisdom is necessary to enter the Kingdom of God. Through today’s parable, Jesus contrasted two categories of people. The five wise virgins represent the first group; the second class represents the five foolish virgins. Though Jesus used the first-century Jewish wedding in Israel as its model, the parable does not simply speak of the ordinary wedding. Jesus taught about the final judgment, and wisdom is one of the essential characteristics that makes us able to enter the eternal banquet. What does it mean to be wise?

The Greek word that Matthew used is ‘φρόνιμος’ (read: phronimos). This word can be translated in English as wise or prudent. This word denotes clarity of one’s end and proper preparation and anticipation to achieve this goal. The term ‘φρόνιμος’ also signifies our ability to utilize appropriate means to solve difficulties encountered as well as to reach the finish line. Matthew also used this word on several occasions. “Everyone then who hears these words of mine and does them will be like a wise man (φρόνιμος) who built his house upon the rock (Mt 7:24).” Also, “Who then is the faithful and wise servant (φρόνιμος), whom his master has set over his household, to give them their food at the proper time (Mt 24:45)?” These two other verses also are closely connected to our salvation.

Throughout our lives, we are educated on how to be wise in dealing with this world, survive against challenges in this life, and grow and flourish as human beings. Yet, there is more than just this earthly life; from this parable, Jesus teaches us to be wise for eternal life. At the same time, we must not be foolish like the five virgins. Yes, the five virgins neither waste the oil unnecessarily nor intentionally run away from their duty. They must be good friends of the bride and groom, and they do not cause severe troubles that can disturb the wedding. Yet, it is not enough just sitting and waiting but doing nothing to keep the light alive and burning. For us, it is not enough to avoid mortal sins but to do nothing to keep the light of charity alive. Do not be foolish to think that it is enough to enter the Kingdom by believing in Jesus Christ but doing nothing to fulfill His commandment of love.

To be wise for the Kingdom means the understanding that we are created for heaven (not only for this world), and we must do what is necessary to reach this destination. This means to make daily and practical choices that lead us closer to Jesus. This can be done through simple daily sacrifices for our children or being patient with other’s weaknesses. We are also called to pray when possible and celebrate the Eucharist worthily each Sunday. We can also perform acts of kindness even to strangers. Again, the seven corporal and spiritual works of charity can be our simple guide to be wise for the Kingdom.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Bijaksana untuk Surga

Minggu ke-32 Waktu Biasa [A]
12 November 2023
Matius 25:1-12

Kebijaksanaan diperlukan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Melalui perumpamaan hari ini, Yesus mengontraskan dua kelompok orang. Lima gadis yang bijaksana mewakili kelompok yang akan masuk surga; kelompok yang tidak akan masuk ke dalam surga diwakili oleh lima gadis yang bodoh. Meskipun Yesus menggunakan pernikahan Yahudi abad pertama di Israel sebagai latar belakang perumpamaannya, perumpamaan ini tidak berbicara tentang pernikahan biasa. Yesus mengajarkan tentang pengadilan terakhir, dan kebijaksanaan adalah salah satu karakteristik penting yang membuat kita bisa masuk ke dalam perjamuan abadi. Apa artinya menjadi bijaksana?

Kata Yunani yang digunakan Matius adalah ‘φρόνιμος’ (baca: phronimos). Kata ini dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia sebagai bijaksana atau berhikmat. Kata ini menunjukkan kejelasan tujuan seseorang, dan persiapan serta antisipasi yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut. Kata ‘φρόνιμος’ juga menandakan kemampuan kita untuk menggunakan cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan kesulitan yang dihadapi serta untuk mencapai garis akhir. Matius juga menggunakan kata ini dalam beberapa kesempatan. “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana (φρόνιμος), yang mendirikan rumahnya di atas batu karang (Mat. 7:24).” Juga, “Jadi siapakah hamba yang setia dan bijaksana (φρόνιμος), yang diangkat oleh tuannya atas seisi rumahnya, yang memberikan kepada mereka makanan pada waktunya (Mat. 24:45)?” Dua ayat ini juga berkaitan erat dengan keselamatan kita.

Sepanjang hidup kita, kita dididik untuk menjadi bijaksana dalam menghadapi dunia ini, bertahan menghadapi tantangan dalam hidup ini, bertumbuh dan berkembang sebagai manusia di tengah masyarakat. Namun, ada yang lebih penting dari sekadar kehidupan duniawi ini; dari perumpamaan ini, Yesus mengajarkan kita untuk menjadi bijaksana demi kehidupan kekal. Ini berarti kita memahami bahwa kita diciptakan untuk surga (bukan hanya untuk dunia ini), dan kita harus mencapai tujuan ini dengan cara-cara yang tepat.

Pada saat yang sama, kita tidak boleh menjadi bodoh seperti kelima gadis lainnya. Sebenarnya kelima gadis ini tidak melakukan hal yang buruk. Kelima gadis itu tidak membuang-buang minyak dengan percuma atau tidak dengan sengaja melarikan diri dari tugas mereka. Mereka tentunya adalah teman baik bagi kedua mempelai, dan mereka juga tidak menyebabkan masalah besar yang dapat mengganggu acara pernikahan. Namun, sekedar duduk, menunggu dan tidak buat masalah tidaklah cukup. Mereka perlu menjaga agar cahaya tetap hidup dan menyala. Dari lima gadis ini, kita belajar bahwa tidak cukup hanya dengan menghindari dosa-dosa besar tetapi tidak melakukan apa-apa untuk menjaga cahaya kasih tetap hidup. Janganlah kita menjadi bodoh dengan berpikir bahwa masuk ke dalam Kerajaan Surga cukup dengan percaya kepada Yesus Kristus saja, tetapi tidak melakukan apa pun untuk memenuhi perintah kasih-Nya.

Bijaksana untuk surga berarti membuat pilihan-pilihan praktis sehari-hari yang membawa kita lebih dekat kepada Yesus. Hal ini dapat dilakukan melalui pengorbanan sederhana setiap hari untuk anak-anak kita atau bersabar dengan kelemahan orang lain di sekitar kita. Kita juga dipanggil untuk berdoa dan merayakan Ekaristi dengan layak setiap hari Minggu. Kita juga dapat melakukan tindakan-tindakan kebaikan bahkan kepada orang asing. Sekali lagi, tujuh karya kasih baik jasmani dan rohani dapat menjadi panduan sederhana bagi kita untuk menjadi bijaksana bagi Kerajaan Allah. Selama waktu masih ada, jangan membuat pilihan-pilihan bodoh, tetapi bijaksana karena waktu Tuhan dapat datang kapan saja.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Krisis Kebapaan

Hari Minggu ke-31 Masa Biasa [A]
5 November 2023
Matius 23:1-12

Salah satu krisis terbesar di zaman ini adalah krisis kebapaan. Di berbagai masyarakat, banyak anak yang hidup dan tumbuh tanpa figure ayah. Banyak survei dan penelitian menunjukkan bahwa kenyataan ini terutama melanda negara-negara barat. Namun, virus ini juga merambah ke negara-negara lain yang memiliki budaya keluarga yang kuat, termasuk Indonesia. Absennya seorang ayah dalam keluarga sangat mempengaruhi perilaku dan tumbuh anak-anak. Mereka yang tidak memiliki ayah cenderung tumbuh menjadi pribadi yang memiliki berbagai masalah mental dan bermasalah dengan masyarakat. Dalam Injil, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyebut seorangpun sebagai bapa di muka bumi ini…” (Matius 23:9). Dalam konteks kita, perkataan Yesus ini sangat menarik. Mengapa Yesus tidak mengizinkan kita memanggil siapa pun sebagai ‘bapa’, sementara masyarakat kita sangat membutuhkan figur bapa?

Sebelum kita mendalami perkataan Yesus, kita akan memahami terlebih dahulu pentingnya kehadiran ayah dalam keluarga. Ayah memiliki banyak peran yang sangat penting dan tak tergantikan, namun jika kita harus meringkasnya, ada dua tugas yang paling mendasar. Alkitab berbicara tentang dua karakter ini dalam kitab Kejadian, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk melayani (עבד) dan menjaga (שׁמר) taman itu. (Kej 2:15)” Dari ayat ini, Tuhan menugaskan Adam dengan dua tanggung jawab penting: melayani dan menjaga taman. Karena taman adalah tempat tinggal Adam dan Hawa, maka taman melambangkan rumah dan keluarga Adam. Seperti Adam, setiap pria yang menjadi seorang ayah menerima dua tugas penting ini.

Melayani (עבד – baca: abad) dapat dipahami sebagai menyediakan hal-hal yang diperlukan agar keluarga dapat berfungsi dengan baik dan bahkan berkembang. Seorang ayah tidak cukup hanya menyediakan kebutuhan material bagi anak-anaknya, tetapi juga kebutuhan emosional dan yang terpenting, kebutuhan spiritual. Banyak pria yang bekerja keras untuk keluarga mereka, tetapi ketika mereka pulang ke rumah, mereka menghabiskan waktu mereka dengan diri mereka sendiri daripada dengan anak-anak. Banyak pria yang memang menjadi pemberi nafkah yang baik, tetapi cenderung mengabaikan pertumbuhan iman anak-anak mereka. Banyak pria bahkan memiliki kesalahpahaman bahwa kebutuhan emosional dan spiritual hanyalah tugas wanita. Namun, cara mengasihi wanita dan pria itu berbeda, dan anak-anak membutuhkan keduanya untuk bertumbuh dengan sehat. Melayani berarti juga mengajarkan nilai-nilai dan moralitas yang benar, dan seringkali, hal ini paling baik diajarkan melalui teladan, bukan hanya dengan kata-kata.

Menjaga (שׁמר – baca: shamar) berarti melindungi dari bahaya, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam, baik secara fisik maupun spiritual. Seringkali, mudah untuk melindungi keluarga dari kekuatan eksternal dan yang terlihat karena kita dapat dengan mudah melihat ancamannya. Namun, melindungi dari musuh yang tidak terlihat jauh lebih sulit. Bahaya yang tidak terlihat dapat datang dalam bentuk ide-ide yang salah atau ajaran moral yang tidak benar. Para ayah membutuhkan kebenaran dan kejelasan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Para ayah juga membutuhkan keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan ketika mereka memberikan koreksi dan disiplin. Anak-anak yang tidak menerima disiplin cenderung tumbuh menjadi orang dewasa yang lemah dan ragu-ragu, sementara anak-anak yang dibesarkan dalam kekerasan cenderung menjadi pria dan wanita yang suka memberontak.

Ketika Yesus berkata, “Janganlah kamu memanggil siapa pun di bumi ini sebagai bapa, kecuali Bapa yang di sorga…” Yesus tidak melarang semua pria untuk dipanggil sebagai bapa. Sebaliknya, Yesus mengingatkan kita bahwa semua pria tidak secara otomatis menjadi seorang bapa ketika mereka memiliki anak (baik secara fisik maupun sakramental). Kecuali mereka mengikuti teladan Bapa Surgawi, mereka tidak pantas menyandang gelar ‘bapa’. Melayani dan menjaga adalah dua hal yang harus dilakukan oleh setiap bapa, dan kita memiliki Bapa di surga sebagai inspirasi dan teladan kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Crisis of Fatherhood

31st Sunday of the Ordinary Time [A]

November 5, 2023

Matthew 23:1-12

One of the greatest crises in our time is the crisis of fatherhood. In various societies, many children live and grow up without their fathers. Many surveys and studies have pointed out this reality affected especially the western countries. Yet, the virus is also penetrating other countries that possess strong family cultures. The absence of a father in the family severely affects the children’s behaviours. Children without fathers tend to grow into persons with various mental issues and problems with society. Now, in the Gospel, Jesus said, “Call no one father on earth… (Mat 23:9).” In our context, Jesus’ words are intriguing. Why did Jesus not allow us to call anyone father while our societies need fathers more than ever?

Before we go deeper into Jesus’ words, we will delve first into the necessity of the real presence of the fathers in the families. Father has many essential and irreplicable roles, yet if we must sum up, there are two most fundamental duties. The Bible speaks of these two characters in the book of Genesis, “The Lord God took the man and put him in the garden of Eden to serve (עבד) it and guard (שׁמר) it. (Gen 2:15)” From this verse, God assigned Adam two critical responsibilities: serve and guard the garden. Since the garden is where Adam and Eve lived, the garden symbolizes the home and family of Adam. Like Adam, every man who enters fatherhood receives these two essential duties.

To serve (עבד – read: abad) can be understood as providing its necessary things so that the family may function adequately and even flourish. It is not enough for a father to provide material needs to his children, but also emotional and, most importantly, spiritual. Many men work hard for their families, but when they return home, they spend their time with themselves rather than with the children. Many men are indeed good providers but tend to neglect the faith growth of their children. Many men even have a misconception that emotional and spiritual needs are only the jobs of women. Yet, the way women and men love are different, and the children need both to grow healthily. To serve means also to teach true values and morality, and often, these are best taught by examples, not only by words.

To guard (שׁמר – read: shamar) means to protect from danger, both that are external and internal, both physical and spiritual. Often, it is easy to protect the family from external and visible forces because we can easily perceive the threats. But, to guard against the invisible enemies is much more difficult. The unseen dangers can come in the form of false ideas or wrong moral teachings. Fathers need truth and clarity to distinguish between the right and the wrong. Fathers also need a balance of firmness and gentleness when they give corrections and discipline. Children without discipline tend to grow into weak and indecisive adults, while children raised in violence tend to become rebellious men and women.

When Jesus said, “Call no one father on earth except the Father in heaven.” Jesus did not prohibit all men from being called fathers. Instead, Jesus reminded us that all men do not automatically become a father when they have children (both physically and sacramentally). Unless they follow the examples of the heavenly Father, they do not deserve the title ‘father’. To serve and to guard are two things that every father must do, and we have our Father in heaven as our inspiration and model.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kasih Sejati dan Bagaimana Kita Mengetahuinya

Minggu ke-30 dalam Masa Biasa [A]

29 Oktober 2023

Matius 22:34-40

Cinta (atau Kasih) adalah salah satu kata yang paling sering digunakan, tetapi juga paling sering disalahpahami, bahkan disalahgunakan. Beberapa orang menggunakan kata ini untuk memanipulasi orang lain dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Beberapa orang dapat dengan mudah mengatakan “apakah kamu tidak mencintaiku lagi?” untuk mempertahankan pasangannya dalam relasi yang toxic dan penuh kekerasan.  Beberapa orang lainnya akan dengan mudah mengatakan, ‘ini karena kami saling mencintai,’ untuk membenarkan perilaku dosa mereka. Demi ‘cinta’ pada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok atau etnis lain. Demi ‘cinta’ kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri mereka sendiri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak. Namun, ini bukanlah cinta yang sejati, dan tentunya, bukan itu yang Yesus maksudkan ketika Dia mengajarkan perintah kasih. Jadi, apa yang Yesus maksudkan dengan kasih yang sejati?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami terlebih dahulu Injil kita hari ini.  Untuk memahaminya, kita memerlukan sedikit konteks. Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perintah terbesar dalam Hukum Taurat, mereka mengharapkan Yesus memilih satu dari berbagai peraturan dan perintah dalam Hukum Musa. Tradisi Yahudi menghitung ada 613 perintah dalam Hukum Musa. Dari sekian banyak kemungkinan jawaban, Yesus memilih, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Bagi banyak dari kita, jawaban Yesus ini tampaknya revolusioner, dan bahkan meninggalkan hukum Musa. Kita sering berpikir bahwa Perjanjian Lama adalah tentang Sepuluh Perintah Allah, sedangkan Perjanjian Baru adalah tentang Hukum Kasih. Namun, ini jauh dari kebenaran.

Jawaban Yesus sejatinya diambil langsung dari inti dari Perjanjian Lama. Jawaban-Nya berasal dari Ulangan 6:4-6. Dalam tradisi Yahudi, ayat-ayat ini disebut ‘Shema’. Ayat-ayat ini sangat sakral bagi orang Israel, dan mereka akan mengucapkannya beberapa kali dalam sehari sebagai doa dasar mereka. Kita mungkin bisa menyamakan ‘Shema’ ini dengan doa Bapa Kami. Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ. Dia juga menambahkan perintah terbesar kedua, “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.” Sekali lagi, ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Imamat 19:18).

Hal yang revolusioner dari jawaban Yesus bukanlah mengenai sumber dari pernyataan-Nya, tetapi orientasi yang sebenarnya dari semua perintah dalam Hukum Musa. Kita melakukan segala sesuatu karena kasih kita kepada Allah. Pada saat yang sama, perintah Yesus yang paling utama ini juga menjelaskan dan memberikan orientasi yang tepat tentang bagaimana kita mengasihi orang lain. Kasih kepada sesama adalah manifestasi esensial dari kasih kepada Allah dan ini dilakukan demi kasih kepada Allah (lihat KGK 1822). Cara sederhana untuk mengetahui bahwa cinta kita bagi sesama adalah cinta sejati adalah dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Apakah tindakan saya berkenan kepada Allah?” Jika jawabannya tidak, tentu saja tindakan kita bukanlah sebuah kasih yang sejati.

Oleh karena itu, kita tidak dapat menggunakan kata ‘cinta’ sebagai pembenaran atas perilaku dan gaya hidup berdosa kita. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengasihi seseorang, tetapi pada kenyataannya, kita justru menjauhkannya dari Tuhan. Juga, menyakiti orang lain, apalagi yang tidak bersalah, atas nama kasih kepada Tuhan juga merupakan tindakan yang salah.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

True Love and How We Know It

30th Sunday in Ordinary Time [A]
October 29, 2023
Matthew 22:34-40

Love is arguably the most used but also the most misunderstood and even misused. Some people use this word to manipulate others and get what they want. Men or women can say, ‘Don’t you love me?’ to keep their partners in a toxic and abusive relationship. Some others will easily utter, ‘This is because we love each other,’ to justify their sinful behaviors. For the ‘love’ of their country and race, some men persecute another ethnic group and burn their villages. For the ‘love’ of God and religion, some men blow themselves up and kill innocent people, including children. Yet, this is not the real love, and surely not what Jesus meant when He taught the commandment of love. So, what does Jesus mean by true love?

To answer the question, we need to understand first our gospel today. To understand it, we need a bit of context. When the Pharisees asked Jesus about the greatest commandment in the Law, they expected Jesus to select one from among various regulations and commandments in the Law of Moses. Jewish traditions counted there are 613 precepts in the Law of Moses. From among many possible answers, Jesus chose, “You shall love the Lord your God with all your heart, and with all your soul, and with all your mind.” For many of us Christians, Jesus’ answer seems to be revolutionary and breaks away from the Law of Moses. We often think that the Old Testament is about the Ten Commandments, but the New Testament is about the Law of Love. Yet, this is far from the truth.

Jesus’ answer is straight from the heart of the Old Testament. His answer is from Deut 6:4-6. In Jewish tradition, it is called ‘Shema’. These verses are sacred for the Israelites, and they would recite these words several times a day as their basic prayer. We may think of ‘Shema’ as a prayer of Our Father in the Catholic Church. However, Jesus did not stop there. He also added the second greatest commandment, “You shall love your neighbor as yourself.” Again, this is also coming from the Old Testament (see Lev 19:18).

What is revolutionary about Jesus’ answer is not about the sources of His statements but the true orientation of all precepts in the Law of Moses. We do all things because of our love of God. At the same time, Jesus’ greatest commandment clarifies and gives proper orientation on how we love others. The love for others is the essential manifestation of the love for God and is made for the love for God (see CCC 1822). A simple way to do this is by asking the question, “Is my action pleasing to God?” If the answer is not, surely our action is not a true love.

Therefore, we cannot use ‘love’ as a justification for our sinful behaviors and lifestyles. We cannot say that we love someone, but in reality, we bring them far from God. It is also totally false to kill innocent people in the name of love for God.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Render to God what belongs to God

29th Sunday in Ordinary Time [A]
October 22, 2023
Matthew 22:15-21

“Render therefore to Caesar the things that are Caesar’s, and to God the things that are God’s (Mt 22:21).” Many people understand Jesus’ words as His approval to pay taxes and, thus, to support and honor duly elected or appointed leaders of governments. Though many of us are not comfortable knowing that our hard-earned money is deducted, we can comfort ourselves with the knowledge that our money is used to fund the various governments’ projects. Hopefully, these projects are for the welfare of the people. Indeed, there is nothing wrong with seeing Jesus’ statement in this light, yet we must remember the second half of Jesus’ words.

Jesus also said that we must render to God what belongs to God. Does it mean we must pay ‘taxes’ to God just like we submit it to the government? Surprisingly, the answer is yes. We must remember that we are not just citizens of the kingdoms or nations of this world but also the citizens of the Kingdom of God. To become a good citizen of a country, we must contribute to the development of the country. Typically, we do this by paying taxes, but we are also expected to obey the laws of the land and be involved in various good practices. So, it is the same with a good citizen of the Kingdom of God. We also contribute to the Kingdom of God by obeying the laws of the Kingdom and offering what belongs to God. Then the question is, ‘What belongs to God that we need to render to God?’ What is the currency of the Kingdom of God? To answer this, we must go back to today’s Gospel.

When Jesus was dealing with the Pharisees who attempted to entrap Him, He took a Roman coin. He showed it to those around Him and asked, “Whose image and inscription are there?” They readily answered, “Caesar.” Then, He said, “render to Caesar what belongs to Caesar…” The basis of ownership is the presence of “image.” The coin belongs to Caesar because it bears his image. Thus, paying tax is simply giving back to the coins that, since the beginning, belonged to Caesar and the Roman Empire. Yet, Jesus did not stop there. He taught also, “render to God what belongs to God.” And what belongs to God? The answer is those who possess the image of God. Going back to Genesis 1:26, we discover that we were created in the image of God, and therefore, we belong to God. The only currency of the Kingdom of God is our souls, our lives.

However, we must also remember that our obligation to God surpasses our obligations to men. If we do not pay our taxes and disobey the country’s laws, we may be in trouble with the government. However, if we do not give what is God’s to God, we may lose our souls forever. While the first concerns our survival, the second concerns our eternal destiny.

Do we live our lives as a pleasing offering to God by avoiding sinful lifestyles? Do we offer our daily works, our daily efforts for the glory of God? Do we unite spiritually our bodies with the Body of Christ in the Eucharist to be the worthiest sacrifice?

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Rahasia Kebahagian

Minggu ke-28 dalam Masa Biasa [A]
15 Oktober 2023
Matius 22:1-14
Filipi 4:12-14, 19-20

Paulus mengakhiri suratnya kepada jemaat di Filipi dengan membagikan salah satu rahasia terbesarnya, “sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan…. Aku telah belajar rahasia menghadapi kelimpahan dan kelaparan, kelimpahan dan kekurangan. (Flp. 4:11-12).” Paulus membagikan rahasia menghadapi segala situasi dalam hidupnya, dan rahasia ini membawanya pada kebahagiaan. Lalu, apa rahasia kebahagiaannya?

Seringkali, kita percaya bahwa kebahagiaan berarti mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita bahagia ketika kita mendapatkan banyak uang atau harta benda. Kita akan sangat senang jika mendapatkan smartphone terbaru atau bisa membeli mobil baru. Kita gembira ketika kita berhasil dalam pekerjaan, bisnis, atau relasi kita. Kita yang aktif terlibat di Gereja merasa senang ketika kita mengetahui bahwa pelayanan dan kerasulan kita menghasilkan buah. Namun, ini berbeda dengan apa yang dimaksud Santo Paulus dengan kebahagiaan. Kata yang ia gunakan adalah ‘αὐτάρκης’ (autarkes), dan kata ini berarti ‘puas, cukup’. Sukacita bukanlah memiliki semua yang kita inginkan, tetapi merasa puas dan cukup dengan apa yang kita miliki.

Terlebih lagi, sang rasul menulis, “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan (Flp. 4:12).” Ia mengingatkan kita bahwa kita tidak hanya tahu bagaimana bertahan dan bertekun di masa-masa sulit dan cobaan, tetapi juga bagaimana menavigasi jalan kita di masa-masa kelimpahan. Pada hari Minggu sebelumnya, saya telah menulis tentang nasihat Santo Paulus di masa penderitaan, tetapi Santo Paulus juga memiliki nasihat untuk kita yang hidup dalam kelimpahan. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan menikmati hal-hal duniawi dan kesuksesan, tetapi hal-hal ini juga dapat membawa kita kepada dua hal yang menghancurkan jiwa kita, yakni keserakahan dan kesombongan.

Keserakahan. Karena harta benda duniawi ini memberi kita kenyamanan dan kesenangan, mereka dapat menjebak kita ke dalam keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal yang bersifat sementara ini. Kita menjadi kecanduan pada kesenangan yang ditimbulkannya dan menginginkan kesenangan yang lebih dan lebih lagi. Kemudian, kita diperbudak karena kita menghalalkan segala cara untuk mencapai hal-hal duniawi ini. Kita menipu, mencuri, dan bahkan memanipulasi orang lain. Paulus sendiri memperingatkan kita, “Cinta akan uang adalah akar segala kejahatan” (1 Tim. 6:10).

Kesombongan. Kelimpahan dapat menyebabkan sifat buruk lain yang sangat berbahaya, yaitu kesombongan. Ketika kita memperoleh banyak hal melalui kerja keras, kita mulai berpikir bahwa kitalah yang bertanggung jawab atas pencapaian-pencapaian ini. Kita menganggap diri kita hebat dan memandang rendah orang lain. Kita lupa bahwa apa yang kita miliki adalah berkat Tuhan dan hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Jadi, apa rahasia Santo Paulus untuk menghadapi dua sifat jahat ini dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati? Dia menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)” Ya, Tuhan menguatkan kita untuk bertekun di masa pencobaan, tetapi kita juga harus “di dalam Kristus” di masa kelimpahan. Apa artinya? Pertama, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa kesuksesan dan harta benda kita pada dasarnya adalah berkat Tuhan. Ini adalah obat untuk melawan kesombongan. Kedua, “berada di dalam Kristus” pada masa kelimpahan berarti kita selalu mempertimbangkan apakah tindakan kita akan menyenangkan hati Yesus. Apakah mencuri uang akan menyenangkan hati Yesus? Apakah belanja dan pengeluaran yang berlebihan akan menyenangkan Yesus? Ini adalah obat untuk melawan keserakahan. Singkatnya, jika kita ingin bahagia, hiduplah di dalam Kristus, jalani hidup yang kudus.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP