Secret of Happiness

28th Sunday in Ordinary Time [A]

October 15, 2023

Matthew 22:1-14

Phil 4:12-14, 19-20

St. Paul ended his letter to the Philippians by sharing one of his greatest secrets, “I have learned, in whatever state I am, to be content …I have learned the secret of facing plenty and hunger, abundance and want. (Phil 4:12).” St. Paul is giving away the secret of facing all situations in his life, which leads him to happiness. Then, what is his secret of happiness?

Often, we believe that happiness means that we get what we want. We are happy when we earn a lot of money or material possessions. We would be thrilled if we got the latest smartphone or could buy a brand-new car. We are ecstatic when we succeed in our work, business, or relationship. Those actively engaging in the Church are pleased when we know our ministries and apostolates bear fruits. Yet, this is different from what St. Paul means by happiness. The word he used is ‘αὐτάρκης’ (autarkes), and this word means ‘contented, sufficient.’ Joy is not possessing all we desire but being contented with what we have.

Moreover, the apostle wrote, “I know how to be abased, and I know how to abound (Phil 4:12).” He reminded us that not only do we have to know how to endure and persevere in times of hardships and trials, but also to navigate our ways in time of abundances. On previous Sundays, I have written about St. Paul’s advice in times of suffering, but St. Paul also had advice for us living in abundance. Certainly, there is nothing wrong with this enjoyment of earthly things and success, but these things also may lead us to greed and pride.

Greed. Since these earthly possessions provide us comfort and pleasure, they may trap us into inordinate attachment toward these temporary things. We become addicted to the fun they induce and want more and more of it. Then, we turn to be enslaved as we justify all means to achieve these worldly things. We cheat, we steal, and even we manipulate others. St. Paul himself warns us, “The love of money is the root of evil (1 Tim 6:10).”

Pride. Abundance may lead to another very dangerous vice, that is pride. As we gain many things through hard work, we begin to think we are solely responsible for these achievements. We think highly of ourselves and look down on others. We forget that what we have are God’s blessings and rely solely on our strength.

So what is St. Paul’s secret to true happiness? He wrote, “I can do all things in Him who strengthens me. [Phil 4:13]” Yes, the Lord strengthens us to persevere in the time of trials, but we must be “in Christ” also in the time of abundance. What does it mean? Firstly, to be in Christ in a time of abundance means we put humility to recognize that our success and possessions are primarily God’s blessings. This is a remedy against pride. Secondly, to be in Christ in a time of abundance means always considering whether our actions will please Jesus. Will stealing money be pleasing to Jesus? Will excessive spending be pleasing to Jesus? This is a remedy against greed. In short, if we want to be happy, live in Christ, live a holy life.

We can do all things, both in times of suffering and abundance, in Him who strengthens us.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Janganlah Khawatir

Hari Minggu ke-27 dalam Masa Biasa [A]
8 Oktober 2023
Matius 21:33-43
Filipi 4:6-9

Di akhir suratnya, Santo Paulus memerintahkan jemaat di Filipi untuk tidak khawatir. Nasihatnya tampak menghibur, namun jika kita perhatikan dengan saksama, Santo Paulus tidak hanya memberikan nasihat tetapi sebuah perintah. “Janganlah kamu kuatir! (Fil 4:6)” Namun, apakah mungkin untuk bebas dari kecemasan atau kekhawatiran? Apakah kecemasan itu? Apakah kecemasan memiliki tujuan dalam hidup kita? Dan, apa nasihat Santo Paulus untuk mengatasi kecemasan ini?

Kecemasan adalah respons alami terhadap stres atau ancaman yang dirasakan. Kecemasan memicu reaksi psikologis dan fisiologis. Kekhawatiran menyebabkan keadaan emosi yang kompleks yang ditandai dengan kegelisahan, ketakutan, kegugupan, dan bahkan kemarahan. Secara fisik, kecemasan dapat menyebabkan jantung berdebar, berkeringat dingin, tegang otot, sakit perut, dan banyak lagi. Kecemasan itu sendiri tidak berbahaya dan dapat memiliki tujuan yang baik. Kekhawatiran mendorong kita untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik saat menghadapi situasi yang rumit dan tak terduga. Namun, seringkali kecemasan cenderung berlebihan, melumpuhkan, dan bahkan bisa berujung pada gangguan mental. Kemudian, ketika kesehatan mental kita terganggu karena kecemasan yang berlebihan, maka jalan terbaik adalah berkonsultasi dengan ahlinya seperti psikiater yang kompeten. Namun, ketika tingkat kecemasan masih dalam rentang emosi yang sehat, nasihat Santo Paulus dapat sangat membantu kita untuk meredakan kecemasan. Jadi, apa saja nasihat Santo Paulus untuk kita?

Pertama, Santo Paulus menulis, “Akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang sedap didengar, semua yang manis,… pikirkanlah semuanya itu” (Flp. 4:8). Singkatnya, Santo Paulus menasihati kita untuk memikirkan hal-hal yang baik, daripada berfokus pada hal-hal yang buruk. Paulus menyadari bahwa faktor penting yang menyebabkan dan mempertahankan kecemasan adalah apa yang kita lihat, nilai dan terus kita pikirankan. Kata Yunani untuk khawatir adalah ‘μεριμνάω’ (- merimnao), dan kata ini mungkin terkait dengan kata Yunani ‘μνήμη’ (mneme), yang berarti memori. Jadi, apa yang kita simpan dalam memori kita akan mempengaruhi kita secara psikologis dan fisik. Hebatnya, fakta kuno ini tidak jauh berbeda dengan data psikiatri modern, yang mengidentifikasi bahwa fungsi kognitif kita memainkan peran penting dalam kecemasan.

Namun, ini bukan hanya tentang ‘berpikir positif’, tetapi juga melihat kehidupan melalui lensa iman. Paulus juga mengatakan bahwa untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan, kita harus menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dalam doa dan bersyukur (lihat Flp. 4:6). Ya, menghadapi masalah dan kesulitan dapat menyebabkan kecemasan. Namun, dengan membawanya kepada Tuhan dalam doa-doa kita, kita belajar untuk percaya bahwa Tuhan akan menjaga kita.

Yang lebih penting lagi, kita perlu belajar dari Santo Paulus. Ketika menulis surat ini, ia sedang dibelenggu, dianiaya, dan menghadapi kemungkinan eksekusi. Kondisi-kondisi ini merupakan penyebab kecemasan yang berat bagi Paulus. Namun, Paulus tetap bersyukur dan bahkan bersukacita atas kondisinya. Karena ia tahu betul bahwa penderitaannya adalah bagian dari penyelenggaraan Allah dan pada akhirnya akan bermanfaat bagi Gereja (lihat Kol. 1:24; Flp. 1:21). Oleh karena itu, ia tidak berlarut-larut dalam kecemasan berlebihan atau melarikan diri dengan menyangkal imannya. Ia dengan berani menerima situasinya dan mengucap syukur kepada Allah.

Kesimpulannya, ada dua hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan: pikirkanlah hal-hal yang baik dan percayalah akan pemeliharaan Tuhan atas diri kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Have no Anxiety

27th Sunday in Ordinary Time [A]
October 8, 2023
Matthew 21:33-43
Phil 4:6-9

At the end of his letter, St. Paul commanded the Church in Philippi to have no anxiety. His advice seems friendly and comforting, yet if we look carefully, St. Paul was not simply giving counsel but a command. “Have no anxiety!” Yet, is it possible to be free from anxiety? What is anxiety? Does it serve any purpose in our lives? And, what was St. Paul’s advice to handle anxiety?

Kelly Sikkema

Anxiety is a natural response to stress or a perceived threat. Anxiety triggers both psychological and physiological reactions. Anxiety causes a complex emotional state characterized by uneasiness, fear, nervousness, and even anger and excitement. Physically, anxiety may lead to palpitation, breaking into a cold sweat, muscle tension, stomachache, and many others. Anxiety itself is not harmful and can serve a good purpose. Anxiety encourages us to prepare ourselves better when facing complex and unexpected situations. Yet, often, anxiety tends to be excessive, paralyzing, and may even lead to mental disorders. Then, when our mental health has suffered because of excessive anxiety, the best course will be consulting experts like competent psychiatrists. Yet, when the level of anxiety is within the healthy range of emotions, St. Paul’s advice may greatly benefit us in moderating our anxiety. So, what are St. Paul’s counsels for us?

Firstly, St. Paul wrote, “Finally, brethren, whatever is true, whatever is honorable, whatever is just, whatever is pure, whatever is lovely,… think about these things (Phil 4:8).” In short, St. Paul advised us to think of good things, rather than to focus on the worse possible outcomes. St. Paul recognized that the essential factor that causes and sustains anxiety is what we perceive and keep entertaining in our thoughts. The Greek word for anxiety is ‘μεριμνάω’ (- merimnao), and this word may be related to the Greek word ‘μνήμη’ (mneme), which means memory. What we keep in our memories will affect us both psychologically and physically. Amazingly, this fact is not far from modern psychiatry, which identifies that our cognitive function plays an essential role in anxiety.

Yet, it is not only about ‘thinking positive,’ but to see lives through the lens of faith. St. Paul also said that to counter excessive anxiety, we must offer our concerns to God in prayers and be grateful (see Phil 4:6). Yes, facing problems and difficulties may cause anxiety. Still, by bringing them to God in our prayers, we learn to trust that God will take care of us. More importantly, we need to learn from St. Paul. When writing this letter, he was in chains, persecuted, and facing the possibility of execution. These conditions were severe causes of heavy anxiety for Paul. Yet, Paul was thankful and even rejoicing in his conditions. Why? He knew well that even his sufferings were part of God’s providence and would be eventually beneficial for the Church (see Col 1:24; Phil 1:21). Thus, he did not drown himself in anxiety or run away by denying the faith. He courageously embraced his situations and offered his thanksgiving to God.

In conclusion, there are two things to counter excessive anxiety: think of the good things and have faith in God’s care for us.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertobatan dan Keselamatan

Minggu ke-26 dalam Masa Biasa [A]

1 Oktober 2023

Matius 21:28-32

Dari konteks Alkitab, kita dapat dengan mudah memahami makna perumpamaan tentang dua putra pemilik kebun anggur. Anak yang awalnya menolak untuk taat kepada ayahnya tetapi akhirnya berubah hati melambangkan orang-orang Yahudi yang berdosa di depan umum, seperti pemungut cukai dan pelacur. Mereka memang orang berdosa, tetapi akhirnya mereka bertobat ketika mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus. Anak yang pada awalnya mengiyakan ajakan ayahnya, tetapi pada kenyataannya tidak pergi ke kebun anggur, melambangkan para penatua dan pemimpin Israel. Mereka mendengar khotbah Yohanes dan Yesus, tetapi mereka tidak menghiraukan dan bahkan menganiaya mereka.

akira hojo

Namun, perumpamaan ini bukan hanya untuk para penatua dan pemimpin Israel pada zaman Yesus, tetapi juga untuk kita, yang memanggil Yesus sebagai Tuhan, pergi ke Gereja setiap hari Minggu, dan bahkan terlibat dalam banyak pelayanan. Perumpamaan ini sederhana dan mudah dimengerti, tetapi yang dipertaruhkan adalah keselamatan kekal kita. Pesannya jelas: setiap orang harus bertobat dan menaati kehendak Allah. Baik orang yang jauh dari Tuhan maupun mereka yang mengaku dirinya beriman dan religius, semuanya harus berjuang untuk menjadi kudus.

Kita mungkin bertanya, “Apakah tidak cukup hanya dibaptis secara Katolik?” Apakah tidak cukup baik untuk menghadiri misa setiap hari Minggu? Apakah pelayanan-pelayanan kita memiliki arti di hadapan Allah? Tentu saja, semua itu penting dalam kehidupan Kristiani kita dan juga melakukan kehendak Allah. Namun, orang-orang Farisi dan para tua-tua Yahudi pada masa Yesus melakukan hal yang kurang lebih sama. Mereka disunat saat masih bayi (seperti pembaptisan) dan belajar membaca Taurat (Kitab Suci orang Yahudi) sejak kecil. Mereka pergi ke sinagoge (tempat doa orang Yahudi) pada hari Sabat dan juga mempersembahkan kurban ketika mereka berada di Yerusalem. Mereka mungkin juga terlibat dalam banyak kegiatan keagamaan di komunitas mereka. Apa yang kita lakukan tidak jauh berbeda dengan orang-orang Farisi! Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Dari perumpamaan ini, kita mengerti bahwa elemen kuncinya adalah melakukan kehendak Bapa dan kehendak-Nya yaitu berbalik dari dosa (atau pertobatan) dan berbalik kepada Allah (atau kekudusan). Ya, kita dibaptis secara Katolik, tetapi apakah kita yakin bahwa iman Katolik adalah iman yang menyelamatkan, dan kita siap untuk membagikannya? Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu, tetapi apakah kita menyembah Allah yang benar atau pergi ke Gereja untuk mencari kenyamanan dan keuntungan pribadi? Ya, kita aktif dalam banyak komunitas dan pelayanan, tetapi apa gunanya jika kita menjadi sombong dan angkuh terhadap orang lain yang tidak dapat melayani seperti kita? Ya, kita menyebut diri kita sebagai pengikut Kristus, tetapi mungkin diam-diam kita tidak mau melepaskan perilaku dosa kita.

Jadi apa yang harus kita lakukan? Pertama, dalam tradisi Katolik, kita memiliki pemeriksaan batin harian, dan ketika dilakukan dengan benar, hal ini membantu kita untuk menyadari tindakan-tindakan kita dan motif di belakangnya. Kedua, bacaan rohani memperkaya jiwa kita. Kita dapat memilih dari Alkitab, kisah dan tulisan dari orang-orang kudus, atau Katekismus Gereja Katolik. Ketiga, kita mengaku dosa secara teratur. Kita tidak boleh membiarkan dosa-dosa menumpuk di dalam hati kita dan lambat laun menumpulkan hati nurani kita. Sakramen pengakuan dosa memberikan pengampunan dan mempertajam perasaan kita akan apa yang berkenan kepada Allah dan apa yang tidak. Tentu saja, ada hal-hal lain yang dapat kita lakukan, tetapi pada dasarnya, jika kita tidak sungguh-sungguh bertobat dari dalam hati kita, kita dapat kehilangan keselamatan kekal kita.

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Repentance and Salvation

26th Sunday in Ordinary Time [A]
October 1, 2023
Matthew 21:28-32

From the Βiblical context, we can easily understand the meaning of the parable of two sons. The son who initially refused to obey his father but eventually changed his heart symbolizes the Jewish society’s public sinners, like the tax collectors and prostitutes. They were indeed sinners, but finally, they repented when they heard the preaching of John and Jesus. The son who initially said yes to his father but, in reality, did not go to the vineyard is representing the elders and leaders of Israel. They heard the preaching of both John and Jesus, but they refused to listen and even persecuted them.

The parable is simple and easily understood, but what is at stake is our eternal salvation. The message is clear: everyone must repent and obey God’s will. Whether the people committing grave sins or claiming themselves as faithful and religious, all have to strive for holiness. However, this parable is not only for the elders and leaders of Israel in the time of Jesus, but for us, who call Jesus Lord, go to the Church every Sunday, and even involve many ministries.

We may ask, “Is it not enough to be baptized Catholic?” Is it not good enough to attend mass every Sunday? Do our ministries have any meanings before God? Surely, these are important in our Christian life and also part of doing the will of God. Yet, the Pharisees and the Jewish elders during the time of Jesus were doing more or less the same things. They were circumcised as babies and learned how to read Torah since childhood. They went to synagogues on the Sabbath and also offered sacrifices when they were in Jerusalem. They may also be involved in many religious activities in their communities. What we do are not particularly different from the Pharisees! So, what shall we do?

Learning from the parable, the key element is doing the will of the Father and His will that we turn away from sins (or repentance) and turn ourselves to God (or holiness). Yes, we are baptized Catholic, but are we convinced that Catholic faith is a saving faith? Yes, we go to the Church every Sunday, but do we worship the true God or go to the Church to look for personal comfort and benefits? Yes, we are active in many communities and ministries, but what is the point if we become proud of ourselves and arrogant toward others who cannot serve like us? Yes, we call ourselves followers of Christ, but perhaps we are secretly clinging to sinful behaviors.

So what shall we do? Repentance can be done every moment. In Catholic tradition, we have a daily examination of conscience, and when done correctly, it helps us to be aware of our actions and motives. Secondly, spiritual readings enrich our souls. We can choose from the Bible, lessons from the saints, or the Catechism of the Catholic Church. Thirdly, we go to the confession regularly. We must not let sins pile up in our hearts and gradually dull our conscience. The sacrament of confession grants forgiveness and sharpens our sense of what is pleasing to God and what is not. Surely, there are other things we can do, but fundamentally, unless we truly repent from our hearts, we might lose our eternal salvation.

Rome

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Hidup adalah Kristus

Minggu ke-25 dalam Masa Biasa [A]
24 September 2023
Matius 20:1-16a
Filipi 1:20c-24, 27a

Hari ini, Santo Paulus menulis kalimat sangat menarik, “Aku rindu meninggalkan dunia ini dan bersama dengan Kristus, karena itulah yang jauh lebih baik [Flp. 1:23].” Apakah St. Paulus ini ingin mengakhiri hidupnya atau bunuh diri? Atau ada hal lain yang sebenarnya terjadi?

Kita harus memahami konteks surat Santo Paulus kepada jemaat di Filipi untuk menjawab pertanyaan ini. Surat kepada jemaat di Filipi adalah salah satu surat Paulus dari penjara [termasuk surat ke jemaat di Efesus dan Kolose]. Jika kita mengingat kembali kehidupan rasul besar ini, kita tahu bahwa Paulus dianiaya dan ditangkap oleh orang-orang Yahudi yang menentang pemberitaan Injil Yesus Kristus. Saat menghadapi pengadilannya, Paulus kemudian menggunakan hak istimewanya sebagai warga negara Romawi untuk mengajukan banding kepada Kaisar. Dengan demikian, dia dibawa ke Roma, ibu kota kekaisaran. Sementara dia menunggu Kaisar mendengar bandingnya, dia menjadi tahanan rumah, dan bahkan dirantai. Namun, ia diizinkan untuk terus mewartakan Injil dan mengirim surat ke berbagai komunitas. Salah satu suratnya adalah kepada jemaat di Filipi [lihat Flp. 1:14]. Dalam masa penantian ini, Paulus bisa saja dinyatakan tidak bersalah, tetapi ada kemungkinan besar Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepadanya.

Dari konteks ini, kita memahami bahwa Paulus tidak sedang berpikir bagaimana mengakhiri hidupnya, melainkan tentang kematiannya sebagai martir. Sementara bunuh diri adalah tindakan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengakhiri hidup kita sendiri, menjadi martir adalah kematian yang disebabkan oleh kebencian terhadap iman. Namun, yang menarik adalah bagaimana Paulus bereaksi terhadap kematian sebagai martir. Ia tidak takut, tidak cemas berlebihan, dan bahkan tidak mengalami depresi. Sebaliknya, ia menunjukan diri penuh dengan sukacita. Bahkan, jika kita membaca surat kepada jemaat di Filipi, kita akan segera merasakan bahwa suasana umum dari surat ini adalah sukacita. Paulus menulis, “Bersukacitalah selalu dalam Tuhan, aku berkata, Bersukacitalah (Flp. 4:4)! Hal ini sangat membingungkan. Bagaimana Paulus dapat bersukacita ketika ia dianiaya dan menghadapi kematian yang sudah dekat?

Jawabannya adalah karena Paulus telah melihat nilai sejati dari Yesus Kristus. Paulus menulis, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus [Flp. 3:8].” Paulus mengerti betapa berharganya Kristus, dan karena kebijaksanaan ini, Paulus memiliki hirarki prioritas yang benar dalam hidupnya. Segala sesuatu, termasuk kehidupan itu sendiri, haruslah di dalam Kristus dan untuk Kristus. Dengan demikian, Paulus, yang telah memberikan segalanya untuk Kristus dan hidup di dalam Kristus, bersukacita dalam menghadapi kematian karena ia tahu bahwa ia akhirnya dapat bersatu dengan Kristus.

Paulus memberi kita sebuah kiat berharga untuk keselamatan: kenali Kristus, dan betapa pentingnya Dia bagi kita. Kita perlu menetapkan prioritas kita dengan benar. Kristus dahulu, dan yang lain akan jatuh pada tempatnya. Ya, kekayaan materi memang penting, makanan dan tempat tinggal sangat penting, dan pendidikan juga penting, tetapi semua itu adalah sarana untuk hidup di dalam Kristus dan untuk Kristus. Kita mungkin kehilangan uang atau harta benda, dan itu tidak masalah, tetapi jika kita kehilangan Kristus, kita akan kehilangan keselamatan dan sukacita kekal. Saat kita kehilangan Kristus, segala kesuksesan di dunia ini akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu, bersukacitalah karena bagi kita, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Myths about Forgiveness

24th Sunday in Ordinary Time [A]

September 17, 2023

Matthew 18:21-35

There are three myths about forgiveness that we often hear. Here, we try to debunk these myths and go deeper into the meanings of genuine forgiveness. 

To forgive is to forget.

This is the most repeated line about forgiveness. We are told that the best way to forgive is to forget about the events that hurt us as well as the persons who offended us. Yet, this is not forgiveness but rather a convenient escape. In fact, the more we try to forget it, the more it hurts us. Violent efforts to suppress our painful memories lead to mental and spiritual problems. True forgiveness is to face and embrace our painful memories and confront people who have hurt us. The path to forgiveness often takes months and even years to find true peace.

To forgive is for the weak people.

Nothing is far from the truth than this statement. Our natural feelings when we are wronged are anger, hatred, and bitterness; because of these feelings, our natural tendency is to take revenge or run away. The bigger the pain, the more powerful is the tendency. This is why to do the opposite (to forgive) needs an enormous force of mind and courage of will. To forgive is only for the strong. Another point is that we need to distinguish between revenge and justice. While revenge seeks to destroy our enemies by inflicting the most extensive damage possible, justice is ‘to give/receive one’s due.’ Justice seeks reparation, repentance, and reconciliation.

To forgive is stupid.

The usual imagination when we forgive is that we allow people to keep abusing us. In short, we become ‘doormat’ of others. Yet, this is not true forgiveness but cowardice. Real forgiveness starts with justice and courage. Forgiveness also includes repentance of those who harm us. Repentance may come in different forms. The best example will be the case of John Paul II and Ali Acka. The Holy Pope forgave Ali, but Ali still needed to serve his sentence in prison. People who hurt us sometimes refuse to change their behaviors, so we must raise the victim’s mentality and not allow ourselves to be abused repeatedly. 

To err is human, but to forgive is divine.

The last part is not a myth but the truth. Humanly speaking, forgiving is extremely difficult because our natural tendency is to take revenge or run away. Thus, we need the help of grace to rise above our human weakness. We remember that “God has forgiven us and that is why we forgive.” Therefore, living in grace is necessary for forgiveness. We ask for graces through our regular participation in the Eucharist and the sacrament of reconciliation. We ask the Lord also for strength in our prayers, as well as we pray for those who hurt us for their repentance. To seek support and advice from our trusted friends and capable professionals is also crucial because God may make them His instruments in helping us. 

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Koreksi Persaudaraan: Karya Amal yang terbesar

Minggu ke-23 dalam Masa Biasa [A]

10 September 2023

Matius 18:15-20

Mengoreksi saudara-saudari kita yang tidak hidup sesuai dengan Hukum Allah adalah sebuah tindakan kerahiman dan kasih. Dalam tradisi Katolik, koreksi persaudaraan [latin: Correctio fraterna] merupakan hal yang esensial dalam tujuh karya belas kasih rohani. Mengapa mengoreksi sesama dianggap sebagai tindakan belas kasih? Mengapa hal ini justru sulit untuk dilakukan? Di sini, saya membagikan refleksi saya tentang mengapa correctio fraterna itu penting, tetapi pada saat yang sama juga sangat sulit, serta beberapa kiat untuk melakukan tindakan belas kasih ini.

Mengoreksi saudara-saudari kita adalah sebuah karya belas kasih dan cinta karena kita ingin agar jiwa-jiwa mereka diselamatkan dari api neraka dan menikmati hidup kekal bersama Allah. Dengan demikian, bersama dengan evangelisasi, yaitu membawa orang-orang untuk mengenal dan mendekat kepada Kristus, correctio fraterna dianggap sebagai karya amal yang paling baik. Karena kita mengasihi mereka, kita bersedih ketika saudara dan saudari kita tersesat dari jalan Tuhan. Dengan demikian, kita menunjukkan kasih kita dan mengingatkan mereka untuk kembali kepada Tuhan.

Namun, meskipun mengoreksi saudara-saudari kita adalah sesuatu yang mulia dan penuh belas kasihan, itu adalah salah satu hal yang paling menantang untuk dilakukan. Ada beberapa alasan. Pertama, ketidaktahuan. Kita tidak mengetahui ajaran dasar tentang moralitas. Karena kita tidak tahu, kita dapat mengoreksi orang lain. Ini adalah masalah besar karena banyak dari kita yang belum memiliki pengetahuan yang lengkap tentang Hukum-hukum Allah. Namun, ini juga merupakan masalah yang paling mudah dipecahkan karena pengajaran dan katekese yang tepat akan sangat membantu kita.

 Kedua, rasa takut. Kasih kita tidak cukup kuat, dan rasa takut mendominasi kita. Kita takut menghadapi saudara-saudara kita karena kita tidak mau mengusik ‘ketenangan’ mereka. Kadang-kadang, kita takut bahwa kita akan merusak hubungan persahabatan kita. Kita tidak suka memiliki ‘musuh’. Oleh karena itu, kita membiarkan kesalahan mereka dengan tetap diam. Nah, ini berbahaya karena tidak hanya saudara kita yang akan kehilangan jiwa mereka, tetapi kita juga akan membahayakan keselamatan kita karena sekarang kita menjadi ‘rekan’ mereka. Hal ini sering disebut sebagai tindakan dosa karena kelalaian.

Ketiga, relativisme. Virus relativisme adalah wabah yang tak kentara namun sangat berbahaya bagi Gereja. Orang Kristen percaya pada satu Allah dan satu hukum moral yang berasal dari-Nya, tetapi relativisme mengatakan sebaliknya: tidak ada kebenaran absolut atau standar moral yang universal. Seorang relativis akan berkata, “Tindakan itu mungkin salah menurut standar saya, tetapi mungkin benar menurut standarnya.’ Dengan demikian, kita menolak untuk mengoreksi perilaku berdosa orang lain karena kita ‘menghormati’ sudut pandang mereka. Hal ini bahkan lebih berbahaya karena hal ini merusak pemahaman kita yang benar tentang agama kita dan membingungkan banyak orang lain.

Berikut adalah beberapa tips untuk correctio fraterna. Pertama, kita harus memiliki pengetahuan dasar yang kuat tentang moralitas Katolik. Jika kita ragu, kita dapat membaca katekismus Gereja Katolik atau berkonsultasi dengan para imam yang baik dan cakap di sekitar kita. Kita harus ingat bahwa correctio fraterna terutama berhubungan dengan perilaku-perilaku berdosa dan doktrin-doktrin yang salah. Kedua, kita dapat memulai dengan diri kita sendiri. Jika kita melihat orang yang kita kasihi perlu kita koreksi, kita perlu bertanya apakah saya juga perlu menerima koreksi yang sama. Ketiga, kita melakukannya dengan lemah lembut dan sabar. Seperti yang Yesus katakan, kita melakukannya secara pribadi terlebih dahulu agar tidak terlihat oleh orang lain, dan kita tidak tergoda untuk menjadi sombong. Keempat, jika koreksi kita menghadapi resistansi yang kuat, kita perlu membaca Yehezkiel 33:7-9 (bacaan pertama). Meskipun melihat orang yang kita kasihi jauh dari Allah membuat kita frustrasi, kita juga harus percaya pada pemeliharaan Allah. Rencana-Nya baik dan akan berbuah pada waktunya.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Fraternal Correction: The greatest work of Charity

23rd Sunday in Ordinary Time [A]

September 10, 2023

Matthew

To correct our brothers and sisters who are not living according to the Laws of God is an act of mercy and love. In Catholic tradition, fraternal correction is essential to the seven-spiritual works of mercy. Why correcting others is considered to be an act of mercy and love? Why is it difficult to do? Here, I share my reflection on why a fraternal correction is necessary, but at the same time most challenging, as well as some tips to do this act of charity.

To correct our brothers and sisters is a work of mercy and love because we want their souls to be saved from the fire of hell and to enjoy eternal life with God. Thus, together with evangelization, which is to bring people to know and come closer to Christ, fraternal correction is considered the most excellent work of charity. Because we love them, we grieve when our brothers and sisters go astray from the Lord’s way. Thus, we show our love and remind them to return to the Lord. 

However, though correcting our brothers and sisters is noble and merciful, it is one of the most challenging things to perform. There are several reasons for this. Firstly, ignorance. We are simply ignorant of Christian basic morality. Since we do not know, we can correct others. This is a big problem because many of us do not have the full knowledge yet about the Laws of God. Yet, it is also the easiest to solve because proper instructions and catechesis will significantly help us.

 Secondly, fear. Our love is not strong enough, and fear possesses us. We are afraid to confront our brothers because we hate hurting their ‘feelings.’ Sometimes, we are afraid that we might break our amicable relationship. We do not like to have ‘enemies.’ Thus, we condone their wrongdoings by keeping quiet. Now, this is dangerous because not only will our brothers lose their souls,  but we are also losing our souls because now we become the accomplices. We commit the sin by omission.

Thirdly, relativism. The virus of relativism is a subtle yet very dangerous plague to Christianity. Christians believe in one God and one moral Law coming from Him, but relativism says the opposite: there is neither absolute truth nor universal moral standard. A relativist person will say, ‘That act may be wrong according to my standard, but it may be true according to his.’ Thus, we refuse to correct others’ sinful behaviors because we ‘respect’ their perspective. This is even more dangerous because it destroys our proper understanding of Christianity and confuses many others.

Here are some tips for fraternal correction. Firstly, we must have a solid knowledge of Catholic morality. If we are doubtful, we consult the catechism of the Catholic Church or good and capable priests near you. We must remember that fraternal correction deals primarily with sinful behaviors and false doctrines. Of course, we may correct them in other aspects of their lives. Secondly, we can start with our loved ones, those closest to us. We do it with gentleness and patience. As Jesus said, we do it first privately so as not to be seen by others, and we might become prideful. Thirdly, if our correction faces strong resistance, we read ‘Ezekiel 33’ (our first reading). Though seeing our loved ones far from God is frustrating, we must also trust God’s providence.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP 

Kurban yang Sempurna

Minggu ke-22 dalam Masa Biasa

3 September 2023

Roma 12:1-2

Matius 16:21-27

Setiap penyembahan yang benar dalam Alkitab datang dalam bentuk persembahan korban. Apakah yang dimaksud dengan korban? Pengorbanan terjadi ketika kita mempersembahkan sesuatu yang berharga kepada Allah, dan dalam masyarakat kuno, ternak dianggap sebagai harta yang berharga yang bisa dikurbankan. Habel mempersembahkan anak-anak sulung dari kawanan ternaknya [lihat Kej. 4:4]. Di kaki Gunung Sinai, Musa menyembelih lembu-lembu sebagai persembahan kepada Tuhan saat perjanjian antara Tuhan dan bangsa Israel ditetapkan [Lihat Kel. 24:4-5]. Namun, terkadang, pengorbanan yang tidak berdarah juga dipersembahkan. Melkisedek membawa roti dan anggur sebagai persembahan [lihat Kej. 14:18]. Bahkan, seluruh kitab Imamat mengatur ibadah kurban bangsa Israel.

Jika Ekaristi adalah ibadah kita, lalu apa yang kita persembahkan sebagai kurban di dalam Ekaristi? Tentu saja, bukan binatang atau benda-benda duniawi. Kurban kita dalam Ekaristi adalah Yesus [lihat 1 Kor 5:7]. Karena Yesus adalah ilahi dan tidak berdosa, Dia menjadi korban yang sempurna, dan akibatnya, Ekaristi adalah penyembahan yang sempurna. 

Namun, jika kita melihat bagian dari Ekaristi dengan seksama, kita akan menemukan kalimat yang diucapkan oleh imam, “berdoalah saudara-saudara, agar kurban yang kupersembahkan dan yang persembahkanmu berkenan kepada Allah, Bapa yang mahakuasa.”  Hal ini menarik karena kalimat ini memberi tahu kita bahwa umat beriman yang menghadiri Ekaristi memiliki persembahan yang berbeda dengan persembahan imam. Jika kurban yang dipersembahkan oleh imam adalah Tubuh dan Darah Kristus, lalu apakah kurban umat?

Paulus membantu kita menjawab pertanyaan ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, ia menulis, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati [Rm 12:1; bacaan kedua].” Persembahan kita adalah tubuh kita, hidup kita. Dan, kita mempersembahkan hidup kita dalam Ekaristi dan yang kita satukan dengan kurban Yesus Kristus, ini menjadi ibadah rohani kita.

Namun, Paulus juga menasihati agar kita tidak mempersembahkan sembarangan tubuh, tetapi tubuh yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Dengan demikian, adalah tugas kita untuk menjaga hidup kita dari dosa dan segala sesuatu yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa cukup percaya kepada Kristus, tetapi kita tidak menaati hukum-hukum-Nya. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pergi ke Gereja setiap hari Minggu saja sudah cukup, tetapi kita melakukan kejahatan di hari-hari lainnya. Setiap hari adalah kesempatan untuk membuat hidup kita berkenan kepada Tuhan.

Terakhir, kita juga perlu mengingat bahwa penderitaan juga merupakan bagian dari hidup kita. Dengan demikian, jika kita menanggung penderitaan yang tak terhindarkan dengan kesabaran, hal ini juga dapat menjadi bagian dari persembahan hidup kita yang berkenan kepada Tuhan. Di dalam Ekaristi, hidup dan penderitaan kita dipersembahkan sebagai persembahan yang berkenan kepada Allah, dan karena itu berkenan kepada Allah, hidup kita berubah menjadi berkat. Sekarang, kita tahu mengapa Allah mengizinkan penderitaan dalam hidup kita. Inilah sebabnya mengapa Yesus menegur Petrus dengan keras karena menghalangi Dia untuk memikul salib dan mati. Di dalam Kristus, pada akhirnya penderitaan bahkan dapat menjadi berkat.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP